Sunday, January 27, 2013

Khotbah Jum'at 20



Berterima kasih pada pekerja
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، أحمدُهُ سبحانَهُ حمدًا طيبًا مباركًا كمَا يحبُّ ويرضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلاَ، قَالَ تَعَالَى:] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ[([1]).
Kaum muslimin ; syukur merupakan salah satu bentuk balas budi yang ditampakkan oleh seseorang dengan ucapannya dalam bentuk pujian, dengan hatinya dalam bentuk kasih sayang dan dengan seluruh anggota badannya dalam bentuk tindakan dan etika, ia termasuk dalam salah satu sifat Allah, firman-Nya :
إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ
“Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (Fathir 35 : 34).
إنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ
 Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (As Syura 42 : 23)
Syukur merupakan keutamaan hamba-Nya yang sangat dicintai oleh Allah, Dia memberi mereka agar mereka bersyukur dan berdzikir kepada-Nya, Allah berfirman :
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.(An Nahl 16 : 78)
Allah berterima kasih kepada seorang hamba yang kreatif dan Dia akan mengampuninya, dari Abu Hurairah RA : bahwa Rasulullah Saw bersabda :
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ
“Ketika seseorang berjalan di suatu jalan, ia mendapatkan sebatang ranting yang berduri tergeletak di jalanan, lalu ia menyingkirkannya, kemudian Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya” (Muslim 1914)
Berterima kasih kepada sesama merupakan akhlak Islami dan nilai-nilai kemanusiaan yang dianjurkan oleh Islam, Allah berfirman :
أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
 “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (Luqman 31 : 14). Dalam hal ini Nabi Saw menghubungkan antara berterima kasih kepada Allah dengan berterima kasih kepada manusia, sabdanya :
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ
“Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia belum beterima kasih kepada Allah” (At Tirmidzi 1955)
Para ulama berkata : artinya bahwa sesungguhnya Allah Swt tidak menerima terima kasih seorang hamba atas kebaikannya, bila hamba tersebut tidak berterima kasih atas kebaikan orang lainnya kepadanya, dan kebaikan mereka tidak diterima kecuali salah satu dari dua perkara diatas terhubungkan (Aunul Ma’bud 10/334)
Dan Allah telah menjanjikan pahala yang besar bagi orang-orang yang bersyukur, Allah berfirman :
وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
“dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Ali Imran 3 : 114)
Nabi Saw telah menjelaskan kepada kita beberapa jalan dan media menuju syukur, diantaranya adalah berterima kasih dengan balasan yang setimpal dan doa, Rasulullah Saw bersabda :
مَنْ آتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوفاً فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَادْعُوا اللَّهَ لَهُ حَتَّى تَعْلَمُوا أَنْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ
“Barang siapa berbuat kebaikan pada kalian maka balaslah, bila kalian tidak mendapatkannya, maka doakanlah kepada Allah sehingga mereka mengetahui bahwa kalian telah membalasnya”(Abu Daud 5109)
Cara lain berterima kasih adalah dengan ucapan baik, dari Usamah bin Zaid RA berkata : Rasulullah Saw bersabda :
مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ: جَزَاكَ اللَّهُ خَيْراً. فَقَدْ أَبْلَغَ فِى الثَّنَاءِ
“Barang siapa diperlakukan baik maka katakanlah pada pelakunya : Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Maka sebenarnya ia telah memujinya dengan sempurna”(At Tirmidzi 2035)
Kebaikan diatas bisa berbentuk pemberian yang banyak ataupun sedikit, dari An Nu’man bin Basyir RA berkata : Nabi Saw berkhutbah diatas minbar :
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ
“Barang siapa tidak berterima kasih atas pemberian sedikit, maka ia tidak akan berterima kasih atas yang banyak” (Ahmad 18946). Sebagian orang shaleh berkata : berterima kasih –atas pemberian yang sedikit pun- merupakan harga bagi setiap pemberian yang sangat banyak sekalipun (Utsman bin Urwah bin Az Zubair bin Al Awwam)
Rasulullah Saw mengajarkan kita untuk berterima kasih kepada para pekerja, dimana biasanya mereka tidak terpedulikan disebabkan pekerjaan dan kondisi mereka yang sederhana, dari Abu Hurairah RA :
أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ([2]) فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللَّهِ r فَسَأَلَ عَنْهَا بَعْدَ أَيَّامٍ، فَقِيلَ لَهُ: إِنَّهَا مَاتَتْ. قَالَ:« فَهَلاَّ آذَنْتُمُونِي؟». فَأَتَى قَبْرَهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا
bahwa ada seorang wanita hitam yang selalu mengumpulkan sampah masjid, lalu Rasulullah Saw merasa kehilangannya dan bertanya setelah beberapa hari, dikatakan bahwa ia telah wafat, beliau berkata : kenapa kalian tidak memberitahukanku ? lalu beliau mendatangi kuburannya dan menyolatkannya” (Muslim 956, Ibnu Majah 1527)
Perhatikanlah bagaimana Nabi Saw membalas sebagian golongan manusia yang menunaikan tugas yang tampak sederhana dihadapan orang lain, tapi belia Saw memberikan syafaat kepada mereka dengan mensolatkan atas mereka, sabdanya :
إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا، وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِي عَلَيْهِمْ
“Sesungguhnya kuburan ini dipenuhi kegelapan bagi para penghuninya, dan Allah Swt memberi cahaya pada mereka dengan shalatku atas mereka”(Muslim 956)
Rasulullah Saw selalu memeriksa kondisi orang-orang yang bekerja padanya, lalu beliau menghargai dan mendoakan mereka, sebagaimana Rasulullah Saw pernah mendoakan pembantunya yang bernama Anas bin Malik RA dengn kebaikan dunia akhirat :
اللَّهُمَّ ارْزُقْهُ مَالاً وَوَلَداً وَبَارِكْ لَهُ
Ya Allah berilah rezeki harta dan keturunan padanya dan berkahilah ia”. Perlu diketahui bahwa Anas RA termasuk kaum Anshar yang paling kaya, dan ia kemudian dimakamkan diantara anak dan cucu-cucunya setelah menjalani hidup sepanjang 120 lebih. (Ahmad 12379)
Hamba Allah ; sesungguhnya Islam menghargai setiap manusia apapun pekerjaannya dan profesinya yang ikut berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat dan pembangunan negaranya, Rasulullah Saw bersabda :  
الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ
“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang, cabang yang paling tinggi adalah perkataan 'La ilaha illallah' (tauhid), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan”(Muslim 58)
Memakmurkan bumi ini membutuhkan pada akal orang berilmu, harta orang kaya dan manajemen orang pintar, dan hal itu dapat disempurnakan oleh sentuhan tangan seorang pekerja yang bekerja dengan kedua tangannya agar tampak arti keindahan dan nilai pekerjaan, kota dan bangunannya yang mencakar langit tidak akan pernah menghiasi bila tidak karena tugas yang dilakukan oleh pengangkut batu, penanam pohon dan pembersih jalan, dan Rasulullah Saw sangat peduli dengan pentingnya tugas para pekerja tersebut, disebutkan pula bahwa mereka berhak mendapatkan pahala yang besar, sabdanya :
إِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ وَالشَّوْكَةَ وَالْعَظْمَ عَنِ الطَّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ
 “Tindakanmu menyingkirkan batu, duri dan tulang dari jalanan, semua itu berpahala sedekah bagimu”(Muslim 58)
Ya Allah berilah taufiq pada kami semua untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan untuk ditaatainya, sebagai pengamalan atas firman-Mu : 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ صلى الله عليه وسلم أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.
Khutbah Kedua
الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنا محمَّداً عبدُهُ ورسولُهُ، اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطيبينَ الطاهرينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa sebuah negara tidak akan berdiri kecuali dengan kerja keras seluruh penduduk dengan berbagai profesi mereka, dan hendaknya kita berpanutan pada Rasulullah Saw agar kita lebih perhatian terhadap semua pekerja, menghargai dan memeriksa kondisi mereka, berkata yang baik dan tersenyum pada mereka, mendorong dan berterima kasih kepada mereka atas segala karya mereka, dan berangkat dari dasar keislaman ini Shaikh Mohammad Bin Rashid Al Maktom berinisiatif mengadakan kampanye dengan tema “Terima kasih semua” sebagai penghargaan terhadap para pegawai bawahan, seperti para petugas kebersihan, pertanian, kuli bangunan, para supir dan lainnya, dan hendaknya kita berterima kasih atas kerja mereka dengan ucapan sederhana : terima kasih semua dan semoga Allah membalas kalian dengan balasan yang baik.
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ  تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([3]) وقالَ رَسُولُ اللَّهِ r:« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([4])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وقَلْبًا خاشعاً، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا واسعاً، وَعَمَلاً صالحاً مُتَقَبَّلاً، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، اللَّهُمَّ علِّمْنَا مَا ينفَعُنَا، وانفَعْنَا بِمَا علَّمْتَنَا، وزِدْنَا علماً، اللَّهُمَّ آتِ نفوسَنَا تقوَاهَا، وزَكِّهَا أَنْتَ خيرُ مَنْ زكَّاهَا، أنتَ وَلِيُّهَا ومولاَهَا، اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عاقبتَنَا فِي الأُمورِ كُلِّهَا، وأصْلِحْ لَنِا نياتِنَا، وبارِكْ لَنَا فِي أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاجْعَلْهم قُرَّةَ أَعْيُنٍ لنَا، اللَّهُمَّ اسقِنَا الغيثَ([5]) ولاَ تجعلْنَا مِنَ القانطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ. اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([6]).


([1]) الحشر : 18.
([2]تَقُمُّ الْمَسْجِدَ : أي تجمع القمامة من المسجد وتنظفه.
([3]الأحزاب : 56 .
([4]) مسلم : 384.
([5]) من السنة رفع اليدين في الدعاء لطلب الغيث.
([6]العنكبوت :45.


Khutbah Jumat, 29 Shafar 1434 H / 11 Januari 2013 M
Beruntunglah orang-orang mukmin
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، أحمدُهُ سبحانَهُ حمدًا يليقُ بجلالِ وجهِهِ وعظيمِ سلطانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلاَ، قَالَ تَعَالَى:] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِن رَّحْمَتِهِ وَيَجْعَل لَّكُمْ نُوراً تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ[([1]).
Kaum muslimin ; iman kepada Allah merupakan rukun agama, ia merupakan pondasinya yang kuat, pengaman orang-orang yang takut, berita gembira bagi orang-orang yang bertakwa dan hidayah hati menuju kebenaran yang nyata, Allah berfirman :
وَمَن يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ
 “Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya” (At Taghabun 64 : 11). Dan Allah telah memerintahkan hamba-Nya untuk beriman kepada-Nya, karena ia menjadi penyebab  seseorang mendapatkan petunjuk pada kebenaran, Allah berfirman :
فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُم يَرْشُدُونَ
“Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (Al Baqarah 2 : 186). Rasulullah Saw selalu memohon agar selalu diberikan kecintaan pada keimanan, seperti tersebut dalam salah satu doanya :
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِى قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ
“Ya Allah berilah kami kecintaan kepada keimanan dan jadikanlah ia sebagai penghias hati kami dan tanamkanlah dalam diri kami kebencian kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus”(Adab Al Mufrid Bukhari 699, Ahmad 15891)
Ketika Rasulullah Saw dimintai wasiat singkat oleh salah seorang sahabat, beliau menunjukkan pada iman kepada Allah dan menganjurkan untuk mengamalkan konsekuensinya, dari Sofyan bin Abdullah As Tsaqafi RA berkata : aku bertanya : wahai Rasulullah katakanlah padaku sesuatu tentang Islam sehingga aku tidak bertanya lagi mengenainya pada seseorang setelahmu, dan dalam satu riwayat –selainmu-, Beliau menjawab : Katakanlah : “Saya beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah" (Muslim 62, Ahmad 15814)
Iman kepada Allah menuntut bukti nyata dalam kehidupan, seperti kelanggengan (istiqamah) dalam menunaikan ketaatan dan kebaikan, Allah berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لاَ نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلاً
 Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan (nya) dengan baik. (Al Kahf 18 : 30). Al Hasan Al Bashri berkata : iman bukanlah hiasan semata, beragama bukanlah cita-cita semata, akan tetapi ia merupakan ketetapan dalam hati yang dibuktikan dengan perbuatan (Tafsir At Thabari 60/10)
Hamba Allah ; Allah berfirman menjelaskan beberapa sifat orang-orang mukmin :
قَدْ أَفْلَحَ المُؤْمِنُونَ* الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ * وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ* وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ* وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ* إِلاَّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ * فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ العَادُونَ* وَالَّذِينَ هُمْ لأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ* وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ* أُوْلَئِكَ هُمُ الوَارِثُونَ* الَّذِينَ يَرِثُونَ الفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
 “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya”(Al Mukminun 23 : 1-11)
Seorang mukmin sejati adalah yang hatinya khusu' kepada Allah, bila ada perintah datang dari Allah ia langsung menyimak, tunduk dan mentaatinya, sehingga keimanannya terhadap Tuhannya semakin bertambah, dan mendorongnya selalu melakukan perbuatan baik serta selalu berharap mendapatkan ampunan dan peningkatan derajat dari Tuhannya, Allah berfirman :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ*الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ* أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقّاً لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia” (Al Anfal 8 : 2-4)
Keimanan ini wahai hamba Allah hendaknya memenuhi hati dengan cinta Tuhan Yang Maha Mengetahui hal yang gaib, karenanya seorang mukmin hatinya tidak terkait kecuali kepada Allah dan tidak tertutup oleh sesuatupun dari Allah, Allah berfirman :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُباًّ لِّلَّهِ
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah".(Al Baqarah 2 : 165)
Kaum muslimin : seorang mukmin yang jujur adalah yang selalu tetap teguh dalam ketaatan, tidak memohon rezeki dengan bermaksiat kepada Penciptanya, karena ia percaya penuh terhadap Tuhannya, dan tidak peduli dengan yang ada di tangan orang lain, bila ia tertimpa musibah dan kepenatan ia langsung kembali bermunajat kepada Tuhannya, ia menegaskan kehambaannya pada-Nya dan selalu memohon ridha-Nya, Allah berfirman :
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الخَاشِعِينَ
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’” (Al Baqarah 2 : 45). Seorang mukmin menghadap kepada Tuhannya dengan penuh penyerahan diri dan hal ini terbukti dalam ucapannya dengan keridhaan terhadap ketentuan Allah, seperti terungkap dalam firman Allah :
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (At Taubah 9 : 51)
Dan dengan selalu berucap : Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dia sebaik-baiknya pelindung, maka keyakinannya kepada Allah akan meningkat seiring bertambahnya ketawakkalannya kepada Allah, keimanannya akan terus bertambah kuat, hingga pada akhirnya ia pantas mendapatkan keteguhan di dunia dan akhirat, Allah berfirman :
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَياةِ الدُّنْيا وَفِي الآخِرَةِ
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”. (Ibrahim 14 : 27)
Seorang mukmin harus kuat dan tidak mudah berubah karena musibah yang menderanya, tidak keruh jiwanya karena berbagai bencana menimpanya dan tidak gundah karena kebaikan itu terlepas darinya, Allah berfirman :
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمْوَالِ وَالأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar"(Al Baqarah 2 : 155)
Dan Allah tidak disembah karena ada kebutuhan dunia semata, bila ia mendapatkannya ia bersyukur, tapi bila tertunda darinya ia menjadi ingkar dan kufur, tapi hendaknya ia menghadap Allah karena tamak untuk selalu dekat dengan-Nya dan mengharap ampunan-Nya dan ia bila mendapatkan keutamaan dari Allah maka ia bersyukur dan bila pemberiaan itu terlambat ia bersabar.
Hamba Allah ; seorang mukmin selalu diliputi oleh pertolongan, perhatian dan taufiq Allah, bila seorang hamba sudah mendapatkan semua itu dari Allah, maka ia akan terjauhkan dari segala gundah, dan bila hidayah-Nya telah menguasainya maka hatinya dan jiwanya tidak akan tertimpa keraguan, Allah tidak akan menimpakan kesedihan kepada seorang hamba yang beriman pada-Nya, bila ia terhimpit kedzaliman Dia akan menolongnya, dan Allah akan selalu menolong seorang mukmin dari setiap cobaan yang menimpanya, sehingga ia keluar dalam keadaan selamat, Allah berfirman :
وكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ
 Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman”(Al Anbiya' 21 : 88)
Sehingga seorang mukmin merasa terus berada dalam lindungan Allah, hal ini akan berbuah pada dzikirnya sebagai bentuk terima kasih, cinta dan pengakuan pada-Nya, hatinya menjadi tenang, jiwanya menjadi tentram dan nuraninya menjadi bahagia, dan bagaimana hati seorang mukmin tidak tentram, bila Allah telah menjanjikan surga baginya, kemenangan dengan nikmat yang melimpah dan ridha yang tidak berkesudahan ? Allah berfirman :
وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِناتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهارُ خالِدِينَ فِيها وَمَساكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga Adn. Dan keridaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar” (At Taubah 9 : 72)
Ya Allah berilah kami keteguhan iman, kebaikan tawakkal dan kesempurnaan kepercayaan kepada-Mu, dan berilah taufiq pada kami semua untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan untuk ditaatainya, sebagai pengamalan atas firman-Mu : 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ صلى الله عليه وسلم أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.
Khutbah Kedua
الحَمْدُ للهِ الَّذِي هدانَا للإيمانِ, ووفَّقَنَا لطاعةِ الرحمنِ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وأَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ .
Bertakwalah pada Allah wahai hamba Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan teruslah merasa diawasi dalam kerahasiaan dan keterang-terangan, dan ketahuilah bahwa iman diberikan oleh Allah kepada para kekasih-Nya, Abdullah bin Mas'ud RA berkata :
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُعْطِي الْمَالَ مَنْ أَحَبَّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ، وَلاَ يُعْطِي الإِيمَانَ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ
"Sesungguhnya Allah memberikan harta kepada orang yang dicintai dan orang yang tidak dicintai, dan Dia tidak memberikan keimanan kecuali kepada orang yang dicintai" (Bukhari dalam kitab Al Adab Al Mufrid 1/104). Dan sesungguhnya salah satu tanda cinta hamba terhadap Allah adalah dengan selalu bertaqarrub kepada Allah dengan menunaikan faraidh dan memperbanyak shalat sunnah, Allah berfirman dalam hadits Qudsi :
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
" Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan hamba-Ku itu terus berusaha mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan (sunnah) nawafil hingga Aku mencintainya”(Bukhari 6502)
Karenanya bersungguh-sungguhlah wahai hamba Allah dalam menjalankan ketaatan, memperbanyak menunaikan shalat sunnah, selalu berbuak baik dan bersedekah, karena sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa dan selalu memberi, Rasulullah Saw bersabda :
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ
 "Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertakwa, yang kaya dan yang berbuat sembunyi-sembunyi" (Muslim 1965)
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ  تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([2]) وقالَ رَسُولُ اللَّهِ r:« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([3])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وقَلْبًا خاشعاً، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا واسعاً، وَعَمَلاً صالحاً مُتَقَبَّلاً، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، اللَّهُمَّ علِّمْنَا مَا ينفَعُنَا، وانفَعْنَا بِمَا علَّمْتَنَا، وزِدْنَا علماً، اللَّهُمَّ آتِ نفوسَنَا تقوَاهَا، وزَكِّهَا أَنْتَ خيرُ مَنْ زكَّاهَا، أنتَ وَلِيُّهَا ومولاَهَا، اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عاقبتَنَا فِي الأُمورِ كُلِّهَا، وأصْلِحْ لَنِا نياتِنَا، وبارِكْ لَنَا فِي أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاجْعَلْهم قُرَّةَ أَعْيُنٍ لنَا، اللَّهُمَّ اسقِنَا الغيثَ([4]) ولاَ تجعلْنَا مِنَ القانطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([5]).


([1]) الحديد :28.
([2]الأحزاب : 56 .
([3]) مسلم : 384.
([4]) من السنة رفع اليدين في الدعاء لطلب الغيث.
([5]العنكبوت :45.

Khotbah Jum'at 19


Khutbah Jumat, 08 Shafar 1434 H / 21 Desember 2012 M
Shalat Jumat
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، أحمدُهُ سبحانَهُ حمدًا طيبًا مُباركًا فيهِ كمَا يُحبُّ ربُّنَا ويرضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلاَ، قَالَ تَعَالَى:] وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ[([1]).
Kaum muslimin ; Rasulullah Saw bersabda :
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ
"Shalat lima waktu dan shalat Jumat satu ke shalat Jumat berikutnya merupakan penghapus dosa diantara keduanya" (Muslim 233).
Allah telah mewajibkan perkumpulan kaum muslimin dalam shalat pada hari yang agung ini, mereka diperintahkan untuk berusaha mendatangi masjid menunaikan shalat Jumat dan meninggalkan selainnya, Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسَعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Jumuah 62 : 9)
Allah menginstimewakan hari Jumat ini dengan waktu dimana dibukakan pintu langit dan doa-doa dikabulkan pada saat itu, Rasulullah Saw bersabda :
إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ فِيهَا خَيْراً إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ
"Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat satu waktu, tidak ada seorang muslim pun yang meminta kebaikan didalamnya kepada Allah kecuali Dia akan memberikannya”(Muttafaq 'alaih)
Kaum mukminin : Hari Jumat mempunyai adab yang hendaknya dipenuhi oleh seorang muslim, diantaranya : bersiap-siap dengan mandi dan memakai wewangian, Rasulullah Saw bersabda :
مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَلَبِسَ مِنْ أَحْسَنِ ثِيَابِهِ، وَمَسَّ مِنْ طِيبٍ- إِنْ كَانَ عِنْدَهُ- ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ، فَلَمْ يَتَخَطَّ أَعْنَاقَ النَّاسِ، ثُمَّ صَلَّى مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، ثُمَّ أَنْصَتَ إِذَا خَرَجَ إِمَامُهُ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ صَلاَتِهِ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ جُمُعَتِهِ الَّتِى قَبْلَهَا
"Barang siapa mandi pada hari Jumat, dan memakai  pakaian terbaik, dan memakai wewangian –bila memilikinya- kemudian mendatangi shalat Jumat, dan tidak melangkahi pundak jamaah, kemudian menunaikan shalat yang telah diwajibkan Allah kepadanya, kemudian ia menyimak saat imamnya keluar hingga ia selesai dari shalatnya, maka menjadi penghapus dosa antaranya dan antara Jumat sebelumnya" (Abu Daud 343)
Dianjurkan bagi orang yang hendak berangkat shalat Jumat, untuk memilih dan memakai pakaian yang terbersih dan terbagus, dan janganlah memakai kecuali pakaian yang layak bila hendak berangkat ke masjid dan shalat, Aisyah isteri Nabi Saw berkata : manusia pada hari jumat berdatangan dari rumah mereka dan dari dataran tinggi dalam keadaan berdebu, mereka terkena debu dan peluh, peluh bercucuran dari tubuh mereka, kemudian ada seseorang yang mendatangi Rasulullah, saat beliau berada disisiku, maka Nabi Saw bersabda : Andaikata kalian bersuci untuk hari kalian ini” (Muttafaq ‘alaih. dalam satu riwayat : Tidaklah terhadap kalian bila mempunyai keluasan untuk membawa dua baju, satu untuk shalat jumatnya dan satu lagi baju untuk kerjanya” (Ibnu Majah 1096)
Juga diantara adab Jumat adalah berangkat segera ke masjid sebagai persiapan untuk menyimak nasehat khatib, dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah Saw bersabda :
مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الأُولَى فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشاً أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الإِمَامُ حَضَرَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ
“Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at seperti mandi janabah lalu segera pergi ke masjid, maka seakan-akan berkurban dengan unta yang gemuk, dan barangsiapa yang pergi pada jam yang kedua, maka seakan-akan ia berkurban dengan sapi betina, dan barangsiapa pergi pada jam yang ketiga, maka seakan-akan ia berkurban dengan domba yang bertanduk, dan barangsiapa yang pergi pada jam yang keempat seakan-akan ia berkurban dengan seekor ayam, dan barangsiapa yang pergi pada jam kelima, maka seakan-akan ia berkurban dengan sebutir telur. Dan apabila imam telah keluar (untuk berkhutbah), maka para Malaikat turut hadir sambil mendengarkan dzikir”(Muttafaq 'alaih)
Hamba Allah ; dianjurkan pada hari yang penuh berkah ini untuk membaca Quran terutama surah Al Kahf, Rasulullah Saw bersabda :
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
"Barang siapa membaca surah Al Kahf pada hari Jumat, maka ia akan diterangi oleh cahaya antara dua Jumat" (Al Mustadrak 12/368)
Dan memperbanyak bershalawat kepada Nabi Saw, disebutkan dalam sabdanya :
إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَىَّ». فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلاَتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ؟ أي بَلِيتَ. قَالَ:« إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَرَّمَ عَلَى الأَرْضِ أَجْسَادَ الأَنْبِيَاءِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِمْ
 "Sesungguhnya hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat, perbanyaklah bershalawat kepadaku didalamnya, karena shalawat kalian dihadapkan padaku" mereka bertanya : wahai Rasulullah bagaiama shalawat kami dihadapkan pada engkau sedangkan engkau telah wafat ? Beliau menjawab : sesungguhnya Allah mengharamkan bumi memakan jasad para Nabi AS" (Abu Daud 1531)
Dan diantara adab Jumat adalah tidak menyakiti orang lain dengan melangkahi pundak mereka, disebutkan ada seseorang yang melangkahi pundak orang lain pada hari Jumat saat Nabi Saw sedang berkhutbah, lalu Beliau berkata padanya :
اجْلِسْ فَقَدْ آذَيْتَ
"Duduklah sesungguhnya Anda telah menyakiti orang lain" (Abu Daud 1118)
Termasuk diantara adabnya adalah menyimak khutbah, dan ia akan menjadi penyebab pengampunan dosa, dari Salman Al Farisi RA Rasulullah Saw bersabda :
لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ، فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ، ثُمَّ يُصَلِّى مَا كُتِبَ لَهُ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى
 "Tidaklah seorang hamba mandi pada hari Jum’at dan bersuci dengan sebaik-baiknya, mengenakan minyak rambut sebaik mungkin atau memakai wewangian dengan sebaik-baiknya kemudian dia keluar (pergi ke masjid) dan tidak memisahkan dua orang (dengan melangkahi mereka), kemudian melakukan shalat yang telah ditentukan, lantas menyimak khutbah kecuali diampunkan dosanya antara hari itu dan Jumat yang lain” (Bukhari 883)
Sebagai penghormatan terhadap khutbah, Nabi Saw mengingatkan untuk tidak menyibukkan diri dengan berbicara walaupun berbentuk nasehat, dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah Saw bersabda :
إذَا قُلتَ لِصاحِبِكَ يوم الجُمُعَةِ أَنصِتْ وَالإِمَامُ يَخطُبُ فقَدْ لَغَوْتَ
 "Bila Anda berkata pada teman Anda pada hari Jumat, simaklah saat imam sedang berkhutbah maka Anda telah tertelantarkan" (Bukhari 892)
Seorang muslim hendaknya tidak disibukkan dari khutbah jumat dengan percakapan dengan orang yang duduk di sebelahnya atau dengan membolak-balik handphonenya, dan tidak boleh baginya menjawab walaupun pertanyaannya mengenai isi khutbah, dari Ubay bin Ka'ab : bahwa Rasulullah Saw membaca surah Tabarak pada hari Jumat saat beliau shalat, dan mengingatkan kami dengan hari-hari Allah, dan Abu Ad Darda' atau Abu Dzar mengedipkan matanya padaku, dan berkata : kapan surah ini diturunkan ? sesungguhnya aku tidak pernah mendengarnya kecuali sekarang. Lalu ia memberikan isyarat padanya untuk diam, ketika mereka selesai, ia berkata : aku bertanya padamu mengenai kapan surah ini diturunkan tapi kamu tidak memberitahuku. Ubay berkata : engkau tidak mendapatkan dari shalatmu pada hari ini kecuali yang telah engkau sia-siakan,
Kemudian ia pergi ke Rasulullah Saw lalu menceritakan kejadiannya padanya dan pendapat Ubay mengenai hal tersebut, Rasulullah Saw bersabda : “Ubay benar” (Ibnu Majah 1111). Ditambahkan dalam satu riwayat : Bila kau mendengar imammu berbicara maka dengarkanlah sehingga ia selesai” (Ahmad 22362)
Ya Allah berilah taufiq pada kami semua untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan untuk ditaatainya, sebagai pengamalan atas firman-Mu : 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ صلى الله عليه وسلم أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.
Khutbah Kedua
الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنا محمَّداً عبدُهُ ورسولُهُ، اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطيبينَ الطاهرينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa hari Jumat merupakan hari yang dipenuhi oleh kebahagiaan, kesenangan dan ketentraman, dimana seorang muslim setelah menunaikan shalat Jumat berjumpa dengan keluarga, anak-anaknya, teman dan tetangganya dengan senyum indah dan memulai dengan ungkapan dan kata-kata baik, menjenguk orang yang sakit diantara mereka, melihat kondisi mereka, menceritakan ulasan khutbah Jumat pada mereka, dari Abdullah bin Mas'ud RA berkata :
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئاً فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَ فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ
 “Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar sedikit dari kami kemudian disampaikan sebagaimana yang ia dengar, dan mungkin saja orang yang disampaikan lebih mengerti dari orang yang mendengarnya” (At Tirmidzi 2657). Sehingga khutbah dan nasehat yang terkandung didalamnya menjadi tersebar pada seluruh lapisan masyarakat.
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ  تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([2]) وقالَ رَسُولُ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام :« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([3])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وقَلْبًا خاشعاً، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا واسعاً، وَعَمَلاً صالحاً مُتَقَبَّلاً، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، اللَّهُمَّ علِّمْنَا مَا ينفَعُنَا، وانفَعْنَا بِمَا علَّمْتَنَا، وزِدْنَا علماً، اللَّهُمَّ آتِ نفوسَنَا تقوَاهَا، وزَكِّهَا أَنْتَ خيرُ مَنْ زكَّاهَا، أنتَ وَلِيُّهَا ومولاَهَا، اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عاقبتَنَا فِي الأُمورِ كُلِّهَا، وأصْلِحْ لَنِا نياتِنَا، وبارِكْ لَنَا فِي أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاجْعَلْهم قُرَّةَ أَعْيُنٍ لنَا، اللَّهُمَّ اسقِنَا الغيثَ([4]) ولاَ تجعلْنَا مِنَ القانطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ. اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([5]).


([1]البقرة : 281.
([2]الأحزاب : 56 .
([3]) مسلم : 384.
([4]) من السنة رفع اليدين في الدعاء لطلب الغيث.
([5]العنكبوت :45.


Khutbah Jumat, 15 Shafar 1434 H / 28 Desember 2012 M
Hak seorang muslim atas muslim lainnya
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، أحمدُهُ سبحانَهُ حمدًا يليقُ بجلالِ وجهِهِ وعظيمِ سلطانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ:  فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلاَ، قَالَ تَعَالَى:] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً* يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً[([1]).
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar" (Al Ahzab 33 : 70-71)
Kaum muslimin ; Rasulullah Saw bersabda :
حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ([2]) وفِي روايةٍ سِتٌّ ». قِيلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ:« إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَشَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ
“Bahwasanya Rasulullah Saw bersabda : Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima (Muttafaq 'alaih) dalam riwayat lain ada enam, dikatakan kepada beliau: apakah hak-hak itu, wahai Rasulullah? Beliau bersabda: kalau kamu bertemu dengannya hendaklah mengucapkan salam kepadanya, kalau dia mengundangmu maka sambutlah (penuhilah), kalau dia minta nasehatmu, maka berilah nasehat, kalau dia bersin lalu memuji Allah Swt, maka doakanlah, kalau dia sakit, maka jenguklah dan kalau dia meninggal dunia, maka antarkanlah jenazahnya" (Muslim 2162)
Hak-hak tersebut dalam hadits diatas hendaknya jangan ditinggalkan oleh seorang muslim dalam kegiatannya sehari-hari, dan hak pertama adalah mengucapkan salam, ucapan salam dan menjawab salam merupakan dua media untuk menyebarkan kedamaian dalam masyarakat, mengucapkan salam merupakan janji keamanan dan kesalamatan dari menyakitkan muslim lainnya, wasiat Allah dan perintah untuk menjawab salam dengan yang lebih baik, tersebut dalam firman-Nya :
وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيباً
"Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu" (An Nisa’ 4 : 86)
Sebagaimana telah dijelaskan oleh Nabi Saw bahwa mengucapkan salam kepada semua orang termasuk perbuatan baik, karena dengannya terwujud arti kasih sayang dan keharmonisan hidup antara sesama, dari Abdullah bin Amr bin Al Ash RA :
أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِىَّ r أَىُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ؟ قَالَ :« تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ»
 bahwa seseorang bertanya kepada Nabi Saw, apakah yang terbaik dalam Islam ? Beliau menjawab : memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang kau kenal dan orang yang tidak kau kenal" (Muttafaq 'alaih)
Dan hal yang dapat membantu memperat hubungan masyarakat adalah memenuhi undangan
dan saling berkunjung baik dalam senang dan susah, hal ini akan menambah dan memperdalam kasih sayang antara anggota masyarakat, oleh karenanya Nabi Saw bersabda :
وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ
"dan kalau dia mengundangmu maka sambutlah (penuhilah)".
Dan Rasulullah Saw tidak pernah menolak undangan seseorang, siapa pun yang mengundangnya, Rasulullah Saw bersabda :
لَوْ دُعِيتُ إِلَى ذِرَاعٍ أَوْ كُرَاعٍ لأَجَبْتُ، وَلَوْ أُهْدِىَ إِلَىَّ ذِرَاعٌ أَوْ كُرَاعٌ لَقَبِلْتُ
Andaikata aku diundang untuk menyantap makanan (yang berupa) bagian hasta atau bagian di bawah tumit, niscaya aku penuhi undangan itu, dan andaikata akudihadiahi hasta atau bagian di bawah tumit” (Bukhari 2568)
Arahan Nabi untuk berinteraktif dalam setiap kegiatan sosial, sebagaimana ditegaskan olehnya terutama pada pesta pernikahan, karena kedatangan seseorang akan mewujudkan kasih sayang dan menyenangkan tuan rumah yang mengundang, Rasulullah Saw bersabda :
إِذَا دُعِىَ أَحَدُكُمْ إِلَى وَلِيمَةِ عُرْسٍ فَلْيُجِبْ
"Bila salah satu kalian diundang ke walimah maka penuhilah" (Muslim 1429)
Sebagaimana seluruh anggota masyarakat untuk tidak ragu-ragu untuk saling menasehati dan tidak malu dalam menerima nasehat, dan Rasulullah Saw menjadikannya termasuk dalam hak-hak yang selayaknya dipenuhi oleh sesama muslim, Rasulullah Saw bersabda :
وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ
"dan kalau dia minta nasehatmu, maka berilah nasehat"
Nasehat merupakan ungkapan keterikatan masyarakat melalui wasiat penunaian kebajikan, karena hendaknya majlis kaum muslimin dipenuhi dengan kebaikan dan nasehat, Rasulullah Saw bersabda :
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
"Agama itu nasehat" (Muttafaq 'alaih)
Dan diantara hak-hak yang sangat diperhatikan oleh Rasulullah Saw adalah mendoakan orang yang bersin, hal ini termasuk salah satu media interaksi antara sesama yang berasaskan pada dzikir dan doa, dan barang siapa yang bersin dan memuji Allah, maka merupakan keharusan orang yang mendengar untuk mendoakan agar dilimpahkan rahmat padanya, lalu orang yang bersin juga menimpalinya dengan doa yang sama, ini adalah salah satu cara yang mampu mendatangkan kasih sayang antar sesama, ini adalah salah satu hak yang tertuang dalam sabda Nabi Saw :
وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَشَمِّتْهُ
"dan kalau dia bersin lalu memuji Allah Swt, maka doakanlah"
Hamba Allah ; menjenguk orang sakit termasuk kunjungan yang berpahala besar baik itu di rumahnya atau di rumah sakit, dan betapa mulyanya orang yang sakit, karena Allah Swt mengecam orang yang tidak berkunjung dan teledor dalam hal ini, Rasulullah Saw bersabda :
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: يَا ابْنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي. قَالَ: يَا رَبِّ كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟ قَالَ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلاَناً مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِي عِنْدَهُ
"Sesungguhnya Allah Swt berfirman pada hari kiamat : wahai Anak Adam, Aku sakit namun engkau tidak menjenguk-Ku. Anak adam berkata :  Wahai Tuhan, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam ?
Allah berfirman : bukankah engkau mengetahui bahwa hamba-Ku si fulan sakit namun engkau tidak menjenguknya, tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau menjenguknya, niscaya engkau akan mendapati-Ku bersamanya" (Muslim 1429)


Ya Allah jadikanlah kami termasuk dalam golongan orang yang menunaikan hak-hak dan berilah taufiq pada kami semua untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan untuk ditaatainya, sebagai pengamalan atas firman-Mu : 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ صلى الله عليه وسلم أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.
Khutbah Kedua
الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنا محمَّداً عبدُهُ ورسولُهُ، اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطيبينَ الطاهرينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
Bertakwalah wahai hamba Allah dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Islam selalu menganjurkan berlaku bajik terhadap sesama, tidak hanya di masa hidup mereka, bahkan setelah wafat mereka, sehingga ditetapkanlah beberapa hak orang-orang yang telah wafat, diantaranya : mengantarkan jenazah mereka, menshalatkan dan memakamkan mereka, mendokan mereka, memintakan ampun buat mereka, memintakan rahmat untuk mereka, menyambung tali silaturrahim mereka, bersedekah untuk mereka, semua itu agar terwujud tali kasih sayang antara anggota masyarakat, karenanya tersebut dalam sabdanya : “dan kalau dia meninggal dunia, maka antarkanlah jenazahnya”. Dan Rasulullah Saw telah menjanjikan pahala yang besar, tersebut dalam sabdanya :
مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّىَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ، وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ». قِيلَ: وَمَا الْقِيرَاطَانِ؟ قَالَ :« مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ
“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menyolatkannya maka baginya pahala satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menguburkannya maka baginya pahala dua qirath”. Ditanyakan kepada beliau, “Apa yang dimaksud dengan dua qirath?” Beliau menjawab, “Seperti dua gunung yang besar” (Muttafaq ‘alaih)
Sebagaimana si mayat juga mendapatkan bagian pahala yang besar, Rasulullah Saw bersabda :
مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلاً لاَ يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئاً إِلاَّ شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ
"Tidak seorang muslim pun yang meninggal, lalu empat puluh orang yang tidak bersekutu kepada Allah sedikitpun menshalatinya, kecuali mereka mendapatkan syafaat untuknya dengan izin Allah" (Muslim 948)
Mengantar jenazah akan mendatangkan rahmat Allah bagi jenazah dan bagi orang yang masih hidup, sebagaimana dapat menghibur ahli warisnya.
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ  تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([3]) وقالَ رَسُولُ اللَّهِ r:« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([4])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وقَلْبًا خاشعاً، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا واسعاً، وَعَمَلاً صالحاً مُتَقَبَّلاً، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، اللَّهُمَّ علِّمْنَا مَا ينفَعُنَا، وانفَعْنَا بِمَا علَّمْتَنَا، وزِدْنَا علماً، اللَّهُمَّ آتِ نفوسَنَا تقوَاهَا، وزَكِّهَا أَنْتَ خيرُ مَنْ زكَّاهَا، أنتَ وَلِيُّهَا ومولاَهَا، اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عاقبتَنَا فِي الأُمورِ كُلِّهَا، وأصْلِحْ لَنِا نياتِنَا، وبارِكْ لَنَا فِي أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاجْعَلْهم قُرَّةَ أَعْيُنٍ لنَا، اللَّهُمَّ اسقِنَا الغيثَ([5]) ولاَ تجعلْنَا مِنَ القانطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([6]).


([1]) الأحزاب : 70 - 71.
([2]) متفق عليه .
([3]الأحزاب : 56 .
([4]) مسلم : 384.
([5]) من السنة رفع اليدين في الدعاء لطلب الغيث.
([6]العنكبوت :45.