Sunday, January 27, 2013

Khotbah Jum'at 18


Khutbah Jumat, 23 Muharram 1434 H / 07 Desember 2012 M
Senang Dengan Nikmat Allah
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، أحمدُهُ سبحانَهُ حمدًا طيبًا مباركًا فيهِ كمَا يُحبُّ ويرضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلا، قَالَ تَعَالَى:] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَاناً وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الفَضْلِ العَظِيمِ[([1])
Kaum muslimin ; sesungguhnya nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita sangatlah banyak dan melimpah, dan Allah telah menetapkan agar kita menampakkan kesenangan dan kebahagiaan saat menerima nikmat tersebut dan mensyukurinya, seorang mukmin sejati adalah mukmin yang mensyukuri nikmat dan semua pemberian Allah kepadanya, mensyukuri atas segala kebaikan dan kemakmuran yang telah diterimanya, dan juga agar bersabar saat ditimpa kesusahan, Rasulullah Saw bersabda :
عَجَباً لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, semua perkara (yang menimpanya) adalah kebaikan baginya dan tidaklah hal ini terjadi kecuali hanya pada diri seorang mukmin, jika dia tertimpa kebahagiaan dia bersyukur maka hal ini adalah baik baginya, dan jika tertimpa musibah dia bersabar maka itu juga baik baginya” (Muslim 2999)
Kita menikmati hari-hari yang indah dan malam-malam yang membanggakan yaitu pada peringatan nikmat persatuan, orang-orang mengungkapkan kebahagiaan dan kesenangan mereka, cinta mereka pada negara mereka, kesetiaan mereka pada pemimpin mereka, sebuah ungkapan kejujuran dan cinta kasih, mereka mendoakan kebaikan bagi para pendiri negara ini, penggerak kebangkitan mereka dengan harapan pemimpin perjalanan ini mendapatkan taufiq, perayaan yang dipenuhi oleh pemandangan yang indah yang menarik pandangan dunia, dan ini menjadi contoh yang pantas diikuti di bidang kecintaan dan kepaduan antara pemimpin dan rakyatnya yang setia, nikmat Allah terbagi merata di negara yang penuh berkah ini, dimana cinta dan kasih terbangun kokoh, semua itu patut dibanggakan, Allah berfirman :
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)” (An Nahl 16 : 53)
Hamba Allah : sesungguhnya kebahagiaan persatuan ini muncul dari rakyat karena cinta pemimpin terhadap mereka, bagaikan cinta seorang ayah yang selalu memperhatikan kondisi anak-anaknya baik dalam suka dan duka, hal itu bertauladan pada Rasulullah Saw seperti termaktub dalam sabdanya :
إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ مِثْلُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ
“Sesungguhnya diriku bagi kalian bagaikan seorang ayah terhadap anaknya” (An Nasa’i 40, Ibnu Majah 313). Bagaimana tidak ? mereka para pemimpin kami mendatangi rumah-rumah kami, memperhatikan keadaan kami, ikut serta dalam kebahagiaan kami, mereka memenuhi kebutuhan kami, mereka berusaha mewujudkan cita-cita kami, dan mereka selalu bersungguh-sungguh agar mampu membahagiakan kami, hal ini merupakan perbuatan mulya yang dipuji oleh Rasulullah Saw :
أَهْلُ الْمَعْرُوفِ فِي الدُّنْيَا أَهْلُ الْمَعْرُوفِ فِي الآخِرَةِ
“Ahli kebaikan di dunia akan menjadi ahli kebaikan di akhirat”(Bukhari di dalam kitab Al Adab Al Mufrid 1/86)
Cinta para pemimpin kami terhadap rakyatnya terwujud dalam bentuk proyek : pendidikan, kesehatan dan sosial, agar mereka dapat hidup layak dan nyaman,
وقَدْ سَأَلَ رَجُلٌ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رضيَ اللهُ عنهُمَا فَقَالَ: أَلَسْنَا مِنْ فُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ؟ فَقَالَ لَهُ عَبْدُ اللَّهِ: أَلَكَ امْرَأَةٌ تَأْوِي إِلَيْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: أَلَكَ مَسْكَنٌ تَسْكُنُهُ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَنْتَ مِنَ الأَغْنِيَاءِ. قَالَ: فَإِنَّ لِى خَادِماً. قَالَ: فَأَنْتَ مِنَ الْمُلُوكِ
disebutkan ada seseorang bertanya pada Abdullah bin Amr Al Ash RA : bukankah kita termasuk dalam golongan para fakir kaum muhajirin ? Abdullah menjawab : tidakkah kau mempunyai isteri tempat kembali ? ia menjawab ; ya. Tidakkah kau mempunyai rumah tempat berteduh ? ia menjawab ; ya. Beliau berkata ; kau termasuk orang kaya. Ia menambahkan : aku juga mempunyai seorang pembantu. Ia berkata ; itu berarti kau termasuk golongan seorang raja. (Muslim 2979)
Maka bersyukurlah pada Allah yang telah melimpahkan negara ini pemimpin bijak yang selalu memperhatikan kondisi rakyatnya, menjamin kebutuhan mereka, menyediakan jalan untuk hidup layak bagi mereka, karena diantara kebahagiaan seseorang di dunia adalah dengan terwujudnya kesehatan badan dan ketentraman jiwa, kecukupan hidup dan hunian tempat berteduh, maka barang siapa memiliki semua itu maka sebenarnya Allah telah memberikannya dasar-dasar kenikmatan, hendaknya orang tersebut mensyukurinya dengan mentaati Allah dan menjauh dari semua larangan-Nya.
Kaum muslimin ; hal yang dapat memperdalam cinta ini adalah hubungan kebapaan antara pemimpin dan rakyatnya dimana sang pemimpin selalu memperhatikan keluhan mereka, membantu meringankan beban mereka, mengatasi masalah mereka, membahagiakan keluarga mereka, semua itu merupakan amalan yang dicintai oleh Allah, dari Ibnu Umar RA :
أَنَّ رَجُلاً جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم  فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ وَأَيُّ الأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم   أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا
 bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling dicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah?” Rasulullah saw menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan”(At Thabrani dalam kitab Al Kabir 12/453)
Hamba Allah ; kebahagiaan negara kita ini selalu berkesinambungan, setiap pencapaian merupakan kebahagiaan yang membanjiri hati kita, setiap kali matahari terbit kecuali ada khabar yang membawa kesenangan jiwa dan membuat kehidupan kita berbunga-bunga, memperkuat kesatuan kita, menambah dan melanggengkan cinta kita, menebalkan semangat kita dan cita-cita kita, karenanya hendaknya kita bersyukur kepada Allah siang dan malam, sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, karena Allah telah memberikan kita, memperkaya kita, memberi kebahagiaan pada kita, semua itu merupakan anugerah Allah pada kita, maka berilah ya Allah rahmat-Mu pada penanam pohon cinta dan keikhlasan ini, berilah kehormatan pada setiap orang yang selalu merawatnya dengan kedermawanan, sehingga dapat dipetik buahnya oleh rakyat dan ummat yang mulya ini, dan berkahilah semua pemimpin kami, langgengkan cinta kami pada mereka, lindungilah negara kami, persatukan kami dan jadikan negara kami negara yang aman, tentram, makmur, mulya, kuat dan semoga negara-negara muslim lainnya begitu pula adanya, dan jadikanlah kami pengamal firman-Mu
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ صلى الله عليه وسلم أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.
Khutbah Kedua
الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنا محمَّداً عبدُهُ ورسولُهُ، اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطيبينَ الطاهرينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
Kaum muslimin ; bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah dan ketahuilah bahwa pada kesempatan yang mulya ini, pemimpin kita yang bijak memerintahkan untuk menanam pohon, yang bertujuan agar menjadi penghias lingkungan dan mendatangkan manfaat bagi manusia dan hewan, Rasulullah Saw bersabda :
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْساً، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعاً، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ، إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
 “Tidak satupun seorang muslim yang bercocok tanam atau bertani, kemudian burung, manusia atau binatang ternak makan darinya kecuali baginya pahala sedekah” (Muttafaq ‘alaih)
Dengan anjuran diatas, maka sekarang negara kita tampak bagaikan surga yang hijau, oasis yang berirama, sehingga kita merasakan kenikmatan saat tanaman itu tumbuh dan saat kita mampu merawatnya dengan baik, sehingga semakin dalam jiwa kita untuk terus bersyukur kepada Allah atas segala nikmat ini, sebagaimana para pemimpin kita mengajak untuk selalu berbuat dan memberi, bersungguh-sungguh dan bekerja, menjaga semua pencapaian negara ini, dan janganlah kebahagiaan kita diungkapkan dengan melakukan pelanggaran peraturan atau pengrusakan terhadap fasilitas umum, Rasulullah Saw bersabda :
لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ
“Tidak ada kemudaratan dan tidak boleh berbuat hal yang memudaratkan” (Muwattha’ 1432 dan Ibnu Majah 2341)
Hendaknya kita selalu bertakwa kepada Allah, berperangai baik, memperbanyak amalan baik yang dapat mendekatkan kita kepada Allah, berusaha untuk melakukan perbuatan dan ucapan yang diridhai Allah, karena dunia ini hanyalah tempat transit sedangkan akhirat adalah tempat hunian yang kekal, maka barang siapa menanam kebajikan maka ia akan mengetam buahnya di dunia sebelum mendapatkan balasannya di akhirat, dan barang siapa melakukan kebaikan –walaupun sedikit- maka ia akan mendapatkan balasannya disisi Tuhannya, Allah berfirman :
يَوْمَ لاَ يَنفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُونَ* إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (As Syu’ara’ 26 : 88-89)
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ  تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([2]) وقالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم :« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([3])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وقَلْبًا خاشعاً، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا واسعاً، وَعَمَلاً صالحاً مُتَقَبَّلاً، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، اللَّهُمَّ علِّمْنَا مَا ينفَعُنَا، وانفَعْنَا بِمَا علَّمْتَنَا، وزِدْنَا علماً، اللَّهُمَّ آتِ نفوسَنَا تقوَاهَا، وزَكِّهَا أَنْتَ خيرُ مَنْ زكَّاهَا، أنتَ وَلِيُّهَا ومولاَهَا، اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عاقبتَنَا فِي الأُمورِ كُلِّهَا، وأصْلِحْ لَنِا نياتِنَا، وبارِكْ لَنَا فِي أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاجْعَلْهم قُرَّةَ أَعْيُنٍ لنَا، اللَّهُمَّ اسقِنَا الغيثَ([4]) ولاَ تجعلْنَا مِنَ القانطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([5]).


([1]) الأنفال :29.
([2]الأحزاب : 56 .
([3]) مسلم : 384.
([4]) من السنة رفع اليدين في الدعاء لطلب الغيث.
([5]العنكبوت :45.



Beberapa Penyebab Masuk Surga
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ للهِ القدوسِ السلامِ، أحمدُهُ تعالَى أَبْلَغَ حمدٍ وأَتَمَّهُ علَى مزيدِ الإنعامِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ الملكُ العلامُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ خيرُ الأنامِ، وصفِيُّهُ مِنْ خلقِهِ وخليلُهُ وحبيبُهُ علَى الدوامِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ، وعلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ يطولُ فيهِ القِيامُ.
أمَّا بعدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلاَ، قَالَ تَعَالَى:] وَاتَّقُوا يَوْماً تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ[([1]).
Kaum muslimin ; tujuan dan harapan setiap muslim dan mukmin adalah mendapatkan ridha Allah dan masuk surga, didalamnya terdapat ketentraman dan tempat abadi bagi orang-orang yang berakal dan orang-orang yang sabar, oleh karena itu orang-orang shaleh mengisi siang hari mereka dengan berpuasa dan malam harinya dengan shalat, siapa diantara kita yang tidak menginginkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, didalamnya terdapat nikmat yang belum terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik dalam hati manusia, tanahnya dari zafaron, kerikilnya dari permata, bangunannya terbuat dari emas dan perak, orang yang memasukinya akan terus merasakan kenikmatan dan tidak merasa bosan, kekal tidak mati, bajunya tidak lusuh, mudanya tidak sirna, di dalamnya terdapat sungai-sungai dan buah-buahan yang tidak diketahui hakikatnya kecuali oleh Allah, kenikmatannya tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan dunia dan isinya, Allah berfirman :
يَا عِبَادِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْكُمُ اليَوْمَ وَلاَ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ* الَّذِينَ آمَنُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا مُسْلِمِينَ* ادْخُلُوا الجَنَّةَ أَنتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ* يُطَافُ عَلَيْهِم بِصِحَافٍ مِّن ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الأَنفُسُ وَتَلَذُّ الأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ* وَتِلْكَ الجَنَّةُ الَتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ* لَكُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ كَثِيرةٌ مِّنْهَا تَأْكُلُونَ
"Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan istri-istri kamu digembirakan." Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya." Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan. Di dalam surga itu ada buah-buahan yang banyak untukmu yang sebahagiannya kamu makan. (Az Zukhruf 43 : 68-73)
Hamba Allah ; ada beberapa amalan seperti yang diberitahu oleh Rasulullah, dan semua itu menjadi penyebab masuk surga, sabdanya :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلاَمَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الأَرْحَامَ، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ
 “Wahai manusia sebarkanlah salam, berilah makanan, sambunglah tali silaturahmi dan shalatlah ketika manusia lain tengah tertidur; niscaya kamu akan masuk surga dengan selamat sejahtera”(At Tirmidzi 2485). Amalan pertama yang menyebab Anda masuk surga dalam menyebarkan salam, karena risalah Islam adalah salam (perdamaian), perdamaian ini mendatangkan kasih sayang dan menolak kedengkian, Rasulullah Saw :
أَفْشُوا السَّلاَمَ تَسْلَمُوا
"Sebarkan salam makan kalian akan selamat"(Musnad Ahmad 19033 dan Shahih Ibnu Hibban 2/244).  Dengan salam semua kedengkian akan sirna, hati akan bersatu, akan terwujud perdamaian antara dua orang yang bertikai, mengucapkan salam merupakan salah satu bukti ketundukan seseorang yang akan meninggikan derajat seseorang diantara manusia, Rasulullah Saw :
أَفْشُوا السَّلاَمَ كَيْ تَعْلُوا
 "Sebarkan salam agar derajat kalian terangkat" (At Thabrani dengan sanad yang baik, seperti disebutkan oleh Al Haitsami dalam kitab Mujma'uz Zawaid 30/8)
Kaum mukminin ; Rasulullah Saw menegaskan bahwa menyebarkan salam merupakan salah satu penyebab cinta kasih dan masuknya seseorang ke dalam surga, Rasulullah Saw bersabda :
لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ، أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ
"Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian berimana, dan kalian tidak sempurna imannya hingga kalian saling mencinta. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu, yang bila kalian melakukannya niscaya kalian akan saling mencintai ? Tebarkanlah salam diantara kalian”(Muslim 93)
Menyebarkan salam itu membutuhkan pengorbanan terhadap setiap orang yang Anda jumpai, oleh karena itu para sahabat RA selalu berusaha untuk menyebarkan salam di jalanan, Ibnu Umar RA berangkat ke pasar untuk menyebarkan salam pada setiap orang yang dijumpainnya, Ia berkata :
إِنِّي لأَغْدُو إِلَى السُّوقِ وَمَا بِي حَاجَةٌ إِلاَّ أَنْ أُسَلِّمَ وَيُسَلَّمَ عَلَيَّ
 sesungguhnya aku berangkat ke pasar tidak karena aku mempunyai keperluan, akan tetapi aku hanya ingin mengucapkan salam pada orang lain dan orang lain bersalam padaku” (Syu’bul Iman karangan Al Baihaqi 6/435)
Kaum muslimin ; dan termasuk amalan yang dapat menyebabkan seorang masuk surga adalah memberikan makan keluarga, tetangga dan sahabat, apalagi memberikan makan kepada orang yang membutuhkan seperti kaum fakir miskin, semua ini akan melanggengkan dan mendatangkan kasih sayang, menghilangkan kepura-puraan dan meminimalkan jarak antar sesama, Rasulullah Saw bersabda :
يُمَكِّنُكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ إِطْعَامُ الطَّعَامِ
"Yang memungkinkan kalian masuk surga adalah memberikan makan"(At Thabrani dalam kitab Al Awsath 2/145).
Ibnu Mubarak RA bila sedang menginginkan suatu masakan maka ia tidak akan memasaknya kecuali karena ada tamu yang berkunjung padanya lalu ia makan bersama tamunya tersebut, sebagaimana memberikan makanan pada orang yang membutuhkan dari kaum fakir miskin termasuk budi pekerti mulya yang menyebabkan kaum fakir merasa bahwa para orang kaya tidak melupakan mereka, sehingga mereka juga turut merasakan kebahagiaan yang pada akhirnya mereka akan berdoa untuk kebaikan, keberkahan dan kebertambahan nikmat orang-orang yang menjamu mereka, semua itu berakibat pada bersihnya jiwa masyarakat dan sirnanya rasa dengki diantara sesama, bahkan Ibnu Umar RA selalu berpuasa dan tidak berbuka kecuali bersama dengan anak yatim dan kaum miskin.
Rasulullah Saw menghubungkan antara menyebarkan salam dan memberikan makan, karena keduanya merupakan perbuatan baik yang pertama dengan ucapan dan kedua dengan tindakan, dan orang yang paling berhak dengan kebaikan ini adalah para kerabat, karenanya Nabi Saw menganjurkan untuk bersilaturrahim, hal itu ditegaskan karena didalamnya terdapat pengaruh yang sangat besar dalam mewujudkan keterikatan hubungan social, serta langgengnya tolong menolong dan cinta kasih antara sesama muslim, disebutkan dalam sebuah hadits : “Sambunglah tali silaturrahim”
Allah berfirman : Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi” (An Nisa’ 4 : 1). Hubungan silaturrahim yang paling utama adalah kepada kedua orang tua, kerabat yang terdekat dan seterusnya, dan hubungan silaturrahim harus tetap langgeng, terutama pada saat sebagian mereka sedang dalam keadaan sibuk atau saat terjadi kasus yang membuat hubungan silaturrahim menjadi keruh, Rasulullah Saw bersabda :
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِى إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
“Bukanlah orang yang menyambung silaturrahim itu orang yang membalas kebaikan, tetapi orang yang menyambung silaturrahim itu adalah orang yang menyambung hubungan orang yang telah memutuskan hubungannya” (Bukhari 5991).
وعَنْ أَبِى ذَرٍّ رضيَ اللهُ عنْهُ قَالَ: أَوْصَانِي حِبِّي بِخَمْسٍ وذكَرَ منهَا وَأَنْ أَصِلَ الرَّحِمَ وَإِنْ أَدْبَرَتْ
Dan dari Abu Dzar RA berkata : “Kekasihku berwasiat dengan lima perkara disebutkan diantaranya : Agar aku menyambung silaturrahim walaupun ia telah membelakangi”(Musnad Ahmad 22137)
Kita perlu melembagakan pelestarian makna ini, yaitu menyebarkan salam, memberikan makan, mengunjungi pada kerabat, memegang teguh serta menanamkannya dalam jiwa anak-anak kita, sehingga cinta kasih antara mereka menjadi terwariskan sebagaimana kita mendapatkan warisan kemulyaan ini dari bapak dan kakek-kakek kita terdahulu, dan kita mohon kepada Allah semoga menjadikan kita termasuk golongan orang yang menyebarkan salam, memberikan makan, menyambung tali silaturrahim, dan shalat malam saat manusia lain terlelap tidur, dan kita mohon kepada Allah semoga memberikan kita taufiq kepada untuk mentaati-Nya dan mentaati orang yang diperintahkan untuk ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Nya  
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ صلى الله عليه وسلم أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.
Khutbah Kedua
الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنا محمَّداً عبدُهُ ورسولُهُ، اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطيبينَ الطاهرينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah dan ketahuilah bahwa seorang muslim hendaknya memperkuat hubungan dengan Tuhannya dengan ketaatan, dan terutama adalah qiyamullail, Allah menerangkan keadaan hamba-Nya yang shaleh dalam firman-Nya :
كَانُوا قَلِيلاً مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ* وَبِالأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)” (Ad Dzariyat 51 : 17-18)
Shalat di malam hari sangat jauh dari riya' dan pamer, bila seorang muslim terbiasa bangun malam walaupun sebentar maka keadaannya akan berubah, gundahnya akan sirna, dan ia akan merasa nyaman dekat dengan Tuhannya, akan merasakan manisnya keimanan dan kedudukannya akan bertambah mulya,
فقَدْ أخبرَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ النَّبِيَّ عليه الصلاة والسلام بأنَّ شَرَفَ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ
Jibril AS mengabarkan Nabi Saw bahwa kemulyaan seorang mukmin terdapat pada bangun malamnya" (At Thabrani dalam kitab Al Awsath 4/306). Bangun malam terhitung setelah selesai shalat Isya' hingga subuh, dan sebaik-baiknya bangun malam dilakukan pada sepertiga malam.
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ  تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([2]) وقالَ رَسُولُ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام:« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([3])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وقَلْبًا خاشعاً، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا واسعاً، وَعَمَلاً صالحاً مُتَقَبَّلاً، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، اللَّهُمَّ علِّمْنَا مَا ينفَعُنَا، وانفَعْنَا بِمَا علَّمْتَنَا، وزِدْنَا علماً، اللَّهُمَّ آتِ نفوسَنَا تقوَاهَا، وزَكِّهَا أَنْتَ خيرُ مَنْ زكَّاهَا، أنتَ وَلِيُّهَا ومولاَهَا، اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عاقبتَنَا فِي الأُمورِ كُلِّهَا، وأصْلِحْ لَنِا نياتِنَا، وبارِكْ لَنَا فِي أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاجْعَلْهم قُرَّةَ أَعْيُنٍ لنَا، اللَّهُمَّ اسقِنَا الغيثَ([4]) ولاَ تجعلْنَا مِنَ القانطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ. اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا. اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([5]).


([1]البقرة : 281.
([2]الأحزاب : 56 .
([3]) مسلم : 384.
([4]) من السنة رفع اليدين في الدعاء لطلب الغيث.
([5]العنكبوت :45.

Saturday, December 01, 2012

Kuthbah Jum'at 17


Khutbah Jumat, 16 Muharram 1434 H / 30 November 2012 M
Nikmat Persatuan
Khutbah Pertama
 
الْحَمْدُ للهِ القوِيِّ الْمُبينِ، أمرَنَا بالاعتصامِ بحبلِهِ المتينِ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، أكرَمَنَا بالاتِّحَادِ، وجعلَهُ سببًا لتآلُفِ العبادِ، وازدهارِ البلادِ، وأشهدُ أنَّ سيدَنَا محمَّداً عبْدُ اللهِ ورسولُهُ، جمعَ قلوبَ المؤمنينَ علَى ربِّهِمْ، وَوَحَّدَ صفوفَهُمْ، فاللهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ وبَارِكْ عَلَى سيدِنَا محمدٍ وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ وأَصْحابِهِ أجمعينَ، ومَنِ اهتدَى بِهديِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ: فأُوصيكُمْ عبادَ اللهِ ونفسِي بتقوَى اللهِ عزَّ وجلَّ، قالَ تعالَى:] وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ[([1]).
Kaum mukminin ; Al Quran telah menganjurkan kita dan diperkuat pula oleh sabda Nabi Saw bahwa kita hendaknya berpegang teguh pada tali Allah, penegasan ini terlihat dalam sabda nabi Saw akan pentingnya persatuan dan jamaah serta peringatan beliau agar menjauh dari perpecahan dan ketidak taatan :
عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ
"Hendaklah kalian berjamaah, sebab srigala itu memakan domba yang lepas dari kawanannya" (Abu Daud 547)
 
Islam mengajak pada persatuan dan kesatuan, karena keduanya merupakan dasar setiap kebaikan dan kebahagiaan, tiang setiap kemajuan dan ke pioner an, tidak satu pun ummat mendapatkan kehidupan yang makmur, dan tidak satu pun bangsa yang mengeyam kemajuan tanpa persatuan hati mereka, menyatukan tujuan mereka demi kemanfaatan manusia di dunia dan akhirat mereka, persatuan merupakan nikmat dan pemberian dari Allah, Allah berfirman :
وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara"(Ali Imran 3 : 103)
 
Kaum muslimin ; sesungguhnya diantara sifat seorang muslim adalah berfikir tentang nikmat-nikmat Allah, mensyukuri semua yang telah diberikan padanya, dan diantara nikmat yang paling besar yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah penanaman rasa cinta dalam hati, penyatuan barisan dan melakukan kebaikan, Allah berfirman :
هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ* وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu'min, dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Anfal 8 : 62-63)
 
Dan diantara nikmat besar yang dianugerahkan pada negara Emirates yang tercinta ini adalah dengan diberikannya pemimpin yang cerdas dan bijak, yang selalu memperhatikan kemaslahatan kita, selalu berusaha mewujudkan kebahagiaan kita, di pundak mereka terdapat beban untuk membangun negara ini serta meninggikan kedudukannya, selalu ingin mengangkat derajat dan kehormatan negara ini, dan diantara pengutamaan perhatian mereka adalah dengan menghibahkan segalanya demi terwujudnya kesejahteraan dan ketentraman, mereka selalu bekerja untuk pertumbuhan dan kemakmuran, Allah melimpahkan pada mereka nilai-nilai yang berlandaskan dari ajaran agama Islam, sehingga kemanfaatan dapat terwujud melalui kerja keras mereka, pada akhirnya mereka menuai cinta kasih, penghargaan dan keikhlasan dari semua rakyat mereka, hal ini tentu sesuai dengan sabda Nabi Saw :
خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ
"Sebaik-baik pemimpin kalian ialah yang kalian mencintainya dan dia mencintai kalian. Dia mendoakan kebaikan kalian dan kalian mendoakannya kebaikan" (Muslim 1855)
Artinya ; mereka mendoakan pemimpin dan pemimpin mendoakan rakyatnya, sifat yang diberikan Allah pada pemimpin ini berpengaruh pada dukungan para kabilah pada para pemimpin kita yang bijak, dan sejarah terus mencatat para pendiri negara persatuan ini serta perjuangan mereka sehingga benteng persatuan ini berdiri kokoh.
 
Hamba Allah ; persatuan ini telah membuahkan hasil yang sangat gemilang, diantaranya pembangunan lembaga-lembaga, rumah sakit, pusat kesehatan, sekolah, universitas, masjid, pusat untuk menghapal Quran, jalan-jalan dibangun, pendidikan berjalan baik, perhatian terhadap pembangunan sumber daya manusia lebih diutamakan dibandingkan pembangunan fisik lainnya, para wanita mendapatkan kesempatan untuk memegang jabatan tinggi, semua fasilitas untuk hidup layak disediakan, sehingga kebaikan merata seantero negara, hal tersebut membuat masyarakat dan pemimpinnya terjalin dalam ikatan yang kuat bagaikan satu keluarga yang saling berbagi kebahagiaan, yang tua menanyakan kondisi yang muda dan yang muda menghargai yang tua
 
Nikmat  yang diberikan Allah terbagi secara merata di negara kita ini, sehingga negara ini sejajar dengan negara-negara maju lainnya, hal itu terbukti dalam beberapa statistik dan data internasional, yang membuat penduduk negara lain berbondong-bondong datang untuk mencari pekerjaan, rezeki dan kehidupan yang tentram, dan negara ini telah menampung lebih dari 200 kewarganegaraan dan semuanya merasa hidup terhormat, negara ini telah menjadi contoh dibidang bantuan kemanusiaan, dan kebaikannya mampu menjangkau kaum fakir miskin, orang-orang yang membutuhkan dan orang yang terimpa bencana dimana saja berada, hal ini tentu sebagai bukti penerapan hadits Nabi Saw :
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (At Thabrani dalam kitab Mu’jam Al Kabir 13646)
 
 
Kaum mukminin ; hendaknya kita menyadari bahwa pencapaian-pencapain yang gemilang ini, sesungguhnya merupakan buah ketabahan dan kesungguhan yang dilakukan oleh para pemimpin kita, sebagaimana hendaknya kita menjaga kepaduan kita dengan para pemimpin kita, berpegang teguh dengan nilai-nilai yang telah didirikan oleh para pemimpin persatuan ini, dengan bersenjatakan ilmu yang bermanfaat dan pekerjaan, melestarikan budaya Islam yang moderat, dan menjauh dari segala bentuk perpecahan, dan agama kita telah mengingatkan kita untuk menjauh dari setiap tindakan yang menyebabkan perpecahan dan perbedaan.
 
Ya Allah berilah keberkahan pada kami dalam pemimpin dan persatuan kami dan berilah taufiq kepada kami untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami untuk ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ صلى الله عليه وسلم أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.
 
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ أَهْلُ الْمَغْفِرَةِ وَالتَّقْوَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَصْطَفَى، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهديه إلى يوم الدين.
Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya hal yang dapat membantu kalian dalam mensyukuri nikmat yang ada pada kalian adalah dengan melihat atau membandingkan kondisi masyarakat kita antara masa lalu dan kondisi sekarang, dulu kita berada dalam kefakiran dan kesusahan, ketakutan dan percerai beraian, sehingga dengan nikmat Allah dan pertolongan-Nya kita dapat bersatu dalam kemakmuran dan ketentraman, serta bandingkan dengan masyarakat lainnya yang sedang dilanda musibah, kefakiran dan ketercerai beraian, semua nikmat yang melimpah yang diberikan, kebahagiaan dan kebaikan yang kita terima, dengannya hendaknya kita mengingat selalu dalam hati kita sabda Nabi Saw :
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
"Barangsiapa dari kalian yang merasa aman di rumahnya, sehat badannya dan ia memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan telah dikumpulkan untuknya dunia beserta isinya” (At Tirmidzi 2364)
Marilah kita menyiapkan dunia kita untuk kepentingan akhirat kita, hendaknya kita bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya, karena Dia akan mempertanyakan kita, Allah berfirman :
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
"kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)" (At Takatsur 102 : 8). Hendaknya kita berkontribusi dengan semangat dan sungguh-sungguh dalam membangun negara kita, hendaknya kita saling tolong menolong dengan para pemimpin kita untuk mewujudkan kemajuan negara kita yang penuh berkah ini, hendaknya kita bersungguh-sungguh dalam memberikan pengetahuan kepada anak-anak kita mengenai sejarah masyarakat kita, agar mereka mengerti bagaimana para pendahulu kita hidup dalam kesusahan, dan bagaimana kita dapat merubah kondisi menjadi lebih baik, agar mereka menghayati pentingnya nikmat, serta menjaganya dan agar mereka semakin tahu pentingnya menghargai para pemimpin kita dan masyarakatnya.
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ  تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([2]) وقالَ رَسُولُ اللَّهِ r:« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([3])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ بارِكْ فِي اتحادِنَا، وأَدِمْ علينَا الخيرَ والرخاءَ، والاستقرارَ والنماءَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وقَلْبًا خاشعاً، وَلِسَانًا ذَاكِرًا،ورِزْقًا طَيِّبًا واسعاً، وَعَمَلاً صالحاً مُتَقَبَّلاً، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، اللَّهُمَّ علِّمْنَا مَا ينفَعُنَا، وانفَعْنَا بِمَا علَّمْتَنَا، وزِدْنَا علماً، اللَّهُمَّ آتِ نفوسَنَا تقوَاهَا، وزَكِّهَا أَنْتَ خيرُ مَنْ زكَّاهَا، أنتَ وَلِيُّهَا ومولاَهَا، اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عاقبتَنَا فِي الأُمورِ كُلِّهَا، وأصْلِحْ لَنِا نياتِنَا، وبارِكْ لَنَا فِي أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْهم قُرَّةَ أَعْيُنٍ لنَا، اللَّهُمَّ اسقِنَا الغيثَ([4]) ولاَ تجعلْنَا مِنَ القانطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([5]).
 
 


([1]) المؤمنون: 52.
([2]الأحزاب : 56 .
([3]) مسلم : 384.
([4]) من السنة رفع اليدين في الدعاء لطلب الغيث.
([5]العنكبوت :45.
- مركز الفتوى الرسمي بالدولة  باللغات (العربية ، والإنجليزية ، والأوردو) للإجابة على الأسئلة الشرعية وقسم الرد على النساء         22 24  800
من الثامنة صباحا حتى الثامنة مساء عدا أيام العطل الرسمية
- خدمة الفتوى عبر الرسائل النصية sms على الرقم         2535

Kothbah Jum'at 16


hutbah Jumat, 02 Muharram 1434 H / 16 November 2012 M
Hijrah Nabi Saw
Khutbah Pertama
 
الْحَمْدُ للهِ القَوِيِّ الْمَتِينِ، الذِي أَيَّدَ رَسُولَهُ بِالْهِجْرَةِ وَالتَّمْكِينِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ، الْمَبْعُوثِ رَحْمَةً للعَالَمِينَ، هَدَى اللهُ بِهِ مِنَ الضَّلالَةِ، وَبَصَّرَ بِهِ مِنَ العَمَى، وَأَرْشَدَ بِهِ مِنَ الغَيِّ، وَفَتَحَ بِهِ أَعْيُنًا عُمْيًا، وَآذَانًا صُمًّا، وَقُلُوبًا غُلْفًا، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ:  فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلا، قَالَ تَعَالَى: ]إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَواْ وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ [([1])
Kaum muslimin ; Allah telah mengutus Rasul-Nya Muhammad Saw dengan hidayah dan agama yang benar, Beliau tinggal di makkah untuk mengajak manusia masuk Islam, beliau mengajak para kabilah tapi tidak seorang pun yang mau menolong dan menjawab ajakannya, kecuali sebagian kecil saja. Bahkan Rasulullah Saw mendapatkan hinaan dan cercaan, tapi beliau sabar menerimanya sehingga Allah memberikan pertolongan yang sangat besar melalui kaum Anshar, mereka diajak masuk Islam dan semua mentaatinya, kemudian mereka kembali ke Madinah sebagai dai, dan inilah awal mula hijrah nabi Saw.
Hamba Allah ; selanjutnya Rasulullah Saw mengizinkan kaum muslimin untuk berhijrah ke Madinah, dan para sahabat berangkat hijrah sedangkan Rasulullah Saw menunggu di Makkah hingga ada izin Allah untuk keluar berangkat berhijrah, tapi kaum Quraisy berusaha mencegahnya, mereka mengambil keputusan untuk memanggil satu pemuda dari setiap kabilah untuk merencanakan pembunuhan Muhammad dan agar darahnya terbagi pada setiap kabilah, Allah berfirman :
وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ المَاكِرِينَ
“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. (Al Anfal 8 : 30). Tetapi Allah menggagalkan makar mereka dengan melindungi Nabi-Nya, mereka tidak melihat ketika Rasulullah Saw keluar menuju ke tempat mereka,  lalu Beliau mengambil segenggam pasir dan kemudian menaburkan ke atas kepala mereka masing-masing sambil membaca firman Allah :
وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لا يُبْصِرُونَ
“Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. (Yaasin 36 : 9). Rasulullah Saw dengan leluasa keluar menuju rumah Abu Bakar, yang selanjutnya keduanya meneruskan perjalanan malam mereka hingga tiba di Gua Tsur, kaum Quraisy berusaha sekuat tenaga mencari keduanya, bahkan mereka sempat berdiri di pintu gua tersebut, mengetahui itu Abu Bakar berkata ; wahai Rasulullah, kalau salah satu dari mereka melihat ke arah kaki mereka pasti mereka akan melihat kita, Rasulullah Saw menenangkan dengan sabdanya ; wahai Abu Bakar, apa dugaanmu terhadap dua orang, sementara Allah adalah yang ketiganya (untuk melindunginya)
 Allah berfirman :
إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ العُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telahmenolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (At Taubah 9 : 40). Allah membatalkan semua tipu daya kaum Quraisy terhadap keduanya, dan keduanya tinggal selama tiga malam di goa tersebut, Asma’ RA setia membawakan perbekalan keduanya, dan Abdullah bin Abu Bakar sebagai pembawa berita kepada keduanya, sebagaimana keduanya telah menyewa Abdullah bin Uraiqith sebagai penunjuk jalan keduanya.
 
Kaum mukminin ; hijrah Nabi merupakan titik point perubahan dalam sejarah kaum muslimin, bahkan dalam sejarah dunia, karenanya ia dijadikan sebagai awal kalender, hal itu disebabkan biasanya kebanyakan ummat meletakkan kalender berdasarkan kejadian-kejadian besar yang terjadi sebagai pemisah antara dua masa. Didalam hijrah terkandung makna dan nilai-nilai, pelajaran yang agung dan hal ini tampak dalam biography sebaik-baiknya manusia, serta semua jenis permasalahan yang dihadapinya dalam berdakwah, beliau sabar saat ditimpa siksaan, bahkan memaafkan dan mengampuni, dengan harapan manusia itu mendapatkan rahmat dan hidayah, sebagaimana dalam hijrah terdapat penjelasan mengenai dukungan penuh Allah terhadap nabi-Nya, Dia menolong hamba-Nya dan agama-Nya, sehingga tampak jelas hasil dari sebuah kesabaran yang disertai oleh kekuatan keyakinan kepada Allah, tawakkal yang baik kepada-Nya, berbaik sangka kepada-Nya, dan juga kesabaran dalam menunggu jalan keluar setelah kesusahan yang dialami, dalam kisah ini juga terdapat pelajaran agar kita selalu harus memperkuat keyakinan kita kepada Allah, kembali kepada-Nya pada setiap saat, lari kepada-Nya dengan keimanan dan ketaatan, karena Dia Pemilik semesta alam yang Maha Mampu atas segala sesuatu.
 
Pelajaran yang paling berharga dalam hijrah nabi ini adalah ; persiapan yang baik, prediksi sebab akibat, memberdayakan energi pemuda, peran wanita dan kedudukannya bahwa ia adalah patner laki-laki dalam menegakkan kebenaran, meletakkan nilai-nilai dan membangun masyarakat diatas kebaikan, sebagaimana terdapat dalam tauladan Nabi Saw dalam membangun masyarakat yang kuat yang berdiri diatas ikatan yang kuat, hal ini sebagai pengingat kita semua akan pentingnya kesatuan hati dan kepaduan raga, kebersihan jiwa dengan keimanan dan hidayah, sebagaimana kewajiban kita semua untuk mempelajari sirah (biography) Nabi Saw serta mengambil darinya pelajaran yang berharga.
 
Kaum muslimin ; termasuk cakupan pelajaran hijrah yang sangat penting adalah ; kasih sayang, mendahulukan orang lain dan kesatuan kata antara muhajirin dan anshar, mereka telah menjadi contoh utama dalam pembangunan hati dalam cinta dan kesatuan, pembangunan masyarakat yang dipererat dengan etika yang baik dan sifat yang mulya, Allah berfirman :
لِلْفُقَرَاء الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ* وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالإيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“(Juga) bagi para fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Al Hasyr 59 : 8-9)
Dan sesungguhnya pada kisah Muhajirin dan Anshar terdapat tauladan baik dalam menanamkan nilai-nilai mendahulukan orang lain, cinta dan kasih sayang, selalu berusaha menjaga ikatan dan keeratan masyarakat, menyebarkan etika baik dan keutamaan, saling tolong menolong dalam kebajikan, kebaikan dan ketakwaan, sehingga tidak ada celah bagi etika buruk, pemikiran palsu, tidak ada hak-hak pribadi yang dilanggar, tidak ada nafsu golongan yang ingin merusak, justeru didalamnya tumbuh hati yang jernih, pemikiran yang bersih, pendirian yang bijak, dan membangun satu barisan di sekeliling pemimpinnya yang bijak, serta terus berusaha dalam memakmurkan hati dan negeri yang dicintai dan diridhai Allah.
Ya Allah berilah kami taufiq untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami untuk ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ صلى الله عليه وسلم أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.
 
 
Khutbah Kedua
الحمد لله الملك العلام، ذي الطول والإنعام، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله، والصلاة والسلام على نبينا وحبيبنا محمد خير الأنام، الداعي إلى الاعتصام والتآلف والوئام، وعلى آله وصحبه الغر الكرام.
Nabi Saw bersabda :
الْمُسلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ ما نَهاهُ اللهُ عَنْه
 "Seorang muslim adalah orang yang membuat muslim lainnya terselamatkan dari pengaruh buruk ucapan dan tindakannya, dan muhajir adalah yang hijrah dari larangan Allah" (Bukhari 10 dan Muslim 40). Pada peringatan hijrah ini serta pengulangannya setiap tahun hendaknya menjadi pendorong kita untuk memperbaharui kesetiaan kita pada Tuhan kita yang Maha mengetahui segala sesuatu, Dia telah menciptaan kita dari ketidakadaan, mengucurkan nikmat yang tidak berhingga kepada kita, Dia melihat kita dalam segala kondisi, Mendengar kita setiap saat, Dia pantas dipuji, Asma’nya patut diagungkan, dan betapa butuhnya kita untuk selalu berdiri dengan penuh patuh kepada-Nya, berusaha meluruskan hati kita sehingga mendapatkan ridha-Nya, tunduk kepada-Nya dengan penuh ketaatan, dan menyambut tahun baru ini sesuai dengan petunjuk Nabi Saw seperti tersebut dalam sabdanya :
أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم، وأفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل
 “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam” (Muslim 1163). Sambutlah tahun ini dengan semangat, giat dan ketaatan pada Ar Rahman serta memperbanyak berbuat kebaikan, karena pada kecepatan pergantian siang dan malam merupakan pelajaran berharga bagi orang yang mau berfikir
 
عباد الله: إن الله أمركم بأمر بدأ فيه بنفسه وثنى فيه بملائكته فقال  تعالى:(إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما) وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:« من صلى علي صلاة صلى الله عليه بها عشرا»
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا ونبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، وارض اللهم عن الخلفاء الراشدين أبي بكر وعمر وعثمان وعلي وعن سائر الصحابة الأكرمين، وعن التابعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.
اللهم إنا نسألك علما نافعا، وقلبا خاشعا، ولسانا ذاكرا، ورزقا طيبا واسعا، وعملا صالحا متقبلا، وعافية في البدن، وبركة في العمر والذرية، اللهم علمنا ما ينفعنا، وانفعنا بما علمتنا، وزدنا علما، اللهم آت نفوسنا تقواها، وزكها أنت خير من زكاها، أنت وليها ومولاها، اللهم أحسن عاقبتنا في الأمور كلها، وأصلح لنا نياتنا، وبارك لنا في أزواجنا وذرياتنا واجعلهم قرة أعين لنا، اللهم اسقنا الغيث ولا تجعلنا من القانطين، اللهم أغثنا، اللهم أغثنا، اللهم أغثنا، اللهم لا تدع لنا ذنبا إلا غفرته، ولا هما إلا فرجته، ولا دينا إلا قضيته، ولا مريضا إلا شفيته، ولا حاجة إلا قضيتها ويسرتها يا رب العالمين، ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.
اللهم وفق ولي أمرنا رئيس الدولة، الشيخ خليفة ونائبه لما تحبه وترضاه، وأيد إخوانه حكام الإمارات وولي عهده الأمين.
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات، اللهم ارحم الشيخ زايد، والشيخ مكتوم، وإخوانهما شيوخ الإمارات الذين انتقلوا إلى رحمتك، اللهم اشمل بعفوك وغفرانك ورحمتك آباءنا وأمهاتنا وجميع أرحامنا ومن كان له فضل علينا.
اللهم أدم على دولة الإمارات الأمن والأمان وعلى سائر بلاد المسلمين.
اذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم (وأقم الصلاة إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر ولذكر الله أكبر والله يعلم ما تصنعون).


([1]) النحل: 128 .

Khutbah Jumat, 09 Muharram 1434 H / 23 November 2012 M
Merawat Anak dengan Baik
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، أحمدُهُ سبحانَهُ حمدًا طيبًا مباركًا فيهِ كمَا يحبُّ ويرضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ:  فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلاَ، قَالَ تَعَالَى:] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ[([1])
 
Kaum muslimin ; Islam telah meletakkan dasar-dasar kuat yang menjamin kebahagiaan kemanusiaan secara keseluruhan, ia memerintahkan untuk berlaku adil, baik dan memberikan hak pada yang berhak, memberikan perhatian besar pada keluarga dan anak-anak, sehingga menjadikan anak sebagai amanah besar yang diletakkan di pundak kedua orang tua semenjak kelahirannya, hal tersebut tertuang dalam perintah menyusui, memperhatikan sandang dan pangannya dan melindunginya dari setiap marahabaya; Allah berfirman :
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى المَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لاَ تُكَلَّفُ نُفْسٌ إِلاَّ وُسْعَهَا لاَ تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلاَ مَوْلُودٌ لَّهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian” (Al Baqarah 2 : 233). Bahkan Nabi Saw sangat sayang terhadap anak-anak, sehingga disebutkan dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik RA ;
مَا رَأَيْتُ أَحَداً كَانَ أَرْحَمَ بِالْعِيَالِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih menyayangi keluarganya daripada Rasulullah Saw” (Muslim 2316)
 
Berdasarkan itu pula, Nabi Saw menjelaskan bahwa pendidikan anak merupakan tanggung jawab kedua orang tua, dan mereka dianjurkan untuk menunaikannya dengan sebaik-baiknya, sabdanya :
كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab, seorang suami adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan ia bertanggung jawab atas keluarganya, isteri adalah pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya” (Muttafaq ‘alaih)
 
Rasulullah Saw memerintahkan untuk berlaku adil terhadap sesama anak-anak dan tanpa menginstimewakan salah satu dari mereka, sabdanya :
اتَّقُوا اللَّهَ، وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ
 “Bertakwalah pada Allah dan berlaku adillah kalian antara sesama anak-anak kalian”(Muttafaq ‘alaih)
 
Dan beliau sangat mengingkari orang yang tidak menerapkan keadilan bahkan dalam ciuman yang dialamatkan kepada anak laki-laki dan tidak diberikan kepada anak perempuannya, dikisahkan ada seorang ayah yang sedang duduk bersama Nabi Saw, lalu datang kepadanya salah satu anaknya, kemudian ia menciumnya dan mendudukkannya di pangkuannya, selang beberapa waktu anak perempuannya datang padanya, lalu ia memangkunya dan mendudukkan di sampingnya, maka Nabi Saw bersabda : "Engkau telah tidak berlaku adil pada keduanya" (Syu'bul Iman karangan Al Baihaqi 6/410)
 
Perhatian besar lebih ditegaskan terhadap anak-anak yatim dan dijelaskan juga keutamaan dan keagungan pahalanya, seperti termuat dalam sabda Rasulullah Saw :
« أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هَكَذَا». وَأَشَارَ بِإِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى
 "Aku dan pengasuh anak yatim di surga seperti ini" Beliau mengisyaratkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya" (Bukhari 6005)
 
Wahai para bapak ibu ; sesungguhnya merawat anak dengan baik merupakan tanggung jawab besar, dan sebaik-baik cara menuju kesuksesan didalamnya adalah dengan berpatokan pada dasar-dasar pendidikan yang telah digariskan oleh Nabi Saw, diantaranya adalah :
Lemah lembut terhadap anak-anak, Nabi Saw menegaskan arti ini dalam sebuah sabdanya :
مَا كَانَ الرِّفْقُ فِي شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ عُزِلَ عَنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ
" Tidaklah kelemahlembutan itu ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya dan tidaklah tercabut dari sesuatu melainkan akan merusaknya” (Muslim 2594 dan Ahmad 26457)
 
Selalu konsisten memperlakukan mereka dengan kasih sayang, menjauhi semua tindakan kekerasan, ada seorang badui yang mendatangi Nabi Saw dan berkata ; Apakah kalian mencium anak-anak kalian ? sedangkan kami tidak pernah mencium mereka. Nabi Saw bersabda :
أَوَ أَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ
Apakah engkau tidak takut nanti Allah akan mencabut perasaan kasih sayang dari hatimu” (Bukhari 5988)
Selanjutnya ; mengajarkan dan mengarahkan mereka dengan lemah lembut, karena hal itu lebih berpengaruh walaupun pada kemudian hari, Nabi Saw telah mengajarkan Abdullah bin Abbas RA di masa kecilnya dengan ungkapan :
يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
 "Wahai anak, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat ; jagalah Allah maka Dia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu, Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau meminta bantuan, minta bantuanlah kepada Allah” (At Tirmidzi 2516)
 
Memperhatikan kondisi dan etika mereka, mengawasi sahabat mereka dan menganjurkan mereka untuk memilih sahabat yang baik, Nabi Saw bersabda ;
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
" Seseorang tergantung agama teman dekatnya, maka hendaknya kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman”(Abu Daud 4833 dan Ahmad 8641)
 
Dan merupakan kewajiban para bapak ibu adalah mengawasi anak-anak mereka, apa yang mereka baca melalui internet terutama dengan menyebarnya penggunaan smart phone.
Dan diantaranya ; menghindari tindakan kekerasan, menyakiti mereka dengan ucapan dan tindakan seperti pemukulan, karena Nabi Saw bukanlah diutus sebagai orang yang berlaku kasar baik kata dan tindakan, sabdanya :
إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقاً
"Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya" (Bukhari 3559)
 
Dan kami bersyukur kepada Allah yang telah memberikan taufiq kepada para pemimpin kami dengan menetapkan undang-undang dan aturan yang melindungi hak-hak anak dan menjamin perlindungan mereka dengan baik, melalui undang-undang anak yang terkenal dengan undang-undang wadimah, undang-undang tersebut mencakup hak-hak keluarga, kesehatan, pendidikan, kebudayaan dan hak sosial anak, disamping hak perlindungan anak, dan penyediaan cara-cara yang layak untuk itu, dan mengecam semua bentuk kekerasan terhadap anak.
 
Ya Allah berilah pertolongan kepada kami untuk merawat anak-anak kami dengan baik, dan anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan berilah taufiq kepada kami untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami untuk ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ صلى الله عليه وسلم أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.
 
Khutbah Kedua
الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنا محمَّداً عبدُهُ ورسولُهُ، اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطيبينَ الطاهرينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah dan ketahuilah bahwa diantara dasar-dasar pendidikan yang harus kita lalui dalam pendidikan anak-anak kita adalah mengawasi semua urusannya sendiri dan tidak mengandalkan sepenuhnya pada orang lain, dan hendaknya selalu menanamkan nilai-nilai baik, etika, adat istiadat dan kebiasaan asli kita, kita didik mereka memberi, menghargai tamu, menghormati orang tua, berkata baik, menolong orang yang membutuhkan, kasih sayang dan toleran, mencintai negeri ini dan pemimpinnya, karena semua itu merupakan nilai-nilai islam yang telah diwariskan turun temurun oleh masyarakat kita sejak para bapak dan pendahulu kita, semua hal diatas dapat memperkuat tali cinta kasih antar sesama, Khadijah RA berkata pada Rasulullah Saw ;
وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَداً، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِى الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ
“Demi Allah, Allah tidak akan membuatmu sedih selamanya, karena engkau benar-benar seorang yang suka menyambung tali silaturrahim, menanggung beban dan memberikan sesuatu pada orang yang tidak mampu, menjamu tamu dan memberikan bantuan pada orang yang ditimpa bencana” (Muttafaq ‘alaih)
 
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ  تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([2]) وقالَ رَسُولُ اللَّهِ r:« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([3])
اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وقَلْبًا خاشعاً، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا واسعاً، وَعَمَلاً صالحاً مُتَقَبَّلاً، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، اللَّهُمَّ علِّمْنَا مَا ينفَعُنَا، وانفَعْنَا بِمَا علَّمْتَنَا، وزِدْنَا علماً، اللَّهُمَّ آتِ نفوسَنَا تقوَاهَا، وزَكِّهَا أَنْتَ خيرُ مَنْ زكَّاهَا، أنتَ وَلِيُّهَا ومولاَهَا، اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عاقبتَنَا فِي الأُمورِ كُلِّهَا، وأصْلِحْ لَنِا نياتِنَا، وبارِكْ لَنَا فِي أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاجْعَلْهم قُرَّةَ أَعْيُنٍ لنَا، اللَّهُمَّ اسقِنَا الغيثَ([4]) ولاَ تجعلْنَا مِنَ القانطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([5]).
 
 


([1]الحشر :18.
([2]الأحزاب : 56 .
([3]) مسلم : 384.
([4]) من السنة رفع اليدين في الدعاء لطلب الغيث.
([5]العنكبوت :45.