Tuesday, May 08, 2012

Titik-titik Hidupku Secara Singkat.


Siapa Yang Disebut Sukses?

"Positive thinking tetapi tidak logis adalah lebih rendah derajadnya daripada negative thinking tetapi logis". Catatan pribadi dalam Blog.

Sampai saat ini banyak orang merasa kesulitan dalam mendifinisikan tentang siapa yang disebut dengan orang sukses itu. Apakah seorang yang sudah menduduki posisi puncak di suatu organisasi lalu disebut sukses? Apakah seseorang yang sudah memiliki kekayaan berlimpah lalu disebut sebagai orang yang sudah sukses? Ataukah seseorang yang memiliki harta berlimpah dan menduduki posisi puncak di suatu organisasi disebut sebagai orang sudah sukses? Apakah seseorang setelah menulis banyak buku disebut sebagai orang sukses? Apakah setelah menyentuh ujung dunia disebut sebagai orang sukses? Saya mengira bahwa untuk mendifinisikan itu sama sulitnya dengan mendifinisikan tentang orang kaya.

Untuk itu marilah kita cari apa arti kata "sukses" terlebih dulu sebelum memahami apa arti orang sukses itu sendiri.

Secara harfiah sukses berarti berhasil atau beruntung, namun secara definitif adalah mengetahui cara untuk mendapatkan, untuk menjadi dan untuk melakukan sesuatu yang benar-benar kita inginkan dan sukai dalam hidup ini. Dari definisi ini bisa dikatakan bahwa sukses bukanlah sesuatu yang tampak luaran tetapi adanya dalam diri seseorang. Sukses tidak bisa diukur dengan suatu skala ukuran secara umum karena sukses merupakan ‘rasa’ dibagian dalam dari diri seseorang. Sehingga apabila ada seseorang yang merasa sukses pada apa yang telah dicapai, itu bukan berarti anda akan merasakan hal yang sama jika keberhasilan itu terjadi pada diri anda. Untuk itu, jika aku menilai apa yang aku capai sampai saat ini merupakan sukses besar bagiku, itu bukan berarti demikian bagi yang lain.

Cita-Cita Tak Tentu
Carilah kedamaian, bukan kebahagiaan”. Catatan pendek di dinding kamarku ketika aku duduk di bangku Sekolah Menegah Pertama (SMP) dulu.

Aku dilahirkan di lingkungan perkampungan kumuh di Daerah Surabaya Utara. Hampir semua warga di kampungku mempunyai pekerjaan tidak tetap. Lelaki sejak remaja kebanyakan melakukan usaha dengan berdangang barang-barang bekas, ada juga sebagai tukang pangkas rambut, ada yang menjadi sebagai tukang becak, ada yang menjadi buruh/kuli harian lepas, serta sedikit sekali yang menjadi pegawai tetap seperti almarhum ayahku, bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, Penataran Angkatan Laut (PAL), Surabaya. Sedangkan para wanita dewasa kebanyakan mencari nafkah dengan berjualan di pasar-pasar, sebagian membuka warung makan atau kelontong di sekitar rumah mereka masing-masing, sebagian menjajakan makanan siap saji, sebagian sebagai buruh di home industry kampung sebelah, dan sebagian lagi sebagai ibu rumah tangga biasa.

Tentang kedua orangtuaku; Ibuku pernah berjualan ikan segar di pasar sampai aku naik kelas lima Sekolah Dasar (SD). Lalu kemudian ketika ayah pensiun mereka berdua membuka toko kelontong di rumah sampai mereka meninggal dunia. Semoga mereka berdua selalu dalam rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa, amin...

Bisa dipastikan anak-anak di kampungku jarang yang memasuki sekolah formal. Kebanyakan dari mereka sejak usai kecil diarahkan oleh orang tua mereka untuk belajar Agama Islam di langar-langar, lalu ketika menginjak usia remaja (sepuluh tahunan) kebanyakan dari mereka dikirim oleh orang tua mereka untuk memasuki pondok-pondok pesantren, baik anak lelaki atau perempuan.

Aku merasa sebagai anak yang lebih beruntung bisa mengenyam pendidikan sekolah formal sejak kanak-kanak, walaupun tidak dilakukan dengan serius, yang terpenting aku sekolah. Aku sendiri memulai sekolah formal  Taman Kanak-Kanak (TK) sejak usia enam tahun. Namun karena aku anak manja maka aku jadi serba penakut, sehingga ketika di TK aku terpaksa karena tidak tahan buang air kecil di bawah bangku sekolah karena takut meminta ijin pada Ibu Guru untuk ke toilet. Lalu aku diberitau oleh Ibu Guruku agar mengatakan jika ingin ke toilet. Setelah kejadian itu lalu aku tidak mau masuk sekolah lagi. Sampai aku berumur sembilan tahun baru aku meminta kepada ayahku untuk disekolahkan lagi, dan sejak itu aku menjadi murid sekolah Dasar Alkhairiya Surabaya seterusnya mengarungi pendidikan formalku. Setelah aku lulus SD aku sudah berumur limabelas tahun. Aku ditawari oleh ayahku jikalau aku menginginkan untuk meneruskan sekolah ke Pondok Pesantren. Tetapi kemudian aku menolaknya dan aku memilih meneruskan ke Sekolah Formal saja.

Ketika aku masih di SD, setiap aku  pulang dari sekolah lalu makan siang. Sehabis makan langsung bermain dengan teman-temanku sepuasnya sampai menjelang shalat Magrib. Ayah dan ibuku tidak mengetahui permainan apa yang sedang aku lakukan setiap hari. Tetapi kedua orang tuaku dan orang tua teman-temanku nampaknya tidak merasa khawatir dengan keadaan lingkungan bermain dulu, sehingga mereka tidak ada yang merasa khawatir terhadap anak-anak mereka ketika bermain sesamanya.  Lalu seperti temanku lainnya setelah shalat Magrib belajar membaca Alqur'an di langgar dekat rumah (hampir setiap langgar di kampungku setelah Maghrib dipakai sebagai tempat belajar membaca Alqur'an, pengajarnya adalah imam langgar masing-masing). Ayahku sendiri sebagai guru ngajiku dan teman-teman ku karena ayahku sebagai imam di langgar kecil sebelah rumahku.

Aku belajar membaca Alqur'an dan Agama Islam dari ayahku sejak aku berumur sekitar tujuh tahun. Itu berjalan sampai aku kelas empat SD. Setelah itu ayahku memindahkan aku untuk belajar lebih dalam lagi tentang Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah Masjid Khoir kampung sebelah, Danakarya. Kini setiap sore aku harus sholat Ashar di Masjid Khoir karena kegiatan belajar dimulai setelah  sholat Ashar. Kegiatan  sekolah Agama (Madrasah) di Masjid Khoir kampung sebelah ini aku jalani selama lebih dari dua tahun. Dan berhenti dari Madrasah ini sampai aku memasuki SMP karena di SMP aku harus masuk siang.

Bisa dipastikan anak di kampungku tidak ada yang terbayang mempunyai cita-cita ingin menjadi apa kelak ketika dewasa, demikian juga diriku. Sejak SMP kelas tiga aku sering mendengarkan siaran berita dari radio Suara Amerika dan Radio Moskwa. Aku merasa senang dan terus kecanduan mengikuti perkembangan politik dunia. Inilah yang membuat aku mempunyai cita-cita, yaitu  ingin menjadi seorang 'Ahli Nuklir'. Aku membayangkan Indonesia kelak memiliki 'bom nuklir' sendiri seperti Amerika dan Uni Sovyet (Uni Sovyet adalah nama salah satu negara adikuasa ketika itu yang berhalauan Komunis kemudian pecah menjadi beberapa negara yang salah satunya adalah Rusia kini). Apalagi menurutku aku mempunyai bakat lebih dalam bidang ilmu pasti, seperti ilmu pengetahuan alam, fisika dan berhitung (pelajaran berhitung kemudian hari diganti dengan matematika). Karena keyakinanku tentang kemampuan bakatku itu, maka aku memilih jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) ketika duduk dibangku SMA (sekarang disebut SMU). Ketika dilakukan ujian penentuan/pemilihan jurusan IPA atau IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) aku berusaha mengerjakan soal-soal bidang mata pelajaran IPA sebaik mungkin sedangkan soal-soal bidang mata pelajaran IPS sejelek mungkin yaitu dengan sengaja memberi jawaban yang salah pada soal-soal IPS. Ketika pengumuman dilakukan, nilai rata-rataku pada semester pertama kelas 1 SMA adalah; bidang IPA mendapatkan nilai 5 dan bidang IPS juga mendapatkan nilai 5 dari skala 10. Karena pilihan utamaku adalah jurusan IPA, maka sekolah mengabulkan pilihanku untuk menjadi siswa SMA jurusan IPA. Sejak semester ke 2 kelas 1 SMA aku mulai menjadi siswa jurusan bidang IPA.

Sekolah SMA di jurusan IPA tidak membuat diriku menjadi istimewa, nilai-nilai mata pelajaranku kebanyakan tidak lebih dari 7 sekala 10. Ketika aku naik kelas 3 SMA baru mulai sadar dan bertanya kepada diri sendiri, “Nanti setelah lulus SMA mau kuliah kemana, ya?”. Itulah yang membuat aku mengikuti bimbingan belajar agar setelah lulus SMA dapat meneruskan kuliah di Perguruan Tinggi Negeri mengejar cita-cita menjadi seorang ahli nuklir. Walaupun kelompok bimbingan belajar yang aku ikuti akhirnya bubar di tengah jalan karena para peserta semakin lama semakin mengerucut sehingga pihak penyelenggara tidak dapat membayar biaya sewa ruangan. Tetapi paling tidak aku sudah mempunyai banyak buku kumpulan soal-soal test masuk Perguruan Tinggi Negeri yang diberikan oleh pihak penyelenggara bimbingan, yaitu untuk mata pelajaran fisika, matematika, kimia dan biologi. Demikian pula komitmenku di rumah selama kelas 3 SMA setiap hari mulai pukul 21:00 sampai pukul 3:00 dini hari selalu belajar fisika atau matematika atau kimia atau biologi. Dalam seminggu aku alokasikan waktu 2 hari untuk belajar fisika, 2 hari untuk belajar matematika, 1 hari untuk belajar kimia, 1 hari untuk belajar biologi, dan 1 hari sisanya aku gunakan untuk belajar mata pelajaran lainnya terutama bahasa Indonesia dan bahasa Ingris. Suatu saat salah satu temanku merasa heran mengetahui kemampuanku yang sudah hafal hampir semua rumus-rumus fisika, matematika dan kimia ketika mencoba mengerjakan soal-soal setelah selesai mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri Institut Teknologi Surabaya (ITS).
Namun sungguh sayang di ITS waktu itu tidak ada Jurusan Teknik Nuklir. Aku ingin mengikuti test masuk Institut Teknologi Bandung atau Universitas Gajah Mada tidak berani, karena menurut teman-teman biaya hidup di Bandung atau di Jogjakarta cukup mahal bila dibandingkan dengan keadaan perekonomian keluargaku. Akhirnya aku memilih ITS saja karena letaknya yang se kota dengan rumah tinggalku dengan pilihan Jurusan Teknik Fisika dan Teknik Mesin. 

Aku diajak teman-temanku mengikuti test di PAT (Pendidikan Ahli Teknik) ITS, yaitu program Diploma-3 ITS. Teman-temanku senang dengan pilihannya sedangkan aku tidak, karena Jurusan Teknik Fisika tidak ada. Akhirnya aku putuskan memilih jurusan yang paling kurang diminati oleh calon mahasiswa agar aku lebih mudah diterima masuk PAT (Program D-3), ITS. Aku melihat formulir pendaftaran Jurusan Teknik Perkapalan mempunyai sisa formulir yang paling banyak dibandingkan dengan jurusan-jurusan lainnya seperti Teknik Mesin, Teknik Elektro, Statistik, Kimia dan Teknik Sipil. Ini berarti calon mahasiswa yang memilih Jurusan Teknik Perkapalan adalah yang paling sedikit, jika aku memilihnya, maka aku mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk bisa diterima dibanding memilih jurusan lainnya. Tidak apa yang penting bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) daripada tidak kuliah nanti. Semua teman temanku memilih Teknik Mesin atau Teknik Elektro. Test calon mahasiswa Program D-3 ITS dilakukan setelah test calon mahasiswa S-1 selesai, tetapi pengumuman hasil test Program D-3 lebih awal daripada hasil test Program S-1.
Salah satu temanku datang ke rumah setelah melihat pengumuman hasil test Program D-3 di ITS memberitahukan bahwa namaku termasuk yang diterima di Program D-3 ITS Jurusan Teknik Perkapan. Lalu aku berkelakar kepadanya dengan mengatakan bahwa; "D-3 ini adalah buntutnya, sekarang kita menunggu kop-nya yaitu S-1" (istilah 'buntut' dan 'kop' merupakan istilah-istilah pada permainan judi lotto atau greyhound). Ia mengatakan kalau dirinya dan temanku lainnya tidak ada yang diterima di Program D-3 ITS, sehingga semua dari kami tinggal menunggu hasil test Program S-1 dimana tak seorangpun dari kami diterima di Program S-1 ITS. Sejak saat itu aku 'tersesat' di Jurusan Teknik Perkapalan, ITS. Sebagai cadangan jika aku tidak diterima di Peguruan Tinggi Negeri, maka aku juga mendaftar dan diterima di Perguruan Tinggi Swasta, Sekolah Tinggi Elektro Surabaya kemudian tidak aku masuki karena sudah diterima di Jurusan Teknik Perkapalan, ITS.

Aku merasa sudah berusaha sekuat kemampuanku dalam mengejar cita-citaku menjadi seorang ahli nuklir. Masa belajar untuk mempersiapkannya aku lakukan dengan sengguh-sengguh. Selain belajar hampir setiap malam terkadang aku harus mencari teman belajar atau soal-soal ke sana-sini guna menunjang persiapanku menghadapi test masuk Perguruan Tinggi Negeri, terkadang aku belajar di rumah teman-temanku jika itu aku rasa menguntungkan buatku. Didalam kamar tidurku yang digantung pada dinding hanyalah poster-poster buatanku sendiri, yaitu poster-poster dari tulisan rumus-rumus fisika, matematika dan kimia, serta tulisan prinsip hidup yang aku yakini, yaitu "Carilah kedamaian, bukan kebahagiaan".

Bangga Menjadi Seorang Mahasiswa

“Sesuatu yang khusus hanya akan jatuh atau dianugerahkan kepada orang-orang khusus pula”. Catatan pribadi.

Di kampungku yang disebut seorang "Mahasiswa" merupakan sosok yang sangat disegani bagaimanapun dia. Dimana banyak orang-orang kampungku berpendapat bahwa Pemerintah saja tidak berani berbuat macam-macam kepada yang namanya mahasiswa. Mereka terilhami oleh bayangan mereka pada beberapa pergerakan mahasiswa ketika jaman Orde Lama dan awal jaman Orde Baru. Aku selalu merasa tersanjung oleh orang-orang di sekeliling rumahku, apalagi di kampungku aku merupakan salah satu dari tiga orang mahasiswa lainnya (dua orang lainnya adalah bersaudara dari keluarga terpelajar yang tinggal dekat SMPN-11). Walaupun jurusan yang aku dapati bukanlah jurusan dari cita-cita awalku, aku merasa yakin bahwa ini merupakan takdir hidupku, aku sudah berusaha keras untuk menggapainya tetapi yang aku dapatkan adalah yang lainnya, maka aku harus pasrah, aku harus menjalankannya dengan ikhlas, aku harus melakukannya sebaik mungkin dan aku harus merasa yakin dengan masadepanku menaiki Jurusan Teknik Perkapalan ini dengan destinasi menjadi "Seorang Tenaga Ahli Teknik Perkapalan".

Sungguh, aku bangga menjadi salah satu mahasiswa yang lulus tepat waktu (mahasiswa bisa lulus lebih awal atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan karena sistem SKS, Sitem Kredit Semester yang dipakai, bukan sistem tingkat). Sungguh aku merupakan salah satu mahasiswa cerdik dari seluruh mahasiswa seangkatanku. Aku selalu ingin menjadi yang terbaik, ini mungkin karena aku merupakan seorang anak tunggal barangkali yang selalu ingin untuk dirinya sendiri lebih dahulu. Kedua orang tuaku mendukung ku dengan segala kemampuan mereka, mereka selalu menuruti apa yang aku inginkan untuk kuliahku. Teman-teman merasa senang dengan ku. Aku juga tidak merasa kesulitan bergaul dengan semua teman kuliahku.

Mendapatkan Pekerjaan Tetap 

Seandainya pun seorang manusia ditakdirkan untuk menjadi seorang tukang sapu jalan, hendaknya dia menyapu jalan sesempurna Michelangelo ketika melukis, seindah Bethoven ketika menciptakan musiknya, dan seagung Shakespeare ketika menuliskan puisi-puisinya. Dia harus menyapu jalanan dengan begitu baiknya sehingga semua yang di langit dan di bumi ini ibaratnya terhenti untuk mengagumi dedikasi dan karyanya. "Di sana ada seorang tukang sapu yang mengerjakan semua pekerjaannya dengan luar biasa."  Martin Luther King

Setelah lulus dari Program D-3 Teknik Perkapalan ITS untuk sementara aku bekerja membantu dosenku mengerjakan proyek penelitian jembatan ponton Surabaya-Kamal Madura. Kemudian aku diterima bekerja di PT. Pal Indonesia, merupakan salah tempat kerja dambaan bagi kebanyakan para Ahli Teknik Perkapalan di Tanah Air. Setelah dua tahun bekerja aku mengikuti test Program S-1 lintas jalur di ITS yaitu program jalur khusus bagi lulusan D-3 dengan persyaratan pengalaman kerja yang tergantung dari hasil akademis Program D-3 sebelumnya. Aku diterima pada Program S-1 Jurusan Teknik Perkapalan, ITS. Pengajuan permohonan beasiawaku ke PT. Pal disetujui bersama lima orang lainnya yang juga dari kantorku, empat orang pada Fakultas Kelautan Jurusan Teknik Perkapalan dan satu orang dari Fakultas Informatika Jurusan Statistik, ITS.

Seluruh keperluan kuliahku dibiayai oleh PT. Pal termasuk biaya kuliah semester, biaya alat tulis, dan uang saku secukupnya, sementara gaji sebagai pegawai masih tetap dibayar. Aku menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin, karena aku yakin setiap kesempatan hanya akan datang sekali saja dalam hidup ini. Aku berhasil lulus sebagai yang terbaik nomor 2 dari beberapa yang lulus dari Jurusan Teknik Perkapalan ITS saat itu. Bahkan setelahnya aku dipanggil oleh Pertamina untuk mengikuti test calon pegawai di sana. Aku berhasil lolos test (psikologi, wawancara, skrening, dan kesehatan) dan kemudian dinyatakan diterima sebagai calon pegawai Pertamina angkatan 1991 dan diwajibkan untuk mengikuti orientasi di Komando Pendidikan Angkatan Laut (Kodikal), Moro Krembangan, Surabaya tetapi aku tidak masukinya karena merasa berdosa kepada PT. Pal yang baru saja telah membiayaiku kuliah Program S-1 di ITS.

Di PT. Pal Indonesia aku mempunyai pekerjaan sebagai peneliti, aku merasa senang di bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang), di mana pekerjaan pada umumnya tidak ditarget oleh jadwal penyelesaian yang ketat seperti mengerjakan proyek pembangunan atau perbaikan kapal, umumnya pekerjaanku sebagai peneliti membuat design kapal baru atau meningkatkan kemampuan kapal-kapal yang ada agar lebih mnguntungkan terutama bagi pennguna kapal.

Aku semakin merasa betah tinggal di Surabaya, kota tempat kantor kerja dan tempat lahirku. Maka aku membeli rumah di Delta Sari Indah-Waru, Sidoarjo melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) melalui Bank Tabungan Negara. Aku memulai membangun keluarga sendiri di kota ini. Demikian juga aku memiliki pekerjaan sampingan lainnya, ketika sore sampai malam hari sebagai dosen di salah satu Perguruan Tinggi Swasta dekat ITS mengajar mata kuliah Propulsi Kapal.  Juga aku menjalankan bisnis sampingan sebagai pedagang barang-barang bekas, mulai dari jual beli besi tua sampai bangunan tua yang akan dibongkar, aku lakukan ini guna memanfaatkan lingkungan rumahku sebagai pasar barang-barang bekas dimana orang-orangnya tidak berpendidikan formal kesulitan mendapatkan hubungan ke para pedagang kelas atas sedangkan aku bisa karena aku berpendidikan formal sampai sarjana. Sehingga dari segi keuangan untuk hidup di Surabaya aku merasa tidak ada masalah.

Salah seorang rekan kerja di PT. Pal mengajakku mencoba mengikuti test kerja untuk Angkatan Laut United Arab Emirates (UAE Navy) di Hotel Sahid Surabaya. Dengan hanya bertujuan sebagai ajang coba-coba aku mengikuti ajakan kawanku itu. Persiapan aku lakukan. Test terdiri dari dua bagian; bagian pertama adalah test kesehatan dengan melakukan  test darah dan paru-paru di sebuah Laboratorium Kesehatan Swasta di Surabaya yang sudah ditentukan oleh pihak Kedutaan UAE, kemudian test wawancara dengan user yang tentunya memabakai bahasa ingris.

Yang menjadi beban bagiku adalah melakukan test wawancara dengan bahasa Ingris. Walaupun aku sudah pernah mengikuti kursus khusus sebelumnya dan sering menghadapi technical assistance dari Jerman atau Jepang untuk proyek yang aku pegang, namun aku tidak juga bisa berbicara lancar memakai bahasa Ingris. Barangkali aku memang tidak mempunyai bakat yang baik dalam belajar bahasa. Itu yang membuatku menemukan strategi didalam menghadapi wawancara agar bisa lolos test masuk kerja di UAE.
Setelah aku merenungkan beberapa hari, lalu aku menyimpulkan bahwa didalam wawancara pasti akan ditanya tentang pekerjaan yang pernah dilakukan. Ini akan menyita banyak pembicaraan atau waktu ketika wawancara berlangsung, dan bisa-bisa aku "plegak plegok" dibuatnya yang alhasil aku akan didiskualifikasi sebagai kandidat untuk kesempatan ini. Aku menemukan jawaban untuk menghadapi itu. Aku buat dalam ketikan daftar pekerjaan yang pernah dan sedang aku lakukan di PT. Pal, lebih detail daripada yang aku tulis didalam Kurikulum Vita-ku, barangkali nanti ditanya, akan aku keluarkan saja daftar ini. Dengan rasa lebih percaya diri aku berangkat ke Hotel Sahid Surabaya dengan membawa daftar pekerjaan yang sudah aku cetak dan selipkan didalam map plastik dalam tas kerjaku. Setelah selesai menyerahkan surat lamaran kerja dan hasil test kesehatan di meja administrasi salah satu ruangan hall hotel lalu aku diminta menunggu untuk test wawancara. Giliran aku dipanggil wawancara aku langsung memberi salam sebelum aku duduk diatas kursi berhadapan dengan meja kerja pewawancara, orang Emirate berhidung lebih mancung dariku dan dengan berewok yang tipis sekali. Setelah kata pembuka basa-basi kemudian ia bertanya tentang pekerjaanku. Aku merasa bagaikan disambar petir karena terkejut sambil membuka tas dan map plastik lalu aku rogoh dan keluarkan pelan-pelan dua carik kertas berisi daftar pekerjaan yang telah aku persiapkan lalu aku berikan kepadanya. Ia membaca seluruh daftar pekerjaanku itu, ketika ia berhenti membaca langsung aku ditawari jumlah gaji dan fasilitas yang akan diterima apabila ingin bergabung dengan UAE Navy. Lalu aku bertanya tentang bagaimana dengan tawaran kepada teman-temanku yang lain saat itu?, Ia bilang 'sama'. Akupun menyetujuinya, kemudian diatas kertas lamaranku ia bubuhi gambar tiga buah bintang. Dan aku diminta untuk menandatangani dua lembar "Kotrak Kerja Sementara", setelah ditandatangani seseorang yang duduk dibelakangnya satu lembar ia berikan kepadaku dan satu lembar lainnya ia simpan. 

Aku merasa sungguh beruntung, ternyata aku hampir tidak banyak melakukan pembicaraan ketika wawancara tadi. Si pewawancara tidak mengetahui betul kalau aku kurang lancar dalam menggunakan bahasa Ingris. Ah...biarlah!, ini karena kejituan strategi saja serta aku yakin bahwa ada tangan tersembunyi yang membimbingku untuk melakukan itu, entah itu siapa, dan yang pasti aku percaya dengan adanya Tuhan.
Diluar Hotel setelah wawancara selesai aku bertanya kepada teman-temanku tentang bintang yang mereka dapatkan pada surat lamaran mereka, hanya ada dua orang selain dari ku yang mendapatkan tiga bintang dan sisanya dua buah bintang saja.

Aku dan dua orang temanku menjadi kandidat sebagai calon pegawai UAE Navy yang dinyatakan diterima. Khabar itu aku dapatkan dari salah seorang teman yang selalu berhubungan dengan pihak Kedutaan UAE Jakarta. Mendengar itu semangatku menjadi tidak terlalu berminat lagi, sama seperti ketika aku diterima di Pertamina dua tahun lalu hanya saja alasannya yang berbeda. Ketika aku sedang berada dirumah memikirkan kesempatan ini aku merasa tidak tega meninggalkan keluargaku terutama pitriku yang baru berusia satu tahun. Demikian pula kedua orang tuaku yang hanya mempunyai anak diriku seorang, dan juga istriku sebentar lagi akan memasuki masa program PPL(Pelajaran Praktek lapangan) dari IKIP Negeri Surabaya tempat ia kuliah. Namun ketika aku pergi ke kantor melihat suasana kantor yang mempekerjakan begitu banyak sarjana teknik perkapalan keinginanku untuk mengambil tawaran kerja dari UAE Navy itu menjadi kuat. Sampai batas hari akhir untuk berkumpul di Jakarta aku masih belum benar-benar memutuskan apa yang harus aku lakukan dengan tawaran ini walaupun aku secara diam-diam memprsiapkan surat-surat jikalau aku jadi mengambilnya. Pagi hari aku sempat mengantar seorang teman kantor salah satu calon pekerja UAE Navy keluar kantor pulang karena pada sore hari harus berangkat ke Jakarta memenuhi panggilan pihak Kedutaan UAE bagi seluruh kandidat calon pekerja berkumpul besok pagi guna penyelesaian persyaratan dokumen baik di Kedutaan UAE dan juga di Departemen Tenaga Kerja RI di Jakarta.

Hari sudah cukup sore, aku sudah duduk duduk didepan rumah setelah seharian mondar-mandir dari kantor dan rumah sambil berpikir keras menghadapi pertarungan perasaan didalam dada antara berangkat dan tidak berangkat. Tiba-tiba perasaan tidak berangkat berhasil dibunuh oleh perasaan berangkat, sehingga aku memutuskan untuk berangkat ke Jakarta saat itu juga. Setelah aku betitahu keluargaku cepat-cepat aku gapai tas pergi kecil, aku isi tas dengan pakaian secukupnya, lalu aku masukkan dokumen-dokumen yang aku rasa penting sebagai bekal keberangkatanku ke UAE. Aku ambil semua uang yang ada didalam kamarku, lalu aku meminjamnya juga kepada orang tuaku sebagai bekal secukupnya untuk berangkat ke Jakarta. Aku yakin sudah tidak ada lagi transportasi menuju Jakarta. Tetanggaku menyarankan agar aku 'mengecer' naik bis dari Jalan Demak ke Semarang, lalu ke Kudus kemudian ke Jakarta, dan aku lakukan itu.
Temanku terkejut dengan kedatanganku ke Jakarta. Dari Kedutaan UAE rombongan calon karyawan dibawa ke Departemen Tenaga Kerja oleh staf Kedutaan. Aku telepon teman di kantorku memberitahu kalau aku memutuskan keluar dari PT. Pal Indonesia pindah kerja ke UAE. Aku perintahkan dia untuk mengirim surat permohonan pengunduran diriku yang sudah aku persiapkan diatas meja kerjaku serta surat kuasa pengurusan hak-hakku selama bekerja di PT. Pal untuknya ke Bagian personalia.

Tanggal 19 September 1994 pagi aku dan rombongan berangkat ke United Arab Emirates. Sehari kemudian sampai di Abu Dhabi. Suhu udara di Abu Dhabi pada akhir September seperti suhu di kota asalku Surabaya. Suasana remang-remang menghalangi pandangaku melihat alam baru di kejauhan sana. Pandangan terhalang oleh pohon-pohon pinggiran jalan, dan taman-taman kota diterangi oleh lampu-lampu bersinar kekuningan sepanjang perjalanan menuju kam penampungan tempat kerjaku di bibir utara kota Abu Dhabi. Bis militer yang menjemputku berhenti didepan pintu gerbang yang dijaga ketat oleh tentara besenjata lengkap dengan logo didepan pintunya bergambar jangkar dihiasi dengan tulisan arab "Quwatal Bahriyah, Quwatal Musallaha". Setelah pemeriksaan dokumen selesai ole penjaga pintu, aku dan rombongan masuk kam UAE Naval Force Abu Dhabi.

Menunggu urusan kelengkapan dokumen oleh pihak angkatan bersenjata UAE khususnya Angkatan Laut, pihak Intellijen dan pihak Immigrasi membutuhkan waktu lebih dari tiga bulan. Aku mempunyai permasalahan dengan namaku, yaitu hanya satu nama saja yang tertulis didalam passportku, pihak Intelligent meminta lebih dari satu nama. Setelah aku jelaskan bahwa kultur di Idonesia memang banyak yang tidak mengenal banyak nama dengan memberi contoh nama-nama Presiden RI pertama dan kedua, maka pihak Intellijen memakluminya dan aku diloloskan dari masalah ini.  Ketika kembali ke kantor dan bergaul dengan orang-orang di tempat kerjaku, mereka merasa heran mengapa saya sebagai penganut Islam hanya mempunyai satu nama. Ketika aku jelaskan bahwa didalam Kitab Suci Alqur'an Tuhan selalu menyebut nama seseorang dengan sebutan satu nama saja, misalnya; Yusuf, Musa, Ibrahim dst. kecuali terhadap Isa binti Maryam barangkali karena Nabi Isa merupakan manusia khusus tanpa seorang ayah.

Aku dan teman-teman tidak menerima gaji selama proses penyelesaian dokumen belum komplit, hal ini dapat dimaklumi karena gaji yang akan aku terima merupakan uang dari Pemerintah UAE. Urusan makan utama sudah disediakan oleh UAE Navy dengan catatan bagi para Engineer atau Perwira dicatat sebagai hutang dan akan dibayar setelah menerima gaji, sedangkan bagi para Teknisi atau kepangkatan dibawah Perwira disediakan makanan gratis tiga kali sehari. Untuk keperluan lain selain makanan utama bisa berhutang pada toko kelontong milik orang India didepan pitu masuk UAE Navy.

Awal masuk kantor/bengkel aku sedikit gugup. Atasanku memperkenalkan para pekerja yang akan aku pimpin terdiri dari orang-orang dari berbagai bangsa, seperti dari; Emirate, Pakistan, India, Philippina, Sudan, Mesir, Tunisia, Maroko dan Bangladesh. Tetapi kemudian aku percaya diri lagi setelah aku ingat tentang bagaimana aku dapat 'menaklukkan' atasanku ketika aku di PT. Pal sedangkan beliau pernah hidup di Luar Negeri selama lebih dari duapuluh tahun.

Suasana tempat kerja seperti berkelompok menurut asal negara masing-masing. Tetapi mereka tidak pernah betul-betul saling bermusuhan walaupun negara asal mereka bermusuhan seperti antara Pakistan dan India. Aku abaikan pengelompokan ini, bagi ku pilihan yang ada hanyalah; "mau kerja atau tidak". Karena aku tahu seperti di Angkatan Bersenjata Indonesia, bagi siapa yang menolak perintah atasan, maka hukuman yang didapat akan berat sekali.

Aku awalnya mencatat semua bagian yang ada didalam workshop yang akan aku pimpin. Ada Bagian Pipa, ada Bagian Joiner (Pekerjaan tukang kayu), ada Bagian Cat, ada Bagian Las, ada Bagian Tailor, ada Bagian Fiberglass, dan ada Bagian Plat dan Struktur (Shipwright). Ini merupakan betul-betul dunia baru buatku, dimana pengalaman kerjaku selama ini terutama di PT. Pal hanya terbatas pada pekerjaan Penelitian untuk Perancangan Kapal. Ini merupakan suatu tantangan buatku. Aku mulai memikirkan diri sendiri bagaimana agar dapat lolos melalui masa percobaan selama tiga bulan mendatang. Aku pasang strategi lagi. Aku tunjukkan bahwa aku bisa bekerja di bidang teknik perkapalan termasuk perawatan dan perbaikan kapal walaupun aku kurang mampu dalam berkomunikasi dengan bahasa Ingris. Aku harus 'bekerja dengan tidak banyak kata'. Suasana kerja didalam bengkel merupakan keuntungan tersendiri buatku. Pekerjaan lebih banyak dilakukan dengan tangan daripada dengan mulut dan lebih banyak dilakukan di kapal-kapal (lapangan) daripada didalam kantor. Pernah atasanku tidak paham dengan apa yang aku katakan sampai dia berkata, "kamu ini ngomong apa, sih?" Sambil ia melihat pada rekan kerjaku yang kemudian rekanku itu menjelaskannya kepada atasanku tentang apa yang telah aku maksudkan.

Aku berhasil melalui tiga bulan masa percobaan tanpa masalah berarti. Kini targetku agar evaluasi kondite dua tahun kemudian juga harus jangan sampai mendapatkan masalah berarti pula. Maka aku tetap dengan prinsip kerjaku, yaitu 'banyak kerja dengan sedikit kata'.

Aku semakin tertarik bekerja dengan orang dari berbagai bangsa di sini. Hampir semua orang dapat berkomunikasi memakai bahasa Arab. Aku pikir ini baik dan bahkan menguntungkan. Aku pernah belajar dan dapat membaca-menulis huruf Arab sejak aku sekolah Agama di Masjid Khoir dulu, sehingga masalah logat sudah aku pahami, kini tinggal mempraktekkan penggunaannya saja. Sejenak aku jadi teringat pada pasar di daerah Surabaya Utara. Kebanyakan penjualnya berasal dari suku Madura dan mereka biasanya hanya bisa berbahasa Madura. Prinsip dagang ‘pembeli adalah raja’ tidak berlaku di pasar ini, yang ada justru sebaliknya, semua pembeli baik dari keturunan suku lain atau ras apapun akan berusaha menggunanakan bahasa penjual di pasar yaitu Bahasa Madura, tujuan utamanya selain agar dapat berkomunikasi dengan baik dengan penjual juga agar mendapatkan lebih banyak melakukan tawar-menawar sehingga dapat lebih banyak mendapatkan potongan harga. Aku pikir keuntungan lainnya jika dapat memakai bahasa lokal (Arab) di sini adalah seseorang dapat lebih dekat dengan orang lokal dan juga dapat lebih banyak mengenal budaya setempat, karena bahasa adalah budaya juga.

Setelah berlalu hampir satu tahun bekerja dengan banyak suku bangsa, aku merasa harus mencari cara bagaimana untuk memenuhi target jangka panjang bekerja di sini. Selain aku menyukai suasana kerja di sini juga keluargaku (anak dan istri) akan  aku jemput untuk bergabung dan tinggal bersamaku di Abu Dhabi pada cuti tahunanku yang pertama bulan depan ini.

Aku harus kembali pada prinsip kerjaku yang lama ketika aku masih bekerja di PT. Pal dulu, yaitu, "Dalam bekerja aku tidak bertujuan mencari uang tetapi uanglah yang mencari aku". Prinsip ini agar aku selalu termotivasi bekerja dengan baik.

Aku sudah dapat berkomunikasi dengan bahasa Arab. Ini tentu lebih memudahkan aku untuk bekerja di sini, apalagi awak badan kapal di tempat kerjaku kebanyakan adalah orang lokal yang tidak terlalu banyak dalam menggunakan bahasa Ingris.

Kini aku mulai mempelajari karakter dan kebiasaan bawahan dan rekan kerjaku yang berasal dari berbagai bangsa. Ada beberapa perbedaan kebiasaan mencolok dibandingkan dengan kebiasaan di Indonesia. Untuk itu banyak pekerja un-skilled dari Indonesia yang mengalami cultural shock ketika bekerja di sini. Di sini menyentuh dengan sengaja bokong (bagian berlemak dari pantat) orang lain adalah hal yang tabu tetapi menyentuh bahkan menepuk kepala orang lain merupkan hal yang diijinkan. Memanggil orang agar mendekat kearah si pemanggil biasa dilakukan dengan cara memakai tangan dan telunjuk tengah agar bersuara seperti memanggil ayam di Indonesia adalah hal yang lumrah. Menegor seseorang yang melakukan kesalahan dengan mengatakan "anda tidak punya otak" adalah hal yang biasa pula. Ketika ingin membeli sesuatu untuk dibawa (misalnya rokok, teh, kopi atau sandwich) seseorang tidak perlu repot-repot harus turun dari dalam mobil, hanya cukup membunyikan klakson mobil si penjual akan datang untuk melayani. Melakukan pemukulan terhadap yang lain mengakibatkan urusan serius dengan pihak berwajib apalagi sampai menimbulkan luka, pihak berwajib akan langsung menangkap seseorang yang dilaporkan kalau ada bukti. Perkelahian antara dua orang akan menyebabkan keduanya diciduk oleh yang berwajib untuk dimasukkan kedalam penjara/sel tidak perduli siapa yang benar atau yang salah, sampai proses penyelidikan kasusnya selesai keberadaan terdakwa susah dilacak. Antara atasan dan bawahan merupakan hal yang biasa makan bersama-sama satu kelompok (tanpa hirarki) sampai lima orang menghadapi satu baki/talam semacam piring besar berisi makanan yang akan disantap. Antara atasan dan jajaran dibawahnya lebih banyak dilakukan hubungan layaknya kekeluargaan tidak kaku (formal), sehingga seorang bawahan setelah memberi hormat kebanyakan langsung bersalaman ketika bertemu atasannya adalah hal yang biasa. Apabila ditawari minum teh/kopi atau makan sebaiknya disambut walaupun seteguk atau sepuluk saja hanya untuk menghormati si penawar. Khusus kepada orang lokal yang anda kenal baik jangan dipuji tentang aksissori yang sedang dipakai karena akan berakibat aksissori tsb. dikasihkan kepada anda. Jangan mengeluh tentang kekurangan barang-barang alat rumah tangga anda misalnya; telivisi, CD player, furniture atau yang lainnya terhadap orang lokal yang anda kenal baik, akibatnya teman anda itu akan berusaha untuk memberi barang yang sedang anda keluhkan. Orang lokal jika melihat sesuatu yang tidak benar dalam hal pekerjaan atau budaya atau agama akan langsung marah tetapi mereka pada umumnya tidak menaruh dendam kepada orang yang telah dimarahi. Didalam melakukan pembicaraan umumnya dilakukan dengan suara keras seperti ketika kita sedang marah atau membentak, bagi orang yang terbiasa dengan perkataan lemah lembut akan merasa takut atau heran. Orang lokal lebih menyukai kejujuran daripada hal lainnya dalam pekerjaan.

Ketika evaluasi kondite dua tahun tiba (kontrak kerjaku yang pertama berdurasi selama dua tahun setelahnya berdurasi satu tahunan), atasanku memintaku agar mengisi sendiri formulir evaluasi tentang diriku yang kemudian harus aku tolak,  karena penilaian tentang evaluasi kondite adalah wewenang atasan. Alasannya aku bekerja sangat baik menurut penilaiannya. Akhirnya atasanku setuju dan ia akan memberiku semua keterangan 'excellent' saja. Lagi-lagi aku harus menolaknya juga, karena, 'semua excellent' hanyalah untuk Tuhan.

Catatan Tentang Kebiasaan Orang Sesuai Dengan Negara Asal

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(Qur’an Surat;. Al-Hujurat: 13).

Berikut adalah kebiasaan-kebiasaan orang dari berbagai suku bangsa yang ditemukan setelah sekian lama hidup di Emirates. Kebiasan yang dicatat dibawah hanya didasarkan atas pergaulan dan pengalaman pribadi sehari-hari tanpa melakukan penelitian khusus secara ilmiah, sehingga kesimpulannya hanya berdasarkan pengamatan secara otodidak saja dan bisa tidak benar.

-          Ada Kelompok Orang yang pada umumnya mempunyai peringai yang tampak tidak ramah, raut muka seperti menantang, ditekuk dan nada pembicaraanya tinggi. Piawai dalam berdebat, apa yang telah dilakukan akan diperdebatkan agar orang lain mengakui bahwa yang telah dilakukan adalah benar. Karena karekter itu mereka banyak dipakai sebagai pimpinan di perusahaan-perusahaan milik Pemerintah atau perusahaan milik orang lokal yang mempekerjakan orang-orang berkebangsaan dari negara negara Asia.
-          Ada Kelompok Orang yang pada umumnya mereka suka bersumpah atas nama Tuhan (Allah), "Wallohi". Mereka terlihat malas melaksanakan pekerjaannya, senang mengunjungi teman untuk ngobrol sana-sini. Kebanyakan pekerjaan yang didelegasikan akan dikeluhkan dengan kata "muskillah" artinya "problem" walaupun pekerjaan itu tidak ada masalah untuk meyelesaikannya. Pada umumnya mereka bekerja di Instansi-instansi Pemerintah. Perusahaan swasta umumnya tidak mempekerjakan orang seperti itu.

-          Ada Kelompok Orang yang pada Umum orangnya cuek tidak perduli, terutama dengan skill yang rendah mereka akan melakukan pekerjaan yang penting selesai. Umumnya mempunyai raut datar dalam arti tidak perduli lingkungan yang sedang terjadi. Ketika melakukan kesalahan tidak merasa bersalah karena telah mekakukannya dengan benar sesuai yang diketahui, walaupun dimarahi karena kesalahannya akan sama saja tidak ada penyesalan yang tampak. Hampir semua sektor akan mempekerjakan orang India. Umumnya pedagang kelomtong, office boy dan pegawai cleaning service dikuasai mereka.

-          Ada Kelompok Orang yang pada Umumnya orangnya taat beribadah tetapi juga, bekerja keras, kuat dan suka menggurui. Sebaiknya menghindari pekerjaan yang membutuhkan seni keindahan, didalam bekerja orang itu cendrung kasar dan tidak perduli terhadap sedikit kerusakan yang menyebabkan cacat. Hampir semua pekerjaan sopir (taksi, bus, truk dan belajar mengemudi, pedagang asongan (barang barang bekas) dan pekerja kasar adalah orang dari kelompok ini.

-          Ada Kelompok Orang yang pada Umumnya mereka suka berpesta, makan di restoran, dan berdandan agar terlihat berpenampilan keren. Banyak dari mereka sebagai pekerja kantor dari tenaga menengah kebawah. Juga hampir semua pegawai supermarket, department store dan perawat diberbagai rumah sakit berasal dari kelompok ini. Mereka umumnya rapi, giat, tegas, keras, berani dan disiplin terhadap pekerjaannya.
-          Ada Kelompok Orang yang pada Umumnya sebagai pekerja kasar, cleaning service dan teknisi pada bengkel bengkel perbaikan mobil. Umumnya mereka merasa serba bisa terutama dalam hal perbaikan mobil. Cara bekerjanya kasar sehingga didalam mengerjakan sesuatu yang penting selesai, mengenai kerusakan bagian bagian barang karena kesulitan dalam membuka tidak terlalu diperdulikan, mereka akan selalu mengatakan "no problem" terhadap kerusakan/cacat kecil yang ditimbulkan.

Mengatur Rencana Keuangan

“Rajin-rajinlah menabunglah ketika anak-anak masih kecil, karena setelah mereka sudah besar banyak kebutuhannya”. Nasehat dari ayah salah seorang temanku.

Ketika keluarga bergabung di Abu Dhabi dan hidup di apartemen sendiri, cash flow keuangan perlu dirancang agar hasil yang diperoleh dapat digunanakan secara terarah didalam menunjang kehidupan masa depan keluarga. Aku banyak mendapatkan orang yang selalu mengeluhkan tentang kondisi keuangan mereka. Ada yang terjerat dengan banyak hutang, pembayaran kartu kredit yang menumpuk bahkan tak terbayar hanya untuk digunakan untuk kebutuhan jangka pendek. Aku lihat hidup di Emirates ini penuh dengan godaan berbelanja, entah untuk barang yang diperlukan sekarang atau tidak. Iklan-iklan potongan harga selalu datang dari berbagai arah dengan barang yang bagus-bagus. Seorang teman kerja sesama Indonesia mengatakan, "Pak!, hati-hati jangan sampai setelah pulang ke Indonesia nanti sama dengan orang yang baru pulang piknik, yaitu menghabiskan uang dalam perjalanan". Aku jadi teringat juga kepada nasehat atasanku di PT. Pal dulu, bahwa ketika akan pergi untuk berbelanja sebaiknya dibuatkan daftar barang dan bahan yang akan dibeli agar tidak berkembang karena banyaknya godaan promosi di tempat belanja. Akhirnya aku sepakat dengan istriku bahwa biaya hidup (operasional) bulanan maksimum adalah 25% dari total gajiku dan sisanya sebagai tabungan keluarga termasuk biaya sekolah anakku. Biaya sewa apartemen, biaya listrik dan air, serta biaya kesehatan seluruhnya ditanggung oleh kantorku. Semua 25% uang untuk biaya operasional keluarga aku percayakan kepada istriku untuk mengelolanya. Dan kami sekeluarga selalu berusaha agar tetap mengikuti ketetapan yang telah dipatok ini apapun alasannya.

Pindah Kerja Lagi

"Aku tidak akan mencari uang didalam bekerja, biarlah uang yang mencari diriku".  Catatan pribadi didalam Blog.

Kebetahananku bekerja di UAE Navy meninabobokkan dan memanjakan aku untuk tetap bekerja di situ. Posisi dan golonganku sebenarnya tidak pernah naik dan juga tidak turun, tetap saja sebagai Civilian Service Engineer walaupun aku sudah bekerja mendekati tigabelas tahun tetapi gaji dan fasilitas hidup tetap dinaikkan. Atasanku silih berganti datang dan pergi. Pangkatku sebenarnya setara dengan seorang Perwira berpangkat Kapten, artinya semua fasilitas yang aku dapat setara dengan Kapten. Aku lihat rekan kerja orang lokal yang berpangkat Kapten sekarang sudah menyandang pangkat Letnan Kolonel atau Kolonel. Aku melihat kini Pemerintah UAE sedang gencar-gencarnya melakukan lokalisasi, artinya mengganti pekerja orang asing dengan pekerja orang lokal. Itu merupakan kelumrahan karena berkembangnya jumlah pencari kerja orang lokal serta posisi vital memang sebaiknya diisi oleh anak bangsa sendiri. Program lokalisasi sungguh lebih terasa pada sektor-sektor kantor Pemerintah. Aku sudah mulai khawatir walaupun tenaga Ahli Perkapalan asal orang lokal tidak lebih banyak dari jumlah jari jariku (ketika pertama kali datang pada tahun 1994, di UAE hanya ada satu orang  lokal sebagai Ahli Teknik Perkapalan, dialah atasanku). Maka aku memulai proses migrasi ke Kanada melalui konsultan di Dubai. Pikirku, misalnya jikalau nanti pulang ke Indonesia masih harus mencari kerja lebih baik ke Kanada juga mencari kerja dengan kesempatan kerja yang lebih bayak memadai buatku. Tetapi, ketika aku mendapatkan jawaban dari Kantor Immigrasi Kanada yang menyatakan bahwa aku memenuhi syarat untuk migrasi ke sana aku diterima bekerja di Abu Dhabi Shipbuilding (ADSB) Company. Aku jadi berpikir dua kali untuk migrasi ke Kanada, pikirku; ‘di Kanada nanti aku juga mencari kerja, sedangkan di UAE aku sudah mendapatkan kerja, biarlah!, akan aku tinggal saja yang di Kanada, toh itu juga belum pasti sedangkan di sini sudah pasti’. Syukurlah istriku juga menyetujui pendapatku, maka aku sekeluarga tetap berada di UAE. Seorang bekas atasanku di UAE Navy yang sedang bekerja di ADSB menghubungi aku kalau aku tertarik berpindah ke ADSB, menurutnya sekarang ada posisi lowong yang ditinggal oleh orang 'bule' dan sangat sesuai posisi itu bagi ku. Seperti tumbu mendapatkan tutup, ketika sedang khawatir dengan kondisi pekerjaan lalu ada yang menawarinya, aku mengiyakan saja lalu dikemudian hari secepatnya aku serahkan surat lamaran kerja dan daftar riwayat hidupku (CV). Dan setelah tawar-menawar gaji dan fasilitas antara au dan ADSB saling menyetujui, lalu aku mulai mengajukan permohonan pengunduran diri dari UAE Navy. Aku resmi keluar dari UAE Navy pada tanggal 30 Agustus, 2007 dan pindah kerja ke ADSB sejak tanggal 2 September, 2007 sebagai Senior Service Engineer.

Ini adalah untuk pertama kali aku bekerja diperusahaan semi-government, merupakan perusahaan galangan kapal dengan 51% sahamnya dimiliki oleh Mubaddalah, perusahaan investasi dari Abu Dhabi dan 49% lainnya dijual ke publik melalui Pasar Saham Abu Dhabi. Suasananya cukup berbeda dengan UAE Navy. Di sini aku tidak lagi banyak menghadapi birokrasi. Atasanku berasal dari Western Country. Kawan sejawatku kebanyakan dari Eastern Countries. Bawahanku kebanyakan dari Eastern Countries juga. Aku sudah banyak mengenal orang-orang di ADSB karena apabila kapal-kapal UAE Navy tidak dapat diperbaiki didalam fasilitasnya sendiri, maka itu akan dikiririm ke luar terutama ke ADSB, dan aku sering diberi tugas oleh UAE Navy sebagai inspektor pada kapal yang sedang atau selesai diperbaiki.

Aku masih tetap yakin dengan kemampuanku untuk menangani pekerjaan ditempat baru ini karena kapal-kapal yang akan aku tangani sebenarnya sama saja hanya tempat kerjanya saja yang berbeda serta jenis pekerjaannya bertambah dimana ketika aku bekrja di UAE Navy pekerjaan mekanik dan listrik tidak termasuk jenis pekerjaanku dan di ADSB itu termasuk. Seperti halnya ketika bekerja di UAE Navy, aku akan banyak berhadapan dengan pelanggan atau awak badan kapal dari orang lokal. Mereka orangnya terbuka, terus terang, dan paling tidak suka jika dibohongi. Apabila seseorang kedapatan tidak jujur sekali saja, maka kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan sebelumnya akan menjadi taruhannya. Perbedaan buatku antara ADSB dan UAE Navy adalah, ADSB sebagai perusahaan profit oriented sedangkan UAE Navy tidak, ADSB memakai time sheet pada setiap proyek bagi pekerja untuk membayar pekerjanya sedangkan UAE Navy sistem absensi, dan yang pasti ADSB merupakan perusahaan sipil sedangkan UAE Navy adalah militer. Jenis pekerjaan mekanik (permesinan, hydraulic, pompa dan Air Condition) dan listrik (arus kuat dan arus lemah) merupakan jenis pekerjaan baru buatku. Aku slalu turun bersama teknisiku apabila ada pekerjaan mekanik atau pekerjaan listrik yang harus dihadapi. Disana aku dapat belajar dan praktek secara langsung dari teknisi-teknisiku selain membaca dokumen-dokumen petunjuk operasional dan perawatan untuk peralatan atau perlengkapan yang sedang ditangani. Sedangkan untuk jenis pekerjaan lama seperti yang pernah aku tangani ketika di UAE Navy kebanyakan aku delegasikan kepada teknisi kecuali pekerjaannya agak rumit menurut kemampuan para teknisi.

Kini aku bisa memberi pengarahan kepada bawahanku apabila ada mesalah dengan mesin-mesin, air condition, sitem yang memakai tenaga hydraulik atau listrik, sedangkan untuk pekerjaan listrik arus lemah (elektronika) tetap saja masih memerlukan bantuan dari perusahaan lain karena di kantorku tidak ada teknisi listrik arus lemah. Aku cukup senang dengan pekerjaanku saat ini karena pekerjaan yang aku tangani lebih banyak dilakukan di kapal-kapal atau di lapangan daripada di dalam kantor. Aku menharapkan posisi ini akan tetap aku sandang sampai aku pensiun nanti.

Kesimpulan

“Aku percaya bahwa titik nol kehidupanku bukan dimulai sejak aku dilahirkan oleh ibuku, tetapi sejak terbetuknya alam semesta ini. Jikalau aku tidak memanfaatkan sebaik mungkin kehidupanku, maka aku sedang mengabaikan diriku sendiri dari titik nol”. Catatan pribadi terinspirasi dari salah satu buku bacaanku.

Ketika aku baru saja masuk kerja di UAE dulu, seorang rekan kerja yang sudah lama tinggal di UAE bertanya tentang rencana ku bekerja di sini, aku menjawab; “Dua tahun saja”. Kemudian dia tersenyum dan mengatakana bahwa, nanti ketika dua tahun akan berlalu pikiran ku akan berubah lalu ingin tetap tinggal lebih lama lagi di sini, seperti yang ia dan banyak orang lain alami. Walaupun awalnya aku meragukan tentang itu, aku kini membuktikan ucapan rekanku dulu, kini aku sudah hampir delapan belas tahun tinggal di negri orang. Di sini memang ada daya tarik kuat tersendiri bagi mereka yang hidup bersama keluarga. Lingkungan aman, teratur dan hukum yang jelas merupakan hal-hal penting untuk membesarkan anak-anak dan mungkin sulit ditemukan di tempat lain, ini yang dapat menghilangkan kekhawatiran dari persoalan-persoalan lain yang ada di sini. Bahkan banyak dari teman-temanku yang sudah keluar dari UAE kembali lagi ke sini. Aku menjadi semacam terperangkap didalam lumpur, semakin bergerak akan mengakibatkan tubuh semakin tenggelam saja. Justru yang ada sekarang perasaan betah tinggal di UAE dan menginginkan di sini sampai masa pensiun datang. Demikian juga anak-anak dan istriku. Anak-anakku meminta untuk tidak dikuliahkan di Indonesia. Aku memaklumi kemauan mereka itu. Mereka belum pernah hidup lama di Indonesia sehingga mereka tidak mengenal banyak tentang Indonesia. Aku hanya berpikir, jika aku membiayai dua orang anak kuliah di luar negeri secara bersamaan sekaligus aku bisa bangkrut. Untunglah antara putri dan putraku mempunyai pautan umur tiga tahunan, sehingga harapanku ketika putriku berada di tingkat akhir putraku memulai masuk kuliah, bangkrutpun tidak terlalu lama. Ini merupakan tantangan lain ketika anak sudah besar. Ini membuktikan kenyataan nasehat ayah dari salah satu temanku dulu, agar rajin menabung ketika anak masih kecil. Aku jadi merasa bersalah ketika aku sekolah dulu banyak menuntut tentang ‘kemanjaan’ kepada kedua orang tuaku.

Kehidupan ku dan keluarga masih akan tetap berjalan. Tantangan-tantangan lain di depan masih menunggu. Sukses-sukses lain masih banyak yang belum tertangkap di tangan, agar memberikan arti pada kehidupan ini. Ibarat bunyi detak jarum jam di dinding kamarku, ia akan terus berbunyi menggilas sunyinya malam, tanpa ada rasa takut kepada apapun, tanpa harus dibimbing oleh siapapun dan tanpa harus merasa akan kehabisan tenaga bagaimanapun detaknya terus berirama mengiringi roda kehidupan ini.

Abu Dhabi, April, 2012

Saturday, April 28, 2012

Bersama Gol A Gong, Seri Ke-2

Pagi ini cuaca masih cukup segar, ini menambah semangatku untuk bermain tennis, olahraga mingguan tiap hari Jum'at pagi di Zayeed Sport City, Abu Dhabi bersama reka-rekan Indonesia yang tergabung dalam Indonesian Tennis Player Club, ITPC, Abu Dhabi. Olahraga mingguan ini selain sebagai olahraga juga sebagai selingan hidup yang melulu di kantor selama hampir seminggu dengan orang-orang yang ampir sama, juga sebagai ajang silaturrahmi antar sesama warga Indonesia di mana diantara kami kebanyakan bekerja di tempat yang berlainan. Ada berbagai perkumpulan kegiatan out-door dan in-door di sini, antara lain;  Badminton, Pencak Silat, Sepak Bola, Bola Basket, dan Fotografi, serta sedang dirintis Perkumpulan Bowling.

Selesai tennis badan terasa capek, satu jam aku bermain tunggal melawan temanku yang lebih muda, tenaga terkuras hampir habis. Sambil menjatuhkan diri di atas tempat duduk tepi lapangan tennis aku raih botol berisi minuman ionic untuk aku minum. Aku lihat ada satu missed call di Blackberry-ku, ternyata ketika aku panggil ada pekerjaan mendadak yang dengan segera harus aku tangani. Salah satu kapal tongkang milik klain yang aku tangani untuk otoritas pantai Abu Dhabi mempunyai masalah dengan Ramp Door-nya.

Aku bergegas dari Zayeed Sport City menuju ke Free Port, Mina Zayeed, Abu Dhabi, perjalanan 15 Kilometer aku tempuh dalam waktu sekitar 15 menit. Jalan-jalan sungguh legang. Aku ingin masalah di kapal itu apabila memungkinkan harus aku selesaikan sebelum shalat Jum'at tiba. Aku dapati salah satu pipa lentur dari sistem hydrouliknya pecah karena sudah lama dan berkarat dari dalam. Aku meminta anak buah kapal kunci pas untuk aku buka sendiri sebagai contoh dalam pembutan pipa lentur baru besok pagi. Hari ini tidak ada teknisi yang membukanya, pikirku ini pekerjaan kecil dan mudah, maka aku putuskan untuk aku buka sendiri. Hari jum'at adalah hari libur resmi negara, jadi hari ini tidak bisa memesan pipa lentur baru karena bengkel-bengkel pada tutup. Pipa lentur ini hanya aku bawa saja agar besok ketika bengkel hidrolis khusus yang melayani pembuatan pipa lentur bisa langsung aku serahkan tanpa harus ke kapal lagi.

Keesokan harinya aku sudah membuatkan pipa lentur baru seperti contoh yang aku bawa di sebuah bengkel langgananku di Musaffah dekat kantorku. Pipa aku bawa ke kantor. Teknisi yang akan memasang baru akan datang dari Ras Ghomis sore ini. Aku pesan kepada rekanku yang akan menangani kerja ini bahwa pipanya sudah siap dan pipa itu aku letakkan di atas meja kerjaku.

Kerja lemburku tidak dibayar oleh perusahaan, itu merupakan aturan bagi semua karyawan perusahaan tempat aku bekerja bagi karyawan yang memiliki golongan tertentu tidak dibayar uang lembur yang telah dilakukan. Hanya saja apabila ada pekerjaan sangat penting dan harus turun tangan sendiri, maka jam yang dihabiskan selama kerja lembur akan dikompensasi sebagai jam libur untuk kemudian hari.

Hari Minggu ini aku akan libur sebanyak empat jam mengambil jam kompensasi karena kerja lembur hari Jum'at dan Sabtu kemarin. Ketika aku utarakan hal itu kepada istriku, ia menuturkan bahwa pagi ini akan ada acara sarapan pagi bersama Gol A Gong dan istrinya di Souq Qadim (Souq Qadim berarti Pasar Lama, di mana sekarang sudah dibongkar dan dibangun pusat perkantoran dan perbelanjaan dengan gedung menjulang berujung seperti bambu runcing). Bagai tumbu dapat tutup kata orang, tanpa rencana aku dapat lembur, kompensasinya bisa bertemu Gol A Gong lagi, suatu pertemuan yang aku inginkan.

Setelah mengantar putraku ke sekolah aku dan istriku langsung ke kantor KBRI. Tepat pada jam pagi yang sudah dijanjikan kami sampai di KBRI. Aku masuk dari pintu utama KBRI. Seorang penjaga mempersilahkan aku memasuki Kantor Bagian Tenaga Kerja tempat Gol A Gong menginap bersama istrinya. Aku lihat laptopnya sudah beroperasi, lalu aku ucapkan salam kepada Gol A Gong, setelah salamku ia jawab kemudian aku menganggukkan kepala kepada wanita di sebelah Gol A Gong, dialah Tias Tatanka, istri dari Gol A Gong, nama yang sering muncul pada setiap buku yang ditulis oleh Gol A Gong. Setelah perbincangan masalah kealpaan hari dan tanggal dengan Tias, lalu kami sepakat memulai perjalanan pagi ini seperti yang telah mereka rencanakan.

Dengan baju luaran ala Amerika Latin (secarik kain wool bermotif garis berukuran kira-kira 50x150 centimeter dengan lubang di tengah sebesar kepala) Gol A Gong keluar KBRI bertiga menuju mobilku, istriku menunggu saja di dalam mobil. Kami berempat menaiki mobil Corolla tua warna merah darah kesayanganku menuju Souq Qadim daerah Hamdan Street. Gol A Gong duduk di kananku dan istrinya di belakangnya bersama istriku duduk di kursi belakang.

Terbayang oleh ku kesulitan menemukan tempat parkir di daerah Souq Qadim, ini sangat penting sebagai prioritas antisipasi yang harus aku pikirkan sebelum sampai di sana, sehingga jikalau mendapatkan tempat parkir kosong di sana nanti bisa segera aku ambil. Laju mobil sengaja aku jalankan agak pelan-pelan agar lebih memberi waktu kepada kedua tamu khusus kami ini untuk lebih menikmati pemandangan Kota Abu Dhabi. Terkadang aku asyik sendiri bersama Gol A Gong berbicara satu topik dan istriku asyik sendiri juga dengan istri Gol A Gong membicarakan topik yang lain.

Tepat di sebelah Souq Qadim aku dapati parkir seri lowong. Ruang/space parkir untuk mobilku agak kecil tetapi aku tetap nekad mengambilnya. Perasaanku mengatakan bahwa aku bisa memarkir mobilku dengan sekecil space ini hanya dengan sekali mundur. Hal demikian sudah aku latih sejak limabelas tahun yang lalu dari guru montirku di Abu Dhabi.

Di atas trotoar sebelah kanan seberang Souq Qadim seorang wanita teman dari istriku sudah menunggu dengan lemparan senyumnya. aku selalu melihat demikian kepada setiap teman istriku ketika menjumpai aku. Aku baru mengetahui kalau Souq Qadim sudah dibuka untuk umum. Interiornya bernafaskan pasar-pasar ala Timur Tengah. Sisi-sisi lorong yang dilewati menuju restoran tempat makan pagi dipenuhi toko-toko barang antik yang masih meutup rapat daun-daun pintu mereka. Jendela-jendela kaca tidak juga menyembunyikan barang-barang antik menakjubkan di dalamnya. Lemari-lemari ukiran sederhana, kotak-kotak kayu bermotip kuno dan hiasan dinding ukiran kayu ukuran besar tetap saja dibiarkan di luar toko. Aku coba melirikan mata sambil dengan rabaan tanganku untuk melihat badrol harga yang dipasang, "Huh..!", kataku dalam hati, "daripada membeli barang begini semahal lebih baik uangnya aku simpan di bank saja", sambil memikirkan kekecewaanku karena mempunyai banyak barang-barang di rumah dari pemberian kantorku yang dulu dengan kondisi sudah lama tetapi tidak rusak-rusak, ingin dibuang sayang, mau diganti juga harganya mahal-mahal.

Sementara aku membiarkan diriku terlena  pada lamunanku, membayangkan wajah Souq Qadim dulu, Souq dengan toko-toko sejenis kios tidak bertingkat. Kios-kios dengan halaman terbuka dan dapat langsung melihat langit biru. Banyak pengunjung sekelas sopir dan kuli bangunan saling bersenda-gurau sambil berjalan, atau duduk-duduk di ujung-ujung jalan. Bau keringat dapat langsung menguap ke atas langit yang terbuka. Aku akan selalu merasa lapar ketika sedang melintas karena harga shawarma (irisan ayam panggang bersama irisan kentang goreng dicampur ketimun yang sudah menjadi acar, dengan bumbu jus bawang putih dibalut dengan roti Arab seperti lempeng menjadi seukuran genggam dan panjang dua kepalan) dan soft drink hanya sekocek. 

Souq Qadim kini, tidak lagi aku lihat pengunjung-pengunjung seperti dulu lagi. Mereka entah pergi ke mana. Atau mereka sudah tidak berhasrat lagi pada Souq Qadim yang baru ini. Yang ada kini, pintu-pintu kaca selalu dilalui oleh orang-orang berbau wewangian dengan pakaian serba necis. Wajah langit tidak lagi bisa dipandang dari halaman sejuk ber AC dalam Souq Qadim ini. Sungguh, aku tidak akan merasa lapar lagi jika melewati Souq Qadim ini. Restoran-restoran baru banyak memberikan fasilitas pembayaran kartu kredit. Bagaimanapun, aku masih berharap dalam hati; jika aku akan merayakan ulang tahunku atau untuk anggota keluargaku, aku akan mengajak mereka menikmati masakan di salah satu restoran di sini.

Pagi ini aku ingin makan makanan yang tidak mengandung minyak, atau jika terpaksa makan makanan yang paling sedikit mengandung minyak. Aku tau, acara pagi ini adalah sarapan di salah satu restoran dengan masakan dari Sub-continent, makanannya kebanyakan dimasak dengan minyak, minyak dan minyak. Walaupun Gol A Gong sudah menyatakan hasratnya pada roti Barata (adalah roti berbentuk lempeng sebesar kira-kira 20 sd 25 cm diameternya, terbuat dari tepung terigu yang dicampur dengan minyak goreng, di Surabaya dikenal dengan nama Roti Maryam), aku mungkin akan memilih yang lainnya saja, pokoknya tidak berminyak. Ternyata istriku dan teman-temannya sudah sepakat sebelum kami ke restoran ini untuk memesan menu masakan India bernama 'Masala Dosa' (bukan "Tentang Dosa" kalau dibahasa Indonesiakan) buat kami semua. Masala Dosa merupakan makanan ala India terdiri dari selembar roti bundar berukuran besar dengan diameter sekitar 40 centimeter, tipis yang terbuat dari tepung beras semacam bahan dasar apem agak asin. Dimasak layaknya apem tipis, bundar besar. Penyajiannya digulung dengan isian campuran irisan sayur kentang, wortel dan kacang panjang dimasak berbumbu kare. Isian sayur jumlahnya kira-kira empat sendok makan, sehingga gulungan roti terlihat melompong. Selain itu sajian diikuti dengan tiga mangkuk kecil bumbu-bumbu semacam sambal, khomus dan kuah kare. Ketika dimakan roti dicelupkan pada bumbu yang ada, terserah mana yang disuka. Didorong dengan juice jeruk atau teh manis (Sulaimani) atau teh manis campur susu cream (chai) atau kopi untuk menambah nikmat makan pagi di Restoran India ini. Selain itu, ada tambahan lain seperti omlet yang juga dipesan sebagai penambah nikmatnya makanan pagi ini.

Keindahan interior Souq Qadim yang baru ini memang memangsa banyak mata untuk mengabadikannya. Interior yang didominasi warna kayu coklat tua dengan sinar agak remang-remang memberi kesan seperti suasana pasar tua ala Timur Tengah. Di sudut restoran yang mempunyai meja-kursi makan di emperan-nya terdengar cekikikan para wanita berkebaya dan kerudung serba hitam, mereka makan sambil mengabadikan suasana sarapan dengan kamera telepon genggam mereka. Gol A Gong dan istrinya memilih tempat dengan patung ceret besar terbuat dari kuningan sebagai tempat awal fotografinya. Tidak ketinggalan istriku dan teman-temannya berpose menyatu bergantian bersama Gol A Gong dan istrinya. Ada restoran dengan pelayan berpakaian tradisional Maroko, yang demikian juga tidak luput dari pengambilan foto Gol A Gong.  Di atas meja setengah bundar bertuliskan 'Information' yang tidak ada penjaganya ada banyak pamflet-pamflet dan buku petunjuk tempat wisata di Abu Dhabi, pamflet-pamflet yang disediakan secara cuma-cuma aku ambil, demikian juga Gol A Gong.

Tidak terasa waktu sudah mendekati acara pelatihan menulis oleh Gol A Gong dan Tias Tatanka bagi Ibu-Ibu Dharma Wanita KBRI Abu Dhabi dan Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang ada di KBRI. Aku harus kembali ke kantor hari ini setelah empat jam cuti karena kompensasi kerja lemburku. Aku kendalikan mobil sampai halte bis jurusan Musaffah depan kantor Etisalat, lalu aku turun. Etisalat adalah nama perusahaan telekomunikasi Semi-goverment Abu Dhabi. Istriku berpindah tempat duduk menggantikan aku untuk mengendalikan mobil menuju Kantor KBRI bersama kedua tamu khusus kami ini, dan Gol A Gong berpindah ke kursi belakang sedangkan istrinya berganti duduk di sebelah kanan istriku.

Bey Gol A Gong, sampai ketemu lagi, sekarang aku harus berangkat kerja, demikian aku ucapkan dengan lirih sambil melambaikan tanganku mengakhiri pertemuanku hari ini dengan Gol A Gong dan istrinya.
End.

Friday, February 24, 2012

ARTI HIDUP - Bagian 14, Berfikir

BAGIAN 14

BERPIKIR

'Kebanyakan orang lebih baik mati daripada berpikir; kenyatannya, mereka begitu' (Bertrand Russel).

'Sangat sering kita memberi anak kita jawaban untuk diihafal dari pada memecahkan soal-soal' (Roger Lewis).

'Hal terpenting adalah tidak pernah berhenti bertanya. Rasa ingin tau mempunyai sebab tersendiri untuk ada. Seseorang tidak dapat menberi pertolongan tetapi merasa kagum ketika dia merenungkan realitas struktur luar biasa dari keabadian, kehidupan' (Albert Einstain).

Tanyakan kawan anda dengan pertanyaan ini: Percayakah anda bahwa berpikir itu penting?.

Tidak sebegitu banyak orang yang siap menjawab dengan suatu sahutan dan segera 'ya' pada pertanyaan ini sebagaimana mereka menjawab pertanyaan tentang apakah pengetahuan adalah penting. Ini suatu yang lucu berapa banyak orang yang tidak mempunyai permasalahan dalam mengatakan hal-hal seperti: "Jangan berpikir terlalu keras." "Jangan melukai diri sendiri dengan berpikir." "Berpikir akan membuat anda bermasalah." Atau "Anda terlalu banyak berpikir."

Nilai berpikir jauh lebih rendah dimengerti daripada nilai dari pengetahuan. Pada kenyataannya, kebanyakan orang tidak dapat memberi anda suatu definisi yang baik dari kata "pikir" jauh lebih sedikit menerangkan bagaimana untuk melakukannya. Sehingga itu tidak mengherankan bahwa kebanyakan orang tidak menjadikan berpikir suatu prioritas dalam hidup mereka.

Agar dapat dimengerti mengapa berpikir itu penting yang diperlukan pertama-tama adalah mengetahui apa itu berpikir.

APA ITU BERPIKIR?

Apa itu berpikir?. Dapatkah pertanyaan itu dijawab?. Berpikir tampaknya hampir seperti mejik dan tidak dapat dijelaskan. Segalanya yang terjadi di dalam alam semesta ini dapat diamati. Semua yang bisa diamati dapat diukur, diekstrapolasi, dimengerti, dan diulang. Walaupun anda tidak dapat menyentuh suatu pemikiran hal ini masih terjadi dalam alam semesta ini dan semuanya mengikuti aturan hukum alam. Dia dapat diamati, diukur, diekstrapolasi, dimengerti dan diulang.

Pada akhirnya berpikir adalah tidak lebih dari menanyakan atau meminta suatu jawaban. Jika anda pernah mempunyai suatu persoalan, anda sedang mencoba untuk memecahkannya dan anda duduk di sana berkata kepada diri anda sendiri, "Pikir. Pikir. Pikir" tetapi anda tidak melakukan apapun karena anda tidak sedang menanyakan suatu pertanyaan. Anda akhirnya duduk di sana berkata, "Tanya suatu pertanyaan. Tanya suatu pertanyaan. Tanya suatu pertanyaan." Atau "Saya butuh suatu jawaban. Saya butuh suatu jawaban. Saya butuh suatu jawaban." Tetapi anda sebenarnya tidak pernah menanyakan adanya suatu pertanyaan. Untuk itu anda tidak pernah mendapatkan adanya suatu jawaban.

Bagaimanakah anda menanyakan satu pertanyaan? Adakah suatu sistem terhadapnya yang dapat dipelajari?. Ya. Jika semua pemikiran adalah pertanyaan-pertanyaan dan semua pertanyaan adalah persamaan-persamaan aljabar, lalu semua pemikiran merupakan persamaan-persamaan aljabar juga. Meskipun daripada menggunakan angka-angka dan huruf-huruf untuk variabel-variabel-variabel pemikiran pakailah ide-ide. Daripada memakai tanda-tanda tambah, pengurangan, pembagi, pengkali, dsb. Pemikiran diganti memakai kata, "jikalau", "telah dapatkah", "akankah", "haruskah", "dapatkah", "siapakah", "apakah", "di manakah", "kapankah", "mengapa", dan "bagaimanakah". Daripada memakai suatu simbul sama dengan (=) pemikiran memakai simbul tanda tanya (?).

Semua persamaan aljabar menganut cara-cara yang sama pada umumnya  dalam memecahkan suatu permasalahan. Untuk itu, anda dapat memakai cara-cara yang sama pula untuk berpikir secara sistimatis. Langkah-langkah itu akan dijelaskan sebentar lagi, tetapi pertama-tama kita perlu untuk melihat ke belakang dan membahas mengapa berpikir itu penting.

MENGAPA BERPIKIR ITU PENTING?

Berpikir adalah bagaimana anda terhadap suatu data yang datang ke dalam otak anda melalui perasaan-perasaan anda agar masuk akal. Setelah anda mendapatkan suatu data yang masuk akal, anda dapat membuat keputusan-keputusan berdasarkan pada suatu jawaban-jawaban yang telah anda dapati, dan, seperti halnya dengan pengetahuan, keputusan-keputusan itu mempengaruhi perkembangan internal dan perilaku eksternal kita. Antara kedua hal itu berpikir mempengaruhi segala sesuatu yang anda akan alami.

PERKEMBANGAN INTERNAL

Peran berpikir bermain dalam perkembangan internal, secara baik diungkapkan dalam suatu pernyataan oleh Eric Butterworth, "Anda memandang sesuatu bukan sebagaimana mereka tetapi sebagaimana anda".

Dunia yang anda alami dibentuk oleh apa yang anda rasa dan percayai tentang dunia ini. Jika anda adalah seorang pemikir yang brilian, anda akan hidup di dalam kehidupan brilian dan realistik serta anda akan memiliki pengalaman kehidupan brilian dan realistik setiap saat dalam keseharian anda. Jika pemikiran anda terlalu dijeneralisasi, kacau-balau, tidak logis, tidak lurus, dlsb. kemudian anda akan hidup dalam dunia semacam itu dan anda akan menjadi orang semacam itu pula. Bahkan jika anda memiliki semua kemewahan dan kesempatan di dunia lalu dilimpahkan kepada anda pada suatu piring perak, apabila akal anda tidak logis, maka kehidupan anda akan menjadi seperti neraka. Walaupun anda tidak mempunyai kemewahan atau kesempatan, apabila akal anda logis, anda akan menjadi bahagia.

Bayangkan gambar-gambar pada suatu sampul buku dengan suatu peta yang dapat anda pakai untuk menjaga anda tetap pada jalur sehat mental dan aktualisasi-diri. Simbol Om di tengah. Secara historis Om adalah suatu simbul keagamaan digambarkan untuk mewakili kesempurnaan alias pencerahan. Jika anda memiliki cukup keberanian untuk melanggar tradisi, anda dapat menggunakannya dalam mewakili tuntutan ilmu pengetahuan terhadap kesempurnaan, aktualisasi-diri. Roda gigi mewakili "roda gigi-roda gigi di dalam kepala anda berputar". Dengan kata lain, logis. Jadi simbol ini mewakili suatu filosofi bahwa logis adalah suatu jalur menuju aktualisasi-diri alias kesempurnaan.

PERILAKU EKSTERNAL

Sebagaimana perilaku eksternal, setiap keputusan yang akan anda buat dalam hidup dilakukan dengan berpikir, apakah anda menyadarinya atau tidak. Banyak keputusan itu dilakukan hampir tanpa sadar seperti memutuskan untuk mengambil garpu makan untuk makanan anda. Beberapa keputusan dilakukan secara semi-tianpa sadar seperti memutuskan kapan harus menyeberang jalan dengan aman. Beberapa keputusan membutuhkan sejumlah waktu dan pikiran sadar seperti memutuskan apa yang perlu anda lakukan pada kehidupan. Beberapa keputusan harus dibuat secara sadar, tetapi dilakukan tanpa sadar apabila anda tidak memilih untuk memikirkan tentang keputusan-keputusan oleh diri anda sendiri. Inilah mengapa iklan dapat meyakinkan anda untuk membeli barang mahal di mana logika akan mengatakan untuk tidak membelinya. Bagaimanapun cara anda memutusnnya, ada beberapa tingkatan pertimbangan yang sedang terjadi di dalam otak anda setiap kali anda membuat suatu keputusan, tidak perduli bagaimana sepele atau pentingnya keputusan itu.

Lebih baik anda dalam berpikir, maka lebih baik anda dalam membuat keputusan. Anda akan mengemudi lebih baik, lebih baik mengerti orang, bekerja lebih efisien, membeli barang yang tidak diperlukan lebih sedikit, memilih secara bijak, mengatur secara bijak, mendisiplinkan anak anda secara tepat, dapat memperbaiki sesuatu di sekitar rumah, dlsb. Lebih baik anda dalam memecahkan masalah lebih sedikit masalah-masalah akan anda dapati dalam kehidupan anda dan lebih mudah suatu masalah yang anda miliki akan dipecahkan.

Cara berpikir yang rendah mempunyai akibat yang negatip pada setiap apa yang akan anda lakukan pada setiap detik sepanjang kehidupan anda. Seberapa seringkah anda membuat kesalahan?. Apakah  kehidupan anda suatu kehidupan yang gagal?. Apakah anda sengsara?. Jika demikian mungkin anda memerlukan untuk medapatkan medikasi/pengobatan atau memperbaiki kemampuan cara anda berpikir, sebab apapun masalah anda, hanya ada dua cara untuk mengidentifikasi dan/atau memecahkan masalah-masalah anda itu: dengan berpikir untuk diri anda sendiri atau dengan mendengarkan kepada orang lain yang mempunyai lebih baik sebagai pemikir daripada anda... meskipun, jika anda seorang yang berpikiran lemah, anda mungkin tidak akan percaya pada apa yang dikatakan oleh orang pintar bagaimanapun. Bagaimanapun juga, sebagian besar orang tidak dapat membayar beban biaya meminta orang lain memikirkan untuk mereka. Sehingga untuk sebagian besar orang hal itu merupakan apakah berpikir sendiri atau mati.

Coba ingat pada semua orang yang anda kenal. Siapa yang mempunyai paling sedikit permasalahan?. Siapa yang nampaknya akan mampu untuk menangani setiap kesulitan yang dilempar di hadapan mereka?. Siapa yang paling tidak panik?. Berbicaralah kepada orang itu secara mendalam tentang bagaimana mereka bertindak dengan masalah-masalah mereka. Jika anda tau beberapa orang seperti itu, berbicaralah kepada mereka semua. Tak perduli apapun faktor lain yang menyebabkan perilaku mereka, mereka semua mempunyai satu hal dalam kebiasaan. Mereka melakukan suatu kebiasaan berpikir.

Di luar semua orang yang anda kenal, siapa yang hidup paling teledor?. Siapa yang paling sering mengeluhkan tentang masalah mereka?. Siapa yang paling sering berkata bahwa dunia ini tidak adil?. Tanya pada orang itu atau mereka bagaimana mereka memecahkan setiap permasalahan. Jika anda kenal dengan beberapa dari orang itu lalu berbicaralah kepada semua dari mereka. Tak perduli apapun faktor lain yang menyebabkan perilaku mereka, mereka mempunyai satu hal dalam kebiasaan. Mereka tidak berpikir.

Masalah lain dengan tidak berpikir adalah anda membiarkan diri anda mudah untuk percaya pada orang lain tanpa mempertanyakan pada mereka. Ini berarti anda menyerahkan kendali kehidupan anda kepada orang lain, di mana ini benar-benar merupakan membuang potensi anda, sebab jika anda tidak sedang hidup pada kehidupan anda sendiri, maka kehidupan anda merupakan suatu hidup yang sia-sia.

Seperti kehidupan apa yang akan anda dapati apabila anda tidak pernah memakai tubuh anda?. Akan seperti apa apabila anda hanya dapat mengendalikan tubuh anda secara kosong?. Seperti kehidupan apa apabila anda mengijinkan orang lain untuk mengendalikan tubuh anda?. Hasilnya akan merupakan kehancuran, tetapi ini beribu kali lebih jelek japabila tidak pernah memakai akal anda, mempunyai kendali yang lemah terhadap akal anda, atau membiarkan orang lain memutuskan apa yang harus anda pikirkan. Selanjutnya untuk pembelajaran, berpikir adalah sesuatu yang paling penting anda akan pernah lakukan didalam seluruh kehidupan anda.

YANG TERBAIK DARI KEDUA DUNIA

Di sini cara lain untuk menerangkan nilai dari berpikir. Pertimbangkan grafik di bawah. Bayi yang baru lahir yang tidak mempunyai pengetahuan dan tidak mempunyai kecakapan adalah seluruh jalan ke kiri dari spektrum sementara Leonardo Da Vinci akan berada di ujung yang lain. Tandai di mana anda percaya tentang kedudukan anda pada spektrum tsb.

Bodoh--------------------------------------------------Jenius

Sekarang tanpa menggeser tanda yang anda buat, hapus kata 'Bodoh' dan 'Jenius'. Dan ganti 'Bodoh' dengan 'Gila' dan 'Jenius' dengan 'Akal Sehat'.

Hal ini secara akurat menggambarkan akal anda.

Suatu difinisi dari 'akal sehat' adalah:
1. "Kwalitas atau kondisi akal sehat; kesehatan pikiran.
2. Kesehatan penilaian atau alasan".
(Dari Kamus Bahasa Inggris the American Heritage, edisi keempat)

Orang akan cenderung menerima begitu saja bahwa hampir semua dari kita terlahir dalam keadaan berakal sehat dan hanya sedikit orang yang keluar dari jalan itu atau tersesat setiap saat, baik sekarang dan kemudian. Tetapi itu masih jauh dari realitas. Untuk menjadi berakal sehat adalah dengan proses  penilaian, agar masuk akal, agar logis dan pemikir yang relistis. Kita tidak menemukan semua kriteria itu pada bayi. Kita tidak dapat, sebab kita dilahirkan dengan suatu (lebih kurang) akal kosong. Sehingga secara teknis, kita dilahirkan dalam keadaan berakal tidak sehat. Bayangkan seorang bayi atau anak kecil. Jika seorang dewasa berprilaku seperti anak umur lima tahun dia dengan sendirinya akan dibuang dalam suatu tempat pengasingan. Pasti, anak-anak mempunyai alasan bahwa otak mereka belum sepenuhnya berkembang dan mereka secara sederhana belum mempunyai waktu belajar kecakapan-kecakapan hidup, tetapi terlepas mempunyai alasan yang valid...mereka masih bisa masuk pada definisi berakal tidak sehat sebab mereka belum dapat memakai kemampuan untuk alasan untuk sampai pada kesimpulan yang logis.

Ketika memiliki kecenderungan untuk mempercayai hanyalah pada orang yang berakal tidak sehat adalah mereka yang percaya pada mereka super heroes atau berbicara kepada kawan-kawan dalam angan-angannya (imaginary friends). Dan tentu, tindakan semacam itu adalah berakal tidak sehat, karena mereka tidak logis. Tetapi bukankah itu juga tidak logis menghabiskan semua uang anda pada tiket lotre, memukul anak anda, mengolok olok bawahan anda di kantor, berlaku sombong, menyetir sembarangan, menyakiti kawan-kawan anda, membeli permata mahal yang tak perlu, dsb?. Ini adalah akal tidak sehat yang ditemui setiap hari, dan ini sangat nyata dan sangat merusak.

Hadapilah. Kita semua terlahir berakal tidak sehat, dan akan berlanjut ke masa puber dan mempelajari standar budaya utama di suatu tempat untuk hidup yang tidak menghasilkan akal sehat penuh. Hanya karena anda meraih status quo dan dapat berguna dalam masyarakat tidak membuat suatu assumsi bahwa kesesuaian adalah sama saja dengan berakal sehat atau kalau tidak anda akan berhenti berkembang. Agar menjadi berakal sehat secara penuh anda butuh belajar bagaimana untuk berpikir dan kemudian pakai itu sebagai bagian menyeluruh dari cara hidup anda setiap hari.

SEBUAH RUMUS UNTUK BERPIKIR

Kita semua dapat mengambil kendali terhadap hidup kita. Semuanya butuh belajar untuk berpikir, untuk mana ada rumus sederhana yang semua orang dapat belajar:

1. Menanyakan suatu pertanyaan.
2. Pengumpulan data.
     A. Identifikasi variabel-variabel yang anda miliki.
     B. Identifikasi variabel-variabel yang belum anda miliki.
3. Pengelompokan data
    A. Penggunaan rumus-rumus
    B. Menanyakan sub-pertanyaan
4. Menanyakan jawaban anda
5. Pemakaian solusinya.

LANGKAH 1: MENANYAKAN SUATU PERTANYAAN

Langkah pertama dalam proses ini seakan-akan sederhana. Setiap orang dapat bertanya suatu pertanyaan: kecakapannya terletak pada mengetahui pertanyaan yang mana untuk ditanyakan, dan, sekali anda memilih suatu pertanyaan, mengetahui bagaimana untuk menanyakannya.

Dalam masa/waktu hidup anda yang terbatas ada suatu pertanyaan yang tak terbatas untuk ditanyakan dan juga jawaban yang tak terhinggan untuk dipelajari. Jadi pertanyaan yang mana yang harus anda tanyakan? Anda dapat menjawab pertanyaan sebanyak mungkin yang bisa anda lakukan, tetapi itu akan menjadi sia-sia. Anda bisa fokus pada pertanyaan yang paling sulit, tetapi itu akan menjadi bodoh, sebab pertanyaan yang paling sulit bukan berarti yang paling penting.

Anda pertama-tama membutuhkan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang paling penting, dan bila anda mempunyai waktu setelah itu anda dapat menjawab pertanyaan mana saja yang anda inginkan. Kalau tidak, anda akan membuang hidup anda sibuk terhadap isu tanpa konsekwensi sementara membiarkan pertanyaan yang benar-benar menjadi masalah dan mempunyai pengaruh besar pada kehidupan anda dan berpotensi bagi setiap makhluk hidup lainnya. 

Jadi kapanpun anda menanyakan suatu pertanyaan anda harus juga bertanya pada diri anda sendiri, apabila masih ada suatu pertanyaan yang lebih penting yang anda dapat tanyakan lagi. Dan pada beberapa titik tertentu anda harus memutuskan pertanyaan apa yang paling penting dalam hidup ini. Dan anda harus menjawab mereka secara sistimatis dalam urutan menurun. Pada kenyataanya, pertanyaan yang paling penting yang dapat anda tanyakan adalah, apakah arti hidup ini?

Setelah anda menemukan suatu pertanyaan penting untuk ditanyakan, anda perlu memastikan bahwa anda sedang bertanya pertanyaan yang benar dengan menyampaikan isu pokok. Para psikolog, dokter, dan teknisi harus mendahulukan penentuan gejala-gejala yang telah lalu dari suatu masalah dan mengidentifikasi/penyatakan penyebab utamanya. Apabila anda sudah pernah kawin anda mungkin  mempunyai argumentasi-argumentasi bahwa hal itu dapat diselesaikan jauh lebih cepat, tetapi apabila anda dapat/akan menyatakan penyebab sesungguhnya anda telah saling bertengkar satu dan lainnya.

Politikus menghadapi masalah ini setiap hari juga. Anda tidak dapat mencegah kriminal dengan bertanya, "Haruskah hukuman mati dilegalkan?" Atau "Berapa kalikah anda harus ditangkap sebelum anda dimasukkan ke dalam penjara seumur hidup?" Tentunya, pertanyaan-pertanyaan itu menyatakan kriminal, tetapi mereka tidak menyatakan isu pokoknya. Jadi untuk memfokuskan terhadap mereka adalah meretas cabang-cabangnya dari permasalahan tetapi tidak pernah menyentuh batangnya. Untuk mengahiri kriminal anda pertama butuh bertanya, "Apa kriminal itu?" Kemudian anda butuh bertanya, "Apa penyebab dari manusia melakukan kriminal?" Lalu anda fokuskan padanya/penyebab-penyebabnya.

LANGKAH 2: PENGUMPULAN DATA

Langkah kedua dari proses pemecahan masalah adalah pengumpulan data (juga dikenal sebagai variabel-variabel). Ini bukan hanya ide bagus atau sesuatu yang akan dapat membantu ketika anda mendapatkan kesulitan tterjebak dalam kebiasaan/rutinitas. Anda diharuskan untuk mengerjakannya. Jika anda tidak pandai mengungkapkan data lalu anda tidak mempunyai suatu informasi untuk menyimpulkan suatu bentuk jawaban. Jadi anda tidak mempunyai suatu rumusan sama sekali.

Investor cerdik mengetahui tentang ini dengan baik. Dia tidak akan pernah membeli saham pada suatu perusahaan tanpa mengetahui sebanyak mungkin variable-variabel tentang perusahaan itu. Anda tidak akan mengawini seseorang tanpa mengetahui sebanyak mungkin tentang mereka. Seorang juri tidak akan meloloskan suatu putusan pada seorang terdakwa tanpa mengetahui sebanyak mungkin tentang kasusnya. Apabila anda pernah membeli mobil bekas yang berubah menjadi sesuatu yang tidak memuaskan anda dipastikan tahu suatu nilai dari mengumpulkan variabel-variabel sebelum anda sampai pada suatu kesimpulan.

Terkadang kita menolak, bahkan mencoba untuk mendapatkan suatu variabel atau kita menolak untuk mengakui bahwa variabel-variabel yang tepat berada didepan kita. Inilah mengapa orang berkata jangan mendiskusikan tentang agama dan politik. Ini adalah pengetahuan umum bahwa orang sudah membentuk pikiran mereka pada topik ini dan menolak untuk berpikir tentang mereka. Sehingga mendiskusikan mereka (menganalisa variabel-variabel mereka) adalah sia-sia.

Setebgah hati untuk mengindentifikasikan variabel-variabel dalam suatu persamaan pada akhirnya dapat menjadi seburuk sebagaimana tidak mengidentifikasikan satupun dari mereka. Hanya kehilangan satu buah teka-teki dapat menyebabkan anda terbentur pada suatu jalan buntu atau membuat keputusan yang salah. Ini dengan mudah dicontohkan dalam suatu peperangan. Seorang jendral dapat mengetahui segalanya tentang strategi militer, tetapi jika musuh mempunyai satu senjata rahasia atau melancarkan satu serangan mendadak, maka pasang surut dari suatu peperangan akan berubah. Ahli roket juga tidak asing dengan keadaan ini. Ketika anda mengirim suatu pesawat luar angkasa ke planet lain anda harus menghitung setiap rumus secara cermat dan sempurna, atau pekerjaan bertahun-tahun dan  penelitian serta perancangan berharga jutaan dolar nanti akan berakhir dengan malapetaka, yang mana sebenarnya telah terjadi.

Prisip ini berlaku untuk pertanyaan-pertanyaan ssehari-hari sama seperti pada ilmu ilmu roket. Apabila anda hanya setengah hati mengartikulasi variabel-variabel dalam pertanyaan-pertanyaan yang anda tanyakan kemudian anda hanya setengah hati dalam berpikir, dan itu akan memberi anda setengah hati menjawab, dan itu akan menghasilkan jawaban yang salah atau tidak ada jawaban samasekali.

LANGKAH 2A: MENGUMPULKAN SUATU DATA YANG ANDA MILIKI

Ketika anda sedang memecahkan suatu permasalahan aljabar pada suatu buku bacaan, anda terkadang akan diberi sedikit variabel yang tidak diketahui untuk disumbatkan ke dalam suatu persamaan. Di dalam kehidupan nyata anda juga biasanya mampu mengidentifikasi sedikit variabel-variable dari satu masalah dengan segera, tetapi mau tidak mau anda akan menyadari bahwa anda sedang kekurangan atau kehilangan variabel-variabel. Jika anda tidak kehilangan variabel-variable tidak akan ada suatu pertanyaan untuk ditanya. Anda akan hanya melihat jawabannya.

Agar menjadi berhasil dalam pemecahan suatu permasalahan dunia nyata anda perlu mengetahui dengan sangat sadar tentang keadaan ini, dan setelah anda menanyakan suatu pertanyaan, hal selanjutnya yang anda perlu lakukan adalah mengartikulasi suatu variabel-variabel yang anda miliki sementara tetap diingat bahwa anda mungkin tidak mengetahui semua dari mereka.

Para pengacara, auditor, dan konsultan semua mencurahkan perhatian khusus pada langkah ini dalam proses penyelesaian suatu permasalahan. Ketika mereka dihadapkan pada satu pekerjaan baru, mereka segera mencoba untuk mengumpulkan semua informasi tentang isu yang ditangani. Mereka mengetahui bahwa mereka tidak akan mempunyai apapun untuk dikerjakan apabila mereka tidak mengumpulkan semua data yang ada. Kemudian, hanya setelah data itu dikumpulkan akan mereka dapat menemukan lubang-lubang atau daerah-daerah untuk diperbaiki pada sistem data yang sedang mereka kerjakan.

Apakah yang pertama kali seorang detektip lakukan setelah tiba di tempat kejadian perkara dari suatu kasus kriminal? Dia menganalisa tempat kejadian perkara kriminal untuk mengumpulkan setiap adanya data yang siap. Ketika si pembunuh sedang berdiri di atas korban dengan lumuran darah ditangannya, detektip tidak harus berpikir berikutnya untuk memecahkan masalah, tetapi jika pelakunya telah melarikan diri dari tempat kejadian, penyelidik memiliki satu variable yang hilang di tangannya.

STEP 2B: MENGUMPULKAN DATA YANG BELUM ANDA MILIKI

Terkadang anda tidak memiliki semua data di tangan. Pada keadaan itu anda harus mencoba mengumpulkan data yang belum anda miliki.

Bayangkan anda sedang membersihkan rumah anda, mencoba meletakkan semua barang-barang di mana seharusnya, dan anda melihat satu kaos-kaki kotor berada dekat keranjang pakaian. Bukan perkara besar. Anda mengetahui semua variabel pada suatu persamaan dari "Apa yang harus aku lakukan dengan kaos-kaki ini?" Anda secara praktis dengan tanpa menyadari mengambilnya dan memasukkannya ke dalam keranjang pakaian. Kemudian ada kemungkinan variabel-variabel yang hilang dari persamaan yang akan anda butuhkan dalam mengidentifikasian sebelum mengambil langkah selanjutnya, seperti "Apakah ini muat?" "Bagaimana ini ada di sini?" "Di mana tempat yang aman agar saya dapat menyimpan ini?" dlsb.

Bagaimana bila, ketika anda menemukan pistol berada dekat di sebelah kotak tempat pakaian anda, anda tidak mencoba untuk mengidentifikasi variabel-variabel yang hilang sebelum melakukan sesuatu? Bagaimana bila anda mengasumsikan anda mengetahui variabel-variabel yang hilang semuanya? Anda mungkin akhirnya menembak diri anda sendiri atau orang lain. Anda mungkin membiarkannya pada tempat di mana seorang anak akan menemukannya. Pencuri yang membuang pistol itu kemungkinan masih berada di dalam rumah. Jangan pernah mengasumsikan anda sudah mengetahui semua variabel-variabelnya.

Siapa saja yang pernah bekerja di suatu kantor dengan pimpinan yang arogan mengetahui konsekwensi dari jawaban pertanyaan tanpa mencoba untuk mengidentifikasi variabel-variabel yang tak tampak. Banyak bisnis bangkrut karena pimpinan yang menasumsikan mereka mengetahui segalanya dan konsekwensinya membuat keputusan-keputusan yang salah. Bahkan dalam bisnis yang tidak bangkrut, seorang bos arogan dan bodoh dapat membuat hidup suatu kehidupan seperti neraka bagi karyawan yang harus mengatasi dengan kemampuannya yang rendah dalam membuat keputusan setiap hari. Socrates telah menjadi pimpinan yang sangat istimewa karena dia percaya, "Saya tau bahwa saya tidak tau". Atau "Saya tau bahwa saya tidak tau apa-apa." (Tergantung pada pengartiannya).

Apabila anda cukup rendah hati dan bijak untuk mencoba mengidentifikasi variabel-variabel anda yang hilang, ada banyak cara yang dapat anda lakukan. Detektip (penyelidik) mengekstrapolasi petunjuk-petunjuk dari variabel-variabel yang telah mereka miliki untuk menunju pada variabel-variabel yang belum mereka miliki. Pemilik bisnis kecil tidak berpengalaman yang menghendaki bisnis mereka tumbuh merekrut perusahaan pemasaran yang sudah mengetahui suatu variabel-variabel yang berhubungan dalam peningkatan jual untuk mengatakan kepada mereka variabel-variabel apa yang sedang hilang. Murid-murid menuliskan kertas ujian akhir hanya harus belajar topik mereka sampai mati hinga mereka mempelajari apa yang mereka tidak pernah ketahui yang mereka perlukan untuk diketahui. Bagaimana berhasilnya anda pada pengidentifikasian variabel-variabel anda yang tidak diketahui tergantung pada bagaimana kreatip dan secara terus-menerus anda mencari variabel-variabel itu.

Mau tidak mau, anda akan membuat banyak keputusan tanpa banyak mengetahui banyak fakta-fakta. Itulah hidup. Semua yang dapat anda lakukan adalah meminimalkan resiko dari pembuatan suatu keputusan yang tidak benar dengan mengidentifikasikan variabel-variabel sebanyak mungkin. Kemudian, setelah suatu keputusan dibuat anda harus berhati-hati dari ketidak tahuan (kebodohan) anda tadi dan bersiaplah untuk meloncat kebelakang ke dalam suatu proses pemecahan masalah apabila ini menjadi jelas bahwa anda telah melakukan pada suatu kenyataan telah berbuat keputusan yang salah dikarenakan anda tidak mengambil variabel yang cukup sebagai pertimbangan. Apabila anda tidak dapat secara cukup mengidentifikasi variabel-variabelnya ini mungkin paling bijak mengabaikan seluruh situasi bersama-sama semuanya. Apabila anda seorang politikus yang ingin mengambil alih (menyerang) suatu negara bagian yang sangat sedikit anda ketahui tentangnya jalur yang paling bijak dari aksi anda adalah kemungkinannya hanyalah biarkan saja negara bagian itu sendirian.

LANGKAH 3: MEMILAH DATA

Jadi anda telah menanyakan suatu pertanyaan dan mengidentifikasi sebanyak mungkin variabel-variabelnya. Informasi itu hanya baik untuk dikeluarkan sampai anda membuat suatu data masuk akal. Dalam aljabar, ini berarti mencari arti dari hubungan antar variabel-variabelnya. Jika seseorang mengatakan pada anda bahwa A=B dan B=C dan anda akan dengan mudah melihat hubungan antara A dan C. Mereka itu adalah sama. Dalam dunia nyata anda juga butuh untuk memilah data dengan mencari arti hubungan antar variabel-variabel. Tetapi jangan khawatir. Ini tidak selalu samar-samar seperti itu.

Anggaplah anda baru saja mendapatkan promosi sebagai wakil manajer dalam pekerjaan sekolah tinggi anda. Satu dari tugas baru anda adalah membuat jadwal kerja bagi semua karyawan. Anda menidentifikasi siapa saja yang bekerja pada bisnis itu, shift apa yang perlu diisi, siapa yang meminta libur, dan siapa saja yang mempunyai jadwal saling berlawanan. Sekarang yang perlu anda lakukan adalah menentukan suatu hubungan antara masing-masing variabel untuk menentukan siapa yang harus bekerja kapan.

Menjawab suatu pertanyaan siapa yang harus bekerja pada setiap shift seharusnya mudah apabila anda mempunyai semua informasi di tangan. Bagaimanapun, terkadang kumpulan data pada pekerjaan anda adalah jauh lebih kompleks daripada itu. Pada kasus demikian anda perlu suatu alat yang lebih canggih untuk mensortir data.

LANGKAH 3A: PEMAKAIAN FORMULA

Satu formula didefinisikan sebagai:

"Satu pernyataan, khususnya dari suatu persamaan, dari suatu fakta, aturan, prinsip/dasar, atau hubungan logis lainnya" (menurut kamus bahasa ingris American Heritage Dictionary edisi keempat).

Setiap bidang studi mempunyai fakta, aturan, dan dasar sendiri-sendiri untuk membuat suatu data masuk akal. Penyebab dari ini adalah dikarenakan kumpulan setiap data mempunyai pola/bentuk yang teratur (pattern) apakah anda berbicara mengenai matematika, pertanian, psikologi, rancangan interior, rekayasa, biologi, kimia, percakapan, pemeliharaan ternak, masakan, perbaikan komputer, atau yang lainnya.

Tanpa kumpulan pola data adalah hanya kekacauan. Sangat jarang dalam hidup anda pernah menemukan kekacauan semua. Jadi setiap anda sedang mencoba memecahkan suatu masalah cobalah mengidentifikasi pola-polanya dan jelaskan aturan untuk menjelaskan pola itu. Jika anda beruntung seseorang di luar sana akan sudah mengidentifikasi aturan yang sedang anda cari.

Jika anda ingin mendapatkan pasangan, ada pola-pola dan peraturan-peraturan untuk berkencan. "Aturan Main" dan "Peraturan" merupakan buku-buku tentang berkencan berdasarkan pada rumus-rumus (walaupun keakuratan mereka masih bisa diperdebatkan). Ada secara pasti pola-pola dan peraturan-peraturan untuk mendapatkan uang. Bukunya, "The Intelligent Investor" adalah salah satu formula besar. Ada bentuk keteraturan/pola dan peraturan-peraturan untuk membuat musik. Itu disebut teori musik. Kemampuan bersosial adalah hanyalah formuls-formula untuk berinteraksi dengan orang-orang. Anda mungkin ingin membaca "How to Win Friends and Influence People." Bahkan ada pola bentuk keteraturan dan peraturan untuk kehidupan setiap hari. Secara kolektip, mereka disebut kebijaksanaan. Buku-buku agama dan bantu diri sendiri adalah tidak lebih dari rumus-rumus yang telah orang kembangkan oleh pengamatan terhadap bentuk keteraturan/pola dalam kehidupan.

Ada juga rumus-rumus untuk berpikir. Seluruh bab ini adalah suatu rumus untuk berpikir, tetapi ada banyak lagi rumus-rumus lanjutan yang tak terhitung. Lebih banyak mereka itu dapat anda temukan atau ciptakan akan lebih baik anda untuk menjadi seorang pemikir. Di sini sedikit contoh dari rumus-rumus berhubungan dengan khususnya untuk pemecahan masalah:

• Jalan yang paling sederhana untuk membuat perubahan total dalam satu sistem adalah dengan merubah pondasi-pondasinya.
• Jika anda tidak mengetahui ke arah mana yang dituju ketika memecahkan suatu permasalahan lalu arahkan saja pada arah manapun, dan akhirnya anda akan mendapatkan suatu bentuk keteraturan/pola untuk diikuti atau suatu petunjuk arah pada suatu titik di mana anda pada arah yang benar.
• Buat seumum dan sesamar dari suatu jawaban sedapat mungkin dan kemudian secara perlahan-lahan dapatkan yang lebih dan lebih spesifik lagi. Cara ini anda akan selalu merujuk jawaban anda yang lebih spesifik terhadap jawaban yang samar tadi untuk memastikan mereka berada di dalam satu garis dengan keseluruhan tujuan anda.
• Pertimbangkan hal yang tidak mungkin.
• Langkah pertama untuk menemukan solusi adalah menemukan di mana untuk mencarinya.
• Dapatkan satu paralel atau analogy permasalahan anda. Pandangan suatu masalah dari suatu keadaan yang berbeda mungkin dapat memberi anda perspektip yang lebih baik untuk menemukan suatu jawaban.
• Pertimbangkan sesuatu yang ekstrim. Mereka akan membantu anda meletakkan permasalahan dalam perspektip.
• Tanyakan jika permasalahan yang sedang anda coba pecahkan adalah satu dari sejumlah yang membentang dari satu masalah yang lebih mendasar. Jika anda dapat memecahkan masalah dasarnya lalu anda dapat memecahkan satu banyak dari masalah-masalah lain dalam suatu proses. Mungkin permasalahan dasarnya adalah salah satu batang satu bahkan lebih dari permasalahan dasar. Jaga agar tetap melcaknya kembali.
• Satu tanda dari pemikiran tingkat tinggi adalah selalu dapat berpikir dalam dimensi banyak.
• Tanda lain dari pikiran tingkat yang lebih tinggi adalah dapat menyatukan fakta-fakta. Tanda-tanda yang masih termasuk pikiran tingkat lebih tinggi adalah dapat menyatukan fakta-fakta dari sumber-sumber yang berjauhan.
• Satu permasalahan komplek sering karena sebab yang bermacam-macam, di mana akan membutuhkan bermacam-macam solusi.
• Selalu ada paling tidak tiga solusi terhadap setiap permasalahan, dan jika anda dapat mendapatkan tiga solusi itu anda dapat menemukan lebih banyak lagi.

Rumus-rumus adalah jalan yang sangat diperlukan agar masuk akal secara matematika dan data dunia nyata. Tidak diragukan lagi anda sudah menggunakan ribuan rumus-rumus dalam hidup anda untuk mengidentifikasi pola dalam sekumpulan data dunia nyata bahkan tapa menyadarinya, tetapi sekali anda melakukannya anda dapat secara sadar dan sistimatis mengembangkan mereka. Ketika anda demikian anda akan menjadi pemikir yang lebih perkasa, dan sebagai hasil anda akan bahagia dalam kehidupan yang lebih sukses.

Satu kata peringatan, banyak rumus yang dipakai oleh orang-orang untuk membantu mereka mengerti tentang dunia yang mereka huni dan kemudian bertindak terhadap mereka dengan tindakan yang salah. Pasti anda mempunyai teman yang selalu bertanya, "Mengapa aku selalu tetap berkencan dengan orang-orang buruk?" Teman anda kemungkinan menggunakan suatu rumus yang buruk untuk memilih pasangan. Banyak orang telah kehilangan keberuntungan di dalam pasar saham menggunakan rumusan yang salah. Perang kalah dan pemerintahan runtuh disebabkan oleh rumus-rumus yang tidak tepat. Jadi apabila anda menemukan bahwa sesuatu yang buruk selalu terjadi pada anda ini kemungkinan berarti anda bukanlah seseorang yang paling tidak beruntung di dunia. Secara nyata, ini kemungkinan karena anda sedang memakai rumus yang buruk pula. Anda harus secara rendah hati dan brutal mengevaluasi kembali rumus-rumus yang telah/sedang anda gunakan.

LANGKA 3B: MENANYAKAN  SUB-PERTANYAAN

Langkah ini adalah di mana anda akan melakukan sejumlah besar dari pekerjaan anda yang sebenarnya. Cara yang paling mudah menerangkan ini adalah memulai dengan sebuah ilustrasi dan berlanjut dari situ.

Apa jawaban terhadap pertanyaan, 12X34?. Kerjakan hal ini pada secarik kertas, dan anda akan menyadarinya bahwa dalam melakukan yang demikian, anda harus memecahkan persamaan-persamaan 4X2, 4X1, 3X2, 3X1, 8+0, 6+4, dan 3+1. Anda harus bertanya tujuh sub-pertanyaan untuk menjawab satu pertanyaan sebenarnya yang anda perlukan.

Ketika anda pikir tentang itu, setiap langkah dalam suatu permasalahan aljabar adalah menanyakan pertanyaan yang lain. Demikian juga dengan memecahkan persoalan-persoalan dunia nyata. Apabila anda tidak menanyakan pertanyaan lagi, maka anda tidak mendapatkan sesuatu yang lebih dekat terhadap jawaban pertanyaan pertama. Sehingga apabila anda tidak dapat mendapatkan sesuatu lebih lanjut pada sebuah persoalan yang sedang anda kerjakan lalu anda perlu bertanya pada diri anda sendiri, "Pertanyaan apakah yang sudah aku tanyakan?". "Pertanyaan apakah yang belum pernah aku tanyakan" "Pertanyaan apa yang perlu aku tanyakan" dst. Anda mungkin baru menyadarinya bahwa anda tidak pernah menanyakan pertanyaan samasekali, di mana tidak diragukan lagi anda tidak menenemukan jawabannya.

Apabila detektip ingin menyelesaikan permasalahan secara keseluruhan dari "Siapa yang telah melakukannya" lalu pertanyaan lanjutannya akan menjadi, "Apa motipnya? Apa bukti-bukti di tempat kejadian perkara? Siapa orang yang dekat dengan korban? dsb.". Seorang teknisi komputer akan bertanya kepada dirinya sendiri suatu pertanyaan lanjutan mengapa satu komputer tidak bekerja. "Telah adakah pesan error? Jika demikian, apa itu? Apakah masalahnya berhubunhan dengan perangkat lunak atau perangkat keras? Pernahkan perubahan sistem dilakukan baru-baru ini? Apakah komputernya dapat dihidupkan? dsb.". Jika pertanyaan anda adalah, "Sofa yang mana yang akan aku beli?" anda mungkin akan menanyakan pertanyaan lanjutan seperti, "Berapa banyak uang yang akan harus aku keluarkan untuk membeli suatu sofa?" Berapa kamar yang aku miliki? Warna apa yang sesuai terhadap ruangan yang akan aku pasangi di dalamnya? dsb."

Setiap sub-pertanyaan bahkan dapat memiliki sub-pertanyaan lainnya untuk sub-pertanyaan itu sendiri. Lebih baik anda dalam menemukan sub-pertanyaan yang tepat untuk jenis isu yang sedang anda kerjakan, maka anda akan lebih baik pula dalam menangani suatu persoalan.

LANGKA 4: MENANYAKAN JAWABAN-JAWABAN ANDA

Langkah berikunya dalam proses pemecahan masalah adalah pembuktian jawaban anda (atau jawaban orang lain untuk hal tsb.). Apabila anda mendapatkan suatu jawaban yang salah pada ujian matematika, anda mungkin harus mengulanginya lagi. Mendapatkan jawaban yang salah dalam hidup dapat menyebabkan penderitaan, kegilaan, ketidak adilan, kerugian keuangan, perang, dsb.

Sering kali kita tidak menginginkan untuk membuktikan jawaban kita. Kita telah mendapatkan jawaban kita ingin mendengar dan tetap mentaatinya, tetapi semua ini benar-benar menciptakan dunia fantasi yang menghalangi kita untuk memahami kenyataan dengan benar, yang menyebabkan kita untuk menjawab lebih banyak pertanyaan-pertanyaan salah disebabkan kita sedang terpaku menghitung pertanyaan-pertanyaan yang akan datang menggunakan variabel-variabel yang tidak benar. Hal ini menghasilkan dalam suatu ilusi dari suatu dunia yang menyenangkan (rosy world), tetapi pada kenyataannya hal ini hanya memperbanyak suatu komunitas distopia.

Hal ini mengapa penting untuk selalu objektip tentang jawaban anda. Apabila anda tidak objektip dengan jawaban-jawaban anda, maka anda bukanlah seorang pemikir, dan semua jawaban-jawaban anda akan menjadi keliru.

"Ojektip" didefinisikan sebagai:

1. "Tidak dipengaruhi" oleh emosi-emosi atau prasangka pribadi
2. Berdasarkan pada phenomena pengamatan; ditunjukkan secara fakta"
(Dari Kamus Bahasa Ingris, The American Heritage, Edisi ke empat)

Di atas kertas nampaknya luar biasa. Tak seorangpun akan berkata, "Saya lebih suka dasar keputusanku pada emosional atau prasangka pribadi dari pada fakta-fakta yang diamati". Tetapi setiap orang melakukan hal itu. Orang-orang akan akan berusaha keras untuk menkonfirmasikan fakta-fakta yang diamati terhadap emosi dan praduga pribadi mereka walaupun itu tidak masuk akal. Terkadang kita melakukannya dengan suara keras, dan terkadang kita lakukan secara sembunyi-sembunyi dibalik kesadaran kita.

Ambil ujian dua pertanyaan ini.
• Apa yang sangan anda percayai?
• Seberapa sering anda dengan sengaja merasa ragu dan menantang kebenaran dari yang dipercayai?

Ironisnya, semakin kuat kita mempercayai sesuatu semakin sedikit kita mempertanyakannya. Ini tipe dari kepercayaan kolot yang sering bernilai sebagai suatu kebaikan, tetapi nampaknya lebih sedikit kita mempertanyakan tentang kepercayan-kepercayaan kita, lebih banyak nampaknya kita tidak memperhitungkan semua variabel-variabel yang ada. Semakin sedikit variabel-variabel yang kita pakai sebagai pertimbangan semakin banyak nampaknya kita akan menjadi salah tentangnya. Jadi semakin kuat kepercayaan kita pada sesuatu semakin besar nampaknya kita akan salah tertangnya.

Selanjutnya. Ketika anda mengatakan kepada orang lain untuk mempercayai pada sesuatu, dan bahwa mereka tidak harus menganalisanya dengan sungguh-sungguh, kemudian anda benar-benar mengatakan kepada mereka bahwa ini baik untuk tidak dapat informasi dengan banyak bertanya. Apabila begitu, maka anda sedang menjadi musuh kebenaran. Dan untuk apa? Apabila kita mempertanyakan suatu ide, kita tidak akan melukai perasaannya. Ini tidak akan membalas kita dengan melakukan kebohongan atau berbuat curang terhadapnya. Semua itu bisa terjadi agar kita tingkatkan pengetahuan kita dan memahami kebenaran lebih jelas. Di manapun jika kita tidak mempertanyakan kepercayaan kita, semua itu dapat terjadi hanyalah kita meningkatkan kemumgkinannya bahwa kita salah. Jika itu yang terjadi, maka tidak ada akhir terhadap kesalahan yang dapat dan akan berakibat pada diri kita sendiri dan yang lainnya. Tidak ada juga akhir seberapa besar kendali yang dapat kita berikan kepada orang lain bagi hidup kita.

Berapa banyak orang yang anda kira telah membaca tentang hal ini dan berkata kepada mereka sendiri, "Saya bukanlah mereka itu, saya tidak akan menukar kebenaran dengan emosi atau praduga pribadi. Saya tidak akan berpikir sedikitpun tentang sesuatu yang paling saya percayai." Orang yang mengatakan tidak ingin menukar kebenaran adalah sepertinya yang paling mungkin melakukannya. Jika anda benar-benar percaya bahwa anda tidak akan melakukannya lalu anda tidak akan melindungi atau menjaga diri terhadapnya. Di lain pihak, apabila anda mencoba melakukan terhadap diri anda sendiri bahwa anda telah dan/atau akan menukar logika untuk satu jawaban egois, maka anda akan menyadari untuk tidak membiarkan hal itu terjadi lagi.

Pada kenyataannya, orang bijak menghendaki, merindukan, memohon untuk terbukti salah, karena apabila anda mempelajari sesuatu kemudian anda telah melakukan kesalahan terhadap sesuatu itu, kemudian anda bisa menjadi benar, dan dengan demikian anda akan mendapatkan keuntungan. Jika anda menolak untuk dibuktikan salah lalu anda mungkin tetap dengan kebanggaan anda, tetapi pada akhirnya anda akan tetap tidak mengetahui atau bodoh dan terus membuat keputusan salah yang merugikan diri anda sendiri dan orang lain dalam lingkaran pengaruh anda.

LANGKAH 5: PEMAKAIAN SUATU SOLUSI

Dalam satu ujian matematika ketika anda memecakan satu soal secara sederhana anda menulis jawabannya dan menunggu untuk mengetahui jika guru anda mengatakan kepada anda bahwa anda telah menjawabnya dengan betul. Dalam hidup pemakaian suatu jawaban dapat menjadi semudah sebagaimana pemakaian kaos kaki yang telah anda pilih untuk dipakai hari ini atau sesukar atau sekomplek sebagaimana menulis sebuah buku tentang arti hidup. Ini dapat seperti sebagaimana pemberian penghargaan memilih makanan yang mana yang anda inginkan dalam suatu prasmanan atau seperti bahaya penentuan apakah memakai atau tidak pasukan pembunuh terhadap penyerang. Hanya satu petunjuk yang ada untuk langkah ini memastikan jawaban anda adalah benar sebelum mengaplikasikannya. Jika anda tidak yakin apakah melakukannya atau tidak atau anda tidak harus memaksakan untuk bertindak ini berarti anda sesungguhnya tidak cukup mengerti situasi sebenarnya. Jika anda telah melakukannya tidak akan ada debat yang tersisa. Yang ada hanyalah melakukan tindakan.

CARA HIDUP SEORANG PEMIKIR


Belajar bagaimana berpikir tidak akan membuat anda jadi seorang pemikir, tidak ubahnya dari mengetahui bagaimana cara menembak lalu akan membuat anda menjadi seorang tentara. Sebagai seorang pemikir adalah suatu cara hidup, dan itu bukan cara hidup yang hanya bisa dipakai oleh sebagian kecil orang seperti cara hidup seorang tentara yang hanya berguna untuk sebagian kecil orang. Ini bahkan bukanlah suatu keterampilan yang dapat berguna bagi setiap orang secara akal mengatakan memasak adalah suatu keterampilan yang dapat berguna terhadap setiap orang akan tetapi anda tidak perlu harus memiliki keterampilan yang terhadapnya. Berpikir adalah suatu cara untuk menjadi orang yang berhasil, orang yang mengaktualisasikan diri. Ini adalah penting bagi setiap orang untuk didalami.

Mengapa pada sebagian orang memanfaatkan cara hidupnya dengan berpikir dan sebagian yang lain tidak? Jawabannya bukan dari faktor genetika. Ini murni motivasi. Apakah lingkungan luarnya memaksa mereka mengajak terhadap pengertian yang lebih jernih tentang hidup, atau mereka telah mengerti dari diri mereka sendiri. Cara yang manasaja, setiap pemikir telah memberikan beberapa versi dengan kesimpulan yang sama:

Kita telah dibuang ke dalam hidup ini tanpa peringatan dan tanpa persiapan. Kita telah dilahirkan tersesat. Pada kenyataannya, kita sangat tersesat bahkan kebanyakan orang tidak pernah menyadari bahwa mereka tersesat, dan bahkan tak seorangpun mengatakan kepada kita tentang hal itu. Apabila ada sesuatu, kita dituntut untuk menerima saja dunia ini untuk apa dan jangan menanyakan suatu pertanyaan-pertanyaan.

Untuk menjadikan segalanya lebih membingungkan bagi kita, sedikit keterangan dan petunjuk yang kita terima berbeda dari sumber satu ke sumber yang lainnya. Ini sepertinya mencoba bermain suatu permainan yang anda tidak mengetahui peraturannya dan di mana setiap orang yang anda tanyakan mengatakan kepada anda hal yang berbeda. Hasilnya adalah bahwa kita menghabiskan hidup kita kebingungan dan dalam sesuatu yang linglung. Dan akhirnya semua yang harus kita melihat kembali adalah kekacauan dan kecemasan.

Akan tetapi masih ada harapan. Jika kita menjadikan dunia ini sesuatu yang masuk akal kita tidak akan bergantung pada lingkungan kita. Faktanya, kita dapat mengambil kendali dari kehidupan kita. Bagaimana? Kita dapat merasakan kebenaran dan memberdayakan diri sendiri menggunakan logika.

Sebagai seorang pemikir berarti menyadari tentang hal itu dan dengan sengaja dan secara konsisten mencoba membuat masuk akal dunia yang telah anda percayai. Ini berarti kefrustasian dari sedang tersesat dan tak berdaya menyemangati rasa ingin tahu anda untuk belajar sebanyak dan sebisa mungkin. Tetapi ini tidak berarti hanya membaca sebanyak mungkin buku-buku dan menkatalogisasi informasi dalam pikiran anda. Ini berarti secara terus-menerus melihat dunia di sekitar anda lalu mempertanyakannya. Seseorang yang penasaran ingin mengetahui bagaimana semuanya bekerja, sebab semakin banyak anda mengerti, maka semakin banyak anda memberdayakannya. Jadi berpikir bukanlah suatu tugas. Ini suatu kesempatan yang tiada habisnya agar menjadi lebih kuat.

Lebih baik anda mengerti tentang hal itu lebih banyak anda akan ingin untuk berpikir. Dengan demikian, lebih banyak anda akan berpikir. Lebih banyak anda berpikir akan menjadikan anda lebih pintar, lebih kuat, dan lebih bahagia. Lebih sedikit anda berpikir anda menjadi lebih bodoh, lebih lemah, dan lebih sedih.

Tuesday, February 07, 2012

28.1-Ke Dubai Main Tennis

BlackBerry (BB)ku berdering lagi, mengagetkan aku. Di pagi seperti ini aku harus terhenyak dari nyenyak tidurku. Mata terasa seperti ada lem karet ingin kembali menutup kembali walau deringan BBku tadi mengingatkan aku untuk bangun pagi. Aku tau bahwa hari ini aku akan ada pertandingan persahabatan tennis dengan rekan-rekan tennis Indonesia di Dubai, ini yang membuat pikiranku mengajak mataku untuk membelalak agar berbinar sebinar-binarnya.

Persiapan ke Dubai untuk melakukan pertandingan tennis persahabatan dengan rekan Indonesia di Dubai sudah aku lakukan sebelum aku tidur tadi malam.

Corn flake dengan wedang susu coklat sudah aku buat. Sarapanku yang biasa aku makan aku rasa cukup unntuk mengumpulkan tenaga di pagi hari. Aku hanya berpikir; lebih baik mutu daripada rasa. Tidak  terasa jam dinding sudah memanggilku untuk segera beranjak dari meja makan. Sehabis ku santap sarapanku lalu menuju masuk kamar mandi untuk persiapan sholat Subuh. Air masih terasa dingin sekali walaupun keluarnya tidak cukup lancar dari mulut kran. Aku khawatir pasta gigi yang tertinggal dalam tabungnya sudah tidak ada lagi. Kulitnya sudah saling menempel tapi beruntung ketika aku pencet di bagian lehernya masih keluar pasta biru putih yang secepatnya langsung aku sentuhkan pada sikat gigiku. Aku cepat-cepat membersihkan gigi dan muka, karena aku harus berwudhu juga.

Suhu di luar rumah pastinya masih cukup sejuk di Akhir Januari ini. Nampaknya musim dingin masih belum ingin beranjak. Aku sengaja tidak sholat di Masjid karena jarak dari rumah ke Masjid terdekat lebih dari dua kilometeran, kecuali sholat Jum'at saja. Setelah selesai sholat aku telepon Natur. Natur adalah sebutan kepada penjaga apartment di Abu Dhabi, natur untuk apartentku bernama Abdurrahim asli dari Bangladesh. Suaranya terdengar baru terbangun dari tidur, ia terdengar memaksa bersuara untuk menjawab teleponku dan akan datang setelah aku jelaskan kalau air dari kran-kran di villa nomor 3 tidak keluar.

Aku turun kebawah ke tempat skaklar listrik pompa air berada, skaklar dalam keadaan menyala. Aku coba matikan dan hidupkan lagi, pompa air tetap saja tidak melakukan aksi. Aku tinggal saja pompa tidak jalan itu kembali menuju ke dalam flat untuk menelepon natur kembali. Ternyata menurut peraturan setempat, mematikan dan menghidupkan listrik fasilitas umum bukan pekerjaan orang sembarangan, harus petugas yang diberi wewenang yang dapat mengoperasikannya. Ini mungkin untuk menghindari terjadinya yang tidak diinginkan, karena yang mengetahui apakah aliran listrik sedang ada masalah atau tidak adalah si operator. Karena apabila masih dalam perbaikan menghidupkan listrik bisa berakibat fatal. Ini berarti, di pagi buta aku sudah melaakukan kesalahan yang tanpa aku ketahui, untungnya tidak terjadi apaapa.

Sesampai di kamar rupanya dalam BBku telah menerima pesan dari rekan tennisku yang kemarin janjian untuk menjemputku berangkat bersama ke Dubai, menjelaskan kalau ia sedang berangkat keluar dari rumahnya. Kemarin ketika bemain tennis di Zayed Sport City aku meminta dia menghampiriku untuk pergi bersama ke Dubai karena mobilku siang nanti akan dipakai oleh istri mengantar putraku untuk kegiatan sekolahnya.

Istriku sudah bangun tapi putraku masih lelap tidur,.  Putraku biasa tidur terlambat apalagi di malam libur sekolah. Satu-satunya sepatu tennisku sudah siap di pojok tepat di dalam rak sepatu belakang pintu masuk flatku. Pesan rekanku tadi membuat aku sedikit tergesa turun ke lantai dasar untuk menuju ke tempat aku janjian dengan dia kemarin karena jarak tempuh berjalan kaki sekitar lima menitan, sedangjan jarak perjalanan dari rumah temanku di daerah Musafah Residential Area ke tempat janjian sekitar tigapuluh menitan. Cuaca pagi ini nampaknya cukup dingin, dan gelap tertutup kabut pagi akhir bulan Januari. Lampu-lampu dari rumah orang terlihat remang-remang bersembunyi di balik bayangan kabut putih. Dari rumah sampai ke jalan besar memang tidak ada lampu penerangan jalan kecuali lampu-lampu dari pagar-pagar rumah sepanjang jalan. Pagi ini seperti tak ada gerakan kehidupan sama sekali, bathinku sempat khawatir dari adanya anjing liar yang biasa melalui daerah rumahku walaupun bisa dikatakan jarang. Aku jalan lebih cepat saja untuk mengusir kekhawatiranku dan langsung menuju ke tempat yang aku janjikan sesuai dengan koordinat GPS yang aku kirim kemarin.

Jarak pandangku tidak cukup  awas untuk melihat lampu mobil yang melintas di jalan karena kabut cukup tebal juga. Wajah seperti diterpa titik-titik embun dingin karena tebalnya kabut. Aku hanya bisa menunggu sebelum mobil rekanku datang. Dari gerakan mobil yang cukup pelan aku yakin itu adalah mobil temanku. Aku semakin yakin karena mobil bergerak semakin pelan-pelan ke arahku.

Mobil hijau muda nampak jadi berwarna abu-abu saja, ini karena pengaruh tebalnya kabut menghalangi sinar lampu merkuri jalanan untuk memperjelas warna mobil. Rupanya rekanku membawa keluarganya, ia pergi bersama anggota keluarganya. Kursi penumpang depan sudah dalam keadaan kosong ketika sampai di tempat aku dijemput. Kaca samping penumpang depan membuka sendiri seketika aku ucapkan salam menyambut temanku yang menjemput aku. Lalu aku dipersilahkan untuk duduk di kursi depan.

Jalan menuju Dubai dipenuhi kabut, jarak pandang ke depan umumnya tidak lebih dari tigapuluhan meter, lebih dari jarak itu hanya terlihat putih dan bintik merah dari lampu belakang mobil yang sedang berjalan searah di depan mobil yang aku tumpangi. Aku merasa seperti ada yang tidak beres.  Seisi mobil merasa tegang, mungkin karena tebalnya kabut khawatir atau takut terjadi yang bukan-bukan. Terkadang ada juga kendaraan melaju dengan kecepatan cukup kencang. Aku bergumam dalam hati; sopirnya mungkin mempunyai nyawa cadangan.

Semakin jauh meninggalkan rumah kabut terasa semakin tebal saja. Mobil terpaksa harus berhenti dulu setelah hampir duapuluhan menit melaju untuk dibersihkan kaca depannya. Pemandangan terhalang, bahkan sisi kiri-kanan tak kelihatan samasekali kecuali  warna putih kabut pagi. Ini karena kaca sisi tidak dapat dibersihkan, lain halnya kaca depan dan belakang yang memiliki karet sapuan untuk membersihkan air akibat kabut. Rasa perjalanan menjadi menegangkan dan membosankan. Demikian keadaan sepanjang jalan dari Khalifa City menuju Dubai. Aku tidak menengok ke kursi belakang tempat istri dan anak-anak temanku duduk. Yang jelas istrnya selalu ikut berbicara.

Mobil tidak beranjak dari jalur nomer dua. Hanya sesekali pindah jalur untuk menghindari kendaraan yang akan disalip karena bergerak pelan biasanya bis Coaster. Diatas pukul 8 pagi seharusnya sudah terang benderang, sinar matahari sudah bisa dinikmati, tetapi matahari pagi belum juga menampakkan sinarnya, ia terhalang oleh tebalnya kabut pagi.  Kabut sepertinya tidak bergerak, mungkin karena sedang tidak ada angin.  Kami bertiga seolah terus membelalakkan mata sampai di pinggiran Kota Dubai.

Sampai di Dubai sungguh berlainan. Jalan-jalan kota Dubai cukup terang, sinar matahari memancar dari berbagai sela kabut membentur gedung-gedung pencakar langit di sebelah jalan yang dilalui. Aku khabarkan pada kawan yang masih ada dibelakang, kalau di sini,  Dubai Kota sangat terang, sedangkan mereka masih mengeluh tentang pandangan mereka yang masih terhalang.

Tiba di Mugarabat Street menjelang pukul 9 pagi, mobil diparkir di lantai 2 gedung Mall beratap lapangan tennis rencana tempat bermain nanti. Satu rekanku yang lain sudah sampai duluan,  ahli komputer yang bekerja di perusahaan kontraktor pendukung perusahaan telekomunikasi di Abu Dhabi  ini datang bersama istrinya. Mungkin sehabis sholat subuh dia langsung tancap gas menuju Dubai.

Dari pesan yang beredar, ketika masuk lift,  pencet saja angka 8, setelah keluar akan langsung melihat lapangan tennis. Lapangan tennis berada di lantai 8 gedung Mall, merupakan lantai atap gedung yang paling atas. Ada 7 lapangan tennis di sana. Semuanya dikurung dengan pagar anyaman kawat warna hijau pada umumnya. Penataan lapangan membentuk U di tengah-tengah jalan untuk lorong diantara lapangan tennis kanan dan kiri. Lapangan yang terakhir ada  di tengah melintang sendiri.

Pertandingan dimulai dengan acara foto-fotoan. Pasangan kawan dari grupku adalah; Zaki-Dadang, Mokhtar-Juliawan, Aku-Dike, Hari-Budhi, Zaki-Mokhtar dan Rosma-Dadang. Pertandingan berjalan dengan suasana tenang, setenang pagi yang masih terasa dingin di atas gedung Mall ini. Walaupun akhirnya pertandingan dimenangkan oleh tim lawan denga skor yang cukup mengagumkan buat lawan, 5x1. Hanya pasangan Rosma-Dadang yang dapat menang, walaupun begitu semua kawan tetap senang.

Sepeti biasa apabila masyarakat Indonesia berkumpul di rantau, makan dan minum cukup berlimpah. Sambil bertanding tidak lupa untuk menikmati aneka makanan yang dibawa oleh rekan-rekan tennis yang lain. Aku sendiri tidak membawa apa-apa keculi bekal minum untuk aku sendiri. Karena di timku sudah ada yang mengkoordinasi untuk  urusan konsumsi ini.  Awalnya aku dijadwalkan main 2 kali, di mana Rosma-Danang seharusnya aku dan Rosma, tetapi karena menurut kawan aku sudah kecapekan, maka aku diganti saja oleh Pak Dadang. Aku pikir ini merupakan suatu keberuntungan bagi tim dari pihakku, karena akhirnya mereka menjadi satu-satunya pasangan yang dapat menang. Seluruh pertandingan berjalan dengan lancar dan menyenangkan walaupun terkadang tegang karena cemas tidak kunjung menang. Mungkin karena ini adalah pertandingan persahabatan.

Nasi bungkus untuk makan siang sudah datang, pertandingan masih belum terselasaikan juga. Tim lawan sudah mempersilahkan bagi yang ingin makan siang duluan. Aku pilih nanti sekalian ketika pertandingan terselesaikan. Nasi putih dicampur daging berbumbu rendang, telor rebus dibuburi sambal tomat, sayur ketimun dan wortel diacar, dan tambah sambal hijau ala Padang. Ini adalah menu makan siang yang sangat spesial. Ternyata benar, rasanya enak sekali, tidak salah kalau rasa terimakasihku untuk rekan-rekan Dubai yang telah mempersiapkan menu makan siang ini aku tambah. Walaupun satu porsi nasi bungkus jatahku sudah habis dimakan, tapi perut masih terasa kurang.Namun sebagai tamu aku harus tau diri, habis jatah, ya sudah.

Mandi dulu sebelum keluar Mall untuk pulang. Pintu kamar mandi dari kaca menerawang, membuat aku ragu untuk mandi telanjang bulat. Akhirnya pakaian dalam yang aku pakai tennis terpaksa aku pakai untuk mandi.

Aku dan semua rekanku mampir ke Food Court lantai 2 Mall. Ini karena masih ada yang harus dirundingkan dengan Tim Dubai, terutama mengenai biaya pertandingan yang harus dipikul bersama, ini sesuai kesepakatan sebelum bertanding, kecuali biaya konsumsi yang ditanggung pihak tuan rumah. Tidak memakan waktu lama semua dapat diselesaikan, aku dan rekan-rekan yang lain sudah mempersiapkannya. Lalu semua keluar, aku dan salah seorang teman yang asli dari Pulau Lombok diantar ke Stasiun Bis untuk pulang ke Abu Dhabi. Habis main tennis terus makan, lalu mandi, suasana pasti akan mengantuk. Dan ini yang terjadi ketika beberapa menit berada di dalam mobil rekan Dubai yang searah pulang menuju Stasiun Bis antar kota.

Di dalam bis teleponku selalu berdering dari seorang perwira dari Gugus Penjaga  Fasilitas Vital Abu Dhabi, pelanggan perusahaanku yang aku kenal, ada kapal-kapal yang sedang ingin mendapatkan pertolongan karena peralatannya mendapatkan kerusakan. Kapal-kapal yang mengalami gangguan kerusakan itu semuanyaa berada di Pangkalan AL Jabal Ali. Salah satu kapal jenis pemburu berkecepatan sampai 65 knot rusak baling-baling karet dari pompa generatornya, sedangkan kapal  cepat lainnya  rusak dari lampu navigasi dan radio VHF-nya, serta ada minyak diesel membanjiri di atas lantai rumah-geladak karena keluar dari bagian belakang.

Dari pelanggan yang aku tangani  aku memang harus siap standby walaupun di hari libur kerja.  Maklum kapal-kapal tidak pernah libur untuk menjaga fasilitas vital negara di tengah lautan. Ini adalah hari Sabtu, mungkin nanti akan susah untuk mendapatkan barang suku cadang untuk kapal. Aku hubungi Seorang keturunan  Amerika Serikat, seorang Superintenden Bagian Composite Perusahaan tempat aku bekerja atas suruhan atasanku berdarah Amerika Serikat. Superintenden itu menganjurkan aku untuk mengambil suku cadang dari kapal kembarannya yang sedang mengapung di dermaga perairan Perusahaan. Aku meminta lelaki koordinator administrasiku yang berasal dari Sri Langka untuk mempersiapkan teknisi agar suku cadang yang aku perlukan di kapal yang sedang berada di dermaga perusahaan diambil. Aku hubungi anak buahku, seorang mekanik perusahaan keturunan Pilipina yang tinggal di Pangkalan AL Jabal Ali, agar segera membuka balingbaling atau impeller pompa generator kapal yang terganggu, dan memeriksa minyak diesel bocor di kapal lainnya.

Selama di dalam perjalanan dari Dubai ke Abu Dhabi aku hanya teringat pada pekerjaanku yang sedang aku tangani. Mengkoordinasi pekerjaan mendadak memang sudah biasa aku tangani. Selain suku cadang yang harus aku kirim, aku juga harus mengirim tukang listrik juga karena generator biasanya ditangani oleh mekanik dan tukang listrik. Sampai di rumahpun aku masih tetap fokus pada pekerjaan yang sedang aku tangani. Semua keperluan sudah aku persiapkan,. Suku cadang dan tukang listrik berdarah Pilipina sudah siap meluncur ke tempat di mana kapal sedang mengalami gangguan. Aku sekarang tinggal menunggu laporan apabila masih ada yang kurang beres terhadap apa yang sudah aku persiapkan.

Ternyata semua pekerjaan berjalan lancar, mereka dapat diselesaikan pada pukul 22. Semua itu terutama atas usaha anak buahku Romel seorang mekanik yang tinggal di Pangkalan  dan seorang tukang listrik, Subah yang aku kirim dari Abu Dhabi. Akhir cerita dari pekerjaan yang sedang aku tangani aku laporkan pada Perwira yang menelponku tadi siang dan juga kepada atasanku. Ucapan terimakasiih dari keduanya aku terima.

END.
Abu Dhabi,
Medeo, Awal Februari 2012.