Sunday, November 30, 2025

Pengajian KMMI Bersama Ustad Adi Hidayat di KBRI Abu Dhabi, Tanggal 20 Nopember 2015

Info dan Niat

Pengajian akan dimulai pada pukul 2:30 siang nanti, begitu salah seorang rekanku memberitau aku ketika sedang istirahat dari main tennis pagi di Zayed Sport City, Abu Dabi, suatu komplek olahraga terbesar di Persatuan Emirates Arab. Aku langsung menyanggahnya dengan mengatakan, bukankah biasanya pengajian setelah sholat Asyar selesai?.Lalu di dalam hatiku  mengiyakan sendiri karena rekanku itu adalah salah seorang yang mengurusi acara pengajian kali ini.

Aku harap bisa datang tepat waktu, maka aku harus berangkat pukul 2 siang saja. 30 menit perjalanan dari rumahku di Al  Reef Down Town ke kantor KBRI yang terletak di daerah rumah-rumah penduduk lokal sekitar persimpangan Jl. Khaleej Al-arabi dan Jl. Immigrasi, merupakan waktu yang cukup, tapi biasanya pada hari Jum'at jalan akan sepi karena hari libur weekend.

 Pengajian Yang Pasti Menarik

Rasa letih karena bermain tennis tadi pagi masih terasa sampai aku selesai sholat Jum'at. Aku mencoba mengurangi lelah dengan tidur siang. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 1:30 siang ketika aku selesai mengirim email tugas kantorku setelah sholat Jum'at, aku pikir sisa waktu 30 menit cukup untuk tidur mengurangi rasa letih akibat tennis pagi tadi.  

Istriku membangunkan aku ketika alarem HPku berbunyi. Aku sebenarnya terbangun mendengar deringan bunyi HPku tetapi aku biarkan saja. Aku mengeset alarem HPku berbunyi pada pukul 2 siang sebelum aku tidur tadi.

Rencana hanya tinggal rencana karena aku baru bisa keluar rumah pada pukul 2:30 siang. Maka seperti dugaanku, setelah 30 menitan aku baru sampai di kantor KBRI di sekitar Jl. Khaleej Alarabi, dan jam tanganku sudah menunjukkan pukul 3 siang kurang dari 1 menit ketika mobilku memauki area parkir dekat KBRI. 

Area parkir nampak penuh ketika aku tiba, ini menandakan yang sedang menghadiri acara pengajian kali ini tentu banyak sekali. Keadaan seperti ini tidak seperti pengajian biasanya. Benar saja seperti apa yang sudah aku duga, dari tumpukan sandal yang ada di depan pintu ruangan ruangan kantor KBRI yang dipakai untuk acara pengajian ini benar, ruangan itu ternyata sudah dipenuhi oleh para jamaah. 

Ruangan Majelis dibagi menjadi dua bagian pembagiannya hanya dengan pembatas kain biru tua yang disangga pada ujung-ujungnya oleh tonggak portabel logam besi putih setinggi sekitar 1(satu) meter. Apabila dilihat dari pintu masuk, di bagian sebelah kanan untuk jamaah laki-laki dan yang di sebelah kiri untuk jamaah perempuan. 

Ketika aku masuk ruangan sebelum mencari tempat duduk mataku menatap pada seseorang yang belum aku kenal, Pak Ustad yang sedang memberi ceramah, dia berpeci hitam dengan kemeja batik lengan panjang membuatku hampir menduga bahwa dia bukanlah Ustad yang sedang berceramah. Sambil berdiri dia menjelaskan materi yang disampaikan. Proyector di sebelah kanannya masih terlihat terang tulisannya walaupun lampu ruangan tidak dimatikan. Dan papan tulis putih di sebelah kiri dia berdiri di atas kursi disandarkan pada sandaran kursi berwarna merah jambu. Lalu aku tengok dari depan sampai posisiku yang masih sedang berdiri di tempat paling belakang,  majelis dipenuhi oleh pengunjung penajian. Tanpa pikir panjang lalu aku putuskan untuk duduk di tempatku di mana saat ini aku sedang berdiri. "Percuma", demikian pikiranku mengatakan tentang ketidak mungkinan untuk mendapatkan tempat kosong di depanku. Lalu aku duduk di depan ruang pengajian.

Menikmati Ceramah

Aku masih belum searah dengan apa yang sedang diterangkan oleh P. Ustad, maksudku si Penceramah. Semakin lama aku semakin tenggelam keasyikan mendengarkan ceramah yang disampaikan sampai akhirnya aku baru sadar bahwa materi yang disampaikan dilakukan dengan pengetahuan yang cukup dalam dengan mengambil referensi Al Qur'an dan Hadist serta pendapat para ulama besar terdahulu, saat itu aku menyadarinya, maka aku putuskan bahwa ceramah ini sebaiknya aku catat.

Tidak mengapa walaupun terlambat mencatatnya daripada tidak samasekali. Yang sedang aku lihat adalah penjelasan Surat Abaqarah ayat 168 dengan terjemahan seperti berikut (diambil dari internet):

 "Wahai sekalian manusia! makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata".

Materi (baca benda) itu harus dicari, harus ada usaha untuk mendapatkannya, demikian awal penjelasan yang mulai aku catat. Sesuatu yang tidak ada aqidahnya untuk mendapatkannya harus dicari, materi tidak ada aqidahnya harus dicari harus ada usaha untuk mendapatkannya. Lalu surat Albaqarah ayat 29:

"Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu, kemudian dia menuju ke langit, lalu menyempurnakannya menjadi tujuh langit".

"Maa fil ardhi", artinya semuanya yang ada di bumi ini. "Mimma" artinya, sebagian rejeki saja. Harus legal, legal itu berlaku umum. Maka carilah yang terbaik, toyyiban, karena hukumnya dengan materi bukan aqidah.

Yang kedua, surat Albaqarah 172:

"Hai orang-orang yan beriman, makanlah diantara rezei yang baik-baik yang telah Kami berikan kepamu, dan bersyukurlah kepada Allah, jika kepada-Nya-lah kamu menyembah"

 h-Nya untuk mereka yang beriman, "kulu mintoyyibati maa razaknakum", mengapa Allah SWT menyebut "halal" untuk yang umum, tapi untuk iman "halal" tidak disebutkan. Karena pada iman otomatis mencari yang halal. Tidak ada orang mencuri saat mencuri ada iman di hatinya. "Marazaknaakum" artinya Allah SWT yang mendekatkan rizki-Nya. Jika anda susah cari rizki mngkin ada masalah dengan iman anda, "kulu mintoyyiban" singular, "kulu tayyibaat" jamak takwa lawan dari nafsu ada 115 kali masing-masing di dalam Alquran. Iman naik nafsu turun dan sebaliknya. 

Kisah nyata: Kalau seorang pemuda yang mempunyai  kebiasaan buruk, lalu tobat, maka dianjurkan pindah ke Syam. Di Syam bertemu guru lalu diterima sebagai muridnya. Hari pertama biasa saja, kedua biasa saja, hari ketiga setan mulai datang ke pemuda itu. Lalu setan bilang; "Hei kamu sudah 3 hari tidak makan, gurumu bertahun-tahun tidak begitu. Lalu diminta berbakti kepada gurunya untuk carikan makan, lalu cari-cari makan. Ketika dimakan, maka hatinya menolak. Lalu ketika kembali didapati seorang wanita, konsultasi, lalu dikawinkan. lalu pulanglah, ketika sampai rumah...

Ketiga. Belum minta sudah diberi. 

Alqur'an surat Alaraf ayat :96:

"Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang mereka kerjakan"

Sekalipun semuanya beriman dan bertaqwa, maka akan dibukakan semuanya barakah, Kalau unttuk yang beriman lihat Albaqarah ayat 5: 

"Mereka itulah yang tetap mendapatkan petunjuk dari Tuhannya, dan merekalah orang-orang yang beruntung"

Atau apabila ada masalah yang belum terselesaikan, maka cobalah periksa  taqwanya. Cobalah periksa para nabi. Nabi Musa yang dihadapinya adalah Fir'oun. Fir'oun apabila melihat rambutnya tidak nampak bagus, maka dipisahin sekalian kepalanya. Ronbisrohli

Nabi muhammad belum minta sudah mendapatkannya, Aku bukakan dadamu, "alam nasrah laka sadrak". Dlm bahasa Arab, jujur tapi tidak sabar "mahmud", sabar dlsb, disebut "muhammad". Ketika Nabi SAW dilempar batu, malaikat Jibril eminta doa utuk melaknati mereka yangmelempar Nabi SAW, maka Nabi bilang jangan mereka tidak tau saja. "Ahmad", karena Nabi SAW sudah dijamin akan masuk surga tetapi dia SAW bersyukur, maka sholat tahajjud.

Syukur.

Jabal Kubis adalah tempat istana raja. Nabi musa, kotor, baju dirobek, nabi dicuci, lebih mudah. 

Tanya-jawab:

 Alaraf 72:

"Maka kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman. Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah?"

Bayi semua yang ada di bumi sudah dituliskan 50 ribu sebelum diturunkan. Majas kiasan, hakikat is nyata. Usia 4 bulan rizki diberikan. "Ajal"  batas usia yang ditetapkan, 7:34:

"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu: maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya"

Usia rata-rata antara 63 sd 70 tahun, Umur adalah sesuatu yang melahirkan manfaat, maka makmurkanlah masjid.  Katakan yang baik atau diam. Kataksn pada pria yang beriman, mata melihat yang bermanfaat. Lihat iklan sampo, apa lihat samponya atau orangnya. Ujung tangan sampai dengan ujung kaki, apabla anda sudah diberikan nikmat, umur.

Apa itu syukur?, contoh, diberi pisang, maka berterima kasih. Dalam bahasa Arab disebut sakarah. Lalu kita bilang kembali sama-sama. Tetapi pada AllahSWT tidak berhenti di situ. Ada ayatnya. Lain zakartu... akan kami tambah nikmatnya. Klok Allah Anaam 610:

"Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)"

Menjadi sepuluh kali lipat nikmatnya untuk kita. 

Bagaimana cara bersyukur?. Syukur itu tidak diungkapkan, syukur ada di qalbu dan hati, karena ungkapan adalah sesuai fungsi. Dikasih mata digunakan untuk yang baik-baik, dikasih mulut untuk mengatakan yang baik-baik, dikasih telinga untuk mendengarkan yang baik-baik, dikasih usia dipakai untuk yang bermanfaat. Musa buta dalam 6 tahun bisa hafal quran. Dia berdoa,"Ya Allah biarkan buta sampai hari kiamat, jika aku harus dihukum, maka ringankanlah hukumanku dengan hafalan ini. Berikanlah manfaat dan keberkahan karenanya.

Apa benar zakat ini, sadaqah?, Tentang zakat lihat Alquran surat 9:103:

"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan doalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Dan tentang zakat pada surat Attaubah ayat 60:

"Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." 

Dan tentang infaq sesuai surat Albaqarah ayat 215:

"Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan (dan membutuhkan pertolongan).” Kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya".

Sadagah adalah zakat dan infaq, sadagah bisa materi dan bukan materi. Jadi sifatnya umum.

1=7x700 untuuk alhitat, sedangkan untuk dunianya 10x lipat, itu bukan berarti materi, yang penting adalah berupa rizki.

Segala nikmat yang diterima harus disuykuri, janganlah menjadi kafir. Kufur tethalang dari nikmat dan rasa terimakasih. Kafir adalah orangnya, kuffar, adalah perilaku yang merendahkan Islam, dan ini perlu dipertahankan dengan membela Islam.

Sunday, November 09, 2025

KHOTBAH JUM'AT 24/1/2025: SEBUAH PERJALANAN KEJUJURAN DAN KEBENARAN

Khotbah Pertama

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah. 

Marilah kita senantiasa berupaya meningkatkan rasa syukur kita kepada Allah SWT dengan senantiasa istiqamah dalam takwa, dalam melaksanakan segala perintah Allah dan sunnah-sunah Nabi-Nya, menjauhi segala larangan-Nya dan tidak berbuat maksiat dan durhaka kepada-Nya. Dan marilah kita selalu tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebaik-baik takwa. 

Jama’ah Kaum Muslimin Rahimakumullah. 

Sebuah peringatan peristiwa besar sedang menghampiri kita, dengan berbagai kejadian dan makna-maknanya yang agung. Peristiwa yang mengandung banyak pesan dan nilai yang luhur. 

 Peristiwa apakah itu? 

Sesungguhnya peristiwa itu adalah peristiwa perjalanan Isra' dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW, sebuah perjalanan kebenaran dan keimanan. Allah SWT mengabadikannya dalam surat An-Najm, di mana Allah SWT bersumpah atas kejujuran Nabi-Nya.

Demi bintang ketika terbenam kawanmu (Nabi Muhammad) tidak sesat, tidak keliru, dan tidak pula berucap (tentang Al-Qur’an dan penjelasannya) berdasarkan hawa nafsu(-nya) Ia (Al-Qur’an itu) tidak lain, kecuali wahyu yang disampaikan (kepadanya).” (QS. An Najm : 1-4) 

Tidaklah Nabi Muhammad SAW mengucapkan sesuatu karena hawa nafsunya, akan tetapi ia menyampaikan apa yang diperintahkan kepadanya, dan ia menyampaikan risalah kepada manusia dengan sempurna, tanpa ditambah dan dikurangi sedikit pun. 

Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.” (QS. An Najm : 11) 

 Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah. 

Dalam peristiwa itu, dikisahkan bahwa malaikat Jibril AS, sang pembawa wahyu datang untuk menemani ciptaan Allah SWT yang paling mulia, Nabi Muhammad SAW untuk diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho, kemudian menuju ke langit-langit yang tinggi untuk menemui Tuhannya. Lalu suatu keajaiban yang sangat luar biasa terjadi, di mana akal pikiran tidak mampu memahami dan menyadari kebenarannya. 

Ketika dalam perjalanan Mi’raj, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan saudara-saudaranya. Beliau SAW bertemu bapaknya umat manusia, Adam AS di langit, lalu Nabi SAW mendatanginya dan memberinya salam. Kemudian Jibril AS membawa Nabi Muhammad SAW ke langit satu demi satu, lalu mereka berdua bertemu dengan Nabi Yusuf  AS, Nabi Isa  AS, Nabi Yahya AS, Nabi Idris AS, Nabi Harun MAS, dan Nabi Musa AS, serta Nabi Ibrahim ‘Alaihimussalam. Setelah itu, beliau SAW naik hingga mencapai suatu tempat yang belum pernah ada makhluk yang menginjakkan kakinya sebelum atau sesudahnya yaitu di Sidratul Muntaha, di mana tempat tersebut terdapat pohon yang sangat besar dan di dekatnya ada Surga Ma’wa, dan di situlah pengetahuan makhluk tentangnya (Sidratul Muntaha) berakhir dan tiada satupun di antara makhluk Allah SWT yang mampu menggambarkan keindahannya. 

Nabi Muhammad SAW telah sampai ke tempat tertinggi, hingga ia mendekati Tuhannya Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia. Lalu apa yang telah diwahyukan kepadanya? Sungguh yang telah diwahyukan kepadanya di tempat itu adalah shalat, suatu perkara yang agung dan merupakan pondasi agama yang kokoh. 

Jama’ah Kaum Muslimin Rahimakumullah. 

Perjalanan tersebut adalah perjalanan kejujuran (kebenaran), yang diartikan oleh orang-orang Arab sebagai kesesuaian berita dengan kenyataan, sebagaimana perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, lalu mengabarkan kepada kaumnya tentang perjalanan Isra' dan Mi’raj tersebut. Rasulullah SAW bersabda: 

Ketika perjalanan malamku (isra') telah sampai di Mekkah, aku merasa takut dengan keadaanku dan aku tahu bahwa orang-orang akan mengingkariku.” (HR. Ahmad) 

Ketika Nabi Muhammad SAW menceritakan perjalanan Isra' dan Mi’raj kepada kaumnya, sebagian dari mereka justru mengingkarinya, meskipun mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui kebenarannya dan telah tinggal bersamanya selama lebih dari lima puluh tahun, bahkan mereka telah menjuluki Nabi Muhammad SAW sebagai As Shadiq (orang yang jujur) dan dapat dipercaya. Lalu mereka mengatakan tentang Nabi Muhammad SAW dengan hal-hal yang tidak pantas, padahal beliau SAW adalah pemilik kedudukan yang mulia dan akhlak yang agung. Akan tetapi Allah SWT bersaksi tentang kebenaran Nabi Muhammad SAW:ُ

“….Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah SWT?” (QS. An Nisa : 87) 

 Allah Swt berfirman: 

dan dia tidak pula berucap (tentang Al-Qur’an dan penjelasannya) berdasarkan hawa nafsu(-nya).” (QS. An Najm : 3) 

Sesungguhnya Rasulullah SAW adalah orang yang jujur dan benar, yang diperintahkan Allah SWT agar menaati perintah-Nya, sebagaimana telah diriwayatkan kebenaran dari-Nya. 

Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul (Nabi Muhammad) apabila dia menyerumu pada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu….” (QS. Al Anfal : 24) 

Beliau SAW telah bersumpah atas apa yang diucapkannya adalah kebenaran dan keyakinan. 

Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada yang keluar ucapanku kecuali kebenaran.” (HR. Ahmad) 

Jama’ah Kaum Muslimin Rahimakumullah. 

Sesungguhnya Allah SWT adalah Dzat yang Maha Jujur, yang mengajarkan kita tentang kejujuran dan menjadikan kejujuran sebagai syarat kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah SAW bersabda:  ْ

Jika kalian suka untuk dicintai Allah dan Rasul-Nya, maka tunaikan amanah yang dipercayakan pada kalian, dan jujurlah ketika bicara.” (Shahihul Jami’). 

 Demikian juga para nabi dan rasul-Nya tak terkecuali Nabi Muhammad SAW adalah orang-orang yang jujur, sebagaimana yang dikatakan para sahabat yang melihatnya, seperti Abdullah bin Salam RA berkata:  

“Ketika aku melihat wajahnya, aku tahu bahwa wajahnya bukanlah wajah seorang pembohong.” 

Nabi Muhammad SAW adalah orang yang diutus Allah SWTuntuk menyempurnakan para rasul-Nya, dan menjadikan mereka . 

….mereka lisan yang baik lagi mulia.” (QS. Maryam : 50) 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah. 

Ketika orang-orang yang mengingkari Nabi Muhammad SAW berbondong-bondong mendatangi Abu Bakar Ash Shiddiq RA dan mereka berkata: 

"Apakah kamu memiliki seorang sahabat yang mengaku dibawa dalam perjalanan malam (isra). Lalu Abu Bakar ra menjawab: Apakah dia mengatakan hal itu? Mereka menjawab: Ya. Lalu Abu Bakar membenarkannya sekuat gunung yang kokoh tentang perjalanan malam (isra) Nabi Muhammad SAW: “Andai ia memang mengatakan seperti itu sungguh ia benar. Ya, bahkan aku membenarkannya yang lebih jauh dari itu. Aku percaya tentang wahyu langit yang turun pagi dan petang.” ‘

Ibaadallah. 

Allah SWT memuji Abu Bakar Ash Shiddiq atas keyakinannya kepada nabi-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya: 

Orang yang membawa kebenaran (Nabi Muhammad) dan yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zumar : 33) 

 Jama’ah Kaum Muslimin Rahimakumullah.

 Orang yang datang dengan kebenaran adalah Rasulullah SAW dan orang yang membenarkannya adalah Abu Bakar Ash Shiddiq RA. Begitu pula para sahabat Rasulullah SAW  yang lainnya, mereka mempercayai apa yang dikatakan Rasulullah SAW, di antaranya Ibnu Mas’ud RA telah diriwayatkan dari Rasulullah SAW dan berkata:

Rasulullah saw telah bercerita kepada kami, dan beliau adalah orang yang benar lagi dibenarkan.” (HR. Bukhari)ُ 

Maka hendaklah kita percaya terhadap apa saja yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW dan kita mengimani akan hal itu. Hendaklah kita menghormati dan memuliakan Rasulullah SAW, serta mencintai dan mengagungkannya. Hendaklah kita dapat memahami sunnah-sunnahnya dan mengamalkannya, karena mencintai sunnahnya merupakan bagian dari cinta kepadanya. Dan membenarkannya merupakan bagian dari membenarkan risalahnya. 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.ُ 

Mari kita memohon kepada Allah SWT, semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang jujur dan diberikan kemudahan dalam mengamalkan sunnah Rasulullah SAW. Ya Allah SWT, anugerahkanlah kami semua kemudahan untuk patuh kepada-Mu, patuh kepada Rasul-Mu Muhammad SAW dan patuh kepada orang yang Engkau perintahkan untuk kami patuhi. Sebagaimana Firman-Mu:

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu”. (QS. An Nisa ayat 59) 

Khotbah Kedua:

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah. 

Perjalanan Isra' dan Mi’raj memiliki makna tentang kejujuran dan kebenaran. Betapa indahnya sifat kejujuran jika kita mengamalkannya dalam kehidupan. Jiwa kita akan menjadi bersih dan hati kita akan tenteram. Rasulullah SAW bersabda:

Sesungguhnya kejujuran itu menenteramkan.” (HR. At Tirmidzi). 

Maka, marilah kita jadikan perjalanan Isra' dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW sebagai muraja’ah bagi kita dalam berkata dan perilaku jujur. Dikisahkan bahwa, ketika Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan Mi’raj-nya, beliau SAW  melihat seorang laki-laki dengan keadaan antara tulang rahang, lubang hidung dan matanya robek hingga ke punggung belakangnya. Lalu beliau SAW bertanya tentangnya. Dan dikatakan bahwa:

Dia adalah laki-laki yang meninggalkan rumahnya dan menyebarkan kebohongan secara luas.” (HR. Bukhari) ‘

Ibaadallah. 

Banyak berbohong itu akan membuat pelakunya menyesal dan kebohongan itu akan membuka pintu desas-desus yang menyebabkan berbagai masalah bagi pelakunya. Maka hendaklah kita berkata jujur, karena kejujuran akan membawa keberuntungan. Allah SWT telah menyebut laki-laki dan perempuan yang jujur, lalu menjanjikan surga bagi mereka: 

“…. untuk mereka Allah telah menyiapkan ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab : 35) 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.ُ 

Demikian khotbah singkat yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi diri kami dan jama’ah sekalian. Semoga kita tetap di dalam golongan hamba-hamba Allah yang sholeh. 

Thursday, November 06, 2025

KHOTBAH JUM'AT 7 SEPT, 2025: GERHANA BULAN TERMASUK SALAH SATU TANDA KEBESARAN ALLAH SWT

Khotbah Pertama

Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan di bumi, semua tunduk kepada perintah-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada penutup para nabi, pemimpin para ahli ibadah, teladan orang-orang taat, Nabi kita Muhammad ﷺ, beserta keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga hari kiamat.

Amma ba’du, wahai kaum muslimin, sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا﴾ (الفرقان: 61)
Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang, dan Dia menjadikan juga padanya lampu (matahari) dan bulan yang bercahaya.

Maka renungkanlah, wahai manusia, apa yang diciptakan dan diatur oleh Rabb kalian. Semua itu agar kalian menyadari bahwa Dialah Pengatur segala sesuatu, yang Mengendalikan segala sesuatu, dan Mahakuasa atas segala sesuatu.

Dialah yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan.

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ﴾ (الأنبياء: 33)
Dan Dialah yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya beredar pada garis edarnya.”

Allah telah menjadikan bulan memiliki lintasan. Ia bersinar penuh pada malam purnama, lalu berangsur berkurang hingga kembali pada bentuk semula. Itu adalah tanda dari Sang Pencipta.

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ﴾ (يس: 39)
Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua.”

Maka ketahuilah, fenomena alam merupakan pelajaran dan peringatan. Termasuk di antaranya adalah peristiwa gerhana bulan, baik total maupun sebagian, yang terjadi ketika matahari, bumi, dan bulan berada pada satu garis lurus. Itu semua adalah tanda yang menarik perhatian manusia kepada kekuasaan Sang Pencipta, agar mereka bertambah dekat kepada-Nya, beribadah, bertakbir, dan mengagungkan-Nya.

Rasulullah ﷺ menegaskan hal ini. Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

خَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَخَرَجَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَى الْمَسْجِدِ، وَثَابَ النَّاسُ إِلَيْهِ، فَصَلَّى بِهِمْ رَكْعَتَيْنِ، فَانْجَلَتِ الشَّمْسُ، فَقَالَ: «إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، وَإِنَّهُمَا لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ، وَإِذَا كَانَ ذَاكَ فَصَلُّوا وَادْعُوا حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ» (رواه البخاري ومسلم)

"Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah ﷺ. Beliau pun keluar dengan menyeret selendangnya hingga masuk masjid. Manusia berkumpul di sekitarnya, lalu beliau shalat dua rakaat bersama mereka. Setelah itu matahari kembali terang. Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidaklah gerhana karena kematian seseorang. Maka apabila kalian melihatnya, dirikanlah shalat dan berdoalah hingga Allah menghilangkan dari kalian apa yang sedang terjadi.’”

Dalam riwayat lain disebutkan:

«فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَكَبِّرُوا، وَادْعُوا اللَّهَ، وَصَلُّوا، وَتَصَدَّقُوا»
"Apabila kalian melihatnya (gerhana), maka bertakbirlah, berdoalah kepada Allah, shalatlah, dan bersedekahlah.”

Maka Rasulullah ﷺ mensyariatkan bagi kita shalat gerhana, memperbanyak takbir, mengagungkan Allah, beristighfar, berzikir, berdoa dengan penuh harap, serta bersedekah dalam berbagai bentuk kebaikan, demi meraih keridaan-Nya.

Khotbah Kedua

Allahu Akbar kabīrā, walhamdulillāhi katsīrā.

Ya Allah, Engkaulah Rabb langit dan segala isinya, Rabb bumi dan segala isinya. Engkau berbuat sesuai dengan kehendak-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan Engkau mengatur dengan hikmah-Mu. Kami memohon segala kebaikan, yang segera maupun yang tertunda, yang kami ketahui maupun yang belum kami ketahui.

Ya Allah, lindungilah negeri Uni Emirat Arab ini, jagalah dengan pemeliharaan-Mu, dan naungilah dengan perhatian-Mu, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jagalah dengan penjagaan-Mu Presiden Negara kami, Syekh Muhammad bin Zayed, anugerahkan kepadanya taufik, kebijaksanaan, dan bimbingan. Limpahkan pula pertolongan-Mu kepada para pemimpin, gubernur, dan para penguasa UEA, juga kepada putra mahkota yang setia.

Ya Allah, rahmatilah Syekh Zayed, Syekh Rasyid, dan seluruh pemimpin UEA yang telah wafat. Masukkanlah mereka ke dalam surga-Mu yang luas dengan karunia-Mu. Anugerahkan pula rahmat dan ampunan-Mu kepada para syuhada bangsa ini.

اللَّهُمَّ آمِين.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, kepada keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya. Dan akhir doa kita adalah:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.