"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran", QS 2 ayat 186.
"Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam". QS 7 ayat 54.
UMUM
Dari QS 2 ayat 186 dan QS 7 ayat 54 di atas pada tulisan ini memang susah untuk menentukan tentang tempat keberadaan Tuhan. Sehingga pendapat yang paling kuat adalah, bahwa Tuhan itu tidak bertempat, artinya Dia ada di mana-mana. Sehingga apa yang diterangkan di dalam QS 7 ayat 54 bahwa Tuhan bersemayam di Arsy sepertinya tidak berarti apa-apa apabila sedang membahas tentang keberadaan Tuhan dan menerima pendapat yang paling masyhur itu. Itu bukan karena yang terdapat pada QS 2 ayat 186 saja bahwa Tuhan itu dekat dengan seorang hamba, akan tetapi masih banyak ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa Tuhan itu masih berperan atau dekat dengan kejadian-kejadian yang ada di dunia ini. Sebagai contoh misalnya; bahwa hujan itu turun atas kehendak-Nya. Sehingga (menurut mesin pencari Google di internet) adalah;
"Tuhan itu mutlak, meliputi segala sesuatu di alam semesta ini, baik itu kejadian alam maupun perbuatan manusia, Allah SWT berkuasa mutlak, segalanya terjadi atas izin-Nya, dan jika Dia menghendaki sesuatu, cukup berkata "Kun" (Jadilah), maka terjadilah. Kehendak-Nya berkaitan dengan qada dan qadar, serta tidak ada satupun yang terjadi di luar pengetahuan dan kekuasaan-Nya".
Sungguh, banyak sekali yang tidak ingin membahas tentang keberadaan atau tempat di mana Tuhan itu berada. Ini bukan karena mereka anti, akan tetapi karena alasannya sederhana, lmu untuk itu susah kalau bukan dikatakan tidak ada. Menurut mereka mencari di mana Tuhan itu berada merupakan hal yang mustahil untuk diketahui oleh manusia. Apabila pencarian ataupun pendiskusian itu diteruskan, dikhawatirkan akan menjadikan manusia terjerumus pada sesuatu yang menyesatkan dan akhirnya menjadi berdosa.
DI SINIKAH DIA?
Penulis ingin mencoba untuk menerangkan tentang permasalahan ini dari sisi pemikiran penulis sendiri, penulis bukanlah seorang yang disebut makrifat atau berilmu cukup tentang Ketuhanan, akan tetapi dari bukti-bukti yang difirmankan di dalam Alqur'an penulis mencoba untuk menerangkan dari judul tulisan ini. Pembahasan ini sekaligus sebagai kesimpulan dari tulisan ini yang akan dipaparkan seperti berikut ini.
Di alam semesta ini berlaku hukum alam, Hukum-hukum itu sendiri dalam Islam dikenal sebagai hukum Sunnatullah, yaitu hukum sebab-akibat, hukum berdasarkan logika dan menghasilkan sesuatu yang logis pula. Berikut adalah pendapat penulis:
Sebelum turunnya Alqur'an secara penuh, keadaan dunia ini masih belum sempurna dalam arti tentang hukum-hukum Sunnatullah itu. Ini terbukti ada beberapa kejadian-kejadian yang bisa dikatakan masih berada di luar logika. Contoh yang paling nyata adalah, hamilnya Sayyidah Maryam yang melahirkan Nabi Isa AS. Serta masih banyak kejadian-kejadian yang dikenal dengan istilah kejadian "mukjizat", yaitu suatu kejadian yang mungkin berada di luar nalar pikiran atau di luar logika manusia, akan tetapi kejadian itu terjadi. Contoh lain adalah, Kisah Nabi Ibrahim AS yang dibakar dengan menggunakan api yang sangat besar, tetapi Nabi Ibrahim AS masih dapat hidup bahkan tidak terbakar sedikitpun, yan kedua adalah kisah Nabi Ismail AS yang disembelih oleh Nabi Ibrahim AS yang kemudian digantikan dengan seekor domba, serta kisah-kisah mukjizat lainnya.
Akan tetapi setelah penurunan Alquran sudah dinyakan lengkap, maka semua hukum-hukum Sunnatullah (alam) diangap lengkap. Ini terbukti dengan turunnya ayat seperti berikut.
"...Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu" QS 5 ayat 3
" "Ya Tuhan kami, Engkau mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya" Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janjinya" QS 3 ayat 9
Ini artinya, semua kejadian di alam semesta saat ini ataupun kejadian d akhirat nanti, dipastikan akan berdasarkan hukum alam, yaitu hukum sebab-akibat, hukum logika, hukum Sunnatullah. Artinya apa?, karena semua hukum-hukum di dunia dan akhirat semuanya sudah sempurna, maka semua kejadian akan terus begitu sesuai hukum itu seterusnya dan tidak akan pernah ada perubahan. Dari sini sebetulnya dapat disimpulkan bahwa, kekuasaan Tuhan sudah dimandatkan kepada hukum-hukum yang sudah Tuhan ciptakan, dan hukum-hukum itu tidak akan pernah berubah apapun kondisinya, siapapun yang terkena, dan di manapun tempat kejadiannya, serta kapanpun waktunya karena telah dinyatakan sempurna. Hukum-hukum itu seperti dekrit, seperti "janji" dari yang punya alam semesta ini, dan janji itu tidak akan pernah berubah, ini sesuai dengan QS 3 ayat 9 di atas.
Hal ini mengindikasikan bahwa, Tuhan sudah tidak berperan secara langsung di dalam mengatur semua kejadian-kejadian yang ada di dunia dan di akhirat nanti kecuali sesuai dengan aturan main yang sudah ada di dalam hukum-hukum yang telah Dia ciptakan sebelumnya. Misalnya tentang turunnya hujan, maka agar hujan itu turun sebenarnya memerlukan kondisi-kondisi tertentu yaitu suatu persyaratan yang memungkinkan untuk hujan itu bisa turun. Karena turunnya hujan itu merupakan suatu fenomena yang mengikuti hukum alam yang telah diciptakan oleh Tuhan dan akan tetap begitu selamanya, maka kejadiannya dapat dipelajari, sehingga kedatangannya dapat diprediksi atau diramal. Itulah yang dimaksud dengan "Kehendak Tuhan".
Misalkan turunnya hujan itu memang-memang benar-benar tergantung dari "Kehendak Tuhan" secara langsung saat ketika hujan itu akan turun. Artinya mengesampingkan hukum-hukum Sunnatullah, sehingga masih tergantung dari keinginan Tuhan ketika hujan itu akan turun, tentu datangnya hujan tidak akan dapat bisa diprediksi, karena akan tergantung dari keinginan Tuhan saat ketika sesuatu itu akan terjadi. Sehingga semuanya tidak akan ada yang pasti. Akan tetapi pada kenyataannya adalah tidak, hujan itu berjalan sesuai dengan hukum alam yang kejadiannya dapat diprediksi. Dengan demikian, maka QS 7 ayat 54 dapat dipahami bahwa Tuhan itu bersemayam, baca bertempat di Arsy setelah alam semesta ini diciptakan. Sedangkan "Aku dekat" yang terdapat di dalam QS 2 ayat 186 adalah hukum-hukumNya yang dekat, hukum-hukumNya yang mengatur proses di dalam tubuh seseorang bagaimana dia dapat hidup ataupun mati.
Demikian pula tentang keputusan seseorang akan masuk surga ataupun neraka, tentang ampunan dosa, tentang kesembuhan dari suatu penyakit yang diderita, dan tentang semua kejadian saat ini di dunia ataupun nanti di akhirat, semua itu akan tunduk pada hukum Sunnatullah. Tentang hal ini akan diterangkan sebagian dalam tulisan ini.
Itu semua karena Tuhan telah menggantikan peran-Nya sendiri untuk mengatur dunia saat ini dan akhirat nanti dengan hukum-hukum yang telah Dia ciptakan, dan hukum-hukumitu sudah tidak akan pernah berubah, sedangkan Dia sendiri sedang bersemayang di Arsy.