Wednesday, August 05, 2026

TUHANKU SEBENARNYA ADA DI MANA?

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran", QS 2 ayat 186.

"Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam". QS 7 ayat 54.

UMUM

Dari QS 2 ayat 186 dan QS 7 ayat 54 di atas pada tulisan ini memang susah untuk menentukan tentang tempat keberadaan Tuhan. Sehingga pendapat yang paling kuat adalah, bahwa Tuhan itu tidak bertempat, artinya Dia ada di mana-mana. Sehingga apa yang diterangkan di dalam QS 7 ayat 54 bahwa Tuhan bersemayam di Arsy sepertinya tidak berarti apa-apa apabila sedang membahas tentang keberadaan Tuhan dan menerima pendapat yang paling masyhur itu. Itu bukan karena yang terdapat pada QS 2 ayat 186 saja bahwa Tuhan itu dekat dengan seorang hamba, akan tetapi masih banyak ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa Tuhan itu masih berperan atau dekat dengan kejadian-kejadian yang ada di dunia ini. Sebagai contoh misalnya; bahwa hujan itu turun atas kehendak-Nya. Sehingga (menurut mesin pencari Google di internet) adalah; 

"Tuhan itu mutlak, meliputi segala sesuatu di alam semesta ini, baik itu kejadian alam maupun perbuatan manusia, Allah SWT berkuasa mutlak, segalanya terjadi atas izin-Nya, dan jika Dia menghendaki sesuatu, cukup berkata "Kun" (Jadilah), maka terjadilah. Kehendak-Nya berkaitan dengan qada dan qadar, serta tidak ada satupun yang terjadi di luar pengetahuan dan kekuasaan-Nya". 

Sungguh, banyak sekali yang tidak ingin membahas tentang keberadaan atau tempat di mana Tuhan itu berada. Ini bukan karena mereka anti, akan tetapi karena alasannya sederhana, lmu untuk itu susah kalau bukan dikatakan tidak ada. Menurut mereka mencari di mana Tuhan itu berada merupakan hal yang mustahil untuk diketahui oleh manusia. Apabila pencarian ataupun pendiskusian itu diteruskan, dikhawatirkan akan menjadikan manusia terjerumus pada sesuatu yang menyesatkan dan akhirnya menjadi berdosa. 

DI SINIKAH DIA?

Penulis ingin mencoba untuk menerangkan tentang permasalahan ini dari sisi pemikiran penulis sendiri, penulis bukanlah seorang yang disebut makrifat atau berilmu cukup tentang Ketuhanan, akan tetapi dari bukti-bukti yang difirmankan di dalam Alqur'an penulis mencoba untuk menerangkan dari judul tulisan ini. Pembahasan ini sekaligus sebagai kesimpulan dari tulisan ini yang akan dipaparkan seperti berikut ini.

Di alam semesta ini berlaku hukum alam, Hukum-hukum itu sendiri dalam Islam dikenal sebagai hukum Sunnatullah, yaitu hukum sebab-akibat, hukum berdasarkan logika dan menghasilkan sesuatu yang logis pula. Berikut adalah pendapat penulis: 

Sebelum turunnya Alqur'an secara penuh, keadaan dunia ini masih belum sempurna dalam arti tentang hukum-hukum Sunnatullah itu. Ini terbukti ada beberapa kejadian-kejadian yang bisa dikatakan masih berada di luar logika. Contoh yang paling nyata adalah, hamilnya Sayyidah Maryam yang melahirkan Nabi Isa AS. Serta masih banyak kejadian-kejadian yang dikenal dengan istilah kejadian "mukjizat", yaitu suatu kejadian yang mungkin berada di luar nalar pikiran atau di luar logika manusia, akan tetapi kejadian itu terjadi. Contoh lain adalah, Kisah Nabi Ibrahim AS yang dibakar dengan menggunakan api yang sangat besar, tetapi Nabi Ibrahim AS masih dapat hidup bahkan tidak terbakar sedikitpun, yan kedua adalah kisah Nabi Ismail AS yang disembelih oleh Nabi Ibrahim AS yang kemudian digantikan dengan seekor domba, serta kisah-kisah mukjizat lainnya.

 Akan tetapi setelah penurunan Alquran sudah dinyakan lengkap, maka semua hukum-hukum Sunnatullah (alam) diangap lengkap. Ini terbukti dengan turunnya ayat seperti berikut.

"...Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu" QS 5 ayat 3

" "Ya Tuhan kami, Engkau mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya" Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janjinya" QS 3 ayat 9

Ini artinya, semua kejadian di alam semesta saat ini ataupun kejadian d akhirat nanti, dipastikan akan berdasarkan hukum alam, yaitu hukum sebab-akibat, hukum logika, hukum Sunnatullah. Artinya apa?, karena semua hukum-hukum di dunia dan akhirat semuanya sudah sempurna, maka semua kejadian akan terus begitu sesuai hukum itu seterusnya dan tidak akan pernah ada perubahan. Dari sini sebetulnya dapat disimpulkan bahwa, kekuasaan Tuhan sudah dimandatkan kepada hukum-hukum yang sudah Tuhan ciptakan, dan hukum-hukum itu tidak akan pernah berubah apapun kondisinya, siapapun yang terkena, dan di manapun tempat kejadiannya, serta kapanpun waktunya karena telah dinyatakan sempurna. Hukum-hukum itu seperti dekrit, seperti "janji" dari yang punya alam semesta ini, dan janji itu tidak akan pernah berubah, ini sesuai dengan QS 3 ayat 9 di atas.

Hal ini mengindikasikan bahwa, Tuhan sudah tidak berperan secara langsung di dalam mengatur semua kejadian-kejadian yang ada di dunia dan di akhirat nanti kecuali sesuai dengan aturan main yang sudah ada di dalam hukum-hukum yang telah Dia ciptakan sebelumnya. Misalnya tentang turunnya hujan, maka agar hujan itu turun sebenarnya memerlukan kondisi-kondisi tertentu yaitu suatu persyaratan yang memungkinkan untuk hujan itu bisa turun. Karena turunnya hujan itu merupakan suatu fenomena yang mengikuti hukum alam yang telah diciptakan oleh Tuhan dan akan tetap begitu selamanya, maka kejadiannya dapat dipelajari, sehingga kedatangannya dapat diprediksi atau diramal. Itulah yang dimaksud dengan "Kehendak Tuhan". 

Misalkan turunnya hujan itu memang-memang benar-benar tergantung dari "Kehendak Tuhan" secara langsung saat ketika hujan itu akan turun. Artinya mengesampingkan hukum-hukum Sunnatullah, sehingga masih tergantung dari keinginan Tuhan ketika hujan itu akan turun, tentu datangnya hujan tidak akan dapat bisa diprediksi, karena akan tergantung dari keinginan Tuhan saat ketika sesuatu itu akan terjadi. Sehingga semuanya tidak akan ada yang pasti. Akan tetapi pada kenyataannya adalah tidak, hujan itu berjalan sesuai dengan hukum alam yang kejadiannya dapat diprediksi. Dengan demikian, maka QS 7 ayat 54 dapat dipahami bahwa Tuhan itu bersemayam, baca bertempat di Arsy setelah alam semesta ini diciptakan. Sedangkan "Aku dekat" yang terdapat di dalam QS 2 ayat 186 adalah hukum-hukumNya yang dekat, hukum-hukumNya yang mengatur proses di dalam tubuh seseorang bagaimana dia dapat hidup ataupun mati.

Demikian pula tentang keputusan seseorang akan masuk surga ataupun neraka, tentang ampunan dosa, tentang kesembuhan dari suatu penyakit yang diderita, dan tentang semua kejadian saat ini di dunia ataupun nanti di akhirat, semua itu akan tunduk pada hukum Sunnatullah. Tentang hal ini akan diterangkan sebagian dalam tulisan ini.

Itu semua karena Tuhan telah menggantikan peran-Nya sendiri untuk mengatur dunia saat ini dan akhirat nanti dengan hukum-hukum yang telah Dia ciptakan, dan hukum-hukumitu sudah tidak akan pernah berubah, sedangkan Dia sendiri sedang bersemayang di Arsy.

Saturday, June 06, 2026

KHOTBAH JUM'AT, 5Juni, 2026: TIADA DAYA DAN KEKUATAN KECUALI DENGAN PERTOLONGANALLAH

Khotbah Pertama


Segala puji bagi Allah Yang memiliki kekuatan yang kokoh. Mahasuci Dia, Dialah Yang memberi taufik dan pertolongan. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa junjungan serta nabi kita Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, keluarga beliau, para sahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau.

Amma ba‘du.

Aku berwasiat kepada diriku dan kepada kalian, wahai hamba-hamba Allah, agar bertakwa kepada Allah yang berfirman:

﴿ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ ﴾
"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. An-Nahl: 128)

Wahai kaum mukminin,

Dalam salah satu perjalanan Nabi ﷺ, Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu mengucapkan dalam dirinya:

«لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»
"Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."

Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:

«أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ؟ ... قُلْ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»
"Maukah aku tunjukkan kepadamu salah satu harta simpanan dari harta-harta surga? Ucapkanlah: 'Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh'."

Beliau mengetahui apa yang sedang terlintas dalam hati Abu Musa, lalu memberikan kabar gembira bahwa kalimat tersebut merupakan harta yang manfaatnya tetap dirasakan di dunia dan pahalanya sangat besar di akhirat.

Beliau juga menganjurkan para sahabat untuk memperbanyaknya. Kepada salah seorang dari mereka beliau bersabda:

«أَكْثِرْ مِنْ قَوْلِ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»
"Perbanyaklah mengucapkan: 'Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh'."

Tidak mengherankan, karena kalimat ini memiliki makna yang sangat agung. Kalimat ini berarti meniadakan daya dan kekuatan dari makhluk serta menetapkannya bagi Sang Pencipta. Tidak ada kemampuan untuk menolak keburukan dan tidak ada kekuatan untuk memperoleh kebaikan kecuali dengan pertolongan Allah.

Kalimat ini mengingatkan hati akan kelemahannya dan menghubungkannya dengan kekuatan Rabb-nya, sehingga hati menjadi semakin tawadhu' dan khusyuk.

Karena itu kalimat ini termasuk ucapan yang paling dicintai Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

«أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»
"Ucapan yang paling dicintai Allah adalah: Subḥānallāh, Lā ilāha illallāh, Allāhu Akbar, dan Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh."

Lalu kapan kita mengucapkannya?

Kita mengucapkannya saat memperoleh nikmat sebagai bentuk syukur kepada Allah atas karunia-Nya. Allah Ta'ala berfirman:

﴿ وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ﴾
"Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan: 'Mā syā'a Allāh, lā quwwata illā billāh'?" (QS. Al-Kahfi: 39)

Kita juga mengucapkannya saat memperoleh rezeki sebagai pengakuan atas karunia Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ أَكَلَ طَعَامًا ثُمَّ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا الطَّعَامَ، وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
"Barang siapa makan suatu makanan lalu mengucapkan: 'Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan menganugerahkannya kepadaku tanpa daya dan kekuatan dariku', maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

Kita juga mengulanginya ketika mendengar muazin mengucapkan:

«حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ»
"Marilah shalat, marilah menuju keberuntungan."

Karena tidak ada kemampuan untuk menunaikan shalat kecuali dengan pertolongan Allah, dan tidak ada keberhasilan kecuali dengan taufik dari-Nya.

Kita juga memulai doa dengannya, karena kalimat ini merupakan simbol harapan. Pernah datang seorang laki-laki kepada Nabi ﷺ lalu berkata: "Ajarkan kepadaku suatu doa yang bisa aku baca."
Maka beliau mengajarkan beberapa kalimat pujian kepada Allah, di antaranya:
«لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»
Laki-laki itu berkata:
"Kalimat-kalimat itu untuk Rabb-ku, lalu apa untuk diriku?"
Beliau menjawab:
«قُلِ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي»
"Ucapkanlah: Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, berilah aku petunjuk, dan karuniakanlah aku rezeki."

Dengan mengucapkan "Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh", pintu-pintu kebaikan dibukakan.

Kemudian Allah Ta'ala berfirman:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ﴾
"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian." (QS. An-Nisa': 59)

Aku mengatakan perkataan ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian.


Khotbah Kedua

Segala puji bagi Allah semata. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang tidak ada nabi setelah beliau.

Amma ba‘du.

Wahai kaum mukminin, Perbanyaklah mengucapkan:

«لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»
"Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."

Jadikanlah kalimat ini selalu menemani kehidupan kalian. Ucapkanlah ketika memperoleh keberhasilan sebagai ungkapan syukur. Ucapkanlah ketika menghadapi kesulitan sebagai permohonan pertolongan kepada Allah. Ucapkanlah ketika ditimpa kesusahan sebagai bentuk penyerahan urusan kepada-Nya.

Di saat lapang, Allah akan menambah karunia-Nya kepada kalian. Di saat sempit, Allah akan melimpahkan kelembutan dan pertolongan-Nya kepada kalian.

Ucapkanlah pula ketika keluar dari rumah, niscaya Rabb kalian akan membimbing langkah kalian dan memudahkan urusan kalian. Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ قَالَ إِذَا خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ: بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، يُقَالُ لَهُ: كُفِيتَ، وَوُقِيتَ، وَتَنَحَّى عَنْهُ الشَّيْطَانُ»
"Barang siapa ketika keluar dari rumahnya mengucapkan: 'Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah', maka akan dikatakan kepadanya: 'Engkau telah dicukupi, telah dilindungi, dan setan pun menjauh darinya'."

Kemudian marilah kita bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, kepada keluarga beliau, dan seluruh sahabat beliau.

Ya Allah, ridhailah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta seluruh sahabat yang mulia.

Ya Allah, jagalah Negara Uni Emirat Arab dari segala arah. Jagalah para pemimpinnya, penduduknya, dan semua yang tinggal di atas buminya.

Ya Allah, jagalah Syekh Mohammed bin Zayed, Presiden Negara, dengan penjagaan-Mu. Jadilah Engkau penolong dan pendukung baginya. Berkahilah usianya dan amalnya.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada beliau, para wakilnya, saudara-saudaranya para penguasa emirat, Putra Mahkota yang terpercaya, serta Perwakilan Penguasa di Al Dhafra, untuk melakukan segala sesuatu yang Engkau cintai dan Engkau ridhai.

Ya Allah, rahmatilah Syekh Zayed, Syekh Rashid, dan para pemimpin Emirat yang telah berpulang ke rahmat-Mu. Masukkanlah mereka dengan karunia-Mu ke dalam surga-Mu yang luas.

Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan ampunan-Mu kepada para syuhada tanah air.

Ya Allah, rahmatilah kaum muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

Wahai hamba-hamba Allah,

Ingatlah Allah Yang Maha Agung lagi Maha Mulia, niscaya Dia akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat itu kepada kalian.

Dan dirikanlah shalat!

Saturday, March 28, 2026

KHOTBAH JUM'AT, 27/03/2026: Ya Allah, Engkaulah Sandaran Kepercayaan Kami

Khotbah Pertama:


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Kepada-Nya orang-orang yang berharap bersandar, dan dengan tali agama-Nya orang-orang yang yakin berpegang teguh.
Kami bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, semata-mata Dia. Dan kami bersaksi bahwa junjungan kami Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan Allah.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, kepada keluarga, para sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti petunjuknya.

Amma ba’du:

Aku wasiatkan kepada kalian, wahai hamba-hamba Allah, dan kepada diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah, Rabb kalian, dan mengamalkan apa yang Dia perintahkan:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾

"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kalian, kuatkanlah kesabaran kalian, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung." (QS. Ali ‘Imran: 200)

Wahai kaum mukminin:

Pembahasan kita hari ini adalah tentang sebuah nilai keimanan yang agung. Tidaklah ia menghuni sebuah hati kecuali dipenuhi dengan ketenangan; tidak pula ia masuk ke dalam sebuah rumah kecuali menaunginya dengan ketenteraman; dan tidak pula hadir dalam sebuah masyarakat kecuali membangkitkan semangat, membuka pintu optimisme dan harapan, serta mendorong kepada amal yang baik.

Itulah percaya (tsiqah) kepada Allah Yang Maha Tinggi. Dialah Pencipta Yang Agung dan Pengatur Yang Maha Bijaksana.

﴿فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ﴾
"Maha Suci Allah yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu." (QS. Yasin: 83)

Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya.

Kita percaya kepada-Nya dalam segala hal, dan kita kembali kepada-Nya dalam segala urusan, dengan menghadirkan firman-Nya:

﴿قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا﴾
"Katakanlah: tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagi kami." (QS. At-Taubah: 51)

Dan firman-Nya:

﴿وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ﴾
"Milik Allah-lah perkara ghaib langit dan bumi, dan kepada-Nya segala urusan dikembalikan. Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya." (QS. Hud: 123)

Artinya: percayalah kepada Rabbmu, karena Dia akan mencukupimu, menolongmu, memberimu kemenangan, dan menguatkanmu.

Dan yakinlah dengan sabda Nabi ﷺ:

«أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ»
"Apa yang telah menimpamu tidak akan mungkin meleset darimu." (HR. Tirmidzi)

Tidakkah sampai kepadamu kisah para nabi, rasul, orang-orang bertakwa dan saleh, yang hati mereka penuh dengan kepercayaan kepada Rabb semesta alam?

Inilah kisah Hajar ‘alaihas-salam, ketika ditinggalkan oleh kekasih Allah, Nabi Ibrahim, di lembah yang tidak memiliki tanaman. Ia bertanya:

"Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?" Beliau menjawab: "Ya."

Maka Hajar berkata:
"إِذَنْ لَا يُضَيِّعْنَا اللَّهُ"
"Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami." (HR. Bukhari)

Ia tidak melihat sedikitnya bekal, tidak pula memperhatikan sunyinya lembah. Namun ia percaya kepada rahmat Rabbnya—dan itu menjadi kebaikan baginya.

﴿وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ﴾
"Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu baik bagi kalian." (QS. Al-Baqarah: 216)

Maka kepercayaan kepada Allah menjadi kunci kemudahan setelah kesulitan, dan jalan keluar setelah kesempitan.

Dan telah datang pula kepada kalian kisah Nabi Musa ‘alaihis-salam, ketika beliau keluar bersama kaumnya, lalu Fir’aun mengejar mereka dengan bala tentaranya. Hati pun guncang, jalan terasa sempit, dan orang-orang yang takut berkata:

﴿إِنَّا لَمُدْرَكُونَ﴾
"Kita pasti akan tertangkap." (QS. Asy-Syu’ara: 61)

Namun orang yang percaya kepada Rabbnya akan tetap kokoh hatinya, hilang rasa takutnya, dan menebarkan ketenangan kepada orang di sekitarnya.

Musa berkata kepada kaumnya:

﴿كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ﴾
"Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Rabbku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku." (QS. Asy-Syu’ara: 62)

Maka Allah menyelamatkan mereka dengan rahmat-Nya, dan membelah laut dengan kekuasaan-Nya.

﴿وَأَنْجَيْنَا مُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ﴾
"Dan Kami selamatkan Musa beserta orang-orang yang bersamanya semuanya." (QS. Asy-Syu’ara: 65)

Maka ketahuilah — wahai hamba-hamba Allah — bahwa siapa yang benar-benar percaya kepada Tuhannya, niscaya Allah akan menjauhkannya dari bahaya, menyelamatkannya, membimbingnya, dan menguatkannya.

Ingatlah ketika Nabi kita ﷺ masuk ke dalam gua (Gua Tsur), lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata:

"Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, niscaya ia akan melihat kita."

Maka beliau ﷺ menjawab dengan kepercayaan yang kokoh dan keyakinan yang tidak tergoyahkan:

«مَا ظَنُّكَ يَا أَبَا بَكْرٍ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا»
"Wahai Abu Bakar, bagaimana menurutmu tentang dua orang yang Allah adalah yang ketiga bersama mereka?" (HR. Bukhari dan Muslim)

Lalu Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada beliau dan menolongnya dengan bala tentara yang tidak terlihat:

﴿فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا﴾
"Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya dan menguatkannya dengan bala tentara yang tidak kalian lihat." (QS. At-Taubah: 40)

Maka peristiwa ini menjadi pelajaran bagi orang-orang yang yakin, dan ibrah bagi orang-orang yang percaya kepada Allah. Mereka mampu mengubah ujian menjadi anugerah, dan kesulitan menjadi kekuatan.

Mereka berusaha dengan sungguh-sungguh, mengambil sebab-sebab yang ada, namun hati mereka tetap bergantung penuh kepada Rabb mereka.

Dengan cara inilah Nabi ﷺ mendidik para sahabat yang mulia radhiyallahu ‘anhum. Ketika musuh mengancam negeri mereka, tampaklah kepercayaan mereka kepada Allah, dan hal itu tidak menambah mereka kecuali keimanan dan ketundukan:

﴿وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا﴾
"Dan hal itu tidak menambah mereka kecuali keimanan dan ketundukan." (QS. Al-Ahzab: 22)

Maka Allah meneguhkan hati mereka dan menguatkan langkah-langkah mereka. Mereka pun menunjukkan keberanian yang luar biasa. Allah pun mengembalikan tipu daya musuh ke arah mereka sendiri:

﴿وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا﴾
"Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan, dan Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (QS. Al-Ahzab: 25)

Kemudian Allah berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ﴾
"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta para pemimpin di antara kalian." (QS. An-Nisa: 59)

Aku menyampaikan perkataanku ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian. Maka mohonlah ampun kepada-Nya

Khutbah Kedua:

Segala puji bagi Allah semata, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi yang tidak ada nabi setelahnya

Amma ba’du:

Wahai orang-orang yang beriman kepada Rabb kalian, ketahuilah bahwa iman kepada Allah menjadikan:
ketika diliputi rasa takut, Allah memberikan keamanan dan ketenangan,
ketika menghadapi kesulitan, Allah hadirkan kemudahan dan ketenteraman,
ketika berada dalam kelemahan, Allah berikan kekuatan dan perlindungan,
dan ketika dalam kekurangan, Allah limpahkan kelapangan serta kecukupan.

Pernah ditanya kepada salah seorang ulama: “Apa hartamu?”
Ia menjawab: “Kepercayaan kepada Allah, itulah harta yang banyak lagi baik.”

Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang percaya kepada-Nya:

﴿إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا﴾
"Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman." (QS. Al-Hajj: 38)

Waspadalah terhadap orang-orang yang menyebarkan kabar bohong, membesar-besarkan tantangan, dan menebarkan rasa takut sebagaimana perbuatan setan:

﴿إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ﴾
"Sesungguhnya itu hanyalah setan yang menakut-nakuti para pengikutnya." (QS. Ali ‘Imran: 175)

Maka berbaik sangkalah kepada Allah, dan percayalah kepada janji-Nya. Sungguh telah sampai kepada kalian sabda-Nya dalam hadits qudsi:

«أَنَا عِنْدَ ظَنَّ عَبْدِي بِي»
"Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku." (HR. Bukhari dan Muslim)

Perbanyaklah berdoa kepada-Nya, sebagai pengamalan firman-Nya:

﴿ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ﴾
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuk kalian." (QS. Ghafir: 60)

Dan sabda Nabi ﷺ:

«لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ»
"Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa." (HR. Tirmidzi)

Wahai hamba-hamba Allah, kokohkanlah kepercayaan kalian kepada para pemimpin kalian. Sungguh mereka telah menunjukkan kepada dunia kebijaksanaan, baiknya pengelolaan, serta membawa negeri menuju keamanan dan stabilitas.

Dan bersyukurlah kepada Rabb kalian atas turunnya hujan, karena itu merupakan bagian dari rahmat-Nya dan kabar gembira dari-Nya.

﴿وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَى قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْأَقْدَامَ﴾
"Dan Dia menurunkan kepada kalian air dari langit untuk menyucikan kalian dengannya, menghilangkan gangguan setan dari kalian, menguatkan hati kalian, dan meneguhkan langkah-langkah kalian." (QS. Al-Anfal: 11)

Demikian, dan semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.

Ya Allah, ridhailah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta seluruh sahabat yang mulia.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang beriman kepada-Mu, yang memiliki keyakinan yang kuat, yang benar-benar percaya kepada-Mu, yang senantiasa beribadah kepada-Mu, dan yang berbakti kepada kedua orang tua kami.

Kasihilah mereka sebagaimana mereka telah mendidik kami ketika kami kecil, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Ya Allah, Engkaulah kepercayaan kami dan harapan kami. Kepada-Mu kami bersandar dan bertawakal. Kami tidak mengharapkan selain rahmat-Mu, dan kami tidak meminta pertolongan kecuali dengan kekuatan-Mu.

Maka jagalah Negara Uni Emirat Arab dengan kekuasaan-Mu, jagalah para pemimpinnya, rakyatnya, dan seluruh yang tinggal di atasnya. Jagalah daratannya, lautannya, dan langitnya. Lindungilah dari agresi para penyerang, dari kejahatan musuh dan orang-orang yang dengki. Kembalikanlah makar mereka kepada diri mereka sendiri, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, lindungilah para tentara negeri kami yang pemberani. Kuatkanlah mereka, teguhkan tekad mereka, tepatkan sasaran mereka, dan tolonglah mereka dalam menghadapi musuh-Mu dan musuh mereka. Limpahkanlah pahala dan ganjaran yang besar bagi mereka.

Ya Allah, jagalah Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Presiden negara kami, dengan penjagaan-Mu. Limpahkan kepadanya pemeliharaan-Mu, naungi dia dengan perhatian-Mu. Jadikanlah amalnya dalam ketaatan kepada-Mu.

Tolonglah dia dengan pertolongan-Mu, mudahkan urusannya menuju kebaikan. Jadilah Engkau penolong, pendukung, pemberi petunjuk, dan yang meluruskannya. Terangilah pandangannya, berkahilah langkah perjalanannya, luruskan ucapan dan perbuatannya. Limpahkan keberkahan dalam umur dan amalnya.

Jadikan dia sebagai pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan, serta orang yang diberi taufik dalam setiap urusan. Ya Allah, berikanlah taufik kepadanya, para wakilnya, saudara-saudaranya para penguasa emirat, serta putra mahkota dan para pemimpin, untuk melakukan apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai.

Ya Allah, rahmatilah Zayed bin Sultan Al Nahyan, Rashid bin Saeed Al Maktoum, serta para syaikh pemimpin Emirat yang telah wafat. Masukkanlah mereka dengan karunia-Mu ke dalam surga-Mu yang luas.

Limpahkan rahmat dan ampunan-Mu kepada para syuhada negeri ini. Berikanlah kepada mereka pahala yang berlimpah, curahkan kepada mereka karunia-Mu yang luas, dan berikanlah balasan terbaik bagi keluarga mereka sebagaimana balasan bagi orang-orang yang sabar.

Ya Allah, rahmatilah seluruh kaum muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

Ya Allah, jadikanlah apa yang Engkau turunkan dari hujan-Mu sebagai curahan rahmat dan nikmat, yang dengannya Engkau melimpahkan keberkahan, dan Engkau tumbuhkan berbagai kebaikan.

Wahai hamba-hamba Allah:
Ingatlah Allah Yang Maha Agung lagi Maha Mulia, niscaya Dia akan mengingat kalian. Bersyukurlah atas nikmat-nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah (nikmat) kepada kalian.

KHOTBAH JUM'AH, 20/03/2026: Bukankah Kami Telah Melapangkan Untukmu Dadamu

Khotbah Pertama:

Segala puji bagi Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Mensyukuri (hamba-Nya), Yang melapangkan dada, Yang mengatur segala urusan. 
Kita bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah, dan kita bersaksi bahwa junjungan kita Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya.

Amma ba’du: Aku wasiatkan kepada kalian wahai hamba-hamba Allah dan kepada diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا ﴾

Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Talaq : 4)

Wahai orang-orang beriman: Kita memuji Allah Ta’ala pada hari yang baik dan penuh berkah ini, karena Dia telah memuliakan kita dengan menyempurnakan bulan kita, dan mempertemukan kita dengan hari raya kita. Kita bergembira dengan ketaatan kepada Rabb kita, optimis dengan karunia-Nya, terus menjaga ibadah kepada-Nya, serta mentadabburi surat-surat Al-Qur’an-Nya. Maka pada hari ini kita berhenti sejenak bersama Surah Asy-Syarh, yang mengandung pengingat akan tiga nikmat besar, janji yang meringankan berbagai kesulitan berat, serta dua perintah yang mendekatkan kepada Allah Yang Maha Agung lagi Maha Mulia.

Dan nikmat pertama dari nikmat-nikmat tersebut adalah apa yang Allah ‘Azza wa Jalla buka dengannya surah ini, yaitu firman-Nya:

﴿ أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ ﴾

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?

Maka kelapangan dada termasuk nikmat Allah yang paling agung kepada Nabi kita, dan termasuk tujuan terbesar dari agama kita. Maka ikutilah petunjuk Nabi kalian, niscaya dada kalian akan dilapangkan, dan urusan kalian akan dimudahkan.

Dan nikmat kedua adalah firman-Nya:

﴿ وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ * الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ ﴾

Dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu, yang memberatkan punggungmu.

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghilangkan dari Nabi-Nya segala kesulitan dan kesempitan. Bagaimana tidak? Dialah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi karunia, yang apabila membebani maka Dia juga memberi pertolongan.

Dan nikmat ketiga adalah firman-Nya:

﴿ وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ ﴾

Dan Kami telah meninggikan bagimu sebutan (namamu).”

Allah Ta’ala telah meninggikan sebutan Nabi kita, mengangkat derajatnya, dan mengabadikan pujiannya. Benarlah perkataan penyair:

Allah menyandingkan nama Nabi dengan nama-Nya, ketika muadzin mengucapkan dalam lima waktu: Asyhadu...

Kemudian dalam Surah Asy-Syarh terdapat janji yang menenangkan hati dan membahagiakan jiwa, yaitu firman-Nya:

﴿ فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا * إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴾

Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

Benar, bahwa kemudahan selalu menyertai kesulitan, dan satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Maka hidupkanlah hati dengan harapan, dan makmurkanlah dengan prasangka baik.

Allah Ta’ala juga berfirman:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ﴾

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta pemimpin di antara kalian.

Aku berkata demikian, dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian, maka mohonlah ampun kepada-Nya.

Khutbah Kedua:

Segala puji bagi Allah semata, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi yang tidak ada nabi setelahnya.

Amma ba’du: Wahai orang-orang beriman, sungguh Allah Ta’ala menutup Surah Asy-Syarh dengan dua perintah agung yang membangkitkan semangat dan menguatkan tekad. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

﴿ فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ * وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ ﴾

Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (dalam urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmu engkau berharap.

Artinya, apabila engkau telah selesai dari suatu urusan maka beralihlah kepada urusan lainnya, dan apabila telah menuntaskan suatu amal maka segeralah menuju amal berikutnya. Seorang mukmin senantiasa berpindah antara amal dan ibadah, antara kewajiban dan sunnah, dari sedekah menuju silaturahmi, dari belajar menuju mengajar, dari kewajiban menuju amalan sukarela, serta dari satu musim kebaikan menuju musim kebaikan berikutnya.

Maka bersungguh-sungguhlah wahai kalian yang telah berpisah dengan Ramadhan, jangan sampai perpisahan kalian dengannya juga menjadi perpisahan dengan puasa, qiyam, dzikir, Al-Qur’an, sedekah, dan kebaikan. Sesungguhnya siapa yang telah merasakan manisnya kedekatan dengan Allah di bulan Ramadhan, maka sangat layak baginya untuk terus mengetuk pintu ketaatan di sepanjang waktu.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya. Ya Allah, ridhailah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta seluruh sahabat yang mulia.

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang beriman kepada-Mu, beribadah kepada-Mu, mentadabburi Al-Qur’an, menyebarkan optimisme, berbakti kepada kedua orang tua kami. Dan rahmatilah mereka sebagaimana mereka telah mendidik kami di waktu kecil, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Ya Allah, jagalah Syaikh Muhammad bin Zayed, Presiden negara, dengan penjagaan-Mu, lindungilah dia dengan kelembutan-Mu, liputilah dia dengan rahmat-Mu, sertakan dia dalam pemeliharaan-Mu, naungilah dia dengan perhatian-Mu. Jadikanlah amalnya dalam ketaatan kepada-Mu, kuatkanlah dia dengan pertolongan-Mu, dan siapkan baginya petunjuk yang lurus dalam setiap urusannya. Jadilah Engkau baginya penolong dan sandaran, pemberi petunjuk dan peneguh. Terangilah pandangannya, berikan taufik dalam perjalanannya, luruskan ucapan dan perbuatannya, berkahilah umurnya dan amalnya, serta jadikan dia sebagai pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan, dan orang yang diberi taufik dalam setiap urusan. Ya Allah, berilah taufik kepadanya, para wakilnya, saudara-saudaranya para penguasa emirat, putra mahkotanya yang terpercaya, serta perwakilan penguasa di Adh-Dhafrah, kepada apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai.

Ya Allah, rahmatilah Syaikh Zayed dan Syaikh Rasyid, serta para pemimpin emirat yang telah wafat, masukkanlah mereka dengan karunia-Mu ke dalam surga-Mu yang luas. Liputilah para syuhada tanah air dengan rahmat dan ampunan-Mu, limpahkan kepada mereka pahala-Mu, curahkan kepada mereka karunia-Mu yang melimpah, dan berikan balasan terbaik kepada keluarga mereka sebagaimana balasan bagi orang-orang yang sabar.

Wahai hamba-hamba Allah: ingatlah Allah Yang Maha Agung, niscaya Dia akan mengingat kalian. Bersyukurlah atas nikmat-nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambahkannya kepada kalian.

Dan dirikanlah shalat.

KULTUM RAMADAN BA'DA ASHAR, 16/03/2026: Beberapa Hukum Zakat Fitrah

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, yang telah mensyariatkan zakat fitrah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada sebaik-baik orang yang menunaikan zakat, serta kepada keluarga dan seluruh sahabatnya, dan kepada siapa saja yang mengikuti mereka dengan kebaikan hingga Hari Pembalasan.

Amma ba‘du,

Sesungguhnya agama kita yang lurus telah mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang-orang yang berpuasa, dan sebagai rahmat bagi orang-orang fakir dan miskin.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

فَرَضَ رَسُولُ اللهِ ﷺ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةَ لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan perbuatan keji, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin.”

Zakat fitrah memiliki beberapa hukum yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pertama:

Zakat fitrah dikeluarkan dari makanan pokok yang umum dikonsumsi oleh penduduk suatu negeri, seperti beras, gandum, dan sejenisnya.

Tidak diperbolehkan mengeluarkannya dari sesuatu yang bukan makanan pokok, seperti garam, gula, dan sejenisnya.

Adapun ukurannya adalah sekitar dua setengah kilogram untuk setiap orang.

Dan diperbolehkan pula mengeluarkannya dalam bentuk uang. Dewan Fatwa Syariah Uni Emirat Arab telah menetapkan nilainya sebesar 25 dirham.

Kedua:

Zakat fitrah wajib bagi setiap Muslim yang mampu untuk mengeluarkannya, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang-orang yang berada dalam tanggungannya, seperti: istrinya, anak-anaknya, kedua orang tuanya yang membutuhkan.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

فَرَضَ رَسُولُ اللهِ ﷺ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ، صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ

Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadan kepada manusia, sebesar satu sha‘ kurma atau satu sha‘ gandum.

Ketiga:

Zakat fitrah boleh dikeluarkan dua atau tiga hari sebelum Idul Fitri.
Bahkan tidak mengapa jika dikeluarkan sejak awal bulan Ramadan, terutama ketika ada kebutuhan.

Yang lebih utama adalah menyerahkannya kepada lembaga resmi yang terpercaya, karena hal tersebut lebih menjamin sampainya kepada orang-orang yang berhak menerimanya.

Keempat:

Yang paling utama adalah mengeluarkannya sebelum shalat Idul Fitri, berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Barang siapa menunaikannya sebelum shalat (Id), maka ia adalah zakat yang diterima. Dan barang siapa menunaikannya setelah shalat, maka ia hanyalah sedekah di antara sedekah-sedekah.

Barang siapa belum mengeluarkannya sebelum shalat, maka hendaknya ia segera mengeluarkannya setelah shalat.

Dan tidak boleh menundanya melewati hari raya. Jika seseorang menundanya, maka ia harus segera mengeluarkannya ketika ia mengingatnya.

Penutup:

Marilah kita menjaga kewajiban zakat fitrah, dan bersegera menunaikannya pada waktunya, serta mengajarkan hukum-hukumnya kepada anak-anak kita, baik laki-laki maupun perempuan.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا لِلزَّكَاةِ فَاعِلِينَ، وَلِنِعَمِكَ شَاكِرِينَ، وَتَقَبَّلْ مِنَّا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang menunaikan zakat, yang bersyukur atas nikmat-nikmat-Mu, dan terimalah amal kami, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”

وَصَلِّ اللَّهُمَّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

KHOTBAH JUM'AT, 13/03/2026: Surat Al Qadr

Khutbah Pertama:

Segala puji bagi Allah Yang memulai penciptaan dan mengulanginya kembali, yang menyebarkan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya, dan Dia-lah Pelindung lagi Maha Terpuji.
Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ﴾

Mahasuci Dia, yang menghancurkan setiap penguasa yang sombong dan keras kepala. Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar sangat keras.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ﴾

"Sesungguhnya azab Tuhanmu sangat keras." (QS. Al-Buruj: 12)

Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan kami bersaksi bahwa junjungan kami Muhammad adalah Rasul Allah. Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, kepada keluarga dan para sahabatnya, serta kepada siapa saja yang mengikuti petunjuknya.

Amma ba‘du,

Aku wasiatkan kepada kalian wahai hamba-hamba Allah dan kepada diriku sendiri agar bertakwa kepada Allah, Tuhan kalian, serta melaksanakan apa yang Dia perintahkan, agar kalian beruntung di dunia dan di akhirat. Dengarkanlah seruan Pencipta kalian:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾
"Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (QS. Ali ‘Imran: 200)

Wahai orang-orang yang berpuasa, yang menegakkan qiyam, yang khusyuk dalam ibadah, dan yang senantiasa berdzikir; wahai kalian yang berpindah dari satu bentuk ketaatan ke ketaatan lainnya, dan yang terus naik dalam derajat kedekatan kepada Rabb kalian.

Bergembiralah dan berbahagialah, karena Allah telah menganugerahkan kepada kalian sebuah karunia dan keutamaan. Dia telah menurunkan kepada kalian sebuah peringatan dari sisi-Nya, yang membuat hati tunduk khusyuk di hadapan makna-maknanya, dan lisan-lisan memuji Allah atas apa yang telah Dia turunkan di dalamnya.

Itulah Kitab Rabb kita, yang Allah turunkan pada suatu malam yang penuh keberkahan.

﴿إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ﴾
"Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi." (QS. Ad-Dukhan: 3)

Pada malam itu ditetapkan berbagai ketentuan, diputuskan berbagai urusan, dituliskan rezeki, ajal, serta seluruh peristiwa yang terjadi sepanjang tahun.

Itulah Lailatul Qadar, malam yang Allah Ta‘ala abadikan dalam sebuah surah yang dinamai dengan namanya, sebagai bentuk pengagungan terhadap kedudukannya dan kemuliaan nilainya.

Ia adalah surah yang singkat dalam susunannya, namun sangat agung dalam maknanya. Surah ini datang di antara dua surah yang mulia. Sebelumnya adalah Surah Al-‘Alaq yang dimulai dengan firman Allah:
﴿اقْرَأْ﴾
"Bacalah."

Hal itu menunjukkan permulaan turunnya wahyu dan waktunya, kemudian setelahnya datang Surah Al-Bayyinah yang di dalamnya tampak cahaya dan bukti kebenarannya. Surah Al-Qadr berada di antara keduanya untuk menjelaskan kemuliaan waktu turunnya Al-Qur’an.

Allah Ta‘ala berfirman:
﴿إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ﴾
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar." (QS. Al-Qadr: 1)

Perhatikanlah, betapa dalam ayat yang mulia ini terdapat berbagai isyarat pengagungan terhadap Allah dan terhadap malam ketika Kitab Allah diturunkan.

Salah seorang ulama salih berkata:
“Pada malam itu diturunkan kitab yang agung, melalui malaikat yang agung, kepada nabi yang agung.”

Wahai hamba-hamba Allah,

Renungkanlah bagaimana Allah Ta‘ala mengulang penyebutan Lailatul Qadar tiga kali dalam Surah Al-Qadr. Hal itu untuk menarik perhatian pendengaran manusia terhadap besarnya kedudukan malam tersebut, serta menanamkan dalam hati keagungan nilainya.

Kemudian datanglah pertanyaan yang agung, yang menggugah hati dan membangunkan akal:

﴿وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ﴾
"Tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu?" (QS. Al-Qadr: 2)

Pertanyaan ini menegaskan bahwa hakikat keagungan malam itu berada di luar jangkauan bayangan manusia, dan keutamaannya tidak dapat sepenuhnya dipahami oleh akal manusia.

Lalu datanglah jawaban yang agung:
﴿لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ﴾
"Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan." (QS. Al-Qadr: 3)

Allah tidak mengatakan sama dengan, tetapi mengatakan lebih baik, sebagai isyarat bahwa keutamaannya melampaui segala perbandingan.

Ia adalah malam di mana amal ibadah di dalamnya melebihi amal ibadah sepanjang umur yang panjang.

Maka beruntunglah orang yang Allah dapati pada malam itu berdiri dalam shalat dengan penuh kekhusyukan, atau terdengar suaranya bersama orang-orang yang berdoa dengan penuh kerendahan, atau Allah melihatnya bergegas dalam sedekah dan kebaikan.

Karena itu, manfaatkanlah seluruh malam pada sepuluh malam terakhir, dengan meneladani Nabi ﷺ.
Sesungguhnya beliau apabila memasuki sepuluh malam terakhir:
mengencangkan ikat pinggangnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah), menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah.

Khususkanlah malam-malam ganjil dengan usaha ibadah yang lebih sungguh-sungguh. Nabi ﷺ bersabda:

«تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ»
"Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan."

Dengan demikian, kalian lebih berpeluang untuk tidak terluput dari Lailatul Qadar. Sebab ia adalah malam yang sangat agung. Nabi ﷺ bersabda:

«مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ»
"Barang siapa yang terhalang dari kebaikan malam itu, maka sungguh ia benar-benar telah terhalang dari kebaikan yang besar."

Bagaimana tidak demikian, padahal pada malam itu para malaikat yang mulia turun ke bumi, dan di tengah mereka ada Jibril ‘alaihissalam. Mereka turun secara berombongan demi berombongan.

Allah Ta‘ala berfirman:
﴿تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ﴾
"Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan." (QS. Al-Qadr: 4)

Bahkan disebutkan bahwa jumlah malaikat pada malam itu di bumi lebih banyak daripada jumlah kerikil. Mereka memberi salam kepada orang-orang beriman dan mengaminkan doa para hamba yang beribadah.

Maka beruntunglah orang yang menghidupkan malam itu dengan penuh keikhlasan kepada Tuhannya, sambil mengingat sabda Nabi ﷺ:
«مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
"Barang siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

Dan alangkah berbahagianya orang yang mengulang-ulang doa yang diajarkan Nabi ﷺ ketika Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya: “Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui malam mana Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca di dalamnya?” Beliau menjawab:
«قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي»
"Katakanlah: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku."

Kemudian Allah Ta‘ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ﴾
"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan pemimpin di antara kalian." (QS. An-Nisa: 59)

Aku mengatakan perkataan ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian. Maka mohonlah ampun kepada-Nya.

Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah semata. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang tidak ada nabi setelahnya.

Amma ba‘du,
Wahai orang-orang yang berpuasa, Allah Ta‘ala berfirman pada penutup Surah Al-Qadr:

﴿سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ﴾
"Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar." (QS. Al-Qadr: 5)

Malam itu adalah malam kedamaian yang menyelimuti ruh-ruh manusia sehingga dipenuhi ketenangan dan ketenteraman. Kedamaian itu juga meliputi bumi, menghiasinya dengan keamanan, keberkahan, dan rahmat.

Perhatikanlah bagaimana Allah menghendaki kedamaian bagi hamba-hamba-Nya, dan menyebarkan sebab-sebab ketenteraman bagi mereka.

Namun orang-orang yang melampaui batas dan zalim menentang perintah Allah serta membuat kerusakan di muka bumi. Benarlah firman Allah Ta‘ala tentang mereka:
﴿كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ﴾
"Setiap kali mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya. Mereka berusaha membuat kerusakan di bumi, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Ma’idah: 64)

Namun tidak mungkin mereka mampu menggoyahkan kepercayaan kita kepada Rabb kita, tidak pula merusak keamanan kita, dan tidak pula melemahkan persatuan kita.

Karena kita mengambil ketenangan dari firman Allah:
﴿حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ﴾
bahwa fajar pasti akan datang, dan pertolongan pasti tiba.

Allah Ta‘ala berfirman:
﴿فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا • إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا﴾
"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Asy-Syarh: 5–6)

Sesungguhnya Allah عز وجل menjaga negeri ini dan memuliakannya dengan berbagai kebaikan yang dilakukannya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
«صَنَائِعُ الْمَعْرُوفِ تَقِي مَصَارِعَ السَّوْءِ»
"Perbuatan-perbuatan baik dapat melindungi dari berbagai kebinasaan."

Negeri ini mengulurkan tangan kebaikannya kepada yang dekat maupun yang jauh melalui bantuan dan pemberian. Ia menolong orang-orang yang membutuhkan dan mereka yang lemah.

Di antara kebaikan yang kita saksikan adalah program yang didukung oleh Yang Mulia Sheikh Muhammad bin Zayed, Presiden Negara – semoga Allah menjaganya – yaitu inisiatif “Umm Al-Imarat untuk Penjaminan Anak Yatim” melalui Otoritas Wakaf Abu Dhabi.

Maka berpartisipasilah dalam program tersebut agar kalian memperoleh pahala yang mulia dari Allah.

Dan makmurkanlah hari-hari yang penuh berkah ini dengan ketaatan kalian, serta manfaatkanlah kesempatan yang agung ini dengan memperbanyak zikir dan merendahkan diri dalam doa kepada Pencipta kalian. Karena Dia telah memerintahkan kalian untuk berdoa dan menjanjikan akan mengabulkannya. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ﴾
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuk kalian." (QS. Ghafir: 60)

Ya Allah, wahai Yang Maha Mengabulkan doa, jagalah negeri kami, Uni Emirat Arab, jagalah para pemimpinnya, rakyatnya, dan seluruh orang yang tinggal di atasnya. Jagalah daratan, lautan, dan langitnya dengan penjagaan yang sesuai dengan kekuasaan dan keagungan-Mu.

Berikanlah kepadanya pertolongan yang sesuai dengan kemampuan dan kebesaran-Mu. Selimutilah negeri ini dengan perhatian dan keamanan-Mu, dan teruskanlah atasnya nikmat keamanan, kemuliaan, dan kebaikan, wahai Dzat Yang Maha Agung lagi Maha Mulia.

Ya Allah, lindungilah negeri ini dari permusuhan para penyerang, dari kejahatan para musuh dan orang-orang yang dengki. Ya Allah, balaslah mereka sesuai dengan kejahatan mereka, dan perlakukan mereka sesuai dengan keburukan perbuatan serta niat jahat mereka. Kembalikanlah tipu daya mereka kepada diri mereka sendiri, dan jagalah negeri kami, wahai Tuhan seluruh alam.

Ya Allah, jagalah para tentara negeri kami yang gagah berani. Kuatkanlah mereka, teguhkanlah tekad mereka, tepatkanlah sasaran mereka, dan menangkanlah mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka. Limpahkanlah kepada mereka pahala dan balasan yang besar.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya. Ya Allah, ridhailah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta seluruh sahabat yang mulia.

Ya Allah, terimalah dari kami puasa, qiyam, dan tilawah Al-Qur’an kami, dan tolonglah kami untuk selalu taat kepada-Mu, wahai Yang Maha Pengasih.

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang beriman kepada-Mu, beribadah hanya kepada-Mu, dan termasuk orang-orang yang beruntung dengan keutamaan Lailatul Qadar.

Jadikanlah kami anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tua, dan rahmatilah mereka sebagaimana mereka telah membesarkan kami ketika kecil, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Ya Allah, jagalah Sheikh Muhammad bin Zayed, Presiden Negara, dengan penjagaan-Mu. Lindungilah dia dengan kelembutan-Mu, limpahkan kepadanya rahmat-Mu, naungi dia dengan perhatian-Mu, dan jadikanlah amalnya dalam ketaatan kepada-Mu.

Tolonglah dia dengan pertolongan-Mu, mudahkan urusannya menuju kebaikan, jadilah baginya penolong dan pendukung, pemberi petunjuk dan penuntun. Terangilah pandangannya, berkahilah langkahnya, luruskan perkataan dan perbuatannya, serta berkahilah umur dan amalnya. Penutup Khutbah Kedua

Ya Allah, jadikanlah dia pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan, serta berikanlah taufik kepadanya dalam setiap urusan.

Ya Allah, berilah taufik kepadanya, kepada para wakilnya, saudara-saudaranya para penguasa Emirat, serta Putra Mahkota yang terpercaya dan Perwakilan Penguasa di Al-Dhafra, untuk melakukan segala sesuatu yang Engkau cintai dan Engkau ridhai.

Ya Allah, rahmatilah Sheikh Zayed, Sheikh Rashid, serta para pemimpin Emirat yang telah berpulang ke rahmat-Mu. Masukkanlah mereka dengan karunia-Mu ke dalam surga-Mu yang luas.

Limpahkanlah rahmat dan ampunan-Mu kepada para syuhada tanah air, berikanlah kepada mereka pahala yang besar, curahkanlah kepada mereka karunia-Mu yang melimpah, dan berikanlah kepada keluarga mereka balasan terbaik sebagaimana balasan yang Engkau berikan kepada orang-orang yang sabar.

Ya Allah, rahmatilah kaum muslimin dan muslimat, yang masih hidup maupun yang telah wafat.

Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan, dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.
Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.
Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.
Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.

Wahai hamba-hamba Allah, ingatlah Allah Yang Maha Agung lagi Maha Mulia, niscaya Dia akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambahkannya kepada kalian.

Dan dirikanlah shalat.

KULTUM RAMADHAN BA'DA ASHAR, 10/03/2026: Sepuluh Hari Terakhir (Ramadhan)



Segala puji bagi Allah, Pemilik keagungan dan kemuliaan, yang telah mempertemukan kita dengan sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, dan menjadikan di dalamnya malam terbaik sepanjang tahun.

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabat beliau yang mulia, serta kepada orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka dengan kebaikan sepanjang masa.

Amma ba‘du,

Wahai orang-orang yang berpuasa,
Inilah sepuluh hari terakhir dari bulan yang mulia ini telah tiba. Ia adalah hari-hari terbaik dalam Ramadan, dan di dalamnya terdapat malam-malam yang paling agung. Maka bersungguh-sungguhlah di dalamnya dengan berbagai bentuk ketaatan, meneladani Rasulullah ﷺ.

Sungguh, beliau bersungguh-sungguh dalam sepuluh malam terakhir dengan kesungguhan yang tidak beliau lakukan pada waktu lainnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«كَانَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ»

"Beliau bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir melebihi kesungguhan beliau pada waktu-waktu lainnya."

Di antara amalan penting yang membantu orang yang berpuasa untuk meraih pahala besar pada sepuluh hari ini adalah sebagai berikut:

Pertama: Menjaga shalat berjamaah, terutama shalat Isya dan Subuh. 
Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ»

"Barang siapa menunaikan shalat Isya berjamaah, maka seakan-akan ia telah menghidupkan setengah malam. Dan barang siapa menunaikan shalat Subuh berjamaah, maka seakan-akan ia telah menghidupkan seluruh malam."

Kedua: Bersungguh-sungguh dalam berbagai ketaatan seperti qiyamullail, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan berdoa. Juga mendorong keluarga untuk melakukan hal tersebut agar mereka memperoleh keutamaan dan pahala.

Dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

«كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ»

"Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir, Nabi ﷺ menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh, dan mengencangkan ikat pinggangnya (bersiap dengan penuh kesungguhan dalam ibadah)."

Ketiga: Menambah kesungguhan pada malam-malam ganjil, karena malam-malam tersebut lebih besar harapannya untuk bertepatan dengan Lailatul Qadar. Rasulullah ﷺ bersabda:

«تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ»

"Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan."

Keempat: Memperbanyak doa, baik untuk diri kita, keluarga kita, kerabat kita, maupun untuk negeri kita, para pemimpin kita, dan presiden negara kita.

Di antara doa yang memiliki keutamaan besar pada malam Lailatul Qadar adalah doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

«أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيَّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟»

"Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui malam mana yang merupakan Lailatul Qadar, apa yang sebaiknya aku ucapkan di dalamnya?"

Beliau ﷺ menjawab:

«قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي»

"Ucapkanlah: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku."

Inilah malam-malam yang jumlahnya sedikit, namun pahalanya sangat besar. Maka hendaklah kita memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, bersungguh-sungguh dalam ketaatan pada malam-malam tersebut, dengan harapan dapat meraih keutamaan Lailatul Qadar, malam yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:

﴿لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ﴾

"Malam Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan." (QS. Al-Qadr: 3)

Ya Allah, berkahilah bagi kami sepuluh malam terakhir ini, dan bantulah kami di dalamnya untuk berpuasa dan menegakkan qiyam.

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.

KULTU RAMADHAN BA'DA ASHAR, 11/06/2026: Bulan Kebaikan Dan Ihsan

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, yang mencintai hamba-hamba-Nya yang berbuat ihsan. Semoga shalawat yang paling utama dan salam yang paling sempurna tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau, serta kepada orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan hingga Hari Pembalasan.

Amma ba‘du,

Wahai orang-orang yang berpuasa,
Sesungguhnya ihsan adalah akhlak yang luhur. Ia mencakup kesempurnaan dalam beramal, kemurahan dan kedermawanan, serta kesadaran akan pengawasan Allah dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan. Ihsan merupakan tanda kejernihan jiwa dan kemuliaan akhlak.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ﴾

"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan." (QS. An-Nahl: 128)

Bulan Ramadan adalah medan yang agung untuk melatih jiwa agar memiliki sifat ihsan dalam seluruh maknanya dan di berbagai bidang kehidupan.

Di antara bentuk-bentuk ihsan yang paling utama yang hendaknya dijaga oleh orang yang berpuasa di bulan Ramadan adalah:

Pertama: Ihsan dalam beribadah, dengan keikhlasan di dalamnya serta menghadirkan makna-makna spiritual dari ibadah tersebut.

Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang ihsan, lalu beliau ﷺ menjawab:

«الْإِحْسَانُ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ»

"Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."

Kedua: Ihsan dalam bekerja, yaitu dengan melakukannya secara rapi, teliti, dan sempurna, serta menunaikannya dengan sebaik-baik cara.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ»

"Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan sempurna."

Ketiga: Ihsan dalam bermuamalah, dengan perkataan yang baik, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahim, dan menjaga hubungan yang baik dengan para tetangga.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى﴾

"Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil, berbuat ihsan, dan memberi kepada kerabat." (QS. An-Nahl: 90)

Keempat: Ihsan kepada seluruh manusia, dengan meringankan kesulitan orang miskin, membantu kebutuhan orang yang membutuhkan, memberi makan orang yang lapar, atau menyediakan hidangan berbuka bagi orang yang berpuasa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ»

"Barang siapa memberi makan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa tersebut."

Penutup:

Marilah kita memanfaatkan bulan yang mulia ini—bulan yang penuh dengan rahmat—dengan memperbanyak ihsan dalam ibadah, dalam muamalah, dan dalam memberi kepada sesama. Jadikanlah bulan ini sebagai kesempatan untuk membersihkan hati kita, memperkuat ikatan persaudaraan kita, serta menanamkan kebaikan dalam masyarakat kita. Dan hendaklah kita mengajarkan nilai-nilai tersebut kepada anak-anak laki-laki dan perempuan kita.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berbuat ihsan, yang berhak mendapatkan keridaan-Mu serta memperoleh pahala-Mu yang besar dan karunia-Mu yang melimpah.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.

KHOTBAH JUM'AT 06/03/2026: Ya Tuhanku, Jadikanlah Negeri Ini Negeri Yang Aman

Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Kokoh, yang tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas, dan tidak memperbaiki perbuatan orang-orang yang membuat kerusakan. Kita bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Tuhan seluruh alam. Dan kita bersaksi bahwa junjungan kita Nabi Muhammad adalah penutup para rasul.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya, serta kepada siapa saja yang mengikuti petunjuknya dengan kebaikan hingga Hari Pembalasan.

Amma ba‘du,
Aku wasiatkan kepada kalian wahai hamba-hamba Allah dan juga kepada diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ﴾
"Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak akan membahayakan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan." (QS. Ali ‘Imran: 120)

Wahai orang-orang yang berpuasa dan menegakkan qiyam di bulan ini,
Pada bulan kalian ini, marilah kita berhenti sejenak untuk mentadabburi firman Allah Yang Maha Mulia dalam Surah Ibrahim:

﴿رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا﴾
"Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman." (QS. Ibrahim: 35)

Sebuah doa yang penuh keberkahan, yang dipanjatkan oleh Khalilur-Rahman, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Doa ini diabadikan oleh Rabb kita pada dua tempat dalam Al-Qur’an.

Bagaimana mungkin kita tidak merenungi doa ini, sementara kita semua telah merasakan nikmat keamanan dan ketenteraman, setelah negeri tercinta kita, Uni Emirat Arab — semoga Allah menjaga dan melindunginya — pernah menghadapi serangan teror yang nyata dan pengecut dari orang-orang yang berkhianat. Mereka tidak menjaga hubungan kekerabatan maupun perjanjian terhadap seorang mukmin pun.

Allah berfirman:

﴿وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُعْتَدُونَ﴾
"Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas."

Mereka menjadikan sasaran kumpulan orang-orang yang aman, bahkan orang-orang yang sedang rukuk dan sujud.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَيَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ﴾
"Dan mereka merusak perjanjian Allah setelah diteguhkan, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambung, dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi." (QS. Al-Baqarah: 27)

Mereka tidak memperhatikan hak tetangga, tidak pula menghormati kesucian bulan yang mulia.

Maka agama apakah yang membenarkan tindakan melampaui batas?
Iman seperti apakah yang menghalalkan darah orang-orang yang tidak bersalah?

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُمْ بِهِ إِيمَانُكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾
"Katakanlah: Amat buruk apa yang diperintahkan imanmu kepadamu, jika memang kamu orang-orang beriman." (QS. Al-Baqarah: 93)

Akhlak apakah yang membenarkan penyerangan terhadap orang-orang yang hidup damai? Islam seperti apakah yang membolehkan menyakiti dan melukai orang lain?

Bukankah Rasulullah ﷺ telah bersabda:

«الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ»
"Seorang Muslim adalah orang yang kaum manusia selamat dari gangguan lisan dan tangannya."

Sebagaimana disampaikan oleh Nabi pembawa rahmat dan kedamaian, ﷺ.

Wahai penduduk Emirat, baik warga negara maupun para mukim,
Kami menyampaikan kabar gembira kepada kalian bahwa negeri ini adalah negeri yang kuat, mulia, dan bermartabat. Ia laksana gunung yang menjulang tinggi dan kokoh berdiri. Krisis tidaklah menambahnya kecuali kekuatan; tantangan tidak menambahnya kecuali keteguhan; dan kesulitan tidak menambahnya kecuali persatuan dan kekompakan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»
"Seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain."

Penduduk Emirat, dengan iman mereka kepada Rabbnya, dengan kepercayaan yang tulus kepada kepemimpinan mereka, serta dengan kecintaan kepada Presiden negara mereka, layak atas mereka firman Sang Pencipta:

﴿الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ ۝ فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ﴾
"(Yaitu) orang-orang yang ketika ada orang berkata kepada mereka: ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, maka takutlah kepada mereka,’ justru perkataan itu menambah iman mereka, dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung.’ Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, tidak ada keburukan yang menimpa mereka, dan mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah memiliki karunia yang besar." (QS. Ali ‘Imran: 173–174)

Sungguh, kepemimpinan kita telah menunjukkan ketajaman pandangan dan kebijaksanaan. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا﴾
"Barang siapa dianugerahi hikmah, maka sungguh ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak." (QS. Al-Baqarah: 269)

Rakyat kita dan para penduduk yang tinggal di negeri ini telah menampilkan tanggung jawab dan kesadaran, kecintaan yang tulus, serta sikap-sikap setia yang berbicara dengan sendirinya.

Para prajurit kita yang gagah berani telah memperlihatkan kemampuan pertahanan yang tinggi, kesiapsiagaan dan tindakan preventif, keterampilan serta profesionalisme. Mereka menorehkan teladan luar biasa dalam keberanian, dan menuliskan pada lembaran sejarah bangsa sebuah epik kepahlawanan yang abadi—yang menggambarkan ketulusan loyalitas serta besarnya pengorbanan dan pengabdian.

Maka sungguh berbahagialah mereka dengan sabda Nabi ﷺ:

«مَوْقِفُ سَاعَةٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ عِنْدَ الْحَجَرِ الأَسْوَدِ»
"Berdiri (berjaga) sesaat di jalan Allah lebih baik daripada beribadah pada malam Lailatul Qadar di sisi Hajar Aswad."

Wahai orang-orang yang menunaikan shalat,
Perbanyaklah mengingat Allah, bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang, dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil; niscaya hati kalian menjadi tenteram dan jiwa kalian dipenuhi ketenangan.

Ingatlah nikmat-nikmat Rabb kalian, dan bersyukurlah atas karunia Pencipta kalian. Pujilah Dia atas keamanan yang kalian rasakan dan atas kelapangan rezeki yang tersedia bagi kalian.

Berperanlah dalam menjaga keberlangsungan nikmat tersebut dengan kesadaran dan tanggung jawab. Ambillah informasi dari sumber-sumber resminya, dan pastikan kebenarannya. Jauhilah isu-isu dan kabar bohong yang disebarkan oleh para provokator dan penebar keraguan. Berhati-hatilah agar tidak menjadi orang yang mempercayainya, apalagi turut menyebarkannya.

Patuhilah arahan pihak-pihak berwenang. Ciptakan bersama keluarga kalian suasana yang tenang; hadirkan optimisme dan sikap positif di dalam rumah. Jalani kehidupan kalian secara normal dengan penuh keyakinan dan ketenteraman.

Ketahuilah bahwa Emirat berbangga kepada kalian semua. Ia adalah negeri kebaikan dan kemurahan. Tidak mencintainya kecuali orang yang mulia, dan tidak membencinya kecuali orang yang hina. Maka kenalilah keutamaannya, dan berdoalah kepada Allah agar Dia senantiasa melanggengkan kebaikan dan keamanannya, seraya mengucapkan:

"Aku membentengimu dengan nama Allah, wahai tanah airku."

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ﴾
"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan para pemimpin di antara kalian." (QS. An-Nisa’: 59)

Demikianlah yang dapat aku sampaikan. Aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian; maka mohonlah ampun kepada-Nya.

Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah semata. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang tidak ada nabi setelahnya.

Amma ba‘du,

Wahai orang-orang yang berpuasa, sesungguhnya pada hari ini terdapat satu waktu yang tidaklah bertepatan dengannya seorang hamba mukmin yang memohon kebaikan kepada Allah, melainkan Dia akan memberinya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُؤْمِنٌ يَسْأَلُ اللَّهَ فِيهَا خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ»
"Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat satu waktu; tidaklah seorang hamba mukmin bertepatan dengannya lalu memohon kebaikan kepada Allah, melainkan Allah akan memberinya."

Dan bagi orang yang berpuasa ada doa yang tidak tertolak.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لِلصَّائِمِ دَعْوَةٌ لَا تُرَدُّ»
"Bagi orang yang berpuasa ada doa yang tidak tertolak."

Di penghujung-penghujung shalat, pintu-pintu langit dibukakan. Dan pada waktu sahur, Rabb kita menyeru:

«هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ؟»
"Adakah orang yang meminta, maka Aku akan memberinya?"

Maka manfaatkanlah waktu-waktu yang penuh keberkahan ini. Bersungguh-sungguhlah dalam berdoa kepada Rabb bumi dan langit. Dia telah berfirman:

﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ﴾
"Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuk kalian." (QS. Ghafir: 60)

Ya Allah, wahai Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, wahai Pencipta kami Yang Maha Agung, kami memohon kepada-Mu dalam keadaan berpuasa dan penuh harap akan rahmat-Mu. Wahai Dzat Yang Maha Mengabulkan doa,

Jagalah Emirat, jagalah para pemimpinnya, rakyatnya, serta seluruh yang tinggal di atas tanahnya. Jagalah darat dan lautnya, bumi dan langitnya. Langgengkan stabilitasnya. Lindungilah ia dengan penjagaan-Mu yang tidak pernah tidur. Jagalah ia dengan kekuatan-Mu yang tidak terkalahkan. Peliharalah ia dengan kekuasaan-Mu yang kokoh. Wahai Yang Maha Mengabulkan, wahai Yang Maha Mendengar.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dengan cahaya wajah-Mu yang dengannya langit dan bumi bersinar, jadikanlah negeri Emirat ini dalam perlindungan dan penjagaan-Mu, dalam naungan dan benteng-Mu. Wahai Yang Maha Kuat lagi Maha Kokoh.

Ya Allah, lindungilah ia dari kezaliman orang-orang yang melampaui batas, dari kejahatan musuh-musuh dan orang-orang yang dengki.

Ya Allah, kepada-Mu kami menyerahkan mereka, dan kepada-Mu kami berlindung dari keburukan mereka. Engkaulah Tuhan kami dan Tuhan mereka. Cukupkanlah kami dari kejahatan mereka dengan cara yang Engkau kehendaki dan sebagaimana Engkau kehendaki. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkaulah sebaik-baik Pelindung dan Penolong.

Ya Allah, wahai Dzat yang apabila sesuatu dititipkan kepada-Mu Engkau menjaganya, kami menitipkan kepada-Mu negeri Emirat kami; maka jadikanlah ia dalam keamanan dan jaminan-Mu.

Ya Allah, jagalah para prajurit negeri kami yang gagah berani. Kuatkanlah dukungan-Mu bagi mereka, teguhkan tekad mereka, tepatkan sasaran mereka, dan tolonglah mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka. Lindungilah mereka dari depan dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka, dari atas dan bawah mereka.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.

Ya Allah, ridhailah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta seluruh sahabat yang mulia.

Ya Allah, terimalah dari kami puasa, qiyam, dan tilawah Al-Qur’an kami. Bantulah kami untuk senantiasa taat kepada-Mu, wahai Yang Maha Pengasih. Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang beriman kepada-Mu, tekun beribadah kepada-Mu, termasuk golongan yang meraih kemenangan di bulan Ramadan, serta berbakti kepada kedua orang tua kami.

Ya Allah, rahmatilah mereka sebagaimana mereka telah mendidik kami ketika kecil, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Ya Allah, jagalah Muhammad bin Zayed Al Nahyan, Presiden Negara, dengan penjagaan-Mu. Limpahkan kepadanya pemeliharaan-Mu, jadikan amalnya dalam ketaatan kepada-Mu, serta berikan taufik kepadanya, para wakilnya, saudara-saudaranya para penguasa Emirat, Putra Mahkota yang terpercaya, dan Perwakilan Penguasa di Al-Dhafra; agar Engkau membimbing mereka kepada apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai.

Ya Allah, rahmatilah Zayed bin Sultan Al Nahyan, karena beliau adalah simbol kebaikan dan pelita kemurahan. Rahmatilah pula Rashid bin Saeed Al Maktoum, serta para syekh Emirat yang telah berpulang ke rahmat-Mu. Masukkanlah mereka dengan karunia-Mu ke dalam surga-Mu yang luas. Limpahkan pula rahmat dan ampunan-Mu kepada para syuhada tanah air.

Ya Allah, rahmatilah kaum muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang membawa keberkahan, dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.
Ya Allah, turunkanlah hujan untuk kami.
Ya Allah, turunkanlah hujan untuk kami.
Ya Allah, turunkanlah hujan untuk kami.

Wahai hamba-hamba Allah, ingatlah Allah Yang Maha Agung lagi Maha Mulia, niscaya Dia akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambahnya untuk kalian.

Dan dirikanlah shalat.