Friday, March 13, 2026

MENYEDERHANAKAN RUMUS PAHALA DAN DOSA

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran", QS 2 ayat 186.

"Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam". QS 7 ayat 54.

UMUM

Dosa dan pahala, atau laknat dan ampunan, mungkin merupakan sesuatu yang komplek apabila dilihat dari bagaimana seseorang mendapatkan dan menghilangkan mereka. Agar dapat dijangkau oleh akal, maka yang komplek itu perlu disederhanakan, yaitu dengan pemisalan. Hal ini merupakan cara yang sudah biasa ditempuh oleh para ahli filsafat, dan ahli ilmu pasti dalam memecahkan sesuatu yang komplek. Cara ini sebenarnya untuk memecahkan hal-hal yang komplek agar terpecahkan dengan pemisalan untuk menyederhanakan permasalahan yang komplek itu, karena apabila tidak dimisalkan, maka permasalahan komplek akan menjadi rumit untuk dipecahkan. Untuk itu penlis memisalkan antara pahala dan dosa menjadi sesuatu yang lebih sederhana agar dapat dijangau oleh akal serta pemecahan tentang kejadiannya dapat dterima oleh akal.

Penulis memisalkan "pahala" diibaratkan sebagai pemasukan atau pendapatan, dan "dosa" dimisalkan sebagai hutang. Mengapa pemisalannya seperti itu, karena pahala adalah sesuatu yang baik dan pemasukan atau pendapatan merupakan sesuatu yang baik dengan catatan bahwa pendapatan itu merupakan pemasukan dengan cara yang baik pula. Serta dosa adalah sesuatu yang buruk sama seperti hutang yang harus dihindari karena berhutang itu merupakan sesuatu yang  buruk.

Dalam tulisan ini yang akan dibahas akan dititik beratkan pada "dosa", karena ini sangat penting sekali bagi manusa untuk mengetahui, yaitu bagaimana dosa itu bisa diampuni oleh tuhan Allah  SWT. Hal ini akan memberikan suatu patokan dalam memberikan pengertian jalur suatu dosa terhapuskan.

Sepert yang telah diterangkan di atas bahwa permasalahan dosa ini merupakan permasalahan yang sangat rumit. Sebagian besar orang mengira  bahwa untuk menghilagkan dosa, maka harus meminta pertolongan Tuhan. Ini artinya hanya Tuhanlah yang memiliki otoritas untuk menghapus satu dosa yang telah dilakukan seorang hamba. Pertanyaannya adalah; 

Apakah benar didalam upaya unuk menghapus suatu dosa yang telah dilakukan memerlukan uluran "tangan" Tuhan?. Untuk mejawab pertanyaan ini, mari kita bahas lebih terperici seperti berikut ini. 

APA ITU DOSA

Secara logat dosa berarti perbuatan yang dilarang oleh Tuhan. Hal ini bukan hanya terbatas pada perbuatan fisik saja, akan tetapi juga perbuatan jiwa termasuk pikiran dan perasaan. Jadi, dosa merupakan imbalah akibat perbuatan manusia baik secara fisk ataupun non-fisik terhadap larangan Tuhan. Akan tetapi ada kalanya orang salah menilai dengan mengatakan bahwa perbuatan buruk yang dilakukan terhadap sesorang itu merupakan dosa pelaku terhadap orang yang diperlakukan. Sehingga ada istlah "kamu berdosa terhadap si Fulan". Padahal mungkin yang dimaksud awal datangnya istilah ini adalah untuk menyatakan perbutan yang telah dilarang oleh Tuhan dilakukan terhadap orang lain yang diperlakukan.

Dosa terkadang juga diartikan sebagai ganjaran atas perbuatan buruk yang diukur dengan jumlah. Sehingga ada istilah dosa besar dan dosa kecil.

CARA MENGHILANGKAN DOSA

Seperti yang telah diterangkan d atas bahwa, dosa itu diibaratkan sesuatu yang memiliki nilai buruk atau minus, sehngga diibaratkan sepeti beban hutang. Karena perbuatan terlarang ini akan selalu mendapatkan imbalan buruk sesuai dengan kadar dosa yang telah dilakukan. Misalnya seseorang yang melakukan perbuatan dosa dengan mengolok-olok seseorang yang tidak sejalan dengan keinginannya adalah memiliki imbalan buruk lebih kecil dibandingkan dengan dia menganiaya secara fisik terhadap orang yang tidak sejalan itu, apalagi penganiayaan itu sampai menimbulkan kemaian.

Untuk itu, imbalan dosa-dosa itu akan dihitung dan nantinya setelah di akhirat akan dijumlah, sehingga dosa akan memiliki suatu besaran dan ukuran. Ini artinya, semakin banyak dan besar perbuatan dosa yang dilakukan, maka akan semakin banyak pula nilai imbalan buruk yang dikumpulkan. Ditengarai bahwa jumlah dosa tu berupa berat, hal ini ditunjukkan nanti antara pahala dan dosa akan dineraca, atau akan ditimbang.

Jadi, dosa itu dikumpulkan dan akan dihitung atau dihisap nantinya ketika dilakukan penotalan. demikian pula halnya dengan pahala, itu akan dikumpulkan dan kelak di akhirat akan dihitung atau ditotal. Dari sini permasalhan akan semakin jelas, bahwa antara pahala dan dosa akan saling berlomba. Siapa yang memenangkan akan menentukan si hamba akan menuju ke arah mana. Apabila yang memenangkan perlombaan ini adalah pahala, dengan kata lain pahala memiliki berat yang lebih besar, maka si hamba akan menuju ke surga, dan sebaliknya pabila dosa yang memenangkan beratnya, maka si hamba akan menuju ke neraka.

Jadi, yang mengingikan hutangnya terbayar, maka  usahakan mendapatkan pemasukan paling tidak sama ato lebih besar dari hutangnya. Hal ini agar dalam lomba penghisapan nanti pahala akan keluar sebagai pemenangnya, dengan kata lain bahwa pahala akan memiliki berat yang lebih besar dari jumlah berat dosa-dosanya.

Setiap hutang itu pada hakekatnya yang bertanggungjawab untuk melunasinya adalah yang berhutang. Karena yang tercatat nama di dalam buku catatan hutang-piutangna adalah yang memiliki hutang. Artinya hutang-hutang, baca dosa-dosa itu jangan diserahkan kepada yang lain termasuk tuhan Allah SWT sebagai yang bertanggungjawab dalam membayar atau melunasinya. Jangan menyalah-artikan tentang sifat-sifatNya. Bukan berarti Dia tidak dapat menghapus dosa-dosa hambaNya, akan tetapi, Dia sudah memiliki mekanisme tentang cara datang dan pergi pahala ataupun dosa. 

Seperti hutang-piutang. Bukti mekanisme itu kelak akan ada suatu yang disebut neraca yang akan mengukur tentang jumlah total pahala dan dosa selama manusia hidup di dunia fana. Dari hasil pada proses  peneracaan itu akan menentukan seorang hamba masuk menuju ke mana. Perumpamaan setelah dineraca adalah, yang memiliki kelebihan dosa sedikit setelah dikurangi jumlah pahalanya, maka dia akan masuk penjara (di akhirat penjara adalah neraka) dalam waktu lebih singkat dibandingkan dengan yang memiliki kelebihan berat dosa lebih besar. Semakin besar kelebihan jumlah dosa-dosanya, maka akan semakin lama hukuman penjara di dalam neraka, bahkan karena besarnya kelebihan dosanya si hamba itu akan kekal seumur hidup di alam pejara akhirat, yaitu neraka.

Demikian juga yang memiliki kelebihan pahala setelah dineraca. Itu akan tergantung seberapa kelebihannya. Apabila dimisalkan di dunia ini, orang-orang yang memiliki kelebihan dari sisa pendapatan mereka, ini akan tergantung seberapa besar jumlah elebihannya. Seingga uang sisa itu ada yang hanya dapat atau mampu untuk membeli rumah di perumahan nasional atau Perumnas, ada yang komplek perumahan elit, bahkan ada yang di komplek super elit dengan rumah-rumah bagaikan suatu istana. Di akhirat nanti juga demikian, surga yang ditempati akan tergantung dari jumlah kelebihan pahala setelah dineraca. Konon surga itu bertingkat-tingkat, mulai dari yang tertingi yaitu surga Firdaus dan selanjutnya sampai yang terendah. Menurut yang didapat dari sumber pencarian di internet, Google, tingkatan surga ada 8(delapan) tingkat dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah, antara lain surga-surga: Firdaus, Adn, Na'im, Ma'wa, Darussalam, Darul Muqamah, Al-Maqamul Amin, dan Khuldi.

Dari sini sebetulnya dapat disimpulkan bahwa; jumlah pahala ataupun dosa setelah ditotal tergantung dari catatan-catatan dari perilaku kita selama hidup di dunia. Dipasikan bahwa, tidak akan ada yang tercecer sedikitpun dalam pencatatan perilaku kita selama hidup di alam dunia. Untuk itu, hasil akhir selisih setelah peneracaan dipastikan akan 100% akurat.

Dari sini juga sudah dapat dilihat bahwa, seorang hamba untuk dimasukkan ke dalam surga atau ke dalam neraka, itu akan tergantung dari perilaku yang sudah tercatat dan dihisap oleh neraca akhirat tentang hasil akhirnya. Sehingga, dari sini akan dapat disimpulkan bahwa, seorang hamba mau masuk ke dalam surga ataupun mau masuk ke dalam neraka itu akan tergantung dari kita sendiri ketika masih hidup di alam dunia. Ini seperti rumus penambahan dan pengurangan secara sederhana saja. Tak sedikitpun akan ada yang akan mencampuri tentang urusan ini, karena semuanya akan tercatat. 

Jadi, agar suatu dosa itu dapat dihilangkan, maka memerlukan pahala sebagai penghapusnya dengan jumlah minimum sama dengan jumlah dosa yang didapatkannya. Tanpa itu dosa akan tetap tercatat selamanya sampai nanti si pendosa mendapatkan hukuman sesui besar dosanya. Dan menjalani hukuman itu sampai waktu tertentu sesui dengan sisa jumlah besar dosanya. Kecuali bagi orang yang memang sudah tidak memiliki pahala sama sekali, orang demikian yang mungkin dikatakan akan kekal di dalam penjara akhirat yang disebut neraka.

SEBENARNYA TUHANKU BERADA DI MANA?

Dari QS 2 ayat 186 dan QS 7 ayat 54 memang susah untuk menentukan tentang tempat keberadaan Tuhan. Sehingga pendapat yang paling kuat adalah, bahwa Tuhan itu tidak bertempat, artinya Dia ada dimana-mana. Sehungga apa yang diterangkan di dalam QS 7 ayat 54 itu sepertinya tidak berarti apa-apa apabila membahas tentang keberadaan Tuhan. Karena, itu bukan karena yang terdapat pada QS 2 ayat 186 saja, akan tetapi masih banyak ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa Tuhan itu masih berperan atau dekat dengan kejadian-kejadian yang ada di dunia ini, sebagai contoh misalnya; bahwa hujan itu turun atas kehendakNya. Sehingga (menurut mesin pencari di internet) adalah; Tuhan itu mutlak, meliputi segala sesuatu di alam semesta ini, baik itu kejadian alam maupun perbuatan manusia, Allah berkuasa mutlak, terjadi atas izin-Nya, dan jika Dia menghendaki sesuatu, cukup berkata "Kun" (Jadilah), maka terjadilah. Kehendak-Nya berkaitan dengan qada dan qadar, serta tidak ada satupun yang terjadi di luar pengetahuan dan kekuasaan-Nya. Penulis ingin mencoba untuk menerangkan tentang pendapat ini dari sisi pemikiran penulis sendiri seperti berikut ini.

Di alam semesta ini berlaku hukum alam, Hukum-hukum itu sendiri dalam Islam dikenal sebagai hukum Sunnatullah, yaitu hukum sebab-akibat, hukum berdasarkan logika dan menghasilkan sesuatu yang logis. Berikut adalah ilustrasi penulis: 

Sebelum turunnya Alqur'an secara penuh, keadaan dunia ini masih belum sempurna dalam arti tentang hukum-hukum sunnatullah itu. Ini terbkti ada beberapa kejadian-kejadian yang bisa dikatakan di luar logika. Contoh yang paling nyata adalah, hamilnya sayyidah Maryam yang melahirkan Nabi Isa AS. Serta masih banyak kejadian-kejadian yang dikenal dengan mukjizat, yaitu suatu kejadian yang berada di luar nalar pikiran atau di luar logika manusia, akan tetapi kejadian itu terjadi. Contoh lain adalah, Kisah Nabi Ibrahim AS yang dibakar dengan menggunakan api yang besar, tetapi Nabi Ibrahim AS masih dapat hidup bahkan tidak terbakar, kisah Nabi Ismail AS yang disembelih oleh Nabi Ibrahim AS yang kemudian digantikan dengan seekor domba, serta kisah-kisah mukjizat lainnya.

 Akan tetapi setelah penurunan Alquran sudah dinyakan lengap, maka semua hukum-hukum sunnatullah (alam) diangap lengkap. Ini terbukti turunnya ayat seperti berikut.

"...Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Isam itu jadi agama bagimu" QS 5 ayat 3

"Ya tuhan kami, Enkau mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya" Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janjinya" QS 3 ayat 9

Ini artinya, semua kejadian di alam semesta saat ini dipastika akan berdasarkan hukum alam, yaitu hukumsebab-akibat, hukum logika, hukum sunnatullah. Artinya apa, karena semua hukum-hukum di dunia ini sudah sempurna, maka semua kejadian akan begitu seterusnya dan tidak akan pernah ada perubahan. Dari sini sebetulnya dapat disimpulkan bahwa, kekuasaan Tuhan sudah dimandatkan kepada hukum-hukum yang sudah Tuhan ciptakan, dan hukum-hukum itu tidak akan pernah berubah apam=pun kondisinya, siapapun yang terkena, dan di manapun tempat kejadiannya, serta kapanpun waktunya setelah dinyatakan sempurna. Hukum-hukum itu seperti dekrit, seperti janji dari yang punya alam semesta ini, dan itu tidak akan pernah berubah.

Hal ini mengindikasikan bahwa, Tuhan sudah tidak berperan di dalam mengatur semua kejadian-kejadian yang ada di dunia ini kecuali sesuai dengan aturan main yang sudah ada di dalam hukum-hukum yang telah Dia ciptakan. Misalnya tentang turunnya hujan, maka agar hujan itu turun sebenarnya memerlukan kondisi-kondisi tertentu yaitu suatu persyaratan yang memungkinkan hujan itu bisa turun. Karena turunnya hujan itu merupakan suatu fenomena yang mengikuti hukum alam yang telah diciptakan Tuhan dan akan tetap begitu selamanya, maka kejadiannya dapat dipelajari, sehingga kedatangannya dapat diprediksi atau diramal. Itulah yang dimaksud dengan"Kehendak Tuhan". Misalkan turunnya hujan itu memang-memang benar-benar tergantung dari "Kehendak Tuhan" saat akan hujan akan turun. Artinya mengsampingkan hukum-hukum sunnatullah, sehingga masih tergantung dari keinginan Tuhan ketika hujan itu akan turun, tentu datangnya hujan tidak akan dapat bisa diprediksi, karena akan tergantung dari keinginan Tuhan ketika sesuatu akan terjadi. Semuanya tidak akan ada yang pasti. Dengan demikian, maka QS 7 ayat 54 dapat dipahami bahwa Tuhan itu bersemayam di Arsy. Sedangnan "Aku dekat" yang terdapat di dalam QS 2 ayat 186 adalah hukum-hukumNya.

Itu semua karena Tuhan digantikan peranNya untuk menatur dunia ini dengan hukum-hukum yang telah Ia ciptakan, dan Dia sendiri bersemayang di Arsy.

ARTI SUATU DOA

Banyak orang yang berdoa untuk meminta atau memohon kepada Allah SWT utntuk diampuni dosa-dosanya. Ini artinya, dosa-dosa yang pernah dikerjakan dimintakan kepada Allah SWT untuk dihapus. Pada hal, menurut keterangan penulis di atas bahwa, dosa itu akan dihapus secara otomatis oleh jumlah pahala yang sama beratnya dengan dosa yang terhapus. Ini menunjukkan bahwa penghapusan suatu dosa bukanlah dari bantuan Tuhan, melainkan merupakan akibat perilaku baik seorang hamba yang dapat menghasilkan pahala. Ini artinya, dalam penghapusan dosa tidak akan ada peran atau intervensi Tuhan. Lalu jika demikian, bagaimana akhir dari suatu doa kepada Tuhan?. Inilah permasalahannya, dan mari kita lihat seperti yang akan penulis terangkan pada keterangan berikut ini.

Tentu ketika sedang berdoa kepada Tuhan, maka itu berarti sedang memohon, meminta bantuan Tuhan agar masalah yang sedang dihadapi mendapatkan bantuan-Nya dalam memecahkanya. Padahal dari penjelasan di atas adalah, Tuhan sudah menyerahkan kekuasaan-Nya terhadap pengaturan alam semesta ini kepada hukum-hukum-Nya yang telah Dia ciptakan. Artinya dalah, jikalau menginginkan sesuatu, maka ikutilah aturan sesuai dengan aturan yang telah Tuhan ciptakan. Apabila ada hamba yang menginginkan suatu doanya dikabulkan tanpa melalui hukum sunnatullah, maka sesunnguhnya hamba itu menginginkan Tuhan untuk melanggar hukum yang telah diciptakan-Nya. Hal demikian merupakan suatu hak yang tidak mungkin, mengingat Tuhan tidak akan pernah melanngar janji-janji yang telah dibuat-Nya.

Dari keteranan itu, maka sebenarnya doa itu memiliki makna lain, yaitu bukan meminta pertolongan Tuhan untuk ikut membantu dalam permasalahan yang sedang dihadapinya, akan tetapi merupakan suatu deklarasi janji kepada diri sendiri (Hukum Tuhan yang dekat atau berada di dalam hamba) bahwa dia akan berkomitmen untuk melakukan apa-apa sesuai dengan hukum-hukum-Nya di dalam mencapai tujuan yang sedang didoakannya. Jadi, doa itu bukan permohonan kepada Tuhan, akan tetapi perjanjian antara si pendoa dengan Tuhan yang sudah digantukan dengan hukum-hukum-Nya bahwa, yang berdoa akan melakukan sesuatu sebagaimana u=yang sudah ditetapkan caranya untuk mencapai apa yang sedang diinginkannya.

BAGAIMANA AGAR DOSA DIAMPUNI?

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa, doa itu adalah suatu perjanjian dan/atau pengakuan, pendeklarasian yang dinginkan antara seorang hamba dengan dirinya sendiri. Ini artinya, doa-doa saja tidak ada manfaatnya dalam menggapai suatu keinginan yang diucapkan di dalam doanya. Sesungguhnya agar keinginannya dapat terkabulkan diperlukan suatu usaha, kerja sesuai hukum-hukum yang sudah ada yang mengarah ke arah yang diinginkan agar doanya menjadi kenyataan. Demikian pula di dalam doa (baca bejanji kepada dirinya sendiri) untuk memohon kepada Tuhan agar dosa-dosanya dapat diampuni. Si hamba harus berusaha ke arahnya, misalnya dengan tidak mengulangi perbuatan yang menghasilkan dosa, sebagai pengganti dia melakukan perbuatan kebaikan yang menghasikan pahala. 

Ingat bahwa, antara pahala dan dosa itu bagaikan pendapatan/pemasukan dan hutang/pengeluaran, maka seorang hamba harus dapat menghitung tentang mereka, sehingga akan menjakikannya berhat-hati dalam melaukan sesuatu. Apabila ingin menghapus dosa, maka tperilaku si hamba harus mengumpulkan pahala yang banyak karena itu yang menentukan nanti ketika dineraca di akhirat. Artinya, hindari pemborosan, atau hindari berhutang, kumpulkan atau perbanyak menabung pendapatannya.

Perlu diingat bahwa apabila Allah SWT yang bertanggungjawab dalam ampunan dosa atau yang melunasi hutang-hutang hamba-hambaNya, maka hamba-hamba akan tidak segan-segan untuk berhutang, toh dalam benak mereka, "nanti terserah Allah SWT yang akan melunasinya. Hal ini dapat berakibat hamba menjadi hamba yang tidak bertanggungjawab dan ceroboh serta seenaknya sendiri dalam berbuat diosa.

KESIMPULAN

Dari pemaparan di atas, maka penulis dapat menyimpulkan dengan jelas sekali bahwa dosa itu dapat dihilangkan atau diampuni hanya dengan cara mengumpulkan pahala yang ukuranya sama dengan dosa yang telah diperbuatnya. Ini seper membayar hutang saja. Dan itu harus dan hanya dapat dilakukan oleh si hamba yang berbuat dosa.

END

Thursday, February 19, 2026

KHOTBAH JUM'AT, 12/05/2023: Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Khotbah Pertama

 
‎الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَصَّى الْإِنْسَانَ بِبِرِّ وَالِدَيْهِ، فَاللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، آمَنَّا بِكَ وَبِمَلَائِكَتِكَ، وَكُتُبِكَ وَرُسُلِكَ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، رَضِينَا بِكَ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِينَ. أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ تَعَالَى: (وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ ‌وَالْأَرْحَامَ
Bertakwalah kepada Allah yang dengan Nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan”.

 Wahai orang-orang beriman : Allah SWT berfirman:

 وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ‌وَبِالْوالِدَيْنِ ‌إِحْسانًا 
dan TuhanMu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak
 
Dalam dua ayat yang mulia ini; Allah SWT memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua, Dia menghubungkan ketaatan kepada-Nya dengan berbuat baik kepada kedua orang tua, dan bersyukur kepada-Nya dengan berterima kasih kepada kedua orangtuanya. Kebesaran karunia mereka, ketinggian status mereka, dan kewajiban untuk mendahulukan keduanya dari yang lain. Maka kewajiban setelah menunaikan hak Allah adalah menunaikan hak kedua orang tua. Karena Allah Azza wa jalla yang menciptakan manusia, dan menjadikan orang tua sebagai alasan keberadaannya, membesarkannya ketika dia masih kecil, dan merawatnya sampai dia mandiri, maka hendaklah kita selalu mengulang-ulang doa:

(‌رَبِّ ‌ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرً): 
Ya Rabb sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil.

Doa untuk orang tua adalah hak mereka, dan para nabi melestarikannya. Nabi Nuh Alaihissalam mengkhususkan doa untuk orang tuanya (‌رَبِّ ‌اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ) Ya Tuhanku ampunilah aku dan kedua orang tuaku
Bapak para nabi yaitu Nabi Ibrahim Alaihissalam berdoa رَبَّنَا اغْفِرْ لِي ‌وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ : (Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan)
 
Seorang Ulama berkata : 
Barangsiapa sholat lima kali sehari, sungguh dia telah bersyukur kepada Allah, dan barangsiapa berdoa untuk kedua orang tua setelah sholat lima waktu2, maka dia telah bersyukur kepada kedua orangtuanya

Mendoakan secara istiqomah untuk kedua orang tua adalah tanda anak yang sholeh. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Atau anak yang sholeh yang mendoakannya”. 

Salah satu kebaikan kepada orang tua adalah melayani mereka, memenuhi kebutuhan mereka, berinfaq atas nama mereka, berbicara yang baik kepada mereka, membuat mereka bahagia dan menghibur mereka, dan semua ini termasuk perbuatan yang paling dicintai Allah Ta’aala. 

Dari Ibnu Mas’ud dia berkata: 
Aku bertanya kepada Nabi: amal apa yang paling dicintai Allah? Beliau bersabda : “Sholat tepat waktu” aku berkata : kemudian apa lagi? Beliau bersabda: “berbakti kepada orang tua” 
 
Ya Allah ampunilah kami dan kedua orang tua kami, sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangi dan mendidikan kami waktu kecil.
 
Khutbah Kedua
 
‎الْحَمْدُ لِلَّهِ الْبَرِّ الرَّحِيمِ، يُدْخِلُ مَنْ أَحْسَنَ إِلَى وَالِدَيْهِ جَنَّاتِ النَّعِيمِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى الْمَبْعُوثِ رَحْمَةً لِلْخَلْقِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِينَ
Sesungguhnya Allah membahagiakan orang yang bertaqwa dengan kedua orang tuanya,memberikan kesuksesan dan memudahkan urusanya, membebaskan dari penderitaannya, meluaskan rizqinya, memberikan keberkahan pada umurnya, memberi Rizqi kepadanya anak-anak yang sholeh, memberikan keridhoan padanya, dan memasukkan kedalam SurgaNya. 
 
Dari Ummul Mu’minin ‘Aisyah RA berkata : Rasulullah SAW bersabda:
Aku tidur dan engkau melihatku di surga, lalu aku mendengar suara seseorang membaca Qur’an. Aku berkata : siapa itu? Mereka menjawab : Harits Bin Nu’man. Lalu Rasulullah bersabda : itu adalah kebaikan kepada orang tua” Dan manusia yang paling berhak diberikan kebaikan adalah ibunya. 
 
Hendaknya Hamba Allah berbuat baik kepada kedua orang tuanya, setia kepada mereka, mengakui jasa-jasa mereka, membalas kebaikan mereka.

Mari kita tanamkan dalam hati anak-anak kita nilai-nilai yang mulia ini.
 
‎وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sunday, February 15, 2026

KHOTBAH JUM'AT, 19/08/2022: Menjaga Nikmat

Khotbah Pertama


الْحَمْدُ لِلَّهِ الْقَائِلِ: (وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ)([1])، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْمُتَفَضِّلُ عَلَيْنَا بِالنِّعَمِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، أَكْثَرُ النَّاسِ شُكْرًا لِنِعَمِ اللَّهِ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ جَلَّ فِي عُلَاهُ: (نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى)([2])

Aku berwasiat kepada kalian -wahai hamba Allah- dan kepada diriku agar bertakwa kepada Allah, Dia berfirman:

نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa” (Thaha 20 : 132). 

Kaum mukminin: sesungguhnya nikmat yang dilimpahkan oleh Allah kepada kita sangatlah besar, Allah SWT berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)” (An Nal 16 : 53). 

Di antara nikmat dan rezeki yang paling berharga adalah air dan makanan, yang dilimpahkan oleh Allah SWT kepada manusia, yang menjadi dasar keberlangsungan kehidupan mereka, Allah Azza wa Jalla berfirman :

فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ* أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا* ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا* فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا* وَعِنَبًا وَقَضْبًا* وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا* وَحَدَائِقَ غُلْبًا* وَفَاكِهَةً وَأَبًّا* مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ

Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah  mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu” (‘Abasa 80 : 24-32). 

Maka marilah kita bersyukur kepada Allah SWT atas karunia air dan makanan dengan menjaganya, melestarikan sumber-sumbernya, menafkahkan kepada orang yang membutuhkannya dan menghindari pemborosan, Allah SWT berfirman :

وكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (Al A’raf 7 : 31)

Wahai orang-orang yang mengingat nikmat dan karunia Allah SWT: sesungguhnya di antara nikmat lahir dari Allah SWT adalah nikmat keamanan dan ketenteraman, dengannya manusia dapat hidup bahagia dan kebudayaan negara menjadi lebih maju, Allah SWT berfirman :

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ* الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada  mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan” (Quraisy 106 : 3-4). 

Marilah kita hargai nikmat tersebut dengan sebenar-benarnya, dan marilah kita mensyukurinya dengan sungguh-sungguh, seraya memohon kepada Allah SWT agar nikmat tersebut dilanggengkan bagi kita.

 Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mensyukuri nikmat-nikmat-Mu dan berdzikir atas segala karunia-Mu, berilah kami semua taufiq untuk mentaati-Mu,  mentaati rasul-Mu Muhammad SAW dan mentaati orang yang Engkau perintahkan agar ditaati, sebagai pengamalan atas firman-Mu:
 
Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59)

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khotbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِالْإِيمَانِ، وَتَفَضَّلَ عَلَيْنَا بِنِعَمِ الطَّعَامِ وَالْمَاءِ وَالِاطْمِئْنَانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الشَّاكِرِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ

Wahai saudaraku yang selalu bersyukur terhadap nikmat Allah SWT: Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ أَصْبَحَ ‌مِنْكُمْ ‌مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، آمِنًا فِي سِرْبِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ؛ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Barang siapa di antara kalian yang merasa aman di rumahnya, sehat badannya, dan ia memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan telah dikumpulkan untuknya dunia beserta isinya” (At Tirmidzi 2346 dan Ibnu Majah 4141). 

Ini berarti bahwa ketika Allah SWT mengumpulkan pada orang tersebut kesehatan badan, ketentraman hati dan kemakmuran hidup, maka ia telah mendapatkan keluasan nikmat dan pemberian dari Allah SWT. Maka kewajiban kita semua adalah: menjaga semua nikmat tersebut dengan bersyukur kepada Allah SWT dan berdoa untuk orang yang telah menjadi penyebab tersedianya nikmat tersebut, juga hendaknya kita mendidik putra putri kita dengan budaya melestarikan nikmat, karena Allah SWT akan menambahkan anugerah orang yang bersyukur dan membalas orang yang berbuat kebaikan, Allah SWT berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu” (Ibrahim 14 : 7)

Ya Allah segala puji dan syukur hanyalah untuk-Mu, Engkau memberi kami makan hingga kami kenyang, Engkau memberi kami minum hingga kami tidak dahaga, tanpa upaya dan kekuatan dari kami Engkau memulikan kami, Engkau memberi kami nikmat ketentraman, ya Allah langgengkanlah nikmat-nikmat tersebut pada kami, berkahilah kami serta tambahkanlah nikmat kepada kami.

هَذَا وَصَلِّ اللَّهُمَّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. اللَّهُمَّ احْفَظْ دَوْلَةَ الْإِمَارَاتِ قِيَادَتَهَا وَشَعْبَهَا، وَبَرَّهَا وَبَحْرَهَا، وَأَرْضَهَا وَسَمَاءَهَا، ‌مِنْ ‌شَرِّ ‌كُلِّ ‌ذِي ‌شَرٍّ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ دَوْلَةَ الْإِمَارَاتِ بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَاحْفَظْهَا بِحِفْظِكَ، وَاحْرُسْهَا بِرِعَايَتِكَ. اللَّهُمَّ وَفِّقْ رَئِيسَ الدَّوْلَةِ الشَّيْخ مُحَمَّد بْن زَايِد وَنَائِبَهُ وَإِخْوَانَهُ حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ. اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، وَالشَّيخ مَكْتُوم، وَالشَّيخ خليفة بن زايد، وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ انْتَقَلُوا إِلَى رَحْمَتِكَ، وَأَدْخِلْهُمْ بِفَضْلِكَ فَسِيحَ جَنَّاتِكَ. وَارْحَمْ شُهَدَاءَ الْوَطَنِ وَضَاعِفْ أَجْرَهُمْ، وَارْفَعْ فِي الْجَنَّةِ دَرَجَتَهُمْ، وَشَفِّعْهُمْ فِي أَهْلِهِمْ. اللَّهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ: الْأَحْيَاءَ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتَ

عِبَادَ اللَّهِ: اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ

KHOTBAH JUM'AT 18/Juli/2025: Perjanjian Persatuan

Khotbah Pertama


Segala puji bagi Allah SWT, Sang Pelindung dan Maha Terpuji. Dialah yang memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menjaga perjanjian. Kita bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, yang berbuat sesuai kehendak-Nya. Dan kita bersaksi bahwa junjungan kita Nabi Muhammad SAW adalah penutup para rasul. Semoga shalawat, salam, dan berkah Allah tercurah kepadanya, juga kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.

Amma ba'du (selanjutnya):
Aku wasiatkan kepada kalian, wahai hamba-hamba Allah, dan juga kepada diriku sendiri, agar senantiasa bertakwa kepada Allah. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ وَاتَّقَى فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ﴾
"Barang siapa yang menepati janjinya dan bertakwa, maka sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali Imran: 76)

Wahai kaum mukminin, ini adalah perintah Ilahi yang mulia, dan arahan Rabbani yang penuh hikmah. Barang siapa yang berpegang teguh padanya, maka Allah akan memuliakannya dan memberinya pahala. Dan barang siapa yang melanggarnya, akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا﴾
"Dan tepatilah janji; sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawaban." (QS. Al-Isra: 34)

Ya, menepati janji adalah bagian dari prinsip luhur, akhlak mulia, dasar kehormatan, dan tanda kecerdasan. Hanya orang-orang berakal yang mengingat dan memahami pentingnya menepati janji. Allah berfirman:

﴿الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلَا يَنْقُضُونَ الْمِيثَاقَ﴾
"(Yaitu) orang-orang yang menepati janji Allah dan tidak melanggar perjanjian." (QS. Ar-Ra’d: 20)

Benar, tidaklah suatu kaum menepati janjinya melainkan mereka akan naik derajatnya, dan cinta kasih akan tumbuh di antara mereka. Dan tidaklah mereka mengingkari janji mereka melainkan kepercayaan akan sirna di antara mereka, dan kemurkaan Allah pun akan menimpa mereka.

Bagaimana perasaanmu jika engkau telah membuat janji dan perjanjian dengan seseorang, lalu dia mengingkarinya dan tidak menepatinya? Bukankah dadamu akan sesak dan kemarahanmu akan memuncak karena hakmu disia-siakan?

Karena itulah Allah memerintahkan kita untuk menepati janji, dan Dia memuji para nabi dan rasul atas sifat ini. Tentang kekasih-Nya, Ibrahim, Allah berfirman:

﴿وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّى﴾
"Dan (tentang) Ibrahim yang menunaikan (segala perintah dan janjinya)." (QS. An-Najm: 37)

Allah juga menggambarkan sifat orang-orang beriman:

﴿وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ﴾
"Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya." (QS. Al-Mu’minun: 8)

Menepati janji adalah tanda keimanan dan keberagamaan. Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ»
"Tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji." (HR. Ahmad)

Itulah nilai sebuah perjanjian, kedudukan sebuah janji, dan kekuatan sebuah ikatan. Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya janji paling agung adalah perjanjian yang kita buat dengan Rabb kita. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا﴾
"Dan tepatilah janji Allah." (QS. Al-An‘am: 152)

Dan barang siapa berpegang pada janji Allah, maka:

﴿فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا﴾
"Maka Dia akan memberinya pahala yang besar." (QS. Al-Fath: 10)

Adapun orang-orang yang rugi adalah mereka yang mengingkari janji Allah setelah perjanjian itu diikat. Allah berfirman:

﴿الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ﴾
"Orang-orang yang merusak perjanjian Allah setelah diikat dengan kokoh." (QS. Al-Baqarah: 27)

Wahai orang-orang yang setia pada janjimu, lihatlah perjanjianmu dalam rumah tangga dan keluargamu, perjanjianmu dengan istrimu yang telah difirmankan Allah:

﴿وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا﴾
"Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kalian perjanjian yang kuat." (QS. An-Nisa: 21)

Periksalah pula janji dengan anak-anakmu. Tepatilah apa yang telah kau janjikan kepada mereka, penuhi harapan-harapan mereka. Jagalah pula janji dalam pekerjaan dan tugasmu dengan melaksanakan tanggung jawab dan menunaikan hak para pekerja.

Jagalah janji dalam urusan harta, dengan mengembalikannya kepada pemiliknya dan berhati-hatilah dari menyia-nyiakannya. Nabi ﷺ bersabda:

«مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا؛ أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلَافَهَا: أَتْلَفَهُ الله»
"Barang siapa mengambil harta orang lain dengan niat ingin mengembalikannya, maka Allah akan bantu membayarkannya. Dan barang siapa mengambilnya dengan niat merusaknya, maka Allah akan membinasakannya." (HR. Al-Bukhari)

Maka marilah kita tanamkan akhlak menepati janji dalam seluruh aspek kehidupan kita—dengan Allah SWT, dengan tanah air kita, dan masyarakat kita.

Allah berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ﴾
"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah, dan taatilah Rasul, dan para pemimpin di antara kalian." (QS. An-Nisa: 59)

Aku sampaikan khutbah ini dan memohon ampun kepada Allah untukku dan kalian, maka mohonlah ampun kepada-Nya.

Khotbah Kedua

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang sebenarnya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang tiada nabi setelahnya.

Amma ba'du, wahai orang-orang yang setia pada janjinya! Nabi kalian bersabda:

«إِنَّ حُسْنَ الْعَهْدِ مِنَ الْإِيمَانِ»
"Sesungguhnya menepati janji termasuk bagian dari iman." (HR. Al-Hakim)

Di antara perjanjian paling agung yang pernah disepakati oleh penduduk negeri yang mulia ini adalah Perjanjian Persatuan, yang ditandatangani oleh Syekh Zayed—semoga Allah menyucikan ruhnya—dan para pendiri negara lainnya, tepat pada hari seperti ini, 55 tahun yang lalu.

Sampai hari ini kita terus mengingat dan menghargai kesungguhan mereka dalam memuliakan rakyat dan memakmurkan negeri.

Dalam perjanjian itu tertulis:

"Kami ingin memenuhi keinginan rakyat kami untuk bersatu, menyatukan kehendak kami, mempererat ikatan yang menyatukan kami, dan berusaha mewujudkan stabilitas, kesejahteraan, serta keadilan di negeri kami. Kami yakin bahwa persatuan adalah jalan menuju kemuliaan, kekuatan, dan kebaikan. Maka kami menyatakan kesepakatan untuk mempersatukan emirat-emirat kami dalam satu negara yang mampu membela eksistensinya, menjaga keamanannya, mewujudkan harapan rakyatnya, dan mengukuhkan posisinya di tengah bangsa-bangsa.”

Ya, mereka menginginkan kebaikan dan berjanji untuk meraihnya. Maka Allah memberi taufik kepada mereka dan meneguhkan kita di atasnya.

Amalan pertama yang dilakukan oleh Syekh Zayed setelah menandatangani perjanjian adalah bersujud kepada Tuhannya dalam rasa syukur atas nikmat-Nya. Maka marilah kita pun bersyukur atas kebijaksanaan pemimpin kita, atas nikmat persatuan kita. Tanamkan nilai-nilainya dalam jiwa anak-anak dan cucu-cucu kita.

Mari kita doakan para pendiri negara agar dirahmati oleh Allah SWT dan dibalas dengan kebaikan. Kita doakan juga pemimpin kita yang bijak, yang telah menjalankan amanat persatuan dengan sangat baik, menjadikan negeri ini teladan yang dikagumi banyak bangsa.

Dan kita berjanji, bahwa kita akan tetap setia pada perjanjian persatuan, berpegang teguh pada nilai-nilainya, dan setia kepada tanah air kita. Allah telah memuji orang-orang yang setia dengan firman-Nya:

﴿وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا﴾
"Dan orang-orang yang menepati janjinya apabila mereka berjanji." (QS. Al-Baqarah: 177)

Doa Penutup

Ya Allah, jadikan kami orang-orang yang beriman kepada-Mu, yang beribadah kepada-Mu, dan berbakti kepada orang tua kami. Rahmatilah mereka sebagaimana mereka telah mendidik kami di waktu kecil, wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang pengasih.

Ya Allah, lindungilah negara Uni Emirat Arab, peliharalah dengan penjagaan-Mu, dan limpahkan perhatian-Mu, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, lindungilah Presiden Negara, Syekh Muhammad bin Zayed, anugerahkan kepadanya bimbingan dan hikmah, serta berikan taufik kepada para wakil dan saudaranya para pemimpin UEA, termasuk Putra Mahkota yang terpercaya, dan perwakilan penguasa di Dhafrah, untuk melakukan apa yang Engkau cintai dan ridhai.

Ya Allah, rahmatilah Syekh Zayed, Syekh Rasyid, dan seluruh syekh UEA yang telah kembali ke rahmat-Mu. Masukkan mereka ke surga-Mu yang luas dan liputi para syuhada bangsa ini dengan rahmat dan ampunan-Mu.

Ya Allah, rahmatilah seluruh muslimin dan muslimat, yang hidup maupun yang telah wafat.

Wahai hamba-hamba Allah, ingatlah Allah Yang Maha Agung, niscaya Dia akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambahkannya untuk kalian. Dirikanlah shalat.

Sunday, January 18, 2026

KHOTBAH 16/01/2026: The Day of Determination (Yawm al-’Azm)

The First Sermon


All praise is due to Allah, the Almighty, the All-Appreciative, who has encouraged us to pursue the most noble and determined of matters. We bear witness that there is no deity worthy of worship except Allah, and we bear witness that our Prophet Muhammad is the Messenger of Allah. May the peace, blessings, and mercies of Allah be upon him, his family, his companions, and all those who follow him.

To proceed:

I advise you, O servants of Allah, and myself, to have Taqwa of Allah. For through Taqwa, your will is elevated, and your determination is strengthened. Allah the Almighty says:

﴿وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ﴾

But if you are patient and fear Allah, indeed, that is of the matters [worthy] of determination.

O Believers:

Determination (Al-’Azm) is a noble value and a majestic trait. Through it, goals are attained, successes are achieved, difficulties are subdued, and obstacles are removed. Its banner is carried only by those possessed of will and strength, patience and high ambition.

The essence of determination is the firm resolve of the heart and the gathering of one's inner faculties to move forward with a clear vision and enlightened insight, free from hesitation or instability.

This trait was the hallmark of the Messengers of the highest rank (Ulu al-’Azm), characterized by their sincere resolve, deep-rooted steadfastness, and beautiful patience. Its meaning was perfectly embodied in the leader of creation and the master of determination: our Master and Prophet Muhammad ﷺ, in obedience to the command of his Lord, the Mighty and Sublime:

﴿فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ﴾.

So be patient, [O Muhammad], as were those of determination among the messengers...
 
Thus, when the Prophet ﷺ resolved to do something, he never wavered in his decision; and when he moved forward, he never looked back in his stride. Among his frequent supplications was:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ».

O Allah, I ask You for steadfastness in [all] matters, and the determination to follow the right path.

O servants of Allah, reflect on how the Prophet ﷺ combined steadfastness and determination in his supplication. Indeed, the person of determination stands out from others; you see them firm in their positions and loyal to their principles. And this is no surprise, for steadfastness and determination are the pillars of every noble standing and the foundation of every towering success.
 
The tree of these two traits is rooted in high ambition, and its trunk is strengthened by deep-rooted patience. Consequently, it yields its fruit as achievement after achievement, and success followed by success.

It is determination, strengthened by our connection to our Lord, the sincerity of our seeking refuge in Him, and the excellence of our reliance upon Him. Allah, the Mighty and Sublime, says:

﴿فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ﴾

And when you have decided, then rely upon Allah. Indeed, Allah loves those who rely [upon Him].

It is determination: whoever is characterized by it finds their ambition strengthened, their vision clarified, and their resolve propelled toward noble deeds and virtues.

It is determination, entirely good. In worship, it is the sincerity of intention; in knowledge, it is the diligence in seeking it; in the family, it is its cohesion; in gatherings, it is their etiquette and refinement; in society, it is its solidarity; and in the nation, it is its protection. It is the guardian of values, the crown of noble deeds, gallantry in difficult situations, the heritage of the past, and the wise foresight for the future.
 
O Servants of Allah:

Determination (Al-’Azm) is a disciplined human conduct that only arises through noble character and gracious dealings. The ultimate test of one’s resolve lies in times of hardship, trials, and crises, where there is a dire need to train the soul to endure. A person of determination is patient and forbearing; they overlook the offences of the envious and rise above the ignorance of those with ulterior motives. Allah the Almighty says:

﴿وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ﴾

And whoever is patient and forgives, indeed, that is of the matters [worthy] of determination.

Determination is strengthened by sensing the divine reward and by reflecting on the praiseworthy ends and the happy outcomes. Allah the Almighty says:

﴿فَإِذَا عَزَمَ الْأَمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ﴾

And when the matter [of fighting] was determined, if they had been true to Allah, it would have been better for them.

Furthermore, the perfection of determination lies in taking the necessary means, maintaining constant readiness, and possessing the positivity that repels despair and despondency. Therefore, beware of procrastination, and avoid doubt and hesitation. As the poet  said:

إِذَا كُنْتَ ذَا رَأْيٍ فَكُنْ ذَا عَزِيمَةٍ *** فَإِنَّ فَسَادَ الرَّأْيِ أَنْ تَتَرَدَّدَا

If you possess a sound opinion, then be a person of resolve, for the corruption of an opinion lies in being hesitant.

  ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ﴾.

O you who have believed, obey Allah and obey the Messenger and those in authority among you.

I say these words of mine, and I seek forgiveness from Allah for me and for you, so seek His forgiveness.


The Second Sermon

All praise is due to Allah, besides Whom there is no other deity. Peace and blessings be upon our Prophet Muhammad, after whom there is no prophet.

To proceed:

O Believers, the United Arab Emirates is a nation of sincere will and unwavering resolve. This determination is evident in its vision, its sincerity, and its loyalty. It moves toward its future with confident strides, a conscious mind, and continuous work, adhering to the laws of success and following the paths of excellence. It is armed with knowledge, invested in human potential, and firm in the belief that progress is only built upon taking the necessary means and maintaining excellent preparation.

This is an enduring tradition, a deep-rooted approach, and the path toward leadership. It is not deterred by challenges, nor is it hindered by obstacles. As the poet  said:

عَلَى قَدْرِ أَهْلِ الْعَزْمِ تَأْتِي الْعَزَائِمُ *** وَتَأْتِي عَلَى قَدْرِ الْكِرَامِ الْمَكَارِمُ

“Great matters are achieved in proportion to the people of resolve, and noble deeds come in proportion to those who are generous and noble.”

On the seventeenth of January, the Day of Emirati Determination (Yawm al-’Azm), the UAE takes pride in its loyal people, who have rallied around their leadership and believed in their vision. Through this unity, they have forged great achievements. Our Armed Forces have inscribed the most magnificent epics of heroism and offered the most precious sacrifices, proving the sincerity of their love for the soil of this homeland. Regarding such people, the words of Allah the Almighty are true:

﴿مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ﴾.

Among the believers are men who have been true to their covenant with Allah.

Therefore, accustom yourselves to determination and instill it in your children. For through it, you shall surpass others, build the edifice of your civilization, and increase the prosperity of your nation.

O Allah, send Your peace, blessings, and grace upon our Prophet Muhammad and upon his pure and noble family. O Allah, be pleased with Abu Bakr, Umar, Uthman, and Ali, and with all the noble Companions.

O Allah, we ask You for steadfastness in all matters, and the determination to follow the right path. We ask You for the ability to be grateful for Your favours and to worship You in the best manner. We ask You for a sound heart and a truthful tongue. We ask You for the good of what You know, and we seek refuge in You from the evil of what You know.

O Allah, grant us wisdom in speech and correctness in our deeds. Guide us to our paths, ease our affairs, and grant us happiness in this world and the Hereafter. O Allah, make us true believers in You, sincere worshippers of You, and practitioners of the commandments of Your Book. Adorn us with determination and will and make us dutiful to our parents; and have mercy on them as they raised us when we were young, O Most Merciful of those who show mercy.

O Allah, preserve the United Arab Emirates by Your protection; take it into Your care, encompass it with Your providence, and perpetuate its stability and prosperity. Protect it from the envy of the envious, the schemes of the schemers, the aggression of the aggressors, and the evil of enemies and the malicious, O Lord of all worlds.

O Allah, preserve the one endowed with wisdom and courage, the possessor of generous and noble deeds, Sheikh Mohammed bin Zayed, President of the State. Grant him continued success, sound judgment, and support. Grant success to him, his deputies, his brothers, the Rulers of the Emirates, and his trusted Crown Prince, in all that You love and are pleased with.

O Allah, have mercy upon Sheikh Zayed, Sheikh Rashid, and all the sheikhs of the Emirates who have passed on to Your mercy. Admit them, by Your grace, into the vastness of Your Gardens. Encompass the martyrs of the nation with Your mercy and forgiveness.

O Allah, have mercy upon the Muslim men and Muslim women, the living among them and the dead.

O Allah, send down upon us rain, and do not make us among the despairing. O Allah, grant us relief; O Allah, grant us relief; O Allah, grant us relief.

Servants of Allah: remember Allah, the Most Great, the Majestic, and He will remember you; give thanks to Him for His blessings, and He will increase you. And establish the prayer.

Saturday, December 13, 2025

PENGAJIAN KMMI ABU DHABI TGL. 15 MARET, 2024, TEMA: TEMA: BULAN RAMADHAN

 Alhamdulillah, pada kesempatan sore yang mulia, pada kesempatan hari yang mulia, di mana Nabi SAW bersabda; "bahwasannya, Sayyidul ayyam yaumal Jum'ah". Tuannya hari-hari dalam sepekan adalah hari Jum'at. Dan di mana kita sekarang berada di hari Jum'at bertepatan dengan pekan pertama Bulan Ramadhan ini. Dan di waktu yang mustajab apabila kita berdoa kepada Allah SWT. Maka hendaknya di majlis yang mulia pada sore hari ini, marilah kita bersama-sama duduk meluangkan waktu kita, menempatkan diri kita pada tempat yang mulia, yakni majlisus a'lam, di mana inshaAllah para malaikat bersholawat pada orang yang duduk pada majlisus a'lam. Kekuatan iman yang azamiAllah wa iyyakum jamiian.

Pertama-tama saya mengucapkan terimakasih banyak atas kehadirannya pada kesempatan sore hari ini, dan kami di sini akan sedikit berbagi tentang apa yang kami ketahui, dan tidak melandas semua hormat kami pada para asatidah lainnya dan para teman-teman tohib lahilah  lainnya yang telah duduk dalam majlis pada kesempatan sore hari kali ini.

Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamian. Apabila kita berbicara tentang bulan Ramadhan, maka hendaknya kita senantiasa berusaha untuk melahirkan amalan-amalan terbaik di bulan terbaik ini. 

Kalau tadi sayyidul ayyam, hari yang paling utama adalah hari Jum'at, sayyidul asyhur atau sayyiduzzuhur adalah bula Ramadhan. Bulan yang paling utama dalam duabelas bulan Islam adalah bulan Ramadhan. Jadi kita mendapatkan dua keutamaan, yaitu keutamaan hari Jum'at dan keutamaan bulan Ramadhan. Lebih-lebih apaila kita duduk di hari Jum'at sore, di mana setiap doa yang dipanjatkan oleh Bani Adam yang muslim-mukmin, maka niscaya Allah SWT akan memberikan balasan berupa dikabulkannya doa tersebut, inshaAllah.

Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamian bulan Ramadhan identik sekali dengan bulan kebaikan. Kita mengetahui bahwasannya, kebaikan itu merupakan kunci dari lancarnya kita berpuasa di bulan Ramadhan. Karena apa?, Kebaikan akan melahirkan kebaikan selanjutnya, begitupun dosa, dosa niscaya akan melahirkan dosa selanjutnya. Hal ini sesuai dengan kaidah yang diutarakan oleh salah satu ulamak, lhasan Albasri yang merupakan tabiin, di mana beliau memiliki kaidah, yang masuk dalam katagori kaidah fiqih, yaitu inna minjazail hasanah, hasanatul bakdaha, sesungguhnya balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya. Jadi, barang siapa yang berbuat baik, maka niscaya dia akan mendapatkan kebaikan selanjutnya. 

Wa inna min akumatissayyiat, sayyiatu bakdaha. Hukuman, atau punishment dari orang yang melekukan keburukan, maka niscaya keburukan selanjutnya akan menimpanya. Dan ini dalam fiqih termasuk ke dalam reward and punishment, barang siapa yang melakukan kebaikan, maka dia akan mendapatkan kebaikan, dan barang siapa yang melakukan dosa, maka dia akan mendapatkan dosanya.

Maka dari itu, sekarang kita berada di bulan Ramadhan, kita masuk di hari yang ke lima, inshaAllah nanti ba'da Maghrib kita masuk ke hari yang ke enam. Coba kita cek lagi, selama lima hari pertama ini, apa yang telah kita lakukan, kebaikan, atau justru hal-hal yang sifatnya kesalahan. Kenapa? Karena kita tau sekarang kita sedang berada di awal, awal bulan Romadon, masih di 5 hari pertama, dan di 5 hari pertama ini, kita benar-benar istilahnya lagi balapan di KDF atau di lap city, ini kita baru berada di lap ke 5, masih ada 25 lap atau 24 lap lagi di depannya. 

Kayaknya harus kita coba lihat, apakah kita start kemarin start-nya itu di full position dan kita sudah menyiapkan semuanya dengan baik?, atau ternyata kita start dari belakang, sehingga kita pelan-pelan menghadapi Ramadhan ini?. Maka dari itu, harus cek kembali apakah kebaikan-kebaikan telah kita lakukan atau justru sebaliknya kesalahan-kesalahan yang kita ciptakan.

Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, berlandaskan kaedah Nabi SAW, maka kita masih di awal bulan Ramadhan, masih di ujungnya, maka hendaknya kita senantiasa memaksimalkan potensi kebaikan yang ada dalam diri kita, di mana Nabi SAW bersabda, "Inna sifkok yahdilladirk, wa innal birrok yahdilla jennah", bahwasannya kejujuran seseorang dalam mengamalkan kebaikan, akan mengantarkannya kepada ketaatan yang terbaik, dan ketaatan yang terbaik itu akan mengantarkan orang tersebut ke..., Sorganya Allah SWT.

Maka hendaknya kita berusaha di hari yang ke 5 ini hingga hari-hari selanjutnya, kita mulai untuk membiasakan diri kita melakukan perbuatan-perbuatan yang baik. Karena seperti yang tadi dibacakan oleh qorik kita semua, dianggap bahwa ayat 184, ayyaman makduudah, hari-hari terbatas. Jadi, Ramadhan itu harinya terbatas, cumak 29 sampai dengan 30 hari. Maka dari itu alangkah baiknya kita sebagai orang muslim mukmin, untuk memanfaatkan sebaik-baiknya bulan Ramadhan dengan amalan-amalan yang terbaik, dan bukan hanya sekedar beramal, akan tetapi kita perlu cerdas dalam beramal. 

Jadi, kita tidak hanya beramal, tapi kita harus melakukan kebaikan dan cerdas. Bagaimana cerdas itu?. Nabi SAW bersabda, dan ini merupakan salah satu landasan para ulamaak, menciptakan fiqih prioritas. Apa itu fiqih prioritas?, fiqih prioritas itu adalah fiqih yang mengutamakan sesuatu amalan terbaik sebelum amalan baik yang lainnya, itu fiqih prioritas, atau dalam bahasa Arab, fiqul awlawiyah

Jadi, teman-teman dalam hidup inshaAllah akan belajar itu semua. Mana Nabi SAW bersabda, "sabbiduu wa qaaribuu wa amiluu wa khairuu". Sabbiduu wa qaaribuu, di sini artinya adalah, beristiqomahlah kalian dalam menjalankan kebaikan, wa raaqibuu, wa qaaribu afwan, dekatilah amalan tersebut, setelah kalian akan dekat dan istiqomah dengan amalan tersebut, wakmaluu, maka kerjakanlah, wa khairuu, dan tunaikanlah kebaikan-kebaikan dari apa yang kamu kerjakan. 

Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, Ramadhan ini sangat singkat, sekali lagi, Ramadhn sangat singkat. Jadi, kita sekarang jangan sampek kejar-kejaran waktu hanya untuk hal yang sia-sia, dan tidak bisa kita tunaikan haknya Ramadhan itu amal kebaikan. Maka dari itu kita harus cerdas dalam beramal dan menerapkan prioritas utama dalam beramal. 

InshaAlloh dalam kesempatan yang mulia di sore hari ini, kita akan meringkas menjadi 4 prioritas.

Prioritas yang pertama adalah; tentu saja dalam Islam kita harus menunaikan amalan-amalan yang sifatnya wajib. Dan amalan wajib, dalam kaedah yang diutarakan oleh imam Ibnu Qoyyim rahimakumullahutaala, dan juga dikuatkan oleh salah satu dari al-iman mahdab Maliki, beliau menyampaikan bahwasannya "talazum beidha al amal addhahir wal bathin", hendaknya seseorang ketika beramal, dia wajib membuat koneksi yang kuat antara amal yang dhohir yang nampak, dan amal yang bathin. Bahkan dikatakan, diriwayatkan dari imam Ahmad. teman-teman bisa ngecek nanti, bahwasannya amal bathin itu dikatagorikan sebagai amalan yang sifatnya diketahui oleh diri kita sendiri, dan itu terkadang sifatnya lebih utama daripada amalan-amalan yang nampak atau dohir.

Dan di bulan Ramadhan, kita semua melaksanakan amalan yang sifatnya batin. Apa-apa yang batin di bulan Ramadhan?. (ada salah satu jamaah wanita menjawab), apanya bak? Puasa, betul puasa. Amalan bathin di bulan Ramadhan adalah Puasa. Karena apa?, tidak ada yang tau, kita duduk di sini kita tidak berpuasa, tidak ada yang tau itu. Tetapi kalau sholat, amalan dhohir yang nampak, semua orang tau bahwa kita sholat. Kalau orang duduk mengaji di masjid, kita melakukan sholat sunnah. Adapun puasa, puasa itu yang tau hanya diri kita sendiri. Maka dari itu Allah SWT berfirman dalam Hadist Kutsi, "Assiyaamulii", puasa adalah untukKu. "Wa Ana adjiubih", dan Akulah yang akan memberikan pahalanya.

Kalau kita bukak buku-buku, klasik ato buku-buku kontemporer dinyatakan bahwasannya setiap amal itu dilipatgandakan. Tapi khusus untuk puasa, puasa itu tidak terbatas. Tidak terbatas pahalanya karena apa?. Yang mengetahui hanya orang tersebut dan Alloh SWT. Kita tidak bisa mengetahui apakah saodara kita berpuasa dengan benar, ataupun tidak. Mungkin secara lisan kita bisa menyatakan, "oh, saya puasa". Tetapi pada kenyataannya belum tentu, 100% benar puasa. Dan itulah prioritas pertama yang harus kita lakukan ketika memilih untuk melakukan amalan di bulan yang mulia di bulan Ramadhan ini, yaitu amalan bathin adalah puasa.

Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, dan penguat puasa merupakan bagian dari amalan batin puasa adalah, Surat Albaqarah ayat 183 yang tadi dibacakan oleh qorik kita. Allah SWT berfirman, "Audhubillahiminassaithonirrojim,  Yaa ayyuhalladhiinah aamanuu, kutiba alaikumussiaamu kama kutiba alalladhiina minqoblikum laallaku tattaquun". Ada ini kuncinya, wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kamu dan kepada umat-umat sebelum kamu, puasa. Agar lallakum tattaquun, agar kalian bertaqwa, kalian beramal atas dasar keikhlasan terhadap Allah SWT. Dan ini merupakan visi utama dari puasa. Visi utama dari puasa, apa?, laallakuum tattaquun. Bukan laallakum tatayyadun, laalakum taqrofun, bukan, semoga kalian masuk idulfitri, semoga kalian nanti bisa dapat  ee uang, bukan itu. Tetapi laallakum tattaquun. Agar kalian bertaqwa, dan taqwa ini merupakan amalan bathin, amalan yang ada di hati. 

Dan ayat al-Qur'an ini dengan hadist-hadist Nabi SAW, "attaqwaa, haa huna, attaqwaa haa huna", Taqwa itu juga di hati, Nabi SAW menunjuk dengan telunjuknya, taqwa itu ada di hati. Maka visi seorang yang berpuasa adalah menciptakan ketaqwaan dalam hatinya. Jadi, selain menahan dahaga, menahan lapar, kita harus mamasukkan visi utama puasa itu ketaqwaan. Kita dilatih untuk menahan amarah, manahan dahaga, menahan lapar dan lain sebagainya, sehingga kita berhasil sampai di derajat orang-orang yang bertaqwa, inshaAllah.

Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, apabila kita berbicara amalan bathin, maka kita tidak boleh tinggalkan amalan dhohir, amalan yang nampak bisa dilihat. Jadi ini berhubungan satu sama lain, amalan bathinnya tidak akan baik kalau amalan dhohirnya buruk. Amalan dhohir tidak akan baik kalau amalah bathinnya buruk. Dua hal ini salng terkoneksi. Tadi saya bilangi satu sama lain. Dan puasa Ramadhan adalah momen kita untuk menjaga hati kita. Untuk menciptakan momentum melahirkan momentum ketaqwaan sesungguhnya dalam diri kita. Itu paling mudah di bulan Ramadan. 

Karnanya dituntut, dibiasakan untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT. Dan bisa dibilang, bulan Ramadan ini bulannya orang-orang yang berlomba dalam kebaikan. Kenapa? Karena semua orang yang beramal dari bulan Shawal sampai ke Shakban, sampek ke Rajab, bulan Ramadhan. Mereka ini beramal dengan amalannya masing-masing.

Jadi, orang yang di sebelas bulan sebelumnya meraka sholat tahajjud, mereka menghatamkan Alqur'an secara rutin, mereka itu berpuasa. Dan orang yang sebelumnya tidak melaksanakan sholat tahajjud, hanya sholat wajib, dia tidak menghatamkan al-Qur'an, bahkan, naudubillah dia tidak sholat ataupun tidak mengaji, tetapi dia muslim, dia tidak ikut berpuasa. Jadi, di sini perlombaannya benar-benar perlombaan dalam keadaan yang berbeda-beda. Maka dari itu, mumpung kita masih di awal, kita masih di 5 hari pertama, kita punya kemampuan. Kita punya kesempatan yang sama terhadap orang-orang yang sudah biasa melakukan amalan-amalan yang dia lakukan di luar Ramadhan. 

Jadi, ambisinya orang-orang yang sering puasa, orang-orang yang sering mengaji, mereka juga melakukan hal yang sama di bulan Ramadhn. Kita yang sibuk, tidak ikut belajar, kerja, jangan sampai kita lalai. Karena banyak orang-orang yang sudah bersiap sebelumnya. Adalah itu, agar kita mendapatkan ketaqwaan di akhir, maka hendaknya kita mematangkan kembali sisa 25 hari di depan kita. Jadi kita menjaga ketaqwaan sebagai bentuk prioritas utama dalam bulam Ramadhan, yaitu puasa untuk menunaikan atau melahirkan visi utama puasa, yaitu ketaqwaan. 

Tafataimanii azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, ikhlas dan taqwa ini merupakan 2 hal yang tidak bisa dipisahkan. Ikhlas itu adalah mengharap rido Allah SWT ketika kita menjalakan atau melakukan apa yang Allah perintahkan, maka dari itu kita diuji juga untuk ikhlas. Ikhlas itu bukan dikatakan, ikhlas itu dalam hati. Kalau kita ngonong; "Oo saya ikhlas-saya ilkhlas, saya mau ngasih buka puasa hari ini saya ikhlas." Ikhlas itu bukan diucapkan, sekali lagi, ikhlas itu perbuatan dalam hati, amalan yang sifatnya juga dalam hati. Bahkan dikatakan oleh salah satu imam, imam Maffusi. Beliau merupakan salah satu tabik attabiin, "alikhlasu tadburu edikhlas", ikhlas itu kita mengesampingkan pernyataan kita kalau kita itu ikhlas. Jadi, ikhlas itu cukup di dalam hati, kita tidak perlu mengucapkan;  saya ikhlas. "Waman rooa ikhlas lil ikhlas", barang siapa yang melihat keikhlasannya itu ikhlas, maka dia harus melihat lagi dirinya, lalu sering-sering beristghfar karena kita tidak tau keikhlasan itu bentuknya seperti apa. Karena keikhlasan itu cumak bisa dirasakan di dalam hati, tidak kita ucapkan. Maka dari itu Ramadhan taqwa, dan taqwa turunannya adalah ikhlas.

Semoga kita bisa mendapatkan gol utama dari bulan Ramadhan, yaitu "laallakum tattaquun". Jadi, ketika kita keluar dari bulan Ramadhan kita tidak dalam keadaan sebagai orang-orang yang bertaqwa. Taqwa dalam hati kita, taqwa dalam perbuatan kita dan tindakan-tindakan selain kita. Karena hati ini, "idaa sulhat, suluhat jazadu kulluhu, wa idaa fasadat, fasada ala jazadu kullu, alaa wa hiyal qalb". Hati itu kalau baik, maka keseluruhan hati akan baik. Kalu dia jelek, keseluruhannya akan jelek, itu hati. Hati itu dibuat dan diciptakan diisi dengan ketaqwaan. Maka barang siapa yang mengajak dirinya agar senantiasa berada dalam perbuatan yang baik diridoi Allah SWT, maka hendaknya senantiasa dia, melihat kembali hatinya. Apakah hati dipenuhi dengan taqwa, atau dipenuhi dengan rasa keangkuhan, kesombongan, dan hal-hal yang membuat hati kita ini menjadi, "qalubul mayyid", hati yang mati.

Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, setelah kita mengetahui bahwasannya, amalan seperti prioritas utama di bulan Ramadhan adalah menunaikan ibadah puasa yang sebenarnya adalah ibadah bathin. Jangan kita terlena juga meninggalkan amalan yang kedua, adalah amalan dhohir yang wajib. Amalan dhohir yang wajib adalah apa? Sholat 5 waktu. Kalau kita berpuasa, terus kita tidak sholat. Bagaimana hukumnya?, 

Bagaimana jalur hukumnya?. Jadi, ada dibagi lagi hukumnya. Kalau kita berpuasa tetapi kita tidak sholat, kalau kita meyakini bahwa sholat itu wajib, maka orang tersebut bisa dikatakan, dia mengingkari Islam. Akan tetapi poin kedua, apabila dia puasa, dan tidak sholat karena alasan yang malas, atau lalai, atau capek. Puasanya sah, tapi sia-sia tidak ada pahalanya. Karena dia meninggalkan kewajiban yang utama.  Ini ada di buku Imam Safii dalam kitabul um, kita bisa buka teman-teman semua. Jadi, sholat itu tiangnya agama. Kalau orang tiang pasaknya tidak luhur, otomatis amalan-amalan yang lainnya akan bermasalah. 

Dan juga sering terjadi, seseorang yang di bulan Ramadhan dia suka keasikan dengan amal-amalan bulan Ramadhan, dan meninggalkan amalan-amalan wajibnya yang dhohir. Contohnya apa, banyak orang datang berbondong-bondong pergi sholat Tarawih, tetapi dia meninggalkan sholat jamaah sholat Isyaknya. 

Jadi merupakan hal yang harus ditanyakan lagi ke hati kita, apakah itu perbuatan yang memang sesuai dengan kaedah yang ada dalam Islam, atau perlu ditinjau lagi, terlalu ke amalan sunnah dengan sholat wajib. Terlalu pagi sholat Isyak, dan dia langsung pergi Tarawih, ada itu, dan sering terjadi. Atau dia keasikan dengan berbuka puasa bersama, habis gitu lupa sholat Maghribnya. Itu sering kedengaran alumni-alumni kita tidak sholat, ternyata restorannya tidak ada tempat sholatnya, akhirnya lewatlah sholat Maghrib. Qul yaa auzubillah.

Maka dari itu, amalan-amalan dhohir yang bersifat wajib perlu kita tunaikan. Baik sholat di bulan Ramadhan ini juga kita ditekankan untuk menunaikan zakat. Jadi.

Babak-bapak, teman-teman semua yang merasa sudah sampai haulnya, sudah sampai masa 1 tahun perlu uang atau hartanya sudah berhak untuk dizakati, maka wajib hukumnya untuk berzakat. Kenapa di bulan Ramadhan banyak sekali orang berzakat, karena itu bulan yang paling mudah untuk seseorang untuk menghitung harta awalnya masuk katagori dalam wajib zakat. Jadi, mudah sekali, karena mungkin kita suka lupa mungkin sekarang misalnya; setelah Shawal bulannya apa, suka lupa. Jadi, kalau kita mulai dari bulan Ramadhan, dan sampai ke Ramadhan berikutnya selama 1 tahun, harta kita posisinya, di mana masih 85 gram emas, mungkin sekarang sekitar 90 jutaan, di bulan ini 90 juta, di tahun depan di bulan Ramadhan harta kita masih 90 juta atau bahkan lebih, maka kita wajib untuk menunaikan zakat. Itu amalan harus kita tunaikan juga. 

Jadi, teman-teman mahasiswa juga di safara sampai ketemu, itu juga dihitung dulu. Dan selanjutnya adalah hendaknya kita mengingat kembali hadist Nabi SAW, dengan lafal yang hampir sama, tapi beda konteksnya. "Man sauma romadoona imaanan wahtisaaban ghofirolahu laa taqoddama bidambih wamabitaaffa, waman sauma romadoona imaanan wahtisaaban, ghufirolahu laa taqaddama bidambih walaa taakhod. Man qooma lailatuqader imaanan wahtisaaban maa warabbina laa taqaddama bidambih" Adanya ini hadist tiap konteks yang berbeda tapi maknanya itu sama. Di bulan Ramadan, barang siapa yang berpuasa, melakukan sholat qiyyamullail, kemudian kita mendapati sepuluh terakhir dalam keadaan duduk khusuk menunggu Lailatulqadar, maka niscaya Allah SWT akan memberikan kita ampunan terhadap dosa-dosa kita di masa yang lampau, akan tetapi dengan cara apa?, imaanan wahtisaaban. Iimaanan, iimaanan itu masuk katagori amal bathin. Yaitu iman itu tidak diucapkan, tapi masuk dalam amal bathin juga. Dan ehtisaaban, ehtisaaban di sini dalam keadaan ikhlas, karena tidak merasa terbebani. Jadi, jangan sampai di bulan Ramadhan, seorang melakukan sholat wajib terasa terbebani, terawih, aduh tarawihnya lama di sini, mencari yang tarawih yang pendek saja, tapi pulang saja tarawih di rumah. Jangan ada terbesit akan hal itu. Tidak masalah kita memilih tarawih yang masjidnya tidak terlalu panjang, tidak masalah, tapi jangan sampai timbul; "Wah saya tidak mau tarawih di masjid fulan karena bacanya panjang banget". Itu merupakan bentuk dari ketidak hepian kita dalam menjalankan sebuah ibadah. Tapi kalau kita milih secara langsung masjid-masjid yang relatip lebih pendek tidak ada masalah. tanpa kita menghujat atau mengurangi masjid-masjid lain yang sholatnya panjang. Jadi, nanti kita membuat seakan-akan lupa, bahwasannya sampai ingin diampuni dosanya, maka dia harus ehtisaaban, saya pernah serba sarat ridho Allah SWT. 

Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian. Di bulan Ramadhan ini juga, kita perlu senantiasa untuk menjunjung tinggi syiar-syiar Islam. Syiar-syiar Islam banyak, selain sholat, puasa, kita juga perlu menunjukkan akal kita sebagai seorang muslim. Karena di bulan Ramadhan inilah akal seorang muslim itu terlihat. Apabila tadi amalam wajib yang di bathin, kemudian yang kedua yang sifatnya dhohir yang nampak, yang ketiga adalah, hendaknya kita menciptakan diri kita, membawa diri kita sebagai orang-orang yang yang beriman, orang-orang yang berpatuh kepada Allah SWT dengan cara meninggalkan yang apa Allah SWT haramkan d bulan Yang Mulia ini. Karena apa hadist Rasulullahi Sallallahi Wasallam bersabda, "Qallam yadak qamazuur falaisa lahu homsatun fii amyada ambwaamahu wasarobau", tidaklah orang yang tidak meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat di bulan Ramadhan, kata-kata yang kasar, kata-kata yang pemicu keburukan, tangan-tangan, komen-komen di sosial media yang memicu pertengkaran satu sama lain, niscaya di akan Allah SWT biarkan puasanya hanya sebatas lapar dan dahaga.

Jadi, di bulan Puasa, kita juga harus meninggalkan perbuatan-perbuatan yang Allah SWT haramkan. Karena tadi, percuma kita puasa, mulut kita tak puasa tadi, ngomong tetap kasar, tangan kita tidak berpuasa. Tangan kita ngetik-ngetik komen di sosial media, ngomong yang tidak baik menyebabkan orang lain bertengkar, dan menyebabkan teman-teman kita bertengkar, dan lain sebagainya. Karena hal itu juga akan merusak puasa kita. Maka hendaknya kita sebagai seorang muslim, mukmin senantiasa menjaga lisan kita. 

Meluruskan iman kita dengan senantiasa menjauhi apa yang Allah SWT larang. Dahulu Nabi SAW diriwayatkan, ketika ada seseorang yang ingin mengajak beliau untuk berdebat atau berbuat pertengkaran di bulan Ramadhan, Nabi SAW bersabda, "inni sooim". Inni sooim, aku berpuasa, aku sedang berpuasa. Dan itu diulang dua kali oleh Nabi SAW. Nabi SAW ketika mengucapkan suatu hadist maupun perkakataan, kalau diulang pasti itu ada hikmahnya. Dan dinyatakan oleh imam Abdurrozak, Hambali, salah satu ulamak Hambali, Nabi SAW bersabda; inni sooim, yang pertama itu untuk diri Nabi SAW sendiri, inni sooim, untuk mengingatkan bahwa saya sedang berpuasa. Untuk menetralisir diri sendiri dulu. Kemudian selanjutnya yang kedua, inni sooim, aku berpuasa, ini untuk menekankan lagi ke orangnya, agar orangnya sadar bahwasannya orang yang berpuasa ini akan menghindari debat kusir pertengkaran dan hal-hal yang membuat puasanya jadi sia-sia. Jadi, itu yang perlu kita tanamkan sampai nanti kita keluar dari bulan Ramadhan. Jadi, jangan sampai ketika kita berada di luar bulan Ramadhan, kita kembali ke pattern awal, pattern di mana kita sedikit-sedikit ribut, sedikit-sedikit buat kerusuhan, sedikit-sedikit buat orang lain sebel sama kita. Maka dari itu hendaknya kita senantiasa memanfaatkan dengan baik Ramadhan ini menjadi momentum kita untuk melatih kesabaran dan melatih hati kita untuk senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Alloh SWT. 

Dan ada yang tau al-Qur'an di mana Allah SWT berfirman dalam ayat Al-furqon, Allah SWT berfirman, "Wa ibaadurohman alladiina yamsuuna alal ardhi haula wa idaa hoodu roul jaahiluna qaaluu salaama". Sesungguhnya hamba-hamba Allah yang maha penyayang, ada oarang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan keadaan tawaaduk, wa idaa hoodu roul jaahiluun, dan ketika datang orang-orang yang tidak berilmu, atau orang-orang yang mengajak kita terhadap sesuatu yang menimbulkan kerusuhan, qooluu salaamaa. Orang beriman tersebut mengatakan perkataan-perkataan yang baik. Mengimplentasikan menempatkan dirinya dalam sebaik baik keadaan, tidak memperkeruh suasana. Tidak menimbrung masalah ini menjadi perpecahan, itu hakekat seorang mukmin. 

Jadi, orang mukmin di muka bumi ini adalah, orang yang tawaaduk, dan apabila ada orang yang tidak berilmu, datang kepadanya dengan hal-hal yang membuat dia merasa jengkel, maka dia membalasnya dengan suatu kebaikan yang diharapkan bisa meluluhkan hati orang-orang yang tidak sesuai dengan apa yang harus dilakukan selama jadi orang islam, qulayadubillah

Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, yang terakhir, amalan spesialis Ramadhan. Amalan spesialis Ramadhan ini banyak. Tadi yang saya bilang, di bulan Ramadhan ini semua ahli ibadah turun gunung. Yang biasa sholat tahajud, yang biasa tadarus, yang biasa duduk di masjid mencari ilmu, semua berpuasa, dan di situ memaksimalkan waktunya. Dan mereka ibadah-ibadah spesialis Ramadhan. sholat Tarawih, memaksimalkan kita untuk melakukan sholat Tarawih. Kalau tiba-tiba sholat berjamaah di masjid, upayakan untuk tidak meninggalkannya. Biasanya yang dulunya berjamaah di rumah bersama keluarga. Bakda Isyak karena sekalian teruskan berbuka masih pulang ke rumah gunakan Tarawih di rumah. Jangan sampai ditinggal lebih utama di masjid untuk mengaji. 

Yang terakhir bisa atau dalam keadaan sakit, dalam uzur, sholat Tarawih kemudian tadarus di rumah. Ramadhan ini sahrul qudoat, bulannya alam nikmah, Alquran diturunkan di bulan Ramadhan. Maka anda ketika menjadi seorang muslim mukmin senantiasa hidup bersholat jamaah untuk ganjal ahlak Alqur'an. Das dupuluhtjuh yang bagus, tajlisu ma'a alqur'an, duduk bersama Alqur'an. Jadi kita harus bisa seperti itu di bulan Ramadhan. 

Dan Ramadhan bulan bersedekan, Nabi SAW bersabda, qolannabi sallallohi wa alaihi wa sallam, abdumminannaas. Dahulu Nabi SAW adalah orang yang paling dermawan. Wa hada kajduattuhaa yaquulu Ramadhan. Dan keadaan terbaik Nabi, keadaan yang paling  yang paling dermawan Nabi SAW adalah di bulan Ramadhan. Jadi hendaknya semua dari kita senantiasa memberikan kebiasaan untuk bersedekah di bulan Ramadhan. Baik itu yang bekerja ataupun yang tidak bekerja, kalau ada kesempatan untuk bersedekah biasakan utuk bersedekah. Jangan memposisikan tangan kita di bawah terus, tapi hendaknya memposisikan kita semaksimal mungkin sebagai hamba-hamba Allah SWT yang bersedekah di saat lapang maupun susah. Biasakanlah  dari atas dalam keadaan lapang ataupun susah. Dan ini adalah pesan yang sangat penting di bulan Ramadhan. Di mana di bulan Ramadhan, semua orang berlomba-lomba untuk kebaikan bersedekah, khususnya di waktu iftor seperti yang akan kita lewati. 

Di mana apabila seorang, juga bapak-ibu, ibu semua yang pernah datang ke sini bawa iftor, inshaAllah nanti akan mendapatkan pahala dari orang-orang yang berpuasa juga, orang-orang yang menikmati iftor yang bapak ibu sajikan, maka niscaya pahalanya akan tersalurkan juga untuk para dermawan yang memfasilitasi iftor tersebut. 

Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian, yang terakhir, Ramadhan kali ini jadikan sebuah misi utama kita, dan jadikan sebuah ajang untuk kita senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena belum tentu kita akan dipertemukan pada Ramadhan selanjutnya. Usahakan kita benar-benar bisa melaksanakan amalan-amalan berdasarkan prioritasnya, puasa melaksanakan hal-hal wajb lain yang akan sunnah-sunnah meninggalkan yang aram dan melaksanakan hal-hal uang utama di bulan Ramadhan. Dan juga hendaknya kita sadar bahwasannya apa yang kita lakukan ini tujuannya adalah ridho Allah SWT. Jangan sekali-sekali kita engharap ridhonya manusia. 

Akan tetapi kita tempatkan diri kita mengharap ridho Allah SWT. Dan jangan ragu untuk mengingatkan kebaikan, ketaqwaan kepada saudara-saudara kita dengan hikmah, dengan cara yang baik dan bijak, dan bukan dengan cara yang menyakiti atau mencacati satu sama lain. 

Tafataimani azzamiAllahu wa iyyakum jamiian. Di hari yang mulia ini, di sisa waktu yang pendek ini, marilah kita merenung dan mencoba diri kita sembari memanjatkan doa kepada Allah SWT, agar kelak apa yang kita tanam hari ini, dalam bentuk kebaikan, niscaya kita kelak akan memaneni di Surganya Allah SWT. 

Berhubung sepuluh menit lagi sudah masuk waktu buka puasa, kita akhiri kajian kita pada kesempatan sore hari ini dengan doa penutup majelis, subhanakalla wabihamdika ashadualla ilahailla anta, astaghfirullah wa atubu ilaik.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Wednesday, December 10, 2025

DAPATKAH PAPUA MERDEKA?

UMUM

Pulau besar Papua terdiri dari dua bagian, Bagian Timur dan Bagian Barat.  Bagian Timur adalah Negara Papua Nugini, sedangkan Bagian Baratnya adalah Irian Barat. Sejak setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 27 Desember 1949, Papua Barat yang tadinya dibawah kekuasaan Belanda akan disepakati diserahkan kepada Indonesia. Dengan demikian Indonesia menganggap bahwa Papua Barat atau yang dikenal dengan Irian Barat menjadi kedaulatan Indonesia, dan itu akan menjadi salah satu propensi Republik Indonesia yang disebut dengan Irian Barat.

Namun pada kenyataannya hasil konferensi itu juga menyisakan masalah yang belum tuntas, yakni mengenai status Papua Barat atau Irian Barat. Persoalan ini seolah menjadi pemicu ledakan sewaktu-waktu baik bagi Indonesia atau juga rakyat Papua Barat sendiri di kemudian hari. Baik Indonesia maupun Belanda sama-sama ngotot merasa lebih berhak atas tanah Papua Barat. Bagi Belanda, Papua bagian barat, atau yang mereka sebut Netherlands New Guinea, bukanlah bagian dari kesatuan wilayah yang harus diserahkan kembali kepada Indonesia. Salah satu alasan Belanda adalah, karena orang-orang asli Papua memiliki perbedaan etnis dan ras dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Maka dari itu, mereka ingin menjadikan Papua bagian barat sebagai negara tersendiri di bawah naungan Kerajaan Belanda.

Indonesia tidak sepakat dengan keinginan Belanda itu, dan Indonesia menghendaki agar seluruh wilayah bekas jajahan Hindia Belanda diserahkan. Karena tidak dicapai titik temu, maka masalah Papua Barat akan diselesaikan dalam waktu satu tahun ke depan. Perundingan lanjutan memang sempat digelar beberapa kali, namun hasilnya selalu menemui kebuntuan. Gara-gara ini, sejak Agustus 1954, Uni Indonesia-Belanda yang diamanatkan dalam KMB bubar. Menurut suatu sumber bahwa, Indonesia mengalami kegagalan dalam usahanya supaya suatu mosi yang lunak mengenai Papua diterima oleh PBB pada bulan yang sama. 

Dikutip dari tulisan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam buku Sejarah Nasional Indonesia, 2008, Indonesia telah mengusahakan penyelesaian masalah Irian Barat selama 11 tahun. Namun, karena  Belanda tidak mengindahkan, lalu persoalan ini dibawa ke forum PBB pada 1954, 1955, 1957, dan 1960. Dalam Sidang Umum PBB pada September 1961, Menteri Luar Negeri Belanda Joseph Marie Antoine Hubert Luns mengajukan usulan yang intinya agar Papua Barat berada di bawah perwalian PBB sebelum diadakan referendum. Namun, Majelis Umum PBB menolak usulan ini.

Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Operasi-operasi Pembebasan Irian Barat (1971) menyebutkan bahwa pada 2 Januari 1962, melalui Keputusan Presiden Nomor 1/1962, Presiden Sukarno membentuk Komando Mandala untuk merebut Papua. Mayor Jenderal Soeharto ditunjuk jadi komandan operasi militer ini. Situasi ini membuat Belanda tertekan dan terpaksa bersedia berunding lagi dengan Indonesia. Hasilnya, pada 15 Agustus 1962, disepakati Perjanjian New York yang menyatakan bahwa Belanda akan menyerahkan kekuasaannya atas Papua kepada United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA). Perjanjian New York mensyaratkan Indonesia melaksanakan suatu Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera). Rakyat Papua bagian barat akan memutuskan sendiri apakah bersedia menjadi bagian dari Indonesia atau tidak. Batas waktu pelaksanaan Pepera ditetapkan sampai akhir 1969 dengan PBB sebagai pengawasnya

Akhirnya, pada 1 Oktober 1962 Belanda menyerahkan otoritas administrasi Papua kepada UNTEA. Lalu, tanggal 31 Desember 1962, bendera Belanda resmi diturunkan dan digantikan dengan bendera Merah Putih sebagai tanda dimulainya kekuasaan de jure Indonesia atas tanah Papua di bawah pengawasan United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA), PBB. Dan kemudian Indonesia menjadikan Papua Barat sebagai salah satu propensinya dengan nama Irian Barat.

Dunia internasional mengakui secara sah bahwa Papua adalah bagian Negara Indonesia setelah dilakukannya Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969.

Sejarah Tanah Irian Barat tidak berhenti di situ, pada tahun 1973 nama Irian Barat diganti menjadi Irian Jaya. Lalu menyusul dimulainya reformasi pada ahun 1998 di seluruh Indonesia, Irian Jaya dan provinsi-provinsi lain di Indonesia mendapatkan otonomi daerah yang lebih besar. Pada tahuan 2001, status "Otonomi Khusus" diberikan kepada wilayah Irian Jaya. Kemudian Irian Jaya ini pada tahun 2003 dibagi menjadi dua propensi, Papua dan Papua Barat.

TENTANG TIMOR TIMUR

Banyak yang berpendapat bahwa Papua (Propensi Papua dan Papua Barat) akan berakhir sama dengan Timor Timur, suatu wilayah yang tadinya menjadi salah satu propensi Indonesia menjadi merdeka setelah adanya referendum pada tahun 1998. Bahkan di medsos ada yang berpendapat bahwa ada yang sudah membuat rencana agar nantinya sama dengan Timor Timur. Namun apakah itu benar marilah kita lihat bagaimana sebenarnya wilyah Timor Timur ini menjadi salah satu propensi Indonesia.
Penduduk asli Timor Timur adalah ras Australoid dan Melanisia. Lalu orang dari Portugis mulai berdagang dengan pulauTimor pada awal abad ke-15 dan dilanjutkan dengan penjajahan pulau Timor oleh Portugis pada pertengahan abad itu juga. Setelah terjadi beberapa bentrokan dengan pihak Belanda, maka dibuatlah perjanjian pada tahun 1859 di mana Portugis  memberikan bagian barat pulau Timor kepada Belanda dan bagian timurnya tetap dikuasai Portugis.
Ketika Jepang datang lalu dikuasai pula Timor Timur sejak tahun 1942 sampai dengan tahun 1945. Akan. tetapi setelah mereka kalah dalam Perang Dunia II, Portugis kembali menguasai Timor Timur. Hal ini terus berlangsung sampai terjadinya Revolusi Bunga di Portugis pada tahun 1975. Ketika itu pihak Portugis tidak dapat lagi mengirimkan bantuan ke Timor Timur yang sedang terjadi perang saudara. Untuk itu Gubernur Jendral wakil dari Portugis memerintahkan untuk menarik tentara Portugis yang sedang bertahan di Timor Timur untuk mengevakuasikan diri ke Pulau Kambing.
Akhirnya bendera Portugis diturunkan oleh Fretilin dan dideklarasikan bahwa Timor Timur menjadi merdeka dengan nama baru Republik Demokratik Timor Leste. Hal itu terjadi pada tanggal 28 November 1975. Akan tetapi ada kelompok yang ingin berintegrasi dengan Indonesia, untuk itu Fretilin masih harus melakukan pembersihan di negara baru ini dari mereka yang menentang kemerdekaan yang telah dideklarasikan oleh mereka. Pembersihan ini menurut laporan PBB dibarengi dengan pembantaian dan memakan banyak korban. Menurut suatu laporan resmi dari PBB, selama 3 bulan sampai dengan Desember 1975 telah jatuh korban sekitar 60.000 penduduk sipil (sebagian besarnya adalah pendukung faksi integrasi dengan Indonesia). 
Tak lama kemudian, tepatnya pada tanggal 30 November 1975 kelompok pro-integrasi mendeklarasikan integrasi dengan Indonesia, dan kemudian meminta dukungan Indonesia untuk mengambil alih Timor Timur dari kekuasaan Fretilin yang berhaluan Komunis. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan pada tanggal 7 Desember 1975 pasukan Indonesia memasuki Timor Timur. Mereka melakukan penyerangan terhadap Fretilin dan pendukungnya. Dan banyak dari pihak yang mendukung kemerdekaan Timor Timur mundur ke pegunungan dan hutan sambil melakukan perlawanan perang gerilya.
Pada tahhun 1976 Indonesia akhirnya menjadikan Timor Timur sebagai wilayahnya dan Timor Timur menjadi salah satu propensi ke 27 indonesia. Hal ini bukanlah akhir dari kekacauan di Timor Timur. Walaupun Portugis telah meninggalkan Timor Timur karena ketidak mampuan mereka untuk mendekolonisasi Timor Timor, Portugis tetap mengklaim bahwa Timor Timur yang mereka sebut Timor Portugis adalah bagian dari wilayah mereka. Inilah yang menyebabkan wilayah Timor Timur tidak pernah mendapatkan pengakuan PBB sebagai bagian wilayah Indonesia.
Terjadinya krisis moneter dunia pada tahun 1998 dan menyebabkan jatuhnya rezim penguasa di Indonesia, menyebabkan situasi politik di Indonesia mengalami perubahan pula. Pengganti pucuk pimpinan di Indonesia semakin merasa tertekan dengan kondisi yang ada dan menyebabkan menjadi multi krisis. Akhirnya Indonesia dan Portugis sepakat mengadakan perjanjian di bawah pengawasan PBB untuk mengadakan referendum. Dan referendum dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus 1999 dengan hasil mayoritas penduduk Timor Timur memilih lepas merdeka dari Indonesia.
Dampak dari hasil referendum ini PBB mengirimkan pasukan penjaga perdamaian International Force for East Timor (INTERFET) pada tanggal 20 September 1999. Pada tanggal 20 Mei 2002 Timor Timur diakui secara internasional sebagai negara merdeka dengan nama Timor Laste. 
ALASAN PAPUA INGIN MERDEKA
Setelah berintegrasi dengan Indonesia, Papua masih saja terus bergejolak. Mereka yang ingin menjadikan Papua merdeka terus saja mengadakan perlawanan dari gunung dan hutan. Jarangnya penduduk dengan wilayah yang luas menjadikan tempat yang ideal untuk melakukan serangan gerilya. Penduduk sipil dan pejuang memiliki corak yang sama, ini menyulitkan Pemerintah (pasukan keamanan) Indonesia untuk menentukan mana yang benar-benar musuh atau lawan dan mana yang dianggap sebagai kawan atau bukan pejuang kemerdekaan. 

Isu-isu eksploitaasi sumber alam oleh Jakarta dan tidak diimbangi dengan pembangunan yang memadai di tanah Papua seperti semakin memberi angin kepada pejuang Papua untuk memilih merdeka dari Indonesia. Perbedaan harga BBM yang mencapai sampai 10 kali lipat  apabila dibandingkan dengan harga di Pulau Jawa seperti memberikan bukti bahwa Papua sangat terbelakang pembangunannya apabila dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. 

Beruntung Joko Widodo atau yang dikenal degan sebutan Pak Jokowi terpilih menjadi Presiden Indonesia. Sejak terpilihnya beliau, maka preoritas pembangunan Indonesia menjadi berbeda. Pembangunan infrastruktur merupakan prioritas utama dalam 5 tahun Pak Jokowi berkuasa. Daerah bagian timur Indonesia yang ketinggalan tentang infrastrukturnya mulai mendapatkan perhatian, itu termasuk Papua tentunya. Begitu tertinggalnya khusus untuk Papua ini, maka harga bahan bakar dapat mencapai sepuluh kali lipat dari harga BBM di Pulau Jawa.

Terlihat nyata dalam lima tahun Pak Jokowi berkuasa hasil pembangunan di bidang infrastruktur. Bahkan proyek-proyek yang tadinya mangkrak bertahun-tahun dapat diselesaikan dengan cepat. Demikian pula di Papua. Jalan-jalan tembus dari kota satu ke kota yang lainnya dibangun. Kebijakan harga BBM satu harga dikebut. Hal inilah yang membuat masyarakat Papua antusias untuk memilih kembali. Dan dalam Pilpres 2019 lalu Pak Jokowi meraih suara sekitar 90% jumlah suara yang sah di tanah Papua.  

Bukan itu saja,  Pemerintahan Pak Jokowi membuat terobosan dengan menguasai 51% saham Freeport, di mana untuk penguasa-penguasa sebelumnya tidak ada yang mampu. Ini berarti Indonesia mendapatkan pemasukan lebih besar lagi.

Namun demikian masih saja gangguan keamanan walaupun dibilang sudah jarang terjadi, tetapi masih ada, yaitu gangguan dari sipil bersenjata yang diperkirakan dari pihak yang berjuang untuk Papua merdeka. Bukan itu saja, untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat Papua kepada yang disebut Ibu Pertiwinya masih banyak yang harus dilakukan oleh Pemerintah untuk kebaikan dan kemajuan tanah Papua.

SAMBARAN PETIR TANPA MENDUNG

Masalah Papua bagai kesamber petir tanpa mendung. Orang yang dilibatkan seperti tidak paham akibatnya. Petugas keamanan terburu-buru menghakimi orang Papua Asrama Surabaya. Olok-olok rasis menambah runyamnya keadaan.

Surabaya, yaah di kota ini awal permasalahan timbul. Asrama untuk mahasiswa dari Papua ini pada pagi tanggal 16 Agustus, 2019 ini sehatusnya dalam keadaan sepi, tetapi kenyataannya menjadi perhatian banyak orang. Pasalnya telah ditemukan Sangsaka Merah-Putiih berada diselokan di depan asrama yang terletak di Jl. Kalasan, Surabaya yang mendadak terkenal di seluruh Nusantara. Tak seorangpun melihat sebenarnya siapa yang menaruk atau membuang Kain Sakral bagi Bangsa Indonesia itu. Yang jelas pihak keamanan dikerahkan untuk mencari tau tentang siapa gerangan pelaku pembuangan barang sakral Bangsa Indonesia itu. 

Tentu tanpa pikir panjang yang menjadi tertuduh adalah penghuni asrama dari Papua yang sampai saat ini Papua dianggap seperti berada di titik labil antara ingin tetap bersama RI atau lepas menjadi negara sendiri. Adanya provokasi-provokasi semakin membuat masyarakat yang datang termasuk kelompok Ormas memberikan hujatan agar yang melakukan pembuangan bendera untuk keluar. Dari dalam asrama jawaban tidak sesuai dengan yang diinginkan, ini mungkin tak satupun dari mereka telah melakukannya.
Saling olok dan mengulur waktu membuat pihak keamanan melakukan tindakan lebih aktif. Sampai tembakan gas air mata diletuskan. Akhir dari kebuntuan itu diserbunya asrama mahasiswan Papua di Surabaya itu dengan membawa dari beberapa mereka (43 orang) ke Kantor Polisi untuk dimintai keterangan. 

Situasi tidak sampai di situ terhadap para mahasiawa asal Papua. Di Malang, di perempatan jalan (lampu lalulintas), mereka diprovokasi, diolok-olok sampai dikatai binatang tertentu. Alhasil dari intrograsi para mahasiswa Papua di Surabaya oleh pihak berwajib menyimpulkan bahwa, mereka harus dikembalikan ke asrama mereka, dengan kata lain, mereka tidak ada indikasi melakukan pembuangan Kain Sakral itu.

Di media sosial sudah mulai gaduh. Di Papua sendiri langsung direspond dengan demonstrasi menuntut Pemerintah mengusut tuntas dan menghukum mereka yang memprovokasi, pihak keamanan yang grusa-grusu untuk diadili. Tindakan cepat Pemerintah bukan meredamkan orang-orang Papua, malah mereka semakin melakukan Demo hampir di seluruh kota besar di Papua.

Keadaan aemakin runyam sampai ada yang mmengibarkan Bendera Bintang Kejora di depan Istana Negara Jakarta. Adalah bendera terlarang sebagai simbol bendera Negara Papua yang dilarang seakan terlihat bebas dikibarkan. Bahkan di Papua sendiri ketika demo berlangsung mungkin ada piluhan, atau ratusan bahkan tibuan barangkali bendera terlarang telah dikibarkan ketika berdemo. Puncaknya pada Jum'at tanggal 30 Agustus, 2019, pembumihangusan terutama di daerah Jayapura dan sekitarnya telah terjadi. Hampir banyak kantor penting dibakar. Ruko-ruko terutama milik pendatang dibakar. Keadaan mencekam terutama bagi mereka yang berasal dari luar Papua. Pihak keamanan tak berdaya menghadapi jumlah massa yang banyak. Penjarahan terjadi di mana-mana di Jayapura terutama bagi toko-toko baik milik orang Papua apalagi milik pemdatang. Pemerintah sepeti tidak siap, bagaikan disambar petir di siang bolong tanpa adanya mendung.

Provokator di Surabaya secepatnya tiga hari kemudian telah ditetapkan sebagai tersangka, tetapi tetap saja tidak memgendorkan gelombang demonstrasi di Papua. Pemerintah melihat ini semakin mengkhawatirkan. 

Hasil Pilpres dan Pileg April lalu masih belum dilantik. Suasana reda setelah kampanye lalu masih belum sepenuhnya pulih. Kedua kubu pendukung masih sering saling berargumentasi terhadap adanya kejadian yang menyerempet kerja Pemerintah, ditambah juga peristiwa Papua. 

Kekeruhan semakin keruh. Riak semakin bergelora. Dalam menangani masalah Papua kali ini Pemerintah terkesan sangat hati-hati. Tak satupun letusan peluru baik tajam ataupun yang tidak dipicu. Perusakan dan pembakaran yang terjadi di Papua seperti dibiarkan berlalu. Justru tindakan diambil paska kejadian dengan cara menelusuri jejak dijital mereka, ataupun dari rekaman vidio yang tersebar.

Napaknya Pemerintah tidak ingin terburu-buru untuk menghindari meluasnya kekacauan. Selain itu Pemerintah nampak berada di pihak yang salah, dan lemah dalam kasus ini. Untuk itu anarkis para pedemo dibiarkan saja.

DAPATKAH PAPUA DUDUK MANIS?

Dari penlusuran keterangan di atas ada secercah permasalahan yang mungkin dapat dijadikan pijakan tentang permasalahan inti dari permasalahan Papua ini, yaitu kepercayaan. Tentu untuk mengembalikan suatu kepercayaan sudah tentu akan memakan lebih banyak waktu daripada merusak kepercayaan itu sendiri. Untuk menumbuhkan keprcayaan orang-orang Papua terhadap Pemerintah memerlukan kerja keras dan sungguh-sungguh. Itu bukan hanya sebagai janji politik akan tetapi kenyataan yang ada di tanah Papua. 

Kerja Pemerintahan Pak Jokowi yang telah menginisiasi pembangunan yang besar di wilayah bagian timur Indonesia harus dilanjutkan. Ini terutama bagi pembagunan di Tanah Papua yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Indikasi jumlah sura di Pilpres 2019 lalu dengan hasil 90% suara untuk Pak Jokowi mengindikasikan bahwa, Papua masih ingin tetap menjadi bagian dari Indonesia dengan catatan bahwa, Papua harus diprioritaskan pembangunnya. Ini bukanlah permintaan yang mengada-ada, akan tetapi ini adalah permintaan yang wajar karena dari tanah Papua sudah banyak sumber alamnya yang telah diambil atau dieksploitasi oleh negara akan tetapi Tanah Papua dibiarkan tertinggal. Pembangunan itu adalah pembangunan di segala bidang, baik infrastruktur, pertanian, industri bahkan sumber daya manusianya.

Pemerintah seperti sedan berpacu dengan waktu dalam mengembalikan kepercayaan masyarakat Papua kepada Pemerinta Indonesia. Mereka sudah lama sekali merasa ditipu oleh Pemerintah. Itu sejak Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969, jika tidak mau disebut sejak Perjanjian dengan Belanda di akhir tahun 1962. Apalagi semua orang Papua mengetahui bahwa ekploitasi tanah mereka yang dimulai sejak tahun 1967 oleh PT. Freeport Indonesia di wilayah Erstberg pertambangan terbuka menuju ke tambang bawah tanah Grasberg.

Masyarakat Papua seperti telah dilukai begitu lama oleh Pemerintah, penyembuhannya memerlukan penanganan khusus pula dan memerlukan waktu juga. Banyak hal yang perlu dilakukan oleh Pemerintah Pusat untuk penyembuhan itu dalam mengembalikan kepercayaan masyarakat Papua. Penyembuhan ini tentu harus dilakukan secara hati-hati agar isu-isu sensitip yang dapat membangkitkan demonstrasi anti Pemerintah harus betul-betul dijaga. Mengedepankan emosional atau tindakan represip harus dihindari. Ini tentu akan tergantung terutama kesungguhan Pemerintah dalam merangkul masyarakat Papua. Pekerjaan panjang dan sulit walaupun bisa masih menunggu langkah Pemerintah agar persoalan disintegrasi dengan Indonesia dapat diredam, dan menyadarkan masyarakat Papua bahwa bersatu dengan Indonesialah tempat yang terbaik bagi Papua.

KESIMPULAN

Masalah Papua adalah masalah kepercayaan. Mereka mau bergabung bersama RI dikarenakan dulu percaya kepada RI, namun Orba yang membuat Papua tidak berkembang, mereka merasa tanah mereka hanya sebagai tempat penjarahan untuk dipakai di tempat lain di luar Papua. Dan ini yang menyebabkan mereka ingin memisahkan diri.

Mudah-mudahan keadaan cepat terkendali. Harapannya Pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia tidak grusa-grusu dengan mengedepankan emosional dalam menangani keadaan di Papua ini. Di luar pada menunggu jatuHnya korban sipil sebagai justifikasi untuk memperbesar dukungan Papua lepas dari NKRI..

Merdekanya Papua akan tergantung dari Pemerintah serta seluruh elemen Bangsa Indonesia, bukan orang-orang di Papua saja.