"Ruang" ini untuk mencatat sejarah hidup kami terutama dalam bentuk tulisan-tulisan, agar peristiwa dan kejadian sedapat mungkin terdokumentasi. itu akan kami gunakan sebagai bahan renungan tentang perjalanan hidup yang telah kami lalui, sehingga berguna sebagai bekal untuk perjalanan kami berikutnya. Kritik dan saran bagi para pengunjung "Ruang" ini sangat kami hargai, karena kami yakin dengan kekurangan yang ada pada diri kami, maka kami membutuhkan anda sekalian.
Friday, October 07, 2011
BERTEMU ANANG-ASHANTY DI DUBAI
Berita Kelahiran
"Kenal nama ini, tidak?", aku sedikit terkejut ketika isteriku menyodori pertanyaan tentang nama seorang wanita yang ia sebutkan di pagi sekali sambil ia tetap mengayunkan setrika pada baju seragam sekolah putraku. Pagi itu tanggal 6 Oktober 2011, aku baru saja selesai sholat subuh yang biasa aku lakukan di rumah dan siap menuju makan pagiku.
"Memangnya kenapa? ", demikian jawabku penasaran dengan menanyakan kembali tentang keperluan pertanyaannya, lalu ia melanjutkan ceritanya,
"itu...!. Wanita yang pernah kita kenal dulu yang sekarang ada di Dubai kemarin melahirkan anak laki-laki",
"Oh...,!", jawabku sambil menyembunyikan wajahku yang merasa lega karena yang dimaksud 'nama wanita itu' adalah nama seorang teman lama isteriku yang tinggal di Dubai sejak gadis dan sekarang sudah mempunyai 4 orang anak, bukan kata 'seperti nama wanita' yang selalu diucapkan seseorang didalam merayu seseorang yang disukai dan disayangi.
"Syukurlah, semoga semuanya selamat", tambahku.
"Iya, kemaren pagi dia sudah merasa mules, kemudian masuk rumah sakit, lalu minta keluar karena siangnya rasa mulesnya sudah hilang", demikian istriku melanjutkan ceritanya. "Siang harinya langsung bertemu Anang-Ashanty, bintang idolanya, setelah itu dia merasa mules lagi lalu masuk rumah sakit lagi sampai ia melahirkan", lanjut istriku.
"Kalau begitu nama anaknya nanti seharusnya ada Anangnya atau sesuatu peristiwa hari ini yang berkaitan dengan kedatangan Anang-Ashanty ke Dubai", demikian aku mengusulkan sambil bergurau.
"Entahlah", timpal istriku singkat, 'Wah.., idolanya sama nih dengan kamu' sambungku lagi, 'Iya', sahutnya pendek sambil tersenyum.
Nyawa atau Harta?
Waktu menunjukkan sekitar pukul 10 pagi, aku baru saja keluar dari Abu Dhabi Shipbuilding kantorku menyetir mobil van milik kantor menuju Towilah, Pangkalan Polisi Air ke arah utara luar kota Abu Dhabi, dengan seorang enjiner teknisi listrik orang Indonesia, seorang kawan kerja, dan seorang mekanik berkebangsaan India ketika secara tiba-tiba ada nada tune SMS di Blackbarry-ku. SMS itu ternyata dari istriku,
"yah punya temen org konjen dubai nggak...", demikian tulisan awal SMS-nya,
"nggak', jawabku pendek sambil menyetir memperlambat laju mobil karena khawatir bahaya akibat nyetir sambil SMSan dan ingin mencari tau kenapa istriku menanyakan tentang itu,
'Oh...kirain', demikian jawaban SMSnya lagi,
lalu 'yah boleh nggak sy ke dubai ntar habis jemput putraku naik bus sama dia terus jenguk teman yang baru melahirkan di lanjut ketemu anang ashanty di konjen...syukur kl ayah mau ikut juga haha tp jam 5 hrs sampai konjen kt teman yang baru melahirkan",
"nggak usah kan ini bkn hari libur", jawabku yang ku ketik ketika mobil berhenti di lampu merah,
kemudian jawabnya, "Besok kan libur pak", lalu SMSnya lagi, "saya sama putraku aja dan ntar di dubai kan banyak temen si A si B dll",
"nggak usah saja", jawabku sambil tetap nyetir.
"Ah dasar nggak mau lihat orang seneng.. Awas ntar kl pingin main tenis ke ruwais atau dubai bakaln sy tidak ngasih",
lalu jawabku karena kasian melihat keinginannya untuk ke Dubai, "Ok, go aja and salam ama mereka".
"bener nih...sy bawa mobil taruh ib batutah atau naik bus ya..", jawabnya seakan tidak percaya akan ijin dariku.
"Ktnya mo naik bus, and sama siapa?", tanyaku lagi,
'ya sama putraku, bu itu sih mau tp nggak tau lagi kl jam 5 hehe.", jawabnya lagi,
"Kl ama putraku aja nggak usah aja, ato aku coba plng dlan", jawabku sambil khawatir pada mereka seandainya pergi ke Dubai cuma berduaan, toh aku bisa pulang lebih awal 2 jam dari jam kantorku karena aku masih mempunyai simpanan kelebihan jam di kantor karena jam lemburku belum aku ambil.
"Ok, kl ayah tdk bisa sy naik bus aja ya.. lagian kan nyetir bagusan sy daripada ayah" lanjut SMSnya lagi,
"Mkn ayah bisa, khsus utk istriku", jawabku singkat,
"Apa artinya", tanyanya singkat, "Ada deh, udah aq lagi nyetir", pintaku untuk mengakhiri SMSan ini karena mobilku sudah akan memasuki High Way arah Abu Dhabi International Airport,
"Yup", jawabnya, lalu akupun meneruskan perjalananku ke Towilah mengunjungi pekerjaan yang menungguku di sana.
Di dalam perjalanan aku sedikit merasa heran dengan sesuatu yang namanya 'kesenangan', beberapa hari yang lalu istriku menuturkan bahwa ia membaca berita seorang anak lelaki di Amerika, ia pengangguran berusia 29 tahun yang hidupnya selalu dibantu oleh ibunya, si anak itu tega membunuh ibunya sendiri dengan sebilah pisau disebabkan si ibu menolak memenuhi permintaan uang si anak untuk membeli karcis pertunjukan (konser) musik dari bintang idola anak itu.
Aku tersenyum didalam hati mengenang cerita itu sambil membayangkan bagaimana keinginan istriku untuk melihat idolanya di Dubai walaupun ia tidak akan melakukan seperti apa yang telah diakukan anak Amerika itu kepadaku seandainya aku tetap melarangnya, untunglah aku sudah mengalah mendukung apa yang ia inginkan pergi ke Dubai sekalian jalan-jalan, demikian pikirku. Walaupun aku tidak merasa semacam ditodong dengan pistol di kepala oleh seseorang sambil berkata, 'Pilih harta atau nyawa'.
Dubai Marina
Pukul 3 sore aku menerima telepon dari isteriku menanyakan posisiku yang sedang berada di Free Port Mina Zayeed, Abu Dhabi. Pada pukul 3:20 sore aku sudah memparkir mobil dekat Masjid Besar 200san meter arah timur rumah. Aku sungguh kecewa begitu mengetahui kunci rumah tertinggal di kantor, sedangkan istriku sudah pergi ke sekolah untuk menjemput putraku yang selesai sekolahnya pada pukul 3:30 sore. Demikian juga istriku, sungguh ia sangat kecewa ketika aku memberitahu bahwa kunci rumah yang ada padaku ketinggalan di kantor, lalu ia bilang, "seandainya memberitau lebih awal, maka kunci yang ada di aku akan aku taruh dibawah koset depan pintu",
'khan, tahunya setelah aku memeriksa tas kerjaku ketika sampai di parkir depan rumah..!", demikian jawabku mengharap istriku dapat mengurangi kekecewaannya kepadaku.
Aku menunggu di lantai dasar lobi apartemenku, kemudian ada SMS dari istriku lagi meminta aku melakukan persiapan ke Dubai secepatnya,
"Yah nanti putra kita naik kasih kunci langsung ayah cuci muka dan kaos aja terus pk sandal di bobil sdh ada celana dan baju ayah... kl perlu bawa handuk kecil ntar bersih di rumah temanku di Dubai Marina",
"Ok", jawabku singkat sambil berkata dalam hati,'memangnya apaan, pulang kerja belum sholat Asyar, badan berbau, rupa berminyak karena keringat dari kerja di kapal, terus membersihkan badan di rumah orang, memangnya si Anangi-Ashanty itu sipa untuk aku?'.
Demikian aku melihat putraku keluar dari mobil, aku langsung ambil kunci rumah ketika itu jam tanganku sedang menunjukkan pukul 3:56 sore. Aku langsung bergegas seperti orang kesetanan membuka baju kerjaku, cepat-cepat masuk kamar mandi untuk shower, 15 menit kemidian aku keluar rumah setelah aku selesai sholat Asyar, aku tidak melihat putraku di dalam rumah setelah aku selesai mandi, pikirku 'apakah dia sudah selesai sholat kok sudah turun menuju mobil lagi?'.
Tepat pukul 3:24 mobil meninggalkan apartemenku menuju Dubai melalui Sakdiyat Island. Setelah keluar dari Yas Island jalan begitu ramai karena banyak orang menuju ke Northern Emirates, maklum hari ini hari Kamis, jadi banyak orang yang bekerja di Abu Dhabi pulang ke kampung mereka di Northern Emirates dan lagi sekarang harga sewa properti di Abu Dhabi lebih mahal daripada di Dubai dan lainnya.
Aku tidak yakin bahwa akan sampai di Dubai sesuai target waktu yang biasanya aku lakukan, yaitu perjalanan selama satu setengah jam saja dari Abu Dhabi. Penyebabnya selain jalan ramai dengan banyaknya kendaraan, juga ada kemacetan setelah Kota Satelit Rahbah disebabkan oleh adanya pekerjaan konstruksi jembatan baru.
Semua kendaraan orang melaju dengan sangat cepat, nampaknya mereka pada takut kehilangan waktu didalam perjalanan mereka, untunglah banyak kamera pengawas kecepatan di sepanjang jalan Highway Abu Dhabi - Dubai, sehingga mereka masih menahan laju kendaraan mereka dibawah 140 KM/Jam, kalau tidak, maka kamera akan menyala merekam gambar kendaraan yang melebihi batas kecepatan yang ditentukan, dan dendalah akibatnya.
Menuju rumah kediaman teman istriku, merupakan isteri dari kenalanku juga di daerah Marina Dubai sebetulnya cukup sederhana, setelah melewati Ibnu Batutta Mall langsung masuk exit kanan mengikuti petunjuk jalan ke arah Marina, akan tetapi karena aku cuma sekali saja mengunjungi rumahnya kira-kira lebih dari dua tahun lalu, maka aku lupa daerahnya, sehingga aku sempat tersesat/kehilangan arah setelah melewati Marina Mall daerah Dubai Marina. Aku sempat kembali karena terlalu jauh melewati rumah teman istriku itu. Hal itu baru diketaahui setelah menerima perintah dari teman istriku melalui istriku. Kemudian mobilku kembali lagi setelah aku memastikan dengan teman istriku di daerah Marina Mall, Dubai. Untuk itu mobilku sampai di halaman parkir apartemen teman istriku kira-kira pada pukul 6:15 sore, di situ terlihat teman istriku sudah siap diantar oleh anak gadisnya yang juga teman dari putraku.
Bertemu Anang-Ashanty
Aku, istriku dan teman istriku bertiga dalam satu mobil saja, suami dari teman istriku tidak bisa ikut karena baru saja datang dari Saudi Arabia, sedang ketiga anaknya ada di rumah, demikian menurut teman istriku menuturkan. Demikian juga dengan putraku, ia lebih memilih tidak ikut ke Konjen Dubai bertemu Anang-Ashanty. Sebenarnya sejak dari rumah di Abu Dhabi putraku telah menggerutu bahwa, mengapa ia harus ikut ke Dubai untuk ini?. Karena hari ini adalah malam hari libur, dan waktunya dia untuk bermain PS3, makanya ia sekarang memilih tinggal di rumah teman istriku dengan membawa PS3 nya yang ia bawa dari rumah, dan akan bermain game dengan putra teman istriku, yaitu anak yang paling kecil,dari keluarga teman istriku, maka kamipun bertiga berangkat menuju kantor Konjen Dubai.
Begitu keluar areal parkir apartemen teman istriku langsung memberi tahu bahwa perjalanan menuju ke kantor Konjen Dubai agak macet, apalagi hari ini hari Kamis, maka iapun memberi tahu aku tip-tip agar perjalanan dapat ditempuh lebih cepat menurut pengalamannya.
"Dubai sekarang nampaknya sudah agak pulih dari krisis, ya?", demikian suaraku memecah kesunyian menikmati ramainya Jalan Sheikh Zayed Road yang menyendat laju mobilku,
"Iya", jawab teman istriku tegas, "Tapi harga sewa akomodasi bulan lalu masih turun, kok !", demikian teman istriku melanjutkan jawabannya.
Ditengah perjalanan istriku menerima SMS dari temannya, yang baru saja melahirkan, ia menuturkan bahwa Anang dan Ashanty tiba di kantor Konjen pada pukul 5:30, mereka datangnya terlambat. Aku melihat jam tanganku menunjukkan pukul 6:26 kemudian kami menyimpulkan bahwa acaranya akan molor, sehingga kami akan dapat bertemu muka dengan mereka walaupun kami bertiga datangnya terlambat.
Letak Kantor Konjen Dubai di daerah Port Rasyed, dalam perjalanan dari rumah teman istriku tadi sebelum masuk daerah areal kantor Konjen ada satu rumah makan Indonesia, Sari Rasa namanya. Kantor Konjen merupakan sebuah villa berwarna putih, kami sampai disana pada pukul 7 malam. Dari tempat parkir aku merlihat seorang perempuan keluar dari Kantor Konjen menuju mobilnya dan langsung menghidupkan mesin mobilnya. Ini dari kejauhan pikiranku merasa yang bukan-bukan, dan yang pasti hati ini bekata, "Jangan-jangan acaranya sudah bubar, dan Anang-Ashanty sudah meninggalkan kantor Konjen".
Pintu luar Kantor Konjen masih terbuka, kami bertiga langsung saja masuk, dan tepat di mulut pintu teman istriku bertemu temannya dan menuturkan bahwa Anang dan Ashanty sudah pergi dari Kantor Konjen. Kami tidak yakin dengan apa yang dituturkan oleh wanita teman dari teman istriku itu, lalu kami jelaskan bahwa mereka datangnya terlambat ke kantor Konjen.
Di halaman Kantor Konjen aku bertemu kawan lama, seorang lelaki, ia pernah bekerja di Kantor KBRI Abu Dhabi sebelum Konjen Dubai dibentuk, setelah aku beritahukan maksudku datang ke Konjen, maka ia mengatakan bahwa Anang dan Ashanty sudah pergi sekitar setengah jam yang lalu. Sungguh aku kecewa lagi mendengar penuturan temanku itu, kemudian kamipun tetap dipersilahkan memasuki kantor Konjen, setelah kawan lamaku membukakan pintu kantor dengan PIN Code yang ia masukkan.
Di dalam Kantor aku melihat ruangan sudah sedikit tidak teratur, kursi tempat duduk pemirsa sudah banyak yang tidak mengarah pada meja presenter, makanan dalam tempat makanan sudah banyak yang terambil, Pak Konjen ada berdiri dengan dua orang lainnya yang satu rekanku yang tinggal di Dubai dan yang lain aku tidak mengenalnya. akupun langsung menyapa Pak Konjen lalu ia menyebutkan namanya, Mansur, orang mengenalnya dengan nama Pangeran. Sambil aku menyalami rekanku yang tinggal di Dubai aku berkata kepada Pak Konjen bahwa aku pernah bertemu dengannya di Abu Dhabi beberapa waktu yang lalu.
Perut terasa lapar begitu melihat sisa makanan acara Anang-Ashanty yang masih tetap berada di atas meja makan tamu, tetapi karena aku belum sholat Maghrib, maka aku meminta ijin kepada Pak Konjen untuk solat dulu. Aku melihat sejenak ke arah istriku dan teman istriku, mereka sedang sibuk menyapa bersalaman sambil menempelkan pipi-pipi mereka. Dandanan wanita-wanita yang saling tegur sapa dengan istriku nampaknya lebih gemerlap daripada istriku dan temannya. Wanita yang berbaju hijau dengan rok diatas lutut menurut teman istriku adalah isteri Pak Konjen, dimana di Abu Dhabi aku tidak pernah melihat Ibu Dubes berpakaian rok yang boleh dikatakan mni itu. Lalu aku bergurau sambil berkata, "Kalau Ibu Konjennya berpakaian mini, masyarakatnya akan berpakaian yang bagaimana, ya..?". Istriku dan temannya hanya menjawabnya dengan senyuman saja.
Suasana Kantor Konjen Dubai terasa sesak, selain banyak barang-barang seperti alat-alat musik, meja makan, meja konter untuk menerima tamu, telivisi berukuran besar (kira-kira 52 inchi), dan sekat ruangan yang memisahkan bagian belakang dapur dan kamar kecil seolah tumplek-bleg di satu ruangan.
Hasrat setelah sholat Maghrib akan langsung makan malam di Konjen, sholatpun sedikit terburu-buru terpikir takut makanan cepat-cepat diambil dari meja makan dan dimasukkan ke dalam. Selesai sholat Maghrib dan memasang kembali sepatu langsung menuju ke istriku dan temannya yang kelihatannya menungguku selesai sholat, aku bertanya kepada istriku apakah ia sudah selesai sholatnya, iapun mengingatkan aku bahwa ia sedang tidak boleh sholat, lalu iapun mengajakku pulang. Kemudian sambil berbisik aku bilang, "Lho..!, nggak makan dulu ?",
"tidak usah, nanti di rumah Ria", jawabnya, rupanya ia dan temannya sudah sepakat untuk tidak makan malam di Konjen karena ia terlambat datang, menurut istriku bahwa nanti disangka orang datang hanya untuk makan saja, maka kecewalah lagi, aku..!.
Kami Melampiaskan Kekecewaan
Entah apa yang ada didalam benak istriku dan temannya, yang pasti aku sudah kehilangan kesempatan menikmati makanan di dalam Kantor Konjen malam itu, yang terbayang di dalam pikiranku adalah ayam goreng keri-kering warna kecoklatan, nasi putih dalam bakul, sambal dalam mankok, dan sayur-mayur dengan kuah agak kehitaman, serta aneka minuman kaleng diatas meja. Aku mencoba membayangkan datang jauh dari Abu Dhabi ada banyak makanan dan minuman, perut terasa lapar dan ada kesempatan tetapi hilang begitu saja karena harus menjaga toleransi perasaan kepada isteri dan temannya yang takut dibilang orang, "Hanya mau makan saja datang ke Konjen..!". "Ahh.., biarlah, rejeki tidak bisa ditolak", demikian aku meyakinkan diriku sendiri.
Ditengah jalan setelah keluar kantor Konjen istriku mengingatkanku bahwa setelah ini akan mencari buku untuk putraku di toko buku Konakonia, di Emirates Mall. Lama aku bertiga saling bercerita tentang kondisi kemasyarakatan di Dubai termasuk 2 kelompok pengajian, acara arisan ibu-ibu dan lainnya. Sebelum melalui exit 36 dekat rumah teman istriku, istriku mengajak langsung ke Emirates Mall. Lalu akupun harus membelokkan kembali ke arah Dubai laju mobilku. Teman istriku menganjurkan untuk masuk Emirates Mall dari pintu Burj Khalifah, lalu masuk ke arah At the Top Parking karena dekat dengan lokasi toko buku Konakonia. Dari tempat parkir itu langsung masuk lift, begitu keluar dari lift di lantai 1 sudah langsung berada didalam toko buku itu.
Dari 4 buku yang dicari hanya satu yang dijual di toko buku Konokania itu, secepat kilat kami keluar menuju toko buku yang lain di daerah Jumaerah karena waktu sudah agak larut khawatir toko bukunya sudah tutup.
Perjalanan menuju toko buku daerah Jumaerah terasa sangat panjang, sementara istriku memerikasa SMS yang sedang datang pada telepon cellku mengatakan bahwa sisa uang didalam pulsa Salik-ku hanya 6 Dirham saja. Salik merupakan Toll Gate System Dubai secara elektronik, ini dirancang secara free flow tolling system, setiap pengendara yang akan melewati jalan-jalan utama Dubai diharuskan mempunyai pulsa Salik. Ia bekerja dengan memasang semacam chip pada kaca depan tengah mobil, setiap melewati Toll Gate Dubai mobil akan diidentifikasi oleh perangkap gate kemudian secara otomatis akan mengurangi sebesar 4 (empar) Dirham pulsa yang ada dalam rekening Salik mobil tersebut menggunakan teknologi Radio Frequency Identification,.
Pengemudi dapat memperoleh pulsa Salik dengan cara mendaftarkan mobilnya di setiap stasiun pompa bensin, terutama pompa bensin milik Pemerintah Dubai, dengan mengisi formulir mengenai identitas mobil, pemiliknya serta nomor tepon cellnya, pulsa awal biasanya berisi 100 Dirham, kemudian begitu pulsa yang tersisa dibawah 30 Dirham karena pemakaian, maka Pihak Salik akan mengirim pesan melalui SMS mengingatkan pemilik pulsa Salik tentang sisa uang yang ada di dalam rekeningnya.
Istriku merasa khawatir sekali, maklum ia orangnya paling tidak suka berurusan degan pelanggaran-pelanggaran peraturan, cepat-cepat ia memintaku untuk mengisi kembali pulsa Salik mobilku, namun karena kini sedang diburu waktu, maka dipituskan mengisi pulsa Salik setelah kembali pulang dari toko buku daerah Jumaerah saja.
Buku yang dicari ternyata tidak ada di toko buku daerah Jumaerah, walaupun penjaga toko itu bilang bahwa ada judul buku yang dicari Worl War-1, tetapi setelah diteliti ternyata buku itu diperuntukkan bagi anak sekolah dasar saja, sedangkan yang dicari untuk sekolah menengah atas. Menurut penjaga toko itu bahwa tokonya tidak hanya menjual buku-buku untuk anak sekolah dasar saja, juga untuk sekolah menengah atas, sayangnya buku yang sedang dicari tidak ada.
Jalan menuju rumah teman istriku dari Jumaerah terasa cukup panjang, apalagi banyak lampu lalu-lintas di sepanjang jalan itu. Ketika dari kejauhan terlihat ada atu stasiun pompa bensin Emarates mobil aku kurangi kecepatannya dan segera aku belokkan untuk membeli bahan bakar dan pulsa Salik. Selesai isi bensin lalu aku masuk toko milik pompa bensin itu dan langsung menanyakan pada petugas jaga untuk mengisi pulsa Salik. Penjual mengatakan bahwa pulsa yang terendah adanya hanya 200 Dirham, sedangkan saya mencari yang bernilai 100 Dirkam, tanpa banyak pikir akupun membelinya, tetapi ketika akan aku masukkan pulsanya kedalam rekeningku aku diminta nomor PIN yang dulu waktu pertama kali diberikan oleh Salik. "Wah.. aku sudah lupa, pulsa 100 Dirham pertama aku beli dulu baru habis sekian tahun apalagi mobilku sangat jarang melaju di Dubai", demikian gerutuku. Akhirnya diputuskan akan dilihat lagi setelah sampai di rumah teman istriku saja sambil mengkonsultasikan denga suami dia,
Aku sudah kenal lama dengan suami teman istriku, ia aku anggap teman dekat juga. Ia yang sudah sering kali mengisi ulang pulsa Saliknya. Suami teman istriku mencoba mencari tahu melalui website Salik, kemudian ia menyimpulkan bahwa nomor kode PIN tetap diperlukan, maka aku mencoba untuk menelpon Salik lagi, setelah dicoba sebanyak 3 kali, aku mendapatkan SMS dari Salik memberi tahu bahwa nomor PIN-ku adalah 8153. Setelah aku masukkan nomor-nomor yang diperlukan lagi melalui telepon cell-ku, maka Salik memberitahu bahwa sekarang jumlah pulsa dalam rekeningku sebesar 202 Dirham.
Aku mencoba menenangkan kembali pikiranku atas beberapa kekecewaanku tadi. Gagal bertemu Anang-Ashanti buknlah berarti gagal segalanya. Gagal makan malam di Kantor Konjen tadi bukanlah kegagalan segalanya. Seandainya aku, istri dan putraku tidak pergi ke Dubai, maka kami tidak akan menikmati makan malam di rumah teman istriku. yang bertempat tinggal di Dubai Marina ini Seandainya aku tidak ikut ke Dubai, maka aku tidak akan mengisi ulang rekening Salik untuk mobilku. Dan seandainya kami tidak pergi ke Dubai, maka putraku tidak akan main PS3-nya dengan anak lelaki teman istriku dirumah teman istriku dan putraku tidak menonton movie melalui saluran khusus di rumah teman istriku, bahkan putraku hari ini tidak akan bertemu dengan putinya teman istriku, puteri kawanku juga. Inilah hidup, ia selalu membuat makhluk untuk tetap dinamis mengikuti pergerakan lingkungan sekitarnya.
Pulang ke Abu Dhabi
Di depan meja makan aku menengok jam tanganku, aku lihat ia menunjukkan pukul 11:30an malam, aku meminta istriku agar mempersiapkan pulang saja, iapun menyetujuinya. Beberapa menit setelah kami rasa cukup, maka kami keluar rumak temanku ini. Di areal parkir apartemen temanku penjaga parkir selalu berdiri begitu ada tamu yang keluar apartemen, aku lihat ia membawa buku catatan guna mencatat setiap tamu yang datang, serta mencatat jam saat mobil diparkir, di sana ada plakat bertuliskan kira-kira berarti "setiap pengunjung dibrikan waktu parkir maksimum 4 jam, pelanggaran akan didenda". Aku melihat didepan kaca mobil terselip stiker diantara lengan pembersih kaca depan, stiker aku ambil, ia bertuliskan tentang status jam parkir mobilku, mulai kedatangan dan tempat yang dikunjungi serta nomor telepon cell-ku.
Diawal perjalan menuju Abu Dhabi badan terasa lelah dan juga ngantuk. Ketika mobil akan melintasi stasiun pompa bensin setelah Gantoot, aku putuskan membeli minuman dan makanan yang akan aku nikmati selama perjalanan sambil menyetir untuk menghilangkan rasa ngantuk. Setelah beberapa saat keluar dari stasiun pompa itu aku tetap saja merasa ngantuk dan aku harus memutuskan untuk berhenti di lain stasiun pompa saja untuk tidur sebentar diatas mobil karena sudah susah untuk ditahan rasa ngantukku dan aku takut berakibat yang bukan-bukan.
Memang sangat berbahaya menyetir di jalan-jalan Persatuan Emirat Arab ini, selain jalannya mulus-mulus, juga besar-besar dan didukung dengan mobil yang bagus-bagus pula, maka akan membuat seseorang untuk melajukan kecepatan mobilnya dengan cepat saja. Jadi, kalau ngantuk dan tertidur sekejap saja selagi menyetir, maka ini dapat berakibat fatal.
Sesampainya di stasiun pompa Alrahba mobil aku hentikan, lalu aku tidur saja. Putraku sudah tidur sejak tadi rupanya di jok kursi belakang. Istriku nampak sudah sayup-sayup matanya menahan rasa ngantuk pula, dan akupun jatuh tidur di parkiran pom bemsin Alrahba.
Tidak terasa aku sudah tertidur selama kira-kira 1 jam. Itu aku sadari ketika aku terbangun dan melihat jamp tanganku. Kemudian aku putuskan untuk meneruskan perjalanan. Aku paksa driku meneruskan perjalanan dengan badan sedikit terasa segar kembali, Istriku selalu bertanya tentang kondisi ngantukku, ia menawarkan untuk menyetirnya apabila aku masih terasa ngantuk, aku menolaknya karena aku lebih khawatir lagi kalau dia yang menyetir mobil malam hari tanpa memakai kacamata kirnya yang tertinggal di rumah.
Pukul 3 pagi kami sampai di depan apartemen, putraku masih tertidur pulas di tempat duduk belakang, ia masih menggigau ketika aku membangunkannya kemudian ia terbangun ketika ia tersadar dengan suara tinngiku mengatakan bahwa kita sudah sampai.
Parkir sekitar rumah sudah penuh semua, setelah putus asa berkeliling mencari tempat parkir sekitar rumah kemudian aku putuskan mencarinya disekitar Kantor Pos Tourist Club sana, setelah memparkir mobilku, maka aku pulang untuk beristirahat di rumah membuang lelah di jiwa dan ragaku karena pesona Anang dan Ashanty hari ini.
Sekian..!.
Medio Abu Dhabi, 11/7/2011
Tuesday, October 05, 2010
Ke Seattle
Sejak pagi aku sudah mulai sibuk dengan urusan cutiku di kantor, ketika itu tanggal 22 September 2010, mempersiapkan perbekalan dokumen mulai dari mengurus surat clearance tanggungan di kantor sebelum mengambil paspor sebagai tanda bebas untuk bepergian ke luar Uni Emirat Arab. Rekan-rekan di kantor banyak yang bertanya padaku tentang ketidak biasaanku tetap berada di kantor sampai pukul 11:30 pagi, dimana biasanya aku sudah berada di lapangan memberi pengawasan terhadap jalannya pekerjaan kepada pekerja teknisi dalam memperbaiki kerusaka-kerusakan pada kapal. Pasporpun sudah di tangan, dan waktu menunjukkan pukul 12:00 siang, tibalah waktu untuk menyimpan dan/atau mengamankan barang-barang berupa peralatan dan perkakas kerja milik kantor ataupun milik pribadi yang ada didalam mobil kantor karena mobil kantor harus diserahkan sebelum cuti dimulai. Setelah sampai di Free Port Zayeed aku sempatkan bertemu beberapa pekerja bawanku serta memberikan pengarahan tentang pembagian kerja ketika aku cuti mulai besok pagi. Kendaraan kantor aku serahkan kepada bawahan bernama Legi, seorang Service Engineer baru yang selalu bekerja denganku dan mempunyai surat ijin mengemudi(SIM) UAE, kemudian ketika jam menunjukkan pukul 14:30 aku memintanya untuk diantar pulang dan kendaraan kantor dibawanya untuk dikembalikan ke kantor pada Christian, penanggung jawab kendaraan kantor yang sebelumnya sudah aku beritahu. Di rumah, Ila masih sibuk dengan persiapan terakhir keberangkatan ke Seattle, apalagi perjalanan ini merupakan perjalanan yang sangat dinantikan, selain bersejarah bagi keluarga kami, bagi Ila ini merupakan hari yang ia tunggu-tunggu, karena ia begitu menginginkan berpisah untuk meninggalkan Abu Dhabi dan hidup mandiri tidak serumah dengan keluarga, sungguh keinginan yang berbeda ketika aku dulu baru lulus SMA dan berhasrat mendaftarkan kuliah di Bandung atau Jogjakarta saya urungkan karena saya akan jauh dengan orang tua. Untuk itu ia memilih melanjutkan sekolah di perguruan tinggi yang jauh dari kami di Abu Dhabi, yaitu di University of Washington, Seattle. Kira-kira pukul 21:00 aku dan Ila diantar oleh istriku Sukarsi dan putraku Tanwin keluar rumah berangkat menuju bandara udara dengan taksi, istriku tidak bisa mengantarkan dengan mobil pribadi karena perjalanan dengan menyupir dimalam hari sangat mengganggu penglihatannya karena gelap dan letak pelabuhan udara Abu Dhabi yang cukup jauh, kira-kira 35 kilometer dari rumah, supir taksi berkebangsaan India dan selalu mengajak bicara selama di perjalanan, adalah merupakan kebiasaan sopir-sopir taksi di Abu Dhabi mengajak bicara penumpangnya terutama penumpang dari Asia, bahkan ia meminta untuk disebarkan nomor telephonnya kepada komuniti Indonesia di UAE apabila ada diantara temanku membutuhkan taksi, ia bersedia dipanggil dimanapun di Uni Emirat Arab ini. Tetapi yang perlu diperhatikan ketika naik taksi adalah; apabila si sopir taksi sudah memulai menjelaskan kesulitan keuangannya, itu biasanya akan diungkapkan apabila si penumpang sudah masuk dalam jeratannya, yaitu ketika status si penumpang sudah jelas terutama tentang profesi pekerjaan di Abu Dhabi, dan supir menyimpulkan bahwa si penumpang mempunyai penghasilan yang cukup baik, maka supirpun akan memulai menjelaskan tentang kesulitan keuangan yang dihadapi dalam kehidupannya di Abu Dhabi dengan tujuan untuk mendapatkan ongkos tambahan (semacam tip) ketika sampai tujuan. Boarding lancar-lancar saja, tetapi karena tas bagasi dibatasi 2 tas bagi setiap penumpang dengan berat maksimum 25 kilogram dengan ketentuan kelebihannya akan di denda 20 USD per kilogram akan bebankan kepada penumpang yang membawa kelebihan dari yang sudah ditentukan, maka terpaksa harus mengepak kembali tas yang akan dimasukkan kedalam bagasi agar 4 tas berisi sepadat mungkin dengan berat tidak lebih dari 50 kilogram karena aku dan Ila membawa 5 tas besar (ukuran 25x40x60 cm3, 1 buah; 20x30x50 cm3, 2 buah; 30x30x60 cm3, 1 buah; dan ukuran 25x35x55 cm3, 1 buah) untuk dimasukkan kedalam bagasi, dan tas punggung 2 buah. Karena persaratan pihak penerbangan diatas, maka aku putuskan untuk membawa ke dalam kabin saja 1 tas kecil dan beratnya paling ringan setelah diatur pengepakan kembali di depan konter boarding. Sebelum memasuki pintu Passport Control aku dan Ila mengurus pembatalan (cancellation) resident visanya Ila, karena Ila akan meninggalkan UAE lebih dari 6 bulan secara terus-menerus tanpa memasuki UAE lagi akan mengakibatkan dibatalkan secara otomatis resident visanya oleh pihak Imigrasi UAE dan jika demikian, maka untuk memasuki kembali ke UAE akan mendapatkan kesulitan karena dianggap melarikan diri, tetapi jikalau pembatalannya dilakukan sesuai dengan prosedur, maka akan mempermudah urusannya nanti apabila dikemudian hari ingin kembali memasuki UAE lagi. Seterlah melalui Passport Controll langsung menunggu di depan Gate-9, sambil menunggu boarding untuk memasuki pesawat, aku dan Ila mencoba membenahi 3 tas (2 tas punggung dan 1 tas jinjing besar) agar menjadi 2 tas saja, alkhirnya semuanya bisa diatasi, dan memasuki pesawat dengan 2 tas (1 tas punggung dan 1 tas jinjing) saja ditambah tas filling yang isinya buku dan dokumen yang dikeluarkan dari tas punggung karena sebelumnya sudah ditempatkan didalam tas khusus untuk filling, serta jaket milikku dan Ila yang tadinya disimpan didalam tas dikeluarkan dan dipakai menuju pesawat. Penerbangan menuju Seattle harus transit di pelabuhan udara Amsterdam, didalam pesawat dari Amsterdam menuju Seattle aku dan Ila selalu diberi makanan khusus yang menurut pramugarinya bahwa kami memesan type makanan itu, aku menanyakannya kepada Ila apakah ia melakukan pemesanan melalui internet atau selainnya dia menjawab tidak. Ketika aku sudah turun dari pesawat di Seattle, aku mencoba memeriksa kembali e-tiket pesawat yang telah aku pesan di Abu Dhabi, dan ternyata didalam tiket tertulis bahwa meal (makanan) khusus untuk Muslim. Suasana pelabuhan udara Tacoma-Seattle cukup sejuk, saat itu waktu menunjukkan pukul 13:05, aku melihat loket Passport Control pelabuhan udara Tacoma-Seattle dibagi menjadi loket-loket untuk orang-orang Amerika Serikat dan Kanada, Amerika Latin dan Tengah, dan untuk orang dari selainnya. Antrian manusia cukup banyak disetiap loketnya, itu dikarenakan secara bersamaan ada 4 pesawat yang mendarat, apalagi saat itu ada kemacetan pada system komputer imigrasi pelabuhan udara Seattle, sehingga yang belakangan harus menunggu sekitar 45 menit sampai system komputer beroperasi kembali dan orang-orang yang sudah lama menunggu pun bersorak kegirangan. Itulah kekurangan system komputer, jikalau ada masalah semuanya akan menjadi tidak jalan. Transportasi dari pelabuhan udara menuju kota seattle ada beberapa macam, Taxi, Shuttle Express, Bis Umum, dan lainnya. Shuttle Express cukup mudah dan relatip murah, dengan taxi bisa dipungut sampai 70 USD, dengan Shuttle Express dipungut biaya 23 USD per orang, dan hanya 45 USD untuk 2 orang dengan membayar harus memakai credit card. Sesampai di Hagget, dorm tempat Ila akan menginap tinggal selama kuliah tahun ajaran 2010/2011 sekitar pukul 16:30, setelah check in di Hagget langsung menuju lantai 4 kamar nomor 20an, sebelum memasuki kamarnya, Ila bertemu dengan teman kamarnya, Moly dari Nebraska, AS. Setelah masuk kamar untuk meletakkan tas untuk Ila, aku dan Ila keluar menuju Hotel College Inn dengan berjalan kaki, hotel tua dan termasuk bangunan yang dilindungi oleh Pemerintah Kota Seattle, aku mendapatkan kamar no. 311, dengan nomor saluran telephone 41, sesuai status hotel sebagai Hotel Tua, maka salah satu dari tiga korden kisi metalnya ada yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, ketika diratik untuk dibuka hanya satu sisi kiri yang terangkat dan sisi kanan tetap tertinggal dibawah, semakin ditarik untuk diangkat terbuka semakin tinggi sisi kiri korden, sehingga menyebabkan seolah sisi kiri menggantung pada tali korden, selain itu perlengkapan didalamnya merupakan perlengkapan lama, kamar yang aku tempati ada 1 tempat tidur ganda, 1 meja telephon, 1 meja kopi, 1 meja tulis, 1 kursi makan, 1 kursi panjang terpasang permanen dibawah jendela, 1 meja setrika lipat, 1 washtafle, 1 CD player lama, 1 kipas angin, 2 gelas, 1 kertas tissue kotak, dan 2 sabun mandi keras, ada fasilitas internet wireless, telephone hanya antar kamar saja kecuali hanya bisa menerima telephone dari luar, untuk urusan faksimil dan komputer dengan internet dan printer semuanya harus dilakukan di kantor administrasi Hotel. Fasilitas sanitasi merupakan fasilitas umum, artinya setiap lantai dengan 6 kamar hanya ada satu ruangan sanitasi yang berisi 2 kamar mandi dengan shower, 1 toilet/WC, 1 tempat buang air kecil, dan 1 washtafle. Di toilet tidak ada air kecuali kertas tissue, jadi, tidak seperti di Negara Muslim membersihkan sisa kotoran setelah membuang air besar memakai air cukup dengan kertas tissue saja, ini membuat aku kagok karena tidak biasa, tetapi bukan hanya di Hotel ini saja yang demikian, di kampus University of Washington, Seattle, toilet umum di stasiun Down Town, bahkan mungkin pemakaian air di toilet memang tidak umum di Seattle. Perut terasa lapar setelah selesai mandi dan menikmati suasana Hotel, keluar dengan Ila mencari makan malam, sepanjang jalan banyak restoran mulai dari Thai, Vietnam, Timteng, Amerika, Meksiko, India, dll.. Ila sudah berpengalaman disini karena pada bulan Juli yang lalu ia dan ibunya ke Seattle melakukan orientasi, sehingga secara langsung dapat menunjukkan restoran Timteng bertuliskan halal. Aku sudah terbiasa dengan aneka menu masakan Timteng seperti di Abu Dhabi, tetapi ada satu menu mmurah disebut Gyros, yaitu terdiri dari kobus (roti lempeng bakar berdiameter kira-kira 20 centimeter), homus (saos kacang gerinda lembut khas Timteng), salad segar, dan daging potong bumbu semacam kare goreng, bisa daging ayam, lembu atau biri-biri. Kobus dipakai sebagai bungkus luar dari semua bahan makanan itu, harga kecil adalah 5 USD, dan yang besar 7 USD, Aku dan Ila selalu memesan yang kecil saja karena sudah cukup mengenyangkan, terkadang Ila tidak dapat menghabiskannya untuk sekali makan dan ia bawa pulang untuk nanti, demikian seperti yang ibunya ajarkan; habiskan makanan yang dipesan di restoran, kalau tidak, bungkus dan dibawa untuk nanti, membuang makanan adalah penganiayaan. Ila disibukkan dengan dirinya sendiri, aku memakluminya, ia mesti banyak urusan sebagai mahasiswa baru di UW Seattle walaupun kuliahnya baru akan dimulai pada tanggal 29 September mendatang, ia disibukkan juga melayani teman lama ataupun teman barunya berkomunikasi dari face book atau emailnya di Seattle. Saya sedikit heran, ternyata di Seattle ini tidak seperti yang saya bayangkan yaitu suatu tempat yang didominasi oleh orang keturunan kulit putih, disini etnis Asianya cukup banyak, terutama etnis-etnis seperti China (China, Jepang, Korea, Vietnam, Philipina, dll), India dan Arab, sedangkan orang kulit putihnya tidak terlalu mendominasi. Kondisi kota nampak relatip aman, penyeberang jalan selalu didahulukan daripada kendaraan bermotor, sehingga sopir akan 'lingak-linguk' ke kanan dan ke kiri ketika akan melintasi tanda penyeberangan (zebra cross) untuk memastikan ada tidaknya penyeberang, jikalau ada maka mobilnyapun berhenti untuk memberi kesempatan pada penyeberang jalan, istriku bilang kalau di Loss Angles beda, di sana sama dengan di Abu Dhabi, penyeberang harus menunggu jalan kosong sebelum menyeberang jalan, kalau tidak akan mendapatkan damprat dari sopir berupa jeritan klakson bahkan akan fatal tertabrak mobil yang berkecepatan tinggi karena tidak perduli dengan zebra cross. Pak Arianto Ridwan, seorang Indonesia yang pindah ke Seattle sejak 16 tahun lalu, aku dan Ila harus bertemu dengan Pak Arianto karena ketika Ila berkunjung ke Seattle pada bulan Juli lalu meminta tolong Pak Ari untuk dibelikan I-phone-4, kebetulan Pak Ari bekerja di Microshoft Company di Seattle, maka dalam pembelian barang-barang elektronik yang berhubungan dengan Microshoft akan mendapatkan harga khusus. Kami kenal beliau karena adik perempuan Pak Arianto berada di Abu Dhabi mengikuti tugas kerja suaminya, Aku dan Ila diajak makan siang bersama anggota keluarganya di salah satu Thai Restoran di University Village dekat kampus UW, saya taunya menu masakan Tom Yam saja di Restoran Thailand, sangat lezat karena rasa gurih dan pedas, masalahnya adalah aku tidak mempunyai pertahanan yang bagus menghadapi makanan pedas, cairan dari hidung mudah keluar karena makanan pedas, apalagi sedang diajak makan oleh orang yang baru dikenal, malu nantinya. Untuk itu aku memilih makanan soup-noodle ayam yang tidak saya kenal karena semua orang semeja sudah menentukan pilihannya, maka saya mengatakan setuju ketika pelayan restoran menanyaiku apakah pakai santan (sari kelapa) atau tidak. Wah, menunya banyak sekali, ukuran mangkoknya sebesar tempat kuah untuk porsi makan satu keluarga di rumah dan isinya penuh, tetapi ketika memulainya untuk menyantapnya, aku merasakan tidak terlalu menyukai rasanya, perlahan-lahan aku makan dan akhirnya tersisa tigaperempatnya, lain halnya dengan Ila, ia memesan mie goreng ala Thailand, rasanya memang lezat setelah aku mencicipinya. Lalu Ila meminta sisa soup-noodle sisaku dan ia memakannya, karena tidak habis juga, maka Ila mengusulkan agar sisa makanan yang saya pesan untuk dibungkus dibawa pulang, tetapi karena mie kuwah nantinya akan menjadi becek, maka aku menolaknya. Sekejap teringat ketika kuliah di Fakultas Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) dulu, buku-buku referensi kebanyakan yang saya miliki kebanyakan dari fotokopi bagian dari buku-buku asli yang dipinjam dari Perpustakaan Pusat ITS, dan ada beberapa buku pegangan hasil karya dosen-dosen fakultas Mipa, TI dan Kelautan seperti Matematika Dasar, Statistik, Bahasa Ingris, Getaran dan Finite Element Method. Sedangkan di UW Seattle, seluruh buku referensi ada tersedia di toko buku milik kampus yang bernama Book Store University of Washington, bahkan toko buku tsb, semacam grand store, selain buku-buku dan alat tulis untuk keperluan kuliah, ada bergagai macam majalah, komik buku bacaan cerita fiksi ataupun nonfiksi, kafe, souvenir, berbagai pakaian terutama kaos, topi dan jaket berlogo UW, bank, pokoknya menyediakan segala keperluan mahasiswa dan dikelola secara profesional, yaitu apabila mahasiswa melakukan transaksi dianjurkan memekai kartu kredit mahasiswa, dan diakhir tahun kumpulan transaksi tsb. bisa dikembalikan lagi kepada mahasiswa sebesar 10% dari nilai total transaksi dengan kartu kredit mahasiswa, untuk itu setiap harinya dipenuhi oleh mahasiswa untuk membeli keperluannya disitu. Pelayan toko akan memberikan jawaban sepuas dan seramah mungkin kepada pengunjung tentang barang yang akan dibeli, Ila memilih buku kimia untuk keperluan satu tahun ajaran, pelayan toko memberikan alternatip; apakah ingin membeli buku baru atau buku bekas pakai. Setelah memperhatikan secara seksama, buku bekas keadaannya bagus sekali dengan harga sekitar 60% dari harga buku baru, didalam memilih bukupun pelayan toko masih memberikan pengarahan, karena selain buku tahunan (3 semester sekaligus) ada juga buku semesteran, pelayan toko menganjurkan untuk membeli buku semesteran saja, selain harganya lebih murah juga lebih baik apabila ada pergantian buku karena revisi untuk semester berikutnya, untuk buku tahunan selebihnya tidak bisa dipakai, sedangkan untuk buku semesteran bisa langsung membeli yang baru tanpa harus kehilangan bagian buku yang tidak terpakai. Selama 10 hari di Seattle Campus District, sekali saja melihat taksi melintas di jalan, selainnya jalan-jalan hanya dilewati oleh pejalan kaki, sepeda, mobil pribadi dan bis kota. Bis kota merupakan alat transportasi yang paling populer, bagi mahasiswa UW, tidak dimintai uang tiket ketika naik bis, mereka hanya cukup menunjukkan kartu mahasiswa saja karena biaya yang dipungut pihak kampus sudah termasuk ongkos bis dalam kota Seattle. Aku tertarik untuk naik bis, dan aku mencobanya ketika pergi ke Down Town, seluruh penumpang menunggu di Halte pemberhentian bis, setiap orang selalu menoleh ke arah bis yang datang memperhatikan nomor line/lintas yang ada di bagian atas depan bis, ke Down Town bisa memakai bis nomor 70an, 71, 72, dan seterusnya dari kampus UW. Orang akan langsung membentuk antrean begiatu bis yang dikehendaki datang, supir bis cukup ramah, biasanya antara sopir dan penumpang langsung bertegursapa baik dengan salam atau dengan senyum, demikian ketikan turun melewati pintu depan dekat sopir, nampaknya setiap penumpang selalu mengucapkan 'thank you' kepada sopir sebelum keluar bis. Biaya tiket bis 2 dolar berlaku untuk 3 jam, setiap penumpang harus membayar dengan uang pas dimasukkan pada mesin disamping tempat duduk sopir. Tetapi ketika naik dari Stasion di Down Town setiap penumpang dipersilahkan duduk dulu membayarnya belakangan, aku sekali pernah membayar dengan uang 5 dolaran ketika mau turun, maka sopir wanita bis itu mengatakan bayarlah dengan uang pas, kami tidak punya uang kembalian, ketika aku mengutarakan alasan bahwa aku tidak punya uang pas, dan uang 5 dolar ini adalah uang pecahan terkecil yang saya punya dan saya jelaskan bahwa saya benar-benar tidak mengetahuinya, maka si sopir akhirnya menasehati aku bahwa 'sekarang akan saya lepas, lain kali sediakan uang pas'. Lama sekali terlintas dalam pikiran, mengapa sopir bis tidak mempunyai atau menyediakan uang pecahan untuk tukar uang dalam keadaan dibutuhkan?, apakah sopir tidak diperkenankan berhubungan dengan uang?, ataukah agar semua orang bertanggungjawab demi cepat dan lancarnya jalan dan pelayanan bis kota?. Setelah turun dari bis saya merasa bersalah, atas ketidak tahuanku menyebabkan aku tidak membayar bis perjalanan dari Down Town ke UW, Seattle, sebetulnya sebelum naik bis di Down Town tadi aku sempat berfikir bagaimana nanti aku akan membayar bis sedangkan aku tidak mempunyai uang pas pecahan sebanyak 2 dolar, aku nekad naik karena toh pembayaran bis dilakukan nanti ketika akan turun bis, uang 5 dolar pasti akan ditukar oleh sopir bis nanti, itu seperti pengalamanku di Inggris dulu, sopir bis akan memberi uang kembali sebelum memberikan tiket bis karena uang kembalian. Ahirnya aku putuskan memberiakan uang bis yang tidak aku bayar tadi kepada pengamen yang ada di depan Book Store UW sebanyak 1 dolar, dan 1 dolar lagi untuk yang lainnya walaupun akhirnya tidak menemukan lagi karna hari sudah larut malam. Di Down Town Seattle seperti kota besar lainya yang pernah aku singgahi, Jenewa, Paris, Oxford, London, Menchester, Abu Dhabi, Dubai, Surabaya, Jakarta, Bangkok, Singapore, Makkah, Madinah, Hamburg, dan Helsinki. Seattle terdiri dari gedung-gedung tinggi, mall-mall, shopping center, kafe, dan lainnya, semua orang sibuk dan kebanyakan berjalan kaki cepat-cepat seperti takut ketinggalan sesuatu, minum sisa makan pagi atau siang kebanyakan diselesaikan sambil berjalan. Aku sempat singgah di Public Market, pasar tradional lama terletak di tepi laut bernama Pike Market, aku tidak tertarik dengan kebanyakan barang yang ditawarkan, selain aku tidak suka belanja, tujuanku hanya untuk jalan-jalan melihat-lihat suasana pasar tradisional di Seattle, pasarnya orang Amerika. Ketika merasa lapar karena sudah siang, aku sebagai muslim susah mencari makan di Pike Market, karena semua restoran yang saya minati disitu juga menjual menu masakan babi, dimana babi dilarang dikonsumsi oleh Muslim, ada satu restoran Turki tetapi tutup, akhirnya kembali ke tempat dekat Hotel dimana saya tinggal, di Campus District hanya untuk makan siang. Penjaga toko juga ramah-ramah, pengunjung akan ditanya apabila memerlukan bantuan tentang barang yang sedang dicari, aku merasa terlalu tersanjung ketika memilih jas yang sedang diobral (baca sale), ketika memilih aku dianjurkan mencoba tiga ukuran sebelum aku memutuskan yang mana yang paling cocok untuk ukuranku, aku merasa kesulitan menemukan jas yang pas dengan ukuran badanku, ketika menemukan ukuran panjang lengan yang pas, maka ukuran panjang badan kepanjangan; ketika mendapatkan panjang badan yang pas, ukuran lengan sedikit kependekan, akhirnya dianjurkan untuk memodifikasi jas yang memakan waktu sekitar satu minggu. Akhirnya aku pilih yang cocok dengan panjang badanku, sedangkan panjang lengannya akan aku rubah nanti di Abu Dhabi. Tidak terasa sudah tanggal 29 September, merupakan hari pertama masuk kuliah Ila, di pagi hari cepat-cepat aku mengunjungi kampus, dan Hagget asrama mahasiswa tempat Ila menetap, suasana sebelum jam 8 pagi seolah serempak para mahasiswa keluar dari asrama menuju kuliah, semua terliahat kontras seperti sebelum kuliah, mereka berpakaian sopan celana panjang dan kaos atau baju lengan panjang, hampir semuanya memakai jaket karena waktu itu kebetulan suhu lebih dingin dari hari sebelumnya. Tidak seperti ketika sebelum kuliah dimulai, dimana sempat terlintas kekhawatiran karena cara berpakaian mereka apakah akan seperti ini nantinya ketika masuk kuliah, tidak seperti yang saya lihat di Abu Dhabi kebanyakan, disini orang kebanyakan memakai pakaian serba pendek, kecuali sepatu kulit boot yang panjang juga sepatu short sleeve dengan kaos kaki panjang, maklumlah kondisi udara cukup hangat barangkali untuk ukuran orang yang sudah lama tinggal di seattle, tetapi sukurlah ketika kuliah semuanya tidak seperti yang saya khawatirkan. Di hari awal kuliah lapangan Palza kampus dipenuhi vendor menawarkan promosi aneka makanan dan minuman gratis, termasuk vendor kue, roti, minuman aneka juice, kopi dan soft drink, bahkan mereka membagikan kaos, topi ataupun muk minum cuma-cuma. Kegiatan kelas kuliah sampai pukul 9 malam, aku masih melihat sinar dari proyektor dari dalam kelas ketika mencoba menyusuri kampus pada malam hari sekitar pukul 9 malam, pukul 11 malam masih banyak mahasiswa yang berkeliaran di kampus yang dalam keadaan masih diterangi lampu-lampu, mobil anggota keamanan kampus terlihat diparkir di beberapa pojok kampus barangkali untuk menjaga keamanan kampus yang memang terlihat aman. Hati terasa tenang meninggalkan Ila kuliah di kampus seperti ini jauh dari aku dan ibunya di Abu Dhabi, Ila sepertinya keranjingan dengan suasana di UW Seattle, itu saya maklumi, ia memang menginginkan menjauh dari Abu Dhabi menimba ilmu ke Uk atau US, bagaimanapun ia merupakan buah hatiku, aku harus tetap memantaunya walaupun hidupnya berjauhan, ini merupakan bagian dari suatu perjuangan agar ia menjadi orang yang baik, petjuangan akan selalu menuntut pengorbanan, apakah perasaan, harta, bahkan terkadang nyawa, dimana yang sampai kini aku siap adalah perasaan dan harta. Pagi sudah menunjukan pukul 2:30, dan tanggal sudah 30 September, maka aku bergegas beranjak dari tempat tidur Hotel mempersiapkan perjalananku kembali ke Abu Dhabi, malam sebelumnya aku sudah menyerahkan barang -barang yang tidak aku perlukan untuk dibawa ke Abu Dhabi kepada Ila. Tepat pukul 3:20 pagi mobil jemputan Shuttle Express datang, di dalam mobil sudah ada dua orang tua dengan tujuan yang sama, dari College District ke bandara Takoma Seattle ditempuh dengan perjalanan sekitar 20 menit melalui jalan bebas hambatan, ketika jam menunjukkan hampir pukul 5 pagi, aku mulai memulai antri untuk check in, penjaga konter memberitahuku bahwa boarding passku hanya untuk penerbangan dari Seattle ke New York, kemudian New York ke Amsterdam, kemudian di Amsterdam aku disarankan untuk melihat boarding board untuk menentukan kepastian nomor Gate penerbanganku selanjutnya. Tepat pukul 6:02 pagi pesawat mulai bergerak meninggalkan Seattle, penerbangan ke New York sebenarnya memakan waktu sekitar 4 jam, dimana seharusnya sampai pada pukul 10 pagi waktu Seattle, tetapi karena perbedaan waktu New York lebih lambat 3 jam dibandingkan Seattle, maka pesawat mendarat diatas pukul 14 siang, apalagi pesawat harus ditunda pendaratannya selama kira-kira 20 menit karena sibuknya pelabuhan John F. Kennedy (JFK), New York, demikian seperti apa yang diumumkan oleh pihak krew pesawat. Di ruang tunggu bandara udara JFK sudah merasa lapar, maklum didalam pesawat dari Seattle ke New York hanya dikasih kacang atau biskuit sebagai service mealnya, tidak seperti apa yang saya harapkan berupa sarapan pagi berbentuk roti atau lainnya yang cukup untuk mengganjal perut agar tidak terasa lapar. Ketika makan di salah satu fast food restorant aku teringat Tanwin, puteraku di Abu Dhabi, pikirku, merupakan suatu kesempatan membelikan barang kenangan ketika di bandara ini, aku mengambil kaos oranye untuk Tanwin, dan buku Negotiation with Giant tulisan Peter D. Jonston untuk bacaanku. Ketika aku sudah masuk dan duduk di dalam pesawat menuju Amsterdam waktu sudah menunjukkan pukul 5:05 sore, seorang petugas boarding pass menghampiriku menanyakan passporku, setelah aku tunjukkan ia membukanya untuk memeriksa resident visaku di United Arab Emirates sesuai tujuan akhirku ke Abu Dhabi, pikirku, ini barangkali merupakan bagian dari pemeriksaan keamanan bagi penerbangan, dimana baik di Seattle, New York, Abu Dhabi semuanya terasa berbeda tentang pihak keamanan didalam memperlakukan calon penumpang pesawat udara. Calon penumpang dilarang membawa barang cairan lebih dari 100 mililiter, kemudian semua barang bawaan harus masuk scanner termasuk sepatu, ikat pinggang, semua barang dalam kantong baju maupun celana, jam tangan, jaket harus dilepas, pokoknya sangat merasa tidak nyaman dibuatnya. Penerbangan dari New York ke Amsterdam memakan waktu sekitar 6 jam, tiba di Amsterdam bersamaan waktunya untuk makan siang, tetapi waktu di bandara udara Amsterdam menunjukkan pukul 11 pagi, nampak harga semua menu makanan dan minuman terasa sangat mahal, kopi ukuran kecil lebih dari 3 Euro, kue kroson keju 4 Euro, akhirnya aku putuskan untuk mencari mini market, dan yang aku pilih orange juice dan kue manis sebanyak 5 biji. Bandara udara Schifol Amsterdampun terasa membosankan, keluar masuk toko Duty Free mencari tas untuk Sukarsi, istriku tidak ada, yaitu tas kulit punggung bermerek disebut Back Pack Bag. Penerbangan menuju Abu Dhabi sudah dimulai, pukul 6 sore pesawat mendarat di Abu Dhabi International Airport, inilah saatnya memulai hidup baru lagi, hidup sekeluarga dengan Ila tinggal jauh terpisah sejauh 12 jam selisih waktu, bagaimanapun saya yakin, bahwa ini merupakan salah satu cara agar anak-anakku menjadi orang yang baik dan mandiri didalam mengarungi masa depannya, semoga !.
Monday, April 16, 2007
Surat Untuk Bpk. Muhammad Subari.
SURAT UNTUK BAPAK M. SUBARI
BEDA TUHANKU DAN TUHANMU
Oleh: Nasuki
Yth. Bpk. M. Subari;
Assalamualaikum Wr. Wb.;
Kami mengharap Bapak masih ingat tentang kami, adalah salah satu pendengar Bapak ketika dibacakan puisi karya Bapak belum lama ini di KBRI Abu Dhabi, PEA.
Kami mengharap pula Bapak mempunyai kesempatan membaca surat ini, mengingat kesibukan Bapak di Tanah Air, terutama sebagai Kepala Lembaga Berita Nasional Antara.
Ketika itu Bapak menyebutkan bahwa jika diumpamakan, perbandingan besar ilmu manusia dengan Ilmu Tuhan, sebagaimana kisah dialog antara Nabi Hidir A.S dan Nabi Musa A.S, yaitu Nabi Hidir A.S meminta agar Nabi Musa A.S mencelupkan kakinya kedalam air laut, kemudian ia dimintanya mengangkat kakinya keluar dari air laut, air laut yang melekat pada kakinya merupakan besar ilmu milik manusia, sedangkan sisa air laut seluruhnya merupakan Ilmu Tuhan.
Kemudian pada kesempata tanya-jawab kami menanyakan dengan nada sanggahan kira-kira seperti berikut; “Kalau besar Ilmu Tuhan bisa dibandingkan dengan besar ilmu manusia, maka Ilmu Tuhan dapat diukur, sesuatu yang dapat diukur, itu berarti sesuatu itu terbatas, yaitu sebanyak yang tertera dalam skala ukuran tersebut, dalam hal ini diumpamakan sebanyak air laut di lautan minus air laut yang melekat pada kaki Nabi Musa A.S. Sepanjang yang kami ketahui bahwa Ilmu Tuhan itu tidak terbatas, lalu bagaimana Bapak mengumpamakan besar Ilmu Tuhan sebanyak itu atau mengukur dengan skala besar lautan?”.
Kami tidak ingat betul argumentasi Bapak, akan tetapi ujung-ujungnya Bapak mengatakan kepada kami kira-kira begini; “Itu Firman Tuhan, kamu mau melawan Tuhan?”. Kami tidak siap dengan argumentasi Bapak yang berupa pertanyaan itu, tanpa kami menjawabnya dapat dipastikan bahwa Bapak mengetahui apa jawaban kami. Ketika itu kami percaya dengan apa yang telah Bapak katakan karena kapasitas Bapak semata, walaupun sebenarnya didalam pikiran kami bahwa itu tidak logis, untuk itu kami diam saja. Lalu kata Bapak lagi “Itu kan perumpamaan”.
Dimana ayat itu?
Adanya konflik didalam pikiran kami, membuat kami semakin penasaran, kami mencoba untuk mencari ayat dimaksud didalam Al-Qur’an, dan juga kami meminta bantuan beberapa teman kami dalam hal ini, kesimpulan yang kami dapati adalah; bahwa ayat semacam itu didalam Al-Qur’an belum dapat kami temukan, tetapi paling tidak ada dua ayat yang mengatakan tentang hubungan Kalam Tuhan dan air laut, yaitu (semua terjemahan diambil dari Tafsir Al-Qur’an oleh Departemen Agama R.I, Jakarta tahun 1996);
Surat Kahfi, ayat 109: “Katakanlah, sekiranya air laut itu dijadikan tinta untuk menuliskan Kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya dia akan kering terlebih dahulu sebelum habis Kalimat-Kalimat Tuhanku dituliskan, sekalipun Kami datangkan lagi tambahan air laut sebanyak itu”.
Surat Luqman, ayat 27: “Seandainya semua pohon-pohon di bumi dijadikan pena dan lautan menjadi tintanya, sesudah kering ditambah lagi dengan tujuh lautan, semuanya akan kering, namun tak akan habis-habisnya Kalam Allah dituliskan. Sesungguhnya Tuhan Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”.
Dari dua ayat diatas tidak mengindikasikan bahwa Kalimat-Kalimat Allah akan habis ditulis, malah sebaliknya, dimana pada surat Luqman, ayat 27 lebih dipertegas lagi, yaitu walaupun titanya ditambah lagi sebanyak tujuh lautan. Kalau sesuatu itu tidak akan habis-habisnya, itu berarti sesuatu itu tidak ada akhirnya, itu dapat dikatakan sesuatu itu tidak ada batasnya atau tidak terbatas.
Referensi lain
Informasi dari salah satu sahabat kami di Abu Dhabi mengatakan, bahwa hal itu ada hadisnya, akan tetapi bukan kaki yang dicelupkan kedalam air laut, melainkan tangan, sayangnya sahabat kami waktu itu tidak ingat darimana hadis itu, dan kami juga tidak tertarik untuk menanyakan lebih lanjut tentang itu kepada dia, karena itu bukan dari Al-Qur’an.
Kami teringat pada bait sebuah lagu yang pernah dinyanyikan oleh si Raja Dangdut, Rhoma Irama, akan tetapi judulnya kami lupa, bait itu kira-kira berbunyi; “…Ilmumu bagai setetes air di lautan, kalau dibandingkan dengan Ilmu Tuhan…”
Dari kedua referensi terahir diatas, kami melihat ada sedikit perbedaan dengan apa yang pernah dikatan Bapak, yang pertama ilmu manusia bagai air laut yang menempel pada tangan setelah dicelupkan, yang kedua bagai setetes air di lautan, tetapi kami kira pada prinsipnya sama, apakah kaki atau tangan yang dicelupkan ataupun setetes air di lautan, yaitu perumpamaan besar Ilmu Tuhan dapat dibandingkan dengan besar ilmu manusia.
Manusia bukan bagian Tuhan
Kalau perumpamaan besar Ilmu Tuhan dapat dibandingkan dengan ilmu manusia, maka kemungkinan Sifat Tuhan lainnya, seperti sifat Kuasa, Kuat dan Lainnya yang erat hubungannya dengan sifat Ilmu Tuhan dapat pula dibandingkan dengan yang dimiliki oleh manusia, sehingga dengan logika dan skala yang sama, maka kita boleh mengatakan (mengumpamakan): ‘Andaikan dibandingkan antara kekuasaan manusia dengan Kekuasaan Tuhan, yaitu kekuasaan manusia bagaikan besar kelereng, sedangkan Kekuasaan Tuhan sebesar sesuatu yang dapat diukur, misalnya sebesar bumi’. Padahal Kekuasaan Tuhan mustahil untuk diukur karena besar-Nya tanpa batas, jadi itu tidak logis.
Dalam mengumpamakan Sifat-Sifat Tuhan dengan sesuatu memang diperbolehkan, tetapi bukan besar atau jumlah dari Sifat-Nya yang diumpamakan (kecuali Jumlah Tuhan itu sendiri, yaitu Satu/Wahid dan banyak Zat-Nya, yaitu Tunggal/Ahad), melainkan jalan logika-Nya. Pengumpamaan itu perlu dilakukan, mengingat Tuhan dilingkupi dengan ke-Gaiban, dimana agar Yang Gaib itu dapat diterima oleh akal, maka Ia harus dijadikan empiris dengan jalan perumpamaan tadi. Dalam menentukan atau memilih perumpamaan pada satu Sifat Tuhan saja, kemungkinan dapat diumpamakan dengan lebih dari satu macam perumpamaan, itu tergantung pada sasaran yang ingin dikemukakan . Contoh berikut berkenaan dengan Tuhan dalam menciptakan manusia mungkin dapat mewakili argumentasi diatas:
Surat Shad, ayat 72: “ Ketika Aku menyempurnakan ciptaanya dan Aku tiupkan Ruh-Ku didalamnya…”. Kalau dilihat sepintas makna ayat ini seolah-olah pada setiap manusia ada bagian dari Ruh Tuhan, dengan kata lain bahwa kita bagian dari Tuhan. Karena suatu hal yang mustahil untuk mengetahui Zat Tuhan, maka untuk menyederhanakan ayat ini diperlukan perumpamaan, hal ini hanya agar dapat diterima oleh akal.
Di bumi ini banyak tumbuh-tumbuhan yang hidupnya tergantung pada cahaya matahari, sehingga apabila tumbuhan itu tidak menerima cahaya matahari dalam waktu tertentu, maka mereka akan menjadi layu, kering dan bahkan bisa mati, karena tidak menerima makanan yang dibutuhkan. Dimana cahaya matahari diperlukan oleh mereka untuk keperluan proses fotosintesis, yaitu suatu proses pembuatan makanan tumbuhan, air yang diserap melalui akar diteruskan sampai ke daun-daun, lalu dengan bantuan cahaya matahari air itu dikombinasi dengan carbon dioksida yang diserap oleh daun dari udara sekitarnya membentuk gula sebagai makanan dari tumbuhan itu, dan gas sisa berupa hidrogen dibuang keluar melalui daun itu pula. Dengan demikian kehidupan tumbuhan sangat tergantung pada cahaya, dalam hal ini cahaya matahari.
Kalau matahari itu bisa berkata, maka ia akan mengucapkan ‘Aku pancarkan cahayaku untuk kehidupan tumbuhan di bumi’. Begitulah perumpamaan surat Shad, ayat 72 diatas. Disini akan timbul pertanyaan; dapatkah tumbuh-tumbuhan itu dikatakan sebagai bagian dari matahari?, jawabannya tentu tidak, karena tidak ada bagian zat matahari yang diambil oleh tumbuhan, tetapi kejadian sesungguhnya adalah pancaran cahaya itu tidak mengurangi zat matahari yang menyebabkan tumbuhan tetap hidup, karena apabila bagian matahari berpidah pada tumbuhan, maka mereka bisa mati karena panasnya matahari. Begitulah sanggahan kami terhadap pendapat Bapak, bahwa manusia dan bahkan alam semesta ini merupakan bagian dari Tuhan.
Kesimpulan
Dari ayat-ayat Al-qur’an diatas, kami yakin bahwa besar Ilmu Tuhan tidak dapat diukur walaupun hanya sebagai perumpamaan saja, karena segala Sifat-Sifat-Nya tidak terbatas, karena besar Sifat Tuhan yang tanpa batas itulah, maka Tuhan dinobatkan sebagai Tuhan. Kecuali jumlah-Nya, yaitu Satu (Wahid), dan Zat-Nya, yaitu Tunggal (Ahad).
Alam semesta ini bukan bagian dari Tuhan walaupun eksistensinya tergantung kepada-Nya.
Kami yakin, besar ilmu yang kami miliki dalam hal ini dibandingkan dengan besar ilmu Bapak mungkin tidak seberapa, untuk itu kami masih penasaran dengan cuplikan kisah yang Bapak sebutkan pada dialog antara Nabi Hidir A.S dan Nabi Musa A.S seperti tersebut diatas merupakan Firman Tuhan. Kami bukan tidak ingin mengakui kebenaran pendapat itu, tetapi karena ini dapat merubah suatu keyakinan (baca iman) kami terhadap Sifat-Sifat Tuhan, maka untuk mempercayainya menurut hemat kami diperlukan suatu penyelidikan, lalu ada argumentasi bahkan kalau bisa dengan bukti.
Demikian surat ini kami buat, kami mohon maaf apabila ada yang tidak berkenan pada Bapak, dan terimakasih atas perhatiannya.
Abu Dhabi, Juli 2005
Wassalam;
Nasuki
(Alamat email: Nasuki@emirates.net.ae)
BEDA TUHANKU DAN TUHANMU
Oleh: Nasuki
Yth. Bpk. M. Subari;
Assalamualaikum Wr. Wb.;
Kami mengharap Bapak masih ingat tentang kami, adalah salah satu pendengar Bapak ketika dibacakan puisi karya Bapak belum lama ini di KBRI Abu Dhabi, PEA.
Kami mengharap pula Bapak mempunyai kesempatan membaca surat ini, mengingat kesibukan Bapak di Tanah Air, terutama sebagai Kepala Lembaga Berita Nasional Antara.
Ketika itu Bapak menyebutkan bahwa jika diumpamakan, perbandingan besar ilmu manusia dengan Ilmu Tuhan, sebagaimana kisah dialog antara Nabi Hidir A.S dan Nabi Musa A.S, yaitu Nabi Hidir A.S meminta agar Nabi Musa A.S mencelupkan kakinya kedalam air laut, kemudian ia dimintanya mengangkat kakinya keluar dari air laut, air laut yang melekat pada kakinya merupakan besar ilmu milik manusia, sedangkan sisa air laut seluruhnya merupakan Ilmu Tuhan.
Kemudian pada kesempata tanya-jawab kami menanyakan dengan nada sanggahan kira-kira seperti berikut; “Kalau besar Ilmu Tuhan bisa dibandingkan dengan besar ilmu manusia, maka Ilmu Tuhan dapat diukur, sesuatu yang dapat diukur, itu berarti sesuatu itu terbatas, yaitu sebanyak yang tertera dalam skala ukuran tersebut, dalam hal ini diumpamakan sebanyak air laut di lautan minus air laut yang melekat pada kaki Nabi Musa A.S. Sepanjang yang kami ketahui bahwa Ilmu Tuhan itu tidak terbatas, lalu bagaimana Bapak mengumpamakan besar Ilmu Tuhan sebanyak itu atau mengukur dengan skala besar lautan?”.
Kami tidak ingat betul argumentasi Bapak, akan tetapi ujung-ujungnya Bapak mengatakan kepada kami kira-kira begini; “Itu Firman Tuhan, kamu mau melawan Tuhan?”. Kami tidak siap dengan argumentasi Bapak yang berupa pertanyaan itu, tanpa kami menjawabnya dapat dipastikan bahwa Bapak mengetahui apa jawaban kami. Ketika itu kami percaya dengan apa yang telah Bapak katakan karena kapasitas Bapak semata, walaupun sebenarnya didalam pikiran kami bahwa itu tidak logis, untuk itu kami diam saja. Lalu kata Bapak lagi “Itu kan perumpamaan”.
Dimana ayat itu?
Adanya konflik didalam pikiran kami, membuat kami semakin penasaran, kami mencoba untuk mencari ayat dimaksud didalam Al-Qur’an, dan juga kami meminta bantuan beberapa teman kami dalam hal ini, kesimpulan yang kami dapati adalah; bahwa ayat semacam itu didalam Al-Qur’an belum dapat kami temukan, tetapi paling tidak ada dua ayat yang mengatakan tentang hubungan Kalam Tuhan dan air laut, yaitu (semua terjemahan diambil dari Tafsir Al-Qur’an oleh Departemen Agama R.I, Jakarta tahun 1996);
Surat Kahfi, ayat 109: “Katakanlah, sekiranya air laut itu dijadikan tinta untuk menuliskan Kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya dia akan kering terlebih dahulu sebelum habis Kalimat-Kalimat Tuhanku dituliskan, sekalipun Kami datangkan lagi tambahan air laut sebanyak itu”.
Surat Luqman, ayat 27: “Seandainya semua pohon-pohon di bumi dijadikan pena dan lautan menjadi tintanya, sesudah kering ditambah lagi dengan tujuh lautan, semuanya akan kering, namun tak akan habis-habisnya Kalam Allah dituliskan. Sesungguhnya Tuhan Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”.
Dari dua ayat diatas tidak mengindikasikan bahwa Kalimat-Kalimat Allah akan habis ditulis, malah sebaliknya, dimana pada surat Luqman, ayat 27 lebih dipertegas lagi, yaitu walaupun titanya ditambah lagi sebanyak tujuh lautan. Kalau sesuatu itu tidak akan habis-habisnya, itu berarti sesuatu itu tidak ada akhirnya, itu dapat dikatakan sesuatu itu tidak ada batasnya atau tidak terbatas.
Referensi lain
Informasi dari salah satu sahabat kami di Abu Dhabi mengatakan, bahwa hal itu ada hadisnya, akan tetapi bukan kaki yang dicelupkan kedalam air laut, melainkan tangan, sayangnya sahabat kami waktu itu tidak ingat darimana hadis itu, dan kami juga tidak tertarik untuk menanyakan lebih lanjut tentang itu kepada dia, karena itu bukan dari Al-Qur’an.
Kami teringat pada bait sebuah lagu yang pernah dinyanyikan oleh si Raja Dangdut, Rhoma Irama, akan tetapi judulnya kami lupa, bait itu kira-kira berbunyi; “…Ilmumu bagai setetes air di lautan, kalau dibandingkan dengan Ilmu Tuhan…”
Dari kedua referensi terahir diatas, kami melihat ada sedikit perbedaan dengan apa yang pernah dikatan Bapak, yang pertama ilmu manusia bagai air laut yang menempel pada tangan setelah dicelupkan, yang kedua bagai setetes air di lautan, tetapi kami kira pada prinsipnya sama, apakah kaki atau tangan yang dicelupkan ataupun setetes air di lautan, yaitu perumpamaan besar Ilmu Tuhan dapat dibandingkan dengan besar ilmu manusia.
Manusia bukan bagian Tuhan
Kalau perumpamaan besar Ilmu Tuhan dapat dibandingkan dengan ilmu manusia, maka kemungkinan Sifat Tuhan lainnya, seperti sifat Kuasa, Kuat dan Lainnya yang erat hubungannya dengan sifat Ilmu Tuhan dapat pula dibandingkan dengan yang dimiliki oleh manusia, sehingga dengan logika dan skala yang sama, maka kita boleh mengatakan (mengumpamakan): ‘Andaikan dibandingkan antara kekuasaan manusia dengan Kekuasaan Tuhan, yaitu kekuasaan manusia bagaikan besar kelereng, sedangkan Kekuasaan Tuhan sebesar sesuatu yang dapat diukur, misalnya sebesar bumi’. Padahal Kekuasaan Tuhan mustahil untuk diukur karena besar-Nya tanpa batas, jadi itu tidak logis.
Dalam mengumpamakan Sifat-Sifat Tuhan dengan sesuatu memang diperbolehkan, tetapi bukan besar atau jumlah dari Sifat-Nya yang diumpamakan (kecuali Jumlah Tuhan itu sendiri, yaitu Satu/Wahid dan banyak Zat-Nya, yaitu Tunggal/Ahad), melainkan jalan logika-Nya. Pengumpamaan itu perlu dilakukan, mengingat Tuhan dilingkupi dengan ke-Gaiban, dimana agar Yang Gaib itu dapat diterima oleh akal, maka Ia harus dijadikan empiris dengan jalan perumpamaan tadi. Dalam menentukan atau memilih perumpamaan pada satu Sifat Tuhan saja, kemungkinan dapat diumpamakan dengan lebih dari satu macam perumpamaan, itu tergantung pada sasaran yang ingin dikemukakan . Contoh berikut berkenaan dengan Tuhan dalam menciptakan manusia mungkin dapat mewakili argumentasi diatas:
Surat Shad, ayat 72: “ Ketika Aku menyempurnakan ciptaanya dan Aku tiupkan Ruh-Ku didalamnya…”. Kalau dilihat sepintas makna ayat ini seolah-olah pada setiap manusia ada bagian dari Ruh Tuhan, dengan kata lain bahwa kita bagian dari Tuhan. Karena suatu hal yang mustahil untuk mengetahui Zat Tuhan, maka untuk menyederhanakan ayat ini diperlukan perumpamaan, hal ini hanya agar dapat diterima oleh akal.
Di bumi ini banyak tumbuh-tumbuhan yang hidupnya tergantung pada cahaya matahari, sehingga apabila tumbuhan itu tidak menerima cahaya matahari dalam waktu tertentu, maka mereka akan menjadi layu, kering dan bahkan bisa mati, karena tidak menerima makanan yang dibutuhkan. Dimana cahaya matahari diperlukan oleh mereka untuk keperluan proses fotosintesis, yaitu suatu proses pembuatan makanan tumbuhan, air yang diserap melalui akar diteruskan sampai ke daun-daun, lalu dengan bantuan cahaya matahari air itu dikombinasi dengan carbon dioksida yang diserap oleh daun dari udara sekitarnya membentuk gula sebagai makanan dari tumbuhan itu, dan gas sisa berupa hidrogen dibuang keluar melalui daun itu pula. Dengan demikian kehidupan tumbuhan sangat tergantung pada cahaya, dalam hal ini cahaya matahari.
Kalau matahari itu bisa berkata, maka ia akan mengucapkan ‘Aku pancarkan cahayaku untuk kehidupan tumbuhan di bumi’. Begitulah perumpamaan surat Shad, ayat 72 diatas. Disini akan timbul pertanyaan; dapatkah tumbuh-tumbuhan itu dikatakan sebagai bagian dari matahari?, jawabannya tentu tidak, karena tidak ada bagian zat matahari yang diambil oleh tumbuhan, tetapi kejadian sesungguhnya adalah pancaran cahaya itu tidak mengurangi zat matahari yang menyebabkan tumbuhan tetap hidup, karena apabila bagian matahari berpidah pada tumbuhan, maka mereka bisa mati karena panasnya matahari. Begitulah sanggahan kami terhadap pendapat Bapak, bahwa manusia dan bahkan alam semesta ini merupakan bagian dari Tuhan.
Kesimpulan
Dari ayat-ayat Al-qur’an diatas, kami yakin bahwa besar Ilmu Tuhan tidak dapat diukur walaupun hanya sebagai perumpamaan saja, karena segala Sifat-Sifat-Nya tidak terbatas, karena besar Sifat Tuhan yang tanpa batas itulah, maka Tuhan dinobatkan sebagai Tuhan. Kecuali jumlah-Nya, yaitu Satu (Wahid), dan Zat-Nya, yaitu Tunggal (Ahad).
Alam semesta ini bukan bagian dari Tuhan walaupun eksistensinya tergantung kepada-Nya.
Kami yakin, besar ilmu yang kami miliki dalam hal ini dibandingkan dengan besar ilmu Bapak mungkin tidak seberapa, untuk itu kami masih penasaran dengan cuplikan kisah yang Bapak sebutkan pada dialog antara Nabi Hidir A.S dan Nabi Musa A.S seperti tersebut diatas merupakan Firman Tuhan. Kami bukan tidak ingin mengakui kebenaran pendapat itu, tetapi karena ini dapat merubah suatu keyakinan (baca iman) kami terhadap Sifat-Sifat Tuhan, maka untuk mempercayainya menurut hemat kami diperlukan suatu penyelidikan, lalu ada argumentasi bahkan kalau bisa dengan bukti.
Demikian surat ini kami buat, kami mohon maaf apabila ada yang tidak berkenan pada Bapak, dan terimakasih atas perhatiannya.
Abu Dhabi, Juli 2005
Wassalam;
Nasuki
(Alamat email: Nasuki@emirates.net.ae)
Sunday, April 15, 2007
PLTN RI dan PLTN IRI, bagai dua sisi mata uang.
PLTN RI DAN PLTN IRI
BAGAI DUA SISI MATA UANG
Oleh: Nasuki*
Tulisan ini dibuat bukan untuk menentang atau menyetujui kebijaksanaan pemerintah RI yang akan diambil berkenaan dengan konflik masalah nuklir antara Republik Islam Iran dan negara-negara lain yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Penulis bukan ahli bidang politik, apalagi politik Timur Tengah, hanya penulis merasa terdorong untuk menulis tulisan ini didasari atas rasa “Cinta Indonesia” yang besar, sehingga penulis memandang agar penentu kebijaksanaan dalam hal ini untuk melakukan kajian yang sangat “ekstra” hati-hati didalam mengambil kebijaksanaan tentang persiteruan ini, terutama yang ujung-ujungnya akan mempertaruhkan NKRI tercinta di mata dunia.
Kalau dilihat lebih dalam lagi tentang konflik masalah nuklir Iran dan negara-negara penentangnya adalah konflik terbesar terletak pada konflik budaya dan politik. Itu terlihat ketika Amerika dan sekutunya menyetujui atas usulan Rusia bahwa Iran dipersilahkan mengembangkan tekhnologi nuklir untuk tujuan damai akan tetapi proses pembuatan (memperkaya) bahan bakarnya dilakukan di Rusia. Pesan yang dapat ditangkap dari kemauan lawan Iran terutama Amerika Serikat tsb. adalah; bahwa Iran masih dinilai tidak bisa dipercaya untuk memproses (memperkaya) bahan bakar nuklir sendiri. Kalau dinilai tidak dipercaya, maka sebenarnya dinilai belum mampu secara budaya. Alasan yang paling utama adalah dikhawatirkan nantinya akan ada orang yang tidak bertanggung jawab karena rendahnya budaya orang itu, sehingga bahan bakar yang sudah diperkaya itu (siap sebagai bahan hulu ledak nuklir) akan dibuat bom atau dipindahkan kepada pihak ketiga yang menginginkan untuk membuat bom nuklir.
Contoh yang paling terkenal yaitu yang terjadi pada kasus Abdul Kadir Khan, Bapak Bom Nuklir Pakistan. Bagaimana seandainya ia dan sindikatnya tidak terbongkar dengan pengakuan Libya. Dengan banyak ragam motifasi dibelakangnya dia dan sindikatnya melayani rancangan pembuatan, mengedarkan dan menyalurkan teknologi, peralatan dan cara pembuatan bom nuklir dipasaran gelap untuk negara-negara lain di dunia yang seharusnya semua itu hanya untuk dipakai untuk negara Pakistan saja.
Demikian juga dengan Iran, dunia barat khawatir bahan bakar nuklir yang sudah diperkaya di Iran sulit dikendalikan, dan yang paling mengkhawatirkan, bahwa bahan nuklir siap pakai itu jatuh pada tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab dengan motifasi beragam, maka akan terciptalah “Dirty Bom”, sehingga akan mengancam keamanan dunia. Jadi permasalahannya bukanlah hak suatu negara untuk memiliki teknologi dan memperkaya bahan bakar nuklir di negaranya, akan tetapi kesanggupan yang dapat dipertanggung jawabkan secara budaya dalam mengemban kemampuan yang dimiliki dalam memiliki fasilitas proses memperkaya bahan bakar nuklir di negara yang bersangkutan.
Dalam suatu kasus penulis menilai bahwa, apabila barang berbahaya bagi kehidupan manusia dengan sengaja diedarkan dengan harapan suatu imbalan keuntungan pribadi atau kelompoknya, maka orang atau kelompok pengedar tersebut adalah kelompok yang tidak/belum beradab atau tidak berbudaya.
Lalu bagaimana sikap Indonesia dalam masalah konflik ini?
Untuk menyikapi permasalahan di atas, paling tidak harus ditinjau dari beberapa aspek yang ada pada Indonesia, antara lain; Aspek Undang-Undang/Konstitusi, aspek kepentingan ekonomi, sosial dan politik, aspek sejarah, dan aspek masa depan PLTN NKRI itu sendiri.
Aspek Undang-Undang/ Konstitusi.
Orang sudah mafhum bahwa mayoritas penduduk Iran adalah pemeluk agama Shi’ah, dan orang sudah mafhum bahwa mayoritas penduduk Amerika Serikat adalah pemeluk agama Kristen (Protestan dan Katolik), serta orang sudah mafhum pula bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah pemeluk agama Islam.
Kemudian kita lihat pada Undang-Undang dan Konstitusi Indonesia, agama apa saja yang diakui sesuai konstitusi itu, kalau ada salah satu agama yang tidak diakui dalam Konstitusi itu, sebenarnya itu akan lebih mempermudah penentu kebijaksanaan untuk menentukan arah sikap Indonesia mengenai hal ini. Akan tetapi kalu kedua kelompok agama tsb. sama-sama diakui maka aspek-aspek lain harus dikaji dan dipertimbangkan, sehingga hasil kebijaksanaan yang diambil tidak bertentangan dengan tujuan jangka pendek maupun tujuan jangka panjang NKRI.
Aspek Ekonomi, Sosial dan Politik.
Sebagai ilustrasi, siapa sih penguasa di Blok M pada tahun 1986?, pedagang yang magang di sana saat itu akan menjawab, “Preman” yang Adi Daya di sana saat itu, bukan Lurah atau Camat Blok M, karena pedagang-pedagang itu dijamin keamanannya oleh “Preman Adi Daya” di sana. Demikian juga didunia ini, penguasanya bukanlah PBB, akan tetapi kelompok negara Adi Daya anggota PBB itu, dan bahkan mereka itu juga yang menguasai PBB. Jadi, agar Indonesia hidup aman, ikutilah kemauan negara-negara Adi Daya itu, yang penting bangsa Indonesia aman, karena kalau aman atas jaminan negara pengaman, maka aspek lainnya akan menjadi ikut lebih bergairah.
Ada satu strategi bagaimana untuk memenangkan suatu permainan, baik itu permainan game biasa, politik ataupun perang, yaitu cobalah memerankan diri sebagai pihak musuh.
Kalau ilustrasi berikut ini sebagai misal saja, yaitu seorang pedagang di Blok M yang tidak mau membayar uang “keamanan” kepada “Preman Adi Daya” di sana, memerankan dirinya sendiri sebagai "Preman Adi Daya" di sana, maka ia yang berperan sesungguhnya sebagai pedagang akan berkata pada dirinya sendiri sebagai Preman, “Hai si fulan, ayo bayar uang keamanan untuk bulan ini sekarang!”, ketika dirinya sendiri sebagai pedagang menjawab, ”Tidak”, lalu ia berkata lagi “Kamu jangan mencari gara-gara, yaa!, hidup kamu sudah sulit”, maka si pedagang tadi mungkin akan sadar dan membayar uang keamanan pada si “Preman” tadi. Apalagi berdagang dengan aman di situ sebenarnya ia dan keluarganya sudah mulai keluar dari kesulitan ekonomi yang ada, mengapa masih mau mencari kesulitan lagi melawan si “Preman Adi Daya” itu?.
Aspek Sejarah.
Pernahkah kita berfikir, seandainya saat Perang Dunia Kedua Amerika Serikat hanya mengusir tentara Jepang dari wilayah Amerika yang sedang diduduki Jepang, lalu mereka mengadakan perjanjian untuk tidak saling menyerang pada kepentingan mereka masing-masing, maka tidak mustahil bahwa Indonesia akan menjadi salah satu propensi Negara Asia Timur Raya, dengan ibukota Negaranya yaitu Tokyo.
Lalu konswensinya apa sekarang?.
Pasti sebagian diantara kita yang bekerja sebagai TKI termasuk Tenaga Kerja Wanita, Tenaga Profesional dan lainnya akan menjadi pegawai negeri yang disebut Romusa. Dan nama-nama sebagian jalan-jalan raya di kota-kota besar Indonesia bukan lagi Jl. Sampit, Jl. Jen. Sudirman dll., melainkan kemungkinan yang didapati adalah Jl. Fujiyama, Jl. Hiro Hito dll. Demikian juga yang boleh berkuasa atau menjabat di Pemerintah Daerah Indonesia kemungkinan bukan penduduk pribumi, melainkan minimum hanya orang keturunan campuran Indo-Nipon saja, dengan nama Bagio Susuki, Dede Kawasaki, R.A Dasoke, dll.
Akan tetapi sejarah berbicara lain, Amerika Serikat berhasil menghancurkan impian Jepang dalam mewujudkan Negara Asia Timur Raya. Ditandai dengan dijatuhkannya dua buah Bom Atom di kota Hiroshima dan Nagasaki yang membuat pemerintah Jepang menyerah tanpa syarat pada Sekutu, dengan demikian maka berakhirlah Perang Dunia Kedua tsb. dan membuat Jepang hengkang dari semua negara yang telah didudukinya sebelumnya termasuk Indonesia.
Seandainya leluhur kita yang hidup pada saat berakhirnya Perang Dunia Kedua bersama-sama masyarakat beragama dari negara-negara lain yang merasa terbebas dari kekejaman perang dan penjajahan, lalu mempunyai kesempatan besar untuk merdeka mendirikan negara impiannya sendiri kemudian berkata “Thanks God, the war has ended, bless Our Nation and bless America!”. Kemudian penulis menilai pula adalah tidak berlebihan kalau sekiranya kita kini, Bangsa Indonesia yang masih ada bersama dengan NKRI tetap menyambung kata leluhur tadi dengan berkata “Terima kasih hai Bangsa Amerika atas kemenanganmu pada Perang Dunia Kedua lalu”.
Aspek Masa Depan PLTN Indonesia.
Membahas pembangunan PLTN di Indonesia, paling tidak harus membicarakan tiga faktor utama, yaitu; Pertama faktor Perundang-undangan, kedua faktor bagaimana proyek PLTN itu sendiri dibangun (biaya, tempat dan dampak terhadap lingkungan sekitarnya), dan yang ketiga faktor pengelolaan bahan bakar nuklirnya, dilakukan di Dalam Negeri atau di Luar.
Dalam masalah Iran ini seandainya Pemerintah Indonesia mengambil kebijaksaan menentang kemauan negara-negara Adi Kuasa, dengan alasan sebagai modal kalau Iran lolos/diperbolehkan memperkaya uranium di negaranya sendiri, maka nantinya akan lebih memudahkan bagi Indonesia untuk membangun reaktor nuklir serta ijin pengelolaan/pembuatan bahan bakan nuklirnya dilakukan di dalam negeri Indonesia.
Sesungguhnya penulis melihat yang sebaliknya, kalau diistilahkan pemikiran demikian itu merupakan pemikiran yang terlalu jauh kedepan dan bersifat terburu-buru. Seperti pepatah orang Madura mengatakan, “Meracik bumbu untuk burung masih terbang bebas”, begitu bumbunya sudah siap dan dicicipi rasanya nyaman, maka burungnya sudah lari terbang entah kemana.
Artinya apa?, Indonesia masih harus menempuh perjalanan yang jauh untuk mewujudkan impiannya dalam membangun PLTN di tanahnya, belum-belum sudah berangan-angan supaya dapat mengelola bahan bakar nuklirnya di Dalam Negeri. Akibat dari kebijaksanaan itu sesungguhnya nama Indonesia akan dimasukkan ke dalam daftar dan akan dicatat sebagai Negara Penentang oleh Negara Adi Daya itu. Konsekwensinya kelak, begitu Indonesia akan mewujudkan impiannya untuk memiliki PLTN sendiri, karena imbas lain dari kebijaksanaan tadi sudah dapat dipastikan yaitu; impian itu akan dipersulit oleh Badan Tenaga Atom Internasional, yang anggotanya ya, Preman itu-itu juga, bukan sebaliknya akan mendapatkan kemudahan-kemudahan, apalagi ingin memiliki fasilitas pengelolaan bahan bakar nuklir sendiri, sungguh itu suatu impian yang tidak rasional.
Penutup.
Melalui tulisan ini, khusus dalam menentukan kebijaksanaan Luar Negeri, mari kita bersama-sama merenungkan pesan Bung Karno, Proklamator RI, beliau berkata “Ku titipkan Bangsaku pada mu”, lalu jangan mencoba mengartikan “Kutitipkan bangsa kawan-ku ataupun lawan-ku pada mu”.
*Alamat Penulis: Nasuki@emirates.net.ae
BAGAI DUA SISI MATA UANG
Oleh: Nasuki*
Tulisan ini dibuat bukan untuk menentang atau menyetujui kebijaksanaan pemerintah RI yang akan diambil berkenaan dengan konflik masalah nuklir antara Republik Islam Iran dan negara-negara lain yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Penulis bukan ahli bidang politik, apalagi politik Timur Tengah, hanya penulis merasa terdorong untuk menulis tulisan ini didasari atas rasa “Cinta Indonesia” yang besar, sehingga penulis memandang agar penentu kebijaksanaan dalam hal ini untuk melakukan kajian yang sangat “ekstra” hati-hati didalam mengambil kebijaksanaan tentang persiteruan ini, terutama yang ujung-ujungnya akan mempertaruhkan NKRI tercinta di mata dunia.
Kalau dilihat lebih dalam lagi tentang konflik masalah nuklir Iran dan negara-negara penentangnya adalah konflik terbesar terletak pada konflik budaya dan politik. Itu terlihat ketika Amerika dan sekutunya menyetujui atas usulan Rusia bahwa Iran dipersilahkan mengembangkan tekhnologi nuklir untuk tujuan damai akan tetapi proses pembuatan (memperkaya) bahan bakarnya dilakukan di Rusia. Pesan yang dapat ditangkap dari kemauan lawan Iran terutama Amerika Serikat tsb. adalah; bahwa Iran masih dinilai tidak bisa dipercaya untuk memproses (memperkaya) bahan bakar nuklir sendiri. Kalau dinilai tidak dipercaya, maka sebenarnya dinilai belum mampu secara budaya. Alasan yang paling utama adalah dikhawatirkan nantinya akan ada orang yang tidak bertanggung jawab karena rendahnya budaya orang itu, sehingga bahan bakar yang sudah diperkaya itu (siap sebagai bahan hulu ledak nuklir) akan dibuat bom atau dipindahkan kepada pihak ketiga yang menginginkan untuk membuat bom nuklir.
Contoh yang paling terkenal yaitu yang terjadi pada kasus Abdul Kadir Khan, Bapak Bom Nuklir Pakistan. Bagaimana seandainya ia dan sindikatnya tidak terbongkar dengan pengakuan Libya. Dengan banyak ragam motifasi dibelakangnya dia dan sindikatnya melayani rancangan pembuatan, mengedarkan dan menyalurkan teknologi, peralatan dan cara pembuatan bom nuklir dipasaran gelap untuk negara-negara lain di dunia yang seharusnya semua itu hanya untuk dipakai untuk negara Pakistan saja.
Demikian juga dengan Iran, dunia barat khawatir bahan bakar nuklir yang sudah diperkaya di Iran sulit dikendalikan, dan yang paling mengkhawatirkan, bahwa bahan nuklir siap pakai itu jatuh pada tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab dengan motifasi beragam, maka akan terciptalah “Dirty Bom”, sehingga akan mengancam keamanan dunia. Jadi permasalahannya bukanlah hak suatu negara untuk memiliki teknologi dan memperkaya bahan bakar nuklir di negaranya, akan tetapi kesanggupan yang dapat dipertanggung jawabkan secara budaya dalam mengemban kemampuan yang dimiliki dalam memiliki fasilitas proses memperkaya bahan bakar nuklir di negara yang bersangkutan.
Dalam suatu kasus penulis menilai bahwa, apabila barang berbahaya bagi kehidupan manusia dengan sengaja diedarkan dengan harapan suatu imbalan keuntungan pribadi atau kelompoknya, maka orang atau kelompok pengedar tersebut adalah kelompok yang tidak/belum beradab atau tidak berbudaya.
Lalu bagaimana sikap Indonesia dalam masalah konflik ini?
Untuk menyikapi permasalahan di atas, paling tidak harus ditinjau dari beberapa aspek yang ada pada Indonesia, antara lain; Aspek Undang-Undang/Konstitusi, aspek kepentingan ekonomi, sosial dan politik, aspek sejarah, dan aspek masa depan PLTN NKRI itu sendiri.
Aspek Undang-Undang/ Konstitusi.
Orang sudah mafhum bahwa mayoritas penduduk Iran adalah pemeluk agama Shi’ah, dan orang sudah mafhum bahwa mayoritas penduduk Amerika Serikat adalah pemeluk agama Kristen (Protestan dan Katolik), serta orang sudah mafhum pula bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah pemeluk agama Islam.
Kemudian kita lihat pada Undang-Undang dan Konstitusi Indonesia, agama apa saja yang diakui sesuai konstitusi itu, kalau ada salah satu agama yang tidak diakui dalam Konstitusi itu, sebenarnya itu akan lebih mempermudah penentu kebijaksanaan untuk menentukan arah sikap Indonesia mengenai hal ini. Akan tetapi kalu kedua kelompok agama tsb. sama-sama diakui maka aspek-aspek lain harus dikaji dan dipertimbangkan, sehingga hasil kebijaksanaan yang diambil tidak bertentangan dengan tujuan jangka pendek maupun tujuan jangka panjang NKRI.
Aspek Ekonomi, Sosial dan Politik.
Sebagai ilustrasi, siapa sih penguasa di Blok M pada tahun 1986?, pedagang yang magang di sana saat itu akan menjawab, “Preman” yang Adi Daya di sana saat itu, bukan Lurah atau Camat Blok M, karena pedagang-pedagang itu dijamin keamanannya oleh “Preman Adi Daya” di sana. Demikian juga didunia ini, penguasanya bukanlah PBB, akan tetapi kelompok negara Adi Daya anggota PBB itu, dan bahkan mereka itu juga yang menguasai PBB. Jadi, agar Indonesia hidup aman, ikutilah kemauan negara-negara Adi Daya itu, yang penting bangsa Indonesia aman, karena kalau aman atas jaminan negara pengaman, maka aspek lainnya akan menjadi ikut lebih bergairah.
Ada satu strategi bagaimana untuk memenangkan suatu permainan, baik itu permainan game biasa, politik ataupun perang, yaitu cobalah memerankan diri sebagai pihak musuh.
Kalau ilustrasi berikut ini sebagai misal saja, yaitu seorang pedagang di Blok M yang tidak mau membayar uang “keamanan” kepada “Preman Adi Daya” di sana, memerankan dirinya sendiri sebagai "Preman Adi Daya" di sana, maka ia yang berperan sesungguhnya sebagai pedagang akan berkata pada dirinya sendiri sebagai Preman, “Hai si fulan, ayo bayar uang keamanan untuk bulan ini sekarang!”, ketika dirinya sendiri sebagai pedagang menjawab, ”Tidak”, lalu ia berkata lagi “Kamu jangan mencari gara-gara, yaa!, hidup kamu sudah sulit”, maka si pedagang tadi mungkin akan sadar dan membayar uang keamanan pada si “Preman” tadi. Apalagi berdagang dengan aman di situ sebenarnya ia dan keluarganya sudah mulai keluar dari kesulitan ekonomi yang ada, mengapa masih mau mencari kesulitan lagi melawan si “Preman Adi Daya” itu?.
Aspek Sejarah.
Pernahkah kita berfikir, seandainya saat Perang Dunia Kedua Amerika Serikat hanya mengusir tentara Jepang dari wilayah Amerika yang sedang diduduki Jepang, lalu mereka mengadakan perjanjian untuk tidak saling menyerang pada kepentingan mereka masing-masing, maka tidak mustahil bahwa Indonesia akan menjadi salah satu propensi Negara Asia Timur Raya, dengan ibukota Negaranya yaitu Tokyo.
Lalu konswensinya apa sekarang?.
Pasti sebagian diantara kita yang bekerja sebagai TKI termasuk Tenaga Kerja Wanita, Tenaga Profesional dan lainnya akan menjadi pegawai negeri yang disebut Romusa. Dan nama-nama sebagian jalan-jalan raya di kota-kota besar Indonesia bukan lagi Jl. Sampit, Jl. Jen. Sudirman dll., melainkan kemungkinan yang didapati adalah Jl. Fujiyama, Jl. Hiro Hito dll. Demikian juga yang boleh berkuasa atau menjabat di Pemerintah Daerah Indonesia kemungkinan bukan penduduk pribumi, melainkan minimum hanya orang keturunan campuran Indo-Nipon saja, dengan nama Bagio Susuki, Dede Kawasaki, R.A Dasoke, dll.
Akan tetapi sejarah berbicara lain, Amerika Serikat berhasil menghancurkan impian Jepang dalam mewujudkan Negara Asia Timur Raya. Ditandai dengan dijatuhkannya dua buah Bom Atom di kota Hiroshima dan Nagasaki yang membuat pemerintah Jepang menyerah tanpa syarat pada Sekutu, dengan demikian maka berakhirlah Perang Dunia Kedua tsb. dan membuat Jepang hengkang dari semua negara yang telah didudukinya sebelumnya termasuk Indonesia.
Seandainya leluhur kita yang hidup pada saat berakhirnya Perang Dunia Kedua bersama-sama masyarakat beragama dari negara-negara lain yang merasa terbebas dari kekejaman perang dan penjajahan, lalu mempunyai kesempatan besar untuk merdeka mendirikan negara impiannya sendiri kemudian berkata “Thanks God, the war has ended, bless Our Nation and bless America!”. Kemudian penulis menilai pula adalah tidak berlebihan kalau sekiranya kita kini, Bangsa Indonesia yang masih ada bersama dengan NKRI tetap menyambung kata leluhur tadi dengan berkata “Terima kasih hai Bangsa Amerika atas kemenanganmu pada Perang Dunia Kedua lalu”.
Aspek Masa Depan PLTN Indonesia.
Membahas pembangunan PLTN di Indonesia, paling tidak harus membicarakan tiga faktor utama, yaitu; Pertama faktor Perundang-undangan, kedua faktor bagaimana proyek PLTN itu sendiri dibangun (biaya, tempat dan dampak terhadap lingkungan sekitarnya), dan yang ketiga faktor pengelolaan bahan bakar nuklirnya, dilakukan di Dalam Negeri atau di Luar.
Dalam masalah Iran ini seandainya Pemerintah Indonesia mengambil kebijaksaan menentang kemauan negara-negara Adi Kuasa, dengan alasan sebagai modal kalau Iran lolos/diperbolehkan memperkaya uranium di negaranya sendiri, maka nantinya akan lebih memudahkan bagi Indonesia untuk membangun reaktor nuklir serta ijin pengelolaan/pembuatan bahan bakan nuklirnya dilakukan di dalam negeri Indonesia.
Sesungguhnya penulis melihat yang sebaliknya, kalau diistilahkan pemikiran demikian itu merupakan pemikiran yang terlalu jauh kedepan dan bersifat terburu-buru. Seperti pepatah orang Madura mengatakan, “Meracik bumbu untuk burung masih terbang bebas”, begitu bumbunya sudah siap dan dicicipi rasanya nyaman, maka burungnya sudah lari terbang entah kemana.
Artinya apa?, Indonesia masih harus menempuh perjalanan yang jauh untuk mewujudkan impiannya dalam membangun PLTN di tanahnya, belum-belum sudah berangan-angan supaya dapat mengelola bahan bakar nuklirnya di Dalam Negeri. Akibat dari kebijaksanaan itu sesungguhnya nama Indonesia akan dimasukkan ke dalam daftar dan akan dicatat sebagai Negara Penentang oleh Negara Adi Daya itu. Konsekwensinya kelak, begitu Indonesia akan mewujudkan impiannya untuk memiliki PLTN sendiri, karena imbas lain dari kebijaksanaan tadi sudah dapat dipastikan yaitu; impian itu akan dipersulit oleh Badan Tenaga Atom Internasional, yang anggotanya ya, Preman itu-itu juga, bukan sebaliknya akan mendapatkan kemudahan-kemudahan, apalagi ingin memiliki fasilitas pengelolaan bahan bakar nuklir sendiri, sungguh itu suatu impian yang tidak rasional.
Penutup.
Melalui tulisan ini, khusus dalam menentukan kebijaksanaan Luar Negeri, mari kita bersama-sama merenungkan pesan Bung Karno, Proklamator RI, beliau berkata “Ku titipkan Bangsaku pada mu”, lalu jangan mencoba mengartikan “Kutitipkan bangsa kawan-ku ataupun lawan-ku pada mu”.
*Alamat Penulis: Nasuki@emirates.net.ae
OPPORTUNITY LOSS DAN ALAM
OPPORTUNITY LOSS DAN ALAM
Oleh: Nasuki
Tulisan ini hanya sebagai materi tambahan dari ceramah pada pengajian KMMI yang lalu yang disampaikan oleh Bapak Ustad Bambang Satosa, tujuannya untuk melihat opportunity loss secara seksama, agar didalam menentukan tindakan-tindakan yang akan dilakukan disesuaikan dengan prioritasnya.
Alam tidak mengenal Opportunity Loss
Sudah merupakan suatu hal yang dipahami oleh umum bahwa apa yang ada di alam ini adalah bersifat kekal, artinya berkurangnya air karena panas, itu bukan berarti air itu hilang, akan tetapi ia berubah atau pecah terurai menjadi senyawa lain, yaitu gas hidrogen dan oksigen, demikian juga benda/materi lainnya.
Energi pada suatu benda/materi itu sifatnya kekal, artinya kalaupun ada perubahan energi pada suatu benda/materi, maka yang berubah itu adalah bentuk energinya saja, akan tetapi total (resultan) energinya adalah tetap sama dan tidak berubah besarnya, akhirnya dikenalah suatu hukum yang disebut dengan Hukum Kekekalan Energi, yaitu jumlah energi potensial dan energi kinetik pada suatu benda/materi akan selalu tetap, kapan saja.
Oleh: Nasuki
Tulisan ini hanya sebagai materi tambahan dari ceramah pada pengajian KMMI yang lalu yang disampaikan oleh Bapak Ustad Bambang Satosa, tujuannya untuk melihat opportunity loss secara seksama, agar didalam menentukan tindakan-tindakan yang akan dilakukan disesuaikan dengan prioritasnya.
Alam tidak mengenal Opportunity Loss
Sudah merupakan suatu hal yang dipahami oleh umum bahwa apa yang ada di alam ini adalah bersifat kekal, artinya berkurangnya air karena panas, itu bukan berarti air itu hilang, akan tetapi ia berubah atau pecah terurai menjadi senyawa lain, yaitu gas hidrogen dan oksigen, demikian juga benda/materi lainnya.
Energi pada suatu benda/materi itu sifatnya kekal, artinya kalaupun ada perubahan energi pada suatu benda/materi, maka yang berubah itu adalah bentuk energinya saja, akan tetapi total (resultan) energinya adalah tetap sama dan tidak berubah besarnya, akhirnya dikenalah suatu hukum yang disebut dengan Hukum Kekekalan Energi, yaitu jumlah energi potensial dan energi kinetik pada suatu benda/materi akan selalu tetap, kapan saja.
Manusiapun bersifat kekal alias tidak akan pernah binasa, sesungguhnya manusia itu hanya mati dan setelahnya ia akan kekal, hal ini juga ditunjang oleh firman Allah yang mengatakan bahwa "manusia kelak akan kekal didalam-nya". Nya disini bermakna Surga atau Neraka.
Contoh yang paling sederhana kalau diterapkan pada kehidupan nyata adalah seperti berikut;
Ketika bulan Ramadan tiba, kebanyakan orang-orang muslim meningkatkan ibadah mereka dengan selalu sholat berjamaah, membaca Alqur'an sebanyak mungkin dan beramal baik. Hal ini tentu termasuk juga sholat taraweh di Masjid dengan khusuk dan berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan mendengarkan ceramah agama bahkan melakukan tadarusan, karena bulan Ramadan merupakan bulan yang lebih baik dari seribu bulan, inilah kesempatan mereka untuk meraih pahala berlipat-lipat.
Lain halnya dengan orang muslim yang hanya mempunyai mata pencaharian dengan membuka usaha rumah makan atau restoran di daerah berpenduduk mayoritas muslim, maka waktu antara sesaat sebelum maqrib sampai dengan sesaat sebelum imsyak merupakan waktu sibuk melayani pembeli yang datang untuk menikmati masakan mereka, karena mereka tidak mempunyai pilihan lain untuk mendapatkan penghasilan uang untuk menyambung hidup, maka mereka harus tetap tinggal di restoran-restoran mereka sibuk melayani pembeli, sampai-sampai melakukan sholatpun di restoran dengan tergesa-gesa pula. Kalau mereka menutup restoran mereka demi melakukan sholat maqrib, isyak dan taraweh berjamaah di Masjid, maka mereka akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan penghasilan uang yang lebih banyak demi meraih kesempatan memperoleh pahala lebih banyak; Demikian sebaliknya, kalau mereka tetap membuka restoran dan tidak melakukan sholat berjamaah di Masjid, maka mereka akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pahala yang lebih banyak, tetapi mereka mendapatkan kesempatan memperoleh uang lebih banyak.
Kalau contoh di atas ditanyakan kepada alam, maka ia akan menjawab; "Kalau anda ingin mendapatkan sesuatu, maka anda harus kehilangan sesuatu juga", sehingga yang namanya opportunity loss di alam ini sesungguhnya tidak ada.
Jadi, munculnya sesuatu yang baru itu sebenarnya merupakan jelmaan dari sesuatu yang lain, karena semua di alam ini bersifat kekal.
Lalu mengapa dikenal istilah Opportunity Loss?
Opportunity loss secara harfiah berarti kehilangan kesempatan, penulis melihat, apapun makna ataupun artinya, maka siapapun yang mendapatkan opportunity loss akan mengalami atau mendapatkan suatu kerugian. Kalau ada kerugian, maka harus ada takaran atau ukuran, sehingga ketika tidak mendapatkan opportunity loss dapat dikatakan mendapatkan keuntungan, untuk itulah harus ada pembandingnya.
Untuk menyederhanakan pembahasan ini, penulis memilih dua ukuran; Yaitu opportunity loss diukur dari ukuran Tuhan dan yang lain diukur dari ukuran manusia.
Seluruh mahluk Tuhan diciptakan untuk melakukan ibadah kepada-Nya, maka barang siapa yang tidak melakukan ibadah kepada-Nya, maka ia berada dalam kerugian, itu sesuai dengan Firman-Nya pada surat Al-Ashr, ayat 2 dan 3; "Sesungguhnya manusia itu betul-betul berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, berbuat baik dan saling menasehati dengan kebenaran dan kesabaran", dan banyak ayat-ayat lain tentang ibadah kepada Tuhan yang dapat dibaca dalam Al-Qur'an, itulah ukuran Tuhan.
Sedangkan ukuran manusia kebanyakan diukur dari jumlah materi yang didapatkan, walaupun jalannya banyak yang sejalan dengan ukuran Tuhan, akan tetapi sebagian ada yang bertentangan dengan ukuran Tuhan.
Disinilah permasalahannya dan perlu digaris bawahi, ketika kita berada dipersimpangan lalu ukuran opportunity loss, agar kita menjadi orang-orang dari golongan yang beruntung dan merasa damai, maka berpeganglah pada ukuran Tuhan, bukan ukuran yang lainnya.
Alamat penulis : Nasuki@emirates.net.ae
Contoh yang paling sederhana kalau diterapkan pada kehidupan nyata adalah seperti berikut;
Ketika bulan Ramadan tiba, kebanyakan orang-orang muslim meningkatkan ibadah mereka dengan selalu sholat berjamaah, membaca Alqur'an sebanyak mungkin dan beramal baik. Hal ini tentu termasuk juga sholat taraweh di Masjid dengan khusuk dan berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan mendengarkan ceramah agama bahkan melakukan tadarusan, karena bulan Ramadan merupakan bulan yang lebih baik dari seribu bulan, inilah kesempatan mereka untuk meraih pahala berlipat-lipat.
Lain halnya dengan orang muslim yang hanya mempunyai mata pencaharian dengan membuka usaha rumah makan atau restoran di daerah berpenduduk mayoritas muslim, maka waktu antara sesaat sebelum maqrib sampai dengan sesaat sebelum imsyak merupakan waktu sibuk melayani pembeli yang datang untuk menikmati masakan mereka, karena mereka tidak mempunyai pilihan lain untuk mendapatkan penghasilan uang untuk menyambung hidup, maka mereka harus tetap tinggal di restoran-restoran mereka sibuk melayani pembeli, sampai-sampai melakukan sholatpun di restoran dengan tergesa-gesa pula. Kalau mereka menutup restoran mereka demi melakukan sholat maqrib, isyak dan taraweh berjamaah di Masjid, maka mereka akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan penghasilan uang yang lebih banyak demi meraih kesempatan memperoleh pahala lebih banyak; Demikian sebaliknya, kalau mereka tetap membuka restoran dan tidak melakukan sholat berjamaah di Masjid, maka mereka akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pahala yang lebih banyak, tetapi mereka mendapatkan kesempatan memperoleh uang lebih banyak.
Kalau contoh di atas ditanyakan kepada alam, maka ia akan menjawab; "Kalau anda ingin mendapatkan sesuatu, maka anda harus kehilangan sesuatu juga", sehingga yang namanya opportunity loss di alam ini sesungguhnya tidak ada.
Jadi, munculnya sesuatu yang baru itu sebenarnya merupakan jelmaan dari sesuatu yang lain, karena semua di alam ini bersifat kekal.
Lalu mengapa dikenal istilah Opportunity Loss?
Opportunity loss secara harfiah berarti kehilangan kesempatan, penulis melihat, apapun makna ataupun artinya, maka siapapun yang mendapatkan opportunity loss akan mengalami atau mendapatkan suatu kerugian. Kalau ada kerugian, maka harus ada takaran atau ukuran, sehingga ketika tidak mendapatkan opportunity loss dapat dikatakan mendapatkan keuntungan, untuk itulah harus ada pembandingnya.
Untuk menyederhanakan pembahasan ini, penulis memilih dua ukuran; Yaitu opportunity loss diukur dari ukuran Tuhan dan yang lain diukur dari ukuran manusia.
Seluruh mahluk Tuhan diciptakan untuk melakukan ibadah kepada-Nya, maka barang siapa yang tidak melakukan ibadah kepada-Nya, maka ia berada dalam kerugian, itu sesuai dengan Firman-Nya pada surat Al-Ashr, ayat 2 dan 3; "Sesungguhnya manusia itu betul-betul berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, berbuat baik dan saling menasehati dengan kebenaran dan kesabaran", dan banyak ayat-ayat lain tentang ibadah kepada Tuhan yang dapat dibaca dalam Al-Qur'an, itulah ukuran Tuhan.
Sedangkan ukuran manusia kebanyakan diukur dari jumlah materi yang didapatkan, walaupun jalannya banyak yang sejalan dengan ukuran Tuhan, akan tetapi sebagian ada yang bertentangan dengan ukuran Tuhan.
Disinilah permasalahannya dan perlu digaris bawahi, ketika kita berada dipersimpangan lalu ukuran opportunity loss, agar kita menjadi orang-orang dari golongan yang beruntung dan merasa damai, maka berpeganglah pada ukuran Tuhan, bukan ukuran yang lainnya.
Alamat penulis : Nasuki@emirates.net.ae
MASYARAKAT MADANI
MASYARAKAT MADANI
Oleh Nasuki *)
Tulisan ini mencoba menggambarkan model sederhana masyarakat madani sesuai ketentuan Islam, yang mana masyarakat dituntut berinteraksi dengan lingkungan dan sosialnya. Tujuannya mengajak kita untuk mempelajari rambu-rambu ketentuan hidup dalam Islam, agar dalam bermasyarakat tetap sesuai dengan tuntunan Islam.
MADANI
Madani menurut DR. K.H. Didin Hafidhuddin, M.Sc. dalam bukunya Islam Aplikatif (2003), berarti sipil, sehinggga masyarakat madani dapat diartikan sebagai masyarakat sipil atau civil society, adalah tatanan sosial yang didasarkan pada prinsip moral yang menjamin kesinambungan antara hak dan kewajiban individu dengan hak dan kewajiban sosial. Madani berarti kota, sehingga masyarakat madani dapat diartikan sebagai masyarakat kota yang menunjukkan banyaknya aktifitas, dinamika, dan penuh dengan kreatifitas. Madani berarti beradab, sehingga masyarakat madani merupakan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai peradaban manusia. Sedadangkan masyarakat madani sebagaimana dikemukakan oleh Robert N. Bellah dalam bukunya Beyond Belief (1976), adalah masyarakat Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah SAW.. Sebuah masyarakat yang sarat dengan nilai dan moral, maju, beradab, serta sangat menghargai nilai-nilai kemanusiaan.
SOSIAL
Konstitusi tertulis yang mengatur hubungan sosial masyarakat heterogen pertama di dunia adalah konstitusi yang ditulis oleh Rasulullah SAW. Konstitusi tsb. memuat tentang hubungan sosial atas komponen masyarakat negara Madinah saat itu yang disebut dengan Perjanjian/Piagam Madinah, berisikan: pertama; bahwa sesama muslim adalah satu umat, walaupun mereka berbeda suku, kedua; hubungan antara komunitas muslim dan non-muslim didasarkan pada prinsip bertetangga baik, saling membantu dalam menghadapi musuh bersama, membela mereka yang teraniaya, serta saling mencintai dan menghormati kebebasan beragama. Pada intinya Piagam Madinah mengandung dua nilai dasar:
Kesejahteraan dan keadilan ummat, dan Keterbukaan dalam arti konsistensi, keseimbangan, toleran, dan moderat yang didasarkan atas dimensi akidah, ibadah, dan akhlak, sehingga bentuk atau adanya sosial yang heterogen, baik dalam agama, ras, suku maupun golongan mendapatkan kedudukan yang sama.
Lalu bagaimana konsep sederhana dari masyarakat madani yang islami?.
Masyarakat islami adalah masyarakat yang didalam melaksanakan aktifitasnya berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist, masyarakat yang tidak pernah lepas ber-dzikrullah (mengingat Allah) dan ber-fikir (merenung dan menjunjung akal).
Dzikrullah
Mengingat berarti membayangkan adanya sesuatu sedang berada dalam pikiran, sehingga bisa diartikan merasa ditemani, atau diawasi. Di negara maju (Amerika, Eropah dan Jepang), masyarakatnya memiliki kesadaran yang tinggi akan patuh hukum atau merasa selalu diawasi oleh hukum, kemudian menjelma menjadi suatu kebiasaan/budaya patuh hukum yang mana merupakan salah satu karakter dari suatu masyarakat negara maju, yaitu tingginya kesadaran masing-masing individu dalam menjaga kepentingan sendiri maupun kepentingan umum sesuai ketentuan hukum yang berlaku, sehingga setiap individu mempunyai self control berdasarkan aturan yang ada.
Kemudian Jepang mengembangkannya sedemikian rupa, dimana budaya control diterapkan di institusi-institusi, perusahaan-perusahaan maupun industri-industri yang kemudian dikenal dengan nama total quality control, dimana setiap anggota dari suatu institusi merupakan pemilik dari institusi tsb., sehingga setiap anggota merupakan pengawas, baik pada diri sendiri maupun unit kerjanya untuk mendapatkan out put dari suatu proses secara optimal dari segi mutu dan jumlah, itu berarti the next step merupakan costumer dari the previous step setiap proses kegiatan.
Indonesia dimasa Orde Baru pernah menerapkan sistem serupa terutama bagi para pegawai pemerintah, BUMN, dan lainnya yang dikenal dengan nama sistem pengawasan melekat atau Waskat.
Bagaimana dengan masyarakat muslim?.
Waskat atau apapun bentuknya sudah dikenal didalam Islam jauh sebelum sistem-sistem pengawasan yang ada sekarang dipakai manusia, yaitu sistem Dzikrullah, yang berarti mengingat Allah, itu berarti sama dengan menugasi Allah sebagai pengawas terhadap segala tindakan yang sedang dilakukan. Dengan kata lain, seseorang akan merasa bahwa Allah selalu berada dekat dengan dia kapasitas-Nya sebagai pengawas bagi segala aktivitas yang sedang dilakukannya, sehingga apapun bentuk aktivitas yang dilakukan seseorang tidak akan keluar dari nilai-nilai akidah, ibadah, dan akhlakul karimah, dengan kata lain selalu berpedoman pada ketentuan Islam. Ini merupakan kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk yang dinobatkan Tuhan sebagai khalifah dimuka bumi ini, dalam arti manusia dapat melakukan apa saja dimuka bumi ini sesuai kemauannya, disamping itu harus tunduk pada kemauan/kendali pengawas itu sendiri, yaitu Allah.
Bagaimana hal tersebut agar berjalan dengan baik?
Untuk menjawab pertanyaan tsb., ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian: Terkadang kita secara tidak sadar menganggap bahwa tempat beribadah (baca tempat bertemu Tuhan) hanya didalam Masjid, Mushalla atau diatas Sajadah saja, maka di tempat-tempat itu sajalah merupakan tempat menfokuskan diri untuk mengeruk keuntungan akhirat, sehingga tempat-tempat lain hanya sebagai tempat untuk mengeruk keuntungan dunia semata tanpa adanya unsur ibadah.
Hawa nafsu lebih mengendalikan seseorang daripada hati nuraninya. Miskin akan pengetahuan/ilmu, terutama tentang Islam, sehingga mengakibatkan lemahnya pondasi seseorang dalam memakai pikiran daripada inderawi, maka seseorang sulit menerima hukum sebab-akibat.
Adzab/balasan Tuhan hanya mempengaruhi kehidupan akhirat saja, maka hidup di dunia lebih diutamakan, sehingga dalam menjaga keseimbangan diantaranya bukan merupakan the first priority.
Fikir
Fikir berarti merenung, merenung bukan berarti melamun, merenung terhadap segala sesuatu, jadi apapun yang sedang difikirkan dapat dipastikan seseorang ingin lebih mengetahui atau mendalami sesuatu yang sedang direnungkan dengan tujuan menjawab pertanyaan what, how bahkan why sekalipun, sehingga hasil renungannya dapat dipakai untuk kepentingan yang menguntungkan ataupun merugikan, baik bagi diri sendiri ataupun bagi yang lain.
Sejarah menunjukkan, bahwa fikir merupakan alat yang paling dahsyat untuk mengalahkan apapun didunia ini. Dengan mengembangkan budaya fikir, berarti mengembangkan budaya berinovasi dan berkreasi, tidak terbatas itu sebagai individu maupun sebagai suatu lembaga, baik fikir terhadap wahyu yang tertulis didalam Al-Qur’an maupun wahyu yang tersirat pada Alam. Dengan fikir berarti seseorang sedang mempelajari sesuatu, sehingga akan menuntut seseorang untuk “membaca”, agar hasil fikirnya merupakan suatu pengetahuan yang paling baik atau lebih baik dari sebelumnya sebagai dasar keyakinannya untuk menentukan langkah selanjutnya.
EKONOMI
Disamping faKtor-faktor perting diatas, didalam menuju masyarakat madani dibutuhkan pula peran ekonomi, yang merupakan kegiatan penting lainnya untuk mencapai tujuan sebagai masyarakat madani.
Pertanyaannya adalah: ekonomi bagaimanakah yang dibutuhkan agar dapat disebut sebagai masyarakat madani?.
Dunia telah mengenal beberapa sistem ekonomi, antara lain sitem ekonomi kapitalis, sistem ekonomi sosialis dan gabungan antara keduanya. Sistem ekonomi kapitalis lebih banyak dipakai saat ini dibanding dengan sitem ekonomi lainnya, sistem tsb. berdasarkan investasi/kapital dan persaingan bebas dengan segala gerakannya yang dibebani oleh pajak. Sistem ini terbukti lebih banyak menguntungkan si pemilik modal/investor/si kaya pemberi hutang daripada si miskin/penghutang. Pada kenyataanya banyak negara berkembang/miskin terjerat dengan hutang pada negara maju/kaya, dimana mereka tidak mampu melaksanakan kewajiban dalam membayar hutang mereka disebabkan oleh beban bunga yang melilit semakin lama semakin membesar saja.
Sedangkan sistem ekonomi sosialis merupakan sistem ekonomi dengan perencanaan terpusat, sehingga semua penguasaan alat-alat produksi secara terpusat pula, dimana hak-hak individu diabaikan.
Dapatkan sistem ekonomi secara islami dikembangkan?,
Pada akhir tahun 1970, Organisasi Negara-negara Islam (OKI) memberikan maklumat tentang perlunya mendirikan bank-bank Islam alternatip dengan sistem bagi hasil melawan bank-bank konvensional dengan sistem bunga yang dipandang sebagai riba. Apapun hasil yang dicapai umat Islam saat ini didalam menindak lanjuti maklumat OKI tsb. adalah tidak terlalu penting, yang lebih penting adalah OKI sudah memulai mengembangkan patokan tentang pundi-pundi ekonomi secara islami, karena kira-kira lebih dari 1000 tahun sejak hilangnya Khulafaurrasyidin boleh dibilang tidak ada usaha pengembangan ekonomi secara islami kecuali kekuasaan. Ekonomi secara islami paling tidak harus dilandasi pada prinsip sebagai berikut:
Melalui tulisan ini penulis mengajak masing-masing dari kita untuk menentukan dimana kita sedang berada, apakah kita sudah menjadi masyarakat madani, atau kita sedang menuju kearahnya, atau mungkin sebaliknya, baik itu secara individu, keluarga ataupun masyarakat islam secara keseluruhan.
*) Email: Nasuki@Emirates.net.ae
Oleh Nasuki *)
Tulisan ini mencoba menggambarkan model sederhana masyarakat madani sesuai ketentuan Islam, yang mana masyarakat dituntut berinteraksi dengan lingkungan dan sosialnya. Tujuannya mengajak kita untuk mempelajari rambu-rambu ketentuan hidup dalam Islam, agar dalam bermasyarakat tetap sesuai dengan tuntunan Islam.
MADANI
Madani menurut DR. K.H. Didin Hafidhuddin, M.Sc. dalam bukunya Islam Aplikatif (2003), berarti sipil, sehinggga masyarakat madani dapat diartikan sebagai masyarakat sipil atau civil society, adalah tatanan sosial yang didasarkan pada prinsip moral yang menjamin kesinambungan antara hak dan kewajiban individu dengan hak dan kewajiban sosial. Madani berarti kota, sehingga masyarakat madani dapat diartikan sebagai masyarakat kota yang menunjukkan banyaknya aktifitas, dinamika, dan penuh dengan kreatifitas. Madani berarti beradab, sehingga masyarakat madani merupakan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai peradaban manusia. Sedadangkan masyarakat madani sebagaimana dikemukakan oleh Robert N. Bellah dalam bukunya Beyond Belief (1976), adalah masyarakat Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah SAW.. Sebuah masyarakat yang sarat dengan nilai dan moral, maju, beradab, serta sangat menghargai nilai-nilai kemanusiaan.
SOSIAL
Konstitusi tertulis yang mengatur hubungan sosial masyarakat heterogen pertama di dunia adalah konstitusi yang ditulis oleh Rasulullah SAW. Konstitusi tsb. memuat tentang hubungan sosial atas komponen masyarakat negara Madinah saat itu yang disebut dengan Perjanjian/Piagam Madinah, berisikan: pertama; bahwa sesama muslim adalah satu umat, walaupun mereka berbeda suku, kedua; hubungan antara komunitas muslim dan non-muslim didasarkan pada prinsip bertetangga baik, saling membantu dalam menghadapi musuh bersama, membela mereka yang teraniaya, serta saling mencintai dan menghormati kebebasan beragama. Pada intinya Piagam Madinah mengandung dua nilai dasar:
Kesejahteraan dan keadilan ummat, dan Keterbukaan dalam arti konsistensi, keseimbangan, toleran, dan moderat yang didasarkan atas dimensi akidah, ibadah, dan akhlak, sehingga bentuk atau adanya sosial yang heterogen, baik dalam agama, ras, suku maupun golongan mendapatkan kedudukan yang sama.
Lalu bagaimana konsep sederhana dari masyarakat madani yang islami?.
Masyarakat islami adalah masyarakat yang didalam melaksanakan aktifitasnya berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist, masyarakat yang tidak pernah lepas ber-dzikrullah (mengingat Allah) dan ber-fikir (merenung dan menjunjung akal).
Dzikrullah
Mengingat berarti membayangkan adanya sesuatu sedang berada dalam pikiran, sehingga bisa diartikan merasa ditemani, atau diawasi. Di negara maju (Amerika, Eropah dan Jepang), masyarakatnya memiliki kesadaran yang tinggi akan patuh hukum atau merasa selalu diawasi oleh hukum, kemudian menjelma menjadi suatu kebiasaan/budaya patuh hukum yang mana merupakan salah satu karakter dari suatu masyarakat negara maju, yaitu tingginya kesadaran masing-masing individu dalam menjaga kepentingan sendiri maupun kepentingan umum sesuai ketentuan hukum yang berlaku, sehingga setiap individu mempunyai self control berdasarkan aturan yang ada.
Kemudian Jepang mengembangkannya sedemikian rupa, dimana budaya control diterapkan di institusi-institusi, perusahaan-perusahaan maupun industri-industri yang kemudian dikenal dengan nama total quality control, dimana setiap anggota dari suatu institusi merupakan pemilik dari institusi tsb., sehingga setiap anggota merupakan pengawas, baik pada diri sendiri maupun unit kerjanya untuk mendapatkan out put dari suatu proses secara optimal dari segi mutu dan jumlah, itu berarti the next step merupakan costumer dari the previous step setiap proses kegiatan.
Indonesia dimasa Orde Baru pernah menerapkan sistem serupa terutama bagi para pegawai pemerintah, BUMN, dan lainnya yang dikenal dengan nama sistem pengawasan melekat atau Waskat.
Bagaimana dengan masyarakat muslim?.
Waskat atau apapun bentuknya sudah dikenal didalam Islam jauh sebelum sistem-sistem pengawasan yang ada sekarang dipakai manusia, yaitu sistem Dzikrullah, yang berarti mengingat Allah, itu berarti sama dengan menugasi Allah sebagai pengawas terhadap segala tindakan yang sedang dilakukan. Dengan kata lain, seseorang akan merasa bahwa Allah selalu berada dekat dengan dia kapasitas-Nya sebagai pengawas bagi segala aktivitas yang sedang dilakukannya, sehingga apapun bentuk aktivitas yang dilakukan seseorang tidak akan keluar dari nilai-nilai akidah, ibadah, dan akhlakul karimah, dengan kata lain selalu berpedoman pada ketentuan Islam. Ini merupakan kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk yang dinobatkan Tuhan sebagai khalifah dimuka bumi ini, dalam arti manusia dapat melakukan apa saja dimuka bumi ini sesuai kemauannya, disamping itu harus tunduk pada kemauan/kendali pengawas itu sendiri, yaitu Allah.
Bagaimana hal tersebut agar berjalan dengan baik?
Untuk menjawab pertanyaan tsb., ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian: Terkadang kita secara tidak sadar menganggap bahwa tempat beribadah (baca tempat bertemu Tuhan) hanya didalam Masjid, Mushalla atau diatas Sajadah saja, maka di tempat-tempat itu sajalah merupakan tempat menfokuskan diri untuk mengeruk keuntungan akhirat, sehingga tempat-tempat lain hanya sebagai tempat untuk mengeruk keuntungan dunia semata tanpa adanya unsur ibadah.
Hawa nafsu lebih mengendalikan seseorang daripada hati nuraninya. Miskin akan pengetahuan/ilmu, terutama tentang Islam, sehingga mengakibatkan lemahnya pondasi seseorang dalam memakai pikiran daripada inderawi, maka seseorang sulit menerima hukum sebab-akibat.
Adzab/balasan Tuhan hanya mempengaruhi kehidupan akhirat saja, maka hidup di dunia lebih diutamakan, sehingga dalam menjaga keseimbangan diantaranya bukan merupakan the first priority.
Fikir
Fikir berarti merenung, merenung bukan berarti melamun, merenung terhadap segala sesuatu, jadi apapun yang sedang difikirkan dapat dipastikan seseorang ingin lebih mengetahui atau mendalami sesuatu yang sedang direnungkan dengan tujuan menjawab pertanyaan what, how bahkan why sekalipun, sehingga hasil renungannya dapat dipakai untuk kepentingan yang menguntungkan ataupun merugikan, baik bagi diri sendiri ataupun bagi yang lain.
Sejarah menunjukkan, bahwa fikir merupakan alat yang paling dahsyat untuk mengalahkan apapun didunia ini. Dengan mengembangkan budaya fikir, berarti mengembangkan budaya berinovasi dan berkreasi, tidak terbatas itu sebagai individu maupun sebagai suatu lembaga, baik fikir terhadap wahyu yang tertulis didalam Al-Qur’an maupun wahyu yang tersirat pada Alam. Dengan fikir berarti seseorang sedang mempelajari sesuatu, sehingga akan menuntut seseorang untuk “membaca”, agar hasil fikirnya merupakan suatu pengetahuan yang paling baik atau lebih baik dari sebelumnya sebagai dasar keyakinannya untuk menentukan langkah selanjutnya.
EKONOMI
Disamping faKtor-faktor perting diatas, didalam menuju masyarakat madani dibutuhkan pula peran ekonomi, yang merupakan kegiatan penting lainnya untuk mencapai tujuan sebagai masyarakat madani.
Pertanyaannya adalah: ekonomi bagaimanakah yang dibutuhkan agar dapat disebut sebagai masyarakat madani?.
Dunia telah mengenal beberapa sistem ekonomi, antara lain sitem ekonomi kapitalis, sistem ekonomi sosialis dan gabungan antara keduanya. Sistem ekonomi kapitalis lebih banyak dipakai saat ini dibanding dengan sitem ekonomi lainnya, sistem tsb. berdasarkan investasi/kapital dan persaingan bebas dengan segala gerakannya yang dibebani oleh pajak. Sistem ini terbukti lebih banyak menguntungkan si pemilik modal/investor/si kaya pemberi hutang daripada si miskin/penghutang. Pada kenyataanya banyak negara berkembang/miskin terjerat dengan hutang pada negara maju/kaya, dimana mereka tidak mampu melaksanakan kewajiban dalam membayar hutang mereka disebabkan oleh beban bunga yang melilit semakin lama semakin membesar saja.
Sedangkan sistem ekonomi sosialis merupakan sistem ekonomi dengan perencanaan terpusat, sehingga semua penguasaan alat-alat produksi secara terpusat pula, dimana hak-hak individu diabaikan.
Dapatkan sistem ekonomi secara islami dikembangkan?,
Pada akhir tahun 1970, Organisasi Negara-negara Islam (OKI) memberikan maklumat tentang perlunya mendirikan bank-bank Islam alternatip dengan sistem bagi hasil melawan bank-bank konvensional dengan sistem bunga yang dipandang sebagai riba. Apapun hasil yang dicapai umat Islam saat ini didalam menindak lanjuti maklumat OKI tsb. adalah tidak terlalu penting, yang lebih penting adalah OKI sudah memulai mengembangkan patokan tentang pundi-pundi ekonomi secara islami, karena kira-kira lebih dari 1000 tahun sejak hilangnya Khulafaurrasyidin boleh dibilang tidak ada usaha pengembangan ekonomi secara islami kecuali kekuasaan. Ekonomi secara islami paling tidak harus dilandasi pada prinsip sebagai berikut:
- Tidak ada unsur judi
- Jauh dari riba
- Jual beli dengan prinsip suka sama suka
- Uang didapat tidak dengan cara batil
- Membayar zakat, infak dan sedakah merupakan tuntutan.
Melalui tulisan ini penulis mengajak masing-masing dari kita untuk menentukan dimana kita sedang berada, apakah kita sudah menjadi masyarakat madani, atau kita sedang menuju kearahnya, atau mungkin sebaliknya, baik itu secara individu, keluarga ataupun masyarakat islam secara keseluruhan.
*) Email: Nasuki@Emirates.net.ae
BELENGGU
BELENGGU
Oleh Nasuki*
Ketika tulisan ini dibuat, saya sedang menikmati bagian isi sebuah buku yang berjudul, Bringing Up Boys, yang ditulis oleh psikolog Dr. James Dobson, dari Colorado, Amerika Serikat. Buku tersebut sungguh sangat menarik minat saya untuk membacanya manakala di bawah judul pada sampulnya tertulis “Practical advice and encouragement for those shaping the next generation of men”. Terlebih lagi ketika membaca isinya. Buku itu mengulas secara terperinci tentang hal-hal yang membedakan secara psikologis antara laki dan perempuan, yaitu akibat adanya perbedaan hormon tertentu pada masing-masing jenis, sehingga dapat mempengaruhi tinggi rendahnya sifat keduanya dalam saling mendominasi, memimpin, menyukai hal yang beresiko, menyukai kekerasan, dll. Di mana secara umum adanya sifat-sifat itu pada manusia sudah banyak diterangkan di dalam Alqur’an sebagai sifat yang “kodrat” pada masing-masing jenis. Lagi-lagi akal manusia dapat membuktikan bahwa isi Alqur’an itu betul-betul Kalamullah.
Bidang ini sebetulnya lebih melengkapi bidang-bidang lainnya untuk membuktikan bahwa Alqur’an merupakan kumpulan wahyu dari Tuhan.
Lalu yang menarik untuk direnungkan adalah; Kalau manusia dengan akalnya sudah mampu menyingkap suatu kebenaran, sehingga dapat membedakan mana yang benar dan mana yang tidak, mana yang layak dan mana yang tidak, lalu apa gunanya wahyu itu diturunkan bagi ummat manusia?, atau dengan nada “memberontak”, mengapa Tuhan memberikan wahyu bagi umat manusia?, toh manusia dengan akal, intuisi dan fitrahnya sudah dapat menemukan suatu kebenaran.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, marilah analisa ini difokuskan pada definisi tentang misi diturunkannya Alqur’an.
Seperti berulangkali disebutkan di dalam Alqur’an, bahwa Alqur’an itu diturunkan sebagai petunjuk bagi ummat manusia, petunjuk pembeda tentang yang benar dan yang salah, karena tugas manusia sebagai penguasa penggati Tuhan di muka bumi ini, suatu petunjuk itu diperlukan sebagai pedoman ketika mereka belum mengetahuinya, tentu saja itu akan terjadi pada masa awal kehidupan manusia. Untuk itulah mengetahui isi wahyu merupakan suatu kewajiban terutama bagi ummat Islam, agar tidak salah dalam memilih arah jalan hidupnya. Akan tetapi yang terlihat janggal adalah; golongan penganut Islam yang sudah mengetahui kebenaran (dari wahyu), akan tetapi banyak dari kebenaran (secara nyata) itu ditemukan atau dibuktikan (baca dipahami) oleh golongan di luar Islam.
Jadi, banyak kebenaran itu bagi ummat Islam hanya ada ditingkat pengetahuan, bukan pemahaman bahkan pembuktian. Sehingga yang sering terjadi adalah, apabila ada suatu perkara di dalam Alqur’an dapat ditemukan/dibuktikan oleh pihak yang berseberangan dengan Islam, lalu sebagian dari penganut Islam berkata; itu sudah disebutkan (baca diketahui) di dalam Alqur’an sejak 14 abad yang lalu. Kenapa demikian?, inilah pokok permasalahannya.
Jadi, pentingnya wahyu itu adalah, sebagai petunjuk terutama pada fase-fase awal ketika baru atau mengenal sesuatu. Baik itu awal-awal memasuki dunia, atau memasuki suatu daerah, atau memasuki suatu kaum, atau memasuki suatu tatanan sosial, atau suatu organisasi, atau apun. Wahyu sebagai pedoman apabila pedoman baku belum dibuat oleh manusia.
Kebebasan
Coba kita bertanya lagi, mengapa saat ini hampir tidak pernah lagi dijumpai lagi orang-orang jenius bermunculan seperti Ibnu Sinna, Muhammad Ibn Musa Al-Khawarizmi, Imam Ghozali dan lainnya seperti di masa lampau dari golongan muslim?. Apakah Tuhan telah menghentikan orang-orang jenius seperti mereka terlahir dari golongan muslim?. Bukankah semua manusia mempunyai hak yang sama dihadapan Tuhan?. Ataukah ada alasan lain, sehingga para jenius-jenius dari golongan muslim tidak dapat berkembang dan menyebabkan mereka cenderung bersikap apatis, pasif, dan tidak bergairah terutama dibidang ilmu pengetahuan?.
Kebebasan
Coba kita bertanya lagi, mengapa saat ini hampir tidak pernah lagi dijumpai lagi orang-orang jenius bermunculan seperti Ibnu Sinna, Muhammad Ibn Musa Al-Khawarizmi, Imam Ghozali dan lainnya seperti di masa lampau dari golongan muslim?. Apakah Tuhan telah menghentikan orang-orang jenius seperti mereka terlahir dari golongan muslim?. Bukankah semua manusia mempunyai hak yang sama dihadapan Tuhan?. Ataukah ada alasan lain, sehingga para jenius-jenius dari golongan muslim tidak dapat berkembang dan menyebabkan mereka cenderung bersikap apatis, pasif, dan tidak bergairah terutama dibidang ilmu pengetahuan?.
Saya lebih cenderung pada yang terakhir, ini bukan berarti menuduh para jenius tadi menjadi malas karena ia muslim, tetapi akal mereka tidak dapat bergerak atau berkembang bebas karena jeruji kepentingan sesaat segolongan manusia, kehidupan para jenius ini terlingkupi oleh banyaknya larangan yang menyebabkan akal dan pikiran mereka terbelenggu. Sejak mereka di sekolah tingkat terbawah sampai yang tertinggi sudah dibiasakan dengan mengkonsumsi buku bacaan yang sudah lolos sensor untuk kepentingan yang mengatasnamakan agama. Walaupun sebagian dari mereka yang terbelenggu dapat menikmati suatu kebebasan ketika belajar di negeri yang menghormati kebebasan dan hak pribadi. Akan tetapi begitu kembali ke tempat asal, mereka tidak dapat memakainya secara optimal karena ide-ide yang didasari dengan kebebasan akan betentangan dengan kepentingan golongan di tempat asal, sehingga yang ada hanyalah pekerjaan yang bersifat rutinitas dan cenderung monoton daripada peningkatan untuk perbaikan kehidupan berdasarkan bidang yang telah dipelajari.
Saya melihat gejala ini bagi ummat Islam bagaikan suatu ummat yang sedang berjalan di lorong gelap, dan lorong itu akan tersinari ketika kebebasan sudah menjadi bagian hidup mereka, karena kebebasan manusia adalah merupakan hal yang fitrah, dan ini tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Masalah kebebasan berpikir dalam membentuk sejarah perkembangan peradaban manusia sudah dibuktikan oleh banyak bangsa. Di Eropa misalnya, sampai awal abad ke 16, orang atas perintah gereja (baca negara) harus mempercayai bahwa; bumi merupakan titik pusat peredaran planet, walaupun Galileo Galilie, astronomi dari Italia yang memakai teleskop membuktikan bahwa pusat peredaran planet adalah matahari. Tetapi karena bertentangan dengan paham yang dianut oleh gereja saat itu, maka ia harus menandatangani pernyataan bahwa ia tidak akan percaya bahwa bumi itu mengelilingi matahari melainkan sebaliknya, itulah yang menyebabkan ia diam tidak berkembang sampai ia meninggal sembilan tahun kemudian.
Jadi, gereja mengatasnamakan Tuhan mengurusi hak pribadi seseorang, sampai-sampai otoritas untuk mengampuni dosa seseorang adalah gereja, bukan Tuhan. Untuk itulah pada awal aba ke 16 muncul gerakan Protestan yang menentang praktek-praktek gereja yang sudah keterlaluan, maka hanya 25 tahun setelahnya, hampir seluruh negara dibagian benua Eropa Utara menjadi pengikut Protestan, sehingga menjadikan gereja harus mereformasi diri. Untuk itulah waktu dari awal abad ke 16 sampai dengan akhir abad ke 18 disebut sebagai waktu lahirnya “modern science” di benua Eropa dan Amerika.
Kalau kita lihat apa yang terjadi saat ini di sebagian besar negara-negara yang berpenduduk mayoritas penganut Islam, agama masih dipakai oleh sekelompok golongan tertentu untuk mempertahankan kedudukannya. Bahkan tidak tanggung-tanggung, agama dipakai sebagai alat penindasan bagi mereka yang mencoba bertanya-tanya masalah legimitasi golongan yang sedang berkuasa. Di negara-negara itu tidak pernah ditemukan akal yang dibiarkan berpikir bebas, baru bergerak sudah terbentur dengan kepentingan golongan penguasa yang ujung-ujungnya harus berurusan dengan penegak hukum (baca pengawal) penguasa dengan tuduhan; apa yang sedang dilakukan tidak sesuai dengan mahzab/aliran yang berlaku dan dianut oleh negara (penguasa). Karena menurut pandangan mereka, dengan adanya kebebasan berarti memberi kesempatan pada manusia untuk memberontak terhadap agama ataupun wahyu dan akhirnya membiarkan manusia masuk ke dalam saluran yang menyesatkan.
Kalau kita lihat apa yang terjadi saat ini di sebagian besar negara-negara yang berpenduduk mayoritas penganut Islam, agama masih dipakai oleh sekelompok golongan tertentu untuk mempertahankan kedudukannya. Bahkan tidak tanggung-tanggung, agama dipakai sebagai alat penindasan bagi mereka yang mencoba bertanya-tanya masalah legimitasi golongan yang sedang berkuasa. Di negara-negara itu tidak pernah ditemukan akal yang dibiarkan berpikir bebas, baru bergerak sudah terbentur dengan kepentingan golongan penguasa yang ujung-ujungnya harus berurusan dengan penegak hukum (baca pengawal) penguasa dengan tuduhan; apa yang sedang dilakukan tidak sesuai dengan mahzab/aliran yang berlaku dan dianut oleh negara (penguasa). Karena menurut pandangan mereka, dengan adanya kebebasan berarti memberi kesempatan pada manusia untuk memberontak terhadap agama ataupun wahyu dan akhirnya membiarkan manusia masuk ke dalam saluran yang menyesatkan.
Inilah yang terjadi, wahyu berhadapan melawan rendahnya moralitas, karena wahyu itu adalah pesan Tuhan bagi ummat manusia yang pemahamannya tidak terbatas, gelombangnya seirama dengan kecepatan jaman, maka ia berkembang, ber-evolusi sampai di akhir jaman, sehingga siapapun orangnya, mereka mempunyai hak berbicara dengan mengatasnamakan wahyu. Untuk itu hanya dengan akal yang bebas, tulus dan bertanggungjawab saja wahyu Tuhan itu dapat dipahami dan dibuktikan sedalam-dalamnya.
Sinar dari Timur Laut
Munculnya Indonesia dan Malaysia sebagai pelopor kebebasan di dunia Islam. Khusus untuk Indonesia, angin kebebasan berhembus sejak jatuhnya kekuasaan Orde Baru berganti dengan Orde Reformasi, walaupun pergantian itu meninggalkan korban dan luka yang penyembuhannya membutuhkan waktu yang cukup lama, tetapi lebih cepat pergantian itu akan semakin baik, toh akhirnya, kalau itu terjadi, minimum akan terluka juga.
Akibatnya kini bisa dilihat peran aktip masyarakat, DPR, LSM, media massa dan lainnya bebas dalam mengawasi terutama jalannya roda pemerintah dan non pemerintah yang tidak mungkin dapat ditemukan pada masa Orde Baru. Atau adanya suatu komunikasi dua arah antara penguasa dan masyarakat, dampaknya adalah dalam kehidupan beragama dirasakan lebih bergairah, yang pada akhirnya dan mungkin tidak akan lama lagi, Islam akan ditemukan kembali sebagai agama yang didasarkan atas akal yang bebas, di mana adanya perbedaan pendapat diyakini sebagai suatu rahmat Tuhan, itu berarti tidak akan lama lagi munculnya jenius-jenius seperti Ibnu Sinna, Muhammad Ibn Musa Al-Khawarizmi, Imam Ghozali dan yang lainnya akan hadir kembali disekitar kita. Orang-orang seperti itu bukan saja mengetahui arti wahyu, tetapi yang lebih penting lagi mereka dapat membuktikan kebenaran tentang makna yang terkandung di dalam wahyu, sehingga kedua negara ini kemungkinan akan menjadi model bagi negara-negara berpenduduk mayoritas penganut Islam yang lain, dan itu sesuai dengan apa yang penah disabdakan oleh Rasulullah SAW:
“Agama adalah akal, tidak ada agama bagi mereka yang tidak mempunyai akal”.
END
Referensi:
Bringing Up Boys, oleh Dr. James Dobson.
World History, oleh Jerome R. Reich/Mark M. Krug/Edward L. Biller.
*alamat: Nasuki@emirates.net.ae
END
Referensi:
Bringing Up Boys, oleh Dr. James Dobson.
World History, oleh Jerome R. Reich/Mark M. Krug/Edward L. Biller.
*alamat: Nasuki@emirates.net.ae
BENCANA DAN PERAN TUHAN
BENCANA DAN PERAN TUHAN
Oleh Nasuki
Setelah bencana datang, lalu sebagian bertanya kepada yang lain tentang suatu bencana yang telah terjadi itu, jawabannya adalah mungkin Tuhan sedang murka, atau mungkin Ia sedang menguji kita, atau mungkin Dia sedang memberi peringatan dan sebagainya, bahkan nada jawaban yang ada cenderung dan seolah-olah mengkambing hitamkan Tuhan. Lalu benarkah demikian?.
Di bawah ini penulis mencoba memberikan pemahaman tentang duduk persoalan dan cara berpikir mengenai bencana, sehingga dapat melihat suatu bencana sebagaimana mestinya. Adapun kebenaran hanya Tuhanlah yang Maha Tau.
Mengenal Tugas Tuhan
Tuhan memerintah kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya untuk beribadah kepada-Nya. Perintah itu tidak sama dengan perintah seorang majikan kepada pembantunya, dimana dalam melaksanakan perintah majikan, si pembantu selalu mempertimbangkan tujuan dan kepentingan majikan, sehingga kalau majikan tidak mendapatkan imbalan keuntungan dari pekerjaan itu atau berkepentingan dengannya, maka ia tidak akan memerintah pembantunya.
Perintah Tuhan kepada hamba-Nya ibarat perintah seorang dokter kepada pasiennya. Apabila rasa nyeri pada gigi si pasien itu bertambah, maka si dokter akan memerintahkannya untuk minum obat penghilang rasa nyeri. Kalau ia menuruti perintah dokter, sesungguhnya hal itu tidak memberi keuntungan pada dokter, akan tetapi bahaya dan manfaatnya akan kembali kepada si pasien itu sendiri, dokter hanyalah sebagai pemberi nasehat dan petunjuk saja.
Bagi dokter, sama saja tidak ada pengaruhnya mengenai kesembuhan ataupun semakin parahnya si pasien karena mengikuti ataupun tidak mengikuti/melanggar perintah dokter. Demikian pulalah Allah dalam menciptakan kebahagiaan itu diperlukan sarana penunjang yaitu taat kepada Nya. Bagi Allah kufur ataupun iman hamba-Nya adalah sama saja kalau dilihat dari sisi keagungan dan ketidak butuhan-Nya kepada yang lain. Akan tetapi, Allah tidak rela kalau hamba-Nya menjadi orang yang kufur. Kufur itu tidak pantas bagi hamba Allah, sebab kekufuran dapat mencelakakan mereka, seperti seorang dokter tidak rela dengan semakin parahnya pasien, akhirnya ia berusaha mengobatinya. Demikianlah pemahaman akan penugasan Allah kepada hamba-Nya, karena sesunnguhnya ketaatan merupakan obat, sedangkan kemaksiatan merupakan racun yang dapat berpengaruh pada hati nurani.
Demikianlah kira-kira arti Firman Allah pada surat Al-Isra' ayat 15;
"Barang siapa berbuat sesuai dengan hidayah (petunjuk Allah), maka sesungguhnya ia berbuat itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barang siapa sesat , maka sesungguhnya ia tersesat itu adalah kerugian bagi dirinya sendiri",
Dan surat Fusilat ayat 46;
"barang siapa mengerjakan amal soleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri; dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menuju pada dirinya sendiri".
Tentang Siksa Tuhan
Adapun hukuman siksa karena meninggalkan perintah ataupun menerjang larangan-Nya, maka pada hakekatnya siksa itu bukan semata-mata karena kemarahan dan kemurkaan Tuhan.
Contoh yang sama dengan itu adalah orang yang tidak mau melakukan hubungan kelamin dengan isterinya, maka Allah akan memberikan balasan kepadanya dengan tidak dimilikinya keturunan. Ibu yang tidak mau menyusui bayinya, maka Allah akan memberikan balasan dengan matinya si bayi. Barang siapa yang tidak mau makan dan minum, maka Allah akan memberikan hukuman dengan rasa lapar dan haus. Sehingga makna dari siksaan Allah terhadap hambanya bukanlah bermaksud mencerca, melainkan segala sebab ada musababnya, yaitu sebagian akan memberikan dampak negatip dan sebagian yang lain akan memberikan dampak positip.
Bagi Allah mudah saja membuat wanita hamil tanpa harus berhubungan kelamin, memberikan hidup seorang bayi tanpa disusui ibunya, membuat kenyang seseorang tanpa harus makan, akan tetapi sebab itu akan berakibat pada musabab, danTuhan tidak akan pernah melanggar janji-Nya, yaitu adanya akibat pasti dikarenakan sebab.
Bencana
Bencana dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu bencana karena kondisi siklus alam dan bencana karena factor lain terutama akibat perbuatan manusia.
Ketika bencana menimpa pada suatu tempat atau kaum, maka sebagian orang di tempat lain yang tidak terkena bencana menyimpulkan, bahwa penduduk di tempat terjadinya bencana itu banyak yang telah melakukan dosa, sehingga Tuhan memberikan peringatan atau hukuman, agar mereka sadar untuk membenahi diri. Akan tetapi bagi orang-orang yang mempunyai pengetahuan, mereka akan meneliti atau melihat tentang bencana itu secara seksama sebelum memberikan suatu kesimpulan, apakah bencana itu disebabkan oleh kondisi alam itu sendiri ataukah memang disebabkan oleh dorongan factor luar, misalnya perusakan lingkungan oleh sebagian penduduk setempat.
Peran Tuhan pada suatu bencana
Disinilah letak permasalahannya, untuk menerangkan hal diatas, maka diperlukan penyederhanaan pokok permasalahan yang rumit. Ibarat sebuah ban mobil yang menjadi pecah ketika si pemilik ban mengisi udara melebihi kapasitasnya, sehingga mengakibatkan pemilik ban mengajukan tuntutan pada agen penjual ban, setelah laporan dibuat kemudian oleh agen tuntutan itu diteruskan kepada pabrik pembuat ban, maka datanglah jawaban, bahwa berdasarkan isian laporan yang ditulis, dimana pabrik ban tidak usah melihat langsung bagaimana peristiwanya itu terjadi, maka pabrik menyimpulkan bahwa pabrik tidak bertanggungjawab atas pecahnya ban itu dikarenakan pemakai ban telah memompakan udara melebihi kapasitas kekuatan ban. Seolah-olah pabrik itu menyatakan bahwa ban itu pasti pecah apabila udara yang dipompakan melebihi kapasitasnya.
Kita dapat mengatakan bahwa meletusnya ban milik orang tadi sudah diketahui oleh pabrik pembuat ban sebelum ban itu dipompa, maka itu merupakan perumpamaan pada terjadinya bencana, yaitu bencana itu sesungguhnya sudah diketahui oleh Tuhan sebagai pencipta sekalian alam ini melalui hukum aturan main untuk sekalian alam ini, yaitu semua peristiwa yang ada adalah atas pengetahuan-Nya seperti yang telah Ia rencanakan dan tertuang dalam hukum sunnatullah.
Jadi, yang terpenting adalah harus memilah tentang bencana itu, apakah itu disebabkan oleh siklus alam ataukah karena adanya factor pendorong luar lainnya. Apabila itu disebabkan oleh siklus alam, maka manusia perlu melawannya agar korban dapat dikurangi bahkan dihindari, misalnya dengan membuat bangunan tahan gempa atau tahan angin atau pemasangan sitem peringatan dini dll. Akan tetapi kalau bencana itu dikarenakan dorongan dari luar, misalnya banjir disebabkan air hujan tidak dapat secara cepat mengalir keluar karena menumpuknya sampah di sungai-sungai, atau tanah longsor yang disebabkan oleh penggundulan hutan, maka factor penyebab itu perlu dibenahi, agar bencana serupa tidak terulang kembali dikemudian hari.
Tetapi kedua bencana itu pada hakekatnya adalah sama saja, yaitu merupakan kejadian alam yang tunduk pada hukum sunnatullah, karena sesungguhnya Tuhan tidak pernah menghukum, akan tetapi sebab itu akan berakibat pada musabab, dengan kata lain setiap bencana itu sudah pasti dikehendaki dan diketahui oleh Tuhan, karena Tuhanlah yang menciptakan alam semesta ini berikut hukum aturan mainnya sebagai hukum sebab-akibat.
Alamat penulis: Nasuki@emirates.net.ae
Oleh Nasuki
Setelah bencana datang, lalu sebagian bertanya kepada yang lain tentang suatu bencana yang telah terjadi itu, jawabannya adalah mungkin Tuhan sedang murka, atau mungkin Ia sedang menguji kita, atau mungkin Dia sedang memberi peringatan dan sebagainya, bahkan nada jawaban yang ada cenderung dan seolah-olah mengkambing hitamkan Tuhan. Lalu benarkah demikian?.
Di bawah ini penulis mencoba memberikan pemahaman tentang duduk persoalan dan cara berpikir mengenai bencana, sehingga dapat melihat suatu bencana sebagaimana mestinya. Adapun kebenaran hanya Tuhanlah yang Maha Tau.
Mengenal Tugas Tuhan
Tuhan memerintah kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya untuk beribadah kepada-Nya. Perintah itu tidak sama dengan perintah seorang majikan kepada pembantunya, dimana dalam melaksanakan perintah majikan, si pembantu selalu mempertimbangkan tujuan dan kepentingan majikan, sehingga kalau majikan tidak mendapatkan imbalan keuntungan dari pekerjaan itu atau berkepentingan dengannya, maka ia tidak akan memerintah pembantunya.
Perintah Tuhan kepada hamba-Nya ibarat perintah seorang dokter kepada pasiennya. Apabila rasa nyeri pada gigi si pasien itu bertambah, maka si dokter akan memerintahkannya untuk minum obat penghilang rasa nyeri. Kalau ia menuruti perintah dokter, sesungguhnya hal itu tidak memberi keuntungan pada dokter, akan tetapi bahaya dan manfaatnya akan kembali kepada si pasien itu sendiri, dokter hanyalah sebagai pemberi nasehat dan petunjuk saja.
Bagi dokter, sama saja tidak ada pengaruhnya mengenai kesembuhan ataupun semakin parahnya si pasien karena mengikuti ataupun tidak mengikuti/melanggar perintah dokter. Demikian pulalah Allah dalam menciptakan kebahagiaan itu diperlukan sarana penunjang yaitu taat kepada Nya. Bagi Allah kufur ataupun iman hamba-Nya adalah sama saja kalau dilihat dari sisi keagungan dan ketidak butuhan-Nya kepada yang lain. Akan tetapi, Allah tidak rela kalau hamba-Nya menjadi orang yang kufur. Kufur itu tidak pantas bagi hamba Allah, sebab kekufuran dapat mencelakakan mereka, seperti seorang dokter tidak rela dengan semakin parahnya pasien, akhirnya ia berusaha mengobatinya. Demikianlah pemahaman akan penugasan Allah kepada hamba-Nya, karena sesunnguhnya ketaatan merupakan obat, sedangkan kemaksiatan merupakan racun yang dapat berpengaruh pada hati nurani.
Demikianlah kira-kira arti Firman Allah pada surat Al-Isra' ayat 15;
"Barang siapa berbuat sesuai dengan hidayah (petunjuk Allah), maka sesungguhnya ia berbuat itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barang siapa sesat , maka sesungguhnya ia tersesat itu adalah kerugian bagi dirinya sendiri",
Dan surat Fusilat ayat 46;
"barang siapa mengerjakan amal soleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri; dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menuju pada dirinya sendiri".
Tentang Siksa Tuhan
Adapun hukuman siksa karena meninggalkan perintah ataupun menerjang larangan-Nya, maka pada hakekatnya siksa itu bukan semata-mata karena kemarahan dan kemurkaan Tuhan.
Contoh yang sama dengan itu adalah orang yang tidak mau melakukan hubungan kelamin dengan isterinya, maka Allah akan memberikan balasan kepadanya dengan tidak dimilikinya keturunan. Ibu yang tidak mau menyusui bayinya, maka Allah akan memberikan balasan dengan matinya si bayi. Barang siapa yang tidak mau makan dan minum, maka Allah akan memberikan hukuman dengan rasa lapar dan haus. Sehingga makna dari siksaan Allah terhadap hambanya bukanlah bermaksud mencerca, melainkan segala sebab ada musababnya, yaitu sebagian akan memberikan dampak negatip dan sebagian yang lain akan memberikan dampak positip.
Bagi Allah mudah saja membuat wanita hamil tanpa harus berhubungan kelamin, memberikan hidup seorang bayi tanpa disusui ibunya, membuat kenyang seseorang tanpa harus makan, akan tetapi sebab itu akan berakibat pada musabab, danTuhan tidak akan pernah melanggar janji-Nya, yaitu adanya akibat pasti dikarenakan sebab.
Bencana
Bencana dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu bencana karena kondisi siklus alam dan bencana karena factor lain terutama akibat perbuatan manusia.
Ketika bencana menimpa pada suatu tempat atau kaum, maka sebagian orang di tempat lain yang tidak terkena bencana menyimpulkan, bahwa penduduk di tempat terjadinya bencana itu banyak yang telah melakukan dosa, sehingga Tuhan memberikan peringatan atau hukuman, agar mereka sadar untuk membenahi diri. Akan tetapi bagi orang-orang yang mempunyai pengetahuan, mereka akan meneliti atau melihat tentang bencana itu secara seksama sebelum memberikan suatu kesimpulan, apakah bencana itu disebabkan oleh kondisi alam itu sendiri ataukah memang disebabkan oleh dorongan factor luar, misalnya perusakan lingkungan oleh sebagian penduduk setempat.
Peran Tuhan pada suatu bencana
Disinilah letak permasalahannya, untuk menerangkan hal diatas, maka diperlukan penyederhanaan pokok permasalahan yang rumit. Ibarat sebuah ban mobil yang menjadi pecah ketika si pemilik ban mengisi udara melebihi kapasitasnya, sehingga mengakibatkan pemilik ban mengajukan tuntutan pada agen penjual ban, setelah laporan dibuat kemudian oleh agen tuntutan itu diteruskan kepada pabrik pembuat ban, maka datanglah jawaban, bahwa berdasarkan isian laporan yang ditulis, dimana pabrik ban tidak usah melihat langsung bagaimana peristiwanya itu terjadi, maka pabrik menyimpulkan bahwa pabrik tidak bertanggungjawab atas pecahnya ban itu dikarenakan pemakai ban telah memompakan udara melebihi kapasitas kekuatan ban. Seolah-olah pabrik itu menyatakan bahwa ban itu pasti pecah apabila udara yang dipompakan melebihi kapasitasnya.
Kita dapat mengatakan bahwa meletusnya ban milik orang tadi sudah diketahui oleh pabrik pembuat ban sebelum ban itu dipompa, maka itu merupakan perumpamaan pada terjadinya bencana, yaitu bencana itu sesungguhnya sudah diketahui oleh Tuhan sebagai pencipta sekalian alam ini melalui hukum aturan main untuk sekalian alam ini, yaitu semua peristiwa yang ada adalah atas pengetahuan-Nya seperti yang telah Ia rencanakan dan tertuang dalam hukum sunnatullah.
Jadi, yang terpenting adalah harus memilah tentang bencana itu, apakah itu disebabkan oleh siklus alam ataukah karena adanya factor pendorong luar lainnya. Apabila itu disebabkan oleh siklus alam, maka manusia perlu melawannya agar korban dapat dikurangi bahkan dihindari, misalnya dengan membuat bangunan tahan gempa atau tahan angin atau pemasangan sitem peringatan dini dll. Akan tetapi kalau bencana itu dikarenakan dorongan dari luar, misalnya banjir disebabkan air hujan tidak dapat secara cepat mengalir keluar karena menumpuknya sampah di sungai-sungai, atau tanah longsor yang disebabkan oleh penggundulan hutan, maka factor penyebab itu perlu dibenahi, agar bencana serupa tidak terulang kembali dikemudian hari.
Tetapi kedua bencana itu pada hakekatnya adalah sama saja, yaitu merupakan kejadian alam yang tunduk pada hukum sunnatullah, karena sesungguhnya Tuhan tidak pernah menghukum, akan tetapi sebab itu akan berakibat pada musabab, dengan kata lain setiap bencana itu sudah pasti dikehendaki dan diketahui oleh Tuhan, karena Tuhanlah yang menciptakan alam semesta ini berikut hukum aturan mainnya sebagai hukum sebab-akibat.
Alamat penulis: Nasuki@emirates.net.ae
Friday, October 13, 2006
Sedang bekerja di PT. PAL
Pak Arifin (rukuk megang pipa), saya (malangkerik) dan para teknisi di Bengkel Pipa Div. Kapal Niaga PT. Pal sedang melakukan pengetesan Kompensator milik rekanan PT. Srikaya Mas
Wednesday, October 11, 2006
Wednesday, September 27, 2006
Kawan-kawan di D-3 Kapal, ITS

Dari kiri Bagio, Sony, Torik, Agus B., Siswohadi, Mulyono, ............(lupa), Nasuki, Sigit, dan Pramuraharjo (jongkok)
Saturday, September 02, 2006
Subscribe to:
Posts (Atom)




