Sunday, December 18, 2011

Berdua, Aku dan Gol A Gong

Tak seperti biasa, aku merasa cukup antusias untuk mengikuti workshop menulis, organiser berulang kali memproklamasikan bahwa yang akan memberikan workshop 'Be-Writer' adalah orang yang sudah beken dan malang-melintang dalam dunia tulis-menulis di Indonesia, tetapi aku tidak pernah mengenal orang dan namanya. Terkadang seorang teman memperkenalkan tentang suatu perkumpulan para penulis dalam naungan Rumah Dunia dengan mengirim email kepada milis KMMI Abu Dhabi, dan seperti biasa kalau suatu email aku anggap tidak penting, maka aku tidak menghiraukan untuk membuka isinya, langsung aku delete saja, toh, dari namanya saja, pikirku, Rumah Dunia hanyalah tempat berkumpulnya penulis-penulis kecil sampai remaja amatiran dengan kemampuan yang terbatas saja. Tetapi belakangan ternyata aku salah duga, karena aku akan menimba ilmu pengetahuan baru tentang menulis dari maha guru, pencetus, dan pendiri Rumah Dunia itu. Hal ini mengingatkan pesan mendiang Ibuku, 'Jangan membenci, nanti akan jatuh cinta'.
Suasana ruang untuk workshop masih sepi, maklum selesai shalat Jum'at pasti kebanyakan orang langsung makan siang, sedangkan kegiatan workshop akan dimulai pada pukul 2 siang. Ada empat orang sedang sibuk ketika aku memasuki Ruang Tamu KBRI yang kursi dan meja tamunya sudah disisihkan, meraka pada lesehan diatas karpet baru bermotip kotak coklat tua dan hitam itu, dua orang sibuk dengan layar proyektor dan dua lagi sibuk dengan laptop. Seperti biasa kalau aku bertemu sama yang aku kenal, aku menyapa dengan salam terlebih dahulu, dan setelah sahutan salamku aku dengar dari yang hadir di ruangan kemudian ada yang menawarkan buku-buku karya dari para penulis di Rumah Dunia untuk dibeli sekaligus sambil menyumbang pada Rumah Dunia, demikian salah satu organiser workshop yang hadir mengatakan. Lalu istriku memilih 3 jenis buku yang sudah dipak menjadi satu paket seharga 100 Dirham akan dibeli. Setiap paket akan terdiri dari buku berjudul Menggenggam Dunia dicampur dengan dua buku lainnya.
Aku melihat seorang dengan raut setengah tua berambut godrong sedang duduk dan dengan tangan kiri yang tinggal setengah, ia berkemeja lengan panjang, tangan kanannya sibuk mengutak-atik laptop dan ujung baju lengan kirinya dimasukkan ke dalam saku kiri celana panjangnya, sambil aku salami dia aku menyebut namaku, iapun menjawab dengan menyebut namanya Gol A Gong.
Laptop kecil tampak sudah menyala, layar proyektor hanya bergambar warna biru polos tanda masih tidak ada sambungan dengan laptop, gambar laptop muncul pada layar proyektor setelah satu kabel input dari proyektor dihubungkan ke jack port laptop.

Mulutnya komat-kamit, penjelasannya tentang menulis sangat mengesankan buatku, apa yang dia terangkan tentang menulis banyak yang baru aku ketahui. Aku datang memang mencari tau tentang trik-trik cara menulis dengan baik, itulah yang membuat aku seakan tidak ingin mengedipkan mata takut kehilangan perhatian.
Buatlah 'Judul Tulisan', begitu ia mengawali tugas buat yang hadir setelah menjelaskan teori tentang bagaimana membuat judul suatu tulisan, cara menerangkan lebih dahulu kemudian memberi tugas adalah cara yang selalu ia lakukan, walaupun terkadang suatu topik ia awali dengan pertanyaan. Serempak suasana hening. Semua pengikut 'Be-writer' mencoba berkonsentrasi menemukan judul yang baik. Aku mengatakan "Cinta Segi Empat" menjawab permintaan Gol A Gong judul yang aku punya. Yang lain cekikikan mendengar jawabanku itu, apalagi istriku juga ikut berpartisipasi pada workshop 'Be-Writer' ini.
Lalu 'Nama Pena' merupakan topik berikutnya, nama asliku adalah Hery Hendrayana Haris, demikian ia memperkenalkan diri lagi dengan nama yang sesungguhnya, nama itu tidak begitu laku untuk dijual, pernah dicoba sebagai nama pena pada karya cerpennya, terbukti tidak populer. Nama pena diusahakan mempunyai arti, makna dan mudah dikenal, seperti Gol A Gong lanjutnya, Gol artinya tercapai, A kepanjangan dari asma Tuhan Allah, dan Gong adalah alat musik Gong dimana ia biasanyanya dibunyikan untuk dipakai sebagai tanda untuk memberi tanda.
'Melukis Kata' disebut motto atau tag line, ini topik pelajaran berikutnya, layaknya sebuah perusahaan didalam memberikan iklan agar diminati oleh pelanggan, aku pilih motto; "barang diterima sekarang, besok sudah dirumah seberang" untuk perusahaan pengiriman barang.
Ide merupakan sesuatu yang paling penting bagi seorang penulis, inilah topik berikutnya. Didalam menggali suatu ide diperlukan pemahaman tentang 5W+1H, yaitu Why, What, Where, When dan Who ditambah How. Untuk menemukan ide diperlukan riset lapangan, riset pustaka, buku harian, dan membaca.
Bentuk tulisan ada 3 macam, yaitu Fiksi, Non-fiksi (fakta), dan gabungan keduanya yang disebut Feature. Aku pilih Nasi Yaman Rasa Soto Madura sebagai ideku, Gol A Gong mengernyitkan kedua alisnya sambil berfikir dan bertanya kepada hadirin apakah ide ini ada hubungannya dan masuk akal antara Nasi yaman dan Soto Madura?. Semua tidak ada yang menjawab kecuali aku melanjutkannya dengan berkata, "Nasi Yaman enak dan murah seperti Soto Madura", kemudian Gol A gong melanjutkan, "Makan di Restoran Yaman serasa makan di Warung Soto Madura, yaa.. bolehlah". Sampai disitulah workshop "Be-Writer" sesi hari ini berakhir.

Ingin ke Tempat-tempat Tradisional

"Malam saya hari ini tidak ada kegiatan", demikian Gol A Gong mengungkapkan isi hatinya, lalu ia melanjutkan bahwa ia berhasrat untuk mengunjungi tempat-tempat tradisional di Abu Dhabi, demikian pula besok pagi, setelahnya semua sepakat bahwa workshop untuk besok pagi akan dimulai pada pukul 10:00 untuk memberikan waktu lebih banyak lagi kepada Gol A Gong menikmati suasana plesir pagi ke tempat-tempat tradisional di Abu Dhabi.
Aku mengajukan diri untuk menemani Gol A Gong menuju Free Port dan Pasar Iran/Iranian Market. Organiser setuju dengan permintaanku dengan catatan agar membawa Gol A Gong menikmati makan pagi/sarapan 'Barata', tentu aku kabulkan karena aku juga suka dengan roti barata tetapi sayang banyak minyaknya, merupakan roti yang terbuat dari tepung terigu dicampur dengan air dan garam, setelah ketiganya dicampur membentuk semacam tanah liat/lempung (tidak keras dan tidak encer), lalu diberi minyak goreng dan diaduk lagi sehingga minyaknya merata dan adukan tepung tetap sekeras tanah liat. Sebelum digoreng untuk menjadi roti Barata dibentuk semacam lempeng lebih kecil dari piring makan, lalu digoreng diatas wajan dengan olesan minyak goreng saja (Roti Barata tidak digoreng sampai berenang, minyaknya cukup dioleskan agar membasahi permukaan wajan/tempat gorengan saja) sampai matang berwarna sedikit kecoklatan.

Alarem dari Blackberryku menjerit membangunkan aku dari tidur atas permintaanku sebelum aku memeluk bantal diatas tempat tidurku kemaren malam, jeritan itu membuatku bergegas masuk kamar mandi lalu menunaikan shalat wajib dua rakaat seperti biasanya.
Tidak salah jaket kulit aku pakai, seperti apa yang aku perkirakan disetiap bulan Desember, cuaca diluar rumah cukup dingin, itulah kenyataanya. Jalan-jalan terasa masih sepi tidak seperti pada hari-hari kerja dari Minggu sampai Kamis setiap pagi buta bis-bis besar memenuhi jalan-jalan yang aku lalui mengangkut pekerja dari kam-kam pekerja di Musaffah menuju titik-titik proyek di dalam kota Abu Dhabi, tetapi hari ini bis-bis terlihat jarang karena sebagian kantor dan proyek tidak melakukan aktivitas mereka alias libur, aku berkata dalam hati, "Hari ini saja yang sebagian kantor dan proyek tidak libur jalan terasa legang, apalagi kemaren ketika semua kantor dan proyek libur!, wah pasti seperti jalan yang benar-benar bebas hambatan".
Aku telpon Gol A Gong. Aku hampir saja khawatir karena nada tune berdering berkali-kali tidak ada yang menjawab, aku lega ada jawaban sebelum nada tune berhenti sendiri karena tidak ada jawaban, ia menjawab dengan permintaan agar menunggunya sebentar karena ia akan ke kamar kecil dulu.
Aku pijat tombol bel depan pintu KBRI Abu Dhabi, pintu otomatis membuka sendiri, penjaga malam kantor KBRI nampak gugup dengan kedatanganku yang terlalu pagi itu, aku lihat tangannya masih disekitar tombol pintu otomatis siap melakukan aksinya kembali menutup lagi pintu KBRI. Aku meminta maaf atas kedatanganku sepagi ini karena aku merasa telah membangunkan penjaga kantor dari tidurnya, setelah aku jelaskan maksud kedatanganku iapun memaklumi dengan mengatakan bahwa ia tidur terlambat semalam, bagaimanapun menurut penjaga itu bahwa ia harus bangun pagi, karena pagi ini harus melakukan kegiatan mingguannya di Alkubairat School Abu Dhabi bermain badminton dengan komunitas badminton orang-orang Indonesia di Abu Dhabi, dimana mereka setiap hari Sabtu mulai dari pukul 8 pagi selama 2 jam melakukan olahraga bermain badminton.
Tawaran minum kopi oleh seorang karyawan KBRI yang tinggal didalam kantor tidak mampu aku tolak, selain sebagai pengisi waktu selama menunggu Gol A Gong keluar dari tempat menginapnya, juga sebagai penghangat mulut yang terasa dingin karena berdiri di halaman kantor sendirian. Sesaat setelah kopi habis aku minum, Gol A Gong menyapaku dengan kata 'maaf'.
Gagang pintu mobilku masih juga dingin, sedingin gagang pintu keluar kantor KBRI pagi ini. Aku buka pintu depan kiri mobil dan kemudian duduk dibelakang setir. Diiringi oleh kicauan burung-burung yang hinggap diatas pohon sekitar kantor KBRI aku nyalakan mesin mobil Corollaku, satu-satunya mobil kesayanganku yang sudah mulai tidak disukai oleh isteriku karena keadaanya, mobil bersih luarnya dengan suara mesinnya sudah mulai seperti suara orang tidur mendengkur karena ditelan usia. Gol A Gong duduk di kursi penumpang depan sebelah kananku.
Aku coba melampiaskan hasratku untuk menimba pengetahuan menulis dari Gol A Gong dengan kata pembuka, sungguh bagai tunbu mendapatkan tutup, Gol A Gong menjelaskan apa yang aku tanyakan, ia memang ingin membuat yang lain menjadi penulis. Ia berikan segala pengalaman dan ilmu sampai aku puas. Hati ini terasa 'klop'. Ia menantangku menjadi penyumbang cerita tentang Abu Dhabi setiap hari, banyak orang pasti akan menunggu cerita dari sini, demikian semangat yang ia tawarkan kepadaku.
Pagi itu jalan-jalan yang aku lalui dengan Gol A Gong terasa berbeda, jalan-jalan terasa lebih indah dan bergairah. Gol A Gong merasa terkesima dengan keadaan kota Abu Dhabi, kota yang seharusnya bernuansa padang pasir menjadi hijau dan banyak bunga dari taman-taman terbuka untuk publik. Sumber air mancur buatan menari-nari menyirami seluruh taman kota di pinggir jalan nomor 30 yang kami lalui, nampak pekerja-pekerja keturuna dari Asia Selatan sibuk dengan membuka atau menutup kran air mancur taman, sebagian lagi terlihat duduk menunggu cukupnya siraman pada taman kota. Air mancur buatan itu sebenarnya diambil dari air olahan saluran pembuangan (drainage system), seluruh air pembuangan (bukan dari WC) biasanya disebut dengan Grey Water ditampung dalam bak-bak bawah tanah terbuat dari fiberglass berukuran sampai 30 meter kubik per baknya, air drainage kemudian di-treatment sampai layak dikeluarkan, artinya air bersih dari kuman dan bakteri yang membahayakan kesehatan tetapi tidak layak minum, kemudian dengan bantuan pompa disalurkan ke setiap tempat-tempat yang diperlukan sebagai bahan untuk penyiraman taman-taman kota. Seluruh pipa-pipa saluran berada dibawah tanah sehingga yang tampak hanyalah seolah-olah air langsung keluar dari permukaan tanah, dengan ujung-ujung pipa yang dirancang khusus, maka kekuatan tenaga tekan mengakibatkan semburan air dapat berputar sampai radius 6 meter dan terlihat seolah menari-nari. Sungguh luar biasa disini, demikian tanggapan Gol a Gong mengomentari keteranganku, ia membandingkannya dengan keadaan di Indonesia dengan air melimpah tetapi tidak dimanfaatkan secara maksimal, taman-taman banyak yang tdak terawat karena ulah orang-orang yang tidak perduli, dan banyak tanaman rusak karena memang tidak dirawat.
Warna-warni tanaman dan bunga-bunga semakin membuat Gol A Gong merasa terharu hatinya, ia begitu  terharu bila mengingat taman-taman di banyak kota-kota yang ada Indonesia, Indonesia adalah salah satu negara tropis dengan curah hujan selama enam bulan seharusnya jauh lebih indah taman-tamannya dari pada negara padang pasir ini yang dalam setahun terkadang tidak menerima kucurang hujan sekalipun kecuali gerimis. Itulah kehidupan manusia, ia lupa ketika keadaanya berlimpah dan ia ingat ketika kekurangan, demikian aku katakan seakan mengakhiri keterharuannya.
Makan pagi dulu lebih baik sebelum kita memulai tamasya, demikian usulku, Gol A Gong menyetujuinya. Satu-satunya Restoran disekitar Pasar Iran tempat kami memulai tamasya adalah Restoran India. Roti Barata disajikan hangat-hangat kuku, aku pilih Qima daging sapi giling dan Gol A Gong memilih Vegetable sebagai sajian bersama roti Barata, kedua masakan ini rasa kare dengan bumbu yang kental. Telor digoreng acak sebagai tambahannya. Sungguh nikmat makan pagi di Restoran India. Gol A Gong menjadi teringat ketika berada di India beberapa waktu lalu, untuk itu ia memesan "chai", sebutan teh manis dicampur susu cair oleh orang India. Kemudian aku semakin yakin dengan filosofiku tentang cinta, yaitu "Bahwa tidak ada cinta yang abadi di Dunia ini terhadap si dia, yang ada adalah kenangan yang abadi", arti filosofi ini adalah, setiap cinta yang dijalin oleh pasangan kekasih akan berakhir, setelah cinta berahir sesungguhnya yang terbayang didalam alam dibawah sadarnya bukanlah cinta melainkan kenangan-kenangan yang pernah tercipta, untuk itu kalau seseorang pernah menjalin cinta, maka hindarilah untuk bertemu lagi, karena pertemuan itu akan membangkitkan rasa cinta yang sudah pernah putus. Aku yakin, itulah yang sedang Gol A Gong alami saat ini, jatuh cinta lagi kepada 'chai' yang pernah ia cintai ketika berkunjung ke India dulu kemudian telah terlupakan, lalu bangkit lagi karena bertemu tak terduga di warung India di Pasar Iran Abu Dhabi ini.

Pasar Iran sudah memulai kegiatannya sejak pukul 7 pagi dan pasar ditutup pada tengah malam, Disebut Pasar Iran karena awalnya (sampai sekarangpun) pasar ini didominasi oleh pedagang-pedagang dari Iran, karena letak Abu Dhabi yang berhadapan langsung dekat dengan Iran di sekitar Teluk dan Iran dahulunya lebih maju daripada Abu Dhabi, maka barang-barang dari Iran banyak yang dijual di Abu Dhabi dan titik masuknya dengan kapal-kapal tradisional adalah Pelabuhan Free Port ini. Pasar ini merupakan pasar lama yang terdiri dari kios-kios berukuran kira-kira 4x5 meter persegi, namun barang-barang dagangan yang dijual melimpah keluar kios sampai melebihi bahu jalan, antara kios dan barang yang berada diluar kios diberi gang sebagai tempat berjalan bagi pengunjung agar lebih leluasa melihat dan memilih barang yang dipajang. Walaupun banyak barang kerajinan dan hasil industri dari negara Iran yang dijual, tetapi banyak juga barang-barang dari negara lain dijual di pasar ini terutama dari China. Terlihat bahwa pasar ini tidak pernah ditutup seharian, karena barang-barang yang berada diluar kios tidak pernah dimasukkan ke dalam kios, selain kiosnya tidak akan dapat menampung juga barangnya aman dari tangan-tangan jahil yang akan menguntil. Ketika kios ditutup pemilik kios hanya mengunci pintu kiosnya saja, sedangkan barang-barang yang berada diluar kios sampai melebihi bahu jalan hanya ditutupi dengan terpal plastik.
jam di lengan kiriku menunjukkan pukul 9:15, pagi ini pada pukul 10, Gol A Gong harus memulai workshop hari keduanya di KBRI, terlena dengan keadaan di Pasar Iran melupakan acara tamasya berikutnya ke Pelabuhan Kapal Ikan, Pasar Karpet sekitar pelabuhan Port Zayeed  satu menit jalan kaki dari Pasar Iran dan Gedung Budaya (Heritage Building) di Marina Abu Dhabi.
Pelabuhan Tradisional Kapal Ikan sudah mulai menampakkan kesibukan, bahkan dibagian lainnya sedang mengakhiri kesibukannya. Kemaren malam Gol A Gong menikmati makan malam di salah satu restoran Yaman di sini bersama organisernya. Masakan bernama nasi 'Mandi' merupakan masakan idola rumah-makan Yaman, ada pilihan Mandi Samek (nasi Yaman dan ikan), Mandi Laham (nasi Yaman dan daging kambing), Mandi Dajjaj (nasi Yaman dan ayam) dan Mandi Rubian (nasi Yaman dan udang). Nasi Mandi adalah semacam nasi goreng dengan bumbu khusus ala Yaman dan dicampur (goreng) dengan minyak zaitun, sedangkan lauk-paunya disajikan dalam bentuk rebus atau panggang. Penyajiannya nasi dan lauk ditempatkan dalam satu piring logam besar (tergantung porsi banyak orangnya) kemudian ditambah semankok soup dan semangkok sambal mentah tidak pedas terbuat dari utamanya tomat, cabe, garam dan sedikit bawang merah. Aku dan istriku suka Mandi Dajjaj dengan Ayam Panggang.
Terlihat para nelayan sibuk dengan mengatur dan membenahi jaring dan Gar-gur. Gar-gur adalah bubuh berbentuk kubah berdiameter sampai 2 meter, gar-gur terbuat dari kawat 2 s/d 3 milimeter galvanis dianyam semacam jaring membentuk kubah, kemudian dibagian bawahnya ditutup dengan anyaman kawat berbentuk bundar sebagai penutup anyaman bentuk kubah yang bisa dibuka dan ditutup dengan kancing cepat buka. Kubah diberi lubang masuk ikan berbentuk silinder berdiameter kira-kira 15 centimeter lonjong sepanjang kira-kira setengah diameter kubah, dan silinder dipasang sedemikian rupa sehingga bagian ujung satunya sepermukaan dengan bagian luar kubah dan bagian ujung silinder lainnya menjulur ke dalam kubah. Penempatan lubang masuk ikan berbentuk demikian agar ketika ikan masuk ke dalam Gar-gur dan terjebak untuk tidak dapat keluar lagi. Setial Gar-gur yang ditabur di dasar laut diikat dengan tali sampai ke permukaan laut dengan pelampung dan didalam Gar-gur diberi unpan (biasanya Kobus, yaitu roti bakar semacam Barata tetapi tidak dicampuri minyak) yang diikatkan dibagian dasar/bawah dari Gar-gur, Gar-gur dibiarkan selama kira-kira dua malam di dasar laut setelahnya para nelayan dengan kapal menuju tempat gar-gur yang sudah ditabur dan diangkat untuk diambil ikan-ikan di dalamnya, demikian seterusnya.
Para nelayan kebanyakan berasal dari Asia Selatan (Banglades dan atau India), mereka diperlakukan sebagai pekerja dengan gaji bulanan ditambah bonus yang tergantung dari jumlah hasil tangkapan ikan. Sedangkan hasil tangkapan ikannya sepenuhnya dimiliki oleh si 'pemilik' kapal yaitu orang lokal (Emirati). Atau nelayan tidak digaji melainkan pendapatannya tergantung dari jumlah hasil tangkapannya, yaitu hasil tangkapan dijual, lalu setelah dipotong biaya operasi (bahan bakar, makan dan minum serta biaya lainnya jika ada) sisanya dibagi dua, satu bagian untuk pemilik kapal dan bagian lainnya merupakan milik nelayan. Setiap kapal yang akan mencari ikan diharuskan melapor kepada kantor Polisi Pelabuhan, selain untuk mencatat jumlah penumpang yang akan melaut juga memastikan bahwa didalam kapal yang akan berlayar untuk mencari ikan ada orang lokalnya. Kapal penangkap ikan tidak akan diijinkan berlayar jika tidak ada orang lokalnya, sehingga jika pemilik kapal dari orang lokal tidak ada, maka kapal bisa diisi oleh orang lokal lainnya dengan cara membayar orang lokal yang bekerja khusus untuk disewa melaut.
Di ujung tempat membongkar hasil tangkapan tampak masih ada kesibukan para nelayan yang sedang menurunkan hasil tangkapannya, ikan-ikan tengiri sebesar lengan orang dewasa sungguh banyak. Gol A Gong minta untuk diabil fotonya ber-background nelayan yang sedang sibuk. Tak terduga aku melihat temanku orang lokal sedang sibuk dengan para nelayan. Aku menyapa untuk aku perkenalkan kepada Gol A Gong. Akibat dari sapaanku itu temanku si orang lokal memberiku lima ekor ikan tengiri. "Alhamdulillah", demikian panjatku kepada Tuhan, ternyata rejeki ini akibat aku berjalan-jalan mengantar Gol A Gong bertamasya di Pelabuhan Kapal Ikan, rejeki yang tak terduga, mungkin inilah hikmah manusia berbagi. Walaupun awalnya aku tidak kuasa untuk menolak dan meminta hanya satu ekor saja, temanku memberiku lebih dari itu. Aku jelaskan kepada Gol A Gong bahwa, kalau ditawari minum atau makanan oleh orang lokal sebaiknya jangan ditolak, karena mereka mempunyai tradisi seperti itu, untuk itulah ukuran gelas untuk teh, dan gahwa cukup kecil, yang penting harus mengkabulkan minum/makan yang sedang ditawari. Gahwa adalah minuman khas di sini terbuat dari bubuk kapulaga, penyajiannya direbus dengan air putih kemudian disimpan didalam termos agar tetap panas dan dituangkan kedalam cangkir/gelas kecil untuk diteguk.
Karena waktu yang sudah mendesak, maka tamasya ke Pasar Karpet ditiadakan, mobilku aku pacu langsung menuju Marina tempat Gedung Budaya kota Abu Dhabi berada. Karena adanya batasan kecepatan mobil di Jalan Corniche menuju Marina, laju mobil tetap aku jaga dibawah 80 kilometer per jamnya, kalau lebih, maka akan direkam oleh kamera radar dan mobilku akan kena denda sebesar 700 Dirham, dan denda akan ditambah 100 Dirham pada setiap 10 kilometer per jam kelebihan dari batas yang ditentukan oleh peraturan (batas kecepatan jalan-jalan dalam kota 80 kilometer per jam, jalan bebas hambatan 120 atau 140 kilometer perjam, dan dekat Pelabuhan Udara atau pemukiman hanya 60 kilometer per jam). Sepanjang jalan Corniche taman-tamannya dibangun dengan rapih dan indah, pohon-pohon kurma dikombinasi dengan pohon-pohon lainnya, tampak yang mendominasi adalah pohon-pohon semacam beringin berdaun tebal dan dipangkas seperti rambut keribo berbentuk pot bunga. Marina awalnya merupakan laut bebas, namum untuk menhindari hamtaman ombak secara langsung terhadap pantai kota Abu Dhabi dibuatlah wave breaker (penahan ombak) membentuk ceruk yang kemudian diperbesar menjadi sebuah jalan dimana dibagian ujung yang berseberangan dengan Kota Abu Dhabi diuruk menjadi daratan untuk perumahan, shopping center, pelabuhan kapal-kapan mewah dan yang paling ujung adalah Gedung Budaya dan Bangunan Tiang Bendera raksasa.
Itu kapal-kapal siapa?, demikian Gol A Gong bertanya sambil menjulurkan kepalanya kearah kiri karena pandangannya terhalang olehku yang tetap asyik mengendalikan mobil menuju ujung jalan tempat Gedung Budaya berada, 'Kayak di Ancol', demikian sambungnya meneruskan pertanyaan yang belum aku jawab. Kapal-kapal Yacht berwarna putih sebersih salju dari kejauhan, tampak lebih indah karena suasana pagi yang tidak menerima sinar matahari karena mendung. Kapal-kapal Yacht yang aku sendiri tidak tahu siapa pemiliknya karena aku tidak pernah mencari tahu karena kemewahannya. Seorang teman pernah mengatakan siapapun boleh menggunakan parkir kapal-kapal yacth yang terbuat dari ponton terapung itu tentu dengan dibebani dengan biaya parkir.
Di ujung jalan Marina ada satu mobil polisi sedang berhenti, dua orang polisi dalam mobil itu selalu mengawasi keadaan sekitar ujung jalan dekat Gedung Budaya. Aku memilih tempat parkir menghadap laut dibalik Kota Abu Dhabi, sebelum aku keluar mobil aku berkata pada Gol A Gong bahwa, Polisi disini tidak menakutkan, mereka betul-betul menjaga keadaan agar aman, kalau ada kesulitan jangan segan-segan meminta bantuan, dengan free of cost mereka akan membantu. Kamera CCTV mengintai disetiap penjuru, ini bukan saja di daerah Marina, tetapi juga diseluruh Kota Abu Dhabi. Demikian Pemerintah Abu Dhabi menghargai keamanan daerahnya, kamera pengintai dipasang disepanjang seluruh jalan-jalan Abu Dhabi hampir disetiap jarak seratur meteran. Terkadang aku berhayal, seandainya di Surabaya, Kotaku itu dipasang kamera pengintai seperti di Abu Dhabi ini, wah... betapa indahnya Kotaku itu!. Tangan-tangan jahil pasti akan disembunyikan oleh pemiliknya karena takut terekam kamera!. Ah.., aku nampaknya bermimpi di siang bolong.
Embun pagi musim dingin pertengahan bulan Desember ini sedikit menghalangi pemandanganku dan Gol A Gong terhadap wajah Kota Abu Dhabi dari pantai Marina, wajah kota sedikit kelihatan redup, ini tidak menghalangi Gol A Gong tetap berpose pagi berlatar belakang Laut dan Kota Abu Dhabi.
Tidak jauh dari Marina ada sebuah selat kecil, selat selebar sungai Berantas ini membatasi antara Marina dan pulau buatan lainnya, Lulu Island (atau Pulau Mutiara). Menurut cerita kawan-kawanku dari orang lokal sini bahwa, ketergantungan hidup penduduk Emirates sebelum minyak ditemukan adalah bergantung kepada penghasilan laut termasuk Mutiara, penyelam-penyelam mutiara merupakan penyelam tradisional tanpa bantuan alat pernafasan (oksigen) didalam mengambil mutiara di dasar laut. Mereka dahulu dapat menyelam selama lebih dari 15 menit dalam air secara terus-menerus tanpa bernafas. Walaupun sekarang pekerjaan itu sudah mereka tinggalkan setelah dinilai tidak ekonomis lagi dibandingkan dengan bekerja di daratan tetapi mereka masih merasa bangga dengannya, dan pekerjaan ini terkadang masih mereka lakukan hanyalah sebagai pekerjaan pribadi untuk hiburan saja.
Pulau Lulu diperuntukkan untuk umum, untuk menyeberang menuju Pulau Lulu diperlukan kapal penyeberangan yang disediakan oleh pihak pengelola Marina dengan membayar biaya penyeberangan bolak-balik. Didalam Pulau Lulu pengunjung bebas menggunakan fasilitas-fasilitasnya, kolam renang air tawar, renang di pantai, menggunakan transportasi mengelilingi Pulau, atau hanya duduk-duduk di taman-taman asri yang sudah disediakan. Yang tidak bebas biaya apabila menggunakan Salai, semacam rumah kecil untuk bermalam, serta makan dan minum di Kedai-kedai yang ada. Konon Pulau Lulu awalnya direncanakan sebagai Pulau untuk Dunia Fantasi, namun karena adanya alasan keuangan, maka ditunda atau mungkin dibatalkan.
Jam sudah menunjukkan pada 5 menit sebelum pukul 10, bergegas kami berdua menuju mobil, ada perempuan berpakaian serba hitam mulai dari kerudung sampai sandalnya,tangan kanannya sibuk menempelkan telepon genggamnya disamping telinga kanannya. Gol A Gong tetap tidak memalingkan pandangannya keheranan melihat wanita berpakaian serba hitam sampai aku menjelaskannya bahwa, itu adalah wanita lokal. Wanita lokal yang sudah baligh selalu memakai pakaian serba hitam apabila sedang bepergian ke luar rumah. Terkadang mukanyapun ditutup dengan cadar hitam terawang, sehingga orang lain tidak bisa melihat mukanya namum si wanita itu bisa melihat sekelilingnya.
Lima menit adalah waktu yang terlalu pendek untuk menempu perjalanan dari Marina ke Kantor KBRI Abu Dhabi. Mobil aku tancap agak cepat walaupun tidak tergesa-gesa. Pikiran sudah berada di KBRI, apalagi setelah menurunkan Gol A Gong di Kantor KBRI aku harus menjemput isteriku di rumah Khalifa City A kira-kira 15 kilometer jauhnya dari KBRI.

Pelajaran Hari Ke Dua

Aku sudah siap dengan tulisanku yang sudah aku buat malam sebelumnya dan tadi pagi. Judul 'Si Dul Anak Tunggal dan Cita-Cita Yang Kandas'. Tulisan tangan sebanyak delapan halaman setengah kertas ukuran A4. Si Dul merupakan anak manja dan ia sadar ketika duduk di bangku kelas 3 SMA, bahwa hidupnya harus berdikari karena tanpa saudara. Ia lalu belajar keras sampai ia diterima di Perguruan Tinggi Negeri di kotanya, Surabaya. Namun si Dul kecewa karena keinginan untuk menjadi Ahli Nuklir nampaknya akan kandas ketika ia tau tidak diterima pada Fakultas Teknik Fisika melainkan diterima di Teknik Perkapalan, si Dul akhirnya menyerah pasrah dengan mengatakan, "Inilah hidup, tak semuanya akan dapat diraih, yang penting mempunyai tujuan walaupun tidak disukai".
Aku menjawab bahwa ini merupakan kisahku sendiri ketika Gol A Gong mendesakku dengan pertanyaan apakah ini merupakan kisah nyata?. Dan kisah siapakah ini?
Suatu tulisan harus mempunyai Struktur Format, demikian Gol A Gong memulai kursus hari kedua ini, Struktur Format yang memuat tentang Paparan yang menjelaskan mengenai tokoh/krakter serta setting tempat dan waktu, Konflik yang ingin diceritakan, suatu tulisan tanpa konflik akan terasa hambar dan menjadi tidak menarik untuk dibaca, dan yang terakhir adalah Ending cerita.
Adapun suatu tulisan harus mempunyai Plot Point yang jelas yaitu menjelaskan isi cerita tersebut. Tanpa Plot Point suatu cerita akan hambar dan datar, demikian Gol A Gong menjelaskan lagi.
Sebelum memulai untuk melakukan penulisan diharuskan membuat suatu Sinopsis, yaitu rangkuman singkat dari cerita yang akan ditulis agar hasil tulisan tidak keluar dan ngelantur dari cerita yang akan ditulisnya.
Suatu cerita harus mempunyai Alur. alur bisa dibuat maju (progressive) atau mundur (flash back). Alur Maju berawal dari awal dan berakhir pada kejadian akhir, sedangkan Alur Mundur adalah cerita yang berawal dari kejadian akhir dan kemudian cerita ditulis sampai kejadian akhir.
Gol A Gong menjanjikan copy makalahnya dan kemudian menganjurkan pengikut workshop untuk tidak khawatir dengan catatannya. Aku langsung banyak mengharap dengan copy dokumen pelajaran menulis ini, dan ini yang membuat aku tidak melanjutkan melakukan pencatatan apa yang diterangkan oleh Gol A Gong. Untuk membuktikan keseriusanku pada apa yang telah diberikan oleh Gol A Gong dalam memberi pencerahan tentang menulis melalui workshop Be-Writer, aku berjanji kepada Gol A Gong bahwa aku akan menulis kisahku dengannya ketika berkunjung ke Abu Dhabi ini.

End.

No comments: