Saturday, May 18, 2013

Kotbah Jum'at 23


Khutbah Jumat, 05 Rabius Tsani 1434 H / 15 Februari 2013 M
Kepada-Mu kami Bertawakkal
Khutbah Pertama

الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، عَزَّ جَاهُهُ، وجَلَّ ثناؤُهُ، وتقدَّسَتْ أسْمَاؤُهُ، مَنْ توكَّلَ عليهِ كفَاهُ، ومَنْ لَجَأَ إليهِ آوَاهُ، ومَنْ سأَلَهُ أعطَاهُ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، وأشْهَدُ أنَّ سيِّدَنَا محمَّداً عبْدُ اللهِ ورسولُهُ، إمامُ المرسلينَ، وخاتمُ النبيينَ، وقدوةُُ المتوكلينَ، اللهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ وبَارِكْ عَلَى سيدِنَا محمدٍ وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ وأَصْحابِهِ الغُرِّ المَيامِينِ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ: فأُوصيكُمْ عبادَ اللهِ ونفسِي بتقوَى اللهِ عزَّ وجلَّ، قالَ تعالَى:] وَاتَّقُوا يَوْماً تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ[([1]).
Kaum mukminin : Allah berfirman :
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman". (Al Maidah 5 : 23) tawakkal kepada Allah menempati salah satu kedudukan tertinggi dalam agama Islam, ia merupakan penyerahan perkara kepada Allah, bergantung kepada-Nya dalam segala keadaan, membebaskan diri dari kekuatan dan keberdayaan kecuali dengan-Nya, dengan tetap melakukan sebab-sebab, yaitu bahwa seorang hamba harus mengetahui bahwa Allah yang menjamin rezeki dan urusannya, tidak bergantung kecuali kepada-Nya, tidak bertawakkal kecuali kepada-Nya, dan Allah telah memerintahkan kita untuk bertawakkal dalam segala hal, Dia memuji orang yang bertawakkal seperti disebutkan dalam beberapa ayat-ayat-Nya, sebagaimana juga tawakkal merupakan salah satu sebab tergapainya kasih sayang Allah, Allah berfirman :
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ المُتَوَكِّلِينَ
“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”(Ali Imran 3 : 159)

Tawakkal adalah kondisi para nabi AS dalam senang dan susah, Allah berfirman :
وَمَا لَنَا أَلاَّ نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَى مَا آذَيْتُمُونَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ المُتَوَكِّلُونَ
“Mengapa Kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri". (Ibrahim 14 : 12), ia adalah jalan kaum mukmin menuju Tuhan mereka, Allah berfirman :
رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
“Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali"(Al Mumtahanah 60 : 4)

Allah berdialog dengan nabi-Nya Muhammad Saw seperti tersebut dalam firman-Nya :
 وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلاً
“Dan bertawakallah kepada Allah dan cukuplah Allah menjadi Pelindung” (An Nisa’ 4 : 81). Beliau adalah pemimpin para orang yang bertawakkal dalam tindakan dan ucapan, dalam doa dan segala kondisinya, dari Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah Saw berdoa :
اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ
“Ya Allah pada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman dan kepada-Mu aku bertawakkal”(Muttafaq ‘alaih)

Dan barang siapa ridha menjadikan Allah sebagai wakilnya maka ia mendapatkan semua jalan menuju kebaikan, dari Abu Dzar Al Ghiffari RA berkata ; Rasulullah Saw membacakan ayat ini padaku :
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً* وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
 “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya" (At Thalaq 2-3). Ketika beliau selesai membacakan ayat diatas beliau berkata :
يَا أَبَا ذَرٍّ لَوْ أَنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ أَخَذُوا بِهَا لَكَفَتْهُمْ
Wahai Abu Dzar sesungguhnya bila manusia menggunakan ayat ini maka mereka akan tercukupi" (Ibnu Majah 4220, Ahmad 22172)

Tentu wahai hamba Allah, tawakkal merupakan petunjuk bagi hati dan sekaligus ketentramannya, dan ia menjadi benteng dari syetan, oleh karena itu Rasulullah Saw mengajarkan kita untuk selalu bertawakkal pada pagi dan sore hari, dan beliau selalu mengingat kita mengenai hal itu, dari Anas bin Malik RA bahwa Nabi Saw bersabda :
إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ: بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ. يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ. فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِىَ وَكُفِىَ وَوُقِىَ؟
 "Bila seseorang keluar dari rumahnya dan berdoa : dengan menyebut nama Allah aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah. Dikatakan ketika itu : Anda telah mendapatkan petunjuk, Anda telah mendapatkan kecukupan dan Anda telah terlindungi. Maka syetan akan menjauh darinya dan syetan lain berkata padanya : bagaimana Anda dapat mengganggu seseorang yang telah mendapatkan hidayah, kecukupan dan perlindungan" (Abu Daud 5095)
Syetan tidak mempunyai kekuasaan terhadap orang-orang yang bertawakkal, Allah berfirman :
إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya setan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. (An Nahl 16 : 99)

Hamba Allah : tawakkal merupakan perbuatan hati dan ia tidak bertentangan dengan perbuatan dan sebab akibat, karena tawakkal bertempat di hati, sedangkan sebab akibat bertempat pada badan, dan Rasulullah Saw telah menyatukan kedua dasar tersebut dan berkata pada salah satu sahabatnya :
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجَزْ
"Jagalah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, dan memintalah pertolongan pada Allah dan janganlah kamu lemah"(Muslim 2664).Beliau selalu menganjurkan untuk menggunakan sebab akibat dan memerintahkan untuk meminta pertolongan dari Allah Swt.

Tawakkal sebenarnya adalah semangat, kesungguhan, menggunakan sebab akibat dan doa untuk agar mendapatkan taufiq dari Allah,
وقَدْ دخلَ رجُلٌ علَى رَسُولِ اللَّهِ r وتركَ ناقتَهُ بغيرِ رباطٍ، ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ، أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ ؟ قَالَ:« اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ»
 "Ada seseorang yang menghadap pada Rasulullah Saw dan meninggalkan unta betinanya lepas tanpa diikat, kemudian ia bertanya : wahai Rasulullah apakah saya harus mengikatnya terlebih dahulu dan bertawakkal, atau melepasnya dan bertawakkal ? Beliau menjawab : ikatlah dan bertawakkal" (At Tirmidzi 2517). Artinya gunakan sebab akibat lalu bertawakkal pada Allah, dan jangan kita meninggalkan pekerjaan tapi mengharapkan hasilnya dari Allah.

Sebagian orang mengartikan tawakkal dengan salah sehingga mereka meninggalkan proses sebab akibat, ketika mereka berangkat menunaikan ibadah haji mereka tidak membawa bekal, mereka berkata : kami bertawakkal kepada Allah karena Dia Pemberi rezeki kami. Ketika mereka tiba di Makkah mereka mengemis pada penduduk disana, lalu turunlah ayat :
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa" (Al Baqarah 2 : 197). Mereka dilarang menggunakan tawakkal yang salah dan mereka diperintah untuk berbekal harta dan makanan. (Tafsir Ibnu Katsir 1/548, Tafsir Al Qurthubi 2/411)

Dan ketahuilah wahai hamba Allah sesungguhnya yang dapat membantu seseorang dalam mendapatkan tawakkal yang sempurna adalah dengan menyerahkan semua urusan pada Allah dan ridha dengannya, Allah berfirman :
قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ المُؤْمِنُونَ
“Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami, Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal" (At Taubah 9 : 51)

Seorang mukmin yang kuat yang bertawakkal adalah orang yang ridha dengan ketentuan Allah dan pembagian-Nya, tidak banyak mengeluh, mengadu dan menyesal, dan Rasulullah Saw telah memerintahkan hal itu, sabdanya :
فَإِنْ غَلَبَكَ شَيْءٌ فَقُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ، وَإِيَّاكَ وَاللَّوَّ، فَإِنَّ اللَّوَ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
"Bila Anda terkalahkan oleh sesuatu, maka katakanlah : ketentuan Allah dan kehendak-Nya, dan menjauhlah dari kata : andaikata, karena andaikata membuka peluang tindakan syetan" (Muslim 2664, Ibnu Hibban 13/28)

Ya Allah jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang bertawakkal kepada-Mu, yang ridha dengan keputusan-Mu, yang beruntung dengan surga-Mu dan berilah kami taufiq untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami untuk ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ، وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ صلى الله عليه وسلم،  أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.

Khutbah Kedua
الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنا محمَّداً عبدُهُ ورسولُهُ، اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطيبينَ الطاهرينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah dan ketahuilah bahwa bertawakkal kepada Allah dapat mendatangkan ketenangan dan ketentraman pada hati seseorang, dan pelakunya akan disediakan keberuntungan surga tanpa perhitungan sebelumnya, Allah berfirman :
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُبَوِّئَنَّهُم مِّنَ الجَنَّةِ غُرَفاً تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نِعْمَ أَجْرُ العَامِلِينَ* الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya, itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal. yaitu orang-orang yang sabar dan bertawakkal kepada Tuhannya" (Al Ankabut 29 : 58-59)

Wujudkan arti tawakkal kepada Allah wahai hamba Allah dengan tidak menyibukkan diri dengan yang ada pada tangan orang lain, maka barang siapa yang bertawakkal kepada Tuhannya, maka Allah akan melindunginya dari syetan di dunia, meluaskannya rezekinya dan Dia akan memberikan semua yang diharapkan di cita-citakannya, Rasulullah Saw bersabda :
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصاً  وَتَرُوحُ بِطَاناً
"Andaikata kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal maka kalian akan mendapatkan rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki berangkat pagi dalam keadaan lapar dan kembali di sore hai dalam keadaan kenyang" (At Tirmidzi 2344)

عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ  تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([2]) وقالَ رَسُولُ اللَّهِ r:« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([3])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وقَلْبًا خاشعاً، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا واسعاً، وَعَمَلاً صالحاً مُتَقَبَّلاً، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ علِّمْنَا مَا ينفَعُنَا، وانفَعْنَا بِمَا علَّمْتَنَا، وزِدْنَا علماً، اللَّهُمَّ آتِ نفوسَنَا تقوَاهَا، وزَكِّهَا أَنْتَ خيرُ مَنْ زكَّاهَا، أنتَ وَلِيُّهَا ومولاَهَا، وأَحْسِنْ عاقبتَنَا فِي الأُمورِ كُلِّهَا، اللَّهُمَّ أصْلِحْ لَنِا نياتِنَا، وبارِكْ لَنَا فِي أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاجْعَلْهم قُرَّةَ أَعْيُنٍ لنَا، واجعَلِ التوفيقَ حليفَنَا، وارفَعْ لنَا درجاتِنَا، وزِدْ فِي حسناتِنَا، وكَفِّرْ عنَّا سيئاتِنَا، وتوَفَّنَا معَ الأبرارِ، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([4]).


 Khutbah Jumat, 12 Rabius Tsani 1434 H / 22 Februari 2013 M
Penipuan
Khutbah Pertama
 
الحَمْدُ للهِ العليمِ القديرِ، العَلِيِّ الخبيرِ، لاَ يَخْفَى عليهِ شيءٌ فِي الأرضِ ولاَ فِي السماءِ وهُوَ السميعُ البصيرُ، نَحمدُهُ تعالَى علَى نِعَمِهِ وآلائِهِ، ونشكرُهُ علَى أفضالِهِ وعطائِهِ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، أبانَ الحلالَ والحرامَ، وأَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا ونبيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، خَيْرُ مَنْ بيَّنَ طُرُقَ الرشادِ مِنَ الضلالِ، وَدَعَا إلى حِفْظِ الأعراضِ والأموالِ، فاللهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ وبَارِكْ عليهِ وعلَى آلِهِ ذَوِي السجايَا الكريمةِ والخصالِ، وعَلَى أصحابِهِ والتابعينَ لهمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الحشرِ والمآلِ.
أمَّا بعدُ: فأُوصيكُمْ عبادَ اللهِ ونفسِي بتقوَى اللهِ عزَّ وجلَّ، قالَ تعالَى:] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ[([1]).
 
Kaum mukminin : Allah menurunkan Al Quran untuk mewujudkan kemaslahatan hamba-hamba-Nya, untuk melindungi hidup mereka, akal dan kehormatan mereka, harta dan hak-hak mereka, dimana ketentraman dan kehidupan mereka berada diatas semua hal diatas, dan diantara tujuan utama syariat Islam adalah menjaga harta manusia dan mengharamkan memakannya dengan cara yang tidak benar, Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil" (An Nisa' 4 : 29), bahkan Allah memerintahkan kita untuk selalu berusaha mencari pekerjaan yang baik dan harta yang halal, dan melarang kita mengikuti langkah-langkah syetan, Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الأَرْضِ حَلالاً طَيِّباً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
"Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu" (Al Baqarah 2 : 168)
 
Contoh cara-cara dan langkah-langkah syetan lainnya adalah penipuan yang dilakukan pada sesama untuk merampas hak-hak mereka, atau untuk mengambil harta mereka dengan cara illegal, yang biasa tampak luarannya berbentuk sebuah akad yang legal sementara dibalik itu ada tindakan yang illegal, dan biasanya seorang penipu meletakkan akad yang sah dengan tujuan haram, bahkan tindakan yang dilakukannya dengan melanggar yang diharamkan oleh Allah, dengan meninggalkan kewajiban, menggugurkan kebenaran dan seterusnya, itulah jalan para pengrusak yang ingin menguasai harta orang lain dengan cara menipu, melakukan tindakan penggelapan agar manusia terjebak dalam jaringnya. Rasululah Saw telah memperingatkan seluruh manusia dari para penipu, sabdanya :
وَأَهْلُ النَّارِ خَمْسَةٌ وَعَدَّ مِنْهُمْ وَالْخَائِنُ الَّذِي لاَ يَخْفَى لَهُ طَمَعٌ وَإِنْ دَقَّ([2]) إِلاَّ خَانَهُ وَرَجُلٌ لاَ يُصْبِحُ وَلاَ يُمْسِي إِلاَّ وَهُوَ يُخَادِعُكَ عَنْ أَهْلِكَ وَمَالِكَ
"Penghuni neraka ada lima, disebutkan diantaranya : pengkhianat yang tidak tampak ketamakannya tapi bila ada kesempatan meskipun sangat kecil niscaya ia akan berkhianat, dan seseorang yang senantiasa memperdayamu di waktu pagi dan sore hari terhadap keluargamu dan hartamu " (Muslim 2865) dan sabda Nabi Saw :
إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ، مَنْ أَصَابَهُ بِحَقِّهِ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَرُبَّ مُتَخَوِّضٍ فِيمَا شَاءَتْ بِهِ نَفْسُهُ مِنْ مَالِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ لَيْسَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلاَّ النَّارُ
“Sesungguhnya harta benda ini nampak hijau (indah) nan manis (menggiurkan), barang siapa mendapatkan haknya maka ia akan diberkahi, dan banyak orang yang mengambil harta Allah dan rasul-Nya dengan kerakusan jiwa, maka tidak ada baginya pada hari kiamat kecuali neraka”(Muttafaq ‘alaih, lafal At Tirmidzi 2374)
 
Hamba Allah : cara-cara penipuan sangat banyak dan medianya sangat beragam, biasanya sebagian penipu melakukan penggelembungan harga agar pembeli terpedaya, dan tindakan ini dilarang oleh Nabi Saw, sabdanya :
وَلاَ تَنَاجَشُوا
"Janganlah kalian saling menipu" (Muttafaq 'alaih). Ibnu Abi Aufa berkata : yang dimaksud dengan hadits diatas adalah orang yang memakan harta riba dengan cara berkhianat. Ini termasuk penipuan batil yang dilarang oleh agama, Nabi Saw bersabda :
الْخَدِيعَةُ فِي النَّارِ
"Penipuan akan meletakkan pelakunya di neraka" (Bukhari kitab jual beli bab 60)
 
Sebagian lain dengan mengawasi para nasabah perbankan dengan mencari kesempatan agar mampu mencuri harta mereka, karenanya berhati-hatilah wahai orang muslim agar Anda tidak tertipu oleh seseorang, Al Mughirah bin Syu'bah menceritakan sifat Umar bin Khattab dalam ucapannya : Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih tegas daripada Umar, sesungguhnya dia demi Allah mempunyai keutamaan yang mencegahnya untuk mengeluh dan mempunyai akal yang mencegahnya untuk tidak tertipu. Karena itu janganlah Anda tertipu oleh penipu yang ingin menguasai harta Anda, dan janganlah Anda terperangkap oleh beberapa institusi yang ingin menenggelamkan Anda dalam hutang, yang membuat Anda selanjutnya hidup dalam kesengsaraan dan kenistaan yang berkelanjutan.
 
Kaum mukminin : gambaran penipuan lainnya berbentuk permainan terhadap bahan makan pokok, yaitu dengan mengganti tanggal produk makanan tersebut atau mengganti isi produk,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلاً، فَقَالَ :« مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ ؟». قَالَ: أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ:« أَفَلاَ جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَىْ يَرَاهُ النَّاسُ، مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي
dari Abu Hurairah RA : bahwa Rasulullah Saw meraba tumpukan makanan dengan memasukkan tangannya kedalam tumpukan tersebut dan jemarinya menyentuh sesuatu yang basah, beliau lalu bertanya : apa ini wahai pemilik makanan ? ia menjawab : ini makanan yang terkena hujan wahai rasulullah. Beliau bertanya : kenapa tidak kau letakkan diatas agar pembeli melihatnya, barang siapa menipu maka ia tidak termasuk golonganku" (Muslim 102)
 
Tentu wahai hamba Allah : Rasulullah Saw membebaskan diri dari setiap penipu orang, maka berhati-hatilah terhadap para penipu yang setiap kali berusaha merayu manusia dengan menampakkan kefakiran dan kepailitan, atau dengan cara menipu mereka melalui telpon dengan iming-iming ia telah mendapatkan hadiah atau bahwa mereka telah terkena sihir, dan bahwa mereka mampu menolak sihir dengan catatan mengirimkan sejumlah uang tertentu, Rasulullah Saw mengancam semua para penipu dengan balasan dan siksa, karenanya hendaknya kita berhati-hati dalam segala kondisi, terutama terhadap para pengemis dan penipu yang mereka berpura-pura seakan-akan mereka termasuk orang miskin, Rasulullah Saw :
مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّراً فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْراً فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ
“Barangsiapa meminta-minta harta kepada orang lain untuk memperbanyak hartanya, maka sesungguhnya dia hanyalah  sedang  meminta  bara  api. Maka  hendaknya  dia  mempersedikit  ataukah memperbanyak” (Muslim 1041) dan sabdanya :
مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ
“Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya”(Muslim 1041)
 
Kaum muslimin : sebagian orang menipu untuk mendapatkan hutang, atau untuk lari dari membayar hutang, sebagian lain dengan cara membeli ijazah ilmiah atau memalsukan sertifikat pengalaman kerja, untuk mendapatkan kesempatan kerja atau untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, padahal semua itu merupakan kebohongan, pemalsuan dan penipuan, Rasulullah Saw bersabda :
الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلاَبِسِ ثَوْبَىْ زُورٍ
 "Orang yang pura-pura kenyang dengan apa yang berlum pernah diberikan, bagaikan orang yang mengenakan dua pakaian palsu" (Muttafaq 'alaih)
 
Diantara bentuk kepura-puraan pada seseorang adalah seseorang pegawai yang mengaku sakit agar mendapatkan cuti sakit, atau agar mampu lari dari tugas kerja, atau dengan cara mengaku mempunyai pekerjaan tertentu, padahal ia bukanlah seorang pegawai.
 
Ya Allah berilah rezeki yang halal kepada kami, dan jauhkanlah kami dari yang haram, dan berilah kami taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami untuk ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ، وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ صلى الله عليه وسلم،  أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.
 
Khutbah Kedua
الحَمْدُ للهِ رب العالمين، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وأَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
 
Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa diantara bentuk penipuan yang dilarang adalah mendatangkan bahaya terhadap isteri agar ia tidak menuntut maharnya, Allah berfirman :
وَلاَ تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لَّتَعْتَدُواْ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ وَلاَ تَتَّخِذُوَاْ آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا
 "Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudaratan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka, barang siapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat dzalim terhadap dirinya sendiri dan janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah sebagai permainan" (Al Baqarah 2 : 231)
Pada setiap orang yang hidup diatas bumi negara ini hendaknya ia mempunyai mata yang jeli untuk melaporkan para penipu dan hendaknya ia menjadi orang yang amanah di tempatnya.
 
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ  تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([3])
وقالَ رَسُولُ اللَّهِ r:« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([4])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وقَلْبًا خاشعاً، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا واسعاً، وَعَمَلاً صالحاً مُتَقَبَّلاً، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ علِّمْنَا مَا ينفَعُنَا، وانفَعْنَا بِمَا علَّمْتَنَا، وزِدْنَا علماً، اللَّهُمَّ آتِ نفوسَنَا تقوَاهَا، وزَكِّهَا أَنْتَ خيرُ مَنْ زكَّاهَا، أنتَ وَلِيُّهَا ومولاَهَا، وأَحْسِنْ عاقبتَنَا فِي الأُمورِ كُلِّهَا، اللَّهُمَّ أصْلِحْ لَنِا نياتِنَا، وبارِكْ لَنَا فِي أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاجْعَلْهم قُرَّةَ أَعْيُنٍ لنَا، واجعَلِ التوفيقَ حليفَنَا، وارفَعْ لنَا درجاتِنَا، وزِدْ فِي حسناتِنَا، وكَفِّرْ عنَّا سيئاتِنَا، وتوَفَّنَا معَ الأبرارِ، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([5]).
 
 
 
 


([1]) التوبة: 119 .
([2]) وَالْخَائِنُ الَّذِي لاَ يَخْفَى لَهُ طَمَعٌ وَإِنْ دَقَّ: أي والخائن الذي لا يخفى عليه شيء مما يمكن أن يطمع فيه وإن قل.
([3]) الأحزاب : 56 .
([4]) مسلم : 384.
([5]) العنكبوت :45.

Khotbah Jum'at 22


Khutbah Jumat, 20 Rabiul Awwal 1434 H / 1 Februari 2013 M
Merawat Masjid
Khutbah Pertama
 
الحمدُ للهِ العزيزِ الغفارِ، جعلَ السعْيَ إلَى بيوتِهِ نُوراً لصاحبِهِ فِي يومٍ تتقَلَّبُ فيهِ القلوبُ والأبصارُ، وأَشهدُ أنْ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وحدَهُ لاَ شَريكَ لَهُ، وأَشهدُ أنَّ سيِّدَنَا محمداً عَبدُ اللهِ ورسولُهُ وصفِيُّهُ مِنْ خلقِهِ وخليلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ: فأُوصيكُمْ عبادَ اللهِ ونفسِي بتقوَى اللهِ عزَّ وجلَّ، قالَ تعالَى:] وَاتَّقُوا يَوْماً تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ[([1]).
Kaum mukminin ; sesungguhnya masjid adalah rumah Allah, ia tempat berteduh kaum mukminin dan orang-orang yang bertakwa, hati orang yang shalat terkait didalamnya, dan lidah-lidah orang yang bertasbih selalu bergema didalamnya dengan dzikir kepada Allah, Allah berfirman :
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ* رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلاَ بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ
Bertasbih kepada Allah di mesjid-mesjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat”(An Nur 24 : 36-38)
 
Allah telah menjadikannya sebagai tempat yang aman bagi manusia, tempat yang tenang dan menenangkan bagi orang-orang mukmin, dan dari menara-menaranya dzikir kepada Allah didengungkan, dan dari seluruh kisi-kisinya ucapan baik dan amalan baik diangkat naik, didalamnya dibacakan ayat-ayat Quran, diriwayatkan hadits-hadits nabi Saw dan dari minbar-minbarnya kaum muslimin mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan darinya pula mereka mendengar khutbah Jumat sebagai pengabulan atas panggilan Allah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِن يَوْمِ الجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah” (Al Jumuah 9)
Betapa agungnya rumah-rumah Allah itu, betapa bersih tempat berdirinya rumah-rumah Allah itu, dan betapa ia adalah tempat yang paling dicintai oleh Allah, Nabi Saw bersabda : 
أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا
"Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah ; masjid-masjidnya" (Muslim 671)
 
Hamba Allah : masjid mempunyai keutamaan dan adab dan diantara keutamaannya adalah : bahwa Allah melipatgandakan orang yang berjalan menuju ke masjid, maka barang siapa yang bersuci di rumahnya kemudian berangkat menuju masjid untuk menghadiri shalat jamaah, maka Allah akan melipatgandakan kebaikannya dan menghapus keburukan darinya, sebanyak langkah perjalanannya, Rasulullah Saw bersabda : "Bila salah seorang diantara kalian berwudlu dan menyempurnakan wudlunya, kemudian keluar menuju masjid, maka sebelum ia mengangkat kakinya yang kanan kecuali Allah mencatat baginya satu kebaikan, dan sebelum ia meletakkan kakinya yang kiri kecuali Allah menggugurkan darinya satu keburukan, mendekatlah kalian atau menjauhlah, maka barang siapa yang mendatangi masjid lalu menunaikan shalat berjamaah, ia mendapatkan pengampunan, barang siapa mendatangi masjid dan sebagian telah shalat dan sebagian lainnya belum selesai, maka sempurnakanlah yang tersisa dari shalatnya, bila ia mendatangi masjid dan mereka telah menunaikan shalat jamaah, maka sempurnakanlah shalatnya dan baginya pahala seperti itu”(Abu Daud 563)
 
Diantara adab masjid : adalah seorang muslim selalu membiasakan untuk berhias saat mendatangi masjid, Allah berfirman :
يَا بَنِي آَدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid”(Al A'raf 7 : 31)
Diantara perhiasan yang seharusnya dikenakan oleh seorang muslim adalah memakai pakaian yang terbaik, Rasulullah Saw bersabda :
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَلْبَسْ ثَوْبَيْهِ، فَإِنَّ اللهَ أَحَقُّ مَنْ تُزُيِّنَ لَهُ
"Bila salah satu dari kalian hendak mendirikan shalat maka pakailah pakaian(yang terbaik)nya, karena Allah lebih berhak untuk berhias untuk-Nya”(Baihaqi dalam kitab Sunan Al Kubro 2/236). Seorang muslim hendaknya menjaga agar bajunya selalu tertutup dan tidak membuka auratnya yang dapat membatalkan shalatnya, terutama saat ruku' dan sujud.
 
Dan diantara adab masjid adalah menjauh dari semua perbuatan yang dapat mengganggu orang-orang yang shalat, seperti bau badan atau pakaian yang tidak sedap, Rasulullah Saw bersabda :
مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ
"Barang siapa yang memakan bawang merah, bawang putih dan dau bawang maka hendaknya jangan mendekat masjid kami, karena malaikat merasa tersakiti sebab anak adam tersakiti darinya"(Muslim 564) Begitu pula orang-orang yang shalat dapat terganggu oleh dering telpon.
 
Kaum muslimin ; seorang muslim hendaknya selalu menjaga untuk selalu hadir di majlis ilmu dan pengajaran Quran di masjid-masjid, karena ia adalah warisan nabi bagi seorang muslim yang mampu mencerahkan akalnya, menutrisi hatinya dan menunjukkan raganya, dari Abu Hurairah RA : bahwa ia melewati pasar Madinah dan berdiri disana seraya berkata : wahai penduduk pasar apa yang membuat kalian lemah ? mereka berkata : dari apa itu wahai Abu Hurairah ? ia berkata : warisan rasulullah Saw sedang dibagikan, sedangkan kalian berada disini tidak berangkat untuk mengambil bagian kalian darinya. Mereka bertanya : dimana itu ? ia berkata : di masjid. Kemudian mereka bergegas keluar ke masjid, Abu Hurairah berdiri menunggu mereka hingga mereka kembali, ia bertanya pada mereka : apa kalian dapat ? mereka menjawab : wahai Abu Hurairah, kami telah mendatangi masjid, kami masuk, dan kami tidak melihat ada pembagian didalamnya. Abu Hurairah berkata : kalian tidak melihat seorangpun di masjid ? mereka menjawab : tentu, kami melihat orang-orang sedang menunaikan shalat, sebagian membaca Quran dan sebagian mempelajari halal haram, Abu Hurairah berkata pada mereka : celakalah kalian, itulah warisan Muhammad Saw" (At Thabrani dalam kitab Al Awsath 2/114, Al Haitsami berkata dalam kitab Mujma' Az Zawaid 1/123; sanadnya bagus)
Benar, sebuah warisan nabi yang diajarkan oleh orang yang berilmu yang ahli dibidangnya, yang mampu menanamkan nilai-nilai keislaman yang utama, yang mampu melindungi pemikiran dari ektrimitas, yang mampu mengarahkan pada etika yang dengannya terwujud prinsip-prinsip kasih sayang dan perdamaian, kebahagiaan dan ketentraman, sehingga mereka berhak mendapatkan ucapan syukur, doa dan pujian dari seluruh penduduk bumi dan langit, dari Abu Ad Darda' berkata : aku mendengar Rasulullah Saw bersabda :
إِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِمِ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ، وَمَنْ فِي الأَرْضِ، حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْبَحْرِ
 "Sesungguhnya semua yang di langit dan di bumi memintakan ampun bagi orang yang alim, hingga ikan hiu di lautan" (Ibnu Majah 239)
 
Hamba Allah jagalah untuk selalu memakmurkan rumah-rumah Allah dengan shalat jamaah, majlis ilmu, membaca Quran, menghargai kesuciannya, menjaga kebersihannya, merawat perlengkapannya, menjauh dari semua perbuatan yang dapat merusak perlengkapannya, dan menjauh dari semua yang tidak layak dari ucapan, perbuatan, jual beli, mengemis dan semua bentuk penistaan.
 
Ya Allah jadikanlah kami termasuk orang yang memakmurkan masjid, menjaga shalat, menghadiri shalat jamaah dan shalat Jumat, ya Allah berilah kami taufiq untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami untuk ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ، وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ صلى الله عليه وسلم،  أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.
 
Khutbah Kedua
الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنا محمَّداً عبدُهُ ورسولُهُ، اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطيبينَ الطاهرينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
Bertakwalah wahai hamba Allah, dan ketahuilah bahwa masjid merupakan rumah Allah yang pembangunannya mendapatkan perhatian penuh dari negara ini, sehingga perdana menteri mengeluarkan aturan yang bertujuan menjadikan masjid-masjid di Emirates sebagai warna kebudayaan bagi negara ini yang dibangun sesuai dengan aturan dan syarat yang telah diletakkan oleh pihak terkait, agar menjadi menara ilmu dan Quran, tidak diajarkan didalamnya kecuali oleh orang-orang yang ahli yang mendapatkan izin sesuai perundang-undangan, tidak boleh menyebarkan pemikiran yang melenceng didalamnya, tidak diperbolehkan untuk perkumpulan politik dan kelompok, tidak diperbolehkan mengumpulkan bantuan didalamnya, tidak boleh membagikan buku-buku, meletakkan iklan, brosur, pamphlet, mengadakan jamuan makan, walimah atau tidur didalamnya kecuali dengan seizin pihak terkait, sebagaimana dilarang mengemis di masjid atau ikut campur dalam urusan masjid selain pegawai yang telah ditentukan oleh pihak terkait, hal itu semua itu menjaga kesucian masjid, sehingga ia menjadi tempat yang aman untuk beribadah dan keimanan, kententraman dan kenyamanan. Karenanya jagalah rumah-rumah Allah wahai hamba Allah, dan jadilah kalian salah satu dari orang yang memakmurkannya dengan keimanan, Allah berfirman :
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللَّهَ فَعَسَى أُوْلَئَكَ أَن يَكُونُوا مِنَ المُهْتَدِينَ
“Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. “(At Taubah 9 : 18)
 
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ  تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([2]) وقالَ رَسُولُ اللَّهِ r:« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([3])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وقَلْبًا خاشعاً، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا واسعاً، وَعَمَلاً صالحاً مُتَقَبَّلاً، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ علِّمْنَا مَا ينفَعُنَا، وانفَعْنَا بِمَا علَّمْتَنَا، وزِدْنَا علماً، اللَّهُمَّ آتِ نفوسَنَا تقوَاهَا، وزَكِّهَا أَنْتَ خيرُ مَنْ زكَّاهَا، أنتَ وَلِيُّهَا ومولاَهَا، وأَحْسِنْ عاقبتَنَا فِي الأُمورِ كُلِّهَا، اللَّهُمَّ أصْلِحْ لَنِا نياتِنَا، وبارِكْ لَنَا فِي أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاجْعَلْهم قُرَّةَ أَعْيُنٍ لنَا، واجعَلِ التوفيقَ حليفَنَا، وارفَعْ لنَا درجاتِنَا، وزِدْ فِي حسناتِنَا، وكَفِّرْ عنَّا سيئاتِنَا، وتوَفَّنَا معَ الأبرارِ، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([4]).
 
Khutbah Jumat, 27 Rabiul Awwal 1434 H / 8 Februari 2013 M
Khusu’ dalam shalat
Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الذِي فرَضَ الصلاةَ وجعلَهَا قُرَّةَ عَيْنِ العابدينَ، وحِلْيَةَ الْمُتَّقِينَ، ومَلاذَ الْمُؤمنينَ، تستريحُ فيهَا نفوسُهُمْ، وتَطمئِنُّ بِهَا قلوبُهُمْ، ويزدادُ خُشُوعُهُمْ وخُضُوعُهُمْ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ، وأَشهدُ أنْ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وحدَهُ لاَ شَريكَ لَهُ، وأَشهدُ أنَّ سيِّدَنَا محمداً عَبدُ اللهِ ورسولُهُ وصفِيُّهُ مِنْ خلقِهِ وخليلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلاَ، قَالَ تَعَالَى:] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ[([1]).
Kaum muslimin ; khusu’ adalah kelembutan hati dan kehadiran penuh dihadapan Allah, ketenangan jiwa dan raga dalam ketaatan pada Allah, dan hal ini sangat diagungkan dalam Islam, dan dijadikannya sebagai sifat bagi hamba-hamba-Nya yang shaleh, Allah berfirman :
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami. (Al Anbiya' 21 : 90). Dan firman-Nya :
وَيَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعاً
“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'" (Al Isra' 17 : 109)

Rasulullah Saw selalu meminta perlindungan kepada Allah agar terselamatkan dari hati yang keras yang tidak terdapat kekhusu'an didalamnya, sabdanya :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ، وَقَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ، وَدُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ، وَنَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ
"Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusu', dari doa yang tidak didengar dan dari jiwa yang tidak puas" (An Nasa'i 5470)

Dan khusu' yang paling diharapkan dan paling utama adalah khusu' dalam shalat, ia akan menjadi penyebab keberuntungan, kemenangan, taufiq dan kesuksesan, Allah berfirman :
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ* الَّذِينَ هُمْ فِى صَلاَتِهِمْ خَاشِعون
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya, (Al Mukminun 23 :1-2)

Ia menjadi tanda keimanan dan penyebab datangnya ampunan dan pemaafan, Rasulullah Saw bersabda :
مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ، فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً، وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ
“Tidak seorang muslimpun yang mendatangi shalat wajib, lalu ia menyempurnakan wudlu, khusu’ dan ruku’nya kecuali ia menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama ia tidak melakukan dosa besar, dan itu selama satu tahun penuh” (Muslim 228)

Khusu' dalam shalat merupakan bagian yang didapat seorang muslim dari shalatnya, Rasulullah Saw bersabda :
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلاَّ عُشْرُ صَلاَتِهِ تُسْعُهَا ثُمُنُهَا سُبُعُهَا سُدُسُهَا خُمُسُهَا رُبُعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا
 "Sesungguhnya seseorang menyelesaikan shalatnya dan ia tidak mendapatkan pahala kecuali sepersepuluh dari shalatnya, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga dan setengahnya" (Abu Daud 796)

Hamba Allah ; tempatnya khusu' adalah hati, bila hati khusu' maka semua anggota badan akan tunduk pada ketaatan, dan akan menunaikan shalat dengan penuh semangat yang tidak pernah putus, Said bin Al Musayyab melihat seseorang yang bermain-main dengan jenggotnya saat shalat dan berkata : bila hati orang ini telah khusu' maka semua anggota badannya akan menjadi khusu' (Mushannaf Abu Syaibah 2/289)

Dan hal yang dapat membantu kekhusu'an anggota badan adalah dengan mewujudkan thuma'ninah dalam shalat dengan melakukan rukun-rukunnya dengan sempurna sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah Saw, dari Abu Mas'ud RA berkata : Rasulullah Saw bersabda :
لاَ تُجْزِئُ صَلاَةٌ لأَحَدٍ لاَ يُقِيمُ صُلْبَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ
"Tidak diterima shalat seseorang yang tidak meluruskan tulang punggungnya dalam ruku' dan sujud" (Shahih Ibnu Hibban 5/218).Dan untuk mewujudkan arti thuma'ninah dalam shalat, nabi Saw membaca dalam ruku'nya :
خَشَعَ لَكَ سَمْعِي وَبَصَرِي وَمُخِّي وَعَظْمِي وَعَصَبِي
"Pendengaranku, pandanganku, pikiranku, tulangku dan uratku semuanya khusu' pada-Mu" (Muslim 771)

Khusu' dalam shalat bisa didapat dengan menghadirkan keagungan saat berdiri dihadapan Allah, seorang yang shalat tidak berpaling ke kiri dan ke kanan, Rasulullah Saw bersabda :
إِذَا صَلَّيْتُمْ فَلاَ تَلْتَفِتُوا، فَإِنَّ اللَّهَ يَنْصِبُ وَجْهَهُ لِوَجْهِ عَبْدِهِ فِي صَلاَتِهِ مَا لَمْ يَلْتَفِتْ
"Bila kalian shalat maka janganlah berpaling, karena Allah menghadapkan wajah-Nya pada wajah hamba-Nya dalam shalatnya selama ia tidak berpaling" (At Tirmidzi 2863)




Karena tengak tengok saat shalat menafikan kesempurnaan khusu' didalamnya, dari Abu Qatadah RA berkata : Rasulullah Saw bersabda :
أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِى يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ». قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ:« لاَ يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلاَ سُجُودَهَا - أَوْ قَالَ- لاَ يُقِيمُ صُلْبَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ
"Pencurian terburuk yang dilakukan manusia adalah orang yang mencuri dari shalatnya. Mereka bertanya : wahai Rasulullah bagaimana seseorang mencuri dari shalatnya ? Beliau menjawab : tidak menyempurnakan ruku' dan sujudnya – atau Beliau menjawab- tidak meluruskan tulang rusuknya saat ruku' dan sujud" (Ahmad 23311)

Oleh karena itu orang-orang shaleh selalu merasa takut saat melakukan shalat sehingga mereka selalu melakukan persiapan sebelum menunaikannya, seorang ulama berkata : khusu' adalah merendahkan diri, menenangkan raga, meninggalkan tengak tengok dihadapan keagungan Allah, bila salah satu dari mereka mendirikan shalat ia berdiri hormat dihadapan Tuhannya dan tidak menengok kiri dan kanan, tidak menggerak-gerakkan anggota badannya, tidak berbicara dengan dirinya dalam masalah dunia hingga ia menyelesaikan shalatnya. (Tafsir Ar Razi 3/384)

Kaum mukminin : hal yang dapat membantu kekhusu'an seseorang adalah pengagungan shalat serta tidak menyibukkan dengan selainnya, karena menyibukkan darinya akan membuka pintu dunia terhadap hati orang yang shalat sehingga syetan dapat masuk sehingga ia tidak menghayati shalatnya sedikitpun.

Menghayati ayat-ayat yang dibaca dalam shalat merupakan penyebab utama khusu' dalam shalat, setiap kali seseorang yang shalat lebih menghayati ayat-ayat yang dibacanya atau yang dibaca oleh imamnya akan menambah keimanan dan kekhusu'annya, Allah berfirman :
وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً
 “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka”(Al Anfal 8 : 2)

Ya Allah jadikanlah kami termasuk orang khusu’ saat mendirikan shalat, yang tunduk patuh saat berdiri dihadapan-Mu, yang menyimak saat dibacakan ayat-ayat-Mu, yang puas atas pemberian-Mu dan yang memanfaatkan ilmu yang kami pelajari, Ya  Allah berilah kami taufiq untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami untuk ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ، وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ صلى الله عليه وسلم،  أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ ل

Saturday, April 06, 2013

KUBURAN DI ABU DHABI

Saat Tertentu Di Kantorku

Besok adalah hari akhir pekan minggu ini. Hari ini hampir mendekati pertengahan bulan Maret, tepatnya tanggal 14 Maret 2013. Suasana kantor terasa lebih dingin dari hari-hari sebelumnya, entah karena besok akhir pekan dengan perasaan lebih malas menunaikan tugas atau karena memang AC ruangan disetel lebih dingin. Boss besarku (CEO perusahaan) menghampiri aku sebelum keluar kantor untuk pulang di akhir hari kerja minggu ini. Ia mengatakan bahwa ia akan mengadakan perjalanan ke luar negeri selama seminggu untuk minggu depan ini. Aku menjawabnya dengan doa, "Semoga perjalanannnya membawa keberhasilan", lalu ia mengucapkan terimakasih, itu saja. Kemudian ia berlalu.

Walaupun di awal minggu, aku merasa pagi ini beban pekerjaan terasa  cukup sibuk. Proyek yang sedang datang ada dua secara bersamaan. Aku memberitau kolegaku bahwa hari ini selama seminggu tidak ada CEO karena beliau sedang dalam perjalanan ke luar negeri, dimana aku tidak mengetahuinya ke mana beliau pergi melakukan perjalanan. Lalu kolegaku mengatakan bahwa, kalau tidak salah ia sedang dalam perjalanan ke Jerman karena mertua lelakinya sedang sakit dan sedang berobat di Jerman. 

Seminggu sudah berlalu sejak CEO berpamitan untuk melakukan perjalanan, yang menurut kolegaku ke Jerman. Awal minggu depan pasti ia akan masuk kantor kembali. Dugaanku benar, aku melihat CEO masuk kerja. Setelah menyalaminya bertanda mengucapkan selamat datang, lalu aku langsung duduk kembali di kursi belakang meja kerjaku. 

Berita Kematian dan Sholat Jenazah Mertua CEO

Hari Selasa ini dua pekerjaan yang diberikan oleh atasanku kepadaku di awal minggu ini sudah aku selesaikan. Tiba-tiba Manager Personalia mengabarkan bahwa, "Siapa yang ingin mengikuti Sholat Jenazah?". Lalu Aku bertanya tentang siapa yang meninggal dunia, ia menjawab bahwa, "mertua dari CEO kita".  "Innalillahi wa inna ilaihi rojioun" demikian balas ku. Dan aku menyatakan kesiapanku untuk mengikuti sholat Jenazah yang ditawarkan. Lalu ia memberitauku bahwa, waktunya akan dikabarkan besok pagi. Setelah aku jawab, "Iya", kemudian ia berlalu. 

Sholat Jenazahnya akan dilaksanakan di Masjid dalam komplek Rumahsakit Khalifah, Airport Road, Abu Dhabi. Aku dan rekan-rekanku siap dan saling berjanji untuk bertemu di tempat dan waktu yang sudah ditentukan. Jadwal sholat jenazahnya pada pukul 10:30 pagi hari ini. Berarti sejam lagi pada pukul 10 aku harus sudah mulai keluar kantor. 

Aku tutup pekerjaanku untuk sementara ini dengan mematikan lap top ku. Bersama salah satu rekan kantorku aku keluar kantor melalui parkir basement nomer 1 langsung menuju mobilku di luar gedung. Setelah mesin mobil bekerja sekitar lima menit aku mulai menjalankan  mobil. Di Jalan Raya  laju kecepatan mibilku aku jalankan agak santai, toh jarak tempuh ke komplek Rumahsakit Khalifah dari kantorku sekitar limabelas menit saja. Sesampai di Rumahsakit aku langsung mencari Mesjid di dalam komplek Rumahsakit. Aku berada diantara ingat dan tidak tentang lokasi Masjid itu. Setelah dugaan pertamaku tentang  lokasi Mesjid salah, aku langsung menoleh ke arah dugaan yang ke dua, di mana menara Masjidnya sudah tampak dari kejauhan. Aku menuju ke Masjid yang berada di tengah-tengah komplek Rumahsakit Khalifah. 

Di sekitar Masjid terlihat kosong dari mobil yang diparkir. Di belakang Masjid hanya berjejer mobil taksi yang sedang diparkir.  Aku dan rekanku semacam kebingungan karena jam di tangan sudah menunjukkan pukul 10:25 tetapi suasana Masjid yang akan ditempati untuk sholat jenazah masih sepi. Rekanku  melihat ada satu mobil dengan penumpang yang aku sudah mengenal raut mukanya. Mereka berdua adalah pegawai dari NTA, Departemen Transportasi Abu Dhabi. Aku dan rekanku menuju ke arah mereka.

Masjid tampak sepi. Beberapa mobil taksi saja tetap berada di areal parkir belakang Masjid Tidak ada tanda-tanda sholat jenazah akan dilaksanakan sekarang. Dua orang dari pegawai transportasi tadi tetap saja di dalam mobil Nissan Armada mereka. Salah satu dari mereka ternyata sedang mencari tau keadaan sholat jenazah mertua CEO perusahaan kantorku. Rekanku juga demikian, termasuk juga diriku. Akhirnya diketahui oleh rekanku dari rekan kantorku yang lain memberitahunya lewat tlepon genggam bahwa sholat jenazah diundur sampai setelah sholat Dhuhur nanti. kemudian semua aku rekan kantorku dan dua orang pegawai dari Departemen Transportasi Abu Dhabi memutuskan untuk  kembali ke kantor masing-masing. Di kantor ada rekan lain mengatakan bahwa ada yang sudah berangkat dan kembali dari tengah perjalanan setelah diberitau bahwa acara sholat jenazahnya diundur. Padahal ketika aku berangkat tidak ada berita apapun. Aku kemudian melakukan aktifitas membuka lap topku yang tadinya sudah aku simpan di dalam tasnya.

Waktu terasa begitu cepat, dan jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Aku harus menutup lap top dan pekerjaanku hari ini. Aku harus segera mempersiapkan berangkat ke Rumahsakit Khalifah di Airport Road lagi. Sesampai di Masjid dalam komplek Rumahsakit Khalifa nampaknya sholat Dhuhur sudah selesai. Orang-orang sudah ada yang keluar Masjid. Di depan Masjid aku clingak-clinguk ke dalam Masjid, aku tidak melihat adanya kegiatan Sholat Janazah atau Jenazah yang dipajang di depan Imam seperti biasanya di Surabaya. Aku tanyakan tentang sholat Jenazah kepada orang yang sedang keluar dari Masjid, ia menjawab bahwa Sholat Dhuhur sudah selesai. Ah, bertanya sholat Jenazah dijawab sholat Dhuhur. 

Tanpa banyak pikir aku langsung membuka sepatu sambil duduk di bangku di depan Masjid, lalu mencari tempat wudhu untuk berwudu.  Kemudian aku sholat Duhur. Sambil sholat perasaanku semacam diburu oleh waktu. Selesai sholat Dhuhur yang tidak terlalu terfokus aku langsung keluar setelah membaca doa secepat kilat. Di luar Masjid aku lihat salah satu rekan kerja dari Bagian Administrasi yang sedang kelihatan bingung dengan telepon genggamnya sedang ditempelkan di telinga kanannya. Ketika ia melihat aku ia langsung tersenyum dan menanyakan tentang sholat Jenazah yang tidak juga aku ketahui. Aku langsung berinisiatip menelpon Manager Administrasi, ia menjawab teleponku dan mengatakan bahwa sholat Jenazah bukan di dalam komplek Rumahsakit, melainkan di Masjid sebrang komplek Rumahsakit dan saat ini sholatnya sudah selesai serta Jenazah sedang akan diberangkatkan ke Kuburan. 

Aku khabarkan kepada rekan kerja yang ada di sampingku. Aku tanyakan di mana mobilnya. Setelah ia mengatakan bahwa mobilnya sedang diparkir di tempat agak jauh dari Masjid, lalu aku ajak dia naik mobilku bersama ke Kuburan, daripada masing-masing aku dan dia membawa mobil sendiri-sendiri, toh nanti aku harus kembali lagi ke Kota karena aku harus menjemput anatkku ke Sekolah, dekat dengan komplek Rumahsakit ini . Rekanku setuju dan aku bersama dia dengan mobilku menuju Kubuan. 

Kuburannya sendiri terletak jauh di luar kota, daerah Bani Yas, merupakan kota satelit dari kota Abu Dhabi. Rekan kerja yang duduk di kursi depan mobil di sampingku ini mengetahui lokasinya. Aku diminta ke arah Jalan Raya Al-ain. Ia memberitau bahwa satu jembatan setelah jembatan Mafraq aku diminta belok ke arah kiri. Ia mengatakan jalan masuk setelah keluar dari Jalan Raya menuju Al-ain ke arah Kuburan adalah sekitar limabelas kilometer untuk mencapai lokasi Kuburan. 

Bani Yas adalah kota yang relatip tua, ia terletak di Dratan Utama tanah Emirate Abu Dhabi, karena ukuran dan letaknya yterhadap kota  Abu Dhabi maka Bani Yas semacam sebuah kota satelit Abu Dhab. Itu tercermin dari bangunban-bangunan rumah-rumah penduduk, apartement  dan pertokoan kelihatan sudah lebih tua daripada yang aku lihat kebanyakan di kota Abu Dhabi. 

Semakin menjauh ke arah utara dari Bani Yas  ke arah Kuburan suasana jalan terasa semakin sepi saja, tetapi rumah-rumah yang ada adalah baru dan bagus-bagus. Demikian juga jalan-jalan di sekitar rumah-rumah itu, baru dan bagus-bagus. Aku tidak tau pasti, nampaknya daerah yang aku lalui adalah daerah baru. Sepanjang jalan aku lihat pasir-pasir gurun mengotori Jalan menuju Kuburan, tidak seperti jalan-jalan di Abu Dhabi yang selalu dibersihkan oleh petugas kebersihan. 

Perjalanku sedikit terganggu oleh perbaikan jalan  Akibat perbaikan jalan ini perjalanan jadi macet.  ini ke depan sejauh pandangan mata banyak mobil membelok ke arah kanan semacam mengambil jalan pasir. Rekanku mengatakan bahwa lokasi kuburannya memang ke arah jalan itu, dekat dengan Masjid di tengah gurun itu. Demikian penjelasannya. Aku rasa sekitar satu  kilometer lagi sudah sampai ke jalan masuk kuburan. Selepas dari kemacetan karena perbaikan jalan aku tancap gas mobilku. Sesampainya di tempat banyak mobil ke arah kanan tanpa ragu aku mengikuti mereka masuk jalan kecil untuk dua arah mobil tanpa pembatas/pemisah di tengah jalan. Mobil aku jalankan perlahan-lahan karena selain jalannya kecil juga tidak mulus. .

Tidak terasa mobilku sudah memasuki area Pemakaman. Tembok pagar alas putih, cukup tinggi untuk membatasi areal Kuburan dengan daerah sekirtarnya. Jalan aspal membelah luasnya area pemakaman menjadi dua bagian. Tidak ada daun pintu gerbang.  Di tepi jalan dari pintu masuk sampai pertengahan kuburan dipenuhi oleh bangunan bangunan fasilitas kantor. Di akhir deretan bangunan di tengah kuburan sebelah kanan jalan  berdiri Masjid, Masjid  yand biasa dipakai sebagai tempat sholat Jenazah. Setelah Masjid itu tidak ada lagi bangunan. 

Jalan aspal tetap membelah Kuburan sampai ke ujung pagar alas sana dengan pohon-pohon berjejer di tepi kanan dan kiri jalan. Batu-batu nisan semuanya tertata cukup rapi. Ada juga beberapa kuburan yang sudah dibangun lebih permanen, lain dari yang lain dengan hanya ada dua batu nisan yang berwarna coklat. 

Aku lihat ada dua kerumunan orang-orang yang sedang mengantar jenazah. Setelah aku parkir mobilku di kanan jalan di bawah pohon aku baru sadar bahwa saat ini ada dua jenazah yang sedang di kubur dalam waktu hampir bersamaan. Aku bergegas melalui kerumunan orang-orang dengan pakaian sipil dan militer. Di benakku mengatakan bahwa kerumunan itu bukanlah kelompok Almarhum mertua CEO ku. Aku langsung menuju ke kerumunan yang satunya lagi dengan jalan kaki tetap bergegas agar aku cepat sampai di Kuburan Jenazah yang aku antar. Tempatnya berada di sebelah kiri jalan setelah jalan pertigaan. 

Prosesi penguburan orang lain itu sudah dimulai. Aku lihat banyak orang berebut menaburkan tanah ke arah lubang kuburan orang itu. Ini sebagai tanda ucapan selamat tinggal bagi yang sudah meninggal dan dikubur. Prosesi penguburan orang itu banyak menyita perhatian kami pengantar Mertua CEO. Aku perhatikan semua batu nisan kebanyakan terbuat dari batu buatan dicetak persegi empat dan dengan ujung yang dibentuk segi tiga agar lancip dibagian atasnya  berwarna coklat. Semua batu nisan memiliki nomer identitas. Di kelompok kuburan  Mertua CEO nomor identitas yang tertulis pada batu nisannya adalah diawali dengan huruf A. 

Aku lihat mesin kompresor beroda empat ada di dekat kuburan Mertua CEO. Kompressor itu dihubungkan dengan selang udara pada palu hidrolik. Kelihatannya penggalian lubang kuburan memakai palu hidrolis. Tidak seperti di kampungku Surabaya, lubang kuburan digali dengan alat alat tangan seperti pacul, sekop dan gancu. 

Lubang lubang kuburan sudah dipersiapkan walaupun belum ada yang memesannya. Saat ini di sekitar kuburan almahum Mertua CEO ada sekitar 20 galian lubang kuburan kosong yang sudah siap untuk dipakai dan hanya  ditutupi dengan triplek 18 mimimeter tebalnya. Aku rasa  lubang-lubang itu sengaja dibuat sebagai persiapan jika ada jenazah baru yang membutuhkannya. Aku coba menengok ke dalam salah satu lubang kuburan yang masih kosong itu, kedalamannya kira kira 2 meter dan panjang 2,5 meter. Pada kedalaman satu meter pertama lebar kuburang sekitar 1 meteran, dan pada kedalaman satu meter ke dua lebar kuburan menjadi setengahnya cukup untuk membaringkan si jenazah. Sehingga lubang kuburan seperti berbentuk anak tangga kanan dan kirinya. 

Setelah jenazah Mertua CEO sampai di dekat lubang kuburan, lalu ia diletakkan di atas tanah untuk disholati lagi terutama bagi mereka yang masih belum sempat mensholatinya. Lalu setelahnya jenazah dimasukkan ke dalam kuburan. Peimbunan diawali dengan tanah khusus, pasir halus berwarna seperti nanah merah yang dibasahi dan diangkut dengan beberapa timba plastik hitam ukuran sepuluh literan. Serentak setelah beberapa timba selesai orang-orang berebut untuk menimbunkan tanah dari gundukan bekas galiannya untuk menguburnya termasuk aku dan kawan-kawanku sebagai tanda ucapan selamat tinggal kepadanya. 

Setelah tanah timbunan sudah lebih tinggi dari tanah datar sekitarnya orang-orang mulai berhenti dan penimbunan akhirnya selesai. Lalu pembacaan doa dimulai. Selesai pembacaan doa masih ada beberapa orang yang melakukan sholat jenazah, mungkin mereka masih belum melakukannya tadi. Setelahnya petugas kuburan datang dengan membawa selang, lalu dari selang keluar air untuk disiramkan di atas kuburan yang baru saja selesai prosesi upacara penguburannya. 

Semua orang kini antri untuk menunggu giliran bersalaman dan atau sambil berpelukan untuk mengucapkan belasungkawa kepada anak lelaki tertuanya. Aku juga bersalaman dengan anak tertua dari Almarhum sebelum menuju mobilku untuk kemudian keluar dan kembali ke Abu Dhabi. 

End

Medio Abu Dhabi, 4/6/20013