Saturday, January 04, 2020

TERLAMBATKAH KITA..?

UMUM

Aku jadi teringat apa yang diungkapkan oleh yang sekarang sudah menjadi mantan Menteri Pertahanan, Pak. Ryamizard ketika berkunjung ke Abu Dhabi tahun lalu. Beliau melakukan tatap muka dengan masyarakat Abu dhabi dan sekitarnya yang diprakarsai oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Abu Dhabi, tempatnya di Wisma Duta. Beliau mengatakan bahwa Indonesia tidak memiliki musuh. Negara tetangga tidak ada yang bermusuhan dengan Indonesia. Indonesia adalah negara cinta damai. Indonesia tidak ingin bermusuhan dengan siapapun dan siapapun tidak ingin bermusuhan dengan Indonesia. Beliau melannjutkan bahwa, beliau mendapatkan pujian dari banyak negara sampai Amerika Serikat sekali pun menyampaikan pujian ketika beliau menjelaskan bahwa Program Pertahanan Indonesia dititik beratkan pada keterlibatan Rakyat Semesta. Yaitu melatih masyarakat untuk msmakai senjata, sehingga ketika terjadi penyerangan, maka masa sudah siap untuk memakai senjata, masa akan dipersenjatai, sudah, tidak akan ada yang melawan kita. 

Ketika beliau selesai menjelaskan semua itu, kini tibalah giliran tanya-jawab. Dan aku pun diberi kesempatan. 

Sebenarnya di dalam pikiranku memberontak, marah mengatakan, mengapa orang seperti ini jadi Mentri Pertahanan. Orang sudah tua. Pensiunan tidak pernah masuk berita memberikan ceramah tentang pertahanan. Jalan sendiri saja sudah susah. Orang tidak punya konsep tentang pertahanan negara. Dan banyak lagi kata-kata yang ingin aku lontarkan karena program yang dijelaskan tadi aku pikir adalah program mundur ke belakang. Tetapi aku tetap harus menyimpan kemarahanku, kekecewaanku, apa lagi beliau seorang Menteri. Beliau adalah tamu Negara UAE. Beliau adalah orang yang sudah malang melintang di TNI, serta beliau adalah mantan seorang Jendral. 

Kini giliranku untuk bertanya dan mengungkapkan isi pikiran ku. Aku harus tetap namlak tentang,  emosiku terkendali. Apalagi ini di Wisma Duta. Begini Pak, demikian aku memulai. Apabila kita menganggap bahwa di sekitar atau tetangga kita itu adalah orang baik-baik, benar untuk apa kita harus memiliki senjata. Akan tetapi Indonesia adalah sebuah negara, negara besar lagi. Di bagian bumi yang lain banyak negara yang sengaja menciptakan permusuhan dengan tetangga mereka demi untuk memperkuat persenjataan mereka. Lihat Pakistan dan India, lihat Iran, lihat Israel dan lihat Korea Utara. Mereka menjadi kuat alat perang mereka karena mereka dihantui oleh musuh-musuh mereka yang siap datang kapan saja. Demikian pula kita. Kita jangan dininabobokkan oleh lingkungan, karena merasa kita tidak memiliki ancaman disebabkan kita merasa tidak ada musuh lau kita tidak mengembangkan senjata kita sendiri secara serius. Inilah poinnya. Kalau tidak ada musuh kita harus menciptakan musuh virtual agar kita bersemangat untuk memiliki senjata yang handal. Agar kita mengembangkan senjata kita sendiri untuk kepentingan pertahanan negara. Lupakan pujian orang luar dengan program mempersenjatai masa. Mereka itu memuji tetapi dalam hati mereka tertawa. Ini hebat kata mereka, kita sudah dapat dikalahkan tanpa harus mereka datang menyerang. Dengan demikian dipastikan bahwa mereka akan memuji kita. Yang perlu dibanggakan adalah, apabila program kita ditentang oleh mereka. Seperti negara-negara yang disebutkan di atas. Setiap program yang mereka buat akan di tentang oleh siapapun yang merasa tersaingi, karena mereka membuat cemas yang menentang. Jadi, kita harus dan wajib masuk ke dalam jalur perlombaan persenjataan. Di utara negara kita ada China, kanan ada Australia, dan kiri ada Malaisia.

Setelah acara tatap muka selesai, salah seorang bekas teman kuliah dan bekas rekan kerja di Surabaya dulu menyatakan, musuh virtual, ya..?, sambil melihat dengan lirikannya karena mukanya tidak menoleh ke arahku.

TERPERANJAT

Seperti yang ramai di berita saat ini. Kapal--kapal penangkap ikan China dengan pengawalan Coat Guard mereka telah dengan sengaja memasuki wilayah perairan ZEE Indonesia di daerah laut kepulauan Natuna, Laut China Selatan. Kita bisanya hanya mengusir mereka secara lunak. Saya katakan lunak karena menurut video yang beredar satuan Coast Guard kita meminta mereka untuk meninggalkan perairan kita melalui radio. Permintaannya tidak dibarengi dengan ancaman apabila tidak segera meninggalkan perairan kita. Bukan lagi penangkapan. Apalagi seperti yang pernah dilakukan sebelum ini terhadap kapal-kapal penangkap ikan setelah melalui pengadilan ditenggelamkan. 

Banyak reaksi yang telah dilontarkan di dalam negeri. Sampai-sampai Menlu Ibu Retno menyatakan bahwa kita harus bersikap tegas. Mengko Maritim, Pak Luhut mengakui bahwa kita memang kekuranganya kapal untuk melakukan patroli di Laut China Selatan daerah Kepulauan Natuna, laut yang cukup Luas. Artinya Pak Luhut sudah mengakui bahwa ada kapal-kapal asing yang memang telah memasuki perairan Natuna akan tetapi kita tidak bisa berbuat banyak dikarenakan kapal patroli dan insfrastruktur lainnya kurang memadai. Dan beliau mengusulkan untuk menambah lebih banyak kapal patroli dan kapal perang. 

Menhan saat ini P. Prabowo bahkan sekolah sudah menyerah melalui pernyataannya menyatakan bahwa, China adalah negara sahabat, maka kita harus cool saja. Ini menandakan bahwa, orang tertinggi di Kementrian Pertahanan seolah-olah mengatakan, biar saja kapal ikan China masuk perairan kita, melanggar hukum laut kita, toh mereka negara sahabat.  Ini adalah suatu ungkapan yang mencerminkan suatu ketidak berdayaan kita. Seandainya kondisinya dibalik. Kapal nelayan kita yang masuk ke teritorial laut milik China.

Tidak kalah garangnya adalah reaksi dari Wakil Komisi 1 DPR RI, kita harus tempur dengan diplomasi langkah terbaik dengan China. Demikian cetusnya. Ini juga telah menunjukkan ke tidak berdayaan kita sebagai suatu negara Besar dalam menghadapi pelanggaran lautnya oleh negara besar lainnya seperti China. Mereka semua sadar bahwa memang kita kurang memiliki kemampuan untuk paling tidak mempertahankan teritorial laut dari China. Tak seorangpun menyangka bahwa China akan menggoda Indonesia karena selama ini China merupaakan sahabat dekat Indonesia. Peristiwa ini membuat banyak orang terkejut dibuatnya.

RENCANA PERTAHANAN MILITER BAGAIMANA KE DEPAN?

Peristiwa masuknya kapal ikan dan klaim China atas Laut China Selatan yang masuk sampai ke dalam wilayah Indonesia bagaikan tamparan  tanpa sebab. Karena Selama ini hal demikian tidak pernah terjadi. Adanya klaim hanya sampai wilayah negara tetangga seperti Philipina, Vietnam dan lainnya. Berkaca pada peristiwa itu bagi IIndonesia  seharusnya menjadi suatu pelajaran yang sangat berharga. Yaitu mulai memikirkan strategi untuk memperbaiki pertahanan secara sungguh-sungguh. Modernisasi dengan mengandalkan sumberdaya dalam negri merupakan opsi yang wajib ditingkatkan. Apabila saat ini misalnya sudah ada, maka Pemerintah harus mulai merubah strateginya, sehingga pengembangan peralatan militer kita dapat lebih ditingkatkan. Terutama untuk memproduksi sendiri. Indonesia sebagai negara besar yang sudah merdeka hampir bersamaan waktunya dengan India, Pakistan,  Korea Selatan dan Korea Utara seharusnya setara dengan kemampuan mereka dalam teknologi perangnya. Ancaman dari manapun terutama dari negara tetangga jangan sampai diabaikan apapun alasannya. Mengembangkan teknologi perang merupakan suatu keharusan dan segera ditingkatkan apa yang sudah ada. Fokusnya bukan lagi untuk kebutuhan dijual lagi, tetapi untuk dipakai sendiri. 

Ada semacam pendapat baku yang beredar bahwa, kemajuan dan kekuatan ekonomi suatu negara tidak akan kuat apabila pertahanan  negara tersebut lemah. Katakanlah, China tetap ngotot dengan klaimnya dan mulai menempatkan angkatan perangnya di perairan kita yang mereka klaim. Dan Indonesia tidak bisa berbuat banyak. artinya teritorialnya sekarang diakupasi china. Tentu hal ini akan mengurangi kepercayaan investor asing terhadap Indonesia. Bahkan mungkin investor yang adapun akan mulai menarik diri juga.

Jadi, kita harus melupakan program untuk mempersenjatai penduduk, lebih baik dananya dipakai untuk mengembangkan teknologi perang. Ini akan berakibat menjadikan negara lain akan lebih segan, bahkan tidak akan melakukan gangguan walu negara China sekalipun.

END

Medio Abu Dhabi, 4 Januari, 2020

Saturday, August 11, 2018

POLEMIK S-U DAN M-A

UMUM

Jauh hari sebelum Pilpres 2019 dimulai dengan mulai masuknya para kandidat yang akan bertarung  ke renah Komisi Pemilihan Umum, KPU secara formal, genderangnya sudah nyaring berbunyi, genderang yang ditabuh oleh pihak-pihak yang sudah jauh-jauh yakin bahwa merekalah yang akan menjadi calon di  Pilpres ini. Sejalan dengan waktu semakin mendekat dimulainya rangkaian kegiatan Pilpres 2019, mereka seakan menjadi dua maskot atau maestro yang tidak pernah jeda dari pemberitaan, bahkan pebicaraan di Medsos, baik itu di Twitter, Facebook dan WatsApp ataupun berita online lainnya. Ini yang membuat massa sudah tidak  lagi mencari dan melihat tokoh alternatip lain untuk diajukan sebagai kandidat Calon Presiden (Capres) untuk Pilpres 2019 mendatang, walaupun ada beberapa nama bermunculan, akan tetapi kemunculan pemberitaan tentang nama mereka tidak lebih lama dari usia jagung di talun.

Kondisi di atas membuat massa lebih tetarik untuk mencari dan mengetahui siapa Calon Wakil  Presiden (Cawapres) dari dua maskot yang sudah dinobatkan sebagai Capres itu. Ada banyak daftar yang digadang oleh publik baik individu ataupun organisasi, baik itu berdasarkan hasil analisa masing-masing ataupun dari hasil simulasi  oleh lembaga survei. Mulai dari bekas Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, KPK sampai dengan Ketua Front Pembebasan Islam, FPI. Dari mantan pejabat sampai dengan pejabat aktip. Dari orang biasa sampai dengan ulama. Dari bekas penegak hukum sampai dengan bekas koruptor. Dari masyarakat sipil sampai dengan bekas TNI. Pokoknya hampir semua latar belakang terwakili. Namun nama-nama itu tidak pernah dipilih sampai sehari sebelum pendaftaran Capres-Cawapres ditutup oleh KPU.

MEMBANGUN KOALISI

Pilpres tentu tidak lepas dari tarik ulur partai-partai untuk  membangun koalisi,  tidak lepas dari pengalangan dan pelobian untuk koalisi para Partai. Ini sangat diperlukan selain untuk menjaring pemilih yang lebih banyak namun juga untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk mengusung calon, pengusung harus memiliki minimum suara 20% dari hasil Pemilu yang lalu. Dari data yang ada, hanya PDIP yang berhasil mendapatkan suara lebih dari 20%, sedangkan yang lain semuanya dibawah 20%.  Hal inilah yang menyebabkan berkoalisi itu merupakan suatu keharusan. Kalau tidak, hanya PDIP yang dapat memenuhi syarat untuk mendaftarkan calon untuk Pilpres 2019 ini.

Sejak dini sudah dapat diprediksi kalau bukan dapat dikatakan diketahui bahwa,  Partai apa akan berkoalisi dengan Capres yang mana, walaupun ada beberapa Partai yang masih belum menentukan sikap tentang koalisi arah dukungan mereka, akan tetapi, dari statemen pengurusPartai-partai itu mudah untuk menebak tentang arah dukungan mereka. Dari sini sejak awal sebenarnya massa telah secara tidak sadar dibagi menjadi dua kubu, kubu kanan dan kubu kiri, atau depan dan belakang, atau kubu atas dan bawah, atau apalah terserah pembaca. Dua kubu itu saling berhadap-hadapan, pendukung mereka saling memuji jago-jago mereka dan saling merendahkan jago lawan. Para pendukung masing-masing sama-sama fanatiknya. Jangankan masih kelihatan hidup bebas, di dalam penjarapun misalnya, masih akan tetap di puji kalu dia adalah orang yang didukung.  Atau jangankan di dalam kurungan penjara,  hidup bebas di luar penjarapun akan tetap dibenci kalau sudah menjadi lawan. Kuatnya, baca kefanatikan dukungan terhadap Capres mereka bisa dikatakan sama kalau tidak melebihi kefanatikan terhadap agama yang mereka anut, hanya bentuknya saja lain.

Dikarenakan kefanatikan yang sudah semacam mendarah-daging sampai-sampai lupa bahwa seorang pemimpin suatu Negara itu seharusnya dihormati, bukan malah dilecehkan dengan meme-meme yang tidak menunjukkan rasa hormat, apalagi bagi yang bukan jadi pemimpin tertinggi Negara, tentu ujaran kebencian terhadapnya tidak kalah serunya. Banyak orang yang sudah lupa bahwa, politik itu adalah dapat menyeret pelakunya untuk berlaku kotor baik secara individu ataupun secara bersamaan. Orang politikus menyebut perilaku mengadumassa itu adalah sesuatu perbuatan yang wajar karena politik itu dinamis. Bahkan sampai ada hastag #2019GantiPresiden yang menggambarkan bahwa Presiden yang akan berkompetisi pada Pilpres 2019 sudah diminta untuk diganti padahal kampanye formal belum dimulai.

Bagi orang awam akan berpendapat, bahwa kalau keributan di media sosial isinya kebanyakaan hal-hal yang saling menghujat dan sejenisnya, berarti mayoritas penduduk itu memiliki karakter yang sama. Demikian pula sebaliknya. Atau, Calon yang mereka dukung tidak memiliki program yang dapat ditawarkan kecuali mencari kejelekan atau menjelekkan lawan politiknya.

Kembali ke topik koalisi, maka semua calon kandidat mulai merintis untuk membangun koalisi. Dari pihak petahana, perjuangan untuk menggalang koalisi lebih tenang bahkan mudah dibandingkan dengan yang akan melawannya di Pilpres nanti. Ini karena di dalam Pemerintahan petahana anggota mentri-mentrinya ada dari anggota partai.  Jelas dari sejak awal sudah dapat diprediksi siapa yang akan mendukung siapa. PDI-P, Nasdem, PPP, PKB, Hanura, Perindo, PSI, dan PKPI menjadi satu koalisi di pihak petahana, sedangkan Partai-parta sisanya (Gerindera, PKS, PAN, PD dan PBB) masih terus menjalin komunikasi tentang anggota koalisinya, walaupun Partai Gerindera dan PKS sudah saling mengikat untuk berkoalisi dalam Pilpres ini.

Sekarang dengan sisa waktu untuk mendaftarkan Capres dan Cawapres masih satu bulan, masih tersisa beberapa Partai yang belum menentukan arah koalisi mereka, mereka itu adalah PBB, PAN dan PD.  Partai-partai sisa ini dengan mudah publik menduga arah dukungan mereka,  terutama PBB, partai ini lebih kentara karena dari ucapan Ketumnya yang selalu memberikan kritik terhadap  kebijakan Pemerintah berkuasa, dan otomatis PBB berseberangan dengan Pemerintah yang sedang berkuasa sekarang. Artinya PBB seolah sudah memastikan akan masuk koalisi  sebagai lawan dari koalisi petahana. Hal itu terus berlangsung sampai dua minggu sebelum pendaftaran Capres dibuka oleh KPU, sedangkan PAN dan PD masih melakukan komunikasi dan lobi-lobi kepada kedua koalisi  yang ada. PD sudah seperti menjalin komunikasi lancar dengan pihak koalisi petahana sebelum secara tiba-tiba menarik diri untuk  tidak bergabung dan berniat untuk mendirikan koalisi sendiri. Hengkangnya PD ini membuat para pengamat sedikit mengernyitkan alis  mereka, karena PKB yang ngotot untuk menjadikan Ketumnya sebagai Cawapres akan menarik diri apabila tidak ditunjuk sebaagai Cawapres. Dengan keluarnya PD, maka akan membuka peluan berkoalisi menjadi koalisi  ketiga memasangkan kandidat masing-masing sebagai Calon, walaupun suara dari kedua Partai ini masih belum memenuhi syarat untuk mengusung kandidat sendiri.

Penjajakan koalisi dari dua sisa partai PAN dan PD terus berlangsung. Banyak yang menyatakan bahwa politik itu dinamais, bukan kejam. Penulis berpendapat kejam, kejam berarti sekarang lawan besok kawan yang penting kepentingan yang diingingkan dapat terpenuhi. Kalau dinamis berarti setiap saat akan berubah, tiada yang berjalan di tempat.

TENTANG WAPRES

Komitmen kedua maestro kandidat terkuat untuk mengumumkan wakil mereka masih sama kuatnya, mereka akan mengumumkannya di hari paling akhir sebelum pendaftaran diri mereka ke KPU sebagai kandidat Capres dan Cawapres ditutup. Hal ini yang membuat banyak kalangan berspekulasi, menunggu kemunculan para Cawapresnya. Ada yang memprediksi si A, ada yang memprediksi si B sampai dengan si  Z. Pada pokoknya semua digadang-gadang. Semua yang digadang adalah tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang. Ada TNI, ada Polri, ada Ulama, ada Ekonom ada Ahli Hukum, ada juga yang berlatarbelakang kombinasi dari mereka.

Di samping itu, suasana politik masih jauh dari penurunan suhunya kalau buka justru kebalikannya. Partai apa akan ikut yang mana dipastikan akan mendapatkan komentar nada miring, sinis dari pihak yang berlawanan walaupun mendapatkan karpet merah dari sang pendukung. Salah satu partai calon koalisi di pihak luar Pemerintahan, PKS  mengusulkan 9 nama Cawapresnya untuk dipilih salah satu dari mereka sebagai Cawapres dalam koalisinya, kesemuanya merupakan anggota dari Partainya. Bahkan menurut pengusul, kader-kadernya itu merupakan harga mati. Ancaman PKS berbunyi, apabila tidak ada yang dipilih nanti akan bubar koalisinya. Juga tidak kalah runyamnya sebuah Partai lainnya, PAN yang belum menentukan arah koalisinya mengusulkan Ketua Pembinanya untuk dijadikan Calon Presiden, seseorang yang sudah malang-melintang di perpolitikan Tanah Air merupakan tokoh sentral kejadian Reformasi tahun 1998,  padahal Ketua Umum Partainya saja menginginkan untuk dirinya sendiri menjadi Cawapres.

Sementara di pihak petahana nama-nama Cawapresnya masih dirahasiakan kecuali jumlah nama yang telah dijaring. Itu ada sekitar 10 nama dari berbagai latar belakang. Tentu nama-nama itu kemungkinan besar merupakan nama-nama yang sedang ramai dibahas di Medsos, nama-nama yang diandai-andaikan oleh para pendukung dunia virtual. Ada dari ahli hukum, ada ahli agama Islam, pejabat gubernur, bupati, ketua umum partai koalisi, purnawirawan TNI bahkan dari  Polri. Sampai diadakannya pertemuan pertama yang dihadiri oleh Presiden petahana dan para Ketua Umum Partai, koalisinya partai ini masih menyisakan tanda tanya tentang siapa yang akan dipilih.  Akhir dari pertemuan itu menyimpulkan bahwa ada untuk sementara ada 5 Cawapres yang masih tersisa untuk dilakukan evaluasi lebih lanjut.

Di lain pihak, koalisi di luar petahana semakin jelas, PAN yang tadinya masih belum memutuskan walaupun dari gelagatnya akan bersama dengan koalisi di luar koalisi petahana sedang semakin mesra dengan koalisi oposisi. Sampai dilakukan suatu pertemuan antara para ulama yang berpihak kepada koalisi mereka dan mereka mengeluarkan "ijma" merekomendasikan bahwa Ketua Partai Gerindra direkomendasikan jadi Capres, hal ini seperti yang telah diduga banyak kalangan, dan Petinggi PKS dan seorang Penceramah Kondang sebagai Cawapresnya. Tarik-ulur terus berlangsung tentang siapa yang akan menjadi Cawapres dari koalisinya. PAN menginginkan si Penceramah Kondang, sedangkan PKS menginginkan dari kadernya sendiri yang telah masuk jaring "ijma" para ulama mereka.

Di tengah hangatnya penentuan Cawapres ini secara tiba-tiba PD yang sudah menutup harapan untuk berkoalisi dengan koalisi petahana, datang mellakukan komunikasi antara Ketumnya dengan Ketum Gerindra yang sekaligus sebagai Capres koalisi ini. Terakhir disepakati bahwa PD masuk koalisi ini. Di lain pihak PKS merasa curiga dengan kedatangan PD ini yang sebelumnya telah menjalin komunikasi dengan pihak koalisi petahana akan tetapi keluar lagi. Kecurigaan PKS ini bukan tanpa alasan karena Ketum PD sedang mempromosikan anaknya yang kebetulan sebagai Ketua Komandan satuan Tugas Bersama, Kogasma di PD untuk dijadikan Cawapres, seorang bekas anggota TNI yang mengundurkan diri karena mencalonkan diri menjadi Cagub DKI di Pilgub 2016 lalu namun gagal tidak masuk putaran kedua. PKS karena curiganya bahkan mengeluarkan ancaman bahwa apabila "ijma" ulama mereka tidak dilaksanakan, maka PKS sebaiknya akan berada di luar koalisi saja. Beberapa hari kemudian PKS mengancam lagi, kalau Cawapres yang dipilih berasal dari luar"ijtima" ulama, maka koalisi ini akan bubar.

Ketika gencar-gencarnya penentuan, diantara dua Cawapres oposisi antara seorang kader PKS  dan Pencermah Kondang hasil "ijma" tiba-tiba muncul  nama baru, dia seorang Wakil Ketua Pembina Partai Gerindra yang tadinya tidak pernah masuk dalam radar Cawapres mereka, ataupun diusulkan untuk menjadi Cawapres mereka. Tentu hal ini menjadikan amarah PD yang mengharapkan Putra dari Ketum mereka untuk dipilih. Kemelutpun memanas dan akhirnya PD mengambil langkah drastis memutuskan keluar dari koalisi oposisi. Mereka berujar mungkin akan membentuk koalisi baru. Suatu ujaran yang menyisakan peluang sangat kecil karena semua Partai sudah pada koalisinya masing-masing.

Keluarnya PD dengan amarah menjadikan bola panas berada di luar kedua koalisi tidak terkontrol. Ini yang menyebabkan lontaran pedas dari salah satu pengurus teras PD, Waka Sekjen PD kepada koalisi yang ditinggalkan dengan menyebut, Ketum Partai Gerindra sebagai "Jendral Kardus". Bukan itu saja, ia melontarkan ucapan bahwa PKS dan PAN menerima mahar 500 Milyar Rupiah agar menyetujui Cawapres yang baru diusulkan itu. Belakangan yang dimaksud "kardus" adalah, mudah ditekuk, lemah sebagai pemimpin walaupun dia bekas seorang berpangkat Jendral Angkatan Darat, tidak tegas dan semacamnya.

Suasana Sosmed berita electronik semakin memanas. Pihak koalisi oposisipun mengumumkan Cawapresnya, dialah Wakil Ketua Penasehat Partai Gerindra tanpa diikuti oleh PD yang sudah dianggap keluar dengan membawa emosi para pengurus teras dan mungkin para pendukungnya. PD akhirnya akan memutuskan esok harinya karena harus melakukan rapat dengan para anggota Petinggi Pengurus Pusat mereka sebelum memutuskan arah koalisinya. Seorang yang berlatarbelakang pengusaha mencampakkan ijma ulama yang merekomendasikan dua kandidat yang berlatarbelakang ulama. Dengan terpilihnya sosok yang sedang menjadi Wagub DKI ini membuat hancur leburnya semua prediksi para analisis perpolitikan Tanah air. Kini di pihak oposisi telah ada pasangan berlatar belakang Tentara dan Pengusaha.

Pihak koalisi petahana tidak kalah gentingnya, Presiden petahana akhirnya menyebutkan bahwa Cawapresnya nanti berinisial M. Tentu semua pandangan tertuju kepada seorang bekas Ketua Mahkamah Konstitusi yang ahli hukum, dan menurut kebanyakan khalayak adalah jujur serta memiiliki track record yang baik. Menurut pengakuan bekas Ketua MK itu setelah pengumuman Cawapres, bahwa ia telah dihubungi untuk mempersiapkan administrasi (CV dan bersih diri dari pidana) sehari sebelum pengumuman, dan pakaian seharusnya, lalu sore hari ketika akan dilakukan deklarasi pengumuman Cawapres agar mendekat ke suatu restoran bernama Restoran Plataran, Meneng. Seperti yang telah diminta, dia pun telah mendekat sambil menunggu panggilan dengan para pendukungnya, tepatnya di restoran Tesate, Menteng.

Di luar dari berita menyebutkan bahwa bekas Ketua MK itu akan dipilih oleh koalisi petahana, dan hal ini mendapatkan serangan dengan klaim bahwa dia bukanlah orang dari pengurus NU. Sampai Ketua PBNU pun menkonfirmasikan bahwa dia bukanlah atau belum pernah menjadi anggota NU. Ada ancaman bahwa apabila Cawapres yang dipilih bukan dari NU, maka PBNU akan menarik dukungannya terhadap Presiden petahana. Suasana panas itu bukanlah isapan jempol belaka. Lobi-lobi itu telah merubah haluan koalisi petahana dengan membatalkan pilihan awal terhadap bekas Ketua MK kepada Ketua MUI aktip yang juga sebagai Rais Aam NU. Bekas Ketua MK itu setelah diberitahu melalui telepon mengenai pembatalan untuk memilih dia sebagai Cawapres, langsung menuju mobilnya dan meninggalkan restoran Tesate menuju kantornya di MMD Institute Matraman, Jakarta untuk alasan bekerja sampai larut malam.

Pasangan dari petahana merupakan sosok dari ulama, sejak dari pendidikan rendah sampai pendidikan tinggipun sang Cawapres ini menempuh jalur pendidikan agama. Islam. Menjadikan beliau sebagai seorang kiai adalah jalur yang seharusnya, apalagi masuk dalam kepengurusan MUI.

Sementara di lain koalisi, PD masih akan memutuskan arah koalisinya yang akan diputuskan esok pagi hari setelah mengadakan rapat anggota pengurus Partai. Salah satu anggota koalisi petahana, Ketum Perindo mengeluarkan statemen bahwa lowongan bagi PD untuk bergabung ke koalisi petahana sudah tertutup. Tamparan ini tidak mendapatkan reaksi apapun dari  pihak PD. Ini merupakan tamparan keras dari koalisi petahana yang tidak mungkin untuk dibalas oleh PD yang sedang tidak punya arah. Dan PD-pun harus kembali  ke koalisi yang telah ditinggalkan sehari  sebelumnya, yaitu koalisi oposisi petahana.

Kini, Cawapres dan koalisi sudah tergambar. Masyarakat Indonesia akan sudah dapat memandang tentang siapa-siapa yang kemungkinan akan memimpin negara mereka sampai dengan tahun 2024 nanti, untuk itu bersiap-siaplah. Sebagai konsekwensi saat ini, Cawapres yang kebetulan sedang menjabat Wagub DKI akan mengundurkan diri dari jabatannya.

SPEKULASI PENULIS

Pemilihan Wakil Ketua Penasehat Partai Gerindra menjadi Cawapres koalisi oposisi memunculkan pertanyan banyak pihak. Secara sederhana adalah, apabila nanti pihak oposisi dapat memenangkan Pilpres 2019 ini, maka itu merupakan tujuan utama mereka. Akan tetapi apabila mereka kalah, lalu apa yang akan terjadi..?. Petanyaan itu sungguh sangat menarik untuk dicari jawabannya.

Sebagai Wagub DKI merupaakan jabatan yang cukup mentereng yang sangat susah untuk didapat. Melepaskan jabatan itu untuk menjadi Cawapres merupakan tantangan yang sangat tinggi. Akan tetapi ada kemungkinan apabila nanti dalam Pilpres ini mereka akan kalah, maka Ketum Gerindra yang sudah 5 kali ingin masuk jajaran kepresidenan baik sebagai presiden ataupun wakil presiden akan diprediksi turun tahta dari perpolitikan Indonesia. Kandidat yang dipandang mumpuni dari banyak hal adalah orang yang ditunjuk sebagai Cawapres saat ini. Inilah spekulasi penulis pikir yang mungkin akan terjadi nanti.

Di lain pihak, pemilihan Ketua MUI yang saat ini sudah berusia 73 tahun, merupakan sosok gaek yang mungkin terlalu tua untuk berkompetisi  lagi untuk periode kedua apabila dalam Pilpres kali ini dapat memenangkan pertarungannya. Untuk ukuran orang Indonesia pada umumnya, umur 73 tahun ditambah 5 tahun setelah melalui satu periode sebagai Wapres (apabila menang), merupakan usia yang sudah dikatakan tidak produktip lagi, ini apabila ditinjau dari segi fisiknya.

Dari pemilihan para Cawapres yang berakhir pada tikungan akhir itu nampaknya pemilihan Cawapres yang sudah tua merupakan strategi partai pengusung. Maksudnya, apabila dapat memenangkan pertarungan ini, maka jabatan yang dapat dilakukan paling lama adalah satu periode saja, dengan demikian, nanti akan harus dipilih kandidat baru mengingat petahana sudah menyelesaikan dua periodenya dan tidak dapat mencalonkan diri sebagai Capres lagi. Walaupun spekulasi ini terlalu dangkal, mengingat semua partai akan memandang bahwa, Pilpres nanti ya urusan nanti, sekarang yang penting menang dulu, untuk itu dipilih Ketua MUI dengan harapan dapat mendulang suara yang tadinya anti terhadap petahana yang dipandang telah mengkerdilkan umat Islam. Dengan dipilihnya Ketua MUI akan menjawab dengan bukti bahwa koalisi petahana bukanlah koalisi yang menomer duakan umat Islam, akan tetapi sebaliknya.

PASKA PENDAFTARAN KE KPU

Banyak orang dan analisis tidak menduga bahwa pilihan Cawapres dari kedua koalisi demikian asing. Mereka memilih seseorang masing-masing yang tidak populer. Akan tetapi politik seperti membuat orang dikejutkan dengan sengatan aliran arus listrik.  Tdak jarang ada banyak cercaan dan juga banyak pujian. Di pihak petahana, Ketua MUI itu adalah biang kerok keluarnya fatwa MUI yang  menyebut bahwa mantan Gubernur DKI yang masuk penjara adalah penista agama. Oleh karena Fatwa MUI itu sang Gubernur dikalahkan karena isu-isu menistakan Agama Islam. Dan karena Fatwa MUI itu si mantan Gubernur DKI itu masuk penjara selama dua tahun. Ironisnya, para pendukung bekas Gubernur DKI itu merupakan pendukung petahana sekarang,  akan tetapi mereka sekarang dihadapkan pada kenyataan, orang yang didukung malah memilih bekas orang yang dianggap menjadi biang kekalahan dan masuk penjara mantan Gubernur pujaannya.

Lain halnya dengan penunjukan Cawapres koalisi oposisi. Mereka dihadapkan pada pelanggaran 'ijtima' ulama mereka. Ini menyebabkan para ulama mereka terdiam melihat kenyataan bahwa "ijtima" mereka tidak dipakai. Sampai selesainya tulisan ini hanya ada statemen dari Ketua FPI bahwa, diperlukan "ijtima" ulama jilid-2 untuk menentukan sikap mereka terhadap dukungan mereka kepada koalisi oposisi. Akan tetapi ini bukan berarti membuka jalan untuk mendukung koalisi petahana, sang Ketua mengatakan bahwa, hukumnya haram untuk mendukung koalisi petahana.

Baiklah.., sebaiknya kita lihat nanti, mari ditunggu, mengingat masyarakat Indonesia pada umumnya adalah masyarakat pemaaf, atau mungkin pelupa, sedangkan Pilpres masih kira-kira delapan bulan lagi dari sekarang.

END.

Medio Abu Dhabi 11 Agustus, 2018


Saturday, June 02, 2018

ARTI SILA-SILA PANCASILA MENURUT AKU

UMUM

Banyak orang yang tidak memahami bahkan tidak mengetahui tentang arti dari sila-sila sesungguhnya yang terdapat di dalam Pancasila, walaupun mereka telah menghafalkan dari bunyi sila-sila itu. Ini dapat dimahlumi karena apa yang tersurat pada sila-sila itu merupakan kalimat simbul dan disimbulkan pula oleh gambar-gambar terhap mereka. Mereka memiliki makna yang tidak sembarangan pengartiannya berdasarkan kepada kalimat itu saja, melainkan harus melihat atau ditinjau pula dengan komponen yang ada di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia secara keseluruhan.


Ketika jaman Orde Baru (Orba) berkuasa, sila-sila itu pernah diartikan menjadi butir-butir sila dari Pancasila. Badan yang bertanggungjawab pembuat arti itu dinamakan BP7, yaitu Badan Pembina Pendidikan Pelaksanaan Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Namun, pada tahun 1998 setelah terjadinya reformasi yang menumbangkan Orba, maka TNI, Tentara Nasional Indonesia yang merupakan pennyangga utama Orba harus masuk barak kembali, dan sekaligus BP7 yang dianggap identik dengan alat propaganda Orba dibubarkan. Pembubaran itu dimaklumatkan di dalam TAP MPR No. XVIII 1998.


Sekarang ada badan baru yang dinamakan BPIP, yaitu Badan Pembinaan Idiologi Pancasila, tentu kerjanya kemungkinan sama dengan BP7 waktu silam. Nampaknya badan baru ini perlu dibentuk setelah ditengarai banyak orang yang sudah tidak lagi tertarik untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang Pancasila, atau bahkan ada banyak kejadian-kejadia di masyarakat yang bahkan tidak sejalan atau mungkin bertentangan dengan isi sila-sila Pancasila. Untuk itulah melalui Keputusan Presiden dibentuklah  badan khusus yang disingkat dengan BPIP. Disebutkan dalam Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2018 itu bahwa BPIP memiliki tugas seperti berikut ini:



  • BPIP mempunyai tugas membantu Presiden dalam merumuskan arah kebijakan pembinaan ideologi Pancasila, melaksanakan koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian pembinaan ideologi Pancasila secara menyeluruh dan berkelanjutan.
  • BPIP juga bertugas melaksanakan penyusunan standardisasi pendidikan dan pelatihan, menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, serta memberikan rekomendasi berdasarkan hasil kajian terhadap kebijakan atau regulasi yang bertentangan dengan Pancasila kepada lembaga tinggi negara, kementerian/lembaga, pemerintahan daerah, organisasi sosial politik, dan komponen masyarakat lainnya.
BP7
  
Seperti yang disebutkan di atas bahwa BP7 merupakan Badan yang bertanggungjawab terhadap pengimplementasian sila-sila Pancasila terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. BP7 telah menjabarkan dari lima asas dalam Pancasila dijabarkan menjadi 36 butir pengamalan, sebagai pedoman praktis bagi pelaksanaan Pancasila.

Butir-butir Pancasila ditetapkan dalam Ketetapan MPR No. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia Pancakarsa.

Sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Dari sila ini dijabarkan menjadi empat butir antara lain:
  1. Percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  2. Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama & penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda, sehingga terbina kerukunan hidup.
  3. Saling hormat-menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
  4. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.
Sila kedua: Kemanuasian Yang Adil Dan Beradab. Dari sila ini dijabarkan menjadi delapan butir antara lain: 
  1. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia.
  2. Saling mencintai sesama manusia.
  3. Mengembangkan sikap tenggang rasa.
  4. Tidak semena-mena terhadap orang lain.
  5. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
  6. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  7. Berani membela kebenaran dan keadilan.
  8. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu kembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
Sila ketiga: Persatuan Indonesia.  Dari sila ini dijabarkan menjadi lima butir antara lain:
  1. Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
  2. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
  3. Cinta Tanah Air dan Bangsa.
  4. Bangga sebagai Bangsa Indonesia dan bertanah Air Indonesia.
  5. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.
Sila keempat: Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Dari sila ini dijabarkan menjadi tujuh butir antara lain:
  1. Mengutamakan kepentingan Negara dan masyarakat.
  2. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
  3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan.
  5. Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil musyawarah.
  6. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
  7. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung-jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
Sila kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Dari sila ini dijabarkan menjadi duabelas butir antara lain: 
  1. Mengembangkan perbuatan  luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong-royong.
  2. Bersikap adil.
  3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  4. Menghormati hak-hak orang lain.
  5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain.
  6. Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain.
  7. Tidak bersifat boros.
  8. Tidak bergaya hidup mewah.
  9. Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.
  10. Suka bekerja keras.
  11. Menghargai hasil karya orang lain. 
  12. Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.
BPIP

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyebut ada 5 tantangan utama untuk membumikan ideologi Pancasila. Kelima hal itu diungkap dalam konferensi pers memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni.

Anggota BPIP Zuly Qodir mengatakan, tantangan pertama muncul dari aspek sejarah. Menurut Zuly, masih banyak kesimpangsiuran mengenai pemahaman dan lahirnya Pancasila. Hal itu disebut kerap menciptakan kegaduhan politik.

"Bukti konkretnya adalah persoalan adanya kelompok yang berkehendak mendirikan negara Indonesia bukan berdasarkan Pancasila, tetapi agama dan bentuk kekhilafahan. Karena itu kami menyusun naskah otentik terkait [kelahiran] Pancasila," ujar Zuly di Kantor BPIP, Jakarta, Kamis (31/5/2018).

Tantangan kedua adalah berkembangnya pemahaman eksklusif di tengah masyarakat. Menurut Zuly, sifat ekslusif itu membuat kelompok-kelompok tertentu terpinggirkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak inklusifnya masyarakat juga berdampak pada minimnya pengakuan terhadap kelompok-kelompok yang beragam. Pada akhirnya, hal itu menimbulkan rasa ketidakpercayaan satu sama lain.

"Ketiga, kesenjangan dan keadilan sosial. Tidak boleh terjadi penguasaan ekonomi hanya oleh segelintir atau sekelompok orang. Semua warga harus mendapat akses ekonomi dan kesejahteraan," ujar Zuly.

Keempat, minimnya keteladanan bagi masyarakat saat ini. BPIP menganggap keteladanan Pancasila tak terekspose karena tertutup gaduhnya politik dan berbagai kepentingan ideologi lain di luar Pancasila.

Terakhir, Zuly menyebut belum adanya pelembagaan praktik kebajikan Pancasila. Hal itu menyebabkan banyaknya kebijakan yang tumpang tindih dan tindak sinkron.

"Kurang disadarinya pemahaman nilai pancasila. BPIP maka hendak membuat peta jalan pembumian Pancasila," ujarnya.


Pancasila Menurut Aku

Aku bukanlah orang yang ahli tentang Pancasila, yang aku tau Pancasila merupakan Dasar Negara Indonesia. Sejak kecil aku harus menghafalkannya, itu untuk menjawab setiap pertanyaan yang akan diajukan oleh guruku, baik secara lisan ataupun melalui ulangan pada kertas ulangan.


Ketika aku mulai bekerja, aku harus mengikuti suatu program yang namanya Penataran P4, Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Sebagai salah satu karyawan BUMN, aku tidak boleh tidak untuk mengikuti program Pentaran P4 itu sebanyak minimum 25 jam tatap muka di dalam kelas bersama beberapa rekan sejawat di perusahaan tempat aku bekerja. Lagi-lagi, program itu diakhiri dengan ujian tulis. Bagi siapa yang lolos akan mendapatkan piagam lulus 25 jam Penataran P4. Dan bagi mereka yang tidak lolos, maka mereka harus mengulanginya sampai menjadi lolos. 


Ribut-ribut masalah Pancasila membuat aku ingin mempelajarinya kembali. Walaupun aku pernah mempelajarinya tetapi itu tadi, agar aku mampu menjawab apabila ada suatu pertanyaan, itu saja, selain itu tidak ada. Inilah alasanku mengapa aku ingin mengartikan Pancasila menurut aku sendiri, agar aku dapat memahami isi dari setiap sila dalam Pancasila sesuai dengan alam pikiranku, tujuannya agar aku benar-benar memahaminya, serta sasarannya agar aku tidak akan melupakan lagi apa makna sila-sila di dalam Pancasila itu.


Sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa


Tentu, hampir semua pembaca akan menyetujui bahwa yang dimaksud dengan Ketuhanan Yang Maha Esa di sini adalah, percaya kepada Tuhan Yang Satu, ataukah bermakna percaya kepada Tuhan Yang  Tunggal. Akan tetapi kalau kita lihat tentang macam-macam agama dan kepercayaan yang dianut oleh anggota masyarakat Indonesia, tentu maksud atau makna sila bahwa Tuhan itu satu tidak berlaku. Karena di Indonesia ada orang atau kelompok maasyarakat yang mempercayai lebih dari satu Tuhan.

Lalu bagaimana dengan Tuhan Yang Maha Tunggal?. Makna tunggal bukanlah bermakna satu yang bersifat angka, tunggal adalah suatu kesatuan yang utuh yang dapat terdiri dari satu atau lebih zat, akan tetapi menyatu menjadi tunggal. Ini sesuai dan yang  dipakai bagi yang percaya pada banyak tuhan, apalagi satu tuhan. Mungkin pemaknaan ini yang lebih realistis bagi kehidupan beragama di Indonesia. Namun apakah demikian makna Tuhan Yang Maha Esa itu..?


Untuk menjawab pertanyaan itu sebaiknya Tuhan harus dikenali terlebih dahulu.


Esa secara harfiah menurut kamus yang banyak dipakai memang berarti satu atau dapat juga berarti tunggal.  Namun, yang dinobatkan sebagai Tuhan itu adalah Dia Yang Maha Segalanya, dan termasuk juga Dia Yang Maha Abadi tanpa awal dan akhir. Jadi, menurut hemat penulis arti "esa" pada sila pertama dalam Pancasila itu adalah segalanya yang melekat sebagai sifat Tuhan.


Sila kedua: Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab 


Apapun yang berhubungan dengan kemanusiaan adalah sesuatu yang berhubungan dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Arti ini jauh lebih mengena untuk sila ini, sehingga bunyinya setelah dimaknai akan menjadi, Menjamin Hak Asasi Manusia Yang Adil Dan Beradab. Artinya bangsa Indonesia harus menjunjung tinggi tentang HAM, sehingga setiap manusia Indonesia harus mendapatkan dan diperlakukan secara adil sesuai dengan adab kebiasaan yang berlaku di Indonesia, baik laki-laki ataupun perempuan, baik tua ataupun muda, dan lain sebagainya. Adil di sini berarti suatu keadilan yang berhubungan saling hormat menghormati antar sesama dan seluruh anggota masyarakat Indonesia memiliki kedudukan yang sama di depan hukum. Sedangkan beradab adalah sesuai dengan budaya bangsa.


Sila ketiga: Persatuan Indonesia


Sila ini sangat jelas menggambarkan bahwa keberagaman komposisi dari masyarakat Indomesia baik suku, agama dan golongan semuanya merupakan satu kesatuan yang harus tetap bersatu untuk kepentingan Indonesia. Bersatu dalam memperjuangkan cita-cita Indonesia. Bersatu dalam menghadapi setiap ancaman yang akan merusak Indonesia.


Sila keempat: Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan


Sila ini memberikan gambaran tentang tatacara dalam melangsungkan kenegaraan yang berhubungan dengan pengaturan kemasyarakatan/bermasyarakat. Di situ harus dijunjung tinggi pendapat semua rakyat yang telah diwakilkan kepada yang disebut "Yang Dipimpin Oleh Hikmat" yang akan selalu melakukan suatu musyawarah di dalam menentukan suatu kebijaksanaan bernegara sampai menemukan suatu kemufakatan. Rakyat harus sudah mempercayakan diri kepada wakil mereka yang telah mereka pilih (biasanya melalui Pemilu) untuk menentukan arah kebijaksaan dalam bernegara. 


Di atas tentu sudah ada aturan main yang telah disepakati misalnya Undang-Undang Pemilu yang merupakan hasil dari musyawarah mufakat para wakil rakyat yang telah terpilih. 


Sila kelima: Keadila Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia


Ada pertanyaan, mengapa kok bukan keadilan ekonomi bagi seluruh rakyat Indonesia..?


Jawabannya sederhana, karena sosial mencakup di dalamnya ekonomi, walaupun belakangan dalam ilmu kedua bidang itu dipisah sendir-sendiri, namun pada prakteknya keduanya merupakan "dwi tunggal". Karena status sosial sangat berhubungan dengan keadaan ekonomi. Pada umumnya, apabila seseorang ingin memiliki kedudukan sosial yang baik, maka yang harus dilakukan adalah memperbaiki keadaan ekonominya. Sehingga yang dimaksud dengan Keadilan Sosial utamanya Keadilan Ekonominya. 


Karena keadilan secara hukum sudah dicakup oleh sila kedua. Untuk itu sila kelima ini simbulnya adalah gambar padi dan kapas yang melambangkan suatu kebutuhan pendukung berupa makanan (padi) dan kenyamanan hidup (kapas). 


END.  Medeo Abu Dhabi, tanggal 8 Juni, 2018.


Thursday, November 30, 2017

KE MUSIUM LOUVRE ABU DHABI

UMUM

Ketika masih dalam tahap pembangunan, khususnya bagi mereka yang tinggal di Abu Dhabi, banyak yang bertanya-tanya tentang gedung yang sedang dibangun persis terletak di bibir laut menghadap ke Abu Dhabi di Pulau Sakdiyat itu, "apa yang sedang dibangun itu?". Itu terjadi kira-kira dalam kurun waktu sekitar dua tahun lalu. Derek-derek tinggi yang mengelilingi area pembangunan seolah bekerja sama dalam menyelesaikan bangunan itu. Terpaan udara panas di musim panas yang akan menyengat setiap  kulit yang terbuka dengan suhu sampai 50 derajat Celsius itu  tidak dapat menghentikan laju pembangunan gedung-gedung itu, apalagi cuaca musim dingin, bekerja di luar dengan suhu sampai 15 derajat Celsius masih lebih baik daripada sengatan suhu di musim panas.

Ketika bagian-bagian atap-atapnya yang hanya semacam kerangka dipenuhi oleh lubang-lubang itu mulai dinaikkan, hal itu membuat aku semakin penasaran saja. Ada yang pernah menyebutkan bahwa bangunan itu akan menjadi pusat seni dan budaya setempat, ada pula yang mengatakan bahwa gedung yang sedang dibangun itu nantinya akan menjadi gedung mall besar di Abu Dhabi, dan bagi mereka yang mengikuti tentang berita setempat telah mengetahui bahwa gedung yang sedang dibangun itu merupakan musium besar yang akan hadir di tanah Abu Dhabi, tepatnya di Distrik Khusus Kebudayaan, Pulau Sakdiyat.

Ada sebuah iklan di stasiun TV internasional (khusus Geografi) terkadang memberikan sekilas tentang bagaimana dan untuk apa gedung itu dibangun. Insinyur-insinyur muda dan tua baik lokal ataupun dari manca negara, laki-laki ataupun perempuan ditampilkan dalam kapasitas mereka untuk menjelaskan tentang keunikan jalannya pembangunan ataupun keunikan gedung itu apabila telah jadi nantinya.

Tentu banyak orang yang sedang menunggu wujud dan waktu dibukanya calon musium besar dan yang terlihat seperti topi baja setengah bundar dari kejauhan itu. Aku terkadang melirik ingin mengetahui tentang kemajuan dari jalan pembangunannya ketika aku sedang menuju ke kantor pusat tempat aku bekerja yang terletak tepat di sisi seberang kanal antara Pulau Sakdiyat dan Pulau Utama Abu Dhabi.  Atau, terkadang ketika aku sedang melintasi melalui jembatan penghubung antara Pulau Utama Abu Dhabi dan Pulau Sakdiyat baik waktu aku mau ke luar dari Abu Dhabi atau sebaliknya.

Aku sudah jarang bahkan dapat dikatakan sudah lama tidak melintasi jembatan penghubung antara Pulau Abu Dhabi dan Sakdiyat itu, juga hampir dikatakan tidak pernah mengunjungi kantor pusat tempat aku bekerja selama enam bulan terkhir ini kecuali sekali di akhir Oktober lalu manakala aku lihat tidak ada lagi derek-derek yang mengelilingi gedung yang sedang dibangun, sampai ada berita dari mulut ke mulut bahwa musium yang ada di Pulau Sakdiyat itu telah dibuka untuk umum sejak tanggal 11 Nopember, 2017 lalu, dan nama dari musium itu adalah Louvre Abu Dhabi.

Yaa, Musium Louvre Abu Dhabi, suatu musium yang memiliki atap berbentuk kubah dengan biaya pembangunan menurut wekipedia.org ditaksir sekitar 600 juta Euro. Dan menurut  https://en.wikipedia.org/wiki/Louvre_Abu_Dhab merupkan suatu musium dengan pemakaian nama Louvre harus disyahkan oleh Parlemen Perancis, suatu musium yang ijin pemakaian namanya saja berharga 525 juta Dollar, suatu musium dengan luas tanah menurut sekitar 24000 meter persegi dan luas ruang pameran sekitar 8000 meter persegi yang terletak di daerah distrik khusus untuk kebudayaan. Dan suatu musium yang telah dideklarasikan menjadi musium terbesar di Dunia Arab.

KE MUSIUM LOUVRE

"Tanggal 24 Nopember ini kita akan ke musium baru itu, lho..!, itu yang di Sakdiyat Island...!, namanya seperti musium yang ada di Paris...., Louvre".  Itu yang dikatakan istriku ketika aku baru saja pulang kerja sekitar pertengahan Nopember lalu. Di benakku yang ada adalah, bayangan musium Louvre Paris di mana aku sekeluarga pernah mengunjunginya sekitar tujuh tahun yang lalu dengan bayangan yang masih terasa melekat di dalam ingatanku adalah; mummi sisa kerajaan Mesir Kuno, tiang-tiang bangunan sisa kerajaan Romawi dan Yunani kuno, lukisan-lukisan besar yang mengabadikan kehidupan awal masyarakat kristen berkulit putih, serta fosil-fosil dari kehidupan prasejarah. Kunjungan ke musium kembarannya yang ada di kota aku tinggal ini sekitar semingguan lagi, itu karena akan menemani putriku yang sedang akan menemani temannya yang akan datang ke Dubai dari Amerika Serikat sehari sebelumnya. Tanpa sepengetahuan istriku aku kernyitkan sedikit kedua alisku ketika dia telah sedang mengatakan bahwa karcis masuk ke dalam musium per orangnya adalah 60 Dirham, yang saat ini setara dengan duaratus enambelas ribu Rupiah. Istriku dan aku sepakat bahwa biaya masuk musium untuk aku dan dia tidak akan dibebankan kepada putriku karena ia sudah memiliki keluarga sendiri, serta tentunya sudah mengeluarkan biaya untuk melayani temannya ketika melakukan jalan-jalan di Dubai. Bahkan, setelah selesai keluar dari musium  lebih baik langsung pulang saja agar tidak ikut makan bersama mereka apabila mereka ingin makan.

Hari ini adalah tanggal 24 Nopember, aku ingatkankan istriku bahwa nanti siang akan ke musium, dia mengabarkan bahwa hari ini tidak jadi ke musium karena kemungkinan teman putriku masih lelah untuk ke Abu Dhabi, besok rencananya. Sejak beberapa malam sebelumnya istriku sudah mempersiapkan menu masakan yang akan disuguhkan kepada putriku dan suaminya serta temannya apabila mereka mampir ke rumah sebelum berkunjung ke musium nanti. Tidak salah, satu malam sebelumnya istriku sudah mulai sibuk mempersiapkan masakan yang akan dimasak untuk disuguhkan esok harinya.

Masakan sudah siap sejak sebelum pukul 9 pagi di hari Sabtu yang ceraah ini,  karena sebentar lagi menurut rencana putriku, dia sebentar lagi akan datang ke rumah sebelum pergi ke musium nanti. Di atas meja makan sudah berjejer masakan yang dipersiapkan istriku sejak tadi malam dan dilanjutkan memasak setelah bangun tidur pagi tadi. Ada kuah semcam soto daging, ada mie segar yang sudah direbus, ada irisan daun selada, ada tumpukan kecambah segar, ada irisan tahu goreng, ada irisan tumbukan ketela pohong, ada setoples plastik  kecil bawang merah goreng, ada sambal dan ada di mangkok kecil petis hitam serta ada se taperware kerupuk udang kevil-kecil yang apabila dirangkum semuanya biasa disebut sebagai menu 'tahu campur".

Pukul 9 aku baru saja selesai main tennis sejak pagi buta tadi dan sampai rumah sudah hampir pukul 10. Aku terpaksa langsung mandi pagi di hari libur yang mana biasanya tidak aku lakukan kecuali sebelum  sholat Duhur. Sehabis mandi aku langsung makan saja dulu, karena habis main tennis tenaga banyak terkuras, apalagi kedatang tamu yang ditunngu masih belum pasti kapannya walaupun putriku bilangnya, pagi. Sampai datang waktu mendekati sholat Duhurpun mereka yang ditunggu-tunggu belum juga muncul ketika istriku mengeluhkannya aku mengatakan, itulah anak-anak, lalu dia menghubunginya lewat telefon.

Tamu yang ditunggu-tunggu akhitnya muncul juga walaupun waktu sudah menunjukkan hampir pukul 2 siang. Kuah berwarna kekuningan sekarang waktunya untuk dipasi kembali sebelum dituangkan ke dalam mangkok terbesar yang ada di rumahku. Dalam keadaan kuah yang masih berkebul asap karena masih panas aku tawari para tamu di rumahku untuk segera memulai mengambil makanan yag sudah seratus persen siap.  Teman putriku yang didaulat untuk memuainya, akan tetapi dia kebingungan dan bertanya yang mana harus dicmpur dengan apa. Untuk lebih cepatnya aku menawarkan diriku sebagai pembuka agar yang belum mengetahui dapat mengikutinya.

Sungguh tahu campur buatan istriku enak rasanya, aku bagaikan makan tahu campur langgananku yang selalu lewat di depan rumahku manakala aku masih bekerja di Surabaya dulu. Bahkan putriku dan temannya juga merasakan hal yang sama, enak rasa tahu campurnya, demikian yang mereka katakan setelah memulai untuk memakannya. Aku terpaksa menambah lagi ketika tahu campur di dalam piring di depanku sudah mulai kosong, dan demikian pula teman putriku setelah aku minta dia untuk tambah lagi. Acara makan selesai tepat sebelum iqamah panngilan sholat Ashar dikumandangkan dan aku, menantuku dan teman putiku langsung menuju ke masjid sebelah rumah untuk melakukan sholat Ashar.

Setelah sholat Ashar berlima dalam satu mobil milik putriku berangkat menuju musium Louvre - Abu Dhabi yang terletak di pinggir laut Pulau Sakdiyat (Sakdiyat Island). Putriku yang mengemudikan sedan Accord miliknya, di sebelahnya duduk ibunya, sedangkan aku, menantuku dan temannya duduk di jok kursi belakang, aku di sebelah kanan, lalu menantuku di tengah dan yang paling kiri adalah teman putriku.

Aku sendiri belum pernah mengunjungi musium itu, walaupun, dari kejauhan terlihat jelas bangunannya. Memang musium itu baru saja dibuka untuk umum,  namun aku tidak banyak mengetahui tentangnya karena aku memang tidak begitu tertarik dengan masalah musium, entahlah, padahal bagiku ketika mengunjungi suatu musium aku terkadang tertegun dibuatnya manakala melihat barang-barang peninggalan dari masa yang lalu, manusia dengan keterbatasannya dapat menciptakan sesuatu yang menakjubkan. Akan tetapi untuk mengunjunginya lagi, aku merasa  sudah kehilangan semangat. Aku tidak tau persis tentang jalan masuk mana yang harus diambil setelah dari jalan raya bebas hambatan Syeikh Khalifa. Hanya saja letaknya di sebelah kanan jalan raya apabila datang dari rumahku, Al Reef. Aku kebanyakan memikirkan bagaimana membosankannya nanti manakala aku berada di dalam musium, akan tetapi karena harus menghormati tamu, maka aku rela untuk mengunjunginya walaupun harus membayar biaya untuk karcis masuknya. Menantuku mulai membuka telepfon genggamnya untuk memakai GPS agar menemukan jalan masuk ke arah musium Louvre yang dituju.

Jalan masuk menuju gedung musium sungguh bagus dan berisih. Rumah-rumah mewah dan berukuran besar yang didominasi dengan warna padang pasir berjejer di kanan jalan, dan kiri jalan langsung dapat melihat sisi laut melalui taman-taman asri sebelum pantai. Walaupun ada tanah luas yang kosong belum ada bangunannya, tetapi tanah-tanah itu dipagari semacam dinding yang terbuat dari pelat tipis (seng) lurus dan dilapisi dengan gambar-gambar dan tulisan tentang gedung yang bakal dibangun di dalamnya nanti. Sungguh di luar dugaanku ketika aku melihat begitu banyaknya mobil yang memenuhi tempat parkir arena yang terletak di depan gedung musium. Tidak salah ketika di luar area parkir ada banyak mobil yang diparkir karena tempat parkir yang disediakan seakan terisi penuh. Putriku memilih terus saja masuk ke area parkir walaupun nampak tidak mungkin dapat mnemukan slot kosong untuk parkir mobilnya. Ada beberapa mobil keluar lagi menuju ke arah tempat parkir tanah kosong di luar area parkir. Ketika belokan lajur-lajur parkir telah dilalui, maka lajur terakhir menuju ke pintu keluar diikuti. Setelah belok kanan sebelum menuju pintu utama keluar mobil dibelikkan masuk ke dalam area parkir yang kesemuanya memiliki atap pelindung panas. Keberuntungan ada pada mobil yang aku tumpangi karena begitu memasuki jalur area parkir aku lihat ada mobil di sebelah kanan depan yang sedang lampu mundurnya menyala menandakan akan keluar parkirnya, sebelum aku memberitau putriku dia sudah menginjakkan kakinya ke pedal remnya menghentikan mobilnya menandakan bahwa dia menunggu mobil yang sedang menyalakan lapu mundurnya untuk keluar. Akan tetapi mobil itu belum juga keluar sampai istriku melihat ada slot kosong di sebelah kiri tidak jauh dari tempat berhenti  mobil putriku, dan tempat itu akhirnya yang diambil.

Angin sepoi-sepoi menerpa kulit wajah dan tanganku ketika aku keluar dari mobil seolah menambah nikmatnya hawa yang sudah mulai dingin di sore tanggal 25 Nopember ini, tepatnya di depan gedung mesium Louvre pinggir laut Pulau Sakdiyat.  Taman yang terlihat baru saja selesai pengerjaannya masih memperlihatkan tanah berwarna kemerahan yang masih belum sepenuhnya tertutup  oleh lebatnya tanaman di atasnya. Tempat-tempat sampah berwarna kehitaman terasa bagus dan mewah karena terbuat dari bahan semacam fiberglass. Lampu-lampu taman yang masih belum menyalakan diri terlihat tertata apik. Tempat menunggu taksi dapat memaksa para calon penumpang untuk antri apabila ingin naik taksi. Kursi-kursi dipasang di dekat tempat menunggu taksi.  Orang-orang banyak melakukan foto-foto mengambil latar belakang gedung musium. Di pinggir laut sebelah gedung musium terlihat banyak seperti tiang pancang-tiang pancang berwarna putih yang sengaja dibuat begitu mengingatkan aku pada suatu tempat di pantai daerah Kaamal, Madura pada tiang-tiang yang dipakai sebagai tempat tambat peraahu-perahu kecil nelayang setempat. Dari dekat musium tidak bayak berbeda penampakannya dibandingkan dengan dari kejauhan, hanya saja perasaan menjadi berbeda ketika berdiri dekat dengan gedung musium. Suasana taman dan desiran angin pinggir laut serta lalu-lalang pengunjung sungguh memberikan rasa nikmat tersendiri apabila dinikmati. Atap gedung musium yang memiliki ciri tersendiri sebagai aikon tidak aku pernah mengerti apa maksudnya. Dari luar gedung menampakkan seolah cahaya matahari pasti dengan mudah dapat masuk ke dalam gedung musium dengan rancangan atap seperti berlubang-lubang. Semua dinding gedung didominasi oleh warna putih, namun atapnya berwarna coklat tua mendekati gelap.

Setelah istriku selesai mengambil foto-foto di depan gedung musium, lalu menuju ke arah pintu masuk gedung. Jalan masuk gedung dibagi dua jalur dengan pembagi darurat yang terbuat dari tali berwarna putih. Tiang setinggi dengkul pengikat tali yang berada di paling ujung depan pintu dipasangi satu papan darurat yang memberikan petunjuk dua arah, bagi mereka yang masih belum membeli karcis diarahkan ke jalur kiri sedangkan bagi mereka yang sudah membeli karcis melaui online diarahkan pada jalur sebelah kanan. Aku dan rombonganku memilih jalur sebelah kiri karena tidak satupun dari anggota rombonganku yang telah membeli karcis melalui online. Setelah melalui jalur kiri aku langsung menuju konter penjualan karcis. Aku lihat para pengunjung yang sedang antri untuk membeli karcis sudah mengular di dalam jalur berliuk-liuk yang mengarah ke konter penjual karcis. Aku lambatkan langkahku untuk memberikan kesempatan kepada putri dan menantuku yang akan membelikan karcis bagi anggota rombongan. Konter dibagi menjadi dua bagian, yang sebelah kanan khusus untuk pembeli karcis dengan memakai uang tunai dan yang kiri khusus bagi pembeli yang ingin memakai kartu kredit atau semacamnya.

Aku harus sabar menanti sampai pada giliran rombonganku. Tadi ketika aku dan rombongan masuk jalur antrian karcis ini jam tanganku menunjukkan tepat pukul 4:30 sore, sekarang setelah menunggu sekitar sepuluh menitan aku dan rombongan baru dapat berhadapan langsung dengan petugas konter. Istriku sudah menyiapkan uang untuk aku dan dia, putriku dan suaminya yang sedang menghadapi petugas penjual karcis akan memesan karcis masuk sekaligus untuk berlima. Putriku menolak uang pengganti ketika istriku memberikan uang tunai untuk biaya karcis untuk aku dan istriku. Aku ambil dua panflet di atas  meja konter, panflet-panflet yang memberikan informasi ssekilas tentang musium Louvre Abu Dhabi ini. Sambil berjalan keluar area konter aku membaca panflet-panflet yang ada di tanganku. Lalu aku berlima mulai memasuki ke dalam musium. tempat barang-barang bersejarah dipajang.

Ada dua penjaga pintu masuk yang berpakaian jas dengan bawahan serba hitam, mereka juga berdasi hitam nampak kontras karena dipadu dengan baju berwarna putih, yang satu adalah seorang wanita paruh baya berkulit lebih putih dari kulitku dan yang lainnya lagi adalah seorang pria dengan postur lebih tinggi dan lebih gelap warna kulitnya dibandingkan dengan aku. Keduanya memegang detektor untuk skan karcis masuk para pengunjung. Aku memilih seorang wanita saja karena dia yang lebih dekat dengan jalan yang aku lalui.

Sebelum memasuki lorong menuju ruangan-ruangan tempat barang-barang dipajang, tiba-tiba langkahku terhenti karena melihat seperti buku-buku yang sedang dipajang. Dalam hatiku bertanya apakah buku-buku  itu gratis ataukah harus membeli apabila ingin memilikinya, perasaanku mengatakan bahwa mereka gratis karena di negara ini banyak panflet, majalah ataupun koran yang bratis. Aku tetap tak beranjak di tempat seperti hall di mana di sebelah kanannya adalah tempat buku-buku atau pamflet-panflet tebal dipajang. Aku hampir saja menghampirinya sebelum aku menyadari bahwa buku dan panflet itu nampaknya dipajang di jalur jalan keluar setelah selesai masuk ke dalam ruangan tempat pemajangan barang-barang. Aku lalu memilih jalur ke arah kiri seagaimana anggota rombonganku telah melangkah mendahului aku dan bergerak memasuki ruangan-ruangan tempat barang-barang di pajang.

Begitu aku memasuki ruangan pertama tempat pemajangan barang, mataku seakaan terhipnotis dengan pajangan tiga tempat kuno untuk air atau mungkin juga teh di ruangan pertama ini. Aku coba mendakati  mereka. Satu diantaranya yang pertama aku perhatikan adalah yang terbuat dari bahan semacam kulit kerang nampak berwarna-warni akibat terangnya sorotan lampu ruangan, dia adalah tempat teh yang berasal dari Turki, dia adalah tempat teh peninggalan dari Kerajaan Dinasti Ottoman. Dan yang satunya lagi yang berada di sisi kirinya adalah tempat air teh atau air yang terbuat dari tembaga, dia berasal dari India. Sedangkan satunya yang paling kanan adalah tempat teh yang terbuat dari guci yang merupakan peninggalan dari suatu Dinasti di China kuno. Aku pikir pasti barang-barang itu harganya pasti mahal, untuk itu aku cukup lama memperhatikannya. Setelah melihat barang-barang itu aku jadi teringat pada sebuah lagu yang dipopulerkan oleh kelompok band tahun tujuhpuluhan, Queen,  judulnya, "Killer Queen". Di dalam benakku aku mencoba untuk menyikannya terutama untuk bait-bait yang pertaama.

Aku berniat bahwa aku ingin betul-betul memperhatikan seteliti mungkin semua barang-barang yang dipajang di dalam musium ini, sehingga aku mengatakan kepada istriku bahwa aku mungkin akan berjalan lambat dan apabila ia ingin lebih cepat, maka aku persilahkan, dan dia memenuhinya, maka aku berjalan sendirian karena rombonganku berjalan lebih cepat dari aku.

Aku lihat satu per satu hampir semua barang-barang yang dipajang, bahkan aku membaca judul-judul dari barang-barang yang dipajang yang tertulis pada kertas di bawah barang-barang itu. Walalupun aku membaca hanya judul, asal dan tahun beredarnya, itupun dapat memakan waktu dan dapat  membuat yang menunggu aku kehilangan kesabaran. Aku terus saja memperhatikan satu per satu, aku baca semua judul keterangan barang-barang yang aku lihat, aku sampai lupa bahwa aku datang bersama rombongan. Aku sekali melihat ada seorang guide lelaki berbaju orang lokal sedang menerangkan kepada pengunjung. Aku jadi tidak enak sendiri khawatir kalau guide itu merupakan orang bayaran yang harus dipesan terlebih dahulu, lalu aku meninggalkan si guide itu seketika aku merasa tidak enak. Aku juga melihat guide seorang wanita berpustur dari Asia Selatan, tapi aku mengacuhkan juga karena aku merasa bahwa dia merupakan guide bayaran.

Yang aku tertariki juga pajangan tentang Agama yang pernah ada di bumi ini. Utamanya Agama-agama yang masih eksis saat ini, mulai dari agama Bhuda, Hindu, Kristen dan Islam. Aku mencoba mengartikan sendiri tentang patung-patung yang dipajang dari hasil peninggalan agama-agama yang aku sebutkan di atas kecuali Islam yang aku tidak melihat adanya patung yang dipajang kecuali lukisan dan tulisan terutama dari kitab suci Alqur'an. Ada patung yang menggambarkan seorang lelaki tak berpakaian kecuali bagian auratnya dengan perut gendut sedang memegang semacam pentungan. Ada patung seorang wanita dengan empat tangan yang nampak sedang menari. Ada beberapa patung lelaki yang memang benar-benar telanjang kecuali memakai  kain yang diselendangkan di atas pundak dan tangannya, akan tetapi pada kemaluannya yang seharusnya ada sebagai pengganti dihilangkan bahkan ada setelah dipotong diganti dengan tanda bintang yang terbuat dari seng, tidak seperti yang aku lihat di Paris, alat kelaminnya dibiarkan utuh kecuali memang telah rusak. Terakhir di bagian ini aku mampir di tempat di mana Alqur'an dipajang, Alqur'an sejak dari jaman awal Islam di mana huruf-hurufnya terasa susah untuk aku baca walaupun tulisannya terasa masih jelas.

Aku jadi teringat dengan kisah Ibnu Batutta yang dipajang di Ibnu Batutta Mall, Dubai ketika aku melewati tempat khusus yang memajang tentang geografis kuno, alat-alat yang dipajang penampakannya mirip dengan apa yang dipajang di sini, ada gambar beberapa peta yang telah dipakai oleh mereka sebagai petunjuk dalam perjalanan berlayar di lautan, ada juga replika bola dunia yang dilengkapi dengan alat ukur pembaca posisi, dan lain sebaagainya yang berhubungan dengan ilmu bumi. Sungguh sekali lagi aku terasa takjub dibuatnya,  bagaimana mereka dapat membuat peta-peta itu dengan teliti dan detail sementara peralatan seperti satelit belumlah juga ada.

Kini aku memasuki daerah kerajaan-kerajaan yang pernah muncul di dunia ini, walaupun yang dipajang adalah tidak selengkap kejadian yang sebenarnya, akan tetapi di dalam musium ini aku rasa cukup banyak koleksinya. Berbicara kerajaan, maka tidak lepas juga harus berbicara siapa penguasanya. Ada tempat-tempat mummi yang sepertinya terbuat dari kayu dari kerajaan Mesir kuno. Ada patung-patung yang diambil juga dari kerajaan Mesir kuno. Serta tulisan-tulisan yang sepertinya ditulis kembali pada sehelai kain panjang menurut tulisan di bawahnya yang pernah dipakai sebagai kain pembalut mummi pada jaman kerajaan Mesir kuno. Ada pula patung-patung kecil yang konon ditemukan bekas dari kerajaan Bangsa Maya di Mesiko dan sekitarnya. Ada pakaian perang khas bekas kaisar Jepang di mana dipakai ketika sedang melakukan upacara khusus. Ada juga baju perang yang terbuat dari besi pelat tipis lengkap dengan pelindung kepala di mana baju itu merupakan baju canggih untuk berperang pada saat itu. Aku kini sedang melihat-lihat alat-alat tukar menukar atau uang di jaman yang lalu akan tettapi sebelum aku menyelesaikan acara melihat semua yang ada di dalam bagian ini, aku mendapatkan panggilan tetefon dari istriku untuk yang ketiga kalinya, maka aku cepatkan langkahku bahkan terkadang aku lewati saja barang pajangan yang aku anggap tidak terlalu aku senangi.

Aku coba untuk melambatkan lagi langkah kakiku ketika aku melewati bagian seni. Walaupun seni pasti ada hubungannya dengan masa suatu kerajaan atau dinasti, akan tetapi benda seni memiliki suatu harga yang bernilai. Pahatan-pahatan patung dan senjata yang mereka pakai dapat terlihat jelas digambarkan oeh pemahat-pemahat jaman dulu. Pahatan-pahatan gambar bercorak anggota tanaman yang terpahat pada lembaran daun pintu pada suatu jaman kira-kira sekitar seribu limaratus tahu yang lalu masih dapat dilihat. Tidak ketinggalan juga ada patung yang dipajang berasal dari Papua, patung dari seorang penduduk Papua yang sedang duduk dengan lutut yang dilipat dan dengan pahatan hidung yang lumayan besar dan terbuat dari kayu berwarna coklat tua kehitaman. Aku teliti dengan seksama, aku jadi teringat patung-patung pahatan dari suku Samat Papua. Semua mata tertuju pada lukisan seseorang yang sedang naik kuda yang ditempelkan tepat di dinding tembok yang berada di tengah di mana di sisi kanan dan kirinya merupakan jalan menuju ke ruang di belakangnya. Bahkan aku lihat banyak orang yang sedang melakukan memotret dirinya sendiri dengan latar belakang lukisan sebesar kira-kira ukuran orang dan kuda aslinya. Agar penasaranku menemui jawaban, lalu aku mendekatinya, aku rupanya sudah sering membaca nama si pengunggang kuda berbaju formal tahun pertengahan dengan kuda yang sedang mengikik yang berdidi di atas kedua kaki belakangnya dan kedua kaki depannya diangkat sambil ditekuk ke atas pada lukisan itu, dialah Napoleon Bonaparte. Setelah melalui lukisan itu aku sudah mencium bahwa pintu keluar sudah semakin dekat.

Aku lanjutkan saja terus menuju jalan yang ujungnya entah di mana sampai aku menemukan lift dan di sebelahnya adalah tangga turun dengan tanda panah mengatakan bahwa di bawah sana ada arena khusus untuk musium anak-anak. Aku menuruti saja tanda panah menurun dan tidak memilih masuk lift dengan harapan aku dapat singgah di tempat yang ditunjukkan oleh papan petunjuk agar mengetahui barang-barang yang sedang dipajang untuk anak-anak. Dugaanku tenyata tidak benar, ruangan yang mungkin untuk anak itu masih tidak ada barang yang dipajang, sambil aku clingak-clinguk telefon genggamku berbunyi, dan yang aku lihat di layar lelefonku adalah istriku. Aku jawab bahwa aku sudah dekat dan sedang menuju ke pintu keluar, dan aku tutup telefonku ketika aku lihat putriku sedang menjawab telefonku sedang duduk berjejer dengan keempat anggota rombongan membelakangi aku. Dan aku kini sudah keluar arena tempat barang-barang musium Louvre dipajang.

PENUTUP

Ketika aku keluar gedung dan akan memasuki areal parkir, aku masih saja terpengaruh suasana barang-barang yang sedang dipajang di dalam musium tadi. Pikiranku ingin memberikan suatu penilaian, lalu aku mencoba mengeluarkan penilaianku itu dengan mengucapkannya kepada menantuku, aku katakan bahwa kalau aku harus menilai tentang keadaan barang-barang yang dipajang tadi adalah "bagus" atau "good", bukan luar biasa atau "excellence", dimana penilaianku itu diiyyakan oleg dia. Penilaian itu didasari kepada ingatanku pada musium Louvre yang ada di Paris. Akan tetapi, agar lebih jelas dalam membuktikan pendapatku itu penulis sarankan agar pembaca mengunjunginya sendiri, karena penilaian yang aku sebutkan di atas  merupakan penilaian pribadi. Ibarat menilai rasa asam dan manisnya buah jeruk, aku yakin antara orang satu dan lainnya akan berbeda, untuk itu rasakanlah sendiri sebelum mempercayainya.

Aku jadi membayangkan keadaan musium di Indonesia, untuk membawa pengunjung untuk berkunjung saja aku pikir sangat sulit,. Pengunjung biasanya ada atau datang karena ada program untuk murid-murid sekolah yang sedang melakukan kunjungan.  Bahkan ada suatu berita di tanah air bahwa suatu musium dibiarkan tidak terawat karena tidak memiliki dana untuk melakukan perawatan. Dan yang lebih tragis lagi adalah, isi barang-barang berharga milik suatu musium ditukar dengan yang palsu, diembat, dicuri oleh oknum demi keuntungan pribadi tanpa menghiraukan nilai yang terkandung pada barang yang sedang dijahili. Aku tidak ingin membicarakan keadaan musium di tanah air lebih panjang lagi, selain aku hanya mengetahui dari berita, aku tidak ingin menjadi lebih sedih lagi dibuatnya.

The END.

Medeo: Abu Dhabi, 30/11/2017.

Friday, June 09, 2017

SIAPAKAH KITA?

UMUM

Tulisan ini mulai dibuat pada minggu terakhir acara kampanye Pilgub DKI atau yang biasa disebut Pilkada DKI, 2017. Dimana Pilkadanya sendiri hanya tersisa hampir satu minggu lagi. Hiruk-pikuk perjalanan Pilkada DKI kali ini memang secara politik luar biasa panasnya. Barangkali, adalah suatu kelumrahan apabila Pilkada Ibu Kota suatu negara menjadi perhatian hampir semua masyarakat yang berada di negara tersebut, bahkan mungkin perhatian dari masyarakat yang berada di negara luar. Demikian pula dengan Pilkada yang sedang terjadi di Ibukota Indonesia, Jakarta. Namun gaung benturan antara kubu yang akan bertarung sungguh berada di luar koridor peraturan Pilkada itu sendiri. Apabila disimpulkan secara serampangan, maka antara kubu yang satu dan kubu yang lainnya seolah-olah mereka sedang bersaing bukan antara sesama Warga Negara Indonesia, seolah-olah antara mereka tidak saling menginjakkan kaki mereka pada bumi Indonesia, seolah-olah mereka tidak menggunakan Bahasa Nasional yang sama yaitu Bahasa Indonesia, bahkan seolah-olah mereka tidak menggunakan UUD dan Dasar Negara yang sama pula.

Penulis sebagai warga negara walaupun sedang menetap di Luar Negeri lebih dari 23 tahun, masih senang juga terus mengikuti perkembangan Pilkada DKI melalui beberapa media sebagaimana masyarakat Indonesia yang lain baik mereka yang menetap di Tanah Air ataupun di Luar Negeri. Apalagi saat ini suasananya sungguh penulis anggap sangat luar biasa panasnya. Hal ini bukan hanya panas di bidang politik saja, akan tetapi panas juga di bidang-bidang lainnya terutama seperti bidang sosial.

Tentu sebagai warga negara, penulis tetap akan berharap bahwa bagaimanapun panas-dingin suhu akibat politik Pilkada ini dapat berakhir dengan damai, sehingga hal ini akan menambah kedewasaan masyarakat Indonesia didalam berdemokrasi.

Tulisan ini sengaja diberi judul sesederhana mungkin karena yang tampak dan dapat diamati bahwa dari suhu politik yang ada dan dengan reaksi individu masing-masing didalam memberikan reaksi terhadap suhu itu sebenarnya dapat memberikan suatu indikasi terhadap individu itu sendiri, yaitu sebenarnya siapakah si individu itu sendiri. Ini bukan akan membahas tentang kecendrungan individu condong ke pihak (baca Cagub) yang mana atau mendukung Partai yang mana, ini hanya ingin melihat sifat dari diri kita ketika melakukan reaksi terhadap apa yang terjadi selama proses Pilkada, hal ini untuk menentukan siapa sebenarnya diri kita ini.

TITIK AWAL

Seperti yang telah diketahui sejak sebelum rentetan pelaksanaa Pilkada DKI 2017 dimulai, KPU(D) telah memberikan pengumuman bahwa semua calon yang ingin bertarung pada Pilkada ini harus memenuhi suatu persyaratan yang telah ditentukan oleh Undang-Undang Pilkada yang berlaku. Yang pasti, calon-calon yang akan dipilih dapat diusulkan dan dikatagorikan menjadi dua katagori. Yang pertama melalui non-partai atau biasa dikenal dari calon independen, dan yang kedua melalui Partai Politik. Kedua katagori ini memiliki aturan dan persyaratan masing-masing. Yang manapun yang akan ditempuh memerlukan persyaratan yang tidak mudah.

Untuk katagori yang pertama, yaitu seorang calon mencalonkan diri dari jalur non-partai yang lebih dikenal dengan istilah jalur independen, adalah mencalonkan diri sesuai dengan kehendaknya sendiri dengan persyaratan utama harus didukung oleh warga setempat (dimana Pilkada itu diselenggarakan) minimal sebanyak 6,5 sampai dengan 10 persen dari jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pilkada sebelumnya dengan bukti salinan identitas yang berlaku (Kartu Tanda Penduduk, KTP). Persentase itu tergantung dari jumlah DPT dimaksud.

Untuk DPT sampai dua juta orang dipersyaratkan mengumpulkan KTP 10% dari DPT-nya, dan untuk DPT lebih dari dua juta orang sampai dengan enam juta orang KTP yang dikumpulkan minimum harus 8,5% dari DPT-nya. Sedangkan untuk DPT antara enam juta sampai dengan duabelas juta orang harus mengumpulkan KTP minimum 7,5% dari jumlah DPT-nya. Dan bagi jumlah DPT lebih dari duabelas juta orang, maka minimum jumlah KTP yang dikumpulkan harus 6,5% dari DPT-nya.

Karena pada Pilkada DKI tahun 2012 yang lalu adalah antara enam juta sampai sepuluh juta, maka bagi calon independen yang ingin mencalonkan diri menjadi Calon Gubernur harus mampu mengumpulkan dukungan KTP sekitar 7,5% dari DPT tahun 2012.

Perlu dicatat bahwa, dalam mengajukan diri sebagai calon Gubernur, KPU mempersyaratkan bahwa ketika mencalonkan diri harus mencantumkan juga nama Wakil Gubernurnya. Ini artinya KTP yang dikumpulkan harus pula mencantumkan dukungan bagi keduanya, calon Gubernur dan Wakilnya.

Seperti telah diketahui, bahwa Gubernur DKI non-aktip saat ini yang dikenal dengan nama Ahok, telah akan mencalonkan diri sebagai calon Gubernur untuk pemilihan Gubernur (Pilgub) yang akan datang. Akan tetapi akan maju sebagai calon bukan dari usulan Partai Politik melainkan maju secara independen. Usaha untuk memenuhi perolehan dukungan formal telah dilakukan dan hasilnya sudah memenuhi syarat untuk mengajukan diri sebagai calon dari bukan Partai. Namun ada desas-desus bahwa DPR akan membuat undang-undang baru yang sifatnya akan memperberat persyaratan calon independen. Ada berbagai pendapat mengapa desas desus ini keluar. Akan tetapi isu yang kuat alasannya adalah; persyaratan calon independen dianggap terlalu mudah, sehingga dapat mendeskreditkan usaha Partai Politik dalam mencari calon Kepala Daerah. Orang akan lebih memilih melalui cara independen daripada melalui Partai Politik.

Sepert gayun bersambut, akhirnya Pak Ahok maju sebagai Calon Gubernur melalui jalur Partai Politik. Dukungan simpatisannya yang selama ini telah memperjuangkannya agar dapat maju sebagai Cagub dari jalur independen harus merelakan dan melepasnya untuk maju dari jalur Partai Politik.

Seperti yang telah diketahui, bahwa gaya kepemimpinan Pak Ahok selama ini sangat unik. Pembenahan DKI sana-sini baik secara administrasi dan lapangan, serta gaya ngomong yang ceplas-ceplos terkadang dengan intonasi tinggi dan marah, membuat banyak orang tidak menyukainya walaupun tidak sedikit pula pula yang menyukainya. Sampai-sampai hubungan Pemda DKI dan DPRDnya tidak terlalu harmonis.

Hasil kerja kepemimpinan Pak Ahok nyata terhadap perubahan DKI ke arah yang lebih baik daripada sebelumnya. Pelayanan para Pamong di kantor-kantor Pemerintahan DKI menurut banyak orang menjadi lebih baik. Pujian bagi Pak Ahok seolah mengalir terus akibat setiap tindakan yang dilakukan, walaupun banyak juga yang mencemoohkannya.

Tentu Pak Ahok dibenci juga oleh banyak orang terutama para anggota DPRD dari Partai Oposisi Pemerintah sekarang.  Pak Ahok seolah tidak memperdulikan kepada yang membencinya. Kerja yang dianggap untuk masyarakat DKI lebih didahulukan daripada bergeming pada mereka yang membenci dan memusuhinya.

Tak ada gading yang tak retak, Pak Ahok pasti memiliki kelemahan. Beliau sendiri beragama lain dari kebanyakan masyarakat yang dipimpinnya, lazimnya dari golongan Agama minoritas. Dan bukan itu saja, Pak Ahok dari keturunan minoritas yang berasal dari luar Indonesia. Inilah yang menjadi sasaran empuk para pendukung lawan-lawannya. Ha ini menjadikan suatu titik lemah yang dipandang oleh lawan-lawannya, sehingga apapun program yang telah dijalankan atau yang sedang direncanakan akan dibelokkan dengan tuduhan demi memunculkan dominasi minoritas.

Lain halnya bagi Cagub yang akan mencalonkan diri melalui jalur Partai Politik. Partai Politik (dapat sendiri atau koalisi dengan partai lain) harus meraih minimum jumlah suara sebanyak 25% dari total jumlah suara pada Pemilu yang baru dilalui, atau minimal mendapatkan 20% dari jumlah kursi yang diperebutan dalam Pemilu Legislatip. Hal ini sebenarnya lebih mudah dalam prakteknya karena si Cagup tidak perlu lagi bersusah payah untuk mengumpulkan Kartu Identitas pendukungnya, semuanya akan dilakukan oleh Partai baik melalui jalan koalisi ataupun sendiri.

ARAH SELANJUTNYA

Panasnya pre-kampanye Pilkada (pemakaian kata pre karena walaupun kampanye resmi belum dimulai akan tetapi para Cagub yang akan berkompetisi sudah memulai melakukan promosi diri) ini akhirnya terbentur pada issu yang sangat sensitip. Acara resmi dalam memberikan sambutan di Kepulauan Seribu pada suatu acara resmi di depan suatu komunitas mayoritas Islam Pak Ahok mengingatkan masyarakat bahwa banyak orang memakai surat Almaidah untuk tidak memilih dirinya. Pak Ahok mungkin lupa bahwa dirinya akan selalu diintai oleh para musuh-musuhnya di Pilkada ini nanti. Bagai gayung disambut, ucapannya itu dijadikan pemicu atas dirinya bahwa dia telah menodai Kitab Suci umat Islam dengan mengatakan bahwa ayat Alqur'an tidak benar.

Inilah awal dari malapetaka Pak Ahok yang tadinya semacam orang yang tidak akan tertandingi dalam Pilkada yang akan datang ini telah membuat pernyataan yang sangat sensitip terlepas apa tujuannya. Orang Islam yang tadinya masih ada keraguan walaupun telah menetapkan pilihan kepadanya, akan berubah pikiran untuk mengalihkan suaranya. Banyak yang memperkirakan bahwa apabila Pak Ahok tidak pernah terpeleset membuat pernyataan di Kepulauan Seribu itu, kemungkinan memenangkan Pilgub dalam satu putaran sangat memungkinkan. Akan tetapi jalannnya Pilgub berbicara lain, sehingga walaupun pada Pilgub di putaran pertama menjadi yang paling unggul, namun Pilgub harus dilanjutkan dengan Pemilu seri kedua.

Suasana tidak semakin memihak kepada Pak Ahok, ini terutama setelah ucapannya yang dianggap kontroversial oleh lawan-lawannya itu berujung pada dilaporkannya kepada pihak yang berwajib. Terlebih lagi setelah keluarnya Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengkatagorikan bahwa, apa yang telah diucapkan Pak Ahok di Kepulauan Seribu merupakan suatu bentuk Penistaan terhadap Agama Islam.

BAGAI PERANG BARATAYUDA

Peristiwa di atas menjadikan suasana politik di tanah air khususnya di DKI dan sekitarnya menjadi panas sekali. Demonstrasi yang tadinya tidak memiliki landasan kuat menjadi memiliki dukungan dari fatwa MUI sebagai pengesahan  legalitas atas tuntutan pihak-pihak yang menentang Pak Ahok. Isu-isu Agama dan Ras semakin memuncak.  Tidak jarang seorang tokoh dengan sengaja merendahkan asal-usul ras dari Pak Ahok. Perlawanan dari pendukung Pak Ahok juga tidak kalah sengitnya didalam membela Pak Ahok. Para ahli dan cendikiawan dari kedua kubu saling melontarkan serangan atau pembelaan terhadap Pak Ahok ataupun lawan-lawannya.  Seandainya diibaratkan, maka persiteruan di Media Sosial (Medsos) layak diberi gelar Perang Barata Yuda ala Pilkada DKI di Medsos.

Tak akan terhindarkan lagi adanya godaan bagi banyak pihak. Orang yang tadinya pendiam atau pasif dan susah ditebak turut pula angkat bicara. Apalagi mereka yang sudah biasa aktip di Medsos, mereka seperti tidak akan ada kehidupan apabila belum melihat suasana berita dan atau Medsos setiap harinya. Mereka seolah-olah merasa diinjak-injak oleh pihak seberang apabila tidak memberikan komentar atau serangan balik di Medsos terhadap setiap berita yang berkenaan dengan perkembangan persiteruan antara dua kubu Pilkada DKI ini.

Persiteruan ini tidak dapat menghindari lahirnya idola-idola baru (new idols).  Orang yang tadinya bukan siapa-siapa mendadak menjadi terkenal karena status di Medsosnya menjadi terkenal atau viral. Meraka yang tadinya tidak dikenal mendadak menjadi idola baru karena suaranya telah memberikan semangat atau sedang menohok pihak lawan.

Bully dan olok-olok sudah menjadi suatu kebiasaan yang dianggap normal didalam menjatuhkan pihak lawan. Kawan yang tadinya seperti anak manis mendadak menjadi  sosok  yang harus dibenci bahkan dimusuhi karena perbedaaan dukungan Calon Pimpinan saja. Grup Medsos yang tadinya seperti air tenang tiba-tiba beriak bahkan sampai left atau di-unfriend  dikarenakan perbedaan dukungan. Bahkan pada puncaknya tidak jarang bukan benar atau salah yang dibela melainkan sosok siapa yang harus dibela tidak memperdulikan apapun yang dikatakan oleh yang didukung. Akhirnya pengkultusan terhadap tokoh yang diidolakan secara tersembunyi telah terjadi. Dengan demikian mata hati dan pikiran tidak lagi dipakai sebagaimana seharusnya. Yang penting tokohku tidak layak untuk disalahkan, dan "dia" harus menang apapun caranya dan resikonya.

SIAPAKAH KITA?

Perang di Medsos seolah semakin seru, saling jatuh-menjatuhkan pihak lawan dari berbagai penjuru tidak dapat dihindari lagi. Semua yang terlibat semakin terbuai, sehingga lupa handai tolan yang telah lama bersaamaan. Demikian pula pujian atau sanjungan kepada yang didukung juga silih berganti didalam mempertahankan yang didukung. Semua yang terlibat semakin terbuai dan menjadi lupa diri karena asyiknya didalam pertempuran di Medsos. Dan dengan adanya persiteruan itu terkadang akan membawa diri kita juga ikut terlarut di dalamnya.  Hal ini disebabkan isu Agama, Sosial dan Ras serta Politik tercakup di dalamnya. Perumpamaannya seperti tumbuhan yang tumbuh di atas tanah, ketika banjir datang, maka bagi yang masih tumbuh lemah baik batang ataupun akarnya, mereka akan terhanyut juga. Dan hal ini menyebabkan apa yang tadinya tidak diketahui orang lain tentang pandangan atau kecondongan kita atau seseorang, akan menjadi nampak yang terkadang buram dan terkadang terang benderang. Walaupun penampakan ini bukan berarti tidak akan berubah walaupun adakalanya dan tidak jarang yang permanen.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa reaksi terhadap suatu persoalan terutama yang datang dari bawah sadar sebenarnya dapat membuka, menguak atau menunjukkan identitas diri seseorang, seolah memunculkan "nilai"  asli dari orang tersebut.

Akan tetapi ada bahkan banyak yang melihat persiteruan ini membuat dirinya sendiri tidak dapat menentukan di pihak mana posisinya  harus berpihak. Dia seolah bagai berada di persimpangan jalan. Melihat yang sebelah sisi satunya benar, sebelah sisi lainnya juga benar. Hal ini juga sebagai penunjukan karakter identitas diri dari seseorang diakibatkan oleh kekurang mampuannya didalam melihat dengan jernih persiteruan antara kedua kubu yang sedang berperang, sehingga dia menjadi ragu-ragu. Dia tidak memiliki prinsip untuk berpijak didalam menilai suatu permasalahan yang variannya lebih dari satu (kompleks).

Dari semua itu yang terpenting adalah,  mereka yang sebelumnya tidak teridentifikasi oleh teman di komunitasnya, kini telah diketahui dan bahkan diberi label apakah dia termasuk yang identitasnya serupa dengan teman di Medsosnya atau bahkan bertolak belakang. Teman yang tadinya tidak ada gejolak setelah adanya persiteruan akibat Pilgub DKI menjadi terbelah dua kubu. Bahkan tidak jarang teman yang tadinya suka bersenda gurau di Medsos kini menjadi musush bahkan keluar atau dikeluarkan dari akon kelompok atau akon pribadi di Medsos.

Namun banyak yang lupa mungkin, apakah keadaan setelah persiteruan Pilgub DKI akan masih terus bersiteru tanpa ada kata damai dan tetap bermusuhan? Karena  masing-masing kandidat sebenarnya tujuannya hanya satu, yaitu maju untuk menang dan meraih jabatan yang diperebutkan. Hal ini bukaan karena tanpa alasan, akan tetapi setiap kandidat telah mengeluarkan tenaga, biaya, waktu dan pikiran yang tidak sedikit jumlahnya. Sehingga apabila mengalami kekalahan, maka kerugian-kerugian yang telah dibayar ketika berjuang tidaklah sedikit. Inilah yang mengakibatkan adanya persiteruan yang tidak mengenal batas norma-norma kehidupan bersosial. Bahkan terkadang norma hukumpun diterjang demi untuk memenangkan yang sedang dalam pertarungan. Dan yang dijadikan korban adalah massa yang akan mengikuti Pilgub itu bahkan sampai massa yang berada di luar wilayah DKI ikut juga terpengarus dan bertikai.

Apapun yang telah dan akan terjadi akibat dari Pilgub DKI penulis melihat dari segi positipnya saja, yaitu, semua itu merupakan bagian dari suatu proses didalam mendewasakan Bangsa Indonesia di dalam berdemokrasi. Hal ini dengan catatan, persiteruan di Medsos tidak berlanjut menjadi persiteruan secara nyata yang melibatkan fisik masing-masing untuk menjadi korban. Karena persiteruan fisik akan merugikan siapa saja yang terlibat. Baik kubu yang menang ataupun kubu yang kalah. Semoga apa yang penulis harapkan memang ini yang terjadi, sehingga nantinya menguatkan pondasi komponen bangsa di dalam berdemokrasi. Akan tetapi kini anda sudah dikuak siapa sebenarnya diri anda itu.

End.

Medio Abu Dhabi, 9/6/2017.