Friday, October 24, 2014

HAMPIR SAJA (1)

UMUM

Apabila dilihat dari judul tulisan ini, bisa bermaksud banyak tujuan. Misalnya; hampir saja aku dapat untung besar, atau  hampir saja aku lulus tes masuk kerja di Perusahaan Asing, atau aku hampir saja diterkam buaya di sungai, atau aku hampir saja yang lainnya. Namun sebenarnya yang akan ditulis dalam tulisan ini hanya permasalahan "hampir saja" aku mati.

Ada orang selama dalam mengarungi hidup mereka mengalami hal-hal yang membahayakan diri mereka sendiri, bahkan terkadang bisa dikatakan melawan maut. Pengalaman itu terkadang bukan hanya sekali, dua kali, bahkan lebih dari itu. Pengalaman itu ada dikarenakan akibat dari unsur kesengajaan, juga ada dari unsur keharusan, dan ada pula dikarenakan dari unsur kecelakaan. Tentu ada yang mellihat atau menyaksikan sendiri bagaimana seseorang yang hampir saja kehilangan hidupnya oleh sebab apa saja.

Pengalaman seseorang yang hampir saja yang akan mengakibatkan kematian karena unsur kesengajaan merupakan suatu petualangan hidup dari kebanyakan orang pemberani. Seorang pemberani biasanya akan melakukan tindakan melawan maut dikarenakan terpaksa dengan catatan; bisa karena tidak ada pilihan lain atau karena ingin menunjukkan keberaniannya disebabkan oleh keuntungan yang sedang dikejar.

Sedangkan pengalaman yang membahayakan karena kecelakaan merupakan kejadian dari orang yang kurang memperhitungkan keadaan sebelum bertindak, atau, diakibatkan karena dari kecerobohan pihak lain. Pengalaman bahaya karena kecelakaan ini, dapat disebabkan kekurang pahaman terhadap akibat dari tindakan yang akan dilakukan, atau akibat dari kecerobohan orang lain. Yang mana apabila hal yang dilakukan akan berakibat bahaya terhadap diri atau orang lain.

Aku memiliki beberapa pengalaman kejadian yang sungguh-sungguh bisa berakibat merengut nyawaku, dan pengalaman itu merupakan pengalaman yang bisa dipakai untuk keperluan sebagai renunganku sepanjang hidupku. Setelah aku mengarungi kehidupan sudah lebih dari setengah abad lamanya ini, kini baru aku sadari bahwa pengalaman-pengalaman berbahaya di masa lalu sepertinya tidak masuk akal, sehingga aku masih bisa bernafas sampai saat ini. Tetapi kenyataannya aku masih tetap hidup. Aku masih sehat. dan aku masih mampu beraktivitas sebagaimana mestinya sebagai seseorang yang berusia lebih dari setengah abad lamanya. Untuk itu, pengalaman seperti itu karena tidak ingin terulang kembali, aku anggap suatu pengalaman penting yang tidak perlu terjadi lagi, dan inilah yang menjadi alasan mengapa aku harus menuliskan pengalaman-pengalaman itu.

Pengalamanku itu aku tulis menjadi dua bagian. Itu karena menurutku cukup banyak dan panjang. Selain itu, agar aku, atau yang lain tidak merasa bosan untuk membacanya. Bagian pertama merupakan pengalaman sejak aku kecil sampai aku lulus SD, dan bagian kedua merupakan kumpulan peristiwa mengerikan sejak aku setelah lulus SD sampai sekarang.

RUMAH SAKIT

Seperti anak kebanyakan, sejak kecil aku selalu dirawat dan hidup bersama kedua orang tuaku. Ketika aku masih berusia di bawah 2 tahun, nenekku dari ibu juga hidup bersama aku dan kedua orang tuaku. Nenek bertugas menjaga aku di rumah ketika ibu dan ayah sedang disibukkan oleh pekerjaan dalam mencari nafkah keluarga. Ayahku bekerja sebagai Pegawai Negri Sipil di Penataran Angkatan Laut (PAL) Ujung, Surabaya, sedangkan ibuku dari pagi buta sampai tengah hari berjualan ikan segar di pasar Pecindilan.

Ketika aku masih kecil dan masih tergantung pada ibuku untuk meminum ASI, aku terkadang mengalami kesulitan untuk melaksanakan buang air kecil. Semakin lama aku semakin merasakan kesulitan itu. Orang tuaku mengetahui tentang keadaanku. Ayah dan ibu membantuku dengan berusaha memberikan pengobatan deritaku sebaik mungkin.

Kedua orang tuaku selalu mencoba membawaku ke "orang pintar" ("orang pintar" adalah seseorang yang tidak memiliki pendidikan medis yang dianggap bisa menyembuhkan penyakit seseorang terutama sakit akibat dari makhluk halus) untuk membantu kesulitanku itu.  Bahkan tidak jarang aku dibawa oleh orang tuaku ke luar kota juga untuk pengobatan melalui "orang pintar" yang dianggap memiliki kemampuan lebih dibandingkan yang selama ini diketahui. Anjuran ataupun berita dari orang yang dikenal untuk pengobatanku, akan dicoba apabila dapat memberikan harapan dalam membantu kesulitan dalam melancarkan usahaku buang air kecil yang sedang aku hadapi. Semua dari "orang pintar" yang telah dikunjungi menyimpulkan bahwa aku sedang menderita kencing batu. Lalu orang tuaku juga mencoba untuk membawaku ke Rumah Sakit di Kotaku, dan kesimpulannya sama saja, aku menderita kencing batu!.

Kencing batu inilah yang telah membuat aku selama ini mengalami kesulitan ketika akan melaksanakan  buang air kecil. Dimana gejalanya sudah diketahui sejak aku berumur kurang dari 1 tahun. Karena keadaan waktu itu yang membuat kedua orang tuaku tidak membawaku secara langsung ke Rumah Sakit. Sebagai penggantinya aku dibawa berobat ke "orang-orang pintar". Berobat ke "orang pintar" merupakan suatu kebiasaan masyarakat pedesaan yang jauh dari pendidikan formal. Kenyataannya hampir semua orang di tempat-tempat  tertentu akan mengalami kesembuhan setelah dibawa berobat ke "orang pintar". Rumah Sakit merupakan tempat yamg asing sekali bagi masyarakat pedesaan waktu itu. Bahkan Rumah Sakit merupakan tempat yang menakutkan. Di Rumah Sakit ada urusan administrasi, ada jarum suntik, ada gunting atau pisau bedah, ada pembalut luka yang semuanya serba menakutkan.

Orang tuaku terutama ibuku, khawatir sekali untuk membawa aku berobat ke Rumah Sakit. Kedua orang tuaku lebih memiliki rasa nyaman apabila pengobatan dilakukan dengan bantuan "orang pintar". Hal demikian terus berlangsung sementara aku semakin lama semakin sulit untuk melaksanakan buang air kecil. Bahkan nenekku pernah bercerita karena sulitnya ketika aku sedang melakukan buang air kecil, terkadang yang keluar adalah kotoran dari dubur terlebih dulu sebelum air kemih.

Aku sungguh sangat menderita sekali. Namun karena aku mash kecil, aku tidak memperdulikannya. Aku tetap bermain dengan teman-temanku. Karena itu, aku sangat kurus sekali. Kulitku kering sekali. Aku  benar-benar menjadi seorang anak yang kurang gizi. Itu semua akibat dari penderitaan kencing batuku. Aku kini setelah mempunyai anak sendiri, membayangkan bagaimana perasaan kedua orang tuaku waktu itu.

Sebagai anak tunggal, maka semua tumpuan harapan orang tuaku pasti hanyalah kepadaku. Semua kebaikan yang mereka cari pastilah tujuan utamanya untuk diriku. Semua usaha yang telah mereka lakukan adalah untuk kebaikanku. Mereka tentunya sudah berusaha sebaik mungkin untuk membantu aku. Sampai suatu malam ibuku bermimpi tentang aku. Dalam mimpinya aku sedang memakai selimut serba putih masuk dan diangkut mobil ambulan untuk dibawa ke Rumah Sakit. Pagi ketika ibuku bangun dari tidurnya menceritakan tentang mimpinya semalam kepada ayahku. Dari mimpinya itu ibu memberikan kesimpulan bahwa, aku harus dibawa ke Rumah Sakit!. Ayahku langsung tidak menyetujuinya. Ayah menentangnya. Tetapi keyakinan ibuku karena pengaruh mimpi yang dia alami malam itu membuat ibu memiliki keyakinan bahwa, aku harus diobati di Rumah Sakit, dan aku harus dibawa ke Rumah Sakit.

Ayah sepertinya sudah tidak bisa mengelak lagi dengan keyakinan kuat ibuku. Apalagi melihat keadaanku, semakin hari semakin tersiksa saja, demikian juga kedua orang tuaku. Akhirnya ayah setuju mengikuti keyakinan ibuku, aku dimasukkan ke Rumah Sakit untuk dioperasi agar batu yang bersarang di dalam kandung kemihku dikeluarkan.

Usiaku sudah mencapai 24 bulan ketika kedua orang tuaku memberanikan diri agar aku masuk rumah sakit, tetapi keadaanku sungguh memprihatinkan. Aku sungguh tidak memberikan gambaran tentang keadaan keuangan kedua orang tuaku yang sama-sama memiliki pekerjaan dengan penghasilan cukup karena hanya memiliki satu anak yang masih hidup. Dibandingkan dengan teman sebayaku aku kurus dan kecil sekali. Inilah salah satunya barangkali yang membuat ibuku menderita akibat gejolak di dalam perasaannya, sehingga dia mendapatkan mimpi agar dia merasa yakin bahwa jalan yang lain yang lebih baik untuk mengobati kencing batuku masih ada. Keadaanku itu yang membuat ayahku pula menyerah dengan ajakan akibat dari  mimpi ibuku.

MENGHADAPI MAUT YANG PERTAMA

Aku sesungguhnya tidak menyadari apa yang akan dilakukan oleh tim dokter Rumah Sakit Dr. Soetomo, Surabaya waktu itu. Yang aku tau, aku setiap malam tidur sendirian di dalam tempat tidur berjeruji besi khusus anak. Aku tidak bisa keluar dari tempat tidur itu tanpa bantuan perawat yang menemaniku. Yang aku ingat, aku selalu merasa senang ketika ibu, ayah atau tetangga yang aku kenal datang menjengukku. Dan aku selalu menangis ketika mereka sedang meninggalkan aku di hall tempat aku tidur sendirian di dalam tempat tidur berpagar yang tidak mampu aku naiki. Aku merasa seperti di dalam kurungan kasur beralaskan plastik reksin tebal bermotif kembang. Walaupun ibu dan ayahku selalu mengatakan bahwa mereka hanya tinggal dan tidur di luar hall dan tidak pulang ke rumah, aku tetap saja merasa sedih di dalam hall Rumah Sakit. Aku benar-benar dikurung.

Setelah beberapa hari aku dikurung dalam tempat tidur tinggal di hall ditemani para perawat, dan anak-anak lain sebayaku terkurung di tempat tidur mereka masing-masing, aku diminta untuk pindah ruangan. Aku diantar oleh perawat yang menjagaku menuju tempatku yang baru. Tetapi mengapa sejak kemarin malam aku tidak diberi makan dan minum, padahal aku lapar dan haus. Aku lihat ada beberapa orang berbaju serba putih ketika aku memasuki ruangan berbau obat-obatan yang menyengat hidungku. Nampaknya orang-orang bebaju putih itu memang sengaja sedang menungguku di ruangan baru itu. Semua dari mereka baik dan ramah kepadaku.

Aku merasa biasa saja dengan mereka, toh aku tidak bisa meminta pertolongan ayah atau ibuku walaupun aku merasa khawatir terhadap mereka. Mungkin ini karena aku sudah terbiasa dan sudah beradaptasi dengan lingkungan Rumah Sakit dan dengan orang-orang berbaju serba putih.

Aku dibiarkan saja setelah aku dipindah dari tempat tidur dorong yang membawaku dari hall tadi ke tempat tidur di tengah-tengah orang-orang berbaju putih itu. Mereka berbicara sendiri sebelum aku diperiksa oleh lelaki seusia ayahku dengan alat yang ia hubungkan ke telinganya. Lalu aku dimintanya minum air dari gelas yang sudah mereka persiapkan. Aku merasa senang sekali karena aku memang merasa haus sekali karena sejak tadi pagi aku minta makan dan minum tetapi tidak diberi. Makan dan minumku terakhir aku lakkan kemarin petang.

Perawat yang biasa menemani aku tidak ada lagi berada di ruangan baru untukku. Aku sekarang ditemani oleh banyak orang laki-laki berbaju putih semuanya. Aku lalu diajak bicara tetapi aku merasa seperti ingin tidur saja. Walaupun begitu, aku masih teringat ketika aku diminta oleh lelaki di depanku untuk memulai menghitung gelas di atas meja setelah aku disuntik untuk diobati. Hitungan terhadap semua gelas belum aku selesaikan aku sudah tidak kuat dengan rasa kantuk. Dan aku jatuh tudur di atas tempat tidur baruku di dalam ruang yang dijaga orang-orang berpakaian serba putih. Saat itulah aku tidak tau kalau aku dioperasi. Orang-orang berbaju serba putih mengambil batu di dalam kantong kemihku.

Ketika aku terbangun dari tidurku aku merasa lemas sekali. Kedua tanganku diikat dan tangan kiriku dihubungkan dengan selang putih menuju ke kantong plastik berisi air. Aku dijaga oleh seorang wanita berdiri dekat tempat tidurku dan dua orang berbaju serba putih. Aku melihat di sekelilingku, aku lihat ayah, ibu dan tetanggaku menungguku dari balik jendela kaca ruanganku. Semua dari mereka memberiku senyum, tetangga teman ibuku melambaikan tangannya, aku hanya mampu bekedip karena aku belum bisa menggerakkan badanku. Aku ingin mengatakan kepada mereka bahwa aku lapar, bahwa aku haus, aku ingin makan, dan aku ingin minum. Mereka barangkali tidak tau apa yang aku rasakan saat itu. Mereka bisanya hanya tersenyum sambil memandang ke arahku.  Tubuhku masih terasa lemas. Mungkin sebaiknya aku tidur lagi saja.

Ketika aku bangun kembali, ayah dan ibuku sudah berada di sampingku. Aku sudah tidak berada di ruangan tempat baruku tadi. Aku dipindah ke tempat yang baru lagi. Perawat baru yang menemani aku membawa segelas air untukku. Ketika aku melihatnya, gelas berisi air di tangan perawat itu seperti aku ingin tancap saja untuk meraihnya. Aku seperti ingin merebutnya saja. Aku sudah tidak tahan  untuk meneguk semua isinya. Namum aku masih ditahan oleh perawat itu. Badanku ia angkat bersama dengan separuh dari tempat tidurku. Lalu aku seolah-olah merebut gelasnya dan aku meminum air dari gelas sekaligus. Aku baru bisa berhenti meneguknya setelah air dalam gelas benar-benar sudah dalam keadaan kosong. Kini aku merasa lega sekali walaupun aku masih ingin minum air lagi.

Ketika malam tiba, ayah, ibu dan para tetanggaku keluar dari ruang tempat tidurku. Aku harus tidur ditemani perawatku dari kejauhan. Manakala pagi sudah tiba kembali, ayah dan ibuku bersamaku lagi.

Aku senang sekali ketika aku dibawa pulang ke rumah. Entah berapa lama aku meninggalkan rumahku yang terbuat dari kayu sirap itu. Aku semacam merasa pulih kembali siap bermain dengan teman-temanku. Walaupun aku masih belum diijinkan ayah untuk berlari, tetapi saat itu aku merasa sudah terlepas dari bahaya yang mengancam hidupku.

MASUK DAPUR KUPOLA

Sejak operasi pengambilan kencing batu dari dalam kandung kemihku, aku tidak mengalami kesulitan lagi ketika aku membuang air kecil. Aku sudah tidak merasakan lagi kesakitan ketika aku melakukan buang air kecil. Yang aku rasa setiap hari ketika aku melakukan buang air kecil adalah, sedikit nyeri di bagian depan-bawah badanku diantara selangkanganku. Tetapi itu masih jauh lebih baik apabila aku bandingkan dengan ketika aku masih belum dioperasi dulu. Rasa sakit itu semakin hari semakin menghilang saja, sampai akhinya aku merasa tidak ada rasa sakit sedikitpun ketika aku melakukan buang air kecil. Akan tetapi, apabila aku sedikit saja berlari, hentakan akibat langkah cepatku dengan tanah membuat sakit di selangkanganku datang kembali. Itu aku rasakan sampai beberapa bulan lamanhya. Untuk itu aku selalu memilih menghindari berlarian.

Sehari-hari aku tinggal bersama nenek dari ibuku. Kedua orang tuaku sibuk seperti biasanya. Nenek juga memiliki peliharaan sapi yang ia tinggal di Madura demi menjagaku di Surabaya. Dia terkadang merasa khawatir terhadap sapi yang ia tinggal walaupun sapi-sapinya sedang dirawat oleh suami dari adik ibuku. Ketika aku sudah hampir sembuh total, aku dia ajak ke desa di Madura. Di desa aku bebas bermain ke mana saja. Aku suka sekali mandi di sungai. Luka operasi yang belum sepenuhnya sembuh, semakin memburuk saja. Mungkin inveksi telah mengakibatkan lukaku semakin parah. Dua minggu kemudian ayahku datang untuk menjengukku. Ayah kaget ketika melihat lukaku yang sudah menganga. Esok hari itu juga aku dan nenekku langsung dibawa ke Surabaya. Di Surabaya aku langsung dibawa ke Rumah Sakit lagi. Ketika Dokter yang mengobati aku melihat kondisi lukaku yang sudah menganga lagi, marah sekali terhadap ayahku. Sejak saat itu aku di Surabaya sampai aku benar-benar sembuh sekali.

Nenek merasa bersalah sekali dengan keadaanku itu. Nenek kini tidak bisa memberikan alasan untuk membawaku lagi ke Madura demi untuk melihat sapi-sapinya. Nenek pasrah saja tentang sapi-sapinya kepada menantu dan cucu-cucunya yang berada di Madura. Akhinya aku memang dapat sembuh total dari luka bekas operasi kencing batuku.

Setelah aku sudah tidak perlu lagi untuk berkunjung ke Rumah Sakit untuk mengontrol luka bekas operasiku, nenek mulai memikirkan kembali tentang bagaimana keadaan suasana rumahnya di Madura. Ia lalu mengutarakan hasratnya untuk pulang ke Madura membawa aku lagi. Ayah dan ibuku udah tidak memiliki rasa khawair tentang keadaan lukaku paska operasi, lalu orang tuaku memberi ijin nenekku untuk pulang ke Madura dengan membawa aku ke Desa. Akhirnya nenek pulang ke Madura dan aku ia bawa juga.

Aku suka sekali tinggal bersama nenekku. Setiap hari aku dibuatkan nasi putih dan gorengan dadar telor, telor bebek ataupun telor ayam. Tetapi, aku lebih menyukai makan telor bebek dadar, telor yang setiap pagi selalu ada dari bebek-bebek peliharaan suami adik ibuku. Telor bebeknya sengguh gurih sekali, dari kejauhan bau gorengan dari dapur sungguh membuat setiap orang ingin menyantapnya. Apalagi di desa, makan nasi dengan telor termasuk menu makanan cukup wah. Telor dari bebek-bebek yang setiap sore diberi makan bekicot, bebek-bebek yang seharian bebas mencari makan menyusuri kali tidak jauh dari belakang rumah nenek.

Aku suka sekali bermain di kali untuk mencari ikan, dengan pancing atau meraba bagian bawah batu-batu kali mengharapkan ada udang di balik batu. Aku sering ikut suami bibiku mengarit mencari ke Gunung Embilleh. Dan juga, aku bermain bersama anak-anak di Desa nenekku.

Ketika musim hujan datang, manakala aku dan anak Bibiku masih di Gunung Embilleh, aku ikut mencari dan menangkap burung yang sedang mandi di air hujan. Terutama, ketika hujan turun di awal musim hujan atau hujan pertamakali, burung-burung banyak yang senang atau langsung pada menyambut datangnya air dengan mandi, dan aku beserta anak-anak bibiku mengintai untuk menangkap mereka, juga anak-anak lain tetangga nenekku. Ketika hujan semakin lebat burung-burung akan semakin basah dan mengalami kesulitan untuk terbang. Sayap dan badan mereka terbebani air hujan, sehingga mereka benar-benar tidak mampu lagi untuk terbang jauh dan cepat. Itulah saatnya burung-burung dikejar, dan yang kesulitan terbang akan ketahuan, merekalah untuk ditangkapi. Terutama burung muda dengan kekuatan yang lebih lemah daripada burung induknya.

Sasaran utama yang ingin ditangkap adalah burung kutilang dan podang, dua burung yang memiliki suara siulan yang merdu dan cukup bervariasi, sehingga memiliki harga yang cukup baik dibanding butung jenis lainnya.  Atau burung lainnya apabila meraka tidak ditemukan. Bisa menangkap satu ekor saja sudah cukup beruntung, karena medan pengejaran yang memiliki bebatuan cadas dan banyak yang lancip serta banyak pohon kecil berduri terkadang harus pulang dengan tangan kosong tetapi telapak kaki ada yang terluka.

Hasil tangkapan dibawa pulang untuk dipelihara. Umumnya burung-burung liar memerlukan waktu cukup lama untuk menjadi jinak. Rasa trauma hidup di dalam sangkar akan menyiksa burung tangkapan. Terkadang laparpun tidak mau makan karena mengalami stress. Anak bibiku tidak perduli, bahkan agar cepat menjadi jinak burung liar sering pula dipegang dan sering dimandikan dengan tangan. Pakan (makanan) selalu dicarikan pakan yang paling disukai. Pisang jenis kepok atau buah pepaya sajian yang paling disukai burung kutilang atau podang.

Lalu setelah mulai jinak dipanggil dengan suara siul. Lambat laun burung liar mudapun menjadi jinak. Panggilan siulan dijawab juga. Lalu setelahnya menunggu seseorang apabila ada yang berminat untuk membelinya. Dan burung liar yang sudah jinak akan berpindah tangan sesuai kesepakatan harganya.

Ketika musim kemarau mulai datang, musim kawin burung-burung juga dimulai. Seiring pohon-pohon di alas mengeluarkan buah, burung-burung juga sudah mulai menetaskan telor-telor mereka. Sejak burung mulai membuat sarang mereka, anak-anak sudah mulai mengintainya. Mereka berebut untuk mencari sarang. Bagi siapa yang melihat untuk pertama kalinya, dialah pemilik sarang burung sampai telor burung metetas. Ketika anak-anak burung sudah mulai tumbuh bulu, anak-anak burung diambil untuk dipelihara oleh yang memilikinya. Inilah salah satu sebabnya mengapa sekarang hampir tak satupun burung yang pernah aku buru itu tidak pernah kelihatan di gunung Embilleh.

Ketika musim kemarau mulai datang. Beberapa anak muda dan/atau orang tua membuat rencana dengan mmbentuk suatu kelompok. Rencanan membakar batu cadas untuk dijadikan batu gamping. Batu-batu di sekitar Desa nenekku umumnya berwarna keputihan seperti banyak mengandung kaporit. Batu yang sangat baik untuk dijadikan kapur. Batu-batu banyak beserakan di atas gunung Embilleh. Bahkan pada tempat-tempat tertentu bagian gunung terbentuk dari bongkahan batu kapur yang disebut batu "kombhung" menurut orang-orang Desa nenekku, dan batu kombhung itu digali dan dipotong seukuran bata merah untuk dibuat sebagai bahan pengganti bata merah untuk bahan membangun tembok rumah-rumah penduduk.

Pembakaran batu gamping dimulai dengan penggalian untuk membuat dapur pembakaran (tungku) yang mereka sebut "birungan'. Bentuknya seperti sumur sedalam maksimum 2 meter dan di salah satu sisinya bagian agak bawah kira-kira setengah meter dari dasar dapur diberi lubang sebagai tempat jalan masuk kayu bakar. Setelah selesai menggali dapur atau menggunakan dapur pembakaran bekas musim panas yang lalu, kemudian mulai mengumpulkan kayu-kayu untuk digunakan sebagai bahan bakarnya nanti. Kayu ranting dengan daun yang masih segar dijemur di sekitar dapur pembakaran. Kayu dan ranting dikumpulkan sedikit demi sedikit. Setiap pergi ke gunung untuk mencari rumput untuk makanan ternak, anggota kelompok menyambi juga mengambil ranting-ranting kayu dari pohon klobur, nyamplong atau ranting kayu lain yang tidak bisa digunakan sebagai pakan sapi atau kambing. Untuk itu penjemuran kayu bisa sampai satu bulan lamanya, bahkan bisa lebih yang penting kayu bakar harus benar benar kering. Daun daun ranting yang awalnya hijau segar sampai menjadi coklat dan getas.

Setelah kayu dinilai cukup dari jumlah dan kekeringannya lalu dimulailah mencari batu yang akan dibakar. ukuran batu benar-benar dipilih sehingga nanti bisa ditata di atas dapur pembakaran. Batu-batu ditata sedemikian rupa sehingga batu-batu bisa membentuk kubah agar bisa dibakar dari bawahnya. Penataan dilakukan dengan sangat hati-hati memastikan bahwa ketika dibakar nanti akan bisa menerima cukup panas dari api kayu bakar. Jika tidak, maka batu gamping akan menjadi kurang masak karena akan terhalang untuk mendapatkan panas api dari bawahnya. Juga jika tidak tepat dalam menatanya akan beresiko roboh, baik sebelum dibakar ataupun ketika sedang dibakar. Celakanya apabila robohnya terjadi ketika sedang dalam pembakaran, maka pembakaran batu akan menjadi tamat malam itu, karena untuk menata kembali batu yang sedang dibakar harus menunggu batu menjadi dingin. Menunggu api menjadi padam dengan sendirinya. Pembakaran dilakukan pada malam hari, umumnya dilakukan semalam suntuk.

Bagus sekali, kali ini pembakaran batu gamping berjalan sesuai rencana kelompok pembakar batu, ketika aku bangun tidur pagi hari semua dari mereka sudah bubar dan batu-batu gamping yang sudah dibakar tetap mengepulkan asap dari sisa-sisa kayu bakar yang masih hidup sejak semalam, atau karena bara batuyang dibakar masih panas.

Aku dan teman sebayaku menyukai kepulan asap dari dalam tungku melalui celahcelah batu gamping panas. Aku dan teman-temanku menggunakannya sebagai mainan untuk menerbangkan kapas yang diambil dari pohon-pohon kapas yang tumbuh di sekitar pagar pembatas perkaragan rumah nenekku. Ketika kapas naik karena terbawa asap aku dan temanku bersorak kegirangan. Sekali, dua kali dan seterusnya. Aku semakin asyik saja sampai aku lupa diri, dan tiba-tiba aku terjatuh ke galian tenpat jalan untuk menyuguhkan kayu bakar. Di sana ada batu gamping yang diambil dari tatanan pagi tadi sebagai contoh apakah batu sudah matang atau belum dengan keadaan masih panas. Aku menjerit kesakitan ketika bagian paha kanan bawahku menempel ke batu panas itu, dan kulit pahaku menyatu dengan batu gamping panas, ketika aku mengangkat diriku menjauhi batu itu, kulitku merah karena panas sekali, dan aku menangis sekuat kuatnya menahan rasa panas di pahaku.

Serentak orang-orang yang melihatnya membantuku dan aku secepatnya dibawa ke Puskesmas  unuk diobati. Puskesmas letaknya sungguh jauh sekali dari Desa nenekku, Puskesmas berada di Tanah Merah, untuk membawa aku, aku  digendong di belakang suami Bibiku. Tanah Merah berjarak sekitar 15 Kilometer dari rumah nenekku, tidak ada cara lain untuk sampai ke sana kecuali ditempuh dengan jalan kaki, sungguh membosankan, lelah sekali, itu aku, aku tidak tau bagaimana yang dirasa oleh suami Bibiku. Setiap tiga hari sekali aku harus mengunjungi Puskesmas untu terus berobat. Seiring dengan kesembuhan lukaku, rasa sakit sudah semakin menghilang dan aku lambat laun bisa berjalan sendiri secara normal.

Aku bersyukur akhirnya aku bisa sembuh setelah diobati ke Puskesmas Tanah Merah. Sebulan kemudian dari kecelakaan itu aku sudah pulih kembali. Sejak saat itu aku dibawa kembali oleh orang tuaku ke Surabaya, lalu aku tinggal bersama kedua orang tuaku lagi.

Kini hidupku menyendiri di rumah dari pagi hingga siang ketika ayah dan ibuku mencari nafkah. Aku ditipkan ke tetangga sebelah yang sehari-hari tinggal di rumah mereka saja. Mereka senang saja karena saat itu belum banyak anak-anak lecil di sekitar rumahku. Anak kecil akan menjadi sesuatu yang menhibur buat mereka. Aku bebas bermain dengan teman-teman sebayaku sekitar rumah orang tuaku saja. Aku sudah memegang kunci rumah sendiri sejak kecil ketika aku ditinggal oleh orang tuaku. Tetanggaku menjagaku dari jauh saja. Ibu baru pulang ke rumah sekitar jam 1 siang, sedangkan ayah sampai di rumah pulang kerja sekitar pukul 3 siang.

MANDI DI SUNGAI

Ketika Hari Raya akan tiba, ayah dan ibuku selalu pulang ke Madura. Ayah dan ibu ingin bersilaturahmi dengan nenek dan anggota keluarga lainnya. Dan aku bisa bertemu kembali dengan teman-teman mainku dulu. Ketika hari-hari besar Agama Islam tiba, suasana aktivitas orang-orang  memang dipenuhi dengan cara tradisi. Kenduri secara bergiliran dari rumah ke rumah. Di Madura ayah biasanya mengunjungi saudara, dan kenalannya, termasuk pamanku, adik ayah yang aku panggil "Teh", Teh kependekan dari kata "ghutteh" yang berarti paman.

Dekat rumah Teh ada Pondok Pesantren Pakong. Dekat rumah Teh ada sungai yang mengalir tak jauh dari belakang rumahnya. Sungai itu juga mengalir melalui depan Pondok Pesantren.

 Anak lelaki tetangga Teh adalah temanku, dia lebih muda sekitar satu tahunan dari aku.  Aku sendiri masih berumur sekitar 8 tahunan, dan aku senang bermain dengannya, anak desa baik dan polos.

Aku bertiga dengan dia dan anak lelaki Teh berjalan menuruni tabun sampai ke pinggir sungai belakang rumah Teh Rumli. Anak lelaki Teh lebih kecil dari anak lelaki tetangga Teh, ia hanya ngikut saja. Ada tempat untuk mandi di sungai, pada air bening anak lelaki tetangga Teh yang tidak  memakai baju atasan lansung membuka celana pendeknya dan langsung meloncat saja. Di desa waktu itu merupakan hal yang biasa bagi anak-anak kecil bermain tanpa memakai baju kecuali celana pendek saja. Dia lalu ke tepian lagi dengan mudah seperti anak yang berjalan di air. Kini giliranku tanpa pikir aku buka pakaianku, karena tidak tau tentang keadaan air langsung meloncat juga ke sungai menirukan dia. Aku langsung tenggelam ke dalam sungai. Sungai dalam sekali, tinggi kepalaku tidak jajak di sungai itu. Aku tidak bisa berenang, yang aku lakukan hanyalah berusaha bernafas dengan meloncat-loncat sampai kepalaku ke udara. Aku terus melakukan itu tanpa menyerah. Terus aku meloncat-loncat untuk bernafas walaupun aku sudah terasa lemas tidak bertenaga.

Ketika aku meloncat-loncat ke udara yang aku lihat kedua temanku berdiri saja di tepi sungai. Aku terus meloncat-loncat sambil mengambil nafas. Anak lelaki tetangga Teh nampak kebingungan tidak tau apa yang harus ia lakukan melihat keadaanku. Tetapi aku terus meloncat untuk bernafas sampai tiba-tiba anak tetangga Teh melakukan sesuatu untukku. Dia berenang menghampiri aku yang semakin lemas. Lalu dia pungut dengan menjambak dan menarik rambutku dengan tangan kanannya. Aku yang sudah lemas tidak berdaya membalas tarikannya, dan aku seolah tidak memiliki tenaga untuk berpegangan kepada dia. Aku menyerah ketika ada rasa tarikan di rambutku. Aku terus ia tarik sambil dia berenang ke arah pinggir sungai yang lebih dangkal. Ketika kakiku terasa menyentuh tanah dan tubuhku masih dalam keadaan miring  karena diseret oleh dia. Aku langsung beranjak dan berlari sambil sempoyongan karena kehabisan tenaga ke pinggir sungai, tanah gundukan yang tidak berair. Lalu aku tertegun sejenak lemas dan lunglai karena merasa benar-benar kehabisan tenaga.

Dia dan anak lelaki Teh  hanya tercengang melihat keadaanku. Berangsur-angsur aku dapat pulih kembali. Dan ketika aku sudah merasa memiliki tenaga untuk keluar dari pinggir sungai, aku dan anak tetangga Teh segera memakai pakaianku dan bersama-sama anak pamanku segera kembali pulang menuju rumah ghutteh.

Setelah temanku menceritakan apa yang telah terjadi kepada ayah dan Ghutteh, Teh dan ayahku merasa menyesal sekali atas kejadian yang telah menimpaku tadi. Ghutteh mengatakan bahwa aku bisa meninggal dunia apabila tidak ditolong oleh anak lelaki kecil tetangganya yang juga temanku dan teman anak lelakinya itu.

Aku terkadang berfikir, seandainya anak tetangga Ghutteh tidak memiliki inisiatif menyeretku. Seandainya dia berinisiatif meminta pertolongan pulang  memanggil ayah atau Ghutteh, bisa-bisa keadaan sudah terlambat. Tetapi aku masih diberi panjang umur karena dia, anak lelaki kecil dari desa yang sudah bisa berenang. Terimakasih lelaki kecil tetangga Ghutteh, Tuhan telah memilih engkau untuk menolongku ketika aku tenggelam di sungai belakang rumah ghuttehku.

BAJING LONCAT MENCARI MINYAK SISA

Aku masih duduk di bangku kelas 6 SD ketika aku sudah berumur 15 tahun. Tentu, dari umurku aku sudah cukup memiliki akal untuk melakukan apa saja dibanding teman-temanku di kelasku. Aku sudah muballigh (teenager) walaupun ukuran badanku biasa saja. Kebanyakan teman dikampungku tidak menempuh sekolah formal. Karena itu sejak kecil kebanyakan dari mereka sudah berusaha mencari uang jajan sendiri. Dan terkadang uang yang diperoleh dipakai untuk membantu orang tua terutama ibu mereka.

Banyak dari temanku mencari uang dengan cara mencari sisa-sisa minyak kelapa dari dalam drum minyak yang baru saja dituang isinya. Sisa-sisa minyak yang masih tertinggal di dalam drum diambil dengan cara menggunakan sepon yang diikatkan pada sebatang keratan bambu sepanjang 1,2 meteran. Sepon yang kendalikan dengan tangkai keratan bambu dimasukkan ke dalam drum melalui lubang drum yang tanpa penutup. Dengan mengusapkan sepon ke dasar drum sisa-sisa minyak yang tertinggal akan terserap oleh sepon. Lalu sepon  yang sudah membawa sisa minyak diangkat keluar drum diperas di kaleng biskuit yang sudah dipersiapkan dengan tambahan kawat agar bisa dijinjing.

Aku senang menyaksikan orang-orang yang sedang berebut untuk mencari minyak. Terutama karena ada teman-temanku. Terkadang apabila ada drum yang masih penuh sedang diturunkan dengan dijatuhkan dari atas truk ke tanah, akan berakibat kebocoran karena penurunan dari atas truk didorong dengan dirolling jatuh langsung mengenai ban-ban bekas ban truk sebagai bantalan agar tidak secara langsung membentur tanah.

Ketika drum bocor, di dekat lubang drum bocor karena retak akan menetes minyak keluar dari drum. Karena drum dibiarkan untuk beberapa lama sebelum dimasukkan ke dalam gudang untuk dituang isinya, bagi penemu kebocorang pertama kalinya akan menganggap minyak bocor dari drum merupakan milik si penemu, dan si penemu akan mengamankan drum tersebut. Lalu kemana minyak menetes ke atas tanah, tanah tempat menetes akan digali membentuk cekungan seperti mangkok memakai sendok agar minyak yang keluar tertampung di dalam cekungan itu, dan apabila minyak sudah memenuhi cekungan lalu dipindahkan ke kaleng yang sudah dipersiapkan. Demikian seterusnya sampai drumnya diambil untuk dimasukkan ke gudang untuk dituang seluruh isinya.

Demikian juga pada drum-drum kosong setelah isinya dituang akan masih ada sisa karena mengeluarkan isi drum tidak mungkin bisa seratus persen kosong. Sisa-sisa yang masih tertinggal di dalam drum itu kemudian dibersihkan oleh teman-temanku. Terkadang teman-temanku mencari minyak goreng sisa dengan memanjat truk di jalanan.  Apabila ada truk yang memuat drum minyak goreng bekas, teman-temanku akan memanjat ke atas truk untuk selanjutnya mengikuti kemana truk itu pergi. Dan di atas truk mereka sambil mengambil minyak sisa dari dalam drum.

 Aku terkadang mengikuti temanku untuk memanjat truk, lalu turun ketika truk berjalan agak perlahan, biasanya di sekitar perempatan. Naik dan turun dari truk yang sedang berjalan bukanlah pekerjaan yang mudah. Seseorang harus mengetahui caranya, kalau tudak bisa mengakibatkan celaka patah kaki, terguling-guling atau kecelakaan lainnya.

Aku awalnya hanya ikut teman-temanku yang suka mencari minyak sisa di atas truk. Ketika ingin mengunjungi tempat tertentu, biasanya naik truk dari perempatan Pegirian karena truk berjalan perlahan. Ketika turun juga demikian, mencari tempat di mana truk akan berjalan perlahan.


Aku sebenarnya ingin sekali melakukan seperti apa yang dilakukan teman-temanku mencari minyak sisa. Tetapi aku tau bahwa orang tuaku akan marah sekali apabila mereka mengetahuinya. Karena aku dibekali uang saku yang tergolong cukup setiap harinya, dimana ibuku selalu memberiku uang jajan setiap pagi.

Aku terkadang ketika belajar memanjat truk berjalan di jalan raya mengikuti teman-temanku yang sedang mencari minyak sisa dari dalam drum. Bahkan aku sampai ke daerah Kerian pula yang jaraknya sekitar 60 Kilometer dari Surabaya. Aku akhirnya tau teknik naik dan turun dari truk yang sedang berjalan cepat sekalipun.

Yang aku sukai naik truk dengan bak terbuka di belakang. Naiknya mudah dan turunnyapun juga mudah. Ketika akan menaiki truk, pastikan kedua telapak tangan berada di atas geladak bak truk. Lalu sambil berlari mengkuti keepatan truk tangan menekan geldak bak dan kaki sedikit ditekuk sambil berlari berusaha memanjat ke atas sehingga dada di atas perut menyangkut pada geladak truk. Setelahnya usahakan salah satu kaki (biasanya kaki kanan) naik ke atas geladak dengan membengkokkan badan ke arah kaki yang akan dinaikkan. Setelah salah satu kaki naik, lalu naikkan badan dengan menekankan kedua telapak tangan beserta lengan yang masih berada di atas geladak truk sehingga salah satu kaki yang masih belum naik dapat juga naik ke atas geladak truk. Setelah kedua kaki berada di atas geladak truk berarti seseorang sudah sepenuhnya berada di atas truk.

Lalu untuk meloncat turun dari truk yang sedang berjalan juga ada teknik yang harus diperhatikan. Untuk truk dengan bak terbuka; posisikan badan antara tengah sampai kiri truk sebelum meloncat. Posisi paling kiri lebih baik karena salah satu tangan beisa berpegangan pada salah satu dinding bak truk. Jangan sekali-kali menggunakan bagian kanan bak truk karena dikhawatirkan jika jatuh dan mengarah ke arah tengah jalan akan menyebabkan tersambar ditabrak kendaraan dari arah yang berlawanan.

Ketika akan turun, pastikan badan menghadap ke arah belakang truk. Lalu dengan sedikit membunggukkan badan termasuk juga sedikit menekuk lutut bersiap-siap untuk meloncat turun. Keadaan badan dan kaki harus tetap sedikit membungkuk ke arah depan ketika sedang meloncat. Pastikan bahwa posisi badan juga dibuat sedikit miring dengan salah satu kaki (biasanya kaki kanan) berada sedikit di depan kaki satunya. Ketika meloncat usahakan kaki yang paling depan menyentuh permukaan jalan terlebih dahulu dan diikuti oleh kaki satunya lagi. Sebetulnya kedua kaki seakan-akan menyentuh permukaan jalan dalam waktu bersamaan. Ketika kaki-kaki menyentuh permukaan jalan, kondisi tubuh dan kaki harus tetap membenguk ke arah depan untuk melawan gaya tarik ketika jatuh akibat kecepatan truk.

Aku dan teman-temanku melakukan itu tanpa memakai alas kaki, memang dengan tanpa alas kaki seolah-olah kaki langsung melekat di atas permukaan jalan ketika meloncat dari atas truk.

Kini aku bagaikan tenggelam ke dalam lumpur, lambat laun aku semakin tenggelam ke arah dasar lumpur tanpa ada yang menolong untuk mengangkatku ke permukaan, semakin lama aku semakin jauh ke dasar lumpur. Akhirnya akupun sampai ke dasar lumpur dan mencoba untuk mencari minyak sisa sendiri dari dalam drum, seperti yang dilakukan oleh teman dekatku.

Memang sungguh menyenangkan bisa menghasilkan uang sendiri, penghasilan yang aku gunakan untuk tambahan uang jajanku yang sudah cukup. Tetapi aku harus tetap waspada dari pandangan orang tuaku. Teman-temanku juga mengetahui bahwa pekerjaanku ini tidak boleh diketahui oleh orang tuaku.

Karena aku sudah semakin ketagihan dengan hasil uang dari mencari minyak sisa yang aku cari  untuk tambahan uang jajanku, aku semakin nekad saja mencari minyak sisa. Setiap aku selesaikan pekerjaan baruku, sebelum aku pulang ke rumah, aku bersihkan badanku agar kedua orang tuaku tidak menciumnya. Kaleng dan keratan bambu dengan sepon di salah satu ujungnya aku titipkan di tempat dimana teman-temanku menyimpan milik mereka. Semakin lama semakin asyik saja, sehingga setiap pulang dari sekolah dasarku aku langsung tancap gas mencari minyak goreng sisa.

Hari minggu merupakan hari libur dan jalan-jalan di Surabaya Utara menjadi legang. Akan tetapi, ada satu tempat yang masih memiliki kegiatan walaupun di hari minggu, tempat tidak mengenal hari minggu, yaitu Pelabuhan Tanjung Perak. Ke sanalah aku dan teman-temanku mencari sasaran minyak goreng sisa di hari Minggu.

Aku berangkat agak pagi, sehingga dengan memanjat truk dari Jalan Danakarya (sekarang Jalan Iskandar Muda) sekitar pukul 7an aku sudah sampai di daerah Pelabuhan. Seperti biasa aku dan teman-temanku terpencar mencari sasaran sendiri-sendiri. Sekitar pukul 10 hampir separuh dari kaleng yang selalu aku jinjing telah terisi hampir setengahnya. Aku pikir, ini sudah cukup untuk menambah uang di sakuku nantinya. Tanpa ada seorang temanpun aku berniat untuk pulang saja.

Seperti ketika aku berangkat tadi pagi, aku akan pulang dengan cara memanjat truk pula. Aku menunggu di pertigaan jalan sebelum keluar jalan raya mengharapkan ada truk berjalan perlahan yang sejalan dengan arahku untuk aku panjati. Semenit kemudian memang ada truk yang sedang mengambil jalan akan membelok ke arah yang aku inginkan. Aku lalu bersiap-siap dan ketika truk sudah sejajar dengan aku, aku lalu berlari ke arah belakang truk. Kebetulan truknya tanpa penutup bak belakang dan di geladak belakangnya ada lubang karena rusak yang bisa aku pakai sebagai pegangan untuk naik ke atas geladak belakang truk.

Tanpa pikir panjang aku letakkan kaleng berisi minyak goreng sisa setengah penuh hasilku pagi ini. Lalu tanpa pikir pula aku langsung memanjat naik ke atas truk dengan cara memegangkan kedua tanganku pada lubang di geladak truk sekuatnya, lalu aku meloncat ke atas geladak untuk mengaitkan dadaku sambil berpegang erat pada lubang geladak truk untuk kemudian menaikkan salah satu kakiku ke atas geladak agar aku aman dapat naik sepenuhnya ke atas truk. Aku tidak bisa meloncat lebih tinggi lagi karena ukuran badanku walaupun sudah kelas 6 SD masih setinggi geladak truk. Ketika dadaku sudah mengait di atas geladak truk dan kedua kakiku masih dalam keadaan menggelantung diantara jalan raya dan geladag belakang truk  dan aku belum sempat sempat menaikkan kakiku ke atas truk, tiba-tiba truk berguncang keras sekali karena sedang melintasi rel kereta api yang terletak melintang terhadap jalan yang sedang dilaluinya. Celakanya, minyak dari dalam kaleng yang berada tepat di depan wajahku memancar keluar karena kerasnya guncangan. Dan akibatnya sebagian muncratan minyak dari dalam kaleng di depanku mengenai wajah dan mataku.

Aku jadi panik sekali karena aku merasa mataku agak perih, aku memikirkan yang bukan-bukan terhadap mataku sambil menahan perihnya mata akibat tumpahan minyak kotor yang aku ambil dari dalam drum tadi sementara posisiku tetap menggelantung. Aku jadi kehilangan keseimbangan karena kekacauan dalam pikiranku, badanku sudah bergeser semakin ke bawah karena guncangan keras tadi. Sehingga aku  susah sekali untuk menaikkan kakiku ke atas truk untuk mengamankan diriku karena badanku juga sudah bergeser karena guncangan tadi. Posisiku jadi tidak seimbang untuk terus menaikkan kakiku sementara truk berjalan semakin kencang saja. Pikiranku semakin panik, aku dihadap kepada pilihan yang sama-sama bahayanya.  Apabila aku paksakan melepaskan peganganku untuk turun akan sangat bahaya sekali bisa-bisa aku jatu terguling-guling di atas jalan raya karena aku turun dari truk dalam keadaan tidak seimbang sedangkan truk berjalan sangat kencang. Apabila aku tetap bertahan menggelantung aku akhirnya akan kehabisan tenaga dan akan jatuh juga.

Di tengah-tengah kepanikan pikiranku tiba-tiba truk bergerak semakin pelan sambil menuju ke arah jalur hijau dimana Pom Bensin berada, lalu berhenti di Pom Bensin untuk mengisi bahan bakar. Saat itulah kesempatanku untuk meloncat turun dari truk. Dan aku sudah merasa aman kembali. Aku langsung mengusap mukaku dengan bagian sisi dalam bajuku. Lalu aku pungut kembali kaleng minyakku dari atas truk dan kemudian aku duduk sejenak sambil melanjutkan untuk membersihkan mata dan wajahku dari muncratan minyakku tadi.

Aku bersyukur sekali saat itu, apabila truk tidak berhenti di Pom Bensin entah apa yang akan terjadi pada diriku. Lalu kemuadian setelah aku tenang, aku naiki lagi truk yang masih belum selesai mengisi tangkinya dengan bahan bakar untuk melanjutkan perjalananku pulang ke rumah. Benar dugaanku, truk berjalan melalui jalan raya di depan kampungku. Lalu aku turun di tikungan sebelum melintasi depan kampungku. Hasil minyakku aku jual ke langgananku, seorang Ibu dari temanku yang sudah biasa sebagai penadah bagi siapa saja yang ingin menjual hasil perolehan minyak bekas.

Memanjat kendaraan truk yang sedang melaju kencang di jalan raya, dan turun meloncat dari atas geladak tempat muatan truk yang sedang melaju kencang di jalan raya sudah menjadi kebiasaanku setiap hari. Kemanapun  aku ingin pergi, aku biasa memanjat kendaraan truck, pick-up, suv, dlsb.

Untuk mencapai tujuanku. Sampai ke tempat dekatpun terkadang apabila aku malas untuk berjalan kaki, aku lebih memilih dengan cara memanjat kendaraan umum saja, asyik sekali.

BAJING LONCAT MENCURI GARAM

Siang hari minggu itu, aku dan salah satu teman mainku iseng ingin pergi jalan-jalan ke daerah Wonokusumo. Daerah paling macet di Utara Kotaku karena banyak becak-becak yang melalui jalan menuju ke sana, sejak dari Jalan Karang Tembok sampai ke Jalan Wonokusumo. Becak-becak seenaknya saja dalam memakai jalan, pengemudinya susah diatur. Apalagi di ujung Jalan Karang Tembok dekat  pertigaan dengan Jalan Wonokusumo ada rel kereta api yang melintas dan tidak jauh dari rel ada sungai, sehingga bentuk jalan menaiki jembatan dan rel kereta api. Kebanyakan becak-becak hanya berjalan dengan didorong saja.

Hanya kendaraan kecil saja yang akan melalui jalan menuju ke Wonokusumo.  Celakanya lagi, apabila ada truk yang sedang melaluinya dan kebetulan ada kereta api yang sedang melintasi memotong Jalan Karang Tembok, maka jalan akan macet total. Para tukang becak dan sepeda akan berusaha memakai jalan sebagai yang paling dahulu. Kendaraan-kendaraan yang lebih besar harus tetap berhenti mengalah, memberikan kesempatan kepada mereka.

Aku dan temanku memanjat naik mobil box menuju ke Wonokusumo karena adanya hanya mobil itu. Aku dan dia berdiri di belakang boxnya dengan menginjakkan kaki pada tangga kecil sambil memegangkan tangan pada jeruji belakng box. Ketika turun mudah sekali karena mobil berjalan cukup pelan karena macet.

Karena hari sedang mendung, mendung yang semakin hebat, aku dan temanku khawatir akan turun hujan, maka aku  dan temanku sepakat untuk kembali pulang.

Seperti biasa aku dan temanku suka memanjat kendaraan untuk pulang. Kali ini bentuk mobil yang aku naiki sama dengan ketika aku berangkat tadi, mobil box.

Ketika aku naik di atas tangga belakang boxnya, sambil memegangkan tangan ke jeruji box aku dan temanku melihat garam di dalam box mobil. Mobil box yang sedang aku dan temanku tumpangi sedang mengangkut garam kotak yang dikemas di dalam plastik tembus pandang berisi 10 kotak masing-masing plastiknya. Temanku memiliki ide untuk mengambil garam dari dalam box mobil untuk dijual nanti. Tetapi aku tidak menyetujuinya karena hal itu bukan pekerjaan kita. Temanku masih saja memaksakan diri untuk mengambil sampai ia berhasil mengambil 1 box garam yang telah aku tolaknya. Kotak garam dibiarkan saja di dalam box mobil tetapi siap untuk dikeluarkan kapan saja.

Aku dan temanku terus saja dengan mobil box. Ketika sampai di perempatan Pegirian aku mengajaknya turun mumpung mobil berjalan masih pelan. Tetapi temanku tidak mau. Ketika mobil sudah sampai di Jalan Danakarya depan gang rumahku dia turun sambil tertawa dan aku belum siap, sehingga aku menunda untuk turun di bundaran depan saja. Ketika mobil sudah mendekati bundaran lajunya semakin pelan. Pada waktu tidak secepat sebelumnya akupun berusaha turun.

Aku turunkan kaki kananku terlebih dahulu untuk kemudian kaki kiriku mengikutinya kemudian. Aku tidak siap betul rupanya ketika aku turunkan kaki kananku. Sehingga kaki kiriku tidak secara otomatis mengikutinya melainkan masih tetap berada di atas tangga mobil box. Yang terjadi tidak pernah aku duga aku terpelanting terguling, dan bagian atas kanan ujung belakang kepalaku terbentur aspal jalan raya. Aku merasa permukaan jalan raya seperti bergoyang, seperti aku sedang di atas kapal berada di atas gelombang besar.

Karena aku takut disambar mobil lain dari belakang sambil terhuyun-huyun aku mencoba menyeimbangkan badanku yang terasa seperti berjalan di atas gelombang aku berlari ke arah rerumputan di tengah-tengah taman bundaran sebelah kananku. Ketika aku sampai di tepi rerumputan aku langsung menjatuhkan diri dan mencengkramkan kedua tanganku pada rerumputan agar aku tidak merasa bergoyang lagi. Aku terus cengkramkan erat pada rerumputan kedua tanganku sambil aku duduk kaki kiri bersila dan kaki kanan tetap lurus merebahkan badanku di atas rumput hijau taman bundaran depan Yayasan Sekolah Al Irsyad itu.

Aku terus tetap merebah sampai aku tidak merasa seperti bergoyang-goyang lagi. Akhirnya badanku pulih kembali hanya kepalaku yang terbentur ke aspal tadi masih terasa sakit. Kemudian aku langsung berjalan pulang menyusuri tepi Jalan Danakarya menuju ke mulut gang rumahku tempat temanku turun tadi.

Temanku masih menungguku dan aku lihat dia sudah tidak memegang garam lagi di tangannya. Ketika aku ceritakan apa yang telah terjadi kepadaku dia langsung terbahak bahak. Ketika aku tanyakan dimana garamnya dia mengatakan bahwa garamnya sudah ia jual pada pemilik warung di depan mulut gang rumahku.

Aku berpikir, seandainya hari itu bukan hari minggu dan aku terjatuh dari atas kendaraan kemungkinan aku akan disambar kendaraan dari arah belakangku. Apabila kendaraan melaju cukup kencang, kemungkinan benturan kepalaku dengan aspal akan menjadi lebi keras lagi. Sejak saat itu aku mulai tidak menyukai lagi untuk memanjat truk atau kendaraan lainnya. Dan aku mulai kembali sesuai apa yang diharapkan oleh kedua orang tuaku.

Akibat benturan kepalaku dengan permukaan aspal, mengakibatkan benjolan. Benjolan di bagian kanan belakang kepalaku masih membekas dalam waktu cukup lama, bahkan aku pernah khawatir bahwa bekas itu akan menetap lalu menjadi besar. Akan tetapi kenyataannya terjadi lain, setelah aku duduk di SMA benjolan itu akhirnya tidak ada lagi. (Bersambung)




JADI ORANG KAYA HARTA

Ini adalah sebuah peristiwa yang terjadi akibat sama-sama tidak saling mengenal. Aku tidak pernah kenal si Mester ('Mester' adalah suatu sebutan di kampungku, Surabaya Utara bagi lelaki bule, sedangkan bagi lelaki Arab disebut 'Tuan'), karena aku kurang paham apa sebenarnya permintaan si Mester ketika dia menelphonku, dan si Mester karena keinginan yang menggebu tidak pandang bulu, siapa saja yang bisa dihubungi pasti ingin dia santap, yang penting mengenai sasaran.

Kisah ini diawali pada suatu pagi ketika aku sedag bekerja yang aku rasa seperti biasa, sibuk, sibuk dan sibuk pada pekerjaan kantor melayani kastemer untuk dibuatkan penawaran karena ingin menyertifikatkan kapal-kapal mereka. Handphone (HP)ku tiba-tiba berdering sebelum tengah hari. Aku kini padahal jarang menerima panggilan lewat HPku, dia tak biasa berdering sejak aku bekerja di perusahaan baru,Tasneef selama dua tahun terakhir ini.Karena, walaupun aku selalu mempersiapkan penawaran untuk kastemer akan tetapi aku tidak berhubungan langsung dengan mereka. Ketika aku lihat screen HPku, yang muncul hanya nomer saja tanpa nama, berarti nomer itu belum aku kenal. Dengan sedikit berat hati aku tekan saja tombol bergambar telephon untuk menjawabnya. setelah aku jawab,
"hallo?", Aku dengar lawan bicaraku menjawab dengan logat bahasa Ingris bernada berat, dengan suara seperti tersimpan di pangkal tenggorokannya. Aku merasa yakin bahwa orang ini pasti orang Ingris asli, dan juga pasti asli dari Ingris.Begini kira-kira jawabannya,

"Hallo, is this Nasuki?",
"Yes, speaking",
"My name is ........"

Suaranya memaksa aku tanpa banyak pikir kecuali aku berusaha untuk lebih fokus agar aku bisa mengerti tentang apa yang sedang ia sampaikan. Dia memperkenalkan namanya sampai diulang sebanyak 3x, itu bukan karena dia tidak becus melafadkan namanya kepadaku, akan tetapi karena aku mendengarnya tidak jelas dengan intonasi beratnya, sehingga aku menanyakan kembali begitu dia menyebut namanya sampai 3x. Aku agak malu karena aku selalu menjawabnya dengan nada tanya,"sorry?". Sampai jawaban yang ketiga cukup jelas aku dengar karena HPku aku tempelkan serapat mungkin di daun telinga kiriku. Selain itu, yang di sana menaikkan suaranya sambil memperlambat lafad namanya, sehingga dia mengiyakan ketika aku ulangi apa yang telah dia sebutkan,
"Steve Hutton".

Lalu dia melanjutkan percakapannya,
 "How are you Mr. Nasuki?",
"Very good, and how are you, too?,
"Wonderful Mr. Nasuki; my I talk to you for a second Mr. Nasuki?",
"Of course, and what can I do for you?"
Dia memperbanyak percakapan sepertinya sedang memperkenalkan siapa dirinya. Walaupun aku sendiri hanya menduga-duga tetapi aku selalu menjawabnya dengan mantap, "OK" atau "Yes". Kesimpulanku waktu itu adalah, paling dia bilang tentang siapa dia, dan di perusahaan mana dia sedang bekerja. Aku iyakan saja apa yang dia katakan walaupun yang dia ucapkan tidak jelas bagiku. Aku tidak ingin dia mengetahui bahwa aku tidak sepenuhnya memahami apa yang sedang dia katakan. Aku bukan tidak bisa berkomunikansi dengn berbahasa Ingris, aku yakin bisa karena sudah lebih dari 20 tahun di Abu Dhabi, tetapi berbicara dengan orang pribumi Ingris memang masih menjadi hal yang aku pantangi. Yang jelas, kantornya di Etihad Tower dekat Emirates Palace Hotel, itu saja yang jelas aku dengar dengan jelas.

Dia meneruskan percakapannya sambil aku mendekat ke jendela kantorku, terkadang suaranya terputus-putus, itu alasannya, barangkali signal ke HPku agak lemah.

Aku tetap menempelkan HPku sedekat mungkin ke daun telingaku. Menurut pengertianku dia menyampaikan ingin menjaga hartaku. Lalu dia ingin bertemu dengan aku. Sebelum aku jawab permintaannya, dia mengatakan kalau aku alihkan ke dalam bahasa Indonesia bahwa kira-kira begini,
"Pokoknya aku ingin bertemu dengan kamu, itu perintah dari atasanku".
"Boleh saja akan tetapi dimana dan kapan?", begitu jawabku.

Dia menawari aku dengan mengajakku apabila aku ingin bertemu di kafe dekat rumahku atau mana saja yang aku inginkan. Akupun menyanggupinya untuk bertemu, tetapi aku tidak mau di kafe. Lalu aku dan dia sepakat akan bertemu besok sore pukul 4 di kantorku.

Walaupun dia sudah menawari aku untuk bertemu di kafe dekat dimana aku tinggal atau kafe mana saja, aku tetap menolaknya. Aku lebih suka bertemu di kantorku. Aku tidak ingin berhutang budi pada seseorang yang membuat aku harus membayarnya. Aku tidak ingin bersenang-senang dahulu tetapi aku akan "bendol di kemudian". Aku pilih pukul 4 dengan harapan itu sudah di luar jam kantorku, jam 4 merupakan tepat jam pulang dari waktu jam kerjaku. Setelahnya, dia menutup HPnya dan aku kembali lagi ke meja kerjaku untuk meneruskan pekerjaanku yang harus aku selesaikan sebelum jam pulang kantor.

Sesampai di rumah aku sampaikan kepada istriku tentang seseorang yang ingin bertemu dengan aku karena dia ingin menjaga hartaku . Istriku seperti tanpa pikir langsung memberi peringatan agar aku jangan kebanyakan macam-macam besok,
"Yang penting, apabila ditawari apa-apa jangan langsung diiyakan, dipikir dulu", begitu permintaannya yang harus aku iyakan juga.

"Iya, memangnya harta kita seberapa banyak, kok minta dijagakan oleh orang lain", jawabku singkat.

Sejak sore dari pulang kerja aku sudah memikirkan tentang baju yang mana yang akan aku pakai besok ketika bertemu dengan Mester yang menelphonku tadi. Aku coba menyibak baju dan celana yang berada di gantungan baju kantorku yang ada di gantungan baju di depan tempat tidur dalam kamar tidurku. Semua baju yang sudah diloundry masih menggantung dengan bungkus plastik dari loundry. Akhirnya aku temukan juga.

Aku biasanya tidak terlalu dipusingkan dengn masalah baju apa yang akan aku pakai, yang penting tidak kotor. Tetapi kali ini aku seperti di saat masih remaja dulu, mau pergi, mau bertemu siapa aku harus memilih baju yang mana sebaiknya atau yang pantas aku pakai. Kali ini aku pilih baju yang paling baru yang dibelikan istriku ketika ia ke Seattle, Amerika waktu itu. Baju bermotif kotak-kotak kecil bergaris biru muda dengan dasar warna kulit telor bebek. Baju yang pasti  cocok jika dipadu dengan celana gelap agak hitam nanti, dan sepatu hitam yang jarang aku pakai dan dibeli di Dubai sekitar 5 tahun lalu pasti mantab. Pikiranku kini terasa tenang untuk urusan pakaian besok ketika harus bertemu dengan Mester itu.

Ketika pagi tiba, tepatnya pukul 5:10, alarm HPku berbunyi membangunkan aku. Aku sengaja setiap hari bangun pagi dengan alarm yang aku atur agar aku bisa sholat Subuh berjamaah di Masjid dekat rumahku.

 Aku merasa lebih percaya diri pada pagi ini setelah aku memakai baju dan celana serta sepatu yang aku pilih semalam. Aku berangkat seperti biasanya dengan membawa makanan siap disantap untuk lanjutan makan pagi di kantor terbuat dari roti somon yang aku isi dengan olesan krem keju, serta nasi dengan lauk-pauk dalam kotak plastik taper ware yang dipersiapkan istriku untuk jatah makan siangku di kantor.

Aku lebih suka membawa makanan buatan sendiri ke kantor karena dijamin murah dan bersih. Selain itu aku tidak perlu repot-repot mencari makan keluar kantor atupun memesannya dari luar kantor nanti.

Sebelum aku berangkat, aku tanya istriku bagai mana pendapatnya teantang pakaian yang sedang aku pakai saat ini, sambil melirik ke arahku seakan ia tidak ingin mengangkat mukanya dari Tablet yang sedang ia baca ia mengatakan,
"OK!".

Lalu ia lihat kembali Tabletnya untuk melanjutkan apa yang sedang ia baca.

Ketika aku di kantor, aku disibukkan dengan pekerjaanku yang harus aku selesaikan pada hari itu. Pikiranku juga mempersiapkan pertemuan dengan si Mester nanti sore. Waktu sudah mendekati pukul 12 siang ketika HPku bedering. Ketika aku lihat nomornya nampak dari Abu Dhabi phone line, bukan dari HP. Aku sedikit ragu tetapi tetap saja aku angkat. Biasanya telephon beginian mah ke HPku dari broker properti menanyakan tentang apartemenku yang sedang aku tinggali, apakah ingin dijual atau disewakan. Ketika aku jawab,

"Hallo?",
"Apakah ini Mr. Nasuki?" dalam bahasa Ingris yang hampi mirip dengan Mester kemarin akan tetapi kali ini agak jelas. Setelah aku jawab,
"Benar".

Maka lelaki lawan bicaraku mengatakan bahwa aku dan temannya, Mr. Steve Hutton sedang  ada janji sore ini, namun, dia bilang bahwa temannya tidak bisa datang karena hari ini sibuk dan besok juga ada janji dengan orang lain di dekat kantorku Musaffah.  Lalu dia menawari aku untuk mengundurkan jadwal pertemuannya menjadi besok juga. Aku sepakati dengan catatan; besok agar bertemu paling lambat pukul 12 siang saja. Aku sengaja memilih waktu seperti itu karena aku besok setelah pulang kerja berencana ke kantor Lalu Lintas untuk mengurus SIM milik putriku.

Gagalnya pertemuan hari ini sebenarnya sudah merugikan aku. Semalam aku sudah memilih baju yang paling bagus untuk menyambut orang bule dengan bahasa Ingris yang kental itu. Aku akhirnya meyerah dengan penampilanku hari ini, aku pikir, aku sudah layu sebelum berkembang. Tetapi pikiranku meyakinkan diriku sendiri, bahwa besok aku akan tetap memakai baju yang sama walaupun misalnya sudah lungset. Dan setelah sholat Dhuhur, aku biarkan lengan bajuku tetap tergulung setengah dari lenganku karena mengambil wuduk, agar seperti biasanya dan aku merasa dan kelihatan lebih santai.

Ketika sampai di rumah aku khabarkan kepada istriku bahwa pertemuanku dengan si Mester kemarin diundur menjadi besok. Istriku hanya tersenyum karena sedang asyik dengan Tablet di tangannya. Aku berkata dalam pikiranku,
"Biarpun besok tidak jadi, tidak apa-apa, biar aku tidak terbebani aku anggap besok siang tidak ada pertemuan lagi, titik".

Seperti biasa setelah sholat Subuh, aku langsung mempersiapkan makan pagiku dengan menuangkan corn flake rasa natural dari tempat plastik di atas meja makan dapur apartemenku. Setelahnya aku tuangka susu yang aku racik sendiri dari susu bubuk kaleng bertuliskan 'Skimmed Milk' dalam laci di bawah dekat tempat cuci piring. Sambil makan pagi aku membaca berita lewat internet laptop yang aku nyalakan sebelum aku mempersiapkan makan pagi tadi. Ketika makan pagi siap untuk aku santap, laptop pun sudah siap pula untuk dipakai mencari berita dari situs yang aku sukai, detik.com dan/atau kompas.com, terkadang juga gulfnews.com.

Aku tetap terfokus pada laptopku ketika aku lihat istriku keluar dari kamar tidur sudah bagun dari tidurnya. Karena ia menuju dapur, tentunya dia juga sudah sholat Subuh. Seperti biasa setiap pagi, ia mempersiapkan lauk-pauk untuk makan siangku yang akan aku bawa ke kantor nanti. Nasi dalam rice cooker sudah aku masak sejak sebelum aku mempersiapkan makan pagiku tadi, sehingga sekarang tentunya sudah matang dan siap untuk dimasukkan ke dalam kotak makan siangku. Sehingga aku tinggal mempersiapkan roti yang diisi dengan olesan krem keju sebagai tambahan lanjutan makan pagiku di kantor.

Aku berangkat agak pagi hari ini karena nanti siang aku ingin keluar kantor lebih awal. Rencananya aku ingin meminta ijin atasanku untuk keluar kantor 1 jam sebelum jam pulang. Aku juga akan makan siang lebih awal khawatir si Mester, tamuku akan datang lebih awal juga.

Ketika jam tanganku menunjukkan pukul 11:30, aku ambil kotak makan siangku dan menuju ke dalam kantor kosong untuk seorang menejer yang tidak ingin menempatinya. Tempatnya nyaman dengan meja tulis besar dan kursi empuk memiliki sandaran untuk kepala. Tempat yang cukup bagus digunakan sebagai tempat makan siang daripada tidak ada yang menempati, 'mubazzir' kalau dibiarkan kosong. Setelah selesai makan siang, jam tanganku menunjukkan limabelas menit sebelum pukul 12 siang. Ketika jam tanganku menunjukkan pukul 12 siang aku masih belum menerima telephon dari si Mester kemarin lusa itu. Aku coba menengok keluar melalui pintu darurat kantor yang memilki kaca tembus pandang dekat dapur kantor. Aku awasi pelataran parkir sampai sejauh aku bisa melongok. Aku lihat kembali jam tanganku, dan sekarang sudah pukul 12;02. Aku lalu memutuskan kembali ke dalam ruang kerjaku untuk melanjutkan pekerjaanku yang tinggal finishing belum aku selesaikan sejak kemarin.

Pikiranku menyerah saja, mau datang kek, mau nggak mah, terserah. Paling akan seperti kemarin mundur lagi. Tetapi, jika dia minta mundur lebih siang atau sore hari ini,
"Sorry, no way!!".

Demikian gumamku karena aku ada keperluan lain nanti, aku akan ke kantor Lalu Lintas pada pukul 2 siang.

Ketika aku baru saja memulai membuka berkas kertas kerja dan tampilan layar monitor laptopku telephon di mejaku berdering dari panggilan pos sekuriti kantorku. Ketika aku angkat penjaga pintu sekuriti memberitau aku bahwa ada orang bernama 'Steve' ingin bertemu dengan aku. Setelah aku ijinkan untuk masuk, lalu aku tutup kembali berkas di atas meja kerjaku untuk kemudian aku keluar ruangan dengan maksud turun ke lantai dasar menyambut tamuku yang sudah aku tunggu tetapi baru datang ingin menemuiku.  Ketika aku sampai di mulut tangga sebelum aku turun menitinya, tamuku sudah muncul di pertengahan tangga naik mendahului aku turun dengan pakaian jas dan dasi sangat necis sekali. Dugaanku benar, aku harus berpakaian bagus juga karena orang bule bisanya memakai setelan jas.

Aku langsung menyapanya dengan ucapan,
"Are you Mr. Hutton?".
"Yes, absolutly".

Lalu aku julurkan tanganku untuk  menyalaminya,
"Hi, Mr. Hutton, I am Nasuki, and how are you?.
"I'm fine, Mr. Nasuki, and how are you today".
"I'm verry good".

Sambil aku bersalaman untuk menyambutnya aku perhatikan ada sedikit keringat di wajahnya, sambil aku tawari pertemuannya akan dilaksanakan di dalam ruang rapat kantorku yang kosong. Setelah aku dan dia saling melepas tangan aku membuka pintu ruang rapat, dan aku persilahkan dia duduk, lalu aku hudupkan AC untuk ruang itu agar suhu udara di dalamnya lebih segar menyambut kedatangan tamu yang aku yakin kepanasan dari luar kantor sana.

Sebelum pertemuan dimulai aku tawari dia minum, ketika Ansari, seorang 'tea boy' kantor sudah berada di depanku karena telah aku panggil dengan kode kedipan tadi sebelum aku dan tamuku masuk ruang rapat. Tea boy merupakan panggilan pelayan di kantor-kantor di Abu Dhabi, tea boy bukan berarti tukang teh yang masih remaja, itu hanya panggilan saja, untuk itu tea boy kantorku sudah memiliki anak yang sedang duduk di bangku SMP.

Tamuku tidak ingin kopi, juga tidak untuk teh, hanya air putih saja maunya. Seperti janji yang sudah disepakati sebelumnya, dia hanya ingin bertemu aku selama 30 menitan saja. Dia tidak ingin mengganggu kesibukanku terlalu lama, maka acarapun segera dimulai setelah saling memperkenalkan diri.

Dia mengawali bagaimana dia bisa sampai menemukan kantorku ini, dimana dia baru pertamakali ke daerah Musaffah. Pikirku,
"Tentu saja ini baru pertama kali, lha wong dia tadi berkata bahwa ini merupakan minggu pertamanya  di UAE".

Dia menceritakan bagaimana dia dan perusahaannya bekerja. Dia biasa menangani suatu investasi baik jangka panjang atau jangka pendek bukan dengan cara kebanyakan. Caranya merupakan sesuatu cara yang baru dan dijamin tidak memiliki resiko bagi investor. Artinya, uang investor dijamin tidak akan hilang, akan kembali seratus persen pada situasi yang paling jelek sekalipun. Dia juga tidak meminta gaji dari investor, dia hanya menjalankan uang yang ditanamkan sedemikian rupa untuk keuntungan investor.

Sambil melamun aku berkata dalam hati,
"Lalu uang untuk membeli makan, kamu belanjakan untuk pakaian necismu, transportasi yang membawamu kemari, dari mana?. Mana ada orang seperti dia bekerja secara suka rela. Bohong besar".

Itu kesimpulan benakku saat itu.

Dia terus melanjutkan pengenalannya. Cara investasi lama ada dua macam, ada yang beresiko berat dan ada yang beresiko ringan. Itu tergantung investasi dimana ditanam. Apabila ditanam di tempat dengan keuntungan yang besar, maka reikonya juga besar, demikian sebaliknya. Aku pikir,
"Anak kecilpun tau tentang ini, siapa yang berani dialah yang akan berhasil, jika berhasil, dan dialah yang hancur apabila rugi".

Sebelum dia melanjutkan keterangannya aku memotong paparannya agar aku tidak seperti orang bloon yang bisanya cuma menjadi pendengar yang manis. Aku katakan bahwa,
"Aku pernah mengikuti investasi di perusahaan bernama Eagle International, suatu perusahaan investasi jangka panjang dengan jalan membeli saham, uang atau komoditi setiap bulan, dan sampai bulan terrtentu bisa berhenti, atau jalan  terus. Dan apabila berhenti, nanti ketika jatuh tempo akan mendapatkan pendapatan bulanan seperti yang ditarget sejak awal. Jika diteruskan membayar akan mendapatkan pendapatan lebih karena kelebihan kumpulan dana yang sudah melebihi kebutuhan minimum yang diperkirakan".

Lalu aku melanjutkannya dan bilang bahwa,
"Au menyesal kemuadian. Alasannya karena investasiku aku tarik setelah aku selesaikan mengumpulkannya selama 3 tahun, pas jatuh temponya. Lalu aku belikan ruko di Kertoono dan aku sewakan sampai sekarang. Seandainya aku teruskan, maka sekarang merupakan tahun ke empatbelas. Jika aku terus mengumpulkanyang waktu itu 1000 Dirham per bulan, kali 14 dan kali 12, maka aku sudah memiliki uang paling tidak 160 ribu Dirham lebih berada di Eagle International. Itulah yang aku sesali".

Lalu aku singgung juga bahwa aku sendiri pernah bermain saham di UAE, dan berakhir rugi. Diapun tersenyum sinis, seolah mengatakan,
"Kapok, loh, makanya ikut gue aja".

Lalu dia aku persilahkan untuk meneruskan celotehannya. Aku dengarkan saja, tetapi lama-kelamaan secara tidak sadar aku terbawa juga dari kendali ceritanya. Aku jadi mengandai-andai dalam lamunanku sambil mendengarkan dia terus bercerita. Seandainya aku punya uang banyak, seandainya aku memiliki kelebihan sisa gaji banyak. Beruntung secepatnya aku kemudian sadar kembali ketika dia merogoh tas jinjing yang ia letakkan di kursi kosong sebelah kanannya.

Tidak terasa waktu sudah hampir 30 menit berlalu ketika dia mengeluarkan formulir yang dia sebut 'questioners form', suatu formulir berisi daftar pertanyaan-pertanyaan kertas agak kaku-tebal berwarna hijau. Dia mengisinya satu persatu dataku dengan mencontoh dari kartu nama yang aku dan dia saling tukar tadi. Lalu data pribadi lainnya termasuk pendapatanku setiap bulan dan harta kekayaan yang aku miliki. Aku jawab semua pertanyaannya sesuai kehendakku. Data yang aku berikan sengaja tidak akurasi, karena aku tidak terlalu yakin dengan yang dia perkenalkan, dan lagi, data pribadi sampai pendapatan dan harta kekayaan tidak bisa diobral ke sembarang orang. Sampai aku ditanya juga tentang berapa harapan pendapatanku ketika aku pensiun nanti jika tinggal di Indonesia. Aku bilang bahwa,
"Aku menginginkan seribu Dollar Amerika perbulan saja".

Pengisian pertanyaan tersendat ketika dia ingin mengetahui jumlah tabunganku di bankku saat ini. Aku bisa saja mengarang tentang jumlah yang dia minta, tetapi dalam hal ini aku tidak ingin memberinya sebelum aku menanyakan kepada istriku. Aku tidak bisa memberinya karena detail besaran tabunganku yang mengetahuinya hanyalah istriku. Aku katakan bahwa jika itu penting, maka datanya nanti harus aku tanyakan istriku ketika aku ada di rumah. Dia mengatakan bahwa data itu penting untuk diketahui untuk menganalisa bagaimana aku bisa sampai pada penghasilan keinginanku ketika aku pensiun nanti.

Aku lihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 1 siang kurang limabelas menitan. Aku bilang kepadanya agar pertemuan ini dipercepat karena aku harus ada meeting lainnya setelah ini. Questioners terus dilanjutkan sampai akhirnya aku menandatangani format hijau itu. Aku agak tidak enak untuk memberikan tandatanganku di format itu. Pikiranku macam-macam lalu aku bubuhkan paraf saja daripada tandatangan. Kemudian dia minta untuk direkomendasikan kepada teman-temanku apabila aku merasa puas dengan apa yang telah ia ceritakan. Setelah aku jawab 'iya', lalu dia dan aku mengakhiri pertemuan. Diapun berlalu dari lantai 1 kantorku dan aku secepatnya menghadap atasanku untuk membicarakan sisa pekerjaanku sebelum aku keluar kantor sejam lebih awal untuk ke kantor Lalu Lintas.

Aku keluar kantor pulang tepat waktu sesuai rencanaku, sejam sebelum jam seharusnya. Aku merasa lega, pekerjaanku sudah selesai, dan sudah aku mintakan tanda tangan serta aku serahkan bos supaya dikirim kepada kastemer.

Sebelum aku keluar kantor, aku telephon putriku mengabarkan bahwa aku sedang keluar kantor,  putriku memintaku untuk mengabarinya agar dia bisa mempersiapkan sebelum aku sampai di rumah. Di rumah aku tidak bertemu istriku, dia sedang menghadiri pesta undangan ibu-ibu temannya. Putriku masih di dalam kamar mandi melakukan persiapan untuk ke kantor Lalu Lintas urusan SIMnya. Tentang pertemuanku dengan si Mester tadi, aku akan ceritakan nanti saja kepada istriku jika dia sudah sampai di rumah.

Ketika istriku sudah di rumah, aku ceritakan apa yang telah aku alami tadi dengan konsultan investasi bule di kantorku. Dia tentu tidak setuju untuk aku ikut investasi,
"Wong untuk biaya operasional sehari-hari saja sekarang megap-megap", demikian protesnya.

"Bayangkan, satu anak kuliah di Kanada, dan satunya beberapa bulan yang lalu baru selesai dari kuliah di Amerika. Ada angsuran apartemen perbulan yang masih belum lunas. Uang gambar tekkek apa untuk investasi?. Apalagi orang Bule!, gajinya tentu gedhe. Udah!, nggak usah macem-macem", demikian nasehatnya.

"OK", kataku
"aku akan infokan kepadanya mekalui email seperti yang telah aku janjikan tadi", demikian jawabku menyetujui usulan dan nasehat istriku.

Aku terus berpikir tentang kalimat yang harus aku sampaikan kepada si Mester yang telah aku temui itu. Aku ulur sehari, dua hari, dan di akhir hari yang kedua pas lagi weekend aku selalu membawa pulang laptop kantor. Aku ingat yang aku berikan adalah kartu namaku sehingga aku harus menjawabnya dengan memakai alamat email kantor. Jadi, suatu kebetulan sekali aku sedang membawa laptop kantorku. Aku akhirnya menemukan jawaban rangkaian kalimatnya. Yang jika aku artikan kira-kira berbunyi sebagai berikut:

Yth. Mr. Steve,

Aku mengharapkan anda dalam keadaan baik. Setelah aku berdiskusi dengan istriku, maka aku simpulkan sebagai berikut:
  1. Karena hartaku merupakan harta keluarga termasuk anak dan istriku, maka pemakaiannya untuk investasi harus dibicarakan bersama keluarga, paling tidak dengan istriku. 
  2. Dari titik 1 di atas, istriku tidak menyetujuinya, dimana akupun harus menghormati pendapatnya, sehingga aku tidak akan menginvestasikan hartaku saat ini baik jangka panjang ataupun pendek melalui perusahaanmu. 
  3. Sebagaimana investasi memiliki resiko kerugian baik dibidang materi atau waktu, maka aku tidak bisa merekomendasikan kepada siapapu tentang investasi yang kamu tawarkan, aku tidak ingin memiliki keterikatan psikologi karenanya terhadap siapa saja yang aku perkenalkan. 
Demikian yang bisa aku sampaikan dan terimakasih atas perkenalan sitem investasi baru kepadaku, serta mohon maaf dengan kesimpulanku itu.

Setelah aku tulis salam hormat, lalu aku kirim emailku sesuai dengan email di kartu nama yang ia berikan kepadaku. Sampai seminggu lamanya aku tidak mendapatkan jawaban darinya. Aku anggap dia sudah tidak akan menghiraukan aku lagi, karena aku tidak seperti apa yang pernah dia harapkan, seseorang yang memiliki harta untuk diinvestasikan melaluinya.

END

Friday, May 30, 2014

Aa Gym di KBRI

Umum

"Aa Gym?". Wajah yang pernah aku ketahui melalui telivisi beberapa tahun yang lalu yang terbayang di kepalaku setelah membaca isi undangan KMMI untuk pengajian tanggal 24 Mei ini. Sebuah nama yang sudah tidak asing lagi bagi aku dan istriku. Dialah orang yang dikenal dengan "Manajemen Qalbu" yang sering masuk di telivisi Indonesia waktu itu. Walaupun aku sendiri sempat ragu apakah akan menghadiri pengajian langgananku ini atau tidak, itu karena Da'i kondang ini pernah dihebohkan oleh masalah pribadi dan keluarganya tetapi akhirnya aku dan istriku akan ke KBRI untuk mendengar dan melihat secara langsung ceramah Agama yang akan disampaikan oleh da'i, Aa Gym.

Menuju KBRI

Berangkat dari rumah sengaja dipilih waktu se-pas mungkin. Menurut perhitunganku, hari libur begini maka mobilku akan sampai di KBRI sekitar pukul 17:30, karena pada hari kerja saja waktu tempuhnya juga sekitar 30 menitan, apalagi hari Sabtu, banyak kantor libur, maka waktu tigapuluh menit dari rumah ke KBRI sudah lebih dari cukup. Sehingga ketika aku sampai akan bersamaan waktu dengan pembukaan acara. Itulah harapanku.

Dari Al Reef menuju KBRI, aku pilih jalan seperti biasa. Desingan suara mobil di daerah Bandara Internasional Abu Dhabi tidak sehiruk-pikuk ketika hari-hari kerja. Aku menengok ke kanan ketika melintasi jalan raya sebelah Khalifa City A, karena pikiranku sejenak teringat sekitar setahun yang lalu, ketika aku sekeluarga tinggal di daerah ini. Dan sesekali aku menengok ke kiri jalan memperhatikan radar-radar type baru memantau kecepatan untuk memastikan bahwa mobilku masih dalam batas kecepatan yang diijinkan. Tiba-tiba aku harus mengernyitkan dahi ketika di depanku semua kendaraan berjalan tersendat pelahan memenuhi semua jalur-jalur jalan. Aku langsung tersadar bahwa di depanku sedang ada kemacetan. Sadarku sudah terlambat karena mobilku sudah masuk jalan lurus tanpa bisa menghindar keluar ke jalan yang lain. Sambil aku injak pedal rem pikiranku memilih jalur mana yang harus aku ambil. Sementara di depan mata semua kendaraan sudah berhenti total. Aku menoleh ke kanan dan kiri tidak ada lagi jalan keluar, yang ada hanya jembatan layang sedikit di depan atasku untuk kendaraan memasuki jalur-jalur di depanku. Aku sadar bahwa mobilku sudah terperangkap pada macet hari libur Sabtu.

Sambil berpikir tentang apa penyebab macet kali ini, ada beberapa mobil dari belakangku mengambil bahu jalan. Aku teringat berita di koran online Gulfnews.com beberapa waktu yang lalu bahwa, Pemerintah UAE akan memberi hukuman keras kepada para pengendara yang menggunakan jalur di bahu jalan jika bukan untuk keadaan darurat, karena bahu jalan hanya diperuntukkan bagi Polisi, Ambulan dan kendaraan keadaan darurat lainnya. Jika tertangkap, selain denda sejumlah uang hukumannya juga termasuk kurungan penjara selama 3 bulan. Walaupun aku khawatir terlambat menghadiri pengajian di KBRI, aku miris juga untuk mengambil bahu jalan.

Kendaraan tetap berjalan bak merambat saja. Pandanganku lebih tertuju jauh di depan daripada memperhatikan kendaraan di depanku. Aku ingin tau, apa yang telah terjadi sehingga aku harus menaggung juga resikonya.

Aku lihat dikejauhan bis-bis pengangkut pekerja mulai mengalihkan jalurnya ke arah kiri. Aku pikir bahwa jalur kanan yang mereka tinggalkan akan jadi lowong. Aku keluar dari desakan sesaknya kendaraan ke arah jalur kanan yang ditinggalkah oleh kendaraan-kendaraan yang mengambil ke jalur kiri. Aku tersadar bahwa aku akan melakukan kesalahan apabila aku teruskan dengan jalur yang baru aku ikuti ini ketika jauh di depanku aku lihat ada lampu darurat memerintahkan bahwa semua kendaraan agar berpindah ke jalur kiri. Sambih agag gugup aku berusaha mengembalikan pisisi kendaraanku ke jalur yang lebih kanan. Semakin ke depan semakin diminta ke kiri oleh lampu darurat. Dan ternyata hari ini ada perbaikan jalan sehingga dari empat jalur hanya disisakan satu jalur saja untuk dilewati. Pantas saja jalannya macet.

Jam di dashboard mobilku sudah mendekati pukul 18 ketika aku memasuki areal KBRI. Dari banyaknya mobil yang parkir, tentu banyak sekali pengunjungnya. Sejak dari arah timur jalan depan KBRI tempat parkir sudah penuh. Aku melongok lebih ke depan sama saja. Setelah pintu masuk KBRI ada satu slot parkir beratap fibeglass kosong di depan Kantor Tenaga Kerja. Aku langsung masuk saja. Pikiranku ragu, apakah yang sedang aku masuki ini adalah tempat parkir atau jalan khusus untuk masuk ke Kantor Tenaga Kerja. Tanpa ragu lagi aku ambil saja karena hari ini hari libur, pasti tidak akan ada mobil yang akan menggunakan slot ini. Setelah aku keluar mobilku ada staf Diplomat KBRI yang aku kenal datang dan menghentikan mobilnya di belakang sebelah kiri mobilku. Istriku memintaku untuk mengeluarkan mobilku karena parkir yang aku ambil agar dipakai oleh staf Diplomat saja. Aku ingin bertanya kepada Diplomat itu, tetapi mesin mobilnya aku dengar sudah dimatikan. Tanpa ragu lagi niatanku untuk bertanya aku urungkan sebagai pengganti aku bertanya, apabila tempat parkir yang aku pakai ini direlakan untukku saat ini sebaiknya aku ingin bersalam saja sebagai tanda terimakasihku. Lalu aku dan rekan Diplomat bersalaman.

Makan Malam Bersama

Pintu gerbang KBRI tetap terbuka, tidak seperti hari-hari biasanya yang selalu tertutup. Didalam Area kantor KBRI depan gedung utama semua orang sudah menyesaki karpet yang digelar di tempat terbuka. Hangatnya awal musim panah tahun ini tidak menyurutkan semangat hadirin untuk mendengarkan apa yang sedang disampaikan oleh panitia. Gelaran karpet-karpet dibagi menjadi dua oleh kain biru panjang, bagian sisi barat untuk para hadorot dan bagian sisi timur untuk para hadirin.

Perasaanku tidak ingin duduk saja sampai setelah shalat Maghrib nanti, saat tauziah sebenarnya oleh Ustad Aa Gym diberikan. Ada satu meja dibelakangi yang hadir berisikan banyak buku. Aku tertarik dan mendekatinya. Aku pungut satu persatu buku-buku kecil yang dibandrol 10 Dirhaman saja, aku baca saja di bagian kulit belakangnya, buku demi buku, sampai pada buku yang paling besar, tebal dan berwarna abu-abu yang dihargai 100 Dirhaman, setelah aku baca tulisan di kulit belakangnya, aku tertarik dan berminat untuk membelinya. Secara sembunyi-sembunyi aku ambil dompetku dari dalam kantong celanaku, ini karena aku tidak terlalu yakin bahwa aku membawa cukup uang untuk buku abu-abu itu. Aku terpaksa membatalkan niatku untuk membelinya karena di dalam dompetku hanya ada satu lembar ratusan Dirham, dan uang itu hanyalah satu-satunya uang yang mengisi dompetku saat itu. Aku tidak menyesalinya walaupun aku sedikit merasa sayang karena aku tidak mengetahuinya apabila di acara ini ada juga buku yang ditawarkan kepada para yang hadir.

Aku menjauh dari meja itu menuju teras pintu masuk KBRI, di sana ada beberapa rekan yang hampir semuanya aku kenal baik nama ataupun wajah mereka. Sambil mendengarkan pengumuman panitia oleh pembawa acara aku salami semua yang berdiri di teras Kantor KBRI itu. Sejenak kemudian Ustad Aa Gym diminta untuk memulai mengambil makan malam.

Jam tanganku baru saja menunjukkan pukul 18:30 ketika di kedua tanganku sudah membawa piring dan mangkok plastik penuh dengan menu makanan yang aku ambil dari meja makan. Dua tusuk sate ayam dan setusuk sate daging sudah terlentang di atas nasi piring yang aku bawa. Mangkok yang menongkrong di atas piring separuhnya sudah terisi oleh sayur sop dicampur sepotong daging. Buah jeruk dan sebungkus kue-kue juga tidak ketinggalan aku bawa juga. Dan segelas air mineral tidak juga ketinggalan.

Aku duduk tidak jauh di depan Ustad Aa Gym. Setelah semua tiga tusuk sate, nasi dan sop aku habiskan Pak Ustad mulai membuka acara tambahannya. Acara siaran yang menurutnya didengarkan oleh banyak pendengar di manasaja melalui online.

Pak Ustad memakai handphone-nya untuk memfasilitasi acara itu. Dibuka dengan pembacaan salam lalu Pak Ustad memberitahukan bagaimana kemajuan Negara UAE yang dulunya dari gurun pasir sekejab bisa berubah menjadi moderen seperti sekarang ini.

Dibantu oleh penjelasan Diplomat KBRI semua yang hadir mendengarkan penjelasan yang diwali dengan permasalahan Tenaga Kerja Wanita Indonesia seperti berikut ini:

Tenaga Kerja Wanita (TKW)

Sebenarnya sejak bulan Oktober tahun 2013 yang lalu, pengiriman TKW ke UAE sudah diberhentikan. Namun pihak pengirim tenaga kerja tetap saja melakukan prakteknya mengirim para TKW dengan berbagai macam cara. Misalnya rute secara langsung ke negara tujuan dihindari, lalu diambil rute alternatif misalnya melalui Singapura, melalui Srilangka dan lain sebagainya untuk menghindari terdeteksinya mereka bahwa mereka akan dikirim khususnya ke UAE. Dari UAE oleh para agen penyalur akan dikirim untuk disalurkan ke Suriah, Jordania atau daerah mana saja di Timur Tengah ini, karena UAE merupakan pusat dari semua pengiriman itu.

Untuk mendangkan para TKW itu tidak murah, karena keuntungan para pengirim TKW di Indonesia dari 25 sampai dengan 50 juta Rupiah per TKW. Di sinilah permasalahannya mengapa pengiriman itu tetap berlangsung, ini merupakan bisnis dengan keuntungan besar.

Sitem yang berlaku untuk pembantu rumahtangga adalah sistem sponsorship atau Khafillah, dimana seorang pembantu yang sudah menjadi tanggungjawab sponsornya setelah masuk rumah sudah tidak bisa diganggu gugat lagi, walaupun Polisi saja tidak bisa melakukan apa-apa. Di sini ditengarai bahwa sistem ini merupakan sistem perbudakan moderen.

Kemajuan UAE
 
Cerita singkat tentang kemajuan UAE dalam sekejab dapat berubah dari daerah padang pasir menjadi sebuah Negara Moderen seperti sekarang ini karena pemerintah setempat memberikan pendidikan kepada para pemudanya dengan gratis, bahkan pemerintah mengirim para pemudanya untuk belajar ke manca negara.

Pengelolaan minyak di sini adalah, Semua hasil minyak adalah milik Negara. Pihak pengelola/ pengebor akan mendapatkan bagiannya (dibayar) setelah minyak yang dikeluarkan dari bumi sudah terjual. Semua hasil minyak harus masuk ke negara terlebih dahulu. Sedangkan di Indonesia adalah kebalikannya, minyak akan dimiliki oleh pengelola yang mengebor, lalu Pemerintah diberi hasilnya saja.

Di UAE adanya minyak menjadi suatu kebanggaan. Jadi mengapa para penduduk UAE cinta sekali kepada Sheikh Zayeed, pendiri Negara UAE. Shekh Zayeed yang dapat menyatukan semua Emirates di UAE ini. Awalnya termasuk Qatar dan Bahrain, tetapi kemudian mereka lebih memilih untuk menjadi negara sendiri-sendiri. Karena hasil minyaknya untuk mensejahterakan masyarakatnya. Income Abu Dhabi merupakan 90% dari total income minyak UAE. Dibandingkan denga Indonesia yang minus minyak, di sini minyaknya kelebihan, dan kelebihan itu untuk mensejahterakan rakyat Negara UAE ini.

Gaji seorang Mayor Jenderal sekirat 500 jutaan Rupiah, dan gaji anggota Dewan sekitar 900 juta lebih sekian Rupiah.

Di sini orang menikahpun dibiayai. Sampai sekarang ada Majelis untuk rakyat. Majelis ini terus berhubungan dengan rakyat. Semua permasalahan rakyatnya diusahakan diselesaikan oleh Majelis ini. Rakyat yang tidak memiliki rumah diselesaikan dengan diberi rumah atau tanah, rakyat yang terlilit oleh hutang diselesaikan dengan dibayar hutang-hutangnya, dan lain sebagainya. Walaupun hal yang seperti ini ada efek jeleknya, karena masyarakatnya kurang biasa menghadapi tantangan. Seperti di Jepang pernah Kaisarnya memperlakukan rakyatnya hampir seperti ini, tetapi kemudian dirubah karena ditengarai masyarakatnya kurang memiliki tantangan.

Di Indonesia apabila diberi kemudahan seperti itu akan memperlemah masyarakatnya, karena biasanya orang-orang yang biasa "fight" itu yang lebih mudah untuk sukses.

Para hadirin yang memiliki gaji  besar agar jangan selalu menuruti permintaan anak. Ajari mereka untuk menghargai nilai-nilai dari barang yang diberikan. Jangan dipenuhi setiap permintaan yang diinginkan mereka. Ingin berganti HP karena melihat temannya sudah ganti HP, karena akhirnya mereka tidak menghargai barang dan mereka sangat mudah untuk tidak sukses.

Sahabat Umar berkata, "Para pemimpin yang berkhianat dan harta berada di tangan orang-orang fasik, maka Negara akan hancur".

Acara siaran online ini ditutup dengan ungkapan salam dan terimakasih oleh Pak Ustad kepada yang sudah hadir di tengah kita, dan semoga dapat hadir kembali di lain waktu.

Tauziah       

Setelah shalat Maghrib bersama yang diimami oleh Ustad Aa Gym selesai, lalu dilanjutkan dengan shalat jamak yang diimami juga oleh Pak Ustad juga. Setelah acara shalat selesai semua yang ada di salah satu ruang KBRI untuk shalat, keluar menuju mimbar yang sudah dipersiapkan di depan gedung kantor KBRI.

Setelah acara pokok dibuka oleh pembawa acara kemudian dilanjutkan dengan penbacaan ayat suci Al-Qur'an termasuk terjemahannya oleh dua anak lelaki berbaju kondora. Merekalah ananda Said dan Salman.

Ketika Ustad Aa Gym naik ke mimbar dan menghadap yang hadir, semua yang hadir diminta untuk membaca surat Alfatehah. Pembacaan surat Alfatehah secara bersamaan menandai dibukanya tauziah oleh Ustad Aa Gym. Dan dilanjutkan dengan ucapan salam kepada semua yang hadir olehnya. Sebelum inti tauziah benar-benar dimulai, Pak Ustad membacakan kalimat Tahmid dan dilanjutkan dengan bacaan Salawat Nabi.

Menurut Pak Ustad bahwa semua yang ada di dunia ini adalah baik kecuali dua, yaitu bagi  yang tidak bersyukur, dan tidak beriman bahwa semuanya itu diciptakan oleh Allah.

Pak Ustad lalu bertanya kepada para yang hadir;

Apakah jarak dari Dubai ke Abu Dhabi itu jauh?". Serentak semua yang hadir tetap membisu sambil membelalakkan mata mereka mencoba memperhatikan tentang maksud dari pertanyaan Pak Ustad. Tak ada satupun yang hadir mampu menjawab pertanyaan Pak Ustad lalu dilanjutkan dengan pertanyaan berikutnya, yaitu;

"Apakah hari ini panas atau tidak?", Semua yang hadir semakin kelihatan penasarannya karena tak satu mulutpun mengeluarkan jawaban pertanyaan-pertanyaan itu, sampai akhirnya Pak Ustad sendiri menjawabnya. Jawabannya adalah;

"Dubai mah... dekat jika dibandingkan dengan harus datang dari Amman, Jordania atau tempat-tempat yang lebih jauh dari pada Dubai. Suhu di sini adalah panas jika dibandingkan dengan suhu di kutub". Itulah jawaban Pak Ustad menggambarkan bahwa semua itu adalah relatif.

"Judul ceramah kali ini adalah, Indahnya Hidup dengan Bening Hati". Demikian Pak Ustad mengawali pokok tauziahnya. dan dilanjutkan bahwa:

Sebenarnya semua rahasia hidup ini adalah hati. Apabila hati bahagia, semuanya akan ikut bahagia. Apabila hati marah, semua keadaan akan menjadi ingin marah. Apabila hati jatuh cinta, maka semua keadaan akan langsung ikut jatuh cinta. Apabila sakit hati, semuanya langsung sakit hati pula dan seterusnya. Sayangnya banyak orang yang tidak memikirkan keadaan hati mereka.  Orang lebih mengutamakan dan lebih sering membersihkan rumah mereka daripada membersihkan hati mereka. Orang lebih suka rumah yang besar daripada hati yang besar. Orang lebih mencari rumah yang lapang daripada hati yang lapang.  Bahagia itu tempatnya hanya ada di hati, bukan di rumah, bukan di diskotik, bukan karena banyak harta, bukan karena jabatan yang tinggi atau di tempat-tempat lainnya. Jadi, jagalah hati saja jika ingin hidup bahagia.

Peristiwa beberapa waktu yang lalu bagaimana seorang berkebangsaan Jerman yang kayaraya melakukan bunuhdiri dengan menabrakkan mobilnya ke kereta api yang sedang berjalan. Bagaimana seorang yang sangat terkenal, Michel Jackson mati karena overdosis obat bius. Bagaimana seseorang yang memiliki jabatan tertinggi sebagai seorang presiden Brasil, mati bunuhdiri dengan menembak dirinya sendiri.

Jadi, bahagia tidak biasa diukur dengan harta. Bahagia tidak bisa diukur dengan ketenaran. Bahagia itu tidak bisa diukur dengan tingginya jabatan. Bahagia itu adalah urusan yang ada di hati.

Lalu Pak Ustad melanjutkan bahwa; Hati itu dibagi menjadi 3:

Yang pertama adalah, "Qolbun Mayyit", adalah hati yang mati. Hati demikian adalah hati yang hanya ditentukan oleh nafsu. Contoh dari hati yang mati adalah, bagaimana seorang ibu telah berbuat tega dengan  menggunting lidah anaknya sendiri karena anaknya tidak bisa diam. Seorang bapak telah melakukan sodomi terhadap 50an anak-anak kecil. Itulah ciri-ciri Qolbun Mayyit.

Yang kedua adalah, "Qolbun Marid", yaitu hati yang sakit. Orang yang memiliki qolbun marid ini akan merasa bahwa hidup ini tidak enak. Sama halnya jika sedang memiliki badan yang sakit, apalagi dibarengi dengan telinga yang mendengung, lalu ada asam uratnya. Hidung yang tersumbat akan merasa sudah sangat tersiksa. Hidup menjadi tidak enak. Apalagi hatinya.

Dan yang ketiga adalah jenis hati yang disebut "Qolbun(s) Salim", hati yang sehat. Hati yang damai. Hati yang Bersih.  Ciri-cirinya biasanya, lahoufun alaihim walahum yahzanun, jadi hati yang tidak akan pernah takut kepada siapapun kecuali kepada Penciptanya. Makin sehat hati, makin banyak yang tidak ditakuti. Makin banyak takut terhadap keadaan duniawi, makin tidak salim qolbu seseorang.

Lalu Pak Ustad meminta para yang hadir untuk mengangkat tangan mereka bagi siapa yang merasa memiliki qolbun salim. Artinya bagi mereka yang tidak memiki dosa samasekali. Tak satupun dari yang hadir ada yang mengangkat tangan mereka, kecuali semuanya saling memperhatikan keadaan di atas kepala yang hadir apabila ada seseorang yang sedang mengangkat tangannya. Untuk memecah kesepian Pak Ustad melanjutkan dengan meminta mengangkat tangan bagi siapa yang memiliki dosa sedang. Keadaannya sama saja seperti permintaan Pak Ustad yang pertama, tak satupun tangan yang diangkat. Kemudian banyak tangan yang diangkat ketika Pak Ustad melanjutkan dengan meminta untuk mengangkat tangannya bagi siapa yang memiliki dosa besar. 

Penyakit hati itu dikenal dengan nama,  Simuntakik-uk. Si berarti sirik, Mun berarti munnafik, Ta berarti takabbur, Kik berarti dengki dan Uk berarti ujub. Ada pula yang disebut Cidun, cinta dunia. Tambahnya.

Lalu semua yang hadir diminta untuk tidak ada yang marah dengan istilah diatas, Pak Ustad mengatakan bahwa, namanya saja ngarang.

Lalu Pak Ustad melanjutkan tentang pemahaman dari kesirikan.

Contoh memempeleng orang lain, menganbil uang orang lain adalah bentuk kezoliman. Sedangkan kesirikan adalah bentuk kezoliman yang paling besar. Untuk itu disebutkan bahwa semua dosa, sekecil atau sebesar apapun akan diampuni kecuali dosa sirik. Inilah sumber kejelekan seseorang. lanjutnya.

Yang disebut Iyalah adalah segala sesuatu yang telah menguasai hati seseorang. Yaitu yang membuat hati seseorang menjadi bahagia. Yaitu Allah. Sedangkan iyala-iyalah yang lain daripada Allah itulah yang disebut sirik. Iyalah yang telah membuat kita tidak bahagia. iyalah yang selalu membuat seseorang gelisah, seperti iyalah harta, iyalah jabatan, iyalah takut kelihatan tua, iyalah agar selalu kelihatan muda terus, iyalah uang dan lain sebagainya.

Lalu Pak Ustad melanjutkan;

Ada yang telah diperbudak oleh pasangan hidupnya, sang istri mengatakan. "Aduhai suamiku, engkaulah pelita hidupku". Hadirin banyak yang tertawa mendengar ungkapan itu. Lalu Pak Ustad melanjutkan dengan mengatakan bahwa, suami yang memiliki pasangan hidup demikian adalah ciri suami yang gagal terhadap pasangan hidupnya. Suami ini telah membuat istrinya memiliki iyalah selain Allah. Suami ini tidak bisa membuat istrinya mencintai Allah. Bagi wanita, lelaki demikian jangan lagi dicintai, karena dia adalah lelaki yang gagal telah membuat anda mencintai selain Allah.

Kalau siriknya bagus, maka semuanya akan menjadi tidak bagus. Obat sirik adalah dengan menafikkan kalimat, "Lailahaillallah". Tiada Tuhan selain Allah. Tiada pencipta selain Allah.

Lalu Pak Ustad menanyakan yang hadir bahwa, siapa yang bisa membuat anak?. Pak Ustad melanjutkan bahwa, "Boro-boro membuat anak, menggambar anak saja tidak bisa. Jangankan membuat anak, membuat sehelai rambut anak saja tidak bisa".

Lalu Pak Ustad melanjutkan dengan bertanya lagi, "Adakah ciptaan Allah yang gagal?, yang jelek?". Jawabannya adalah, tidak ada. Yang bilang, ada atau jelek itu kita, sedangkan bagi Allah, tidak.   Coba lihat bagi orang yang diciptakan tidak memiliki kaki, kitalah yang mengatakan bahwa orang itu cacat. Kitalah yang mengatakan bahwa orang itu buntung. Bagi Allah, tidak, karena bagi orang tidak memiliki kaki dan datang ke tempat-tempat yang baik akan diberi pahala yang lebih besar dibandingkan dengan orang yang memiliki kaki yang utuh. Itulah rahasianya. 

Bagi yang merasa bagus jangan sonbong, dan bagi yang merasa kurang bagus juga jangan minder. Semua itu dari Allah. Semua itu ada hikmahnya.

Lalu pertanyaan berikutnya adalah, "Yang membikin bibir itu siapa?", serentak sebagian yang hadir menjawab, "Allah". Lalu Pak Ustad melanjutkan, "Jangan takut tidak laku bagi yang memiliki bibir tebal. Jangan minder walaupun bibirnya kelihatan seperti ban radial". "Justru bibir tebal itu yang eksotis", serentak hadirin tertawa. Mau dibikin tua, dibikin keriput, dibikin menjadi apapun nikmati saja. Pemberian tanda ketuaan seperti uban boleh dirawat, boleh dijaga, tetapi semua itu tetap harus dinikmati.

Ada orang yang memiliki "balong besi, otot kawat dan leher beton", orang itu merasa tinggi hati. Coba, beri saja muntaber, nanti kan menjadi sulit berdiri. Lalu banyak yang hadir tertawa. Sekarang ada wabah Mers, lanjut Pak Ustad. Pekerjaan Mers itu bertasbih. Jangan khawatir, tenang saja, nggak pakai Mers saja pada meninggal. Jangan takut. Tidak ada penyakit yang membikin orang mati. Yang membikin seseorang itu mati adalah karena waktunya sudah habis. Lahir di Indonesia, mati di sini. Kematian itu harus ada tiga syarat, yaitu, waktu, tempat, dan cara.

Anak kita ciptaan Allah, jangan minder bagaimanapun bentuknya. Tidak boleh orang tua jadi ujub terhadap anak. Semuanya ciptaan Allah.

Kalau ada orang yang mengatakan kepada anda setelah tidak bertemu sekian lama, lalu bertemu dan mengatakan bahwa anda semakin muda, lalu anda langsung mentraktirnya karena anda merasa senang. Sebenarnyya anda itu telah dibohongi oleh oarng itu. Tidak ada di dunia ini yang semakin kelihatan muda, pasti semakin tua.

Orang India, orang Afrika semuanya adalah ciptaan Allah. Nyamuk juga ciptaan Allah. Kecoak juga ciptaan Allah.

Ketika anda di dalam kamar mandi, anda melihat seekor kecoak yang sedang terpeleset dan tidak bisa berjalan karena kakinya berada di atas. Tentu yang akan anda lakukan adalah, anda akan melepas sandal anda, lalu menebok si kecoak tak berdaya itu sampai mati karena anda jijik atau takut. Padahal kecoak tadi maunya ingin menemui sanak familinya lalu kepereset, dan anda temukan lalu anda bunuh. Kecoakpun adalah ciptaan Allah. Seandainya anda menolongnya ketika dia kepleset, maka kecoak akan melakukan niatnya untuk bertemu keluarganya, anaknya atau sahabatnya. Tentu anda sebagai penolong makhluk Allah akan mendaptkan pahala juga.

Kemudia Pak Ustad melanjutkan dengan kisah yang lain.

Ada anjing yang sangat kehausan, karena hausnya sampai-sampai si anjing itu mejilati pasir mengharap adanya sisa air yang menempel. Lalu ada seorang wanita datang. Wanita ini adalah wanita pezinah. Wanita itu merasa iba melihat anjing yang sedang kehausan, lalu dia mengambil air dengan menggunakan sepatunya. Karena kebaikan si wanita ini dengan menolong seekor anjing yang sedang kehausan, maka wanita ini telah diampuni dari dosa-dosanya yang telah lalu. Artinya, dosa zinah yang telah ia lakukan telah diampuni dengan membantu seekor anjing yang membutuhkan pertolongan.

 Semua makhluk diurus oleh Allah. Sehebat apapun seorang ibu mengurus anaknya tidak seberapa jika dibandingkan dengan Allah mengurus anak ibu. Allah mengurus anak ibu selama 24 jam penuh dalam sehari, dan terus-menerus tidak terputus. Sedangkan ibu hanya beberapa saat saja. Mungkin minta makan, ketika minta dibersihkan dan lain sebagainya. Waktunya hanya terbatas.

Tip agar anak jadi anak sehat, bukan hanya menasehati anak saja. Tapi orang tuanya terlebih dadulu harus jadi soleh. Anak itu akan merekam apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Anak itu merupakan titipan dari Allah. Orang tua menyuruh anaknya mengngaji, tetapi orang tuanya sendiri tidak mengaji. Jangan salahkan anak jika anaknya tidak suka mengaji, karena orang tuanya tidak mau mengaji juga.

Lalu Pak Ustad meneruskan dengan cerita lain lagi.

Ada seorang ibu yang memakaikan kerudung kepada anak gadisnya, kerudungnya ditata dengan bagus, dihiasi dengan bros yang bagus, warna kerudungnya bagus sekali. Pada keadaan ini ada yang aneh dan kontras ketika itu, karena si ibu memakaikan kerudung bagus untuk anak gadinya tetapi dia sendiri sebagai orang tua tidak memakai kerudung.

Seorang suami itu juga ciptaan Allah. Demikian lajut Pak Ustad dalam tauziahnya. Ibu tidak akan bisa untuk membolak-balik hati suami ibu. Kemudian Pak Ustad bertanya, "Siapa yang bisa membolak-balik hati seseorang?", Serentak yang hadir menjawab, "Allah".

Ada seorang wanita yang selalu rapi, baik rumahnya, halaman rumahnya, serta dirinya sendiri. Padahal dia memiliki seorang suami tunanetra. Lalu ada orang lewat dan bertanya. Mengapa ibu selalu rapi, toh suami ibu tidak bisa melihatnya?. Si wanita itu mengatakan bahwa, apa yang dilakukannya hanya karena Allah, semua ini adalah milik Allah.

Semakin besar rasa ingin dicintai, semakin besar rasa ingin dihargai, semakin besar rasa ingin dipuji, hati bapak atau ibu semakin sakit. Kita punya atasan, atasan kita ciptaan Allah. Mencari perhatian dari atasan itu sirik. Kalau anda ingin bekerja, ya.. bekerjalah saja. Kalau anda ingin baik, ya... berbaiklah saja. Kalau anda ingin Jujur, ya... jujurlah saja. Jangan karena takut atasan maka anda jadi bekerja, anda jadi baik, anda jadi jujur. Jadi, tunjukkan saja semua yang anda lakukan karena takut kepada Allah.

Pak Ustad melanjutkan dengan contoh lain.

Ada seorang Bapak yang ingin melakukan I'tikaf di Masjid. Lalu mengatakannya kepada istrinya, istrinya tidak percaya. Hahh...mau I'tikafdi masjid semalam? Apa iya?, hahh..?, hahh...?. Banyak yang hadir jadi tertawa mendengar ini. Istri mau percaya atau tidak itu terserah. Yang penting anda melakukan I'tikaf di Masjid, anda hanya takut kepada Allah. Tunjukkan itu, nanti istri akan percaya sendiri melihat bukti yang anda tunjukkan.

Jadi, yang membolak-balik hati itu adalah Allah. Orang jujur itu dikasihi Allah. Bagi orang yang bekerja sebagai pedagang juga sama, yang membolak-balik hati manusia itu adalah Allah.

Lalu Pak Ustad mnanyakan hadirot yang hadir, siapa yang tidak punya suami?, atau sedang becerai dengan suaminya?. Tak satupun dari hadirot yang menjawabnya kecuali beberapa dari mereka yang menahan gelak atau senyum mereka. Lalu Pak Ustad melanjutkan ceritanya bahwa, Pak Ustad dulu pernah tinggal di Komplek Ankatad Darat, karena dia merupakan anak Tentara. Di sana banyak janda, mereka tidak punya suami, tetapi mereka semua pada makan, mereka semua pada berteduh. Jadi, jangan takut. Prinsipnya, ada nafas ada rezeki.

Ibu-ibu ke sini bukan mencari rezki, lanjut Pak Ustad sambil melihat ke arah kerumunan para hadirot. Tetapi menjemput rezeki. Contohnya sederhananya. Ibu ingin menjemput anaknya yang sedang berada di Blok M, tetapi ibu mencarinya di Blok C, mana mungkin ibu akan bertemu dengan anaknya. Begitulah rejeki. Rejeki itu sudah ada, jangan dicari tetapi dijemput.

Lnjut Pak Ustad, ada seorang ibu hamil. Rejeki ibu itu ada di dalam perutnya. Ketika ibu hamil, semuanya dimakan, jengkol, ubi, kacang, pete dan lain-lain. Rasanya tidak tau bagaimana semua dimakan, ibu tinggal ngunyah saja. Semua yang dimakan termasuk jengkol, pete, ketela menjadi sari untuk bayinya.

Semua itu sudah ada yang ngatur. Manusia itu adalah primata yang lemah. Monyet saja begitu lahir langsung bisa bermain. Manusia?. 9 bulan setelah lahir bisanya hanya bisa menangis terus. Untuk seorang bayi rezekinya ada dari ASI, ada dari susu sapi. Apakah bayi mendekiati sapi ketika dia ingin meminum susu sapi?. Serentak yang hadir banyak yang mengatakan, "Tidak...". Karena bayi itu hanya membutuhkan air susunya, bukan susunya, maka yang datang adalah air susunya. Jadi, rezeki itulah yaang mendekati bayi, bukan bayi yang mendekati air susu sapi.

Malam ini kita sudah makan di sini. Demikian lanjut Pak Ustad. Coba hitung berapa langkah kita telah mendekati makanan yang telah kita makan malam ini. Berapa ribu langkah yang telah kita lakukan untuk sampai ke tempat menu makan malam ini. Demikian juga bahan makanan-makanan itu. Beras, cabe, daging, wortel, garam dan lain sebagainya datang kepada kita. Mana yang lebih hebat, makanan telah mengejar kita, datang ke kita. Sampai kapan rejeki ini akan datang kepada kita?, Sampai kita mati, dimana ada nafas ada rezeki.

Jadi, jangan takut tidak punya rezeki, takutlah apabila tidak punya iman, takutlah kalau tidak bersukur. Dan bersabarlah ketika rezeki itu belum didapat, itu karena masih ditahan. Jangan menjadi tidak mempunyai keridoan karena waktu pengeluaran rezekinya ditunda.

Masalah kedunian itu jangan dimasukin hati. Coba perhatikan ketika kita menerima gaji, memiliki uang. Sebagian diberikan kepada istri, sebagian untuk belanja, sebagian untuk anak-anak, sebagian untuk membayar kredit ini dan itu, uang itu tadinya dari sini pindah sana, pindah ke situ.

Bagi yang punya rumah villa, siapa yang menikmati?. Coba perhatikan, pembantu anda yang seksi-seksi, karena tiap hari dia yang berenang dikolam renang villa anda. Jadi, yang menikmati villa anda bukan anda, tetapi pembantu anda.

Bagi yang punya rumah besar di Indonesia. Anda ada di sini, lalu anda yang membayar listriknya, pajaknya, yang membayar perawatannya. Siapa yang menikmati rumah anda? Pembantu anda juga yang menikmatinya.

Paling enak dalam hidup ini pakai rumus tukang parkir saja. Mobil datang bersukur, mobil pergi bersukur, ada mobil disetir, tidak ada mobil diam saja.

Dunia jangan dimasukkan hati. Punya tas bagus jangan dimasukkan hati. Tidak punya tas bagus juga jangan dimasukkan hati. Kalau dimasukkan hati ketika tas bagus sedang dipakai, lalu datang gerimis anda bisa tersiksa, menjadi repot untuk melindunginya. Kalau tasnya KW1 tidak apa-apa, kalau tas KW3 bisa celaka, begitu terkena air hujan jadi ketehuan. Pendengar banyak yang tertawa.

Jangan sampai menuhankan duniawi. Semakin banyak harta biasanya semakin kikir, semakin pelit.. Di majelis ini yang paling tenang adalah mereka yang selopnya paling murah. Yang punya selop mahal akan selalu was-was jangan-jangan selop saya diinjak-injak orang. Pendengar lalu tertawa lagi.

Punya sofa bagus dirumah juga repot, ketika ada tamu merasa tidak tenang karena sofanya diduduki, apalagi tammunya berbadan gemuk, maka semakin resah perasaannya khawatir sofanya ambruk. Demikian pula jika tamunya membawa anak kecil, akan semakin tersiksa, mana si kecil dicurigai nantinya akan mengotori karpetnya  

Jagan sampai disiksa oleh barang-barang milik anda. Jangan seperti orang yang punya gelang, jalannya jadi berbeda, berat ke sebelah kiri karena gelangnya dipakai di tangan kirinya. Jadi, jalannya jadi tersiksa.

Agar tidak lengket melekat terhadap keduniaan, kalau ingin tahan terhadap pengaruh keduniaan, jika perlu, lakukanlah sholat. Itu nasehat dari Pak Ustad. Lalu Pak Ustad mempraktekkan bagaimana sholatnya. Dan yang hadir banyak yang tertawa karena pada setiap gerakan sholat selalu dibacakan bagaimana mendoakan barang-barangnya.

Berapa lama sih kesenengan dengan barang yang anda miliki?. Tidak lama. Coba, ketika ada HP baru, anda mencoba untuk mendapatkannya. Ketika ada baju model baru, anda mencoba untuk mendapatkannya. Perjuangan untuk mendapatkan barang-barang yang anda inginkan lebih lama jika dibandingkan dengan lamanya waktu anda untuk menikmatinya.

Lalu Pak Ustad bercerita tentang Tustel yang semakin hari semakin canggih saja. Suatu saat Pak Ustad ingin memiliki tustel, dan berkata,

"Selagi saya pergi ke Makkah saya membeli tustel yang paling bagus. Sampai di rumah saya jadi bingung untuk menyimpannya. Mau diletakkan di atas lemari takut jatuh. Mau disimpan di bawah takut ada kucing. Pokoknya membuat saya repot dan tersiksa dengan tustel saya itu, sampai suatu saat ada seorang dari pesantren yang sedang membutuhkan tustel. Lalu saya pinjamkan, saya bilang agar hati-hati dengan tustel ini, ini barang mahal dan canggih, harus betul-betul dijaga. Maka dipakailah tustel itu, saya juga jadi kepikiran dengan tustel canggih itu. Dan setelah acara selesai si pembawa tustel kembali kepada saya dan memberitau saya bahwa tustelnya hilang. Lalu saya mengatakan, alhamdulillah. Karena dengan adanya tustel itu saya jadi tersiksa. Sekarang setelah tustel itu hilang maka saya jadi bebas dari siksaan itu".

Mumpung masih sehat, maka bersekahlah. Kalau Allah ingin mengambil harta kita gampang saja, banyak caranya. Kalau mau bersedakah, jangan bersedekah dari sisa uang belanja, atau dari uang kelebihan lainnya, tapi rencanakan sejak dari awal, misalnya sejak sebelum menerima gaji canangkan jumlah sedekah anda sejak awal 5% dari jumlah gaji anda, atau 10% dari jumlah gaji anda. Ketika Pak Ustad menyebut 10% dari jumlah gaji, semua yang hadir banyak menjadi tegang. Lalu Pak Ustad mengumpamakan perasaan yang tegang itu dengan mengatakan, "Hah....?, 10% gaji?". Yang dijawab dengan tawa oleh yang hadir. Mumpung takdir anda sekalian dimudahkan rejekinya, maka bersedekahlah. Lanjut Pak Ustad.

Lalu  ciri-ciri orang pelit seperti orang memakai baju besi. Ketika dibuka akan mengeluarkan suara, ketika bergerak sedikit saja mengeluarkan bunyi. Demikian juga orang yang pelit, baru mengeluarkan sedekah sedikit saja keluhannya disengar semua tetangganya.

Agar menjadi bahagia maka bahagiakanlah orang lain. Misalnya ketika memberikan uang parkir, uang kembalian jangan diambil, kasihkan saja kepada is tukang parkir, biar dia merasa senang. Dengan senangnya si tukang parkir, maka hati yang memberi kelebihan uang kepada tukang parkir akan menjadi senang juga.

Tidak ada yang menentukan kecuali Allah. Lahaulah walakuataillabillah.

Sudah janjian, kalau Allah tidak mengijinkan tidak akan jadi. Ada seseorang suami istri mau pergi berangkat umroh, ketika mereka sedang  akan masuk pesawat tiba-tiba si istri sakit perut, lalu keluar sebentar untuk ke toilet, si suami terpaksa ikut. Ternyata sakit istrinya bukan sakit perut biasa dan dia harus dibawa ke rumah sakit, maka umroh mereka tidak jadi berangkat.

Janganlah mengharap kepada mahkluk, tetapi mengharaplah kepada Allah. Suami jangan menuntut kepada istri, jangan mengharapkan istri tentang ini dan itu, minta dihormati. Jangan lebai, bagi suami mencari nafkah itu adalah kewajiban. Orang tua jangan menuntut anak, membesarkan dan merawat anak itu adalah kewajiban, karena membesarkan anak itu adalah kewajiban orang tua.

Kepada makhluk itu jangan berharap, jerih payah tidak diahargai tidak apa-apa, Allah yang membalas semuanya. Makin banyak keinginan, makin sesak perasaan dalam hati ini. Biarkanlah semuanya kepada Allah saja. Hanya Allah yang menentukan. Jangan suka lebai, semua masalah yang diberikan kepada makhluk itu sudah diukur. Allah sudah memberikan masalah sesuai dengan kemampuan kita.

Tingkat perihnya hati seseorang tergantung dari kecintaan seseorang pada sesuatu itu. Untuk itu bungkus semua kecintaan itu dan serahkan semuanya kepada Allah. Allah maha tau, jadi semua serahkan kepada Allah.

Jangan mengharap pada makhluk, serahkan pada Allah, karena yang bisa membolak-balik hati manusia adalah Allah. Marilah nikmati hidup ini dengan bergantung pada Allah. Inilah ilmu Tauhid. Tidak ada yang menciptakan, yang membahagiakan, kecuali dari Allah.

Untuk memdengar ceramah saya yang lebih banyak lagi bisa melalui multi media, bisa dilihat di Aagym-tv dengan Android.

Lebih baik mempersiapkan anak-anak kita supaya hafiz Quran. Nanti ketika dewasa mau menjadi apa saja akan menjadi seorang hafiz. Jadi polisi, jaksa, dll yang hafiz Quran.

Ada dompet duhafa, bagi yang memiliki dana nanti Pak Ustad bisa mencarikan calon anak untuk dididik menjadi hafiz.

Bagi yang ingin tweeteran, ikuti Tweeter@aagym

 End