Monday, March 23, 2026

WISUDA PUTRIKU 2014

AWAL

Seperti baru kemaren saja tahun 2010 itu, ketika aku mengantar putriku masuk universitas, University of Washington (UW), Seattle Amerika Serikat. Dinginnya suhu kota Seattle masih aku rasakan sampai saat ini. Lorong dan taman plaza UW juga masih segar di ingatanku. Banyak orang duduk-duduk di taman ketika kuliah sudah dimulai kembali setelah libur panjang di musim panas. Dan sampai pukul 11 malam aku lihat masih ada kegiatan di dalam kelas.

Sekarang sudah tahun 2014 dan pada pertengahan tahun ini, putriku rencananya akan diwisuda. Jika itu berjalan lancar, maka aku akan sudah memiliki seorang anak berpredikat Sarjana. Dan tentu sebagai orang tua melihat anaknya berhasil selamat menempuh kuliahnya, apalagi dapat tepat waktu, tidak sekalipun dan dapat selesai sampai diwisuda, merupakan pencapaian baik tersendiri, apapun hasilnya. Tentunya hanya kalimat syukur kepada Tuhan yang bisa memberikan harga pencapaian ini. 

Ketika aku pandangi fotonya ketika dia masih kanak-kanak, aku semakin merasakan bahwa dalam menempuh usia sampai 21 tahun terasa seperti baru saja. Entah perasaan ini timbul dikarenakan aku kurang dalam memberikan sesuatu yang lebih berarti kepada putriku, atau memang kenyataannya memang 21 tahun itu adalah waktu yang pendek untuk merawat seorang anak. Bagaimanapun semua itu, yang paling aku syukuri adalah, bahwa sampai saat ini putri, putra dan istriku diberi keselamatan.

Istriku sudah disibukkan dengan rencana menghadiri wisuda putriku walaupun waktu itu masih di bulan awal tahun 2014 ini. Hotel, tiket dan ke mana setelah menhadiri wisuda sudah ia rencanakan. Istriku sudah memesan tiket sejak akhir Februari lalu, demikian juga hotelnya. Aku sendiri belum memesan tiket, karena aku harus menyesuaikan dengan rencana cutiku yang masih belum aku ajukan. Aku belum memastikan waktu dalam menghadiri wisuda putriku. Selain itu, aku masih memiliki kesulitan keuangan akibat salah hitung tentang cash flow keuangan di tahun lalu. Tetapi, bagaimanapun aku harus mengusahakan untuk menghadiri wisuda putriku, karena peristiwa wisuda sarjana hanya ada sekali dalam hidupnya, kehadiran orang tuanya akan memiliki arti penting bagi seorang anak yang sedang meraih keberhasilan. Ini mungkin suatu penghargaan bagi mereka yan sedang diwisuda, kehadiran orang tua merupakan hadiah yang sangat besar bagi mereka.

CUTI

Seminggu lagi cutiku akan dimulai. Pekerjaan di kantor aku rasa masih banyak jika dibandingkan dengan sisa waktu sebelum aku cuti. Tetapi aku tidak khawatir, aku harus berkomitmen, bahwa semuanya akan aku  atasi dan selesaikan. Tidak ada kata yang harus aku tawarkan.

Sholat subuh akan dimulai sekitar pukul 4:40 am. Alarem di HPku aku set pukul 4:25. Deringan pertama aku terperanjat. Hari ini adalah hari Minggu. Semalam aku tidur agak terlambat, mungkin karena hari ini aku libur kerja. Istriku tidak terbangun dengan bunyi alarem dari HPku yang secepatnya aku raih untuk aku sunyikan kembali bunyi jeritannya. Aku bergegas berjalan menuju kamar mandi. Ruangan remang-remang membuatku berjalan berhati-hati. Hanya satu lampu menyala ketika aku tekan tombol dari lima lampu dalam kamar madiku. Aku  tau bahwa, lampu-lampu di kamar mandiku memang ada masalah, dan sudah aku laporkan kepada pihak pengembang untuk diperbaiki atas nama warranty.  Aku raih sikat gigiku dari dalam gelas plasitk di depan cermin besar dekat washtafel setelah aku buang air kecil. Air dingin dari pipa keran menjadi hangat setelah aku selesai membersihkan gigiku. Air yang cukup nyaman untuk aku pakai membersihkan mukaku ketika berwudhu di pagi buta. Di sini, adalah sesuatu yang biasa bukan hanya buat aku, untuk tidak mandi di pagi hari karena tadi malam sebelum tidur sudah melakukan mandi. Suhu ruang dan lingkungan udara bersih memungkinkan tubuh tetap bertahan bersih tanpa berkeringat.

Aku matikan kembali lampu kamar mandiku ketika aku keluar dari kamar mandi dan telah selesai berwudu untuk sholat Fajar, dan kamar tidur menjadi remang-remang kembali. Aku coba meraba celana dan kaosku dari gantungan baju yang telah aku gantung sejak tadi malam. Lalu aku raih untuk aku pakai di dalam kamar tidurku. Aku bergerak sehalus mungkin bagaikan seekor kucing yang sedang mengintai buruannya agar istriku tidak terganggu dari tidurnya. Sebelum aku keluar rumah menuju Masjid, aku pakai topi putih agar cawut-mawut rambut cepakku dapat aku sembunyikan.

Lorong koridor menuju lift sunyi sekali. Lampu neon cukup terang ketika menyala semua, tidak seperti di siang hari yang menyala hanya separuh saja. Terkadang aku membayangkan hal yang menakutkan ketika aku berjalan di lorong yang sepi, bukan takut pada dedemit, walaupun sebenarnya tidak akan ada apa-apa. Tetapi trauma dari cerita orang-orang kampung dulu ketika aku masih kecil membuat aku selalu membayangkannya.

Di luar gedung apartemenku lebih redup walaupun lampu jalan di balik lapangan parkir menyala lebih terang dari lampu-lampu jalan-jalan kota asalku Surabaya, lampu-lampunya menyala berwarna keemasan semuanya. Aku terkadang dihantui oleh kekhawatiran ketika melintasi jalan sepi tentang kemungkinan adanya serangan anjing liar yang lepas dari tuannya. Aku seperti mengawasi sekelilingku ketika aku injakkan kakiku menuruni tangga kecil untuk keluar menyusuri pelataran parkir dari adanya anjing liar. Walaupun aku belum pernah menemukannya tetapi trauma dari video kiriman temanku di Facebook yang pernah aku lihat, membuat perasaanku menjadi waspada dan berjalan ragu-ragu.

Angka jam dinding di dalam masjid menunjukkan 3 menit sisa waktu sebelum iqamah shalat Subuh dimulai, itulah waktu ketika aku memasuki masjid depan apartemen dengan karpet berwarnan merah darah, angka yang sering aku lihat ketika aku masuk masjid. Dalam 3 menit aku bisa melakukan dua macam shalat sunnah, tahiyyautul masjid dan shalat sunnah sebelum shalat Subuh. Sebelum shalat sunnah keduaku selesai, imam mulai membacakan iqamah shalat. Semua orang sudah berdiri rapat dan imam sudah membacakan takbir ketika aku menyelesaikan shalat sunnahku yang kedua. Di sini ada reda waktu antara adan Subuh dan pembacaan iqamah selama sekitar 20 menitan. Dan dapat terlihat di jam dinding dijital yang berjalan mundur setiap detik dari angka 20 menit ke angka 0 menit. Jadi, semua orang sudah tau tentang jam iqamah setiap shalat. Untuk shalat-shalat yang lain seperi Duhur, Asyar, Maghrib dan Ishak memiliki durasi menunggu yang berbeda-beda. Shalat Maghrib jeda waktunya yang paling pendek, dan shalat Subuh yang terpanjang. Ini adalah standar yang diatur oleh otoritas agama di sini.

Ayat-ayat panjang yang sedang dibacakan oleh imam ketika shalat Subuh, membuat suasana semakin hening saja. Untuk shalat-shalat lainnya biasanya tidak sepanjang ayat-ayat shalat Subuh. Ini mungkin karena shalat Subuh memiliki rakaat yang paling sedikit, hanya dua rakaat saja.

Di luar masjid masih saja sepi ketika aku keluar dari selesai shalat Subuh. Aku masih saja khawatir dari adanya anjing tak bertuan di jalan yang aku lalui menuju gedung apartemenku yang berjarak sekitar 60 meteran itu. Setelah aku pijit tombol pin nomor pintu utama apartemen, kunci pintu utama terbuka sendiri. Dengan perlahan aku buka pintu flatku dengan kunci agar istriku tidak terbangun dari tidurnya. Aku tutup pintu kamar tidur agar lampu kamar tamu ketika aku nyalakan tidak masuk kamar dan mengganggu kepulasan dari tidur istriku. Aku nyalakan satu dari tiga lampu kamar tamuku, lalu aku hampiri juga laptop ku yang masih terbuka setelah aku matikan semalam untuk aku tekan tombol aliran listriknya. Berita dari Detik.com dan Kompas.com adalah langgananku untuk aku baca sebelum memulai membaca yang lain melaui laptop yang terhubung dengan internet di pagi hari. Apalagi sebentar lagi akan ada Pemilu Legislatif, selalu ada berita yang dibikin menarik untuk aku baca. Setelah membaca berita lalu aku mempersiapkan masakan makan pagiku, lalu tidak lupa setelahnya membuat makan siang untuk aku bawa ke kantor.

Di kantor aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku yang dipesan oleh atasanku dari sejak beberapa hari yang lalu agar bisa diselesaikan hari ini. Ini menyita waktuku sampai aku harus pulang satu jam lebih lambat dari seharusnya.

Kantor sudah tidak melihat orang lain kecuali aku, sekarang terasa sepi sekali, akhir pekan semua orang sudah pulang sesuai jadwal mereka. Aku tinggal sendirian tetapi aku puas karena pekerjaanku sudah aku kirim melalui email setelah aku selesaikan. Lampu kantor bagianku untuk aku matikan dan lorong menuju ke finger print recorder agak redup. Lampu di kantor bagian Administrasi masih menyala, aku lihat sekertaris CEO masih sibuk dengan monitor komputernya. Ternyata masih ada orang lain selain aku di dalam kantorku. Aku ucapkan selamat berakhir pekan sebelum aku keluar kantorku.

Jalan menuju rumah aku rasa seperti macet saja. Mobilku seperti berjalan lambat pula. Padahal uang Dollar untuk uang sakuku dan pesanan istriku sudah aku tukarkan  di Musrif Mall kemarin sore. Juga rambutku sudah dipotong kemarin sore pula di Khalifa City. Mungkin aku terbawa rasa  trauma kemacetan pukul 6 sore saja, sehingga perjalanan lebih terasa lebih pelan.

Besok pagi dini hari meupakan jadwal terbang aku ke Seattle, sdangkan istriku sudah terbang dulluan bebeapa hari lalu. Sampai di rumah sepulang dari kantor aku masih harus memastikan semua barang-barang dan dokumenku sudah siap semua. Boarding pass yang aku dapa dari check in secara online sudah aku jadikan satu dengan passportku di dalam tas gendong belakangku. Aku masih harus mengambil binatu pakaianku di Khalifa City, sekalian aku akan melakukan shalat Maghrib di masjid darurat belakang deretan toko-toko di sana pula. Jarak dari rumahku di Al Reef Down Town ke Khalifah City sekitar 20 menitan dengan mobil, atau sekitar 12 Kilometeran. Secepatnya aku berganti pakaianku, aku yakin aku masih bisa shalat berjemaah di sana. Banyak orang sudah mulai keluar masjid ketika aku tiba. Masjid darurat dari karavan di tengah lapangan padang pasir ini sulit aku tempuh dengan mobilku. Aku sengaja menjalankan mobilku secara perlahan-lahan agar tidak terlalu terasa hentakan akibat jalan tanpa aspal yang tidak rata. Aku ikut berjamaah di teras masjid yang diimami oleh imam dari orang yang terlambat shalat berjemaah pada waktunya tadi. Setelah selesai lalu aku ke tempat binatu untuk mengambil pakaianku yang aku setrikakan sejak tiga hari yang lalu.

Di rumah sudah tidak ada makanan. Makan malam hari ini sekalian aku lakukan di Restoran Cones, Khalifa City. Ayam panggang dan nasi briyani aku pesan dari susunan menu yang disajikan oleh pelayan restoran. Menunya sungguh kebanyakan. Aku makan sampai aku merasa kekenyangan. Aku sebenarnya ingin berhenti makan ketika aku sudah merasa kenyang, tetapi melihat sisa makanan jika aku hentikan, menjadikan aku terus saja memakannya. Aku terpaksa berhenti makan walaupun masih ada sisa makanan karena aku sudah tidak ingin lagi mengisi perutku yang aku rasa sudah kepenuhan. Setelah aku bayar tagihan penjaga makanan sebesar 13 Dirham termasuk air mineral setengah liter, aku secepatnya keluar restoran menuju ke rumahku.

Aku dengar ada suara SMS di HP-ku, Putriku mengirim pesan elektronik dari Seattle mengingatkan aku bahwa aku harus bersiap-siap untuk perjalanan hari ini. Dia, putraku dan ibunya sedang berada di Seattle menungguku untuk menghadiri perayaan wisuda putriku..

Aku akan melewati gedung Etihad Plaza ketika pulang dari Khalifa City. Di sana aku akan menukar uang Dirham milik istriku menjadi Dollar Amerika. Jalan cukup sepi, sehingga aku bebas mengatur kecepatan kendaraanku. Aku tau bahwa batas kecepatan kendaraan maksimum adalah 80 kM/jam, sehingga aku tetap wapada agar mobilku tidak melebihi 80 kM/jam, walaupun tidak ada radar yang mengawasinya. Hanya butuh waktu sekitar 7 menit aku sudah sampai di area parkir depan gedung Etihad Plaza.

Aku lupa-lupa ingat tentang tempat penukaran uang di Etihad Plasa. Setahun yang lalu aku pernah menukar uang di situ. Aku parkir di tempat parkir remang-remang dekat pintu utama komplek gedung itu. Setelah keluar mobil aku langsung menuju papan besar depan pintu masuk berisi daftar nama toko dan perusahaan yang berkantor di komplek Etihad Plaza. Ketika aku lihat nama UAE Exchange aku jadi teringat kira-kira letak kantornya. Aku langsung melongok ke arah kanan sambil berjalan menuju ke tempat dari mana sinar warna-warni dari logo depan kantor yang aku yakini adalah kantor UAE Exchange. Dugaanku benar dan aku langsung masuk ke dalamnya.

Antrian orang-orang tidak banyak, dari empat konter yang ada hanya tiga yang melayani pelanggan. Aku langsung mengantri sesuai petunjuk satpam berseragam putih-biru berdiri dekat konter terakhir menghadap ke arah pintu masuk. Dengan harga 3,65 Dirham per Dollar aku tukar uang 5000 Dirhamku. Aku pulang karena semua persiapan untuk perjalananku malam ini sudah selesai.

Jam di tanganku menunjukkan hampir pukul 8:15 petang. Aku rencanakan berangkat dari rumah ke bandara pukul 10:30 malam saja, toh jarak dari rumah ke bandara sekitar 20 menitan dengan taksi. Aku keluar tempat penukaran uang agak terburu-buru. Hanya butuh sekitar 15 menit aku sudah sampai di rumah.

PERJALANAN

Pesawat yang aku tumpangi adalah KLM, perusahaan penerbangan dari Belanda. Jadwal penerbanganku sekitar tengah malam nanti, tepatnya pada pukul 00:40 dini hari. Boarding pass sudah ada, aku nanti langsung menuju baggage drop counter saja. 

Aku berangka dari rumah teat waktu seperti yang telah aku rencanakan. Pukul 10:25 malam aku mulai menelpon taksi. Dan benar saja, tepat pukul 10:30 malam aku sudah masuk taksi menuju Bandara Internasional Abu Dhabi. Aku nampak lebis leluasa perasaanku seteelah aku lalui sekuriti dilalui lancar karena aku hanya membawa 1 tas untuk dimasukkan ke dalam bagasi utamanya berisi pakaianku yang akan aku pakan di Seattle, dan 1 tas untuk dijinjing/ditarik ke kabin pesawat. Sungguh aku terasa ngantuk sekali, sehingga aku hampir tertidur selama hampir 7  jam penerbangan kecuali terbangun ketika makanan datang.

Pesawat menyentuh tanah di bandara Schiphol, Amsterdam pukul 6;50 pagi. Dari dalam pesawat tampak banyak gedung di bandara diselimuti skafolding. Sepertinya sedang ada perawatan pada hampir semua gedung bandara. Aku ambil tas jinjingku dari dalam penyimpanan bagasi kabin sambil naik ke atas kursi penumpang. Tasku terdesak ke arah lebih dalam membuat aku tidak bisa menggapainya dari lantai dek pesawat. Nomor urut tempat duduk kursiku di kabin yang hanya berjarak 2 baris dari kabin bisnis membbuat aku tidak terlalu lama berdiri menunggu ke luar pesawat. Bandara Schiphol sepertinya tidak pernah sepi. Sepagi itu hampir semua pekerja di bandara bergerak gesit sekali. Aliran penumpang ke semua penjuru lorong seperti berlarian. Tasku aku naikkan ke atas kereta dorong fasilitas bandara. Aku hanya akan berjalan mengikuti petunjuk Gate E, di mana di E19 adalah pintu tempat aku akan naik pesawat menuju Seattle Amerika. 

Entah berapa konveyor telah aku naiki sambil berjalan menuju ke arah Gate E. Ketika aku sampai di Gate E19 yang ada hanya satu orang sedang duduk menunggu, mungkin sambil hilangkan waktu dengan membaca secarik kertas di hadapannya. Dia tidak memperdulikan atas kedatanganku. 

Sejak di dalam pesawat aku sudah ingin buang air besar. Namun toilet di pesawat membuat aku harus menahannya, nanti untuk aku buang di bandara saja, dan juga, toh saat itu pesawat sedang terasa bergerak menurun. Penerbanganku berikutnya pada pukul 10;20, waktu boarding nanti dimulai pukul 8;50, aku masih ada banyak waktu. Aku akan melaksanakan niatku membuang air besar di bandara. 

Gate E 19 letaknya hampir paling ujung. Suasana sepi sekali apalagi pada Gate E24 yang paling akhir. Yang ada hanyalah petugas pembersih bandara. Ketika aku perhatikan sekelilingku, aku senang ketika melihat gambar tanda toilet sejauh 30 meteran dari tempat boardingku. Aku melangkah menuju ke gambar yang aku inginkan itu. Di dalam toilet sudah ada 4 orang yang sedang antri. Aku tidak menduga dengan suasana sesepi dan sepagi ini sudah ada 4 orang menunggu 3 kamar toilet yang sedang tertutup rapat itu. Tiga orang berwajah Asia yang antri meninggalkan tempat antriannya sebelum masuk ke toilet yang tetap tertutup oleh orang yang sedang membuang hajatnya. Aku dan seorang bule tetap saja menunggu sampai ada bunyi "klotak" tanda seseorang sedang membuka kancing pintu toiletnya. Orang bule di depanku langsung masuk secepatnya seketika toilet ditinggal oleh penghuni sebelumnya. 

Tiga orang Asia kembali lagi sebelum ada yang keluar dari toilet. Salah satu dari mereka sambil menatapku dan menepuk perutnya seolah sudah susah menahan hajatnya, dan aku persilahkan utuk masuk walaupun sebenarnya giliranku ketika dari toilet ada bule yang keluar. Dan yang dua lagi pergi lagi ketika temannya masuk ke toilet. Aku lega ketika hajatku sudah aku buang. Toilet tanpa pembersih air sudah umum di bandara Schiphol, mungkin hal ini adalah adat di seluruh negara Eropa. 

Aku langsung menuju ke tempat menunggu boarding duduk sambil membuka internet lewat wifi gratis bandara. Berita dan email aku masuki. Signal wifi mati hidup tapi aku masih bisa membaca berita dan email, yang dibutuhkan hanya kesabaran karena ini tanpa bayar. 

Meja dorong sudah mulai memasuki areal dalam pagar pembatas sementara ruang boarding. Semua orang tertuju pada petugas yang mendorong meja tu. Sekelompok petugas boarding dan keamanan memasuki tempat boarding. Meja dorong dipakai oleh petugas keamanan bercelana hitan dan berbaju putih. Semua petugas sudah berkumpul dan panggilan boarding dimulai dari kelompok prioritas. Ketika giliranku tiba, aku diminta menunggu petugas keamanan selesai mengintrograsi orang sebelumku. 

Petugas berbadan kekar dan tinggi kemudian memanggilku setelah selesai mengintrograsi calon penumpang wanita sebelum aku dipanggil. Aku berikan pasporku. Petugas yang berdiri di belakang meja dorong mulai menanyaiku bahwa namaku adalah Nasuki. Ketika nanaku ditanya mengapa tidak memiliki nama kedua, aku menjawab bahwa di Indonesia budaya nama tdak harus lebih dari satu nama. Setelah membolak balik halaman paspor dan mncocokannya dengan boarding pasku, lalu dia mengembalikannya kepadaku dan berkata "thank you" pertanda aku dinyatakan lolos dalam wawancara dengan petugas keamanan untuk memasuki Amerika.

BERES-BERES 

 Hari ini tanggal 15 Juni pukul 10 pagi setelah nonton bola setengah mainan Swiss lawan Ekuador, berangkat ke tempat kos putriku. Titipan teman dari Abu Dhabi untuk anaknya yang akan kuliah di UW aku bawa ke tempat putriku atas permintaan istriku. Putraku aku minta untuk membawanya ke mobil merah yang aku sewa untuk aktivitas selama beraktiitas di Seattle dan sekitarnya dalam acara wisuda putriku. 

Udara mendung sejak pagi menambah dinginnya pagi akhir musim semi di Seattle. Aku telusuri jalan-jalan Seattle menuju rumah kos putriku. Aku di kamar hotel dekat dengan kampus putriku terkadang memikirkan betapa berat aku merasakan untuk membawa putriku kembali ke Abu Dhabi setelah wisuda nanti walaupun aku yakin tidak akan ada yang mengetahui tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Tetapi aku merasa ada yang salah dengan hal ini karena salah satu tujuan awal putriku kuliah di UW untuk bisa mendapatkan kerja di Amerika Serikat, bahkan menetap di sana juga. 

Dari hotel ak dan putraku berjalan kaki dan sekarang sudah sampai di perempatan jalan nomer 55, lalu belok kiri. Setelah 3 kali perempatan dilalui lalu aku dan putraku belok kanan. Rumah cat putih terbuat dari kayu nomor dua dari belok kanan di kanan jalan aku dan putraku berhenti di depannya. Putraku menghubungi ibunya yang tidur di rumah itu semalam dengan putriku lalu membukakan pintu. 

Kamar tamu dengan dua set sofa dan satu set meja makan nampak berantakan. Susunan sepatu penghuni berada dibalik dinding kanan pintu masuk berserakan seperti susunan sandal orang-orang yang melakukan  tahlilan di Surabaya. Kamar putriku berada di lantai dua (maksudnya lantai pertama adalah lantai dasar, dan lantai dua adalah lantai di atasnya). Rumah sependek itu di sini berlantai dua. 

Kondisi lantai dua tidak jauh berbeda dari kodisi lantai satu. Hanya jalan setapak saja yang tersisa di lorong lantai atas karena dipenuhi oleh tas, kardus dan barang-barang lainnya. Aku masuk kamar yang terletak di sebelah kanan tangga, inilah kama tidur putriku. Kamar ukuran 3,5 x 3,5 meter persegi ini juga berantakan isinya. Meja belajar dipenuhi dengan alat tulis, komputer dan dua tempat camilan. Meja lain dengan selorokan itu untuk menampung pakaian di atasnya dipenuhi dengan perlengkapan rias, buku, cangkir dan barang keperluan lainnya. Tas traveling ada 5 biji berada di kedua sudut sebelah pintu masuk kamar. Ketika itu aku merasa berat untuk mengatakan kepada putriku agar memisahkan semua buku yang ingin dibawa ke Abu Dhabi dan yang tidak. Aku merasakan bahwa dia juga merasa galau juga untuk meninggalkan kamarnya menuju ke Abu Dhabi. Tetapi semua itu harus dia lakukan karena dia tidak berhasil mendapatkan kerja di Seattle ataupun Amerika Serikat setelah lulus dari kuliahnya. 

Sesaat terkadang aku teringat dengan mimpiku sebelum putriku kuliah dulu. Waktu itu dia sedang duduk di akhir kelas 3 Hight School di Abu Dhabi. Aku memimpikan putriku masuk memeluk agama Kristen. Ketika aku terbangun dari tidurku aku langsung memohon kepada Tuhanku agar dia diselamatkan dari itu. Agar dia diberi petunjuk kepada jalan baik oleh Tuhan. Agar dia dan aku sekeluarga selalu diberi kebaikan dan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. Hatiku yang paling dalam kini sedang berkata bahwa, keadaan putriku saat ini merupakan jawaban daripada doaku dulu. Sehingga aku harus membunuh perasaan gundahku tentang putriku karena tidak berhasil mendapatkan pekerjaan di Amerika. Apalagi putriku menurut ibunya memiliki pacar orang Amerika keturunan ayah dari Rusia dan ib dari Thailand yang beragama Kristen. Dengan keluarnya putriku dari Amerika, maka kemungkinan dia dan pacarnya menjalin hubungan bertemu secara langsung akan semakin jauh. Dan kemungkinan putriku untuk terperangkap ke dalam perangkap cinta beda agama akan semakin kecil. Aku mencoba untuk membantunya didalam memilih buku bukunya. Terkadang dia meminta pendapatku apabla ada buku yang dia ragukan apakah aku juga membutuhkannya. Aku selalu memintanya untuk dibawa saja karena aku butuhkan juga buku jenis yang dia ragukan. 

Ketika kami sedang sibuk memilih buku-buku dan barang-barang yang akan dibawa ke Abu Dhabi, tiba-tiba ada suara lelaki di lantai bawah. Istriku menyarankan aku untuk turun ke lantai bawah karena ada orang tua teman kos putriku, orang Indonesia yang putrinya juga diwisuda tetapi sudah mendapatkan pekerjaan di Microsoft, Seattle karena putrinya lulus dari jurusan Human Design. suasana nampak kaku ketika aku menyapanya. Entahlah apakah karena aku merasa kalah saat ini atau aku dan orang tua teman putriku itu jarang bertemu. 

Setelah acara pertandingan sepak bola antara Ekuador melawan Swiss selesai aku langsung menuju ke kamar putriku untuk meneruskan pekerjaan pengepakan barang barang putriku. Istriku meminta putriku untuk mengantarkan aku mengembalikan mobil sewa yang sudah 3 hari bersamaku. Aku turun ke bawah lagi ketika putriku masuk kamar mandi untuk mandi. 

Jam sudah hampir menunjukkan pukul 12 siang, tepat waktu akhir dari sewa mobilku dan putriku sudah selesai mandi dan siap untuk mengantarku. Aku dan putriku menuju ke tempat sewa mobil terletak dua gang ke arah bawah dari rumah kos putriku. Dua menitan aku sudah memasuki tempat parkir kantor persewaan mobilku. Orang kulit hitam yang ramah yang telah melayani aku dulu ketika aku mengambil mobil sewa sedang sibuk memeriksa mobil hitam ditemani dua orang pelanggannya. 

Setelah aku selesai memarkir mobil di belakang katornya aku langsung membuka bagasi mobil guna mengambil tas punggung berisi salinan surat perjanjian sewa mobil. Alangkah kagetnya aku ketika mengetahui bahwa tas punggungku tidak ada di dalam bagasi. Mengetahui itu putriku menawarkan diri untuk mengambil tasku ke kamar kosnya. Dia bilang hanya 5 menit dengan jalan kaki jaraknya dari sini. Aku setujui dan dia pergi sedangkan aku masuk ke dalam kantor. 

Aku lihat pelayan lelaki kulit hitam tadi yang sedang sibuk melayani pelanggan sudah berada di dalam kantor sedang melayani orang lain. Ketika aku memasuki kantor aku lihat dua pasang laki dan perempuan setengah baya sedang menunggu giliran dari dua konter yang dijaga oleh lelaki dan perempuan kulit hitam. Aku mengarahkan diriku ke konter yang dijaga lelaki kulit hitam yang pernah melayani aku ketika aku mengambil mobil tiga hari yang lalu. Semakin lama semakin banyak pelanggan yang datang dan mereka langsung berdiri mengantri di sebelah konter yang dijaga perempuan. Sudah dua orang pelanggan selesai dilayani oleh konter perempuan tetapi konter yang aku tunggu masih berada di luar untuk mempersiapkan mobil setelah selesai urusan administrasi. Sambil aku melihat sekelilingku aku lihat dua orang umur 20an taun selalu bergurau. Pikiranku curiga bahwa mereka adalah orang dari Arab. Dugaanku tidak benar, setelah aku mendengar percakapan mereka memakai bahasa Ingris. 

Ketika penjaga konter yang aku tunggu sudah memasuki kantor kembali, aku merasa senang karena setelah ini dia akan melayani aku. Ternyata dugaanku salah lagi, karena yang dia panggil justru dua orang yang suka bergurau itu. Aku merasa kecewa dan putriku melihatku dan memintaku untuk tetap menunggu dua orang itu selesai. Setelah giliranku tiba maka aku berikan salinan surat bukti sewa yang aku terima sebelum ini. Dalam kalkulasinya, maka dalam 3 hari aku ditagih sekitar 120 Dollar termasuk biaya asuransinya. Sisa uang jaminanku sebanyak 40 Dollar aku buat sebagai tanda panjar untuk keperluan menyewa mobil lagi untuk besok pagi pergi ke Mont Raindear.

Aku jadi bingung ketika aku ditanya untuk berapa hari aku memerlukan mobil. Ketika aku jawab sehari putriku mengatakan dua hari. Aku ingat istriku memintaku tiga hari yang lalu untuk menyewa sehari saja, tetapi aku jadi ragu ketika putriku memintaku untuk dua hari. Lalu aku meminta lelaki penjaga konter aku akan menelponnya saja nanti. Lalu aku kembali ke rumah kos putriku dengan jalan kaki dengan putriku. 

Lima menit kemudian aku sudah sampai di rumah kos yang berantakan itu. Aku teruskan melakukan pengepakan barang barang putriku bersama istriku. Putriku dan putraku sibuk dengan memilih barang-arang yang akan dibuang, atau akan diberikan kapada putraku untuk dipakai di Vancouver tempat dia kuliah dan yang akan dibawa ke Abu Dhabi. 

Sejenak harus aku lupakan perasaan gundahku. Aku lihat putriku tidak terlalu bersemangat untuk memilah barang barangnya. Aku tidak terlalu yakin apa yang sedang ia pikirkan, tetapi ia mudah sekali untuk tersinggung. Putraku mengumpulkan apa saja yang mungkin ia bisa pakai di Vancouver. Ada piring, cangkir, gelas, kabel untuk internet, alat-alat tulis, dan lain sebagainya. Semua pakaian yang ada di atas rak aku turunkan, istriku membantuku. Satu tas traveling berisi sepatu lama putriku aku keluarkan, lalu aku periksa kembali dan aku sisihkan sebelum aku dan putriku putuskan untuk mmbuangnya. Aku mengepak mulai dari buku-buku yang aku letakkan di bagian bawah tas, semakin ke atas aku letakkan barang-barang yang semakin ringan. 

Tidak terasa aku dan istriku sudah menyelesaikan mengisi 2 tas traveling. Lalu aku meminta istriku agar secepatnya pengepakan dapat diselesaikan. Aku ingin melihat semua barang yang akan dibuang dan dibawa sebelum aku membali ke Abu Dhabi. Aku tidak ingin meninggalkan pekerjaan pengepakan kepada anak dan istriku sebelum aku kembali ke Abu Dhabi. 

Aku berhenti mengepak setelahnya walaupun barang-barang yang dipilah masih belum juga selesai. Aku putuskan untuk menonton pertandingan lanjutan bola Antara Argentina lawan Bosnia Herzegovina. Sampai pertandingan berakhir kedudukan 2 - 1 untuk Argentina. Lalu aku putuskan untuk istirahat tidur di atas gelaran sajadah yang tetap tergelar setelah dipakai sholat oleh aku, istri dan putraku. Ketika aku bangun tidur, anak-anakku sudah pergi ke luar bersama temannya, nonton bioskop How To Train Dragon 2 sesuai rencana yang telah mereka buat kemarin malam ketika bertemu di Restoran China Royal di Down Town Seattle. 

Aku dan istriku lalu bersiap untuk kembali ke Hotel University Travelodge.  Di hotel rasanya membosankan. Nonton TV tentang kisah orang-orang pedalaman di Amerika. Acara itu yang membawaku tidur sampai anak-anakku datang ke hotel sepulang dari nonton bersama temannya. Lalu mereka ikut tidur, sehingga berempat di hotel aku, istrku dan putra putriku sampai aku terjaga kembali ketika jam digital di kulkas menunjukkan pukul 2.30 pagi. Aku bisa tidur kembali setelah jam menunjukkan kira-kira puukul 4.30 pagi. 

Dan istriku dan putriku kembali ke rumah kos putriku pada pukul 5.44 pagi. Aku check out dari hotel sekitar pukul 9.30. Sarapan hari ini aku beranikan diri untuk makan daging giling ayam panggang, karena aku rasa ini tidak ada daging babinya. Biasanya aku hanya mengambil cereal dan susu saja. 

Pertandingan sepak bola hari ini dimulai pada pukul 9.00 pagi antara Jerman melawan Portugis. Ini yang membuat aku dan putraku tidak ingin meninggalkan hotel, padahal aku ada janji degan perusahaan sewa mobil Enterprise untuk mengambil mobil serta bis umum untuk menuju ke daerah sana akan datang sekitar 15 menit lagi. Di dalam bis aku kembali memikirkan putriku. Dia belum pernah mendapatkan kerja Internship dengan jurusan yang dia ambil ini. Dia sungguh belum pernah merasakan mendapatkan kerja dengan jurusannya ini. Dia hanya dapat kerja di kampusnya sebagai cheer leader setiap minggunya terkadang sampai 10 jaman. Entahlah aku sendiri tidak bisa menyimpulkan apakah ini merupakan suatu keberuntungan atau sebaliknya, tetapi aku merasa kasihan sekali terhadap putriku jika dibandingkan dengan teman-temannya yang lain, apalagi dibandingkan dengan anak dari jurusan komputer, jauh sekali. Tetapi aku harus tetap yakin bahwa, semua ini adalah merupakan pemberian yang terbaik bagi putriku khususnya dan aku sekeluarga umumnya. 

PLESIRAN KE MOUND RAINEER

Pagi ini tanggal 16 Juni, aku sekeluarga akan melakukan rekreasi ke Mount Raineer masih wilayah Washington State. Jaraknya sekitar 70 miles dari kota Seattle. Sebelum itu pada pagi ini juga aku harus mengambil mobil sewa yang sudah aku pesan sebelumnya, sedan standar seharga 70 USD per harinya, di mana harga sebelumnya hanya 80 USD untuk 3 hari. Aku tidak ada pilihan dengan ini, waktu yang sempit membuat aku rela masuk ke dalam perangkap permainan ini. 

Mobil Mini Can Dodge aku ambil. Mobil sebesar ini sepertinya membuatku untung. Semua tas bawaan untuk pergi bermalam di penginapan ke Mount Raineer cukup leluasa. Putraku duduk di bangku palimg belakang. Ibunya di bangku tengah sedangkan aku dan putriku di bagian depan. 

Udara cukup dingin pagi ini. Jam sudah menunjukkan pukul 11 pagi, tetapi langit mendung dan ada sedikit gerimis. Setelah kunci pintu depan mobil dikunci oleh putriku, aku berempat berangkat menuju Mount Raineer. Wiper kaca mobil harus diputar skaklarnya apabila ingin menghidupkannya. Demikian juga untuk pengatur kecepatan sapunya. Keluar rumah menuju ke tujuan sudah ada petunjuk memakai GPS dari Iphon putriku. Dari daerah UW awalnya keluar menuju ke jalan highway masuk di entry nomer 170. Jalan dengan jalur minimum untuk kendaraan dengan 3 orang itu tidak terlalu ramai. Ini barangkali karena hari sudah siang. Tujuan utamanya sekarang adalah mencari exit nomer 4 sejauh sekitar 32 miles. Kecepatan maximum di highway adalah 60 miles per jam ini setera dengan 100 kilometer per jam, di Uae yang namanya highway kecepan maksimumnya adalah rata-rata antara 120 sampai dengan 140 kilimeter perjamnya. Aku lajukan kendaraan antara 100 sampai dengan 120 kilimeter per jam. Kendaraan sungguh tertib pengemudinya. Semua mobil tetap pada jalurnya masing masing. Jika ingin pindah jalur. 

Perusahaan pesawat Boeng sungguh besar sekali. Hampir satu menit aku menyetir dari ujung perusahaan pesawat ini masih belum juga berakhir. Dia terletak di sebelah kanan jalan menuju ke luar kota. Di kejauhan nampak pelabuhan kota Seattle. Highway melintasi City Center kota Seattle. Sejauh ini semua kendaraan bebas mengambil jalur masing masing. Hanya untuk bis dan kendaraan penunpang atau dengan mobil berpenumpang 2 orang lebih disediakan jalur khusus, satu jalur yang paling kanan. Lain halnya dengan di Abu Dhabi. Untuk kendaraan truk dan bis tidak boleh mengambil jalur ke tiga dan seterusnya. Mereka hanya diperbolehkan memakai jalur nomer 1 dan 2 saja. Aku pakai fasilitas jalur khusus untuk kendaraan pools, itu karena memang lebih sepi dibandingkan dengan jalur-jalur lainnya. Keadaan kotanya tidak sebersih dan terawat seperti di Abu Dhabi. Rumput-rumput dan tanaman liar banyak yang tidak diurus untuk dibersihkan ataupun dirawat atau dipotong. Apalagi di daerah sekitar pelabuhan. Sama seperti keadaan kotaku Surabaya. 2 miles lagi kendaraanku sudah harus keluar dari jalan Highway. 

Aku harus cepat-cepat mengambil jalur yang dapat memudahkan aku untuk exit di exit nomor 4 berikut. Hanya ada empat mobil yang exit bersama mobilku ke arah kiri. Jalan exit 1 jalur ini membuat aku harus mengurangi secara drastis kecepatan mobilku. Dan aku harus berhenti di pertigaan depan ini karena aku harus belok kiri. Aku sekarang memasuki jalan pedalaman. Sebentar lagi aku memasuki Green Hills. 

Jalan kembar lajur berlawanan. Setiap lajur memiliki 2 jalur. Aku harus lebih berhati-hati karena lajur kanan dan lajur kiri tidak memiliki pembatas. Batas Kecepatan kendaraan cukup tinggi juga, antara 35 sampai dengan 55 miles per jamnya. 

Kanan-kiri jalan mengingatkan aku ketika menyusuri jalan antara Kamal dan Bangkalan. Hanya saja sawah-sawah diganti dengan rumput-rumput untuk pemeliharaan ternak yang aku lhat adalah sapi-sapi. Rumah-rumah kebanyakan terbuat dari kayu. Ukurannya seperti rumah type 100 meter persegi. Serta dilengkapi dengan taman-taman yang luas. Semakin ke dalam aku semakin merasa melintasi daerah Pujon dan Batu. Bedanya hanyalah pohon-pohon pinus di lereng Green Hill lebih lebat. Dan hawanya kelihatan lebih dingin. Hampir semua kendaraan yang berpapasan dengan mobilku menhidupkan lampu lampunya. Padahal hari masih siang, jam di dashboard mobilku menunjukkan pukul 12.35 siang. Sebentar lagi aku harus belok kiri. Jalan 564 depan adalah patokannya. 

Putriku terlambat memberitauku agar aku mulai belok ke kiri. Aku sadari ketika mobilku sudah sapuluh meteran dari belokan yang sehausnya aku belok. Aku hidupkan riting kiriku sambil aku injak rem untuk masuk ke pom bensin kiri jalan setelah perempatan. Dari belakang pom bensin ini aku keluar ke jalan yang akan aku tuju. Kini jalannua lebih kecil lagi. Lajur kanan dan kiri memiliki masing-masing 1 jalur saja. Pembatas tengah jalan hanyalah cat kuning saja. Sepanjang jalan tidak ada hewan-hewan liar seperti yang aku bayangkan. Burung terbangpun ketika berangkat tidak aku temukan. Hanya sekali ada bajing menyeberang dari arah kiri jalan. Aku tidak mengerti mengapa tak satu burungpun aku temukan. 

Punvak bukit-bukit di kejauhan seperti dipenuhi kapas saja. Pertengahan bulan juni di puncak gunung seperti ini nampak masih banyak saljunya. Tak terasa aku sudah hampir sampai di hotel Crystal Resort yang telah di-booking sejak sebelum aku ke Seattle. Resort terdiri dari 6 rumah tua berlantai dua. Bendera Amerika berkibar di depannya. Aku langsung menuju ke kantor Resepsionis setelah aku parkir mobilku di tempat parkir tepat di bawah pohon pinus paling besar. Petunjuk panah ke arah kantor Resepsionis ke pintu bertuliskan toko grocery. 

Aku lihat sekelilingku sebelum aku membukanya barangkali ada pintu lagi untuk kantor yang aku cari. Setelah memastikan tidak ada, aku masuk ke dalam toko itu. Perempuan bule muda menyapaku dengan kata selamat sore. Sambil aku memperhatikan barang-barang yang dipajang di sekeliling ruangan aku balas juga sapanya dan aku tanyakan apakah aku sedang memasuki kantor Resepsionis. Setelah ia mengiyakan pertanyaanku lalu ia menanyai namaku. Anak anak-anak dan istriku terus asik memperhatikan semua barang yang dipajang, sementara aku memberikan paspor dan kartu kreditku untuk melakukan pembayaran hotel yang telah aku pesan. 

Perempuan penjaga toko dan juga resepsionis itu keluar untuk memastikan bahwa kamar yang telah aku pesan sudah siap. Semenit kemudian ia kembali ketika aku sedang asik dengan pajangan barang-barang souvenir di dalam tokonya. Ia lalu mengajak aku sekeluarga menuju ke kamar resort yang telah siap aku tempati. Wanita muda itu membukakan pintu rumah dengan kunci elektronik seperti USB. Ia lalu menyerahkan dua kunci kepadaku. Dia menjelaskan bahwa fasilitas di resort sebelum meninggalkan aku sekeluarga dan mempersilahkan untuk masuk ke dalam resort yang aku pesan. 

Fasilitas tennis meja, kolam renang, tempat membakar daging, persewaan sepeda mendaki ia jelaskan kepadaku. Aku hanya mengiyakan saja apa yang telah ia jelaskan. Anak-anak dan istriku masuk terlebih dahulu sebelum aku masuk ke dalam resort. 

Resort yang berada di atas toko grocery itu berlantai dua. Satu bangunan resort dibagi menjadi dua resort, setiap resort akan memiliki lantai bawah kira-kira seluas 7.5 x 7.5 meter persegi saja. Ia terdiri dari satu kamar tidur, kamar tamu, dapur dan ruang makan, kamar mandi dan dua lemari pakaian serta teras depan dan samping. Dalam kamar tidur ada tempat tidur berukuran untuk 2 oarang diselumuti dengan selimut cokelat tua., 2 chest drawer dan satu lemari pakaian. Dalam chest drawer aku temukan kitab Injil, kitab suci agama Kristen. Di atasnya ada setumpuk buku yang dikumpulkan dalam keranjang rotan. Kamar tamu ada sofa yang bisa dibuka untuk menjadi tempat tidur untuk 2 orang. 1 meja tamu, tempat bakar kayu dengan pipa ke cerobong asap, 1 telivisi ukuran 32 inchi dan receiver mungil terletak di atas raknya. Dan satu kursi sofa single terletak di sebelah tungku pemanas. Kamar tamu terlihat terang sekali karena ada bukaan 1 meter persegi bertutupkan kaca di atasnya. Teras samping sepanjang kamar tamu berada di depan samping kamar tidur. Teras itu bisa dimasuki dari ruang tamu dan kamar tidur. Dua kursi kayu bercatkan coklat tua berjejer dibalik pagar kayu teras setinggi paha. Namun karena suhu dingin tidak enak untuk menempatinya. Di dapur terbuka berhadapan langsung dengan ruang makan. Ada kompor listrik 4 mata dengan oven listrik di bawahnya, ia terletak di ujung paling kiri. Lalu meja marmer sintetis sepanjang 2 meteran sisanya dengan toaster roti, microwave, dan tabung untuk memasak air serta bungkusan untuk perlengkapan teh dan kopi di atasnya. Washtafel stainless steel dengan single mixer air panas dan dingin berada di tengah meja marmer sintetis. Di atas meja marmer tergantung lemari kayu untuk alat-alat dapur sepanjang meja marmer, ia terpotong oleh penghisap udara di atas kompor listrik. Meja makan kayu dengan 4 kursi kayu terletak diantara meja marmer dapur dan lemari untuk gudang penyimpan kipas angin berbagai ukuran dan 2 kursi makan. 

Semua kue, roti dan minuman yang dibawa dari Seattle diletakkan di atas meja makan dengan lampu gantung di atasnya. Kamar mandi terletak di belakang dapur, ia berhadapan dengan kamar tidur. Di ujung lorong antara kamar mandi dan kamar tidur diberi rak lemari berpintu dua untuk tempat menyimpan selimut dan bantal. Washtafel dengan cermin menempel di dinding terletak menempel di dinding setelah pintu masuk. WC terletak diantara shower panjang dan washtafel. Kamar mandi berukuran 2,5 x 1.5 meter persegi ini dilengkapi juga dengan sebuah lampu oranye dan normal dilengkapi juga pengeluar udara. Sabun dan 2 botol kecil shampo terletak di dalam keranjang kecil di atas meja washtafel. 

Untuk menuju ke lantai atas harus naik melalui tangga kayu curam yang diletakkan di depan kompor, tangga itu sebenarnya dimulai dari ruang makan. Lantai atas tidak ada kamar tidur. Dua tempat tidur terletak tanpa ada pembatas ruang, keduanya terbuka, keduanya langsung berhadapan dengan langit-langit miring mengikuti kemiringan atap resort. Satu tempat tidur untuk satu orang berada di sisi kamar madi, ia hanya dipisah oleh lemari permanen satu pintu diantara keduanya. Dan satu tempat tidur lagi untuk dua orang berada di depan kamar mandi. Ia dipisah dengan kamar mandi oleh ruang terbuka berisi telivisi tabung yang diletakkan di atas rak TV. Dalam kamar mandi ada washtafel, shower persegi dan WC diantaranya. Di sisi shower ada rak untuk menyimpan handuk dan sapu tangan. Lantai atas tidak menutupi ruang tamu dengan langit langitnya. Semua ruangan memiliki heater, termasuk juga kamar mandinya. 

Anak-anakku sibuk sendiri sendiri. Putraku sibuk dengan cara menemukan channel telivisi yang ada. Putriku sibuk dengan ibunya mengeluarkan bahan makanan dan perlengkapan pembersih gigi yang dibawa dari Seattle. Lalu aku memasak air untuk membuat kopi. Anak-anakku siap untuk memasak mie instant untuk mengisi perut jatah makan siang mereka. Mereka juga memasakkan untuk ibunya. Untuk aku terpaksa memasak sendiri karena mereka pikir aku tidak menginginkannya karena mereka tau bahwa aku tidak suka makan mie instant. Setelah makan mie selesai lalu sholat sendiri-sendiri. Lalu siap untuk ke puncak Mount Raineer dengan menggunakan mobilku. 

Jam sudah menunjukkan pukul 3.30 sore. Di luar aku lihat tidak ada sinar matahari kecuali gerimis. Istriku meminta putraku untuk memindah tas dan barang-barang yang akan dibawa naik ke puncak gunung. Lalu aku sekeluarga naik mobil menuju Mount Raineer. 

Hutan pinus lebat sekali, gelapnya siang karena mendung bertambah gelap karena rindangnya daun pohon-pohon pinus dari sisi kanan dan kiri jalan. Penyapu air kaca depan mobilku aku set dengan kecepatan sedang untuk melawan percikan air hujan gerimis dan kelembaban udara pegunungan. 

Di kejauhan terlihat semua puncak gunung diselimuti oleh salju putih seputih awan ketika terkena sinar matahari. Batinku menanyakan bagaimana untuk menuju ke puncak gunung yang bersalju itu. Di sepanjang jalan aku tidak pernah melihat adanya hewan atau binatang liar yang berkeluyuran, termasuk juga burung. Sekali saja ada kelebatan bajing yang sedang naik ke pohon di sebelah kiri jalan. Jalan sepi sekali, aku hidupkan juga lampu mobilku. 

Kini aku sudah sampai di monumen Mather Hill. Monumen kecil di kiri jalan dan kurang menarik perhatianku. Aku hanya membacanya tanpa mengurangi kecepan mobilku. Aku kini dihadapkan pada adanya kabut tipis pegunungan. Aku kurangi kecepatan mobilku. Aliran air di sungai berbatuan mengingatkan aku kembali ketika melintasi jalan dari Kota Batu ke Pujon daerah Malang sana. Sampai aku sudah bisa melihat salju di sisi sisi jalan yang aku lalui. Istriku memintaku untuk berhenti untuk melihat salju dari dekat.

Aku hentikan mobil di tempat pemberhentian khusus tempat jalan masuk menuju kawasan tempat beruang cokelat bermukim. Ada gardu penjaga dari kayu bercat coklat di pintu masuknya. Tidak ada seorang penjagapun di dalamnya. Ada tiga kotak sampah yang dengan kode plastic, recycle dan waste. Setiap kotak ada pesan bahwa, di sini adalah daerang beruang, maka jagalah kebersihan lingkungan. 

Aku sedikit merinding ketika keluar mobil membayangkan bertemu beruang. Lalu putraku mengatakan bahwa, beruang coklat sangat bersahabat, jangan khawatir apabila bertemu. Aku dan keluargaku hanya keluar sebentar untuk mengambil gambar secukupnya. Anak-anak dan istriku memakai iPhon mereka masing-masing. 

Kendaraan aku jalankan secara hati-hati menaiki ke arah puncak gunung, selain jurang di sebelah kananku jalan licin karna sedang gerimis. Awan kabut menambah kehati-hatianku karena jarak pandangku hanya tidak lebih dari 50 meteran. Aku teruskan kendaraanku menyusuri jalan aspal satu jalur dengan hati-hati sekali sampai ada pemberhentian di balik jurang curam sebelah kanan jalan. Setelah aku parkir mobilku menghadap ke jurang yang dibatasi dengan tembok setinggi 1 meter, lalu aku dan keluargaku keluar mobil. 

Suhu dingin tanpa angin menyengat muka dan telapak tangan yang tidak terlindungi. Aku langsung menuju ke tumpukan salju di depan tembok pembatas dan aku memungutnya. Salju seperti pasir es semakin membuat dingin telapak tanganku. Lalu aku ke tembok pembatas dan menyungukkan kepalaku secara hati-hati melihat curamnya jurang. Jurangnya seperti tegak lurus saja dengan tanah kearah bawah. Setelah menengok curamnya jurang di balik tembok pembatas. Aku lalu mengambil kamera yang dipegang oleh istriku untuk mengambil gambar-gambar mereka berhiaskan gunung-gunung bersalju. 

Aku lalu mengajak mereka untuk melanjutkan perjalanan lebih ke atas lagi. Aku lihat salju di kanan dan kiri jalan semakin tebal saja, sekitar satu meteran dari tanah. Bahkan semakin ke atas pohon-pohon pinus muda terbenam oleh tebalnya salju, dan kabut silih berganti datang dan pergi. 

Aku putuskan untuk putar kembali saja jika ada tempat yang memungkinkan di depan berikutnya. Aku lihat jalanpun seperti berlapiskan salju tipis, ini pertanda lama tidak ada mobil yang melalui jalan yang sedang aku lalui ini. Dan aku dapat memutarbalikkan mobilku.

Aku menyusuri jalan kembali ke hotel Alta Crystal, kini terasa sekali apabila jalan yang sedang aku lalui cukup menurun, berbeda rasanya ketika aku naik tadi walaupun tadi tidak terasa menanjak tetapi jalan mobil terasa cukup berat. Kini aku hampir tidak pernah menginjak pedal gas, kecuali lebih sering menginjak pedal rem. Jalan menurun cukup untuk memberi percepatan mobil sampai menempuh kecepatan 80 kilimeter per jam. Aku dan keluargaku sudah tidak ingin berhenti lagi. Istriku sudah cukup senang telah dapat melihat dan menyentuh salju secara langsung, itulah cita-cita yang belum ia dapati walaupun dia sudah ke Seattle, Vancouver dan tempat lainnya. 

Aku tetap saja memperhatikan kanan dan kiri jalan. Pohoh-pohon pinus menjulang lurus ke arah langit. Aku terkadang berpikir bahwa tiang-tiang listrik yang terbuat dari kayu dipastikan diambil dari kayu pinus ini. Terus saja mobilku meluncur dengan sendirinya, air di kaca depan terus saja disapu walaupun tidak ada hujan, tebalnya kabut membuat udara sangat lembab, sehingga cukup untuk membasahi kaca dalam sekejab dan menghalangi terangnya pandangan. 

Jam di tanganku menunjukkan pukul 3.30 pagi, ini berarti pukul 4.30 sore di sini. Saat itulah aku memasuki halaman parkir tempat penginapanku. Istriku tidak ingin masuk penginapan melainkan ingin jalan-jalan ke arah atas dari penginapan. Keluar komplek penginapan menuju atas aku harus jalan dengan tenaga ekstra. Jalannya cukup tajam naiknya melalui jalan makadam. Kanan dan kiri jalan ada serentetan rumah-rumah penduduk terbuat dari kayu. Tetapi aku tidak melihat orang lain di sekitarnya. Lampu-lampu rumah rumah ada yang dihidupkan tetapi tidak ada aku melihat penghuninya. Barangkali juga rumah rumah itu milik orang-orang kota yang hanya akan ditempati apabila untuk berliburan saja. 

Aku memutuskan untuk kembali ke penginapan saja karena badan terasa cukup lelah. Berjalan menaiki ke atas aku tidak merasa enak karena daerahnya belum aku kenal. Di penginapan aku hanya nonton TV mendengarkan berita dunia. Sementara istri dan anakku mempersiapkan makanan untuk malam ini. Aku sengaja tidur lebih awal setelah sholat Isyak agar besok bisa bangun pagi dan keluar dari penginapan pagi, karena aku harus sudah mengembalikan mobilku sebelum pukul 11 besok pagi. 

KEMBALI KE SEATTLE

Tepat pukul 5 pagi aku bangun tidur, di luar sudah begitu terang walaupun matahari belum kelihatan. Kicau burung sesekali saja aku dengar. Istri dan anak-anakku dibangunkan lalu makan pagi dengan makanan siap makan yang sudah dibeli sejak dari Seattle. 

Pukul 6.30 pagi aku keluar penginapan. Kantor buka mulai pukul 8.30. Kunci aku drop di kotak kunci di depan kantor resepsionis. Aku lihat bahan bakar mobil sudah tinggal seperempat tangki. Aku harus mengisinya jika ada pompa bensin dalam perjalanan pulang. Suhu udara sungguh dingun, selama perjalanan turun gunung aku harus menyalakan sapu air kaca depanku. Sesekali sapu air kaca belakang harus aku sapu juga karena kelembaban membuat air cepat berkumpul menempel ke kaca depan dan belakang mobil embentuk semacam lapisan es tipis. 

Aku harus berhenti di pompa bensin kiri jalan mobilku. Tak ada orang walaupun ada tulisan "We Are Open". Semua pompa bensin hanya melayani self service untuk pengisian bahan bakar. Aku dan putriku mencoba untuk mengisi bahan bakar mobilku. Adanya tombol-tombol membuat aku ragu. Putriku sudah memesang kartu kreditnya tetapi dibatalkan karena ragu. Aku lanjutkan perjalanan tanpa mengisi bahan bakar mengharapkan pompa bensin berikutnya ada pelayannya. Harapanku terpenuhi ketika menemukan pompa bensin ada orang yang sedang mengisinya. Putriku menanyakan caranya, memang tidak semudah apa yang aku duga, karena pertama harus memasukkan informasi pada satu station untuk memilih tempat pengisian di mana kendaraan diparkir yang akan dipakai, lalu memasukkan kartu kredit atau tunai dengan nomer rahasia, lalu ke tempat pengisian yang dipilih di mana kendaraan diparkir. Lalu menekan tombol jenis bahan bakar yang akan dipilih. Memasukkan nozzle ke corong tangki mobil dengan benar, jika tidak benar maka pompa tidak akan jalan. Setelahnya menarik pelatuk nozzle dan bensin akan mengalir ke dalam tanki. Setelah selesai kembali ke tempat pengisian data, lalu menekan tombol untuk meminta bukti pembayaran. Dan keluarlah bukti pembayaran 30 Dollar untuk menambah setengah taki bahan bakar mobilku. 

GPS putriku memberi peringatan bahwa jalan yang akan aku lalui sedang macet. Lalu disarankan untuk mengambil jalan alternatif. Aku ikuti saja saran GPS dan aku mendapatkan kepuasan. Selain jalannya lancar, juga jarak tempuhnya aku rasa lebih pendek. Aku sampai di Seattle sekitar pukul 11 pagi, waktu yang sudah aku rencanakan. Jalan bebas hambatan masuk ke Seattle penyebab keterlambatan perjalananku karena kendaraanku hanya dapat berjalan sekitar 30 kilomete per jam. Ketika aku sudah keluar highway dari exit no. 170 aku merasa lega. Walaupun highway sudah tidak semacet ketika memasuki Downtown tadi tetapi dari exit ini sekitar 5 menit sudah sampai di rumah kos putriku. 

Setelah aku turunkan semua barang bawaan, aku langsung menuju ke tempat persewaan untuk mengembalikan mobil. Di kantor persewaan mobil hanya ada seorang petugas saja. Untungnya hanya ada 3 pelanggan yang sedang dia layani termasuk aku. Setelah mobil diperiksa oleh pelayan kantor, lalu dia menyatakan diterima. Dan aku kemudian diberi kwitansi untuk aku bawa pulang. 

Sesampai di rumah aku langsung beistirahat. Satu jam kemudian putraku tidak menemukan dompetnya. Ibunya ingat bahwa ketika putraku tidur di mobil ia melihat dompetnya disimpan di tempat penyimpanan bagian belakang kanan pintu mobil. Aku dan putraku langsung meluncur ke kantor persewaan mobil. Seorang penjaga aku katakan tentang maksud kedatanganku. Lalu aku dipersilahkan untuk memeriksa kembali mobil yang aku kembalikan tadi. Sebelum pelayan menyerahkan kunci mobil ia mendapati dompet hitam di ujung meja konter. Ia lalu mengambil dan membukanya, lalu ia menanyakan tentang siapa pemilik dompet itu namanya. Setelah aku sebutkan nama putraku lalu pelayan menyerahkan dompet hitam milik putraku dan aku bersama putraku pulang ke rumah kos putriku. 

KEMBALI KE ABU DHABI

Hari ini tangal19 Juni merupakan hari dari jadwal kepulanganku kembali ke Abu Dhabi. Sejak kemarin semua barang-barang yang akan dibawa ke Abu Dhabi sudah diselesaikan pengepakannya. Aku merencanakan membawa 2 tas dalam bagasi, artinya aku harus membayar biaya tambahan satu tas nantinya. Aku boarding online pukul 5 pagi. Setelah selesai aku harus membayar 76 Dollar untuk biaya tambahan 1 tas bagasi yang akan aku bawa. Lalu boarding pass dan tanda bukti pembayaran biaya tas bagasi aku cetak memakai printer di kamar kos putriku. 

Aku diantar oleh anak-anak dan istriku ke bandara Tacoma,  Seattle. Aku dan mereka keluar rumah berangkat ke bandara sekitar pukul 9.45 pagi. Setelah berjalan melalui dua gang aku dan mereka berhenti di halte bis menunggu bis nomer 73. Rencananya dengan bis menuju ke Westlake Downtown untuk kemudian naik kereta SATAC menuju ke bandara. Dari halte dekat kos putriku ke Downtown sekitar 10 menitan. Untuk naik kereta harus membeli kartu khusus isi ulang seharga 15 Dollar. Setiap naik kereta akan diambil 2,5 Dollar saja, demikian pula jika dipakai untuk naik bis. 

Dari dalam kereta nampak keindahan kota Seattle. Downtown dengan sedikit gedung-gedung tinggi nampak sangat dekat. Pelabuhan di kananku hampir terhalang oleh Stadion Sefaco. Aku terasa ngantuk sekali aku coba tidur di kereta. Aku lihat putraku sudah tertunduk tidur nyenyak sambil duduk di kursi penumpang belakang, istri dan putriku asyik ngobrol di kursi depan sana. Ketika aku terbangun kereta sedang berhenti di Boulevard International Station, ini berarti 1 station lagi aku akan sampai di Bandara. 

Corong pengumuman memberitahukan bahwa ini merupakan station terakhir dari kereta ini. Ini berarti aku sudah sampai di Bandara Tacoma, Seattle. Jam masih menunjukkan pukul 11.30 pagi berarti 2 jam lagi aku akan terbang. Aku langsung menuju ke tempat Baggage Drop Only, sebelum aku mengambil baris antri seorang petugas memberitauku bahwa jika hanya memasukkan tas bagasi sebaiknya di luar saja tidak antri seperti barisan di depanku. Aku memenuhi permintaannya, lalu aku mengambil antri di baris di luar gedung depan gedung utama bandara. 

Aku timbang tas bagasiku, satu tas seberat 75 pound dan satunya lagi seberat 67 pound. Setiap 2 pound setara dengan 1 kilogram. Ini berarti aku harus mengurangi sekitar 25 dan 17 pound dari masing-masing tas bagasiku nantinya kalau tidak setiap kelebihan akan ditarik biaya sebesar 100 Dollar. 

Aku diminta untuk menscan pasporku karena di konter yang aku pilih tidak bisa membaca data pasportku. Lalu aku coba menscan sesuai dengan yang ditunjuk oleh penjaga konter asal Pilipina itu, tetapi tidak berhasil. Aku lalu kembali ke konter yang menyuruhku setelah petugas di dekat scanner memintaku untuk langsung saja ke bagian baggage drop only. Aku kembali menemui petugas Pilipino yang sedang menyimpan tas-tasku di dekatnya. Lalu dia menyarankan aku untuk memakai konter khusus saja. 

Sebelum ke konter khusus aku coba menata kembali tas-tas bagasiku agar beratnya berkurang. Tas jinjing yang istriku persiapkan dari rumah untuk keadaan kelebihan bawaan ia keluarkan. Aku buka tas-tas bagasiku lalu aku keluarkan buku -buku yang ada di kedua tas-tas bagasiku. Secepatnya setelah semua tas-tas bagasiku aku kunci aku bersama keluargaku masuk barisan antri di barisan pintu masuk khusus. Khusus di sini diperuntukkan bagi mereka yang membutuhkan pertolongan khusus dalam melakukan boarding dan pengiriman barang bagasi ke pesawat. Aku harus menunggu dua liukan untuk mencapai konter pelayanan khusus. Aku usulkan pada istriku agar keluar saja karena jalannya sangat lambat. Dia memintaku untuk bersabar saja nanti akan sampai juga. 

Pukul 12.40 aku sampai di konter khusus. Petugas konter memberitauku bahwa aku telah datang terlambat. Ia memberitauku bahwa  menurut aturan  para penumpang harus datang 1 jam sebelum waktu keberangkatan. Petugas konter wanita keturunan Asia berkulit kuning itu lalu memasukkan dataku dengan menggesekkan boarding passku. Dan aku diminta untuk kembali untuk penerbangan esok harinya. Dan aku kembali ke Abu Dhabi keesokan harinya.

END

Wednesday, March 18, 2026

RIBA MENURUT ILMU GATHOKLOGI

UMUM

 "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui". QS Albaqarah, ayat: 278-279.

Sudah umum bahwa hutang-piutang dalam bentuk uang dan tanpa adanya barang, lalu dalam melunasinya akan ada biaya tambahan yang dibebankan kepada yang berhutang, tambahan itu disebut bunga atau riba. Biaya tambahan itu dikenakan karena beberapa sebab. Sebab-sebab itu merupakan alasan yang sudah sama-sama diterima atau disepakati ketika perjanjian hutang-piutang ditandatangani. Artinya biaya tambahan itu sudah disepakati oleh yang memberi hutang dan yang berhutang sejak dari awal hutang disepakati. 

Dalam hal ini banyak orang yang mengira tambahan dari pokok pinjaman bukanlah disebut riba, dan banyak pula yang mempercayai apapun tambahan yang dikenakan selain pokok pinjaman adalah riba. Untuk itu marila kita lihat dari bukti-bukti yang telah tercatat di dalam Alqur'an.

MENDEFINISIKA RIBA

"Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya". QS Albaqarah, ayat 279.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda  dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan" QSAli Imran, ayat 130.

"Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang- orang yang melipat gandakan (pahalanya)". QS Arrum, ayat 39.

"Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba". QS Albaqarah, ayat 275.

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah". QS Albaqarah, ayat 276

Dari ayat-ayat tersebut di atas bahwa yang dimaksud dengan riba adalah kelebihan atau bunga dari sesuatu yang dihutangkan. dengan catatan sesuai dengan yang tercatat pada suatu ayat dalam QS Albaqarah ayat 276, bahwa transaksi hutang-piutang itu bukan berupa jual-beli yaitu ada barang yang diperdagangkan, bukan piutang tanpa barang, baca hanya piutang dengan uang.

Dalam surat Albaqarah ayat 279 disebut bakan bahwa "bagimu pokok hartamu" sebagai indikasi bahwa sisa dari pokok yang berupa kelebihan yang harus dibayar karena berhutang adalah termasuk riba.

Sedangkan di dalam surat Ali Imran ayat 130 tertuliskan bahwa, "riba dengan berlipat ganda" memberikan indikasi bahwa riba itu ada dua, yaitu; riba yang berlipat ganda dan yang satunya pasti riba yang tidak berlipat ganda.
Demikian juga yang disebutkan dalam ayat 39 surat Arrum bahwa riba itu adalah tambahan harta.

Coba kita ambil sebagai referensi lain yaitu sbb.:

"Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui". QS Albaqarah ayat 180.

Ayat terakhir di atas ini menyatakan bahwa, jika orang yang berhutang itu sedang memiliki kesukaran, maka dianjurkan untuk memberikan tangguh sampai berkelapangan. Ayat ini memerintahkan bahwa memberikan tangguh sampai berkelapangan, tetapi bukan memberikan beban atau tekanan sebagai penggantinya yaitu dengan memberikan hukuman membayar tambahan terhadap hutang yang harus dibayar. Ini mengindikasikan bahwa tambahan dari hutang sebagai hukuman yang diperbolehkan adalah tambahan waktu berupa penundaan pembayaran hutangnya yang disebabkan oleh kesulitan dalam membayar hutangnya. Hal ini untuk memperjelas bahwa tambahan denda karena penangguhan pembayaran hutang adalah tidak dianjurkan karena tambahan denda yang harus dibayar itu merupakan kelebihan tambahan hutang yang harus dibayar, dan itu adalah riba.

Jadi, riba itu adalah, tambahan beban atau tekanan berupa bunga dari hutang sebagai hukuman karena suatu kesulitan dalam membayar hutang bagi si penghutang.

Lalu, bagaimana apabila tambahan itu dikenakan kepada penghutang yang tidak memiliki suatu kesulitan dalam melunasi hutangnya?

Pertanyaan ini sebenarnya sudah terjawab dari keterangan di atas, yaitu untuk tambahan bunga bagi mereka yang tidak kesulitan bukanlah disebut riba.

Jadi, riba adalah tambahan yang dikenakan dari suatu hutang (bukan jual-beli) oleh pemberi hutang, penghutang terpaksa menghutang karena sedang kesusahan atau menderita dan tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar kesusahan yang sedang dideritanya, dan apabila tidak ditangani dengan cara berhutang, maka penderitaannya akan berakibat lebih fatal lagi, sehingga ia terpaksa berhutang.

Akan tetapi tambahan yang dikenakan terhadap suatu hutang kepada penghutang yang tidak sedang mengalami kesulitan keuangan, maka tambahan itu atau bunga hutang bukanlah termasuk riba. Hal ini terjadi biasanya berhutang karena untuk modal tambahan untuk kegiatan usaha atau dagang yang sudah diperhitungkan bahwa modal yang dipinjam akan bermanfaat untuk usaha yang menguntungkan. Serta si penghutang sebetulnya tidak memilii keslitan keuangan untuk menunjang biaya hinya sehari-hari.

Riba itu hukumannya akan dikenakan kepada yang memberi hutang. Ini karena sudah diketahui ada orang yang sedang menderita kemudian dibantu dengan memberikan hutang dengan syarat si penghutang memberi tambahan bunga hutangnya. Ini kemungkinan ada hubungannya dengan kekikiran atau keengganan untuk memberikan suatu pertolongan tulus terhadap orang yang menderita, pada hal si pemberi hutang memiliki kemampuan untuk membantu atau menolongnya. Yang mendapatkan dosa dari suatu riba adalah subjek dari hutang piutang

TENTANG BANK

Bank adalah institusi keuangan yang beroperasinya telah mendapatkan ijin dari pemerintah. Sebelum dikeluarkannya ijin, tentu persyaratan yang ketat dalam mendirikan suatu bank baru terutama di Indonesia sudah harus dilalui, sehingga ijin yang sudah diberikan karena pendiriannya sudah dinilai layak dalam melayani publik untuk sistem keuangan di Indonesia. Ini artinya persyaratan minimum terutama kepemilikan dana yang dianggap layak untuk mendirikan suatu bank sudah memenuhi syarat.

Yang menarik untuk dibahas di sini apakah pelayanan sistem pinjam yang tentunya dengan bunga di suatu bank adalah termasuk praktek riba atau bukan?. Ini sangat penting untuk diketahui agar pendapat yang beredar ada yang pro dan ada yang kontra tentang praktek pinjaman yang disertai bunga di bank itu termasuk suatu praktek riba. 

Jelas bagi sebagian orang hal yang ada pada praktek di bank konvensional adalah praktek riba. Seorang diberi pinjaman dengan kesepakatan bunga tertentu setiap bulannya yang dimasukkan ke dalam angsuran setiap interval waktu sampai dengan hutangnya lunas. Untuk itu, dalam memecahkan persoalan ini dibentuklah bank syariah, yaitu suatu bank yang menjalankan usahanya berdasarkan prinsip syariah Islam atau hukum agama Islam.

Pada prinsipnya Bank Syariah dalam prakteknya baik deposito ataupun keredit tidak ada yang disebut bunga, karena bunga itu dianggap sebagai riba, dan haram hukumnya dalam Islam. Transaksi yang ada harus jelas dan pasti. Hal-hal yang tidak pasti tidak dijalankan dalam bank ini. 
Ada beberapa sistem dalam perjanjiannya dengan nasabah dalam bank syariah, antara lain:

  • Mudharabah, yaitu perjanjian untuk usaha yang keuntungannya dibagi sesuai dengan penjanjiannya, akan tetapi apabilah ada kerugiannya, maka itu ditanggung oleh peminjam. 
  • Musyarakah, yaitu kerjasama antara bank dan pengusaha, di mana masing-masing pihak sama-sama menanamkan modal, lalu keuntungan dan kerugian ditanggung bersama sesuai kesepakatan.
  • Murabahah, yaitu pratek jual beli, bank membeli suatu barang, lalu dijual kepada nasabah dengan keuntungan untuk bank sesuai dengan yang sudah disepakati. Kemudian nasabah membayar dengan mengangsurnya.
  • Ijarah, yaitu bank menyewakan suatu aset kepada nasabah, lalu nasabah mengelola aset yang disewa, dan nasabah memberikan pendapatan kepada bank dari hasil sewanya.

PEMINJAMAN UANG DI BANK

Ada berbagai macam skema pinjaman di bank, mulai dari pinjaman pribadi sampai dengan pinjaman perkreditan rumah atau Kredit Pemilikan Rumah. Namun pada prinsipnya bahwa, untuk meminjam uang dari suatu bank bukanlah perkara mudah. Calon nasabah dalam memiimjam sejumlah uang harus memenuhi persyaratan tentag kesehatan keuangan dari calon nasabah. Hal ini harus berupa bukti secara tertulis dan diserahkan kepada bank untuk dievaluasi demi persetujuan pinjaman yang sedang diajukan. Apabila calon nasabah dinyatakan tidak sehat pada sistem keuangannya, maka bank akan menolak pinjaman yang diajukannya. Ini berarti sama saja dengan mengatakan bahwa, apabila seseorang sedang mengalami permasalahan keuangan yang diperkirakan akan menghambat pembayaran hutangnya di kemudian hari, tentu bank akan tidak menyetujui pinjaman yang sedang diajukan, akan tetapi sebaliknya apabila dinyatakan sehat dan diperkirakan dapat membayar utang serta kehidupan sehari-harinya dianggap dapat tetap aman, maka pinjaman yang telah diajukan akan disetujui oleh bank. 

Jadi, calon peminjam uang/penghutang  di bank apabila disetujui, maka itu berarti bank telah mengetahui bahwa secara keuangan si calon peminjam tidak mempunyai permasalahan dengan keuangannya, hanya saja si peminjam membutuhkan dana tunai saat mengajukan pinjaman dan dia siap untuk membayarnya. Peminjam yang tidak mempunyai permasalahan atau sedang tidak menderita secara keuangan dalam membayar hutangnya walaupun ada tambahan dari nilai hutangnya menurut definisi di atas bukanlah termasuk riba. Jadi, usaha keuangan di bank sebenarnya sudah diatur sedemikian rupa dengan sendirinya, sehingga usaha di bank bukanlah termasuk riba. 

IPerludicatat bahwa, ketika berhutang di bank, si peminjam selalu konsisten dengan keadaan keuangannnya selama memiliki pinjaman dan pembayaran hutannya di bank. Akan tetapi ada kalanya nasabah memiliki kesulitan keuangan ketika angsuran hutannya sedang berjalan, sehingga pembayaran angsuran pinjamannya terpaksa tidak bisa dibayar tepat waktu alias ditunda. Dalam hal ini si peminjam harus mengajukan penjadwalan tentang pembayaran hutangnya. Biasanya aturan tentang penundaan ini sudah termasuk di dalam akad yang sudah saling disetuji. Dan sudah biasa dalam penjadwalan pembayaan hutang akan dikenakan biaya tambahan yang harus ditambahkan ke dalam jumlah hutangnya yang harus dbayar di akhir pembayaran hutangnya nanti. Dan di sinilah penulis menyimpulkan, bahwa tambahan biaya atau denda karena penjadwalan pembayaran hutang yang disebabkan oleh penderitaan si peminjam dengan bukti penderitaannya merupakan uang riba. Akan tetapi apabila penjadwalan itu terjadi karena kenakalan si peminjam, dalam arti sebenanya si peminjam tidak mengalami kesulitan keuangan untuk membayar angsuan hutangnya di bank, akan tetapi karena keengganannya untuk membayar, maka denda berupa tambahan itu bukanlah suatu riba.

KESIMPULAN

Secara umum riba itu merupakan tambahan dari hutang uang (bukan jual beli) dengan catatan bahwa tambahan itu dikenakan kepada penghutang yang terpaksa berhutang karena sedang membutuhkan uang untukmengatasi penderitaan yang sedanag dialaminya

Peminjaman uang, bukan jual beli  di bank dengan pembayaran melebihi jumlah pokok hutang bukanlah termasuk riba, karena ketika mengajukan hutang pihak bank sudah mengetahui bahwa calon peminjam memiliki kemapuan dari segi keuangan baik untuk membayar pinjaman serta membiayai hidupya sehar-hari. Tetapi denda akibat penjadwalan pembayaran angsuan hutang yang disebabkan oleh keterpaksaan karena sedang sungguh-sungguh menderita dalam keuangannya merupakan riba. 

Namun untuk jual beli baik itu dengan mengunakan bank atau tidak, bukanlah termasuk riba berapapun keuntungan atau kelebihan yang harus dibayar oleh si pembeli dari harga pokok yang telah disepakatinya.

END




Sunday, March 15, 2026

CERITA DAN GOSIP PRIA DAN WANITA

UMUM

Siapa sebenarnya yang lebih kuat apabila dibandingkan, pria ataukah wanita?.

Pertanyaan di atas akan mudah dijawab apabila ditinjau dari segi kekuatan fisiknya.  Namun apabila dtinjau dari kekuatan lainnya seperti non-fisik misalnya;  psikologis, seksualitas, asupan makan dan/atau minum ataupun dari segi lainnya, mungkin akan lain jawabannya. Banyak bukti mengatakan bahwa kekuatan non-fisik wanita lebih baik dibandingkan dengan pria, namun terkadang pria juga lebih baik dibanding dengan wanita. Kekuatan (baca ketahanan) seksualitas pria lebih baik (baca lama) dibandinngkan  dengan wanita, namun terkadang kekuatan seksualitas wanita lebih baik daripada pria.

Penulis ingin mengupas tentang pria danwanita ini bukan dari kekuatan fisik mereka, karena ini sudah jelas sekali. Akan tetapi yang lebih menarik adalah mengupasnya dari sisi yang lain lagi.

CERITA GOSIP PERTAMA

Istri barunya terpaut hampir setengah dari umur lelaki itu. Suatu saat sebelum dia kawin dengan istri barunya dia bertemu dengan seorang lelaki yang memiliki hobi bercanda atau bergurau. Lelaki penggurau ini melakukan kunjungan ke rumah bapak yang sedang berduka karena istri dari bapak yang menurutnya setahun lagi akan pensiun dari kerjanya itu baru saja wafat. Kunjungan di rumah duka ditemui oleh bapak sebagai suami Almarhumah. Almarhumah meninggal di rumah dan saat ini masih dibawa ke Rumah Sakit untuk urusan prosedur kematian di suatu kota bukan di Indonesia tempat ia bekerja.
 
Waktu itu, di kota itu apabila ada orang yang meninggal dunia di rumah, tidak seperti di Indonesia langsung lapor RT/RW untuk mendapatkan surat kematian dengan stempel Lurah dan Camat sebelum dikuburkan, Di kota itu mayat harus dibawa ke rumah sakit (RS) untuk penyelidikan demi kepentingan penegak hukum dalam mengeluarkan Sertifikat Kematian. Sertifikat akan dikeluarkan setelah semua penyebab kematian seseorang selesai diperiksa oleh tim medis RS dengan dikeluarkannya berkas dari RS dengan format yang sudah baku. Tentu lelaki yang sedang berduka itu tidak dapat membendung air matanya ketika menerangkan kepada setiap para tamu ketika sedang berkunjung untuk menawarkan duka dan belasungkawa di rumah duka.

Tamu lelaki yang suka brrgurau itu tentunya juga ikut merasa sedih pula membayangkan istri tercintanya wafat. Namun perasaan itu hilang bagai diterpa angin kuat bersamaan keluarnya rasa heran melihat suami Almarhumah menangis sanbil berkata kepada para tamunya, "uhuuk-uhuk.., istri saya meninggal, istri saya meninggal.." Dia jadi teringat pada sesuatu kejadian hal yang hampi sama ketika dulu dia belum merantau.

CERITA GOSIP KEDUA

Ada perasaan yang mengganjal di dalam pikiran lelaki penggurau. Melihat kondisi Almarhumah yang telah menderita penyakit pernapasan menahun merupakan masalah tersendiri bagi suaminya. Dia jadi teringat tetangga di kampung halamannya di Indonesia ketika istrinya meninggal dunia karena penyakit batuk yang menahun, dan penyakit itu merupakan salah satu penyebab utama sang istri harus meninggalkan dunia fana ini. Tangisan suami yang berduka yang ditunjukkan kepada hampir setiap tamu yang datang adalah seperti menyatakan betapa sedihnya dia ditinggal wafat istrinya. Namun tangisan sedih itu akhirnya menjadi omongan banyak orang setelah beberapa minggu kemudian. Sebabnya sepele sekali, dia keburu kawin lagi sebelum empatpuluh hari terlewati dari hari kematian istrinya yang lama menderita batuk. Sampai-sampai para tetangga yang usil itu ada yang menirukan tangisannya dengan mengganti kalimatnya menjadi, "uhuk-uhuk.., syukurlah istriku cepat meninggal, dengan demikian aku bisa kawin lagi...", haha...

Cerita itu yang kemudian diceritakan oleh lelaki penggurau kepada teman dekatnya ketika keluar dari rumah duka si pria yang baru saja berduka karena istrinya wafat dan sudah lama menderita penyakit pernafasan. Tentu rekan-rekan lelaki penggurau itu jadi tertawa kecil ketika mendengarnya.

Lain orang tentu lain pula karakternya. Lain  keluarga tentu lain pula kelumit permasalahan yang didapatkannya. Menjeneralisasi terhadap yang lain adalah tidak menjunjung etika kemanusiaan. Paling tidak, begitulah kedengarannya. Untuk itu, tetaplah berprasangka apa adanya, syukur apabila prasangka itu adalah prasangka baik.

Sebulan lamanya sudah berlalu sejak kematian istri temannya sampai lelaki penggurau itu bertemu dengan rekan kerja pria yang berduka sejak sebulan lalu itu. Tentu tidak salah apabila apa yang diutarakan bahwa pria yang sebulan lalu ditinggal istrinya meninggal dunia itu ternyata menurutnya sudah kawin lagi, itu dianggap merupakan suatu candaan belaka. Apalagi khabar yang disampaikaannya diungkapkan sambil tersenyum lebar mendekati tertawa...

Ternyata benar adanya..,  ketika si lelaki penggurau itu bertemu dengan lelaki yang lebih dari sebulan lamanya telah ditinggal istrinya wafat karena gangguan pernapasan di suatu kesempatan lain bercerita bahwa, dia masih bisa bercinta dengan istri barunya sebanyak lima kali dalam satu hari...,  "huebat", guman si lelaki penggurau menjawab pernyataan lelaki yang tampak lebih tua dari usianya itu. Iapun mengungkapkan rahasianya tidak perlu mengasup jamu ataupun obat-obatan, semuanya alami saja. Tetapi, lelaki penggurau itu memakluminya, itu mungkin karena sudah lama bercinta seperti itu baru kesampaian dengan leluasa dengan istri barunya yang jauh lebih muda saat ini.

Usia seorang rekan lelaki yang baru kawin lagi itu sudah lebih dari setengah abad walaupun belum sampai pada usia enampuluh tahun, ternyata segera kawin lagi dua minggu setelah istrinya meninggal dunia (semoga Almarhumah akan selalu mendapatkan rahmat-Nya). Ini jauh lebih cepat dari cerita pada gosip pertama di atas tenang tetangga pria penggurau. Setelah dua minggu ditinggal istrinya wafat! lalu kawin lagi setelahnya?. Luar biasa!

CERITA GOSIP KETIGA

Dan lain halnya dengan cerita berikut ini. Suatu ketika di tahun 1990an atau sekitar tahun 1995 sampai dengan 1997, dua lelaki berteman di perantauan suatu kota di luar Indnesia. Seorang membawa keluarga (anak dan/atau isteri atau suami) dan yang satunya merantau sendirian sedangkan isteri atau suami dan/atau anaknya karena suatu keadaan, maka tetap tinggal di Indonesia. Orang-orang menyebut kondisi demikian sebagai seorang "bujang lokal", maksudnya bujang ketika di perantauan saja, karena di Indonesia memiliki keluarga, isteri atau suami dan/atau anak.

Tidak mengherankan bagi si bujang lokal (maaf bukan untuk semua bujang lokal), mencari teman wanita/pria bujang (benar atau lokal) ketika di perantauan. Yang mengherankan mendengarkan cerita seorang pria bujang lokal seperti berikut ini. 

Ia mencari teman wanita lain di perantauan dengan alasan bahwa ketika berkumpul dengan keluarganya di kampungnya di Tanah Air sana, si pria mengaku bahwa dia melakukan hubungan suami-isteri dengan istr sahnya hanya sebulan sekali, padahal usia lelaki bujang lokal yang satu ini sekitar tigapuluhan tahun, usia paling tua apabila dilihat dari penampilan raut wajahnya adalah tigapuluh dua tahun. Suatu cerita seperti mengada-ada saja. Apakah mungkin cerita itu untuk membenarkan apa yang sedang dilakukannya di perantauan?. Hanya dia yang mengetahuinya. Begitulah tuduhan dalam hati temannya karena ceriteranya seperti tidak masuk akal. Terkecuali isterinya memiliki gangguan yang dapat menghalangi dalam melakukan hubungan suami isteri lebih intens. Pendek cerita, setelah kembali ke Indonesia tidak lagi merantau, seorang teman tetangga si pria itu bercerita bahwa, ternyata teman wanita di perantauan waktu itu telah dinikahinya tidak lama setelah sama-sama sampai di Indonesia, dan dengan isteri sah yang pernah ditinggal merantau, ia cerai. 

Ini adalah suatu cerita tragis sebagai suatu rumahtangga, merantau salah satu tujuan utamanya adalah demi untuk mencarikan nafkah utamanya untuk anak dan isteri, baca keluarga yang ditinggal di Indonesia. Akan tetapi dikarenakan suatu ulah yang menyebabkan berantakan keluarga yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya untuk masadepan mereka?. merupakan sesuatu hal sangat-angat tragis.

BIOLOGIS PRIA  DAN WANITA

Penilaian tentang kekuatan pria dan wanita pada  tulisan ini bukan dimaksudkan untuk membuat penilaian ketika belum menikah, tulisan ini ditujukan untuk pria dan wanita yang sudah menikah. 

Menurut penyusuran yang diambil dari mesin pencari Google bahwa, kesimpulannya, tidak ada satu gender yang mutlak lebih tahan dalam hal seksual karena sebetulnya yang lebih dominan adalah perbedaan kondisi (psikologis) individu. Anggapan bahwa pria selalu lebih bernafsu adalah mitos saja. Tentang hasrat seksualitas, wanita sama besarnya dengan pria, bahkan terkadang wanita lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasrat seksualitas pria, hanya saja sering terhambat oleh faktor sosial dan atau usia. Wanita sering merasakan peningkatan hasrat seksualitasnya lebih tinggi manakala sudah mendekati atau saat terjadinya menstruasi. Ketahanan atau durasi saat berhubungan tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan usia, kondisi fisik, kesehatan emosional (stres), dan suatu hormon. Dan wanita memiliki sistem imun yang lebih kuat dan kromosom cadangan, sehingga lebih tahan penyakit dibandingkan dengan pria.

Karena hambatan faktor sosial dan atau umur, maka wanita lebih kuat dalam menahan hasrat seksualitasnya. Sehingga seakan-akan bahwa hasrat seksualitas wanita lebih rendah jika dibandingkan dengan hasrat seksualitas pria, padahal menurut penelitian mereka memiliki kekuatan hasrat seksualitas yang sama.

USIA SENJA

Di indonesia, usia senja secara umum dimulai pada usia 60 tahun ke atas. Kebanyakan wanita memiliki kecenderungan mengalami tanda penuaan fisik lebih cepat dibandingkan dengan pria, yaitu pada usia antara 45-55 tahun, hal ini akibat dari menopause, sementara pria memasuki fase penuaan (andropause) dan penurunan fisik yang terlihat jelas pada usia 50 tahun ke atas. Perlu dicatat bahwa penuaan bukan berarti lansia, ini apabila dilihat dari usia, karena disebut lansia apabila uia sudah mencapai 60 tahun. Kekuatan fisik ketika penuaan umumnya mengalami penurunan sekitar 1–2% per tahun setelah usia 40 tahun. Sehingga ketika memasuki usia lansia penurunan kekuatan fisiknya mengalami penurunan rata-rata sebesar 20 sampai dengan 40%

Usia senja atau yang disebut lanjut usia lansia, artinya suatu usia sudah memiliki kekuatan raga yang turun umumnya lebih dari 20 persen. Ciri dari usia ini apabila fisik sudah tidak dapat lagi diandalkan untuk melakukan aktifitas berat. Hal ini apakah karena kondisi kekuatan fisiknya sudah turun sekali ataupun karena adanya rasa sakit pada otot-otot motoriknya apabila diberi beban yang seharusnya dapat dikerjakan pada usia normal. 

Penurunan kondisi kekuatan fisik bukan berarti lansia. Penurunan ini biasanya dimulai dari usia rata-rata pada sekitar usia 40 tahun. Penurunan ini akan semakin besar dengan bertambahnya usia. Dan penurunan ini akan semakin  bertambah besar apabila kegiatan fisik seseorang kurang dari yang diperlukan. Untuk itu dianjurkan agar kondisi penurunan fisik dapat diperlambat, maka jangan membiarkan tubuh atau fisik untuk tidak beraktifitas, lakukan kegiatan aktifitas fisik sesuai dengan kemampuan dengan memperhatikan faktor-faktor yang dapat membahayakan kesehatannya. Tetapi, untuk kegiatan aktifitas fisik usahakan dilakukan secara rutin. Tetapi ada hal yang lebih penting lagi, yaitu asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi juga harus makanan dan/atau minuman yang bernutrisi yang diperlukan oleh tubuh di dalam menjaga kesegarannya.

Lain halnya dengan penuaan, penuaan bukan hanya penurunan kekuatan fisik, tetapi juga diikuti oleh perubahan penampakan dari kondisi fisik yang tadinya terlihat masih kencang lambat laun akan menjadi semakin kendor bahkan keriput. Yang tadinya terlihat tegap, lambat lau menjadi semakin membungkuk.

Ketika menopause mulai teradi pada wanita, hal ini akan mempersulit dalam melakukan hubungan biologis, baik wanita ataupun pria sama-sama akan mengalami kesulitan. Di sinilah biasanya pria mulai mencari pasangan lain yang belum mengalami menopause. Sedangkan wanita tidak akan mencari pasangan lain, toh siapapun pasangannya itu tidak akan merubah dirinya untuk menghilngkan kondisi menopause yang ada padanya. Sehingga, dari sini dapat disimpulkan bahwa, wanita lebih cepat mearsa kesulitan ketika menopause datang dibandingkan dengan pria yang suah memasuki usia andropause. Ini karena, untuk kegiatan seksual agar menjadi dapat lebih dinikmati membutuhkan kondisi wanita yang belum mengalami menopause, sedangkan pada pria kondisi andropause bukan merupakan halangan untuk melakukan kegiatan seksual yang masih bisa dinikmati. 

Datangnya menopause atapun andropause dapat diperlambat dengan gaya hidup sehat, memperbaiki asupan makan dan minum yang bergizi cukup, sehingga nutrisi yang diperlukan tubuh dapat dicukupi, dapat mengendalikan ketegagan/stres dengan baik, tidak merokok. Serta diikuti dengan kegiatan fisik yang cukup pula dan menjaga berat badan yang ideal. 

TENTANG EMOSIONAL

Tingkatan emosional wanita dan pria memiliki tingkatan yang sama, akan tetapi wanita biasanya lebih mudah mengeluarkan emosionalnya secara terbuka apabila dibandingkan dengan pria. Dengan demikian seolah-olah pria lebih dapat mengendalikan emosionalnya. Hal ini menrut ahlinya karena cara memproses dan menyampaikan dalam bentuk ekspresi emosional mereka yang berbeda. Wanita lebih terbuka dalam mengekspresikan emosionalnya, sementara pria dikarenakan merasa berwibawa serta dibatasi oleh norma-norma sosial lebih menyembunyikan emosionalnya. Akan tetapi menurut peneitian bahkan pria lebih sering memiliki reaksi emosional psikologis yang lebih kuat.

Berikut adalah poin-poin penting yang diambil dari Google mengenai perbedaan emosi pria dan wanita:
  • Pria Lebih Terpendam, Wanita Lebih Ekspresif: Pria sering dididik untuk tidak menangis atau terlihat lemah, sehingga emosi mereka terlihat lebih sedikit, padahal secara internal bisa jadi lebih intens. Wanita cenderung lebih vokal dan melibatkan perasaan dalam mengambil keputusan.
  • Perbedaan Biologis: Wanita memiliki corpus callosum (penghubung otak) yang lebih tebal, membuat emosi memancar ke seluruh bagian otak, sehingga mereka lebih mampu melakukan banyak hal (multitasking) saat emosi. Sementara itu, emosi pada pria cenderung lebih terlokalisasi di otak kanan, seringkali memicu respon "lawan atau tinggalkan" melalui amyglada yang lebih aktif.
  • Perbedaan Pemicu: Wanita lebih sensitif terhadap perubahan emosi orang lain dan situasi interpersonal. Sebaliknya, pria lebih cepat stres jika kemerdekaan atau otoritasnya terganggu.
  • Fluktuasi Emosi Sama: Penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dalam tingkat fluktuasi emosi antara pria dan wanita secara keseluruhan.

Kesimpulannya, tidak ada satu gender yang "lebih besar" emosinya secara mutlak. Perbedaan terletak pada ekspresi (luaran) dibandingkan intensitas

END

Saturday, March 14, 2026

PASRAH DAN IKHLAS, APA BEDANYA?

 UMUM

Tentu antara "pasrah" dan "ikhlas" itu merupakan dua kata yang memiliki arti yang berbeda. Terkadang untuk memaknai perbedaan mereka itu bukanlah hal yang mudah. Untuk memperjelas arti ataupun makna dari kedua kata itu, penulis mencoba untuk mencari difinisi mereka, sehingga dalam penggunaan dalam ucapan ataupun untuk mempraktekannya lebih menjadi terarah. Penulis akan mencoba untuk menjelaskan sesederhana mungkin dan sependek mungin dengan mengambil contoh hal-hal yang selalu atau biasa dilakukan kita di setiap harinya.

PASRAH

Menurut yang terdapat beredar sesuai dengan difinisi dari mesin pencari Google; Pasrah adalah sikap mental berserah diri secara total kepada Tuhan atas hasil akhir setelah melakukan usaha secara maksimal (tawakal). Ini bukan tanda menyerah atau berdiam diri tanpa tindakan, melainkan mengakui keterbatasan manusia dan menerima hasil dengan lapang dada serta ikhlas. Pasrah adalah bentuk keberanian dan keyakinan pada rencana Tuhan. 

Penulis sedikit ingin menambahkan bahwa, pasrah itu bukan hanya kepada Tuhan saja, tetapi bisa jadi kepada seseorang, lingkungan dan lain sebagainya. Misalnya ketika sedang mendiskusikan sesuatu dengan orang lain, misalnya antar anggota keluarga, lalu tidak ada titik temu, karena tidak ingin berkepanjangan, maka tunduk terhadap pendapat yang lain, ini juga dikatakan pasrah. Juga ketika terjadi misalnya hujan besar dan harus keluar rumah karena harus mengikuti sholat berjamaah di masjid. Maka memutuskan untuk sholat di rumah merupakan suatu bentuk penyerahan diri karena hujan. Ini juga termasuk pasrah.

Secara logat pasrah adalah menyerah (menyerahkan), yang artinya menyerahkan diri seseorang secara menyeluruh terhadap suatu keadaan karena ketidakberdayaannya dalam menghadapi atau memecahkan sesuatu. Karena meyerahkan diri atau pasrah, maka yang ada adalah, dalam melakukan penyerahan diri seolah-olah membiarkan dirinya untuk dikendalikan yang dipasrahi. Ini artinya, semua kemampuan, baik jiwa dan raganya dibiarkan untuk dikendalikan oleh yang dipasrahi. 

Satu contoh sederhana misalnya ketika melakukan sholat. Sejak awal sudah harus pasrah, dalam keadaan ini jiwa dan pikiran harus melupakan segala yang ada di belakang, raga harus menyisakan tenaga sedikit mungkin hanya untuk bertahan berdiri serta melakukan pergerakan yang diperlukan dalam ibadah sholat, tidak lagi tetap membiarkan raga bertenaga, sehingga biar kelihatan gagah misalnya. Gerakannyapun harus seperti orang tidak bertenaga, sepelan mungkin layaknya orang bergerak tanpa tenaga, tidak dengan kecepatan seperti mengerahkan tenaga lebih. Ini perlu diperhatikan ketika melakukan sholat, lupakan segalanya dan fokuskan terhadap sholat yang sedang dilakukan, lalu lepaskan atau minimumkan semua tenaga raganya dan sisakan hanya untuk melakukan gerakan sholat baik sedang berdiri ataupun sedang duduk.

Jadi pasrah itu berhubungan dengan diri sendiri, bukan sesuatu yang ada di luar dari diri seseorang. Pakaian yang melekat dipakai bukan termasuk ikhlas.

IKHLAS

Menurut mesin pencarian dari internet (Google), secara bahasa, ikhlas bermakna bersih, murni, atau tidak tercampur, layaknya air jernih atau emas tulen. Ini adalah kunci diterimanya amal dalam Islam. Ikhlas berarti memurnikan niat beribadah dan dan beramal hanya untuk mengharap ridha Allah SWT, tanpa mengharapkan pujian, atau imbalan dari manusia.

Menurut penulis adalah, ikhlas itu adalah rasa kerelaan terhadap lepasnya sesuatu yang berhubungan dengan sesuatu yang (sudah) ada di luar badaniah. Ini juga termasuk hal yang tadinya sebgai satu kesatuan dari badaniah lalulepas dari induk badaniahnya. Ini berarti menyerahkan sesuatu baik sebagian ataupun semua yang (sudah) berada di luar diri badaniah seseorang. Hal ini bisa berupa barang, hasil karya, pemikiran, bagian badaniah yang tadinya menyatu dengan badaniah,  dan lain sebagainya. Setelah memasrahkan sesuatu, maka si empunya harus melupakan dari memikirkannya. Biarlah yang dipasrahkan itu terkelola tanpa ada pengaruh dari pemilik lama.

Cntoh sederhana dari ikhlas adalah, ketika memberikan suatu sedekah kepada yang membutuhkan, setelah sedekah diberikan kepada yang menerima, maka sedekah itu harus dilupakan, itu sudah menjadi hak dari si penerima sedekah. Untuk itu pastikan sebelum memberi sedekah mengukurnya, sehingga setelah sedekah itu berpindah tangan tidak ada rasa berat sedikitpun terhadap sedekah yan diberikan.  Jangan sampai kelak menjadi cerita bahwa pernah memberikan sedekah terhadap si Fulan. Seperti ketika seseorang sedang ingin membuang air kecil, begitu air seni sudah keluar dari badan, dia tentu akan merasakan suatu kepuasan dan akan melupakan setelah itu terpisah dari badaniahnya. 

Karena ikhlas itu berhubunga dengan rasa kerelaan, maka untuk dapat mencapai rasa demikian adalah tidak mudah. Bisa jadi membutuhkan kebiasaan yan dibarengi dengan wawasan atau pengetahuan yang cukup dalam.

KESIMPULAN

Dari uraian di atas diharapkan bahwa dalam pengimplementasian tentang kedua kata di atas. Mungkin tentang definisi dari dua kata itu memang mudah untuk dimengerti, tetapi secara praktikal bisa jadi kurang dapat dipahami. Dengan adanya tulisan ini diharapkan semuanya akan menjadi lebih mudah.

END.