Alhamdulillah, pada kesempatan sore yang mulia, pada kesempatan hari yang mulia, di mana Nabi SAW bersabda; "bahwasannya, Sayyidul ayyam yaumal Jum'ah". Tuannya hari-hari dalam sepekan adalah hari Jum'at. Dan di mana kita sekarang berada di hari Jum'at bertepatan dengan pekan pertama Bulan Ramadhan ini. Dan di waktu yang mustajab apabila kita berdoa kepada Allah SWT. Maka hendaknya di majlis yang mulia pada sore hari ini, marilah kita bersama-sama duduk meluangkan waktu kita, menempatkan diri kita pada tempat yang mulia, yakni majlisus a'lam, di mana inshaAllah para malaikat bersholawat pada orang yang duduk pada majlisus a'lam. Kekuatan iman yang azamiAllah wa iyyakum jamiian.
Pertama-tama saya mengucapkan terimakasih banyak atas kehadirannya pada kesempatan sore hari ini, dan kami di sini akan sedikit berbagi tentang apa yang kami ketahui, dan tidak melandas semua hormat kami pada para asatidah lainnya dan para teman-teman tohib lahilah lainnya yang telah duduk dalam majlis pada kesempatan sore hari kali ini.
Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamian. Apabila kita berbicara tentang bulan Ramadhan, maka hendaknya kita senantiasa berusaha untuk melahirkan amalan-amalan terbaik di bulan terbaik ini.
Kalau tadi sayyidul ayyam, hari yang paling utama adalah hari Jum'at, sayyidul asyhur atau sayyiduzzuhur adalah bula Ramadhan. Bulan yang paling utama dalam duabelas bulan Islam adalah bulan Ramadhan. Jadi kita mendapatkan dua keutamaan, yaitu keutamaan hari Jum'at dan keutamaan bulan Ramadhan. Lebih-lebih apaila kita duduk di hari Jum'at sore, di mana setiap doa yang dipanjatkan oleh Bani Adam yang muslim-mukmin, maka niscaya Allah SWT akan memberikan balasan berupa dikabulkannya doa tersebut, inshaAllah.
Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamian bulan Ramadhan identik sekali dengan bulan kebaikan. Kita mengetahui bahwasannya, kebaikan itu merupakan kunci dari lancarnya kita berpuasa di bulan Ramadhan. Karena apa?, Kebaikan akan melahirkan kebaikan selanjutnya, begitupun dosa, dosa niscaya akan melahirkan dosa selanjutnya. Hal ini sesuai dengan kaidah yang diutarakan oleh salah satu ulamak, lhasan Albasri yang merupakan tabiin, di mana beliau memiliki kaidah, yang masuk dalam katagori kaidah fiqih, yaitu inna minjazail hasanah, hasanatul bakdaha, sesungguhnya balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya. Jadi, barang siapa yang berbuat baik, maka niscaya dia akan mendapatkan kebaikan selanjutnya.
Wa inna min akumatissayyiat, sayyiatu bakdaha. Hukuman, atau punishment dari orang yang melekukan keburukan, maka niscaya keburukan selanjutnya akan menimpanya. Dan ini dalam fiqih termasuk ke dalam reward and punishment, barang siapa yang melakukan kebaikan, maka dia akan mendapatkan kebaikan, dan barang siapa yang melakukan dosa, maka dia akan mendapatkan dosanya.
Maka dari itu, sekarang kita berada di bulan Ramadhan, kita masuk di hari yang ke lima, inshaAllah nanti ba'da Maghrib kita masuk ke hari yang ke enam. Coba kita cek lagi, selama lima hari pertama ini, apa yang telah kita lakukan, kebaikan, atau justru hal-hal yang sifatnya kesalahan. Kenapa? Karena kita tau sekarang kita sedang berada di awal, awal bulan Romadon, masih di 5 hari pertama, dan di 5 hari pertama ini, kita benar-benar istilahnya lagi balapan di KDF atau di lap city, ini kita baru berada di lap ke 5, masih ada 25 lap atau 24 lap lagi di depannya.
Kayaknya harus kita coba lihat, apakah kita start kemarin start-nya itu di full position dan kita sudah menyiapkan semuanya dengan baik?, atau ternyata kita start dari belakang, sehingga kita pelan-pelan menghadapi Ramadhan ini?. Maka dari itu, harus cek kembali apakah kebaikan-kebaikan telah kita lakukan atau justru sebaliknya kesalahan-kesalahan yang kita ciptakan.
Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, berlandaskan kaedah Nabi SAW, maka kita masih di awal bulan Ramadhan, masih di ujungnya, maka hendaknya kita senantiasa memaksimalkan potensi kebaikan yang ada dalam diri kita, di mana Nabi SAW bersabda, "Inna sifkok yahdilladirk, wa innal birrok yahdilla jennah", bahwasannya kejujuran seseorang dalam mengamalkan kebaikan, akan mengantarkannya kepada ketaatan yang terbaik, dan ketaatan yang terbaik itu akan mengantarkan orang tersebut ke..., Sorganya Allah SWT.
Maka hendaknya kita berusaha di hari yang ke 5 ini hingga hari-hari selanjutnya, kita mulai untuk membiasakan diri kita melakukan perbuatan-perbuatan yang baik. Karena seperti yang tadi dibacakan oleh qorik kita semua, dianggap bahwa ayat 184, ayyaman makduudah, hari-hari terbatas. Jadi, Ramadhan itu harinya terbatas, cumak 29 sampai dengan 30 hari. Maka dari itu alangkah baiknya kita sebagai orang muslim mukmin, untuk memanfaatkan sebaik-baiknya bulan Ramadhan dengan amalan-amalan yang terbaik, dan bukan hanya sekedar beramal, akan tetapi kita perlu cerdas dalam beramal.
Jadi, kita tidak hanya beramal, tapi kita harus melakukan kebaikan dan cerdas. Bagaimana cerdas itu?. Nabi SAW bersabda, dan ini merupakan salah satu landasan para ulamaak, menciptakan fiqih prioritas. Apa itu fiqih prioritas?, fiqih prioritas itu adalah fiqih yang mengutamakan sesuatu amalan terbaik sebelum amalan baik yang lainnya, itu fiqih prioritas, atau dalam bahasa Arab, fiqul awlawiyah.
Jadi, teman-teman dalam hidup inshaAllah akan belajar itu semua. Mana Nabi SAW bersabda, "sabbiduu wa qaaribuu wa amiluu wa khairuu". Sabbiduu wa qaaribuu, di sini artinya adalah, beristiqomahlah kalian dalam menjalankan kebaikan, wa raaqibuu, wa qaaribu afwan, dekatilah amalan tersebut, setelah kalian akan dekat dan istiqomah dengan amalan tersebut, wakmaluu, maka kerjakanlah, wa khairuu, dan tunaikanlah kebaikan-kebaikan dari apa yang kamu kerjakan.
Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, Ramadhan ini sangat singkat, sekali lagi, Ramadhn sangat singkat. Jadi, kita sekarang jangan sampek kejar-kejaran waktu hanya untuk hal yang sia-sia, dan tidak bisa kita tunaikan haknya Ramadhan itu amal kebaikan. Maka dari itu kita harus cerdas dalam beramal dan menerapkan prioritas utama dalam beramal.
InshaAlloh dalam kesempatan yang mulia di sore hari ini, kita akan meringkas menjadi 4 prioritas.
Prioritas yang pertama adalah; tentu saja dalam Islam kita harus menunaikan amalan-amalan yang sifatnya wajib. Dan amalan wajib, dalam kaedah yang diutarakan oleh imam Ibnu Qoyyim rahimakumullahutaala, dan juga dikuatkan oleh salah satu dari al-iman mahdab Maliki, beliau menyampaikan bahwasannya "talazum beidha al amal addhahir wal bathin", hendaknya seseorang ketika beramal, dia wajib membuat koneksi yang kuat antara amal yang dhohir yang nampak, dan amal yang bathin. Bahkan dikatakan, diriwayatkan dari imam Ahmad. teman-teman bisa ngecek nanti, bahwasannya amal bathin itu dikatagorikan sebagai amalan yang sifatnya diketahui oleh diri kita sendiri, dan itu terkadang sifatnya lebih utama daripada amalan-amalan yang nampak atau dohir.
Dan di bulan Ramadhan, kita semua melaksanakan amalan yang sifatnya batin. Apa-apa yang batin di bulan Ramadhan?. (ada salah satu jamaah wanita menjawab), apanya bak? Puasa, betul puasa. Amalan bathin di bulan Ramadhan adalah Puasa. Karena apa?, tidak ada yang tau, kita duduk di sini kita tidak berpuasa, tidak ada yang tau itu. Tetapi kalau sholat, amalan dhohir yang nampak, semua orang tau bahwa kita sholat. Kalau orang duduk mengaji di masjid, kita melakukan sholat sunnah. Adapun puasa, puasa itu yang tau hanya diri kita sendiri. Maka dari itu Allah SWT berfirman dalam Hadist Kutsi, "Assiyaamulii", puasa adalah untukKu. "Wa Ana adjiubih", dan Akulah yang akan memberikan pahalanya.
Kalau kita bukak buku-buku, klasik ato buku-buku kontemporer dinyatakan bahwasannya setiap amal itu dilipatgandakan. Tapi khusus untuk puasa, puasa itu tidak terbatas. Tidak terbatas pahalanya karena apa?. Yang mengetahui hanya orang tersebut dan Alloh SWT. Kita tidak bisa mengetahui apakah saodara kita berpuasa dengan benar, ataupun tidak. Mungkin secara lisan kita bisa menyatakan, "oh, saya puasa". Tetapi pada kenyataannya belum tentu, 100% benar puasa. Dan itulah prioritas pertama yang harus kita lakukan ketika memilih untuk melakukan amalan di bulan yang mulia di bulan Ramadhan ini, yaitu amalan bathin adalah puasa.
Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, dan penguat puasa merupakan bagian dari amalan batin puasa adalah, Surat Albaqarah ayat 183 yang tadi dibacakan oleh qorik kita. Allah SWT berfirman, "Audhubillahiminassaithonirrojim, Yaa ayyuhalladhiinah aamanuu, kutiba alaikumussiaamu kama kutiba alalladhiina minqoblikum laallaku tattaquun". Ada ini kuncinya, wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kamu dan kepada umat-umat sebelum kamu, puasa. Agar lallakum tattaquun, agar kalian bertaqwa, kalian beramal atas dasar keikhlasan terhadap Allah SWT. Dan ini merupakan visi utama dari puasa. Visi utama dari puasa, apa?, laallakuum tattaquun. Bukan laallakum tatayyadun, laalakum taqrofun, bukan, semoga kalian masuk idulfitri, semoga kalian nanti bisa dapat ee uang, bukan itu. Tetapi laallakum tattaquun. Agar kalian bertaqwa, dan taqwa ini merupakan amalan bathin, amalan yang ada di hati.
Dan ayat al-Qur'an ini dengan hadist-hadist Nabi SAW, "attaqwaa, haa huna, attaqwaa haa huna", Taqwa itu juga di hati, Nabi SAW menunjuk dengan telunjuknya, taqwa itu ada di hati. Maka visi seorang yang berpuasa adalah menciptakan ketaqwaan dalam hatinya. Jadi, selain menahan dahaga, menahan lapar, kita harus mamasukkan visi utama puasa itu ketaqwaan. Kita dilatih untuk menahan amarah, manahan dahaga, menahan lapar dan lain sebagainya, sehingga kita berhasil sampai di derajat orang-orang yang bertaqwa, inshaAllah.
Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, apabila kita berbicara amalan bathin, maka kita tidak boleh tinggalkan amalan dhohir, amalan yang nampak bisa dilihat. Jadi ini berhubungan satu sama lain, amalan bathinnya tidak akan baik kalau amalan dhohirnya buruk. Amalan dhohir tidak akan baik kalau amalah bathinnya buruk. Dua hal ini salng terkoneksi. Tadi saya bilangi satu sama lain. Dan puasa Ramadhan adalah momen kita untuk menjaga hati kita. Untuk menciptakan momentum melahirkan momentum ketaqwaan sesungguhnya dalam diri kita. Itu paling mudah di bulan Ramadan.
Karnanya dituntut, dibiasakan untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT. Dan bisa dibilang, bulan Ramadan ini bulannya orang-orang yang berlomba dalam kebaikan. Kenapa? Karena semua orang yang beramal dari bulan Shawal sampai ke Shakban, sampek ke Rajab, bulan Ramadhan. Mereka ini beramal dengan amalannya masing-masing.
Jadi, orang yang di sebelas bulan sebelumnya meraka sholat tahajjud, mereka menghatamkan Alqur'an secara rutin, mereka itu berpuasa. Dan orang yang sebelumnya tidak melaksanakan sholat tahajjud, hanya sholat wajib, dia tidak menghatamkan al-Qur'an, bahkan, naudubillah dia tidak sholat ataupun tidak mengaji, tetapi dia muslim, dia tidak ikut berpuasa. Jadi, di sini perlombaannya benar-benar perlombaan dalam keadaan yang berbeda-beda. Maka dari itu, mumpung kita masih di awal, kita masih di 5 hari pertama, kita punya kemampuan. Kita punya kesempatan yang sama terhadap orang-orang yang sudah biasa melakukan amalan-amalan yang dia lakukan di luar Ramadhan.
Jadi, ambisinya orang-orang yang sering puasa, orang-orang yang sering mengaji, mereka juga melakukan hal yang sama di bulan Ramadhn. Kita yang sibuk, tidak ikut belajar, kerja, jangan sampai kita lalai. Karena banyak orang-orang yang sudah bersiap sebelumnya. Adalah itu, agar kita mendapatkan ketaqwaan di akhir, maka hendaknya kita mematangkan kembali sisa 25 hari di depan kita. Jadi kita menjaga ketaqwaan sebagai bentuk prioritas utama dalam bulam Ramadhan, yaitu puasa untuk menunaikan atau melahirkan visi utama puasa, yaitu ketaqwaan.
Tafataimanii azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, ikhlas dan taqwa ini merupakan 2 hal yang tidak bisa dipisahkan. Ikhlas itu adalah mengharap rido Allah SWT ketika kita menjalakan atau melakukan apa yang Allah perintahkan, maka dari itu kita diuji juga untuk ikhlas. Ikhlas itu bukan dikatakan, ikhlas itu dalam hati. Kalau kita ngonong; "Oo saya ikhlas-saya ilkhlas, saya mau ngasih buka puasa hari ini saya ikhlas." Ikhlas itu bukan diucapkan, sekali lagi, ikhlas itu perbuatan dalam hati, amalan yang sifatnya juga dalam hati. Bahkan dikatakan oleh salah satu imam, imam Maffusi. Beliau merupakan salah satu tabik attabiin, "alikhlasu tadburu edikhlas", ikhlas itu kita mengesampingkan pernyataan kita kalau kita itu ikhlas. Jadi, ikhlas itu cukup di dalam hati, kita tidak perlu mengucapkan; saya ikhlas. "Waman rooa ikhlas lil ikhlas", barang siapa yang melihat keikhlasannya itu ikhlas, maka dia harus melihat lagi dirinya, lalu sering-sering beristghfar karena kita tidak tau keikhlasan itu bentuknya seperti apa. Karena keikhlasan itu cumak bisa dirasakan di dalam hati, tidak kita ucapkan. Maka dari itu Ramadhan taqwa, dan taqwa turunannya adalah ikhlas.
Semoga kita bisa mendapatkan gol utama dari bulan Ramadhan, yaitu "laallakum tattaquun". Jadi, ketika kita keluar dari bulan Ramadhan kita tidak dalam keadaan sebagai orang-orang yang bertaqwa. Taqwa dalam hati kita, taqwa dalam perbuatan kita dan tindakan-tindakan selain kita. Karena hati ini, "idaa sulhat, suluhat jazadu kulluhu, wa idaa fasadat, fasada ala jazadu kullu, alaa wa hiyal qalb". Hati itu kalau baik, maka keseluruhan hati akan baik. Kalu dia jelek, keseluruhannya akan jelek, itu hati. Hati itu dibuat dan diciptakan diisi dengan ketaqwaan. Maka barang siapa yang mengajak dirinya agar senantiasa berada dalam perbuatan yang baik diridoi Allah SWT, maka hendaknya senantiasa dia, melihat kembali hatinya. Apakah hati dipenuhi dengan taqwa, atau dipenuhi dengan rasa keangkuhan, kesombongan, dan hal-hal yang membuat hati kita ini menjadi, "qalubul mayyid", hati yang mati.
Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, setelah kita mengetahui bahwasannya, amalan seperti prioritas utama di bulan Ramadhan adalah menunaikan ibadah puasa yang sebenarnya adalah ibadah bathin. Jangan kita terlena juga meninggalkan amalan yang kedua, adalah amalan dhohir yang wajib. Amalan dhohir yang wajib adalah apa? Sholat 5 waktu. Kalau kita berpuasa, terus kita tidak sholat. Bagaimana hukumnya?,
Bagaimana jalur hukumnya?. Jadi, ada dibagi lagi hukumnya. Kalau kita berpuasa tetapi kita tidak sholat, kalau kita meyakini bahwa sholat itu wajib, maka orang tersebut bisa dikatakan, dia mengingkari Islam. Akan tetapi poin kedua, apabila dia puasa, dan tidak sholat karena alasan yang malas, atau lalai, atau capek. Puasanya sah, tapi sia-sia tidak ada pahalanya. Karena dia meninggalkan kewajiban yang utama. Ini ada di buku Imam Safii dalam kitabul um, kita bisa buka teman-teman semua. Jadi, sholat itu tiangnya agama. Kalau orang tiang pasaknya tidak luhur, otomatis amalan-amalan yang lainnya akan bermasalah.
Dan juga sering terjadi, seseorang yang di bulan Ramadhan dia suka keasikan dengan amal-amalan bulan Ramadhan, dan meninggalkan amalan-amalan wajibnya yang dhohir. Contohnya apa, banyak orang datang berbondong-bondong pergi sholat Tarawih, tetapi dia meninggalkan sholat jamaah sholat Isyaknya.
Jadi merupakan hal yang harus ditanyakan lagi ke hati kita, apakah itu perbuatan yang memang sesuai dengan kaedah yang ada dalam Islam, atau perlu ditinjau lagi, terlalu ke amalan sunnah dengan sholat wajib. Terlalu pagi sholat Isyak, dan dia langsung pergi Tarawih, ada itu, dan sering terjadi. Atau dia keasikan dengan berbuka puasa bersama, habis gitu lupa sholat Maghribnya. Itu sering kedengaran alumni-alumni kita tidak sholat, ternyata restorannya tidak ada tempat sholatnya, akhirnya lewatlah sholat Maghrib. Qul yaa auzubillah.
Maka dari itu, amalan-amalan dhohir yang bersifat wajib perlu kita tunaikan. Baik sholat di bulan Ramadhan ini juga kita ditekankan untuk menunaikan zakat. Jadi.
Babak-bapak, teman-teman semua yang merasa sudah sampai haulnya, sudah sampai masa 1 tahun perlu uang atau hartanya sudah berhak untuk dizakati, maka wajib hukumnya untuk berzakat. Kenapa di bulan Ramadhan banyak sekali orang berzakat, karena itu bulan yang paling mudah untuk seseorang untuk menghitung harta awalnya masuk katagori dalam wajib zakat. Jadi, mudah sekali, karena mungkin kita suka lupa mungkin sekarang misalnya; setelah Shawal bulannya apa, suka lupa. Jadi, kalau kita mulai dari bulan Ramadhan, dan sampai ke Ramadhan berikutnya selama 1 tahun, harta kita posisinya, di mana masih 85 gram emas, mungkin sekarang sekitar 90 jutaan, di bulan ini 90 juta, di tahun depan di bulan Ramadhan harta kita masih 90 juta atau bahkan lebih, maka kita wajib untuk menunaikan zakat. Itu amalan harus kita tunaikan juga.
Jadi, teman-teman mahasiswa juga di safara sampai ketemu, itu juga dihitung dulu. Dan selanjutnya adalah hendaknya kita mengingat kembali hadist Nabi SAW, dengan lafal yang hampir sama, tapi beda konteksnya. "Man sauma romadoona imaanan wahtisaaban ghofirolahu laa taqoddama bidambih wamabitaaffa, waman sauma romadoona imaanan wahtisaaban, ghufirolahu laa taqaddama bidambih walaa taakhod. Man qooma lailatuqader imaanan wahtisaaban maa warabbina laa taqaddama bidambih" Adanya ini hadist tiap konteks yang berbeda tapi maknanya itu sama. Di bulan Ramadan, barang siapa yang berpuasa, melakukan sholat qiyyamullail, kemudian kita mendapati sepuluh terakhir dalam keadaan duduk khusuk menunggu Lailatulqadar, maka niscaya Allah SWT akan memberikan kita ampunan terhadap dosa-dosa kita di masa yang lampau, akan tetapi dengan cara apa?, imaanan wahtisaaban. Iimaanan, iimaanan itu masuk katagori amal bathin. Yaitu iman itu tidak diucapkan, tapi masuk dalam amal bathin juga. Dan ehtisaaban, ehtisaaban di sini dalam keadaan ikhlas, karena tidak merasa terbebani. Jadi, jangan sampai di bulan Ramadhan, seorang melakukan sholat wajib terasa terbebani, terawih, aduh tarawihnya lama di sini, mencari yang tarawih yang pendek saja, tapi pulang saja tarawih di rumah. Jangan ada terbesit akan hal itu. Tidak masalah kita memilih tarawih yang masjidnya tidak terlalu panjang, tidak masalah, tapi jangan sampai timbul; "Wah saya tidak mau tarawih di masjid fulan karena bacanya panjang banget". Itu merupakan bentuk dari ketidak hepian kita dalam menjalankan sebuah ibadah. Tapi kalau kita milih secara langsung masjid-masjid yang relatip lebih pendek tidak ada masalah. tanpa kita menghujat atau mengurangi masjid-masjid lain yang sholatnya panjang. Jadi, nanti kita membuat seakan-akan lupa, bahwasannya sampai ingin diampuni dosanya, maka dia harus ehtisaaban, saya pernah serba sarat ridho Allah SWT.
Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian. Di bulan Ramadhan ini juga, kita perlu senantiasa untuk menjunjung tinggi syiar-syiar Islam. Syiar-syiar Islam banyak, selain sholat, puasa, kita juga perlu menunjukkan akal kita sebagai seorang muslim. Karena di bulan Ramadhan inilah akal seorang muslim itu terlihat. Apabila tadi amalam wajib yang di bathin, kemudian yang kedua yang sifatnya dhohir yang nampak, yang ketiga adalah, hendaknya kita menciptakan diri kita, membawa diri kita sebagai orang-orang yang yang beriman, orang-orang yang berpatuh kepada Allah SWT dengan cara meninggalkan yang apa Allah SWT haramkan d bulan Yang Mulia ini. Karena apa hadist Rasulullahi Sallallahi Wasallam bersabda, "Qallam yadak qamazuur falaisa lahu homsatun fii amyada ambwaamahu wasarobau", tidaklah orang yang tidak meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat di bulan Ramadhan, kata-kata yang kasar, kata-kata yang pemicu keburukan, tangan-tangan, komen-komen di sosial media yang memicu pertengkaran satu sama lain, niscaya di akan Allah SWT biarkan puasanya hanya sebatas lapar dan dahaga.
Jadi, di bulan Puasa, kita juga harus meninggalkan perbuatan-perbuatan yang Allah SWT haramkan. Karena tadi, percuma kita puasa, mulut kita tak puasa tadi, ngomong tetap kasar, tangan kita tidak berpuasa. Tangan kita ngetik-ngetik komen di sosial media, ngomong yang tidak baik menyebabkan orang lain bertengkar, dan menyebabkan teman-teman kita bertengkar, dan lain sebagainya. Karena hal itu juga akan merusak puasa kita. Maka hendaknya kita sebagai seorang muslim, mukmin senantiasa menjaga lisan kita.
Meluruskan iman kita dengan senantiasa menjauhi apa yang Allah SWT larang. Dahulu Nabi SAW diriwayatkan, ketika ada seseorang yang ingin mengajak beliau untuk berdebat atau berbuat pertengkaran di bulan Ramadhan, Nabi SAW bersabda, "inni sooim". Inni sooim, aku berpuasa, aku sedang berpuasa. Dan itu diulang dua kali oleh Nabi SAW. Nabi SAW ketika mengucapkan suatu hadist maupun perkakataan, kalau diulang pasti itu ada hikmahnya. Dan dinyatakan oleh imam Abdurrozak, Hambali, salah satu ulamak Hambali, Nabi SAW bersabda; inni sooim, yang pertama itu untuk diri Nabi SAW sendiri, inni sooim, untuk mengingatkan bahwa saya sedang berpuasa. Untuk menetralisir diri sendiri dulu. Kemudian selanjutnya yang kedua, inni sooim, aku berpuasa, ini untuk menekankan lagi ke orangnya, agar orangnya sadar bahwasannya orang yang berpuasa ini akan menghindari debat kusir pertengkaran dan hal-hal yang membuat puasanya jadi sia-sia. Jadi, itu yang perlu kita tanamkan sampai nanti kita keluar dari bulan Ramadhan. Jadi, jangan sampai ketika kita berada di luar bulan Ramadhan, kita kembali ke pattern awal, pattern di mana kita sedikit-sedikit ribut, sedikit-sedikit buat kerusuhan, sedikit-sedikit buat orang lain sebel sama kita. Maka dari itu hendaknya kita senantiasa memanfaatkan dengan baik Ramadhan ini menjadi momentum kita untuk melatih kesabaran dan melatih hati kita untuk senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Alloh SWT.
Dan ada yang tau al-Qur'an di mana Allah SWT berfirman dalam ayat Al-furqon, Allah SWT berfirman, "Wa ibaadurohman alladiina yamsuuna alal ardhi haula wa idaa hoodu roul jaahiluna qaaluu salaama". Sesungguhnya hamba-hamba Allah yang maha penyayang, ada oarang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan keadaan tawaaduk, wa idaa hoodu roul jaahiluun, dan ketika datang orang-orang yang tidak berilmu, atau orang-orang yang mengajak kita terhadap sesuatu yang menimbulkan kerusuhan, qooluu salaamaa. Orang beriman tersebut mengatakan perkataan-perkataan yang baik. Mengimplentasikan menempatkan dirinya dalam sebaik baik keadaan, tidak memperkeruh suasana. Tidak menimbrung masalah ini menjadi perpecahan, itu hakekat seorang mukmin.
Jadi, orang mukmin di muka bumi ini adalah, orang yang tawaaduk, dan apabila ada orang yang tidak berilmu, datang kepadanya dengan hal-hal yang membuat dia merasa jengkel, maka dia membalasnya dengan suatu kebaikan yang diharapkan bisa meluluhkan hati orang-orang yang tidak sesuai dengan apa yang harus dilakukan selama jadi orang islam, qulayadubillah.
Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, yang terakhir, amalan spesialis Ramadhan. Amalan spesialis Ramadhan ini banyak. Tadi yang saya bilang, di bulan Ramadhan ini semua ahli ibadah turun gunung. Yang biasa sholat tahajud, yang biasa tadarus, yang biasa duduk di masjid mencari ilmu, semua berpuasa, dan di situ memaksimalkan waktunya. Dan mereka ibadah-ibadah spesialis Ramadhan. sholat Tarawih, memaksimalkan kita untuk melakukan sholat Tarawih. Kalau tiba-tiba sholat berjamaah di masjid, upayakan untuk tidak meninggalkannya. Biasanya yang dulunya berjamaah di rumah bersama keluarga. Bakda Isyak karena sekalian teruskan berbuka masih pulang ke rumah gunakan Tarawih di rumah. Jangan sampai ditinggal lebih utama di masjid untuk mengaji.
Yang terakhir bisa atau dalam keadaan sakit, dalam uzur, sholat Tarawih kemudian tadarus di rumah. Ramadhan ini sahrul qudoat, bulannya alam nikmah, Alquran diturunkan di bulan Ramadhan. Maka anda ketika menjadi seorang muslim mukmin senantiasa hidup bersholat jamaah untuk ganjal ahlak Alqur'an. Das dupuluhtjuh yang bagus, tajlisu ma'a alqur'an, duduk bersama Alqur'an. Jadi kita harus bisa seperti itu di bulan Ramadhan.
Dan Ramadhan bulan bersedekan, Nabi SAW bersabda, qolannabi sallallohi wa alaihi wa sallam, abdumminannaas. Dahulu Nabi SAW adalah orang yang paling dermawan. Wa hada kajduattuhaa yaquulu Ramadhan. Dan keadaan terbaik Nabi, keadaan yang paling yang paling dermawan Nabi SAW adalah di bulan Ramadhan. Jadi hendaknya semua dari kita senantiasa memberikan kebiasaan untuk bersedekah di bulan Ramadhan. Baik itu yang bekerja ataupun yang tidak bekerja, kalau ada kesempatan untuk bersedekah biasakan utuk bersedekah. Jangan memposisikan tangan kita di bawah terus, tapi hendaknya memposisikan kita semaksimal mungkin sebagai hamba-hamba Allah SWT yang bersedekah di saat lapang maupun susah. Biasakanlah dari atas dalam keadaan lapang ataupun susah. Dan ini adalah pesan yang sangat penting di bulan Ramadhan. Di mana di bulan Ramadhan, semua orang berlomba-lomba untuk kebaikan bersedekah, khususnya di waktu iftor seperti yang akan kita lewati.
Di mana apabila seorang, juga bapak-ibu, ibu semua yang pernah datang ke sini bawa iftor, inshaAllah nanti akan mendapatkan pahala dari orang-orang yang berpuasa juga, orang-orang yang menikmati iftor yang bapak ibu sajikan, maka niscaya pahalanya akan tersalurkan juga untuk para dermawan yang memfasilitasi iftor tersebut.
Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, yang terakhir, Ramadhan kali ini jadikan sebuah misi utama kita, dan jadikan sebuah ajang untuk kita senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena belum tentu kita akan dipertemukan pada Ramadhan selanjutnya. Usahakan kita benar-benar bisa melaksanakan amalan-amalan berdasarkan prioritasnya, puasa melaksanakan hal-hal wajb lain yang akan sunnah-sunnah meninggalkan yang aram dan melaksanakan hal-hal uang utama di bulan Ramadhan. Dan juga hendaknya kita sadar bahwasannya apa yang kita lakukan ini tujuannya adalah ridho Allah SWT. Jangan sekali-sekali kita engharap ridhonya manusia.
Akan tetapi kita tempatkan diri kita mengharap ridho Allah SWT. Dan jangan ragu untuk mengingatkan kebaikan, ketaqwaan kepada saudara-saudara kita dengan hikmah, dengan cara yang baik dan bijak, dan bukan dengan cara yang menyakiti atau mencacati satu sama lain.
Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian. Di hari yang mulia ini, di sisa waktu yang pendek ini, marilah kita merenung dan mencoba diri kita sembari memanjatkan doa kepada Allah SWT, agar kelak apa yang kita tanam hari ini, dalam bentuk kebaikan, niscaya kita kelak akan memaneni di Surganya Allah SWT.
Berhubung sepuluh menit lagi sudah masuk waktu buka puasa, kita akhiri kajian kita pada kesempatan sore hari ini dengan doa penutup majelis, subhanakalla wabihamdika ashadualla ilahailla anta, astaghfirullah wa atubu ilaik.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.