AWAL
Seperti baru kemaren saja tahun 2010 itu, ketika aku mengantar putriku masuk universitas, University of Washington (UW), Seattle Amerika Serikat. Dinginnya suhu kota Seattle masih aku rasakan sampai saat ini. Lorong dan taman plaza UW juga masih segar di ingatanku. Banyak orang duduk-duduk di taman ketika kuliah sudah dimulai kembali setelah libur panjang di musim panas. Dan sampai pukul 11 malam aku lihat masih ada kegiatan di dalam kelas.
Sekarang sudah tahun 2014 dan pada pertengahan tahun ini, putriku rencananya akan diwisuda. Jika itu berjalan lancar, maka aku akan sudah memiliki seorang anak berpredikat Sarjana. Dan tentu sebagai orang tua melihat anaknya berhasil selamat menempuh kuliahnya, apalagi dapat tepat waktu, tidak sekalipun dan dapat selesai sampai diwisuda, merupakan pencapaian baik tersendiri, apapun hasilnya. Tentunya hanya kalimat syukur kepada Tuhan yang bisa memberikan harga pencapaian ini.
Ketika aku pandangi fotonya ketika dia masih kanak-kanak, aku semakin merasakan bahwa dalam menempuh usia sampai 21 tahun terasa seperti baru saja. Entah perasaan ini timbul dikarenakan aku kurang dalam memberikan sesuatu yang lebih berarti kepada putriku, atau memang kenyataannya memang 21 tahun itu adalah waktu yang pendek untuk merawat seorang anak. Bagaimanapun semua itu, yang paling aku syukuri adalah, bahwa sampai saat ini putri, putra dan istriku diberi keselamatan.
Istriku sudah disibukkan dengan rencana menghadiri wisuda putriku walaupun waktu itu masih di bulan awal tahun 2014 ini. Hotel, tiket dan ke mana setelah menhadiri wisuda sudah ia rencanakan. Istriku sudah memesan tiket sejak akhir Februari lalu, demikian juga hotelnya. Aku sendiri belum memesan tiket, karena aku harus menyesuaikan dengan rencana cutiku yang masih belum aku ajukan. Aku belum memastikan waktu dalam menghadiri wisuda putriku. Selain itu, aku masih memiliki kesulitan keuangan akibat salah hitung tentang
cash flow keuangan di tahun lalu. Tetapi, bagaimanapun aku harus mengusahakan untuk menghadiri wisuda putriku, karena peristiwa wisuda sarjana hanya ada sekali dalam hidupnya, kehadiran orang tuanya akan memiliki arti penting bagi seorang anak yang sedang meraih keberhasilan. Ini mungkin suatu penghargaan bagi mereka yan sedang diwisuda, kehadiran orang tua merupakan hadiah yang sangat besar bagi mereka.
CUTI
Seminggu lagi cutiku akan dimulai. Pekerjaan di kantor aku rasa masih banyak jika dibandingkan dengan sisa waktu sebelum aku cuti. Tetapi aku tidak khawatir, aku harus berkomitmen, bahwa semuanya akan aku atasi dan selesaikan. Tidak ada kata yang harus aku tawarkan.
Sholat subuh akan dimulai sekitar pukul 4:40 am. Alarem di HPku aku set pukul 4:25. Deringan pertama aku terperanjat. Hari ini adalah hari Minggu. Semalam aku tidur agak terlambat, mungkin karena hari ini aku libur kerja. Istriku tidak terbangun dengan bunyi alarem dari HPku yang secepatnya aku raih untuk aku sunyikan kembali bunyi jeritannya. Aku bergegas berjalan menuju kamar mandi. Ruangan remang-remang membuatku berjalan berhati-hati. Hanya satu lampu menyala ketika aku tekan tombol dari lima lampu dalam kamar madiku. Aku tau bahwa, lampu-lampu di kamar mandiku memang ada masalah, dan sudah aku laporkan kepada pihak pengembang untuk diperbaiki atas nama
warranty. Aku raih sikat gigiku dari dalam gelas plasitk di depan cermin besar dekat
washtafel setelah aku buang air kecil. Air dingin dari pipa keran menjadi hangat setelah aku selesai membersihkan gigiku. Air yang cukup nyaman untuk aku pakai membersihkan mukaku ketika berwudhu di pagi buta. Di sini, adalah sesuatu yang biasa bukan hanya buat aku, untuk tidak mandi di pagi hari karena tadi malam sebelum tidur sudah melakukan mandi. Suhu ruang dan lingkungan udara bersih memungkinkan tubuh tetap bertahan bersih tanpa berkeringat.
Aku matikan kembali lampu kamar mandiku ketika aku keluar dari kamar mandi dan telah selesai berwudu untuk sholat Fajar, dan kamar tidur menjadi remang-remang kembali. Aku coba meraba celana dan kaosku dari gantungan baju yang telah aku gantung sejak tadi malam. Lalu aku raih untuk aku pakai di dalam kamar tidurku. Aku bergerak sehalus mungkin bagaikan seekor kucing yang sedang mengintai buruannya agar istriku tidak terganggu dari tidurnya. Sebelum aku keluar rumah menuju Masjid, aku pakai topi putih agar cawut-mawut rambut cepakku dapat aku sembunyikan.
Lorong koridor menuju
lift sunyi sekali. Lampu neon cukup terang ketika menyala semua, tidak seperti di siang hari yang menyala hanya separuh saja. Terkadang aku membayangkan hal yang menakutkan ketika aku berjalan di lorong yang sepi, bukan takut pada dedemit, walaupun sebenarnya tidak akan ada apa-apa. Tetapi trauma dari cerita orang-orang kampung dulu ketika aku masih kecil membuat aku selalu membayangkannya.
Di luar gedung apartemenku lebih redup walaupun lampu jalan di balik lapangan parkir menyala lebih terang dari lampu-lampu jalan-jalan kota asalku Surabaya, lampu-lampunya menyala berwarna keemasan semuanya. Aku terkadang dihantui oleh kekhawatiran ketika melintasi jalan sepi tentang kemungkinan adanya serangan anjing liar yang lepas dari tuannya. Aku seperti mengawasi sekelilingku ketika aku injakkan kakiku menuruni tangga kecil untuk keluar menyusuri pelataran parkir dari adanya anjing liar. Walaupun aku belum pernah menemukannya tetapi trauma dari video kiriman temanku di Facebook yang pernah aku lihat, membuat perasaanku menjadi waspada dan berjalan ragu-ragu.
Angka jam dinding di dalam masjid menunjukkan 3 menit sisa waktu sebelum iqamah shalat Subuh dimulai, itulah waktu ketika aku memasuki masjid depan apartemen dengan karpet berwarnan merah darah, angka yang sering aku lihat ketika aku masuk masjid. Dalam 3 menit aku bisa melakukan dua macam shalat sunnah, tahiyyautul masjid dan shalat sunnah sebelum shalat Subuh. Sebelum shalat sunnah keduaku selesai, imam mulai membacakan iqamah shalat. Semua orang sudah berdiri rapat dan imam sudah membacakan takbir ketika aku menyelesaikan shalat sunnahku yang kedua. Di sini ada reda waktu antara adan Subuh dan pembacaan iqamah selama sekitar 20 menitan. Dan dapat terlihat di jam dinding dijital yang berjalan mundur setiap detik dari angka 20 menit ke angka 0 menit. Jadi, semua orang sudah tau tentang jam iqamah setiap shalat. Untuk shalat-shalat yang lain seperi Duhur, Asyar, Maghrib dan Ishak memiliki durasi menunggu yang berbeda-beda. Shalat Maghrib jeda waktunya yang paling pendek, dan shalat Subuh yang terpanjang. Ini adalah standar yang diatur oleh otoritas agama di sini.
Ayat-ayat panjang yang sedang dibacakan oleh imam ketika shalat Subuh, membuat suasana semakin hening saja. Untuk shalat-shalat lainnya biasanya tidak sepanjang ayat-ayat shalat Subuh. Ini mungkin karena shalat Subuh memiliki rakaat yang paling sedikit, hanya dua rakaat saja.
Di luar masjid masih saja sepi ketika aku keluar dari selesai shalat Subuh. Aku masih saja khawatir dari adanya anjing tak bertuan di jalan yang aku lalui menuju gedung apartemenku yang berjarak sekitar 60 meteran itu. Setelah aku pijit tombol pin nomor pintu utama apartemen, kunci pintu utama terbuka sendiri. Dengan perlahan aku buka pintu flatku dengan kunci agar istriku tidak terbangun dari tidurnya. Aku tutup pintu kamar tidur agar lampu kamar tamu ketika aku nyalakan tidak masuk kamar dan mengganggu kepulasan dari tidur istriku. Aku nyalakan satu dari tiga lampu kamar tamuku, lalu aku hampiri juga laptop ku yang masih terbuka setelah aku matikan semalam untuk aku tekan tombol aliran listriknya. Berita dari Detik.com dan Kompas.com adalah langgananku untuk aku baca sebelum memulai membaca yang lain melaui laptop yang terhubung dengan internet di pagi hari. Apalagi sebentar lagi akan ada Pemilu Legislatif, selalu ada berita yang dibikin menarik untuk aku baca. Setelah membaca berita lalu aku mempersiapkan masakan makan pagiku, lalu tidak lupa setelahnya membuat makan siang untuk aku bawa ke kantor.
Di kantor aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku yang dipesan oleh atasanku dari sejak beberapa hari yang lalu agar bisa diselesaikan hari ini. Ini menyita waktuku sampai aku harus pulang satu jam lebih lambat dari seharusnya.
Kantor sudah tidak melihat orang lain kecuali aku, sekarang terasa sepi sekali, akhir pekan semua orang sudah pulang sesuai jadwal mereka. Aku tinggal sendirian tetapi aku puas karena pekerjaanku sudah aku kirim melalui email setelah aku selesaikan. Lampu kantor bagianku untuk aku matikan dan lorong menuju ke
finger print recorder agak redup. Lampu di kantor bagian Administrasi masih menyala, aku lihat sekertaris CEO masih sibuk dengan monitor komputernya. Ternyata masih ada orang lain selain aku di dalam kantorku. Aku ucapkan selamat berakhir pekan sebelum aku keluar kantorku.
Jalan menuju rumah aku rasa seperti macet saja. Mobilku seperti berjalan lambat pula. Padahal uang Dollar untuk uang sakuku dan pesanan istriku sudah aku tukarkan di Musrif Mall kemarin sore. Juga rambutku sudah dipotong kemarin sore pula di Khalifa City. Mungkin aku terbawa rasa trauma kemacetan pukul 6 sore saja, sehingga perjalanan lebih terasa lebih pelan.
Besok pagi dini hari meupakan jadwal terbang aku ke Seattle, sdangkan istriku sudah terbang dulluan bebeapa hari lalu. Sampai di rumah sepulang dari kantor aku masih harus memastikan semua barang-barang dan dokumenku sudah siap semua.
Boarding pass yang aku dapa dari check in secara
online sudah aku jadikan satu dengan passportku di dalam tas gendong belakangku. Aku masih harus mengambil binatu pakaianku di Khalifa City, sekalian aku akan melakukan shalat Maghrib di masjid darurat belakang deretan toko-toko di sana pula. Jarak dari rumahku di Al Reef Down Town ke Khalifah City sekitar 20 menitan dengan mobil, atau sekitar 12 Kilometeran. Secepatnya aku berganti pakaianku, aku yakin aku masih bisa shalat berjemaah di sana. Banyak orang sudah mulai keluar masjid ketika aku tiba. Masjid darurat dari karavan di tengah lapangan padang pasir ini sulit aku tempuh dengan mobilku. Aku sengaja menjalankan mobilku secara perlahan-lahan agar tidak terlalu terasa hentakan akibat jalan tanpa aspal yang tidak rata. Aku ikut berjamaah di teras masjid yang diimami oleh imam dari orang yang terlambat shalat berjemaah pada waktunya tadi. Setelah selesai lalu aku ke tempat binatu untuk mengambil pakaianku yang aku setrikakan sejak tiga hari yang lalu.
Di rumah sudah tidak ada makanan. Makan malam hari ini sekalian aku lakukan di Restoran Cones, Khalifa City. Ayam panggang dan nasi briyani aku pesan dari susunan menu yang disajikan oleh pelayan restoran. Menunya sungguh kebanyakan. Aku makan sampai aku merasa kekenyangan. Aku sebenarnya ingin berhenti makan ketika aku sudah merasa kenyang, tetapi melihat sisa makanan jika aku hentikan, menjadikan aku terus saja memakannya. Aku terpaksa berhenti makan walaupun masih ada sisa makanan karena aku sudah tidak ingin lagi mengisi perutku yang aku rasa sudah kepenuhan. Setelah aku bayar tagihan penjaga makanan sebesar 13 Dirham termasuk air mineral setengah liter, aku secepatnya keluar restoran menuju ke rumahku.
Aku dengar ada suara SMS di HP-ku, Putriku mengirim pesan elektronik dari Seattle mengingatkan aku bahwa aku harus bersiap-siap untuk perjalanan hari ini. Dia, putraku dan ibunya sedang berada di Seattle menungguku untuk menghadiri perayaan wisuda putriku..
Aku akan melewati gedung Etihad Plaza ketika pulang dari Khalifa City. Di sana aku akan menukar uang Dirham milik istriku menjadi Dollar Amerika. Jalan cukup sepi, sehingga aku bebas mengatur kecepatan kendaraanku. Aku tau bahwa batas kecepatan kendaraan maksimum adalah 80 kM/jam, sehingga aku tetap wapada agar mobilku tidak melebihi 80 kM/jam, walaupun tidak ada radar yang mengawasinya. Hanya butuh waktu sekitar 7 menit aku sudah sampai di area parkir depan gedung Etihad Plaza.
Aku lupa-lupa ingat tentang tempat penukaran uang di Etihad Plasa. Setahun yang lalu aku pernah menukar uang di situ. Aku parkir di tempat parkir remang-remang dekat pintu utama komplek gedung itu. Setelah keluar mobil aku langsung menuju papan besar depan pintu masuk berisi daftar nama toko dan perusahaan yang berkantor di komplek Etihad Plaza. Ketika aku lihat nama UAE Exchange aku jadi teringat kira-kira letak kantornya. Aku langsung melongok ke arah kanan sambil berjalan menuju ke tempat dari mana sinar warna-warni dari logo depan kantor yang aku yakini adalah kantor UAE Exchange. Dugaanku benar dan aku langsung masuk ke dalamnya.
Antrian orang-orang tidak banyak, dari empat konter yang ada hanya tiga yang melayani pelanggan. Aku langsung mengantri sesuai petunjuk satpam berseragam putih-biru berdiri dekat konter terakhir menghadap ke arah pintu masuk. Dengan harga 3,65 Dirham per Dollar aku tukar uang 5000 Dirhamku. Aku pulang karena semua persiapan untuk perjalananku malam ini sudah selesai.
Jam di tanganku menunjukkan hampir pukul 8:15 petang. Aku rencanakan berangkat dari rumah ke bandara pukul 10:30 malam saja, toh jarak dari rumah ke bandara sekitar 20 menitan dengan taksi. Aku keluar tempat penukaran uang agak terburu-buru. Hanya butuh sekitar 15 menit aku sudah sampai di rumah.
PERJALANANPesawat yang aku tumpangi adalah KLM, perusahaan penerbangan dari Belanda. Jadwal penerbanganku sekitar tengah malam nanti, tepatnya pada pukul 00:40 dini hari.
Boarding pass sudah ada, aku nanti langsung menuju
baggage drop counter saja.
Aku berangka dari rumah teat waktu seperti yang telah aku rencanakan. Pukul 10:25 malam aku mulai menelpon taksi. Dan benar saja, tepat pukul 10:30 malam aku sudah masuk taksi menuju Bandara Internasional Abu Dhabi. Aku nampak lebis leluasa perasaanku seteelah aku lalui sekuriti dilalui lancar karena aku hanya membawa 1 tas untuk dimasukkan ke dalam bagasi utamanya berisi pakaianku yang akan aku pakan di Seattle, dan 1 tas untuk dijinjing/ditarik ke kabin pesawat. Sungguh aku terasa ngantuk sekali, sehingga aku hampir tertidur selama hampir 7 jam penerbangan kecuali terbangun ketika makanan datang.
Pesawat menyentuh tanah di bandara Schiphol, Amsterdam pukul 6;50 pagi. Dari dalam pesawat tampak banyak gedung di bandara diselimuti skafolding. Sepertinya sedang ada perawatan pada hampir semua gedung bandara. Aku ambil tas jinjingku dari dalam penyimpanan bagasi kabin sambil naik ke atas kursi penumpang. Tasku terdesak ke arah lebih dalam membuat aku tidak bisa menggapainya dari lantai dek pesawat. Nomor urut tempat duduk kursiku di kabin yang hanya berjarak 2 baris dari kabin bisnis membbuat aku tidak terlalu lama berdiri menunggu ke luar pesawat. Bandara Schiphol sepertinya tidak pernah sepi. Sepagi itu hampir semua pekerja di bandara bergerak gesit sekali. Aliran penumpang ke semua penjuru lorong seperti berlarian. Tasku aku naikkan ke atas kereta dorong fasilitas bandara. Aku hanya akan berjalan mengikuti petunjuk Gate E, di mana di E19 adalah pintu tempat aku akan naik pesawat menuju Seattle Amerika.
Entah berapa konveyor telah aku naiki sambil berjalan menuju ke arah Gate E. Ketika aku sampai di Gate E19 yang ada hanya satu orang sedang duduk menunggu, mungkin sambil hilangkan waktu dengan membaca secarik kertas di hadapannya. Dia tidak memperdulikan atas kedatanganku.
Sejak di dalam pesawat aku sudah ingin buang air besar. Namun toilet di pesawat membuat aku harus menahannya, nanti untuk aku buang di bandara saja, dan juga, toh saat itu pesawat sedang terasa bergerak menurun. Penerbanganku berikutnya pada pukul 10;20, waktu boarding nanti dimulai pukul 8;50, aku masih ada banyak waktu. Aku akan melaksanakan niatku membuang air besar di bandara.
Gate E 19 letaknya hampir paling ujung. Suasana sepi sekali apalagi pada Gate E24 yang paling akhir. Yang ada hanyalah petugas pembersih bandara. Ketika aku perhatikan sekelilingku, aku senang ketika melihat gambar tanda toilet sejauh 30 meteran dari tempat boardingku. Aku melangkah menuju ke gambar yang aku inginkan itu. Di dalam toilet sudah ada 4 orang yang sedang antri. Aku tidak menduga dengan suasana sesepi dan sepagi ini sudah ada 4 orang menunggu 3 kamar toilet yang sedang tertutup rapat itu. Tiga orang berwajah Asia yang antri meninggalkan tempat antriannya sebelum masuk ke toilet yang tetap tertutup oleh orang yang sedang membuang hajatnya. Aku dan seorang bule tetap saja menunggu sampai ada bunyi "klotak" tanda seseorang sedang membuka kancing pintu toiletnya. Orang bule di depanku langsung masuk secepatnya seketika toilet ditinggal oleh penghuni sebelumnya.
Tiga orang Asia kembali lagi sebelum ada yang keluar dari toilet. Salah satu dari mereka sambil menatapku dan menepuk perutnya seolah sudah susah menahan hajatnya, dan aku persilahkan utuk masuk walaupun sebenarnya giliranku ketika dari toilet ada bule yang keluar. Dan yang dua lagi pergi lagi ketika temannya masuk ke toilet. Aku lega ketika hajatku sudah aku buang. Toilet tanpa pembersih air sudah umum di bandara Schiphol, mungkin hal ini adalah adat di seluruh negara Eropa.
Aku langsung menuju ke tempat menunggu boarding duduk sambil membuka internet lewat wifi gratis bandara. Berita dan email aku masuki. Signal wifi mati hidup tapi aku masih bisa membaca berita dan email, yang dibutuhkan hanya kesabaran karena ini tanpa bayar.
Meja dorong sudah mulai memasuki areal dalam pagar pembatas sementara ruang boarding. Semua orang tertuju pada petugas yang mendorong meja tu. Sekelompok petugas boarding dan keamanan memasuki tempat boarding. Meja dorong dipakai oleh petugas keamanan bercelana hitan dan berbaju putih. Semua petugas sudah berkumpul dan panggilan boarding dimulai dari kelompok prioritas. Ketika giliranku tiba, aku diminta menunggu petugas keamanan selesai mengintrograsi orang sebelumku.
Petugas berbadan kekar dan tinggi kemudian memanggilku setelah selesai mengintrograsi calon penumpang wanita sebelum aku dipanggil. Aku berikan pasporku. Petugas yang berdiri di belakang meja dorong mulai menanyaiku bahwa namaku adalah Nasuki. Ketika nanaku ditanya mengapa tidak memiliki nama kedua, aku menjawab bahwa di Indonesia budaya nama tdak harus lebih dari satu nama. Setelah membolak balik halaman paspor dan mncocokannya dengan boarding pasku, lalu dia mengembalikannya kepadaku dan berkata "thank you" pertanda aku dinyatakan lolos dalam wawancara dengan petugas keamanan untuk memasuki Amerika.
BERES-BERES
Hari ini tanggal 15 Juni pukul 10 pagi setelah nonton bola setengah mainan Swiss lawan Ekuador, berangkat ke tempat kos putriku. Titipan teman dari Abu Dhabi untuk anaknya yang akan kuliah di UW aku bawa ke tempat putriku atas permintaan istriku. Putraku aku minta untuk membawanya ke mobil merah yang aku sewa untuk aktivitas selama beraktiitas di Seattle dan sekitarnya dalam acara wisuda putriku.
Udara mendung sejak pagi menambah dinginnya pagi akhir musim semi di Seattle. Aku telusuri jalan-jalan Seattle menuju rumah kos putriku. Aku di kamar hotel dekat dengan kampus putriku terkadang memikirkan betapa berat aku merasakan untuk membawa putriku kembali ke Abu Dhabi setelah wisuda nanti walaupun aku yakin tidak akan ada yang mengetahui tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Tetapi aku merasa ada yang salah dengan hal ini karena salah satu tujuan awal putriku kuliah di UW untuk bisa mendapatkan kerja di Amerika Serikat, bahkan menetap di sana juga.
Dari hotel ak dan putraku berjalan kaki dan sekarang sudah sampai di perempatan jalan nomer 55, lalu belok kiri. Setelah 3 kali perempatan dilalui lalu aku dan putraku belok kanan. Rumah cat putih terbuat dari kayu nomor dua dari belok kanan di kanan jalan aku dan putraku berhenti di depannya. Putraku menghubungi ibunya yang tidur di rumah itu semalam dengan putriku lalu membukakan pintu.
Kamar tamu dengan dua set sofa dan satu set meja makan nampak berantakan. Susunan sepatu penghuni berada dibalik dinding kanan pintu masuk berserakan seperti susunan sandal orang-orang yang melakukan tahlilan di Surabaya. Kamar putriku berada di lantai dua (maksudnya lantai pertama adalah lantai dasar, dan lantai dua adalah lantai di atasnya). Rumah sependek itu di sini berlantai dua.
Kondisi lantai dua tidak jauh berbeda dari kodisi lantai satu. Hanya jalan setapak saja yang tersisa di lorong lantai atas karena dipenuhi oleh tas, kardus dan barang-barang lainnya. Aku masuk kamar yang terletak di sebelah kanan tangga, inilah kama tidur putriku. Kamar ukuran 3,5 x 3,5 meter persegi ini juga berantakan isinya. Meja belajar dipenuhi dengan alat tulis, komputer dan dua tempat camilan. Meja lain dengan selorokan itu untuk menampung pakaian di atasnya dipenuhi dengan perlengkapan rias, buku, cangkir dan barang keperluan lainnya. Tas traveling ada 5 biji berada di kedua sudut sebelah pintu masuk kamar. Ketika itu aku merasa berat untuk mengatakan kepada putriku agar memisahkan semua buku yang ingin dibawa ke Abu Dhabi dan yang tidak. Aku merasakan bahwa dia juga merasa galau juga untuk meninggalkan kamarnya menuju ke Abu Dhabi. Tetapi semua itu harus dia lakukan karena dia tidak berhasil mendapatkan kerja di Seattle ataupun Amerika Serikat setelah lulus dari kuliahnya.
Sesaat terkadang aku teringat dengan mimpiku sebelum putriku kuliah dulu. Waktu itu dia sedang duduk di akhir kelas 3 Hight School di Abu Dhabi. Aku memimpikan putriku masuk memeluk agama Kristen. Ketika aku terbangun dari tidurku aku langsung memohon kepada Tuhanku agar dia diselamatkan dari itu. Agar dia diberi petunjuk kepada jalan baik oleh Tuhan. Agar dia dan aku sekeluarga selalu diberi kebaikan dan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. Hatiku yang paling dalam kini sedang berkata bahwa, keadaan putriku saat ini merupakan jawaban daripada doaku dulu. Sehingga aku harus membunuh perasaan gundahku tentang putriku karena tidak berhasil mendapatkan pekerjaan di Amerika. Apalagi putriku menurut ibunya memiliki pacar orang Amerika keturunan ayah dari Rusia dan ib dari Thailand yang beragama Kristen. Dengan keluarnya putriku dari Amerika, maka kemungkinan dia dan pacarnya menjalin hubungan bertemu secara langsung akan semakin jauh. Dan kemungkinan putriku untuk terperangkap ke dalam perangkap cinta beda agama akan semakin kecil. Aku mencoba untuk membantunya didalam memilih buku bukunya. Terkadang dia meminta pendapatku apabla ada buku yang dia ragukan apakah aku juga membutuhkannya. Aku selalu memintanya untuk dibawa saja karena aku butuhkan juga buku jenis yang dia ragukan.
Ketika kami sedang sibuk memilih buku-buku dan barang-barang yang akan dibawa ke Abu Dhabi, tiba-tiba ada suara lelaki di lantai bawah. Istriku menyarankan aku untuk turun ke lantai bawah karena ada orang tua teman kos putriku, orang Indonesia yang putrinya juga diwisuda tetapi sudah mendapatkan pekerjaan di Microsoft, Seattle karena putrinya lulus dari jurusan Human Design. suasana nampak kaku ketika aku menyapanya. Entahlah apakah karena aku merasa kalah saat ini atau aku dan orang tua teman putriku itu jarang bertemu.
Setelah acara pertandingan sepak bola antara Ekuador melawan Swiss selesai aku langsung menuju ke kamar putriku untuk meneruskan pekerjaan pengepakan barang barang putriku. Istriku meminta putriku untuk mengantarkan aku mengembalikan mobil sewa yang sudah 3 hari bersamaku. Aku turun ke bawah lagi ketika putriku masuk kamar mandi untuk mandi.
Jam sudah hampir menunjukkan pukul 12 siang, tepat waktu akhir dari sewa mobilku dan putriku sudah selesai mandi dan siap untuk mengantarku. Aku dan putriku menuju ke tempat sewa mobil terletak dua gang ke arah bawah dari rumah kos putriku. Dua menitan aku sudah memasuki tempat parkir kantor persewaan mobilku. Orang kulit hitam yang ramah yang telah melayani aku dulu ketika aku mengambil mobil sewa sedang sibuk memeriksa mobil hitam ditemani dua orang pelanggannya.
Setelah aku selesai memarkir mobil di belakang katornya aku langsung membuka bagasi mobil guna mengambil tas punggung berisi salinan surat perjanjian sewa mobil. Alangkah kagetnya aku ketika mengetahui bahwa tas punggungku tidak ada di dalam bagasi. Mengetahui itu putriku menawarkan diri untuk mengambil tasku ke kamar kosnya. Dia bilang hanya 5 menit dengan jalan kaki jaraknya dari sini. Aku setujui dan dia pergi sedangkan aku masuk ke dalam kantor.
Aku lihat pelayan lelaki kulit hitam tadi yang sedang sibuk melayani pelanggan sudah berada di dalam kantor sedang melayani orang lain. Ketika aku memasuki kantor aku lihat dua pasang laki dan perempuan setengah baya sedang menunggu giliran dari dua konter yang dijaga oleh lelaki dan perempuan kulit hitam. Aku mengarahkan diriku ke konter yang dijaga lelaki kulit hitam yang pernah melayani aku ketika aku mengambil mobil tiga hari yang lalu. Semakin lama semakin banyak pelanggan yang datang dan mereka langsung berdiri mengantri di sebelah konter yang dijaga perempuan. Sudah dua orang pelanggan selesai dilayani oleh konter perempuan tetapi konter yang aku tunggu masih berada di luar untuk mempersiapkan mobil setelah selesai urusan administrasi. Sambil aku melihat sekelilingku aku lihat dua orang umur 20an taun selalu bergurau. Pikiranku curiga bahwa mereka adalah orang dari Arab. Dugaanku tidak benar, setelah aku mendengar percakapan mereka memakai bahasa Ingris.
Ketika penjaga konter yang aku tunggu sudah memasuki kantor kembali, aku merasa senang karena setelah ini dia akan melayani aku. Ternyata dugaanku salah lagi, karena yang dia panggil justru dua orang yang suka bergurau itu. Aku merasa kecewa dan putriku melihatku dan memintaku untuk tetap menunggu dua orang itu selesai. Setelah giliranku tiba maka aku berikan salinan surat bukti sewa yang aku terima sebelum ini. Dalam kalkulasinya, maka dalam 3 hari aku ditagih sekitar 120 Dollar termasuk biaya asuransinya. Sisa uang jaminanku sebanyak 40 Dollar aku buat sebagai tanda panjar untuk keperluan menyewa mobil lagi untuk besok pagi pergi ke Mont Raindear.
Aku jadi bingung ketika aku ditanya untuk berapa hari aku memerlukan mobil. Ketika aku jawab sehari putriku mengatakan dua hari. Aku ingat istriku memintaku tiga hari yang lalu untuk menyewa sehari saja, tetapi aku jadi ragu ketika putriku memintaku untuk dua hari. Lalu aku meminta lelaki penjaga konter aku akan menelponnya saja nanti. Lalu aku kembali ke rumah kos putriku dengan jalan kaki dengan putriku.
Lima menit kemudian aku sudah sampai di rumah kos yang berantakan itu. Aku teruskan melakukan pengepakan barang barang putriku bersama istriku. Putriku dan putraku sibuk dengan memilih barang-arang yang akan dibuang, atau akan diberikan kapada putraku untuk dipakai di Vancouver tempat dia kuliah dan yang akan dibawa ke Abu Dhabi.
Sejenak harus aku lupakan perasaan gundahku. Aku lihat putriku tidak terlalu bersemangat untuk memilah barang barangnya. Aku tidak terlalu yakin apa yang sedang ia pikirkan, tetapi ia mudah sekali untuk tersinggung. Putraku mengumpulkan apa saja yang mungkin ia bisa pakai di Vancouver. Ada piring, cangkir, gelas, kabel untuk internet, alat-alat tulis, dan lain sebagainya. Semua pakaian yang ada di atas rak aku turunkan, istriku membantuku. Satu tas traveling berisi sepatu lama putriku aku keluarkan, lalu aku periksa kembali dan aku sisihkan sebelum aku dan putriku putuskan untuk mmbuangnya. Aku mengepak mulai dari buku-buku yang aku letakkan di bagian bawah tas, semakin ke atas aku letakkan barang-barang yang semakin ringan.
Tidak terasa aku dan istriku sudah menyelesaikan mengisi 2 tas traveling. Lalu aku meminta istriku agar secepatnya pengepakan dapat diselesaikan. Aku ingin melihat semua barang yang akan dibuang dan dibawa sebelum aku membali ke Abu Dhabi. Aku tidak ingin meninggalkan pekerjaan pengepakan kepada anak dan istriku sebelum aku kembali ke Abu Dhabi.
Aku berhenti mengepak setelahnya walaupun barang-barang yang dipilah masih belum juga selesai. Aku putuskan untuk menonton pertandingan lanjutan bola Antara Argentina lawan Bosnia Herzegovina. Sampai pertandingan berakhir kedudukan 2 - 1 untuk Argentina. Lalu aku putuskan untuk istirahat tidur di atas gelaran sajadah yang tetap tergelar setelah dipakai sholat oleh aku, istri dan putraku. Ketika aku bangun tidur, anak-anakku sudah pergi ke luar bersama temannya, nonton bioskop How To Train Dragon 2 sesuai rencana yang telah mereka buat kemarin malam ketika bertemu di Restoran China Royal di Down Town Seattle.
Aku dan istriku lalu bersiap untuk kembali ke Hotel University Travelodge. Di hotel rasanya membosankan. Nonton TV tentang kisah orang-orang pedalaman di Amerika. Acara itu yang membawaku tidur sampai anak-anakku datang ke hotel sepulang dari nonton bersama temannya. Lalu mereka ikut tidur, sehingga berempat di hotel aku, istrku dan putra putriku sampai aku terjaga kembali ketika jam digital di kulkas menunjukkan pukul 2.30 pagi. Aku bisa tidur kembali setelah jam menunjukkan kira-kira puukul 4.30 pagi.
Dan istriku dan putriku kembali ke rumah kos putriku pada pukul 5.44 pagi. Aku check out dari hotel sekitar pukul 9.30. Sarapan hari ini aku beranikan diri untuk makan daging giling ayam panggang, karena aku rasa ini tidak ada daging babinya. Biasanya aku hanya mengambil cereal dan susu saja.
Pertandingan sepak bola hari ini dimulai pada pukul 9.00 pagi antara Jerman melawan Portugis. Ini yang membuat aku dan putraku tidak ingin meninggalkan hotel, padahal aku ada janji degan perusahaan sewa mobil Enterprise untuk mengambil mobil serta bis umum untuk menuju ke daerah sana akan datang sekitar 15 menit lagi. Di dalam bis aku kembali memikirkan putriku. Dia belum pernah mendapatkan kerja Internship dengan jurusan yang dia ambil ini. Dia sungguh belum pernah merasakan mendapatkan kerja dengan jurusannya ini. Dia hanya dapat kerja di kampusnya sebagai cheer leader setiap minggunya terkadang sampai 10 jaman. Entahlah aku sendiri tidak bisa menyimpulkan apakah ini merupakan suatu keberuntungan atau sebaliknya, tetapi aku merasa kasihan sekali terhadap putriku jika dibandingkan dengan teman-temannya yang lain, apalagi dibandingkan dengan anak dari jurusan komputer, jauh sekali. Tetapi aku harus tetap yakin bahwa, semua ini adalah merupakan pemberian yang terbaik bagi putriku khususnya dan aku sekeluarga umumnya.
PLESIRAN KE MOUND RAINEER
Pagi ini tanggal 16 Juni, aku sekeluarga akan melakukan rekreasi ke Mount Raineer masih wilayah Washington State. Jaraknya sekitar 70 miles dari kota Seattle. Sebelum itu pada pagi ini juga aku harus mengambil mobil sewa yang sudah aku pesan sebelumnya, sedan standar seharga 70 USD per harinya, di mana harga sebelumnya hanya 80 USD untuk 3 hari. Aku tidak ada pilihan dengan ini, waktu yang sempit membuat aku rela masuk ke dalam perangkap permainan ini.
Mobil Mini Can Dodge aku ambil. Mobil sebesar ini sepertinya membuatku untung. Semua tas bawaan untuk pergi bermalam di penginapan ke Mount Raineer cukup leluasa. Putraku duduk di bangku palimg belakang. Ibunya di bangku tengah sedangkan aku dan putriku di bagian depan.
Udara cukup dingin pagi ini. Jam sudah menunjukkan pukul 11 pagi, tetapi langit mendung dan ada sedikit gerimis. Setelah kunci pintu depan mobil dikunci oleh putriku, aku berempat berangkat menuju Mount Raineer. Wiper kaca mobil harus diputar skaklarnya apabila ingin menghidupkannya. Demikian juga untuk pengatur kecepatan sapunya. Keluar rumah menuju ke tujuan sudah ada petunjuk memakai GPS dari Iphon putriku. Dari daerah UW awalnya keluar menuju ke jalan highway masuk di entry nomer 170. Jalan dengan jalur minimum untuk kendaraan dengan 3 orang itu tidak terlalu ramai. Ini barangkali karena hari sudah siang. Tujuan utamanya sekarang adalah mencari exit nomer 4 sejauh sekitar 32 miles. Kecepatan maximum di highway adalah 60 miles per jam ini setera dengan 100 kilometer per jam, di Uae yang namanya highway kecepan maksimumnya adalah rata-rata antara 120 sampai dengan 140 kilimeter perjamnya. Aku lajukan kendaraan antara 100 sampai dengan 120 kilimeter per jam. Kendaraan sungguh tertib pengemudinya. Semua mobil tetap pada jalurnya masing masing. Jika ingin pindah jalur.
Perusahaan pesawat Boeng sungguh besar sekali. Hampir satu menit aku menyetir dari ujung perusahaan pesawat ini masih belum juga berakhir. Dia terletak di sebelah kanan jalan menuju ke luar kota. Di kejauhan nampak pelabuhan kota Seattle. Highway melintasi City Center kota Seattle. Sejauh ini semua kendaraan bebas mengambil jalur masing masing. Hanya untuk bis dan kendaraan penunpang atau dengan mobil berpenumpang 2 orang lebih disediakan jalur khusus, satu jalur yang paling kanan. Lain halnya dengan di Abu Dhabi. Untuk kendaraan truk dan bis tidak boleh mengambil jalur ke tiga dan seterusnya. Mereka hanya diperbolehkan memakai jalur nomer 1 dan 2 saja. Aku pakai fasilitas jalur khusus untuk kendaraan pools, itu karena memang lebih sepi dibandingkan dengan jalur-jalur lainnya. Keadaan kotanya tidak sebersih dan terawat seperti di Abu Dhabi. Rumput-rumput dan tanaman liar banyak yang tidak diurus untuk dibersihkan ataupun dirawat atau dipotong. Apalagi di daerah sekitar pelabuhan. Sama seperti keadaan kotaku Surabaya. 2 miles lagi kendaraanku sudah harus keluar dari jalan Highway.
Aku harus cepat-cepat mengambil jalur yang dapat memudahkan aku untuk exit di exit nomor 4 berikut. Hanya ada empat mobil yang exit bersama mobilku ke arah kiri. Jalan exit 1 jalur ini membuat aku harus mengurangi secara drastis kecepatan mobilku. Dan aku harus berhenti di pertigaan depan ini karena aku harus belok kiri. Aku sekarang memasuki jalan pedalaman. Sebentar lagi aku memasuki Green Hills.
Jalan kembar lajur berlawanan. Setiap lajur memiliki 2 jalur. Aku harus lebih berhati-hati karena lajur kanan dan lajur kiri tidak memiliki pembatas. Batas Kecepatan kendaraan cukup tinggi juga, antara 35 sampai dengan 55 miles per jamnya.
Kanan-kiri jalan mengingatkan aku ketika menyusuri jalan antara Kamal dan Bangkalan. Hanya saja sawah-sawah diganti dengan rumput-rumput untuk pemeliharaan ternak yang aku lhat adalah sapi-sapi. Rumah-rumah kebanyakan terbuat dari kayu. Ukurannya seperti rumah type 100 meter persegi. Serta dilengkapi dengan taman-taman yang luas. Semakin ke dalam aku semakin merasa melintasi daerah Pujon dan Batu. Bedanya hanyalah pohon-pohon pinus di lereng Green Hill lebih lebat. Dan hawanya kelihatan lebih dingin. Hampir semua kendaraan yang berpapasan dengan mobilku menhidupkan lampu lampunya. Padahal hari masih siang, jam di dashboard mobilku menunjukkan pukul 12.35 siang. Sebentar lagi aku harus belok kiri. Jalan 564 depan adalah patokannya.
Putriku terlambat memberitauku agar aku mulai belok ke kiri. Aku sadari ketika mobilku sudah sapuluh meteran dari belokan yang sehausnya aku belok. Aku hidupkan riting kiriku sambil aku injak rem untuk masuk ke pom bensin kiri jalan setelah perempatan. Dari belakang pom bensin ini aku keluar ke jalan yang akan aku tuju. Kini jalannua lebih kecil lagi. Lajur kanan dan kiri memiliki masing-masing 1 jalur saja. Pembatas tengah jalan hanyalah cat kuning saja. Sepanjang jalan tidak ada hewan-hewan liar seperti yang aku bayangkan. Burung terbangpun ketika berangkat tidak aku temukan. Hanya sekali ada bajing menyeberang dari arah kiri jalan. Aku tidak mengerti mengapa tak satu burungpun aku temukan.
Punvak bukit-bukit di kejauhan seperti dipenuhi kapas saja. Pertengahan bulan juni di puncak gunung seperti ini nampak masih banyak saljunya. Tak terasa aku sudah hampir sampai di hotel Crystal Resort yang telah di-booking sejak sebelum aku ke Seattle. Resort terdiri dari 6 rumah tua berlantai dua. Bendera Amerika berkibar di depannya. Aku langsung menuju ke kantor Resepsionis setelah aku parkir mobilku di tempat parkir tepat di bawah pohon pinus paling besar. Petunjuk panah ke arah kantor Resepsionis ke pintu bertuliskan toko grocery.
Aku lihat sekelilingku sebelum aku membukanya barangkali ada pintu lagi untuk kantor yang aku cari. Setelah memastikan tidak ada, aku masuk ke dalam toko itu. Perempuan bule muda menyapaku dengan kata selamat sore. Sambil aku memperhatikan barang-barang yang dipajang di sekeliling ruangan aku balas juga sapanya dan aku tanyakan apakah aku sedang memasuki kantor Resepsionis. Setelah ia mengiyakan pertanyaanku lalu ia menanyai namaku. Anak anak-anak dan istriku terus asik memperhatikan semua barang yang dipajang, sementara aku memberikan paspor dan kartu kreditku untuk melakukan pembayaran hotel yang telah aku pesan.
Perempuan penjaga toko dan juga resepsionis itu keluar untuk memastikan bahwa kamar yang telah aku pesan sudah siap. Semenit kemudian ia kembali ketika aku sedang asik dengan pajangan barang-barang souvenir di dalam tokonya. Ia lalu mengajak aku sekeluarga menuju ke kamar resort yang telah siap aku tempati. Wanita muda itu membukakan pintu rumah dengan kunci elektronik seperti USB. Ia lalu menyerahkan dua kunci kepadaku. Dia menjelaskan bahwa fasilitas di resort sebelum meninggalkan aku sekeluarga dan mempersilahkan untuk masuk ke dalam resort yang aku pesan.
Fasilitas tennis meja, kolam renang, tempat membakar daging, persewaan sepeda mendaki ia jelaskan kepadaku. Aku hanya mengiyakan saja apa yang telah ia jelaskan. Anak-anak dan istriku masuk terlebih dahulu sebelum aku masuk ke dalam resort.
Resort yang berada di atas toko grocery itu berlantai dua. Satu bangunan resort dibagi menjadi dua resort, setiap resort akan memiliki lantai bawah kira-kira seluas 7.5 x 7.5 meter persegi saja. Ia terdiri dari satu kamar tidur, kamar tamu, dapur dan ruang makan, kamar mandi dan dua lemari pakaian serta teras depan dan samping. Dalam kamar tidur ada tempat tidur berukuran untuk 2 oarang diselumuti dengan selimut cokelat tua., 2 chest drawer dan satu lemari pakaian. Dalam chest drawer aku temukan kitab Injil, kitab suci agama Kristen. Di atasnya ada setumpuk buku yang dikumpulkan dalam keranjang rotan. Kamar tamu ada sofa yang bisa dibuka untuk menjadi tempat tidur untuk 2 orang. 1 meja tamu, tempat bakar kayu dengan pipa ke cerobong asap, 1 telivisi ukuran 32 inchi dan receiver mungil terletak di atas raknya. Dan satu kursi sofa single terletak di sebelah tungku pemanas. Kamar tamu terlihat terang sekali karena ada bukaan 1 meter persegi bertutupkan kaca di atasnya. Teras samping sepanjang kamar tamu berada di depan samping kamar tidur. Teras itu bisa dimasuki dari ruang tamu dan kamar tidur. Dua kursi kayu bercatkan coklat tua berjejer dibalik pagar kayu teras setinggi paha. Namun karena suhu dingin tidak enak untuk menempatinya. Di dapur terbuka berhadapan langsung dengan ruang makan. Ada kompor listrik 4 mata dengan oven listrik di bawahnya, ia terletak di ujung paling kiri. Lalu meja marmer sintetis sepanjang 2 meteran sisanya dengan toaster roti, microwave, dan tabung untuk memasak air serta bungkusan untuk perlengkapan teh dan kopi di atasnya. Washtafel stainless steel dengan single mixer air panas dan dingin berada di tengah meja marmer sintetis. Di atas meja marmer tergantung lemari kayu untuk alat-alat dapur sepanjang meja marmer, ia terpotong oleh penghisap udara di atas kompor listrik. Meja makan kayu dengan 4 kursi kayu terletak diantara meja marmer dapur dan lemari untuk gudang penyimpan kipas angin berbagai ukuran dan 2 kursi makan.
Semua kue, roti dan minuman yang dibawa dari Seattle diletakkan di atas meja makan dengan lampu gantung di atasnya. Kamar mandi terletak di belakang dapur, ia berhadapan dengan kamar tidur. Di ujung lorong antara kamar mandi dan kamar tidur diberi rak lemari berpintu dua untuk tempat menyimpan selimut dan bantal. Washtafel dengan cermin menempel di dinding terletak menempel di dinding setelah pintu masuk. WC terletak diantara shower panjang dan washtafel. Kamar mandi berukuran 2,5 x 1.5 meter persegi ini dilengkapi juga dengan sebuah lampu oranye dan normal dilengkapi juga pengeluar udara. Sabun dan 2 botol kecil shampo terletak di dalam keranjang kecil di atas meja washtafel.
Untuk menuju ke lantai atas harus naik melalui tangga kayu curam yang diletakkan di depan kompor, tangga itu sebenarnya dimulai dari ruang makan. Lantai atas tidak ada kamar tidur. Dua tempat tidur terletak tanpa ada pembatas ruang, keduanya terbuka, keduanya langsung berhadapan dengan langit-langit miring mengikuti kemiringan atap resort. Satu tempat tidur untuk satu orang berada di sisi kamar madi, ia hanya dipisah oleh lemari permanen satu pintu diantara keduanya. Dan satu tempat tidur lagi untuk dua orang berada di depan kamar mandi. Ia dipisah dengan kamar mandi oleh ruang terbuka berisi telivisi tabung yang diletakkan di atas rak TV. Dalam kamar mandi ada washtafel, shower persegi dan WC diantaranya. Di sisi shower ada rak untuk menyimpan handuk dan sapu tangan. Lantai atas tidak menutupi ruang tamu dengan langit langitnya. Semua ruangan memiliki heater, termasuk juga kamar mandinya.
Anak-anakku sibuk sendiri sendiri. Putraku sibuk dengan cara menemukan channel telivisi yang ada. Putriku sibuk dengan ibunya mengeluarkan bahan makanan dan perlengkapan pembersih gigi yang dibawa dari Seattle. Lalu aku memasak air untuk membuat kopi. Anak-anakku siap untuk memasak mie instant untuk mengisi perut jatah makan siang mereka. Mereka juga memasakkan untuk ibunya. Untuk aku terpaksa memasak sendiri karena mereka pikir aku tidak menginginkannya karena mereka tau bahwa aku tidak suka makan mie instant. Setelah makan mie selesai lalu sholat sendiri-sendiri. Lalu siap untuk ke puncak Mount Raineer dengan menggunakan mobilku.
Jam sudah menunjukkan pukul 3.30 sore. Di luar aku lihat tidak ada sinar matahari kecuali gerimis. Istriku meminta putraku untuk memindah tas dan barang-barang yang akan dibawa naik ke puncak gunung. Lalu aku sekeluarga naik mobil menuju Mount Raineer.
Hutan pinus lebat sekali, gelapnya siang karena mendung bertambah gelap karena rindangnya daun pohon-pohon pinus dari sisi kanan dan kiri jalan. Penyapu air kaca depan mobilku aku set dengan kecepatan sedang untuk melawan percikan air hujan gerimis dan kelembaban udara pegunungan.
Di kejauhan terlihat semua puncak gunung diselimuti oleh salju putih seputih awan ketika terkena sinar matahari. Batinku menanyakan bagaimana untuk menuju ke puncak gunung yang bersalju itu. Di sepanjang jalan aku tidak pernah melihat adanya hewan atau binatang liar yang berkeluyuran, termasuk juga burung. Sekali saja ada kelebatan bajing yang sedang naik ke pohon di sebelah kiri jalan. Jalan sepi sekali, aku hidupkan juga lampu mobilku.
Kini aku sudah sampai di monumen Mather Hill. Monumen kecil di kiri jalan dan kurang menarik perhatianku. Aku hanya membacanya tanpa mengurangi kecepan mobilku. Aku kini dihadapkan pada adanya kabut tipis pegunungan. Aku kurangi kecepatan mobilku. Aliran air di sungai berbatuan mengingatkan aku kembali ketika melintasi jalan dari Kota Batu ke Pujon daerah Malang sana. Sampai aku sudah bisa melihat salju di sisi sisi jalan yang aku lalui. Istriku memintaku untuk berhenti untuk melihat salju dari dekat.
Aku hentikan mobil di tempat pemberhentian khusus tempat jalan masuk menuju kawasan tempat beruang cokelat bermukim. Ada gardu penjaga dari kayu bercat coklat di pintu masuknya. Tidak ada seorang penjagapun di dalamnya. Ada tiga kotak sampah yang dengan kode plastic, recycle dan waste. Setiap kotak ada pesan bahwa, di sini adalah daerang beruang, maka jagalah kebersihan lingkungan.
Aku sedikit merinding ketika keluar mobil membayangkan bertemu beruang. Lalu putraku mengatakan bahwa, beruang coklat sangat bersahabat, jangan khawatir apabila bertemu. Aku dan keluargaku hanya keluar sebentar untuk mengambil gambar secukupnya. Anak-anak dan istriku memakai iPhon mereka masing-masing.
Kendaraan aku jalankan secara hati-hati menaiki ke arah puncak gunung, selain jurang di sebelah kananku jalan licin karna sedang gerimis. Awan kabut menambah kehati-hatianku karena jarak pandangku hanya tidak lebih dari 50 meteran. Aku teruskan kendaraanku menyusuri jalan aspal satu jalur dengan hati-hati sekali sampai ada pemberhentian di balik jurang curam sebelah kanan jalan. Setelah aku parkir mobilku menghadap ke jurang yang dibatasi dengan tembok setinggi 1 meter, lalu aku dan keluargaku keluar mobil.
Suhu dingin tanpa angin menyengat muka dan telapak tangan yang tidak terlindungi. Aku langsung menuju ke tumpukan salju di depan tembok pembatas dan aku memungutnya. Salju seperti pasir es semakin membuat dingin telapak tanganku. Lalu aku ke tembok pembatas dan menyungukkan kepalaku secara hati-hati melihat curamnya jurang. Jurangnya seperti tegak lurus saja dengan tanah kearah bawah. Setelah menengok curamnya jurang di balik tembok pembatas. Aku lalu mengambil kamera yang dipegang oleh istriku untuk mengambil gambar-gambar mereka berhiaskan gunung-gunung bersalju.
Aku lalu mengajak mereka untuk melanjutkan perjalanan lebih ke atas lagi. Aku lihat salju di kanan dan kiri jalan semakin tebal saja, sekitar satu meteran dari tanah. Bahkan semakin ke atas pohon-pohon pinus muda terbenam oleh tebalnya salju, dan kabut silih berganti datang dan pergi.
Aku putuskan untuk putar kembali saja jika ada tempat yang memungkinkan di depan berikutnya. Aku lihat jalanpun seperti berlapiskan salju tipis, ini pertanda lama tidak ada mobil yang melalui jalan yang sedang aku lalui ini. Dan aku dapat memutarbalikkan mobilku.
Aku menyusuri jalan kembali ke hotel Alta Crystal, kini terasa sekali apabila jalan yang sedang aku lalui cukup menurun, berbeda rasanya ketika aku naik tadi walaupun tadi tidak terasa menanjak tetapi jalan mobil terasa cukup berat. Kini aku hampir tidak pernah menginjak pedal gas, kecuali lebih sering menginjak pedal rem. Jalan menurun cukup untuk memberi percepatan mobil sampai menempuh kecepatan 80 kilimeter per jam. Aku dan keluargaku sudah tidak ingin berhenti lagi. Istriku sudah cukup senang telah dapat melihat dan menyentuh salju secara langsung, itulah cita-cita yang belum ia dapati walaupun dia sudah ke Seattle, Vancouver dan tempat lainnya.
Aku tetap saja memperhatikan kanan dan kiri jalan. Pohoh-pohon pinus menjulang lurus ke arah langit. Aku terkadang berpikir bahwa tiang-tiang listrik yang terbuat dari kayu dipastikan diambil dari kayu pinus ini. Terus saja mobilku meluncur dengan sendirinya, air di kaca depan terus saja disapu walaupun tidak ada hujan, tebalnya kabut membuat udara sangat lembab, sehingga cukup untuk membasahi kaca dalam sekejab dan menghalangi terangnya pandangan.
Jam di tanganku menunjukkan pukul 3.30 pagi, ini berarti pukul 4.30 sore di sini. Saat itulah aku memasuki halaman parkir tempat penginapanku. Istriku tidak ingin masuk penginapan melainkan ingin jalan-jalan ke arah atas dari penginapan. Keluar komplek penginapan menuju atas aku harus jalan dengan tenaga ekstra. Jalannya cukup tajam naiknya melalui jalan makadam. Kanan dan kiri jalan ada serentetan rumah-rumah penduduk terbuat dari kayu. Tetapi aku tidak melihat orang lain di sekitarnya. Lampu-lampu rumah rumah ada yang dihidupkan tetapi tidak ada aku melihat penghuninya. Barangkali juga rumah rumah itu milik orang-orang kota yang hanya akan ditempati apabila untuk berliburan saja.
Aku memutuskan untuk kembali ke penginapan saja karena badan terasa cukup lelah. Berjalan menaiki ke atas aku tidak merasa enak karena daerahnya belum aku kenal. Di penginapan aku hanya nonton TV mendengarkan berita dunia. Sementara istri dan anakku mempersiapkan makanan untuk malam ini. Aku sengaja tidur lebih awal setelah sholat Isyak agar besok bisa bangun pagi dan keluar dari penginapan pagi, karena aku harus sudah mengembalikan mobilku sebelum pukul 11 besok pagi.
KEMBALI KE SEATTLE
Tepat pukul 5 pagi aku bangun tidur, di luar sudah begitu terang walaupun matahari belum kelihatan. Kicau burung sesekali saja aku dengar. Istri dan anak-anakku dibangunkan lalu makan pagi dengan makanan siap makan yang sudah dibeli sejak dari Seattle.
Pukul 6.30 pagi aku keluar penginapan. Kantor buka mulai pukul 8.30. Kunci aku drop di kotak kunci di depan kantor resepsionis. Aku lihat bahan bakar mobil sudah tinggal seperempat tangki. Aku harus mengisinya jika ada pompa bensin dalam perjalanan pulang. Suhu udara sungguh dingun, selama perjalanan turun gunung aku harus menyalakan sapu air kaca depanku. Sesekali sapu air kaca belakang harus aku sapu juga karena kelembaban membuat air cepat berkumpul menempel ke kaca depan dan belakang mobil embentuk semacam lapisan es tipis.
Aku harus berhenti di pompa bensin kiri jalan mobilku. Tak ada orang walaupun ada tulisan "We Are Open". Semua pompa bensin hanya melayani self service untuk pengisian bahan bakar. Aku dan putriku mencoba untuk mengisi bahan bakar mobilku. Adanya tombol-tombol membuat aku ragu. Putriku sudah memesang kartu kreditnya tetapi dibatalkan karena ragu. Aku lanjutkan perjalanan tanpa mengisi bahan bakar mengharapkan pompa bensin berikutnya ada pelayannya. Harapanku terpenuhi ketika menemukan pompa bensin ada orang yang sedang mengisinya. Putriku menanyakan caranya, memang tidak semudah apa yang aku duga, karena pertama harus memasukkan informasi pada satu station untuk memilih tempat pengisian di mana kendaraan diparkir yang akan dipakai, lalu memasukkan kartu kredit atau tunai dengan nomer rahasia, lalu ke tempat pengisian yang dipilih di mana kendaraan diparkir. Lalu menekan tombol jenis bahan bakar yang akan dipilih. Memasukkan nozzle ke corong tangki mobil dengan benar, jika tidak benar maka pompa tidak akan jalan. Setelahnya menarik pelatuk nozzle dan bensin akan mengalir ke dalam tanki. Setelah selesai kembali ke tempat pengisian data, lalu menekan tombol untuk meminta bukti pembayaran. Dan keluarlah bukti pembayaran 30 Dollar untuk menambah setengah taki bahan bakar mobilku.
GPS putriku memberi peringatan bahwa jalan yang akan aku lalui sedang macet. Lalu disarankan untuk mengambil jalan alternatif. Aku ikuti saja saran GPS dan aku mendapatkan kepuasan. Selain jalannya lancar, juga jarak tempuhnya aku rasa lebih pendek. Aku sampai di Seattle sekitar pukul 11 pagi, waktu yang sudah aku rencanakan. Jalan bebas hambatan masuk ke Seattle penyebab keterlambatan perjalananku karena kendaraanku hanya dapat berjalan sekitar 30 kilomete per jam. Ketika aku sudah keluar highway dari exit no. 170 aku merasa lega. Walaupun highway sudah tidak semacet ketika memasuki Downtown tadi tetapi dari exit ini sekitar 5 menit sudah sampai di rumah kos putriku.
Setelah aku turunkan semua barang bawaan, aku langsung menuju ke tempat persewaan untuk mengembalikan mobil. Di kantor persewaan mobil hanya ada seorang petugas saja. Untungnya hanya ada 3 pelanggan yang sedang dia layani termasuk aku. Setelah mobil diperiksa oleh pelayan kantor, lalu dia menyatakan diterima. Dan aku kemudian diberi kwitansi untuk aku bawa pulang.
Sesampai di rumah aku langsung beistirahat. Satu jam kemudian putraku tidak menemukan dompetnya. Ibunya ingat bahwa ketika putraku tidur di mobil ia melihat dompetnya disimpan di tempat penyimpanan bagian belakang kanan pintu mobil. Aku dan putraku langsung meluncur ke kantor persewaan mobil. Seorang penjaga aku katakan tentang maksud kedatanganku. Lalu aku dipersilahkan untuk memeriksa kembali mobil yang aku kembalikan tadi. Sebelum pelayan menyerahkan kunci mobil ia mendapati dompet hitam di ujung meja konter. Ia lalu mengambil dan membukanya, lalu ia menanyakan tentang siapa pemilik dompet itu namanya. Setelah aku sebutkan nama putraku lalu pelayan menyerahkan dompet hitam milik putraku dan aku bersama putraku pulang ke rumah kos putriku.
KEMBALI KE ABU DHABI
Hari ini tangal19 Juni merupakan hari dari jadwal kepulanganku kembali ke Abu Dhabi. Sejak kemarin semua barang-barang yang akan dibawa ke Abu Dhabi sudah diselesaikan pengepakannya. Aku merencanakan membawa 2 tas dalam bagasi, artinya aku harus membayar biaya tambahan satu tas nantinya. Aku boarding online pukul 5 pagi. Setelah selesai aku harus membayar 76 Dollar untuk biaya tambahan 1 tas bagasi yang akan aku bawa. Lalu boarding pass dan tanda bukti pembayaran biaya tas bagasi aku cetak memakai printer di kamar kos putriku.
Aku diantar oleh anak-anak dan istriku ke bandara Tacoma, Seattle. Aku dan mereka keluar rumah berangkat ke bandara sekitar pukul 9.45 pagi. Setelah berjalan melalui dua gang aku dan mereka berhenti di halte bis menunggu bis nomer 73. Rencananya dengan bis menuju ke Westlake Downtown untuk kemudian naik kereta SATAC menuju ke bandara. Dari halte dekat kos putriku ke Downtown sekitar 10 menitan. Untuk naik kereta harus membeli kartu khusus isi ulang seharga 15 Dollar. Setiap naik kereta akan diambil 2,5 Dollar saja, demikian pula jika dipakai untuk naik bis.
Dari dalam kereta nampak keindahan kota Seattle. Downtown dengan sedikit gedung-gedung tinggi nampak sangat dekat. Pelabuhan di kananku hampir terhalang oleh Stadion Sefaco. Aku terasa ngantuk sekali aku coba tidur di kereta. Aku lihat putraku sudah tertunduk tidur nyenyak sambil duduk di kursi penumpang belakang, istri dan putriku asyik ngobrol di kursi depan sana. Ketika aku terbangun kereta sedang berhenti di Boulevard International Station, ini berarti 1 station lagi aku akan sampai di Bandara.
Corong pengumuman memberitahukan bahwa ini merupakan station terakhir dari kereta ini. Ini berarti aku sudah sampai di Bandara Tacoma, Seattle. Jam masih menunjukkan pukul 11.30 pagi berarti 2 jam lagi aku akan terbang. Aku langsung menuju ke tempat Baggage Drop Only, sebelum aku mengambil baris antri seorang petugas memberitauku bahwa jika hanya memasukkan tas bagasi sebaiknya di luar saja tidak antri seperti barisan di depanku. Aku memenuhi permintaannya, lalu aku mengambil antri di baris di luar gedung depan gedung utama bandara.
Aku timbang tas bagasiku, satu tas seberat 75 pound dan satunya lagi seberat 67 pound. Setiap 2 pound setara dengan 1 kilogram. Ini berarti aku harus mengurangi sekitar 25 dan 17 pound dari masing-masing tas bagasiku nantinya kalau tidak setiap kelebihan akan ditarik biaya sebesar 100 Dollar.
Aku diminta untuk menscan pasporku karena di konter yang aku pilih tidak bisa membaca data pasportku. Lalu aku coba menscan sesuai dengan yang ditunjuk oleh penjaga konter asal Pilipina itu, tetapi tidak berhasil. Aku lalu kembali ke konter yang menyuruhku setelah petugas di dekat scanner memintaku untuk langsung saja ke bagian baggage drop only. Aku kembali menemui petugas Pilipino yang sedang menyimpan tas-tasku di dekatnya. Lalu dia menyarankan aku untuk memakai konter khusus saja.
Sebelum ke konter khusus aku coba menata kembali tas-tas bagasiku agar beratnya berkurang. Tas jinjing yang istriku persiapkan dari rumah untuk keadaan kelebihan bawaan ia keluarkan. Aku buka tas-tas bagasiku lalu aku keluarkan buku -buku yang ada di kedua tas-tas bagasiku. Secepatnya setelah semua tas-tas bagasiku aku kunci aku bersama keluargaku masuk barisan antri di barisan pintu masuk khusus. Khusus di sini diperuntukkan bagi mereka yang membutuhkan pertolongan khusus dalam melakukan boarding dan pengiriman barang bagasi ke pesawat. Aku harus menunggu dua liukan untuk mencapai konter pelayanan khusus. Aku usulkan pada istriku agar keluar saja karena jalannya sangat lambat. Dia memintaku untuk bersabar saja nanti akan sampai juga.
Pukul 12.40 aku sampai di konter khusus. Petugas konter memberitauku bahwa aku telah datang terlambat. Ia memberitauku bahwa menurut aturan para penumpang harus datang 1 jam sebelum waktu keberangkatan. Petugas konter wanita keturunan Asia berkulit kuning itu lalu memasukkan dataku dengan menggesekkan boarding passku. Dan aku diminta untuk kembali untuk penerbangan esok harinya. Dan aku kembali ke Abu Dhabi keesokan harinya.
END