The First Sermon
INTANS
"Ruang" ini untuk mencatat sejarah hidup kami terutama dalam bentuk tulisan-tulisan, agar peristiwa dan kejadian sedapat mungkin terdokumentasi. itu akan kami gunakan sebagai bahan renungan tentang perjalanan hidup yang telah kami lalui, sehingga berguna sebagai bekal untuk perjalanan kami berikutnya. Kritik dan saran bagi para pengunjung "Ruang" ini sangat kami hargai, karena kami yakin dengan kekurangan yang ada pada diri kami, maka kami membutuhkan anda sekalian.
Sunday, January 18, 2026
KHOTBAH 16/01/2026: The Day of Determination (Yawm al-’Azm)
Saturday, December 13, 2025
PENGAJIAN KMMI ABU DHABI TGL. 15 MARET, 2024, TEMA: TEMA: BULAN RAMADHAN
Alhamdulillah, pada kesempatan sore yang mulia, pada kesempatan hari yang mulia, di mana Nabi SAW bersabda; "bahwasannya, Sayyidul ayyam yaumal Jum'ah". Tuannya hari-hari dalam sepekan adalah hari Jum'at. Dan di mana kita sekarang berada di hari Jum'at bertepatan dengan pekan pertama Bulan Ramadhan ini. Dan di waktu yang mustajab apabila kita berdoa kepada Allah SWT. Maka hendaknya di majlis yang mulia pada sore hari ini, marilah kita bersama-sama duduk meluangkan waktu kita, menempatkan diri kita pada tempat yang mulia, yakni majlisus a'lam, di mana inshaAllah para malaikat bersholawat pada orang yang duduk pada majlisus a'lam. Kekuatan iman yang azamiAllah wa iyyakum jamiian.
Pertama-tama saya mengucapkan terimakasih banyak atas kehadirannya pada kesempatan sore hari ini, dan kami di sini akan sedikit berbagi tentang apa yang kami ketahui, dan tidak melandas semua hormat kami pada para asatidah lainnya dan para teman-teman tohib lahilah lainnya yang telah duduk dalam majlis pada kesempatan sore hari kali ini.
Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamian. Apabila kita berbicara tentang bulan Ramadhan, maka hendaknya kita senantiasa berusaha untuk melahirkan amalan-amalan terbaik di bulan terbaik ini.
Kalau tadi sayyidul ayyam, hari yang paling utama adalah hari Jum'at, sayyidul asyhur atau sayyiduzzuhur adalah bula Ramadhan. Bulan yang paling utama dalam duabelas bulan Islam adalah bulan Ramadhan. Jadi kita mendapatkan dua keutamaan, yaitu keutamaan hari Jum'at dan keutamaan bulan Ramadhan. Lebih-lebih apaila kita duduk di hari Jum'at sore, di mana setiap doa yang dipanjatkan oleh Bani Adam yang muslim-mukmin, maka niscaya Allah SWT akan memberikan balasan berupa dikabulkannya doa tersebut, inshaAllah.
Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamian bulan Ramadhan identik sekali dengan bulan kebaikan. Kita mengetahui bahwasannya, kebaikan itu merupakan kunci dari lancarnya kita berpuasa di bulan Ramadhan. Karena apa?, Kebaikan akan melahirkan kebaikan selanjutnya, begitupun dosa, dosa niscaya akan melahirkan dosa selanjutnya. Hal ini sesuai dengan kaidah yang diutarakan oleh salah satu ulamak, lhasan Albasri yang merupakan tabiin, di mana beliau memiliki kaidah, yang masuk dalam katagori kaidah fiqih, yaitu inna minjazail hasanah, hasanatul bakdaha, sesungguhnya balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya. Jadi, barang siapa yang berbuat baik, maka niscaya dia akan mendapatkan kebaikan selanjutnya.
Wa inna min akumatissayyiat, sayyiatu bakdaha. Hukuman, atau punishment dari orang yang melekukan keburukan, maka niscaya keburukan selanjutnya akan menimpanya. Dan ini dalam fiqih termasuk ke dalam reward and punishment, barang siapa yang melakukan kebaikan, maka dia akan mendapatkan kebaikan, dan barang siapa yang melakukan dosa, maka dia akan mendapatkan dosanya.
Maka dari itu, sekarang kita berada di bulan Ramadhan, kita masuk di hari yang ke lima, inshaAllah nanti ba'da Maghrib kita masuk ke hari yang ke enam. Coba kita cek lagi, selama lima hari pertama ini, apa yang telah kita lakukan, kebaikan, atau justru hal-hal yang sifatnya kesalahan. Kenapa? Karena kita tau sekarang kita sedang berada di awal, awal bulan Romadon, masih di 5 hari pertama, dan di 5 hari pertama ini, kita benar-benar istilahnya lagi balapan di KDF atau di lap city, ini kita baru berada di lap ke 5, masih ada 25 lap atau 24 lap lagi di depannya.
Kayaknya harus kita coba lihat, apakah kita start kemarin start-nya itu di full position dan kita sudah menyiapkan semuanya dengan baik?, atau ternyata kita start dari belakang, sehingga kita pelan-pelan menghadapi Ramadhan ini?. Maka dari itu, harus cek kembali apakah kebaikan-kebaikan telah kita lakukan atau justru sebaliknya kesalahan-kesalahan yang kita ciptakan.
Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, berlandaskan kaedah Nabi SAW, maka kita masih di awal bulan Ramadhan, masih di ujungnya, maka hendaknya kita senantiasa memaksimalkan potensi kebaikan yang ada dalam diri kita, di mana Nabi SAW bersabda, "Inna sifkok yahdilladirk, wa innal birrok yahdilla jennah", bahwasannya kejujuran seseorang dalam mengamalkan kebaikan, akan mengantarkannya kepada ketaatan yang terbaik, dan ketaatan yang terbaik itu akan mengantarkan orang tersebut ke..., Sorganya Allah SWT.
Maka hendaknya kita berusaha di hari yang ke 5 ini hingga hari-hari selanjutnya, kita mulai untuk membiasakan diri kita melakukan perbuatan-perbuatan yang baik. Karena seperti yang tadi dibacakan oleh qorik kita semua, dianggap bahwa ayat 184, ayyaman makduudah, hari-hari terbatas. Jadi, Ramadhan itu harinya terbatas, cumak 29 sampai dengan 30 hari. Maka dari itu alangkah baiknya kita sebagai orang muslim mukmin, untuk memanfaatkan sebaik-baiknya bulan Ramadhan dengan amalan-amalan yang terbaik, dan bukan hanya sekedar beramal, akan tetapi kita perlu cerdas dalam beramal.
Jadi, kita tidak hanya beramal, tapi kita harus melakukan kebaikan dan cerdas. Bagaimana cerdas itu?. Nabi SAW bersabda, dan ini merupakan salah satu landasan para ulamaak, menciptakan fiqih prioritas. Apa itu fiqih prioritas?, fiqih prioritas itu adalah fiqih yang mengutamakan sesuatu amalan terbaik sebelum amalan baik yang lainnya, itu fiqih prioritas, atau dalam bahasa Arab, fiqul awlawiyah.
Jadi, teman-teman dalam hidup inshaAllah akan belajar itu semua. Mana Nabi SAW bersabda, "sabbiduu wa qaaribuu wa amiluu wa khairuu". Sabbiduu wa qaaribuu, di sini artinya adalah, beristiqomahlah kalian dalam menjalankan kebaikan, wa raaqibuu, wa qaaribu afwan, dekatilah amalan tersebut, setelah kalian akan dekat dan istiqomah dengan amalan tersebut, wakmaluu, maka kerjakanlah, wa khairuu, dan tunaikanlah kebaikan-kebaikan dari apa yang kamu kerjakan.
Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, Ramadhan ini sangat singkat, sekali lagi, Ramadhn sangat singkat. Jadi, kita sekarang jangan sampek kejar-kejaran waktu hanya untuk hal yang sia-sia, dan tidak bisa kita tunaikan haknya Ramadhan itu amal kebaikan. Maka dari itu kita harus cerdas dalam beramal dan menerapkan prioritas utama dalam beramal.
InshaAlloh dalam kesempatan yang mulia di sore hari ini, kita akan meringkas menjadi 4 prioritas.
Prioritas yang pertama adalah; tentu saja dalam Islam kita harus menunaikan amalan-amalan yang sifatnya wajib. Dan amalan wajib, dalam kaedah yang diutarakan oleh imam Ibnu Qoyyim rahimakumullahutaala, dan juga dikuatkan oleh salah satu dari al-iman mahdab Maliki, beliau menyampaikan bahwasannya "talazum beidha al amal addhahir wal bathin", hendaknya seseorang ketika beramal, dia wajib membuat koneksi yang kuat antara amal yang dhohir yang nampak, dan amal yang bathin. Bahkan dikatakan, diriwayatkan dari imam Ahmad. teman-teman bisa ngecek nanti, bahwasannya amal bathin itu dikatagorikan sebagai amalan yang sifatnya diketahui oleh diri kita sendiri, dan itu terkadang sifatnya lebih utama daripada amalan-amalan yang nampak atau dohir.
Dan di bulan Ramadhan, kita semua melaksanakan amalan yang sifatnya batin. Apa-apa yang batin di bulan Ramadhan?. (ada salah satu jamaah wanita menjawab), apanya bak? Puasa, betul puasa. Amalan bathin di bulan Ramadhan adalah Puasa. Karena apa?, tidak ada yang tau, kita duduk di sini kita tidak berpuasa, tidak ada yang tau itu. Tetapi kalau sholat, amalan dhohir yang nampak, semua orang tau bahwa kita sholat. Kalau orang duduk mengaji di masjid, kita melakukan sholat sunnah. Adapun puasa, puasa itu yang tau hanya diri kita sendiri. Maka dari itu Allah SWT berfirman dalam Hadist Kutsi, "Assiyaamulii", puasa adalah untukKu. "Wa Ana adjiubih", dan Akulah yang akan memberikan pahalanya.
Kalau kita bukak buku-buku, klasik ato buku-buku kontemporer dinyatakan bahwasannya setiap amal itu dilipatgandakan. Tapi khusus untuk puasa, puasa itu tidak terbatas. Tidak terbatas pahalanya karena apa?. Yang mengetahui hanya orang tersebut dan Alloh SWT. Kita tidak bisa mengetahui apakah saodara kita berpuasa dengan benar, ataupun tidak. Mungkin secara lisan kita bisa menyatakan, "oh, saya puasa". Tetapi pada kenyataannya belum tentu, 100% benar puasa. Dan itulah prioritas pertama yang harus kita lakukan ketika memilih untuk melakukan amalan di bulan yang mulia di bulan Ramadhan ini, yaitu amalan bathin adalah puasa.
Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, dan penguat puasa merupakan bagian dari amalan batin puasa adalah, Surat Albaqarah ayat 183 yang tadi dibacakan oleh qorik kita. Allah SWT berfirman, "Audhubillahiminassaithonirrojim, Yaa ayyuhalladhiinah aamanuu, kutiba alaikumussiaamu kama kutiba alalladhiina minqoblikum laallaku tattaquun". Ada ini kuncinya, wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kamu dan kepada umat-umat sebelum kamu, puasa. Agar lallakum tattaquun, agar kalian bertaqwa, kalian beramal atas dasar keikhlasan terhadap Allah SWT. Dan ini merupakan visi utama dari puasa. Visi utama dari puasa, apa?, laallakuum tattaquun. Bukan laallakum tatayyadun, laalakum taqrofun, bukan, semoga kalian masuk idulfitri, semoga kalian nanti bisa dapat ee uang, bukan itu. Tetapi laallakum tattaquun. Agar kalian bertaqwa, dan taqwa ini merupakan amalan bathin, amalan yang ada di hati.
Dan ayat al-Qur'an ini dengan hadist-hadist Nabi SAW, "attaqwaa, haa huna, attaqwaa haa huna", Taqwa itu juga di hati, Nabi SAW menunjuk dengan telunjuknya, taqwa itu ada di hati. Maka visi seorang yang berpuasa adalah menciptakan ketaqwaan dalam hatinya. Jadi, selain menahan dahaga, menahan lapar, kita harus mamasukkan visi utama puasa itu ketaqwaan. Kita dilatih untuk menahan amarah, manahan dahaga, menahan lapar dan lain sebagainya, sehingga kita berhasil sampai di derajat orang-orang yang bertaqwa, inshaAllah.
Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, apabila kita berbicara amalan bathin, maka kita tidak boleh tinggalkan amalan dhohir, amalan yang nampak bisa dilihat. Jadi ini berhubungan satu sama lain, amalan bathinnya tidak akan baik kalau amalan dhohirnya buruk. Amalan dhohir tidak akan baik kalau amalah bathinnya buruk. Dua hal ini salng terkoneksi. Tadi saya bilangi satu sama lain. Dan puasa Ramadhan adalah momen kita untuk menjaga hati kita. Untuk menciptakan momentum melahirkan momentum ketaqwaan sesungguhnya dalam diri kita. Itu paling mudah di bulan Ramadan.
Karnanya dituntut, dibiasakan untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT. Dan bisa dibilang, bulan Ramadan ini bulannya orang-orang yang berlomba dalam kebaikan. Kenapa? Karena semua orang yang beramal dari bulan Shawal sampai ke Shakban, sampek ke Rajab, bulan Ramadhan. Mereka ini beramal dengan amalannya masing-masing.
Jadi, orang yang di sebelas bulan sebelumnya meraka sholat tahajjud, mereka menghatamkan Alqur'an secara rutin, mereka itu berpuasa. Dan orang yang sebelumnya tidak melaksanakan sholat tahajjud, hanya sholat wajib, dia tidak menghatamkan al-Qur'an, bahkan, naudubillah dia tidak sholat ataupun tidak mengaji, tetapi dia muslim, dia tidak ikut berpuasa. Jadi, di sini perlombaannya benar-benar perlombaan dalam keadaan yang berbeda-beda. Maka dari itu, mumpung kita masih di awal, kita masih di 5 hari pertama, kita punya kemampuan. Kita punya kesempatan yang sama terhadap orang-orang yang sudah biasa melakukan amalan-amalan yang dia lakukan di luar Ramadhan.
Jadi, ambisinya orang-orang yang sering puasa, orang-orang yang sering mengaji, mereka juga melakukan hal yang sama di bulan Ramadhn. Kita yang sibuk, tidak ikut belajar, kerja, jangan sampai kita lalai. Karena banyak orang-orang yang sudah bersiap sebelumnya. Adalah itu, agar kita mendapatkan ketaqwaan di akhir, maka hendaknya kita mematangkan kembali sisa 25 hari di depan kita. Jadi kita menjaga ketaqwaan sebagai bentuk prioritas utama dalam bulam Ramadhan, yaitu puasa untuk menunaikan atau melahirkan visi utama puasa, yaitu ketaqwaan.
Tafataimanii azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, ikhlas dan taqwa ini merupakan 2 hal yang tidak bisa dipisahkan. Ikhlas itu adalah mengharap rido Allah SWT ketika kita menjalakan atau melakukan apa yang Allah perintahkan, maka dari itu kita diuji juga untuk ikhlas. Ikhlas itu bukan dikatakan, ikhlas itu dalam hati. Kalau kita ngonong; "Oo saya ikhlas-saya ilkhlas, saya mau ngasih buka puasa hari ini saya ikhlas." Ikhlas itu bukan diucapkan, sekali lagi, ikhlas itu perbuatan dalam hati, amalan yang sifatnya juga dalam hati. Bahkan dikatakan oleh salah satu imam, imam Maffusi. Beliau merupakan salah satu tabik attabiin, "alikhlasu tadburu edikhlas", ikhlas itu kita mengesampingkan pernyataan kita kalau kita itu ikhlas. Jadi, ikhlas itu cukup di dalam hati, kita tidak perlu mengucapkan; saya ikhlas. "Waman rooa ikhlas lil ikhlas", barang siapa yang melihat keikhlasannya itu ikhlas, maka dia harus melihat lagi dirinya, lalu sering-sering beristghfar karena kita tidak tau keikhlasan itu bentuknya seperti apa. Karena keikhlasan itu cumak bisa dirasakan di dalam hati, tidak kita ucapkan. Maka dari itu Ramadhan taqwa, dan taqwa turunannya adalah ikhlas.
Semoga kita bisa mendapatkan gol utama dari bulan Ramadhan, yaitu "laallakum tattaquun". Jadi, ketika kita keluar dari bulan Ramadhan kita tidak dalam keadaan sebagai orang-orang yang bertaqwa. Taqwa dalam hati kita, taqwa dalam perbuatan kita dan tindakan-tindakan selain kita. Karena hati ini, "idaa sulhat, suluhat jazadu kulluhu, wa idaa fasadat, fasada ala jazadu kullu, alaa wa hiyal qalb". Hati itu kalau baik, maka keseluruhan hati akan baik. Kalu dia jelek, keseluruhannya akan jelek, itu hati. Hati itu dibuat dan diciptakan diisi dengan ketaqwaan. Maka barang siapa yang mengajak dirinya agar senantiasa berada dalam perbuatan yang baik diridoi Allah SWT, maka hendaknya senantiasa dia, melihat kembali hatinya. Apakah hati dipenuhi dengan taqwa, atau dipenuhi dengan rasa keangkuhan, kesombongan, dan hal-hal yang membuat hati kita ini menjadi, "qalubul mayyid", hati yang mati.
Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, setelah kita mengetahui bahwasannya, amalan seperti prioritas utama di bulan Ramadhan adalah menunaikan ibadah puasa yang sebenarnya adalah ibadah bathin. Jangan kita terlena juga meninggalkan amalan yang kedua, adalah amalan dhohir yang wajib. Amalan dhohir yang wajib adalah apa? Sholat 5 waktu. Kalau kita berpuasa, terus kita tidak sholat. Bagaimana hukumnya?,
Bagaimana jalur hukumnya?. Jadi, ada dibagi lagi hukumnya. Kalau kita berpuasa tetapi kita tidak sholat, kalau kita meyakini bahwa sholat itu wajib, maka orang tersebut bisa dikatakan, dia mengingkari Islam. Akan tetapi poin kedua, apabila dia puasa, dan tidak sholat karena alasan yang malas, atau lalai, atau capek. Puasanya sah, tapi sia-sia tidak ada pahalanya. Karena dia meninggalkan kewajiban yang utama. Ini ada di buku Imam Safii dalam kitabul um, kita bisa buka teman-teman semua. Jadi, sholat itu tiangnya agama. Kalau orang tiang pasaknya tidak luhur, otomatis amalan-amalan yang lainnya akan bermasalah.
Dan juga sering terjadi, seseorang yang di bulan Ramadhan dia suka keasikan dengan amal-amalan bulan Ramadhan, dan meninggalkan amalan-amalan wajibnya yang dhohir. Contohnya apa, banyak orang datang berbondong-bondong pergi sholat Tarawih, tetapi dia meninggalkan sholat jamaah sholat Isyaknya.
Jadi merupakan hal yang harus ditanyakan lagi ke hati kita, apakah itu perbuatan yang memang sesuai dengan kaedah yang ada dalam Islam, atau perlu ditinjau lagi, terlalu ke amalan sunnah dengan sholat wajib. Terlalu pagi sholat Isyak, dan dia langsung pergi Tarawih, ada itu, dan sering terjadi. Atau dia keasikan dengan berbuka puasa bersama, habis gitu lupa sholat Maghribnya. Itu sering kedengaran alumni-alumni kita tidak sholat, ternyata restorannya tidak ada tempat sholatnya, akhirnya lewatlah sholat Maghrib. Qul yaa auzubillah.
Maka dari itu, amalan-amalan dhohir yang bersifat wajib perlu kita tunaikan. Baik sholat di bulan Ramadhan ini juga kita ditekankan untuk menunaikan zakat. Jadi.
Babak-bapak, teman-teman semua yang merasa sudah sampai haulnya, sudah sampai masa 1 tahun perlu uang atau hartanya sudah berhak untuk dizakati, maka wajib hukumnya untuk berzakat. Kenapa di bulan Ramadhan banyak sekali orang berzakat, karena itu bulan yang paling mudah untuk seseorang untuk menghitung harta awalnya masuk katagori dalam wajib zakat. Jadi, mudah sekali, karena mungkin kita suka lupa mungkin sekarang misalnya; setelah Shawal bulannya apa, suka lupa. Jadi, kalau kita mulai dari bulan Ramadhan, dan sampai ke Ramadhan berikutnya selama 1 tahun, harta kita posisinya, di mana masih 85 gram emas, mungkin sekarang sekitar 90 jutaan, di bulan ini 90 juta, di tahun depan di bulan Ramadhan harta kita masih 90 juta atau bahkan lebih, maka kita wajib untuk menunaikan zakat. Itu amalan harus kita tunaikan juga.
Jadi, teman-teman mahasiswa juga di safara sampai ketemu, itu juga dihitung dulu. Dan selanjutnya adalah hendaknya kita mengingat kembali hadist Nabi SAW, dengan lafal yang hampir sama, tapi beda konteksnya. "Man sauma romadoona imaanan wahtisaaban ghofirolahu laa taqoddama bidambih wamabitaaffa, waman sauma romadoona imaanan wahtisaaban, ghufirolahu laa taqaddama bidambih walaa taakhod. Man qooma lailatuqader imaanan wahtisaaban maa warabbina laa taqaddama bidambih" Adanya ini hadist tiap konteks yang berbeda tapi maknanya itu sama. Di bulan Ramadan, barang siapa yang berpuasa, melakukan sholat qiyyamullail, kemudian kita mendapati sepuluh terakhir dalam keadaan duduk khusuk menunggu Lailatulqadar, maka niscaya Allah SWT akan memberikan kita ampunan terhadap dosa-dosa kita di masa yang lampau, akan tetapi dengan cara apa?, imaanan wahtisaaban. Iimaanan, iimaanan itu masuk katagori amal bathin. Yaitu iman itu tidak diucapkan, tapi masuk dalam amal bathin juga. Dan ehtisaaban, ehtisaaban di sini dalam keadaan ikhlas, karena tidak merasa terbebani. Jadi, jangan sampai di bulan Ramadhan, seorang melakukan sholat wajib terasa terbebani, terawih, aduh tarawihnya lama di sini, mencari yang tarawih yang pendek saja, tapi pulang saja tarawih di rumah. Jangan ada terbesit akan hal itu. Tidak masalah kita memilih tarawih yang masjidnya tidak terlalu panjang, tidak masalah, tapi jangan sampai timbul; "Wah saya tidak mau tarawih di masjid fulan karena bacanya panjang banget". Itu merupakan bentuk dari ketidak hepian kita dalam menjalankan sebuah ibadah. Tapi kalau kita milih secara langsung masjid-masjid yang relatip lebih pendek tidak ada masalah. tanpa kita menghujat atau mengurangi masjid-masjid lain yang sholatnya panjang. Jadi, nanti kita membuat seakan-akan lupa, bahwasannya sampai ingin diampuni dosanya, maka dia harus ehtisaaban, saya pernah serba sarat ridho Allah SWT.
Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian. Di bulan Ramadhan ini juga, kita perlu senantiasa untuk menjunjung tinggi syiar-syiar Islam. Syiar-syiar Islam banyak, selain sholat, puasa, kita juga perlu menunjukkan akal kita sebagai seorang muslim. Karena di bulan Ramadhan inilah akal seorang muslim itu terlihat. Apabila tadi amalam wajib yang di bathin, kemudian yang kedua yang sifatnya dhohir yang nampak, yang ketiga adalah, hendaknya kita menciptakan diri kita, membawa diri kita sebagai orang-orang yang yang beriman, orang-orang yang berpatuh kepada Allah SWT dengan cara meninggalkan yang apa Allah SWT haramkan d bulan Yang Mulia ini. Karena apa hadist Rasulullahi Sallallahi Wasallam bersabda, "Qallam yadak qamazuur falaisa lahu homsatun fii amyada ambwaamahu wasarobau", tidaklah orang yang tidak meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat di bulan Ramadhan, kata-kata yang kasar, kata-kata yang pemicu keburukan, tangan-tangan, komen-komen di sosial media yang memicu pertengkaran satu sama lain, niscaya di akan Allah SWT biarkan puasanya hanya sebatas lapar dan dahaga.
Jadi, di bulan Puasa, kita juga harus meninggalkan perbuatan-perbuatan yang Allah SWT haramkan. Karena tadi, percuma kita puasa, mulut kita tak puasa tadi, ngomong tetap kasar, tangan kita tidak berpuasa. Tangan kita ngetik-ngetik komen di sosial media, ngomong yang tidak baik menyebabkan orang lain bertengkar, dan menyebabkan teman-teman kita bertengkar, dan lain sebagainya. Karena hal itu juga akan merusak puasa kita. Maka hendaknya kita sebagai seorang muslim, mukmin senantiasa menjaga lisan kita.
Meluruskan iman kita dengan senantiasa menjauhi apa yang Allah SWT larang. Dahulu Nabi SAW diriwayatkan, ketika ada seseorang yang ingin mengajak beliau untuk berdebat atau berbuat pertengkaran di bulan Ramadhan, Nabi SAW bersabda, "inni sooim". Inni sooim, aku berpuasa, aku sedang berpuasa. Dan itu diulang dua kali oleh Nabi SAW. Nabi SAW ketika mengucapkan suatu hadist maupun perkakataan, kalau diulang pasti itu ada hikmahnya. Dan dinyatakan oleh imam Abdurrozak, Hambali, salah satu ulamak Hambali, Nabi SAW bersabda; inni sooim, yang pertama itu untuk diri Nabi SAW sendiri, inni sooim, untuk mengingatkan bahwa saya sedang berpuasa. Untuk menetralisir diri sendiri dulu. Kemudian selanjutnya yang kedua, inni sooim, aku berpuasa, ini untuk menekankan lagi ke orangnya, agar orangnya sadar bahwasannya orang yang berpuasa ini akan menghindari debat kusir pertengkaran dan hal-hal yang membuat puasanya jadi sia-sia. Jadi, itu yang perlu kita tanamkan sampai nanti kita keluar dari bulan Ramadhan. Jadi, jangan sampai ketika kita berada di luar bulan Ramadhan, kita kembali ke pattern awal, pattern di mana kita sedikit-sedikit ribut, sedikit-sedikit buat kerusuhan, sedikit-sedikit buat orang lain sebel sama kita. Maka dari itu hendaknya kita senantiasa memanfaatkan dengan baik Ramadhan ini menjadi momentum kita untuk melatih kesabaran dan melatih hati kita untuk senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Alloh SWT.
Dan ada yang tau al-Qur'an di mana Allah SWT berfirman dalam ayat Al-furqon, Allah SWT berfirman, "Wa ibaadurohman alladiina yamsuuna alal ardhi haula wa idaa hoodu roul jaahiluna qaaluu salaama". Sesungguhnya hamba-hamba Allah yang maha penyayang, ada oarang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan keadaan tawaaduk, wa idaa hoodu roul jaahiluun, dan ketika datang orang-orang yang tidak berilmu, atau orang-orang yang mengajak kita terhadap sesuatu yang menimbulkan kerusuhan, qooluu salaamaa. Orang beriman tersebut mengatakan perkataan-perkataan yang baik. Mengimplentasikan menempatkan dirinya dalam sebaik baik keadaan, tidak memperkeruh suasana. Tidak menimbrung masalah ini menjadi perpecahan, itu hakekat seorang mukmin.
Jadi, orang mukmin di muka bumi ini adalah, orang yang tawaaduk, dan apabila ada orang yang tidak berilmu, datang kepadanya dengan hal-hal yang membuat dia merasa jengkel, maka dia membalasnya dengan suatu kebaikan yang diharapkan bisa meluluhkan hati orang-orang yang tidak sesuai dengan apa yang harus dilakukan selama jadi orang islam, qulayadubillah.
Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, yang terakhir, amalan spesialis Ramadhan. Amalan spesialis Ramadhan ini banyak. Tadi yang saya bilang, di bulan Ramadhan ini semua ahli ibadah turun gunung. Yang biasa sholat tahajud, yang biasa tadarus, yang biasa duduk di masjid mencari ilmu, semua berpuasa, dan di situ memaksimalkan waktunya. Dan mereka ibadah-ibadah spesialis Ramadhan. sholat Tarawih, memaksimalkan kita untuk melakukan sholat Tarawih. Kalau tiba-tiba sholat berjamaah di masjid, upayakan untuk tidak meninggalkannya. Biasanya yang dulunya berjamaah di rumah bersama keluarga. Bakda Isyak karena sekalian teruskan berbuka masih pulang ke rumah gunakan Tarawih di rumah. Jangan sampai ditinggal lebih utama di masjid untuk mengaji.
Yang terakhir bisa atau dalam keadaan sakit, dalam uzur, sholat Tarawih kemudian tadarus di rumah. Ramadhan ini sahrul qudoat, bulannya alam nikmah, Alquran diturunkan di bulan Ramadhan. Maka anda ketika menjadi seorang muslim mukmin senantiasa hidup bersholat jamaah untuk ganjal ahlak Alqur'an. Das dupuluhtjuh yang bagus, tajlisu ma'a alqur'an, duduk bersama Alqur'an. Jadi kita harus bisa seperti itu di bulan Ramadhan.
Dan Ramadhan bulan bersedekan, Nabi SAW bersabda, qolannabi sallallohi wa alaihi wa sallam, abdumminannaas. Dahulu Nabi SAW adalah orang yang paling dermawan. Wa hada kajduattuhaa yaquulu Ramadhan. Dan keadaan terbaik Nabi, keadaan yang paling yang paling dermawan Nabi SAW adalah di bulan Ramadhan. Jadi hendaknya semua dari kita senantiasa memberikan kebiasaan untuk bersedekah di bulan Ramadhan. Baik itu yang bekerja ataupun yang tidak bekerja, kalau ada kesempatan untuk bersedekah biasakan utuk bersedekah. Jangan memposisikan tangan kita di bawah terus, tapi hendaknya memposisikan kita semaksimal mungkin sebagai hamba-hamba Allah SWT yang bersedekah di saat lapang maupun susah. Biasakanlah dari atas dalam keadaan lapang ataupun susah. Dan ini adalah pesan yang sangat penting di bulan Ramadhan. Di mana di bulan Ramadhan, semua orang berlomba-lomba untuk kebaikan bersedekah, khususnya di waktu iftor seperti yang akan kita lewati.
Di mana apabila seorang, juga bapak-ibu, ibu semua yang pernah datang ke sini bawa iftor, inshaAllah nanti akan mendapatkan pahala dari orang-orang yang berpuasa juga, orang-orang yang menikmati iftor yang bapak ibu sajikan, maka niscaya pahalanya akan tersalurkan juga untuk para dermawan yang memfasilitasi iftor tersebut.
Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, yang terakhir, Ramadhan kali ini jadikan sebuah misi utama kita, dan jadikan sebuah ajang untuk kita senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena belum tentu kita akan dipertemukan pada Ramadhan selanjutnya. Usahakan kita benar-benar bisa melaksanakan amalan-amalan berdasarkan prioritasnya, puasa melaksanakan hal-hal wajb lain yang akan sunnah-sunnah meninggalkan yang aram dan melaksanakan hal-hal uang utama di bulan Ramadhan. Dan juga hendaknya kita sadar bahwasannya apa yang kita lakukan ini tujuannya adalah ridho Allah SWT. Jangan sekali-sekali kita engharap ridhonya manusia.
Akan tetapi kita tempatkan diri kita mengharap ridho Allah SWT. Dan jangan ragu untuk mengingatkan kebaikan, ketaqwaan kepada saudara-saudara kita dengan hikmah, dengan cara yang baik dan bijak, dan bukan dengan cara yang menyakiti atau mencacati satu sama lain.
Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian. Di hari yang mulia ini, di sisa waktu yang pendek ini, marilah kita merenung dan mencoba diri kita sembari memanjatkan doa kepada Allah SWT, agar kelak apa yang kita tanam hari ini, dalam bentuk kebaikan, niscaya kita kelak akan memaneni di Surganya Allah SWT.
Berhubung sepuluh menit lagi sudah masuk waktu buka puasa, kita akhiri kajian kita pada kesempatan sore hari ini dengan doa penutup majelis, subhanakalla wabihamdika ashadualla ilahailla anta, astaghfirullah wa atubu ilaik.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Wednesday, December 10, 2025
DAPATKAH PAPUA MERDEKA?
Pulau besar Papua terdiri dari dua bagian, Bagian Timur dan Bagian Barat. Bagian Timur adalah Negara Papua Nugini, sedangkan Bagian Baratnya adalah Irian Barat. Sejak setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 27 Desember 1949, Papua Barat yang tadinya dibawah kekuasaan Belanda akan disepakati diserahkan kepada Indonesia. Dengan demikian Indonesia menganggap bahwa Papua Barat atau yang dikenal dengan Irian Barat menjadi kedaulatan Indonesia, dan itu akan menjadi salah satu propensi Republik Indonesia yang disebut dengan Irian Barat.
Namun pada kenyataannya hasil konferensi itu juga menyisakan masalah yang belum tuntas, yakni mengenai status Papua Barat atau Irian Barat. Persoalan ini seolah menjadi pemicu ledakan sewaktu-waktu baik bagi Indonesia atau juga rakyat Papua Barat sendiri di kemudian hari. Baik Indonesia maupun Belanda sama-sama ngotot merasa lebih berhak atas tanah Papua Barat. Bagi Belanda, Papua bagian barat, atau yang mereka sebut Netherlands New Guinea, bukanlah bagian dari kesatuan wilayah yang harus diserahkan kembali kepada Indonesia. Salah satu alasan Belanda adalah, karena orang-orang asli Papua memiliki perbedaan etnis dan ras dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Maka dari itu, mereka ingin menjadikan Papua bagian barat sebagai negara tersendiri di bawah naungan Kerajaan Belanda.
Indonesia tidak sepakat dengan keinginan Belanda itu, dan Indonesia menghendaki agar seluruh wilayah bekas jajahan Hindia Belanda diserahkan. Karena tidak dicapai titik temu, maka masalah Papua Barat akan diselesaikan dalam waktu satu tahun ke depan. Perundingan lanjutan memang sempat digelar beberapa kali, namun hasilnya selalu menemui kebuntuan. Gara-gara ini, sejak Agustus 1954, Uni Indonesia-Belanda yang diamanatkan dalam KMB bubar. Menurut suatu sumber bahwa, Indonesia mengalami kegagalan dalam usahanya supaya suatu mosi yang lunak mengenai Papua diterima oleh PBB pada bulan yang sama.
Dikutip dari tulisan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam buku Sejarah Nasional Indonesia, 2008, Indonesia telah mengusahakan penyelesaian masalah Irian Barat selama 11 tahun. Namun, karena Belanda tidak mengindahkan, lalu persoalan ini dibawa ke forum PBB pada 1954, 1955, 1957, dan 1960. Dalam Sidang Umum PBB pada September 1961, Menteri Luar Negeri Belanda Joseph Marie Antoine Hubert Luns mengajukan usulan yang intinya agar Papua Barat berada di bawah perwalian PBB sebelum diadakan referendum. Namun, Majelis Umum PBB menolak usulan ini.
Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Operasi-operasi Pembebasan Irian Barat (1971) menyebutkan bahwa pada 2 Januari 1962, melalui Keputusan Presiden Nomor 1/1962, Presiden Sukarno membentuk Komando Mandala untuk merebut Papua. Mayor Jenderal Soeharto ditunjuk jadi komandan operasi militer ini. Situasi ini membuat Belanda tertekan dan terpaksa bersedia berunding lagi dengan Indonesia. Hasilnya, pada 15 Agustus 1962, disepakati Perjanjian New York yang menyatakan bahwa Belanda akan menyerahkan kekuasaannya atas Papua kepada United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA). Perjanjian New York mensyaratkan Indonesia melaksanakan suatu Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera). Rakyat Papua bagian barat akan memutuskan sendiri apakah bersedia menjadi bagian dari Indonesia atau tidak. Batas waktu pelaksanaan Pepera ditetapkan sampai akhir 1969 dengan PBB sebagai pengawasnya
Akhirnya, pada 1 Oktober 1962 Belanda menyerahkan otoritas administrasi Papua kepada UNTEA. Lalu, tanggal 31 Desember 1962, bendera Belanda resmi diturunkan dan digantikan dengan bendera Merah Putih sebagai tanda dimulainya kekuasaan de jure Indonesia atas tanah Papua di bawah pengawasan United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA), PBB. Dan kemudian Indonesia menjadikan Papua Barat sebagai salah satu propensinya dengan nama Irian Barat.
Dunia internasional mengakui secara sah bahwa Papua adalah bagian Negara Indonesia setelah dilakukannya Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969.
Sejarah Tanah Irian Barat tidak berhenti di situ, pada tahun 1973 nama Irian Barat diganti menjadi Irian Jaya. Lalu menyusul dimulainya reformasi pada ahun 1998 di seluruh Indonesia, Irian Jaya dan provinsi-provinsi lain di Indonesia mendapatkan otonomi daerah yang lebih besar. Pada tahuan 2001, status "Otonomi Khusus" diberikan kepada wilayah Irian Jaya. Kemudian Irian Jaya ini pada tahun 2003 dibagi menjadi dua propensi, Papua dan Papua Barat.
Banyak yang berpendapat bahwa Papua (Propensi Papua dan Papua Barat) akan berakhir sama dengan Timor Timur, suatu wilayah yang tadinya menjadi salah satu propensi Indonesia menjadi merdeka setelah adanya referendum pada tahun 1998. Bahkan di medsos ada yang berpendapat bahwa ada yang sudah membuat rencana agar nantinya sama dengan Timor Timur. Namun apakah itu benar marilah kita lihat bagaimana sebenarnya wilyah Timor Timur ini menjadi salah satu propensi Indonesia.
Isu-isu eksploitaasi sumber alam oleh Jakarta dan tidak diimbangi dengan pembangunan yang memadai di tanah Papua seperti semakin memberi angin kepada pejuang Papua untuk memilih merdeka dari Indonesia. Perbedaan harga BBM yang mencapai sampai 10 kali lipat apabila dibandingkan dengan harga di Pulau Jawa seperti memberikan bukti bahwa Papua sangat terbelakang pembangunannya apabila dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.
Beruntung Joko Widodo atau yang dikenal degan sebutan Pak Jokowi terpilih menjadi Presiden Indonesia. Sejak terpilihnya beliau, maka preoritas pembangunan Indonesia menjadi berbeda. Pembangunan infrastruktur merupakan prioritas utama dalam 5 tahun Pak Jokowi berkuasa. Daerah bagian timur Indonesia yang ketinggalan tentang infrastrukturnya mulai mendapatkan perhatian, itu termasuk Papua tentunya. Begitu tertinggalnya khusus untuk Papua ini, maka harga bahan bakar dapat mencapai sepuluh kali lipat dari harga BBM di Pulau Jawa.
Terlihat nyata dalam lima tahun Pak Jokowi berkuasa hasil pembangunan di bidang infrastruktur. Bahkan proyek-proyek yang tadinya mangkrak bertahun-tahun dapat diselesaikan dengan cepat. Demikian pula di Papua. Jalan-jalan tembus dari kota satu ke kota yang lainnya dibangun. Kebijakan harga BBM satu harga dikebut. Hal inilah yang membuat masyarakat Papua antusias untuk memilih kembali. Dan dalam Pilpres 2019 lalu Pak Jokowi meraih suara sekitar 90% jumlah suara yang sah di tanah Papua.
Bukan itu saja, Pemerintahan Pak Jokowi membuat terobosan dengan menguasai 51% saham Freeport, di mana untuk penguasa-penguasa sebelumnya tidak ada yang mampu. Ini berarti Indonesia mendapatkan pemasukan lebih besar lagi.
Namun demikian masih saja gangguan keamanan walaupun dibilang sudah jarang terjadi, tetapi masih ada, yaitu gangguan dari sipil bersenjata yang diperkirakan dari pihak yang berjuang untuk Papua merdeka. Bukan itu saja, untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat Papua kepada yang disebut Ibu Pertiwinya masih banyak yang harus dilakukan oleh Pemerintah untuk kebaikan dan kemajuan tanah Papua.
SAMBARAN PETIR TANPA MENDUNG
Masalah Papua bagai kesamber petir tanpa mendung. Orang yang dilibatkan seperti tidak paham akibatnya. Petugas keamanan terburu-buru menghakimi orang Papua Asrama Surabaya. Olok-olok rasis menambah runyamnya keadaan.
Tentu tanpa pikir panjang yang
menjadi tertuduh adalah penghuni asrama dari Papua yang sampai saat ini Papua
dianggap seperti berada di titik labil antara ingin tetap bersama RI atau lepas
menjadi negara sendiri. Adanya provokasi-provokasi semakin membuat masyarakat yang
datang termasuk kelompok Ormas memberikan hujatan agar yang melakukan pembuangan bendera untuk keluar.
Dari dalam asrama jawaban tidak sesuai dengan yang diinginkan, ini mungkin tak
satupun dari mereka telah melakukannya.
Saling olok dan mengulur waktu membuat pihak keamanan
melakukan tindakan lebih aktif. Sampai tembakan gas air mata diletuskan.
Akhir dari kebuntuan itu diserbunya asrama mahasiswan Papua di Surabaya itu dengan
membawa dari beberapa mereka (43 orang) ke Kantor Polisi untuk dimintai
keterangan.
Situasi tidak sampai di situ terhadap para mahasiawa asal Papua. Di Malang, di perempatan jalan (lampu lalulintas), mereka diprovokasi, diolok-olok sampai dikatai binatang tertentu. Alhasil dari intrograsi para mahasiswa Papua di Surabaya oleh pihak berwajib menyimpulkan bahwa, mereka harus dikembalikan ke asrama mereka, dengan kata lain, mereka tidak ada indikasi melakukan pembuangan Kain Sakral itu.
Di media sosial sudah mulai gaduh. Di Papua sendiri langsung direspond dengan demonstrasi menuntut Pemerintah mengusut tuntas dan menghukum mereka yang memprovokasi, pihak keamanan yang grusa-grusu untuk diadili. Tindakan cepat Pemerintah bukan meredamkan orang-orang Papua, malah mereka semakin melakukan Demo hampir di seluruh kota besar di Papua.
Keadaan aemakin runyam sampai ada yang mmengibarkan Bendera Bintang Kejora di depan Istana Negara Jakarta. Adalah bendera terlarang sebagai simbol bendera Negara Papua yang dilarang seakan terlihat bebas dikibarkan. Bahkan di Papua sendiri ketika demo berlangsung mungkin ada piluhan, atau ratusan bahkan tibuan barangkali bendera terlarang telah dikibarkan ketika berdemo. Puncaknya pada Jum'at tanggal 30 Agustus, 2019, pembumihangusan terutama di daerah Jayapura dan sekitarnya telah terjadi. Hampir banyak kantor penting dibakar. Ruko-ruko terutama milik pendatang dibakar. Keadaan mencekam terutama bagi mereka yang berasal dari luar Papua. Pihak keamanan tak berdaya menghadapi jumlah massa yang banyak. Penjarahan terjadi di mana-mana di Jayapura terutama bagi toko-toko baik milik orang Papua apalagi milik pemdatang. Pemerintah sepeti tidak siap, bagaikan disambar petir di siang bolong tanpa adanya mendung.
Provokator di Surabaya secepatnya tiga hari kemudian telah ditetapkan sebagai tersangka, tetapi tetap saja tidak memgendorkan gelombang demonstrasi di Papua. Pemerintah melihat ini semakin mengkhawatirkan.
Hasil Pilpres dan Pileg April lalu masih belum dilantik. Suasana reda setelah kampanye lalu masih belum sepenuhnya pulih. Kedua kubu pendukung masih sering saling berargumentasi terhadap adanya kejadian yang menyerempet kerja Pemerintah, ditambah juga peristiwa Papua.
Kekeruhan semakin keruh. Riak semakin bergelora. Dalam menangani masalah Papua kali ini Pemerintah terkesan sangat hati-hati. Tak satupun letusan peluru baik tajam ataupun yang tidak dipicu. Perusakan dan pembakaran yang terjadi di Papua seperti dibiarkan berlalu. Justru tindakan diambil paska kejadian dengan cara menelusuri jejak dijital mereka, ataupun dari rekaman vidio yang tersebar.
Napaknya Pemerintah tidak ingin terburu-buru untuk menghindari meluasnya kekacauan. Selain itu Pemerintah nampak berada di pihak yang salah, dan lemah dalam kasus ini. Untuk itu anarkis para pedemo dibiarkan saja.
DAPATKAH PAPUA DUDUK MANIS?
Dari penlusuran keterangan di atas ada secercah permasalahan yang mungkin dapat dijadikan pijakan tentang permasalahan inti dari permasalahan Papua ini, yaitu kepercayaan. Tentu untuk mengembalikan suatu kepercayaan sudah tentu akan memakan lebih banyak waktu daripada merusak kepercayaan itu sendiri. Untuk menumbuhkan keprcayaan orang-orang Papua terhadap Pemerintah memerlukan kerja keras dan sungguh-sungguh. Itu bukan hanya sebagai janji politik akan tetapi kenyataan yang ada di tanah Papua.
Kerja Pemerintahan Pak Jokowi yang telah menginisiasi pembangunan yang besar di wilayah bagian timur Indonesia harus dilanjutkan. Ini terutama bagi pembagunan di Tanah Papua yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Indikasi jumlah sura di Pilpres 2019 lalu dengan hasil 90% suara untuk Pak Jokowi mengindikasikan bahwa, Papua masih ingin tetap menjadi bagian dari Indonesia dengan catatan bahwa, Papua harus diprioritaskan pembangunnya. Ini bukanlah permintaan yang mengada-ada, akan tetapi ini adalah permintaan yang wajar karena dari tanah Papua sudah banyak sumber alamnya yang telah diambil atau dieksploitasi oleh negara akan tetapi Tanah Papua dibiarkan tertinggal. Pembangunan itu adalah pembangunan di segala bidang, baik infrastruktur, pertanian, industri bahkan sumber daya manusianya.
Pemerintah seperti sedan berpacu dengan waktu dalam mengembalikan kepercayaan masyarakat Papua kepada Pemerinta Indonesia. Mereka sudah lama sekali merasa ditipu oleh Pemerintah. Itu sejak Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969, jika tidak mau disebut sejak Perjanjian dengan Belanda di akhir tahun 1962. Apalagi semua orang Papua mengetahui bahwa ekploitasi tanah mereka yang dimulai sejak tahun 1967 oleh PT. Freeport Indonesia di wilayah Erstberg pertambangan terbuka menuju ke tambang bawah tanah Grasberg.
Masyarakat Papua seperti telah dilukai begitu lama oleh Pemerintah, penyembuhannya memerlukan penanganan khusus pula dan memerlukan waktu juga. Banyak hal yang perlu dilakukan oleh Pemerintah Pusat untuk penyembuhan itu dalam mengembalikan kepercayaan masyarakat Papua. Penyembuhan ini tentu harus dilakukan secara hati-hati agar isu-isu sensitip yang dapat membangkitkan demonstrasi anti Pemerintah harus betul-betul dijaga. Mengedepankan emosional atau tindakan represip harus dihindari. Ini tentu akan tergantung terutama kesungguhan Pemerintah dalam merangkul masyarakat Papua. Pekerjaan panjang dan sulit walaupun bisa masih menunggu langkah Pemerintah agar persoalan disintegrasi dengan Indonesia dapat diredam, dan menyadarkan masyarakat Papua bahwa bersatu dengan Indonesialah tempat yang terbaik bagi Papua.
KESIMPULAN
Masalah Papua adalah masalah kepercayaan. Mereka mau bergabung bersama RI dikarenakan dulu percaya kepada RI, namun Orba yang membuat Papua tidak berkembang, mereka merasa tanah mereka hanya sebagai tempat penjarahan untuk dipakai di tempat lain di luar Papua. Dan ini yang menyebabkan mereka ingin memisahkan diri.
Mudah-mudahan keadaan cepat terkendali. Harapannya Pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia tidak grusa-grusu dengan mengedepankan emosional dalam menangani keadaan di Papua ini. Di luar pada menunggu jatuHnya korban sipil sebagai justifikasi untuk memperbesar dukungan Papua lepas dari NKRI..
Merdekanya Papua akan tergantung dari Pemerintah serta seluruh elemen Bangsa Indonesia, bukan orang-orang di Papua saja.
Thursday, December 04, 2025
KHOTBAH JUM'AT, "7/09/2025": NASEHAT GERHANA
Khotbah Pertama:
KHOTBAH JUM'AT, "29/08/2025": MASYARAKAT ILMU
Khutbah Pertama